Warning! Achtung! Peringatan!

Chapter ini mengandung pemaksaan tingkat tinggi yang kadarnya 128% lebih dari chapter yang sebelumnya, dan harap dibaca dengan pengertian kalau ini semua skenario yang mungkin saja terjadi. Karena hanya akan memusingkan kalau mencoba membandingkan dengan efek langsung di game-nya. Percayalah, penulis mencoba membandingkan dan jadi bingung sendiri juga.

...dan tambahan yang mungkin tidak penting atau bisa jadi sangat penting, penulis membuka booth pelemparan sepatu di akhir chapter. Sekian, dan terimakasih.


"Sensei! Sensei tidak apa-apa? Tadi Rise tampak sangat khawatir..."

Rentetan pertanyaan lain dari rekan setimnya yang tidak ikut serta dalam eksplorasi hari itu langsung menghujani Souji dan keempat temannya yang lain begitu mereka muncul di pintu depan. Souji hanya menanggapi Teddie dengan gelengan lemah. Dia memang tidak apa-apa--sepertinya. Teman-temannya yang ikut dalam eksplorasi tadi tidak mengatakan apa yang terjadi, apa yang sampai mengakibatkan Yousuke terus-menerus meminta maaf. Akan tetapi, sudah sangat jelas kalau ada yang aneh, dan keanehan itu disebabkan oleh Souji. Hal itu juga yang menghilangkan ingatan Souji, dan menjadikan kondisi Naoto tidak kalah anehnya--dari tadi detektif itu hanya diam saja. Souji merasa bersalah, walaupun dia tidak tahu bersalah atas apa, karena bagaimanapun tanggung jawabnya adalah memastikan kalau teman-temannya kembali ke dunia asal tanpa kekurangan satu apapun.

"Naoto-kun! Kamu tidak apa-apa?"

"Hey, Naoto. Ada yang aneh?"

"Nao-chan! Berbicaralah kepada Teddie!"

Rise, Kanji, dan Teddie sekarang mengelilingi Naoto, yang tampaknya kesadarannya masih belum kembali ke bumi. Ketiga orang itu kemudian memandang Souji dengan tatapan penasaran, yang hanya dapat dijawab Souji dengan gelengan--lagi. Dia tidak mengerti apa-apa, tahu apa yang terjadi saja tidak. Yang diketahui olehnya hanyalah ada sesuatu yang tidak beres. Souji mengalihkan pandangannya ke Yukiko dan Yousuke, dan Rise, Kanji, dan Teddie ikut berbalik memandang ke Yukiko dan Yousuke. Kedua remaja itu hanya dapat memberikan pandangan bingung, juga tidak mengerti apa yang terjadi.

"Ehm--" Souji berusaha memecah keheningan yang ada, "--aku tahu kalau ada yang salah di sini, dan aku yang bertanggungjawab. Tetapi, pertama-tama aku ingin tahu apa yang terjadi, karena jujur saja, aku tidak ingat apa-apa." Pemuda itu memandang Yousuke erat-erat, dan melanjutkan, "Dan aku ingin tahu kenapa kau meminta maaf, tentu."

Wajah Yousuke langsung mengeluarkan ekspresi bersalah yang sama lagi. Diambilnya napas dalam-dalam. "Semua salahku, partner. Sungguh, kalau bukan karena Tentarafoo-ku yang menyerang dirimu--" Yousuke terdiam sejenak, tidak senang dengan pandangan menyalahkan yang sekarang diberikan oleh Teddie, "--pasti kau tidak akan menggunakan Mar-entah-apa itu. Aku dan Yukiko berhasil menghindar, tapi Naoto tidak... Dan kau tahu keadaannya sekarang."

Rasa bersalah langsung memenuhi pikiran Souji. Firasatnya kalau dialah yang menyebabkan keadaan Naoto terbukti benar. Dan apa tadi yang dikatakan oleh Yousuke--menggunakan Mar-entah-apa? Souji terdiam sesaat, mengingat semua nama kemampuan yang dimiliki oleh persona-personanya. Tidak ada... Apakah Yousuke salah mengingat nama?

"Kedatangan persona ini akan menjadi penyebab dari sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Seperti pedang bermata dua, ya, tergantung bagaimana kau melihatnya."

