catatan: maaf lama. saya sibuk belajar photoshop soalnya. dan menangisi dw christmas special NKDJADNADAOIADN lol sori ini cacat /sobs
07: only whispers can tell.
Gilbert bukanlah seorang pecinta buku. Ia tak bisa menghargai eksistensi kayu yang diubah menjadi kertas, kemudian diisi dengan ribuan baris kata, yang membuatnya merasa lelah untuk fokus dari satu baris ke baris lain tanpa menaruh jari di atas kata yang ia baca. Lagipula, ia tak pernah melihat buku porno dijual ke publik di toko buku, jadi ia menaruh hatinya di internet.
Saat ia masih bersekolah, ia sama sekali tak membeli buku pelajaran. Kalaupun ada, itu karena asisten ayahnya yang membelikannya. Gilbert begitu malas melihat buku pelajaran itu sehingga ia merobek satu kertas setiap mata pelajaran, membuat pesawat kertas, lalu melayangkannya ke kepala guru-gurunya saat mereka sedang menghadap ke papan tulis. Mereka sama sekali tidak mengkomplain langsung ke hadapan si remaja nakal itu, hanya bergosip di belakang punggungnya agar tak didengar oleh kuping-kuping bawahan ayah Gilbert. Gilbert juga entah mengapa mendapat nilai di atas standar untuk setiap pelajaran, padahal ia hanya belajar lewat internet; satu tab untuk pelajaran dan satu tab untuk porno.
"Katanya dunia sudah modern. Teknologi sudah berkembang pesat, kata orang-orang. Kalau begitu berarti tak usah menggunakan kertas, kan? Bikin hutan sekarat saja," katanya dengan senyum lebar dan pikiran bagai seorang filsafat yang singgah sebentar sebelum mulutnya menambahkan kata-kata, "Wow, aku baru saja memberikan kata-kata mutiara."
Sekarang, saat ia berumur dua puluh tiga tahun, ia kembali dihadapkan pada eksistensi buku. Novel klasik yang dibayangi oleh mitos dari Francis ada di atas meja. Diam saja. Sama sekali tak hilang seperti keinginan Gilbert saat ia memelototi novel itu dan mencoba menciptakan kekuatan telekinetik dari dirinya. Ia menyalahkan film yang baru saja ia tonton minggu lalu karena membuatnya sedikit percaya dengan keberadaan kekuatan telekinetik, lalu memandang jam.
Sudah tiga jam sejak ia duduk didampingi novel milik janda gila itu. Ia tak percaya ia bisa bertahan selama itu. Tiga jam terakhir ia merenungkan soal mitos yang dibicarakan oleh Francis beberapa tahun lalu, ketika ia akhirnya menemukan seorang wanita untuk diajak bercinta untuk pertama kalinya; sekedar nasihat dari sahabat yang ia pikir bagai nasihat bijaksana dari kakek berjenggot putih. Ia sadar Elizaveta telah melaksanakan mitos itu secara tak sengaja (atau, ia pikir, takdir yang melaksanakan mitos itu, tapi ia tak mempercayainya) dan mengerang keras.
Gilbert sama sekali tak mau berhubungan dengan wanita lebih dari satu hari.
Gilbert melarikan jari-jarinya ke sela-sela rambut sambil melirik lagi sampul novel Elizaveta. Angin yang datang dari jendela di samping Gilbert menerpa tubuh juga buku itu, mendorong sampul novel ke belakang dan memperlihatkan sedikit tulisan tangan yang begitu elegan. Sambil mengangkat sebelah alis, Gilbert mengambil buku itu. Matanya menangkap nama Roderich Edelstein di pojok kanan bawah halaman sesudah sampul, lengkap dengan tanda tangan juga tanggal pembelian. Gilbert mengingat perkataan Elizaveta mengenai nama Roderich yang terdengar seperti nama dari anggota kerajaan daripada namanya dan merasa sedikit terhina.
"Roderich lebih seperti nama penulis buangan," katanya pada dirinya sendiri, mengangguk-angguk pelan.
Ia lalu memutar-mutar buku itu layaknya bola basket sambil berdeduksi bahwa Elizaveta memuji nama suaminya yang mati kala mabuk. Janda itu mungkin tak pernah memuji suaminya; ia terlihat seperti orang yang lumayan keras.
Pikirannya terganggu oleh suara dering ponselnya. Ia mengambil ponselnya, melihat ada SMS masuk dari Francis. Gilbert ingin meludahi nama Francis yang terpampang di layar ponselnya, tapi tak melakukannya hanya karena ia pikir ponselnya terlalu mahal untuk diludahi.
Hal pertama yang ia lakukan saat bertemu Francis adalah memukul punggungnya keras-keras. Ia merasa lega saat mendengar suara ringisan dari lelaki berambut panjang itu.
"Tadi itu apa?!" teriak Francis, mengusap-usap punggungnya.
