catatan: IM SORRY. IM SO SORRY. Tiga bulan, omg sorry. Tiga bulan dan gua kasih kalian semua chapter cacat omg SORRY
catatan2: judul chapter dikutip dari a storm of swords karya george r.r. martin
catatan3: btw gua butuh bantuan. Gua ada tugas bikin cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Gua udah minta teman gua, tapi gua bingung mau dimodifikasi seperti apa. Kalau ada yang review, pls bantu gua ya: kasih gua peristiwa yang pernah lu alamin lewat pm. Gua usahain gua bikin cerpen berdasarkan itu, lalu ku-publish di fictionpress dan di figment – dan yang menurut gua cerpen paling bagus gua bakal gua kasih ke guru gua. tenggat waktunya sampai hari minggu tanggal 26 Mei, ya! thank you :)
09: if i look back, i am lost.
Awalnya ia memutuskan untuk membaca The Great Gatsby ketika Francis sudah lelah melihatnya dan memilih untuk mengunjungi makam seseorang yang ia tak kenal. Gilbert suka perhatian orang lain, tapi tak masalah jika ia sendirian. Toh cambang Francis bukanlah pemandangan yang bagus.
Jadi, ia tinggal lebih lama di kafe tempat ia dan Francis bercakap-cakap sebelumnya. Ia memesan lagi secangkir espresso, menyuruh sang pelayan untuk menyingkirkan cangkirnya dan cangkir Francis. Setelah pelayannya pergi, baru ia mengambil kacamata yang mengapit di kantong jinsnya, lalu meletakkannya di batang hidungnya.
Gilbert sebenarnya tak mengidap rabun jauh yang parah. Hanya minus 0,25. Tapi ia mendengar ada perempuan yang suka dengan pria berkacamata sehingga ia membelinya. Lagipula ia terlihat pintar dengan kacamata ini. Satu nilai plus untuk para gadis yang ingin menggaet pria kaya dan pintar.
Ia sudah membaca seperempat novel ketika espresso-nya datang. Setengah novel dihabisi ketika cangkirnya kosong dan jendela tak menghirup lagi cahaya senja. Sisanya sudah dilahap habis oleh otaknya ketika si pelayan datang menggunakan jaket berbulu.
"Kafenya sudah tutup, sir."
Gilbert pun pulang ke motel sambil berpikir: Roderich Edelstein punya selera yang buruk.
Ia dapat melihat mengapa novel ini diagung-agungkan sebagai literatur Amerika yang sebenarnya. Plotnya memang menarik dan diksinya bagus dan memiliki keunikan tersendiri. Setiap deskripsi menjelaskan betapa berkilaunya era tahun '20-an sebelum the Great Depression datang melanda tanah Amerika – Bumi menelan Amerika dengan lautan debunya.
Tapi, novel ini tak berakhir dengan baik.
Gatsby telah bersusah payah meraup seluruh hartanya demi Daisy, agar ia layak untuk wanita itu. Tapi Gatsby pada akhirnya terkapar di kolam renang, memberi merah pada kejernihan air berklorin itu dan Daisy melenggang pergi bersama pria rasis itu. Sementara Nick – sudahlah, persetan dengan nasib Nick. Novel ini berpusat pada si Gatsby yang hebat.
Gilbert melewati toko buku tempat ia melihat si janda gila bertelanjang kaki. Sudah tutup. Tak terlihat etalase toko karena ditutupi oleh pintu besi. Tapi ia dapat mengingat jelas ada tanda bahwa toko tersebut mau menerima buku tua dengan imbalan uang.
Gilbert menganggukkan kepala.
Nasib novel terkutuk itu bakal menjauh dari tangannya.
Butuh beberapa hari sebelum Gilbert akhirnya memberanikan diri untuk melangkahkan diri ke dalam toko buku itu. Ia sudah memperhatikan bahwa di sekelilingnya hanya ada si pria bercelemek dengan alis terlalu tebal. Demi Tuhan, ia tak mau mitos Francis menjadi nyata.
"Kau mau menerima buku ini, kan?" tanya Gilbert.
"Yeah. Tapi kondisinya tak terlalu bagus." Jari si pemilik toko Maksudku, ada noda kopi di sampulnya. Lagipula, novel ini jumlahnya sudah banyak. Bukan buku yang langka." Ia membolak-balik buku itu. "Boleh dibeli dengan harga murah?"
"Tak usah. Aku berniat untuk menjualnya gratis." Ia melirik ke arah lorong-lorong di toko buku tersebut, takut Elizaveta muncul dari sana. Cepat, cepat.
Sebelah dari kedua alis tebal itu terangkat sebelum kembali ke posisi semula. Si pemilik toko mengedikkan bahunya, lalu menerima novel itu. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas sumbangannya."
Ketika ia meninggalkan toko itu, ia dapat melihat si pemilik toko berjingkrak-jingkrak. Tampaknya senang dengan fakta bahwa ia tak harus mengeluarkan uang untuk membeli eksemplar lain dengan bercak di sampulnya.
Ia berjalan dengan santai. Ia sudah lepas dari novel itu. Ia sudah lepas dari Elizaveta. Ia sudah lepas dari mitos Francis.
Hidupnya bebas.
Tapi ada suara-suara yang mengganggunya. Suara air berkecipak dan suara kerikil bergulingan. Derap-derap langkah datang bagaikan drum yang berdentum mengiring datangnya tamu kehormatan. Oh tidak, oh tidak.
