Chapter ketiga, yang tidak kalah anehnya dengan chapter-chapter sebelumnya. Saya berterimakasih untuk para pembaca yang masih mau membaca karya saya ini. Plot-nya mulai jalan ke depan dan bukannya jalan di tempat seperti yang sebelumnya, kok. Setidaknya, saya pikir begitu... 8'DD


Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Terlalu cepat, bahkan, sampai Naoto tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi, tidak peduli seberapa cepat otaknya dapat berpikir.

Hal yang terakhir kali diingat oleh gadis itu adalah ia yang sedang menembaki shadows yang datang tanpa henti. Semua kemampuan yang dimiliki oleh persona-nya, Yamato Takeru, tidak dapat bekerja dengan baik untuk melawan shadows-shadows tersebut. Hama dan Mudo tidak efektif menghadapi mereka, dan SP-nya sudah kritis karena berkali-kali merapalkan Megidolaon. Tidak ada cara lain, yang tersisa hanya revolver yang digunakannya untuk menyerang musuh.

Akan tetapi, shadows-shadows itu tidak berhenti datang. Tangan Naoto mulai kaku, mulai sulit digunakan untuk menekan pelatuk. Pikirannya terasa berat, efek dari SP-nya yang hanya tinggal sedikit mulai membawa efek yang buruk terhadapnya. Tetap, gadis itu sadar kalau dia tidak boleh berhenti menembak--karena shadows tetap berdatangan.

Lalu, semuanya berhenti.

Naoto tidak ingat pasti yang mana datang terlebih dahulu. Didengarnya Senpai--Souji--meminta Yousuke-senpai untuk menggunakan Tentarafoo. Kemudian, terdengar teriakan histeris Rise, yang Naoto tidak tahu pasti kenapa. Sesuatu yang buruk terjadi kepada Souji, yang jelas, dan hal itu saja sudah cukup untuk membuat Naoto khawatir. Dia tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk terhadap pemuda berambut abu-abu itu. Tidak di sini. Tidak di dunia yang dipenuhi dengan shadows yang muncul bertubi-tubi. Tidak dimanapun.

Dibalikannya badannya, menghadap ke arah Souji. Souji tampak terdiam kaku, arah pandangannya kosong. Rasa takut mencekam tubuh mungil detektif muda itu, otaknya langsung memutar semua skenario terburuk yang mungkin, atau sedang, terjadi. Ingin Naoto berkata sesuatu, menanyakan keadaannya , tetapi suaranya tercekat. Ingin ia berlari ke arah Souji, memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja, tetapi kakinya tidak mau digerakkan. Ingin ia menggapai Souji, tetapi tangannya terasa seperti batu yang tidak mau menuruti keinginannya.

Dan detik berikutnya, Naoto tidak dapat merasakan apa-apa lagi.

Cahaya terang datang, nyaris membutakan kedua mata biru keabu-abuannya. Dia tidak tahu dari mana cahaya tersebut datang, dia tidak tahu apa yang mengakibatkan cahaya itu muncul. Yang diketahuinya hanya bahwa cahaya itu seolah menyelingkupi tubuhnya, membuat tubuhnya menjadi ringan. Cahaya itu juga menutup pikiran dan seluruh inderanya. Dia tidak dapat mendengar apapun, tidak bisa melihat apapun, tidak bisa merasakan apapun. Hanya rasa ringan--seperti terbang. Jauh dari dunia nyata. Jauh dari segalanya.

Kemudian cahaya itu perlahan-lahan menghilang, dan Naoto menemukan dirinya sendiri berada di tengah padang yang seolah tidak berbatas. Inderanya mulai kembali berfungsi juga. Gadis itu dapat melihat hamparan rumput hijau, dapat mencium bau tanah dan rumput yang menyegarkan, dapat merasakan ujung rumput yang menyentuh telapak kakinya. Ia tidak mengenakan sepatu, dan topinya hilang entah ke mana, membiarkan rambutnya dibelai oleh angin yang bertiup sepoi-sepoi. Naoto merasa tenang, merasa bahagia. Akan tetapi, semuanya belum sempurna. Ada sesuatu yang kurang, dan remaja itu sangat menginginkan komponen yang hilang itu untuk muncul dan menyempurnakan segalanya.