Perkataan Igor ketika lelaki itu menyerahkan persona yang baru kepada Souji kembali terngiang-ngiang di kepala pemuda itu. Tiba-tiba, semua yang telah terjadi menjadi masuk akal. Souji tidak mengetahui nama serangan yang digunakannya, karena memang dia belum pernah menggunakan serangan itu sama sekali, apalagi menjadikan persona pemilik serangan itu sebagai persona utama. Dan lagi, Yousuke tadi berkata kalau Souji berada di bawah pengaruh Tentarafoo, yang berarti Souji sedang dipengaruhi untuk menyerang teman setim-nya sendiri.

Bisa saja Souji menganggap semuanya sebagai suatu kecelakaan belaka, kecelakaan yang terjadi secara berturut-turut. Dia gagal menciptakan Black Frost, tidak apa-apa. Hal itu terjadi di luar batas yang dapat dikendalikannya. Lagipula, kalau Igor cemburu karena Margaret--yang kemungkinannya sebenarnya kecil--bukankah itu normal? Igor, bagaimanapun bentuknya, mungkin juga seorang manusia biasa. Mungkin. Dan yang kedua, shadows datang bertubi-tubi, bisa dianggap sah-sah saja. Memang terkadang shadows muncul lebih banyak daripada biasanya. Kemudian, mengenai Tentarafoo Yousuke yang salah sasaran--bukankah ada alasannya mengapa Yousuke memiliki kadar keberuntungan paling rendah dari seluruh anggota tim investigasi? Intinya, mudah sekali bagi Souji untuk menganggap semuanya terjadi karena nasib buruk belaka. Mudah baginya untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan Igor, shadows, dan Yousuke serta melepaskan tanggung jawab--

--kalau saja yang pada akhirnya menerima ganjaran bukan Naoto.

Souji mendekati Naoto, yang masih berdiri diam dikelilingi oleh rekan segrupnya yang lain. Mata biru keabu-abuan gadis itu kosong, tidak ada semangat yang biasanya selalu tampil. Tidak ada tanda kesadaran di sana, tidak ada sama sekali. Semua harapan yang sempat muncul di hati Souji seketika menghilang ketika mengetahui bahwa--mungkin--sudah tidak ada harapan lagi untuk mengembalikan keadaan Naoto seperti semula. Atau, semuanya sudah terlambat.

Pemuda berusia enambelas tahun itu bergidik, berusaha mengumpulkan harapan dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Naoto sebenarnya baik-baik saja. Dipejamkannya mata sekali lagi, dan difokuskannya pikiran untuk memahami apa saja kemampuan yang dimiliki oleh Narcissus, dan apa saja efek dari serangan-serangan yang dimiliki oleh persona itu. Akan tetapi, tidak peduli bagaimanapun Souji berkonsentrasi, remaja itu tidak dapat melihat apapun mengenai persona tersebut. Lagi-lagi, pikirannya melayang mengingat apa yang dikatakan oleh Igor. Narcissus, yang seharusnya bukan persona yang berdiam di diri Souji. Kalau begitu, wajar saja kalau Souji tidak bisa mengerti apapun tentang kemampuan persona tersebut. Suatu fakta yang sangat disesalinya.

Akan tetapi, Seta Souji tetap sadar akan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Untuk menjadi orang yang tetap tegar dan rasional, tidak peduli seberapa buruknya keadaan yang harus dihadapi. Untuk menjadi orang yang memiliki seribu satu solusi untuk seribu masalah. Untuk menjadi orang yang selalu dapat diandalkan di setiap situasi. Bukankah teman-temannya menunjuk dirinya menjadi seorang pemimpin karena mereka percaya bahwa Souji dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan sempurna?

Souji menarik napas dalam-dalam, sekali lagi memusatkan pikirannya kepada masalah yang menghadang. Sekarang, masalahnya adalah bagaimana mengembalikan keadaan Naoto menjadi seperti semula. Sulit, Souji mengakuinya, karena sama sekali tidak ada petunjuk yang dapat digunakan. Tidak diketahui serangan apa yang menyerang Naoto, tidak diketahui apa efek serangan tersebut. Yang jelas, Souji berharap bukan serangan yang sejenis dengan Hama ataupun Mudo, yang Naoto semestinya dapat bertahan dengan sempurna apabila terkena serangan-serangan jenis itu. Akan tetapi, kalau memang benar itu yang terjadi, Souji hanya berharap agar semuanya tidak terlambat, dan dia masih sempat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan gadis yang teramat penting baginya itu.

