catatan: jangan pernah memaksakan otakmu untuk menulis karena hasilnya bakal jelek seperti ini ok? orz
08: it's a part of me.
Ia membuka matanya, keluar dari kamar berpintu biru, dan berkata "Bisakah aku tinggal sementara di sini?"
Arthur tak bergerak dari kasir. Ada dua atau lebih pelanggan berkeliling di sekitar toko bukunya. Ia hanya menolehkan kepalanya ke arah Elizaveta dan mengangguk dengan gaya kasual; sikap ingin mengusir tunawisma tak terlihat lagi.
"Boleh saja. Asalkan kau memberikanku sepatumu," ucapnya, melirik sepatu oxford yang sekarang tergeletak di tengah tumpukan buku di etalase tokonya. Arthur memberikan senyum terlebar yang ia pikir ia tak bisa lihat dari wajah yang suka merengut itu. "Sepatumu adalah jimat keberuntunganku."
Elizaveta hanya tertawa. Ia lupa bagaimana celah bibirnya mengeluarkan suara tawa – suara tawanya sendiri terlalu asing di telinganya. Mungkin ia harus berlama-lama tinggal di tempat Arthur jika ia ingin tertawa. Jadi Elizaveta berkacak pinggang, membalas: "Kau harus membelikanku sepatu baru."
"Hanya jika kau bisa membuat secangkir teh untukku," katanya sambil menyunggingkan seringai kecil.
"Seseorang pernah bilang kalau teh buatanku adalah teh terbaik." Elizaveta dapat melihat seorang pelanggan mulai memutar bola matanya, seakan ingin membentak mereka karena mereka sempat menukar kalimat rayuan sementara uang yang ada di tangannya terlihat tak berharga. Ia tertawa sejenak sebelum berbelok masuk ke lorong lain. "Eyes front, soldier."
Arthur menoleh ke arah si pelanggan dan gelagapan. Elizaveta dapat mendengar Arthur meminta maaf berulang kali. Matanya melihat lorong berdinding cokelat membentang lurus, memberikan jalan untuknya. Ada cahaya temaram berpendar mengiringi langkahnya. Ia hampir melihat siluet suaminya muncul dari bayangan. Bangkit, bangkit, bangkit – dan jatuh seiring telinganya menangkap suara koin-koin terjatuh, menggelinding di atas lantai kayu.
Elizaveta berjalan mundur dengan tangan membentang ke samping, merasakan kekasaran wallpaper dengan kuku-kuku yang belum dikikir setelah digigit. Kepalanya muncul keluar dari kegelapan lorong.
"Dapurnya ada di mana?"
"Belok kanan, dear," katanya dengan sarkastis. Kedua alis tebalnya bertemu kembali di atas batang hidung, bibirnya membentuk Jembatan San Francisco.
"Thanks, love," ia membalas dengan sarkasme yang sama. Semacam tanda akan persahabatan.
Ia kembali masuk ke dalam lorong. Bibirnya mengulum senyum. Kedua kakinya telanjang.
Esoknya, ketika jam berdentang dan bau scone gosong tercium dari dapur, Elizaveta memutar tanda SORRY, WE'RE CLOSED menjadi YES! WE'RE OPEN, lalu membuka kunci pintu.
Pengalaman itu membuat ia akhirnya memerhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya begitu berharga, seperti membuka pintu kepada orang asing atau seluruh wiraswasta memutar tanda di pintu mereka, menarik napas dalam-dalam sambil mengucapkan doa agar mereka mendapat uang yang berlimpah. Ia mempertanyakan bagaimana nasibnya bersama Roderich jika pada akhirnya Roderich tak memilih untuk menjadi komposer maupun tentara, malah menjadi pemilik toko musik. Pemandangan dimana Roderich duduk saja di atas sofa, gramofon berdiri di samping dan memperdengarkan Bach, dalam genggamannya ada eksemplar Atonement. Lalu ia menyediakan teh untuk mereka berdua sambil bercakap-cakap, diselingi tawa.
Ain't that lovely?
Elizaveta membenturkan kepalanya ke pintu kaca. Elizaveta bodoh, Elizaveta bodoh.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Arthur.
"Scone buatanmu payah. Apa kau yakin kau orang Inggris?"
Arthur menjitak kepalanya. Elizaveta tak keberatan asalkan Arthur tidak mempertanyakan tindakan bodohnya lagi.
Ia sedang menonton opera sabun yang ditayang ulang saat mendengar suara yang begitu familier. Suara yang mewakili orang yang mencari kepuasan sementara tapi malah terkesan seperti pemerkosa yang penuh akan kharisma.
Ia bangkit dari kursinya, tak mempedulikan remote TV jatuh dari genggamannya dan mungkin rusak karena suara debumnya terdengar keras. Ia berlari menuruni tangga. Napasnya putus-putus saat ia bertanya pada si pria beralis tebal, "Apa tadi ada pria yang rambutnya seperti kulit Snow White datang ke sini?"
Arthur mengerjapkan matanya berulang kali. "Yeah, ada."
"Kenapa datang?"
"Memberi The Great Gatsby padaku. Gratis." Arthur mengayunkan buku yang sudah diberi sampul plastik. Ada bercak noda kopi di pojok atas kanan sampulnya, tempatnya sama persis dengan tempat kopi untuk Roderich tak sengaja tersenggol dan mengenai sampul novel kesayangan suaminya.
Ia merebut novel itu dari genggaman Arthur dan membukanya. Nama Roderich tertera di sana, begitu elegan.
Napasnya tertahan; paru-parunya kosong. Akhirnya ia menemukan pegangan hidupnya; janji yang takkan ia ingkari; takdir yang ia genggam.
Secara impulsif, ia berlari keluar dari toko dan berbelok kanan. Ia tak tahu mengapa ia memilih kanan, tapi ia tahu kanan selalu menjadi arah yang benar. Ia berlari, berlari, berlari. Ia abaikan seluruh bebatuan yang menggores telapak kakinya, rerumputan yang menggelitiki tumitnya, air yang menggenangi sela-sela jarinya, dan entah mengapa, ia berhasil menyusulnya: pria dengan rambut seputih salju.
Ia menepuk bahu Gilbert dan seraya Gilbert memutar badan ke arahnya, ia berpikir bahwa tidak apa-apa jika kedua kakinya telanjang karena hari ini cahaya langit tak mengundang awan kelabu, Bumi tak diinvasi oleh alien, momen Roderich menjulukinya Anak Matahari muncul tiba-tiba dari sudut pikirannya, dan segalanya baik-baik saja. Jadi ketika Gilbert menatapnya dengan mata merah yang melebar, ia tersenyum sampai kedua pipinya terasa sakit dan berkata:
"Halo."
(np: we always think there is going to be more time by the end of the ocean; makassar, 02/02/2013