Tiba-tiba, Naoto dapat merasakan sepasang tangan yang menariknya ke dalam suatu pelukan yang lembut dari belakang. Dibiarkannya dirinya jatuh ke dalam pelukan itu, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dengan bersandar kepada sosok di belakangnya itu. Ia dapat merasakan kedua tangan yang memeluknya semakin erat, seolah tidak ingin membiarkan gadis berambut biru itu pergi. Ia dapat merasakan otot yang terbentuk di bagian tempatnya bersandar, membuatnya merasa tenang dan terlindungi.

'Aku tidak akan meninggalkanmu. Kaulah satu-satunya bagiku. Tidak ada yang lain. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu.' Berbagai kata lain dibisikkan oleh sosok di belakang itu kepada Naoto. Suara berat yang familiar, nada bicara yang sangat dikenal baik oleh Naoto. Itu adalah suara milik orang yang selalu muncul di mimpi-mimpinya, suara milik pemuda yang sangat ia kagumi dan sayangi. Dan suara itu, sekarang mengatakan hal-hal yang Naoto kira hanya akan didengarnya di dalam mimpi, di dalam khayalannya saja. Ia menjadi semakin yakin dengan sosok orang yang sedang memeluknya sekarang. Orang yang paling penting baginya. Orang yang sebelumnya terasa amat jauh dari jarak yang dapat diraihnya, sekarang mengatakan hal-hal yang sangat ingin didengarnya.

Oleh karena itu, bukankah wajar jika Naoto ingin agar semuanya ini bukan sekadar mimpi, dan dapat berlangsung untuk selama-lamanya? Ia hanya ingin berdekatan dengan sosok itu lebih lama lagi. Ia hanya ingin merasa dicintai oleh orang itu lebih lama lagi. Ia hanya ingin bahagia--lebih lama lagi.

Naoto tersenyum. "Jangan pergi, Souji-san..."

------------------------------------------------------------------------------------

Souji terkejut. Kedua tangan Naoto tiba-tiba melingkari lehernya, memeluknya erat. Suatu kejutan yang tidak diduga oleh Souji sebelumnya. Tanpa disadarinya, bibirnya melengkung membentuk suatu senyuman, kelegaan memenuhi dadanya. Naoto... bolehkan aku berpikir kalau kau baik-baik saja?

"Naoto--?" Souji mengencangkan pegangan tangannya di pundak Naoto, mengguncangkan tubuh gadis di depannya pelan. Ia ingin mencoba memancing reaksi lain dari detektif itu, sekadar memastikan kalau Naoto memang baik-baik saja.

"Jangan pergi, Souji-san..."

Hati Souji menjadi semakin lega. Mungkin keadaan Naoto memang sudah membaik. Mungkin tidak ada hal buruk yang terjadi. Mungkin dalam beberapa menit lagi kesadaran Naoto akan pulih. Mungkin dalam beberapa menit lagi Naoto akan kembali ke dirinya yang semula, yaitu Naoto yang independen dan cerdas. Kembali menjadi Naoto yang telah membuatnya jatuh hati, walaupun pemuda itu tidak pernah berani menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Akan tetapi, Souji tidak dapat berbohong kalau dia tidak ingin Naoto berhenti memeluknya. Ia sepenuhnya sadar kalau pulihnya Naoto sama dengan berakhirnya kedekatan mereka saat itu. Jangan egois, Souji... Sekarang, bukankah yang terbaik bagi Naoto adalah untuk kembali ke dunia nyata?

"Aku tidak akan pergi kemana-mana, Naoto," bisik Souji pelan ke telinga gadis itu. "Kembalilah, Naoto."