Kakinya lemas. Ia tak sanggup berlari. Ia tak tahu mengapa, tapi ia tak sanggup berlari.
Ia melihat ke sekelilingnya sambil berusaha untuk berjalan dengan relaks. Menunggu surai cokelat melesap keluar dari tikungan berbau busuk.
Menunggunya dirangkul oleh mitos yang telah memiliki tubuh dan lengan yan kuat.
Ada yang menyentuh bahunya. Ia berbalik dan menemukannya: janda dengan wajah remaja.
Ia tak begitu terkejut melihat wajah yang sudah familiar, tapi senyum itu yang membuat tenggorokannya tercekat. Terlalu lebar seperti mulut merah yang dicat para badut untuk membuat mereka terlihat lucu, meski pada akhirnya menjadikan para badut sebagai figur horor. Tapi setiap saraf yang menyuruh otak Elizaveta untuk tersenyum seperti menambah rasa tulus di setiap garis bibirnya. It's like her fingers is married to her synapses, Stephane berkata di The Science of Sleep. Ia dapat mengganti kata jari-jari dengan bibir, lalu Elizaveta layak untuk direferensikan dalam film tersebut.
"Halo."
Bahkan ketulusan mendandani nada suaranya. Cih.
"Halo," balas Gilbert yang sudah pasrah setengah mati. Ia dapat membayangkan suara Francis tertawa. Suaranya jelek.
"Terima kasih sudah mengembalikan buku Roderich," kata Elizaveta.
"Sebenarnya, aku mengharapkan bahwa aku tak perlu bertemu denganmu lagi setelah menjual buku itu gratis pada si Alis Tebal itu." Elizaveta mengerjapkan matanya sambil menghapus bersih senyum di wajahnya, memberi petunjuk bahwa bukan itu yang ia mau dengar. Gilbert mendecak kesal. "You're welcome."
Senyum itu kembali, tapi lebih kecil dan tipis. "Kenapa kau tak mau bertemu denganku?"
Mitos, bisiknya dalam hati. "Aku tak mau melihatmu. Cuma itu alasannya."
"Tapi kau menjual buku itu ke tempat aku tinggal sementara. Dari mana kau tahu tempat itu?"
"Kebetulan saja."
Elizaveta mengangkat alisnya. "Dan bagaimana kau dapat mengenaliku saat kita bertemu?"
Gilbert mengerang. "Rasa penasaranmu akan menjadi sebab kematianmu."
"Biarkan saja. Separuh diriku sudah mati setelah suamiku mati. Sekarang jawab saja pertanyaanku."
Gilbert memandangnya sesaat, memperhatikan untaian-untaian rambutnya yang kusut, iris zamrud yang mulai mengumpulkan kembali seluruh cahayanya, tulang pipi yang menonjol – terlebih lagi ketika air mata mengalir turun di kulitnya.
"Kukira kau penggemar beratku, yang menitikkan air matanya karena melihatku secara langsung` Yang mendamba dalam hatinya. Yang berbisik, 'Oh, lihatlah ia. Pria yang tampan. Pria yang gagah berani. Aku dapat menjual hatiku untuknya. Untuk ia semata.'"
Elizaveta meninju keras lengannya, meski pada akhirnya tawa keluar dari bibirnya.
"Kau bodoh," timpalnya.
"Kau bodoh. Seriously, apa yang kaulakukan di sini? Bukankah kau harus melakukan sesuatu di toko itu?"
"Aye, sir. Aku mengepel lantai, membersihkan jendela, menaruh buku pada tempatnya, dan sesekali menonton televisi demi berlindung dan makan dengan gratis."
"Kenapa kau jadi seorang pembantu?"
"Kenapa kau jadi seorang bajingan?"
Gilbert mengangkat bahunya. Ia tak mengerti dengan perempuan di hadapannya. Yang ia mengerti hanyalah insting untuk mengejek dan mencibirnya, Gilbert Beilschmidt si Pria Tampan dan Berani, kembali. Sama seperti diri Elizaveta sebelum dirasuki alkohol.
Gilbert memandang langit dan memutuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi. Ia memutar balik badannya, lalu melangkahkan kakinya. Ia dapat merasakan langkah yang ia ambil bukanlah langkah yang mantap, malah seperti langkah seorang pengecut. Tapi tak ada yang dapat menyuruhnya untuk berbalik dan terjerat oleh senyum sialan itu. Bahkan Tuhan tak dapat melakukannya.
"Hei, Gilbert," sahut Elizaveta dari belakang.
"Apa?"
"Kakiku telanjang."
"Terus kenapa?"
"Aku ingin kau membelikanku sepatu. Atau sendal. Mungkin sendal bermotif kembang sepatu. Soalnya, aku tak pernah ke Hawaii."
Elizaveta adalah perempuan idiot, pikir Gilbert. Idiot dan bodoh dan gila.
"Memangnya sepatumu di mana?"
"Sepatuku dijadikan jimat oleh Arthur, si pemilik toko buku."
Arthur, si pemilik toko buku, adalah pria idiot, pikir Gilbert. Idiot dan bodoh dan gila.
Gilbert membuka dompetnya. "Aku akan membelikanmu sepatu."
Ada cengir muncul di wajahnya dan Gilbert berpikir, semua orang itu idiot. Idiot dan bodoh dan gila. Termasuk kamu, Gilbert. Termasuk kamu.
(np: pompeii by bastille; makassar, 23/05/2013)