"Recarm," Souji menggumam pelan setelah menyortir seluruh persona yang sedang dimilikinya, dan menjadikan persona yang dapat menggunakan kemampuan itu sebagai persona utamanya. Pemuda itu menunggu sebentar, tetapi sama sekali tidak ada yang terjadi. Naoto tetap tampak seolah tidak bernyawa. Diulangnya kata-kata yang sama berulang kali, tetapi hasilnya tetap sama--tidak seperti yang diharapkannya. Tidak ada perubahan. Tidak ada pertanda kalau keadaan Naoto akan membaik. Yang ada malah SP Souji yang makin menurun karena penggunaan Recarm berkali-kali, yang diiringi dengan tatapan campuran antara kaget, heran, dan khawatir dari teman-temannya.

"Uh... Partner? Kau baik-baik saja?"

Souji terdiam. Bagaimana menurutmu? Apakah aku terlihat baik-baik saja? Apakah aku BISA terlihat baik-baik saja, dengan keadaan Naoto yang seperti ini? Ingin sekali Souji mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya kepada rekan-rekannya, tetapi sedikit dari pikirannya yang masih jernih berkata jangan. Dan Souji menuruti pikirannya yang itu. Bagaimanapun, Souji tidak boleh menunjukkan bahwa dia lemah, bahwa dia sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pemuda itu tahu persis kalau teman-temannya akan terpengaruh dengan ketidakmampuannya, dan itu hanya akan melemahkan semuanya. Ia mengerti, sekarang teman-temannya bergantung penuh kepadanya untuk mencari cara memulihkan keadaan Naoto, karena mereka telah berusaha dan gagal. Dan Souji tidak boleh terlihat seperti dia juga sudah menghadapi jalan buntu, walaupun itu kenyataannya.

Coba cari jalan lain. Pasti masih ada cara--kan?

"Rise."

"Ya, senpai?" Gadis berambut coklat kemerahan itu tampak kaget mendengar Souji yang tiba-tiba menyebutkan namanya.

"Apakah kamu bisa melihat apapun tentang kondisi Naoto sekarang?" Suara Souji terdengar penuh dengan harapan. Apapun yang mungkin diketahui oleh Rise, tidak peduli sekecil apapun, tetap jauh lebih baik daripada tidak tahu apa-apa.

Raut wajah Rise berubah. Senyum simpul yang sempat menghiasi wajahnya ketika ia mendengar namanya disebut oleh Souji menghilang. Dan Souji tahu, itu bukan pertanda baik apabila Rise berhenti tersenyum. "Tidak, senpai. Aku tidak bisa mendeteksi apapun. Maaf."

Harapan yang sempat terpupuk di hati Souji kembali hancur, hilang nyaris tak berbekas. Kalau tidak ada petunjuk yang dapat menjelaskan kondisi Naoto sekarang, bagaimana caranya agar Souji dapat melakukan sesuatu untuk memulihkan keadaan gadis itu? Bagaimana kalau semuanya sudah terlambat? Bagaimana kalau aku tidak dapat melakukan apapun--karena sudah terlalu terlambat? Aku tidak ingin kehilangan Naoto...

Dengan langkah gontai, Souji berjalan semakin mendekati Naoto, dan bersimpuh di depan detektif muda yang terduduk itu. Disentuhnya pundak gadis itu perlahan, mata keabu-abuannya terfokus kepada sepasang manik biru keperakan milik gadis di depannya.

Dibisikkannya perlahan, "Apa yang harus kulakukan--untuk membuatmu kembali?"

Karena aku sama sekali belum--bukan, tidak siap kehilangan dirimu, Naoto.


*booth pelemparan sepatu dibuka*

Ehem. Chapter yang pendek, saya tahu, dan saya juga merasa kalau author's note chapter ini lebih panjang daripada isi chapternya sendiri. Dan saya juga tahu kalau belum ada perkembangan yang jelas, walaupun jelas sekali di game-nya efek Marin Karin itu langsung tokcer dan tancap gas. Ohohoho, tapi itu kan di Persona 3, ya, jadi anggap saja demi kebaikan kita bersama (?) kalau jadinya begini kalau spell yang seharusnya tidak ada digunakan.

...maksa, saya tahu. OTZ