Teriakan lega Rise dan Teddie terdengar dengan jelas seperti bel di telinga Souji, yang diiringi dengan desahan senang dari teman-teman tim investigasinya yang lain. Naoto sudah sadar, dia tidak apa-apa. Rasa takut dan bersalah yang sempat memenuhi hati Souji langsung menghilang, digantikan oleh kegembiraan yang tidak terukur. Tanpa disadarinya, tangan kanannya sudah melingkari tubuh Naoto, tangan kirinya membelai kepala gadis itu. Ditariknya sang detektif ke dalam pelukannya, yang sepertinya dijawab oleh Naoto dengan semakin mengeratkan tangannya yang memeluk Souji.

"Uh--Souji-kun?"

Suara jernih Yukiko menarik Souji kembali dari kebahagiaannya ke dunia nyata. Baru disadarinya kalau dia sedang memeluk Naoto, dan semburat kemerahan muncul di wajahnya yang biasanya selalu dipenuhi dengan ekspresi tenang. Langsung dilepaskannya pelukannya, berpikir kalau Naoto juga pasti akan melakukan hal yang sama. Pemuda itu langsung dapat membayangkan wajah Naoto yang tersipu malu karena apa yang telah dilakukannya, dan betapa gadis itu akan tampak sangat manis dengan sikapnya yang malu-malu dan wajahnya yang bersemu merah muda. Bibir Souji melengkung, membentuk sebuah senyuman.

Dipandangnya kedua manik biru keperakan milik gadis di depannya itu, menyambut kembalinya kesadaran sang detektif dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya. Kehidupan kembali mendiami sorot mata gadis itu, walaupun Souji tidak dapat memungkiri kalau ia merasakan sesuatu yang aneh ketika ia memandang sepasang bola mata yang baginya indah itu. Seperti ada sesuatu yang lain yang turut menghuni sorot mata itu. Mungkinkah efek samping dari serangan entah apa yang diluncurkan oleh Souji ketika kesadarannya direnggut darinya? Apapun efek samping itu, pemuda berusia enambelas tahun itu hanya dapat berharap kalau Naoto--tetap--tidak apa-apa dan baik-baik saja.

"Mengapa... Souji berhenti memelukku?" Kesedihan terdengar dengan jelas dari nada suara Naoto. Gadis itu mengeratkan pelukannya kepada Souji dan mengistirahatkan kepalanya di dada pemuda itu. "Apakah Souji sudah tidak menginginkanku lagi?"

Souji terdiam kaku. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Naoto akan bereaksi seperti itu, sangat berbeda dari apa yang sempat dibayangkannya. Bukan seperti Naoto yang dikenalnya. Bukan seperti apa yang diketahuinya tentang bagaimana biasanya Naoto bersikap terhadapnya. Shirogane Naoto yang dikenal oleh Souji adalah gadis yang selalu terasa jauh dari jangkauannya. Tidak peduli walaupun mereka bersama-sama berusaha memecahkan kasus pembunuhan dan penculikan di Inaba. Tidak peduli walaupun Souji telah mengetahui sedikit banyak tentang masa kecil Naoto dalam waktu ketika mereka berdua memecahkan kasus Phantom Thief bersama-sama. Selalu saja hati kecil Souji mengatakan kalau dirinya tidak pantas untuk seorang gadis yang nyaris sempurna seperti Naoto. Lagipula, apa yang bisa dilihat oleh gadis itu dari Souji? Rasanya, hampir tidak ada.

Pasti Naoto masih berada dalam pengaruh efek serangan itu, yang membuat otaknya tidak dapat berpikir dengan benar.

Akan tetapi, Souji tidak dapat berbohong kalau ia tidak berharap kalau semua itu hanya mimpi. Pikirannya sangat ingin memproses apa yang tadi dikatakan oleh Naoto dan yang dilakukan oleh gadis itu sebagai suatu kebenaran apa adanya, bukan hanya efek dari suatu serangan tak dikenal. Ia sangat ingin mengartikan perilaku Naoto tadi sebagai pertanda bahwa gadis itu, mungkin, juga menyukainya. Juga menginginkan dirinya, sebagaimana pemuda itu selalu bermimpi dapat mencintai Naoto sebebas-bebasnya. Souji ingin dapat memiliki Naoto, dan membiarkan gadis itu memiliki dirinya. Itulah mimpinya, keinginannya yang terdalam. Yang selama ini selalu dipendamnya dalam-dalam, tidak pernah diungkapkannya kepada siapapun. Tampak begitu mudah untuk dapat menggapai apa yang diinginkannya sekarang--