"Pukulan."
"Aku tahu itu, tapi karena apa?"
"Karena kau dulu memberitahu soal mitos sialan itu dan akhirnya mitos itu menjadi kenyataan," kata Gilbert.
Francis hanya mengangkat alis. Ia berhenti mengusap punggungnya, tampak tertarik dengan perkataan Gilbert. Gilbert tahu mengapa ia tertarik: Gilbert tak pernah tertimpa peristiwa yang mirip dengan mitos yang diceritakan Francis selama beberapa tahun dan sekarang ia mendapatkannya.
"Apa yang cewek itu tinggalkan?"
Gilbert melemparkan novel Elizaveta ke Francis. Francis menangkapnya dengan mudah, memainkan ujung-ujung halaman dengan jari-jarinya sebelum melihat nama yang tertera di dalamnya. Francis langsung menganga lebar.
"Kau baru saja bercinta dengan pria?" tanya Francis, yang langsung disambut dengan tinju di pinggang dan mengambil kembali buku Elizaveta.
"Tidak!" kata Gilbert. "Ini milik suami cewek itu."
"Kau merebut istri orang?" Francis menggosok-gosok dagunya. "Wow, that's a bold move."
"Tidak," kata Gilbert. Hidungnya mengernyit karena kesal. "Suami cewek itu sudah mati."
"Ah." Francis menganggukkan kepalanya, membuat rambut pirangnya yang diikat rendah bergoyang ke atas dan ke bawah. "Dan apa kau sudah bertemu dengannya setelah bersenang-senang?"
"Belum. Aku mengisolasi diriku dari mitos sialan itu," kata Gilbert.
"Oh, mitos hanyalah mitos, Gil. Belum tentu terjadi," ucap Francis. Gilbert kembali melihat sosok kakek berjenggot putih dalam diri Francis.
Francis merangkul bahu Gilbert dan mulai berjalan lebih cepat. "Ada kafe di 21st Avenue. Kopinya dijamin mengangkut semua beban pikiran ke ujung ususmu―"
"Bilang saja pantat. Aku seperti penderita usus buntu kalau kamu bilang 'ujung usus,'" komentar Gilbert.
"Ke ujung bokongmu," koreksi Francis menggunakan kata lebih halus. "Nah, ayo kita ke sana. Shortcut!"
Dari jalan yang padat akan orang-orang, tanaman-tanaman kecil, dan sahutan-sahutan pedagang dan pembeli, mereka berbelok ke jalan yang lebih sempit dan sepi. Mereka berjalan di atas trotoar yang disinari cahaya terik dari sinar matahari, menampakkan grafiti di dinding gedung terbuang dan toko-toko kecil yang begitu sepi. Mereka berbelok lagi beberapa kali sebelum melewati toko buku berdinding merah dan berjendela besar, lengkap dengan buku-buku di dalamnya. Gilbert melirik sekilas ke dalam toko buku tersebut, terkejut ketika melihat Elizaveta ada di dalam, sedang menyerahkan uang kepada kasir.
Francis melihat ke arah pandangan Gilbert, lalu mengerjapkan mata. "Itu ceweknya?" tanya Francis. Gilbert menganggu pelan dan Francis pun bersiul. "Kau mendapat janda seksi. Kuberi dua jempol untuk itu."
Gilbert hanya menggeleng sebelum berjalan meninggalkan Francis di belakangnya. Francis berlari mengejarnya dengan langkah lebar. Ia segera menyusulnya, kemudian menaruh tangan di bahu si pria albino.
"Kau sudah melihatnya dua kali, Gil," ucap Francis.
"Aku melihatnya dua kali, ya. Tapi aku hanya bertemu dengannya satu kali. Bertemu dan melihat merupakan hal yang sangat berbeda, oke? Bertemu itu adalah saat kau bertatap muka dan berbicara dan jatuh cinta. Melihat itu hanya sekedar melihat. Tidak lebih."
"Jatuh cinta dimulai dari satu pandangan," balas Francis dengan muka datar. "Mitos yang kuceritakan padamu adalah kenyataan. Kalau kau bertemu dengannya, lagi dan lagi dan lagi, kau akan jatuh."
"Kau ini apa? Peramal?" Gilbert mengerang keras sambil menggaruk kepalanya, kemudian berteriak, "Oh, jadilah kakek tua yang penuh dengan kata-kata mutiara, Francis. Sekalian saja pakai jenggot putihnya. Aku yakin cewek-cewek tak ada yang mau bersamamu."
Francis hanya tergelak dan berpikir mitos yang ia ceritakan pada Gilbert hanyalah mitos yang ia buat; yang ada hanyalah takdir menyamar menjadi mitos, tersebar melalu gosip dan bisikan halus dari makhluk hidup maupun hati nurani.
(np: i am the doctor (live at doctor who prom 2010) by murray gold; makassar, 27/12/2012)