--tidak, Souji. Tidak. Pemuda itu menggigit bibirnya sendiri, mengalihkan pandangannya dari Naoto. Dia tidak dapat memandang mata Naoto, dan juga tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan gadis itu tadi. Aku sangat menginginkanmu, Naoto. Lebih dari yang kau mungkin bayangkan. Tapi--aku tentu tidak dapat berkata seperti itu, bukan? Souji menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sangat jelas kalau pemuda itu tidak dapat menuruti apa yang dikatakan oleh insting dan hati kecilnya. Tetapi, otaknya tidak mau diajak bekerja sama untuk memikirkan hal lain yang dapat ia lakukan untuk merespon perkataan Naoto.

"Souji..?"

Seketika, Souji merasakan sepasang tangan memegang wajahnya, dan membuatnya kembali menoleh ke arah Naoto. Tangan Naoto. Detektif itu seolah memaksa Souji untuk melihat ke arahnya kembali dan menjawab pertanyaannya. Lidah Souji terasa kelu ketika pemuda berambut abu-abu itu menatap manik biru keabuan milik Naoto, yang sepertinya dipenuhi dengan rasa sedih dan kekecewaan. Ingin sekali ia merengkuh gadis itu, membalas pelukannya, dan mengatakan apa yang sesungguhnya ia rasakan. Tetapi, tidak di sini. Tidak ketika Naoto mungkin tidak sepenuhnya sadar, dan tidak tahu apa yang ia katakan. Ia tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, dan memanfaatkan kondisi Naoto yang sedang, mungkin, setengah sadar.

"Bukan begini caranya," ucap Souji lemah. Dialihkannya pandangan dari Naoto, dan dipandangnya satu-persatu teman-temannya yang lain yang dapat dilihatnya dari jarak pandangnya. Mereka tampak bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Wajar saja. Naoto bersikap aneh, tidak seperti biasanya. Bukankah justru akan lebih aneh lagi jika Yousuke dan yang lainnya bersikap seolah-olah hal seperti itu wajar-wajar saja?

Dipandangnya Yousuke, yang kebetulan berdiri di tempat yang masih berada dalam jarak pandangnya. Tolong, Souji mencoba memberikan sinyal kepada Yousuke untuk membantunya lewat tatapan-minta-tolong. Remaja yang selalu mengenakan headphones itu tampaknya mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Souji, dan menganggukkan kepalanya. "Ehm... Naoto? Bukan maksudku untuk menganggu waktumu berdua dengan Souji..." Souji melemparkan pandangan tajam yang membuat Yousuke bergidik. "Mak-maksudku, bagaimana kalau kita kembali ke Junes sekarang? Sebentar lagi waktu promosi sore di bagian elektronik akan dimulai, dan aku tidak yakin apakah kita bisa keluar dengan aman tanpa menarik banyak perhatian."

"Betul sekali!" Souji berkomentar sembari mengingatkan dirinya sendiri untuk mentraktir Yousuke di Aiya suatu hari nanti sebagai tanda terima kasih telah mengeluarkannya dari suatu posisi yang sulit. "Kita harus keluar sekarang, bukankah begitu, teman-teman?"

"Ya," Yukiko menimpali pembicaraan setelah sadar apa yang dimaksud oleh Souji dan Yousuke. "Aku telah berjanji untuk membantu pekerjaan di penginapan untuk... mengambil kimono dari Bibi Tatsumi." Yukiko menyodok tangan Kanji dengan sikunya.

"Aku tidak--" Pemuda yang pandai menjahit itu terdiam, membutuhkan beberapa saat untuk memproses kebohongan Yukiko. "Ah! Benar, aku harus membantu Ma. Um--sangat penting, kau mengerti?"

"Tentu saja kami mengerti," sahut Souji tenang. Ditariknya napas, dan ia pun kembali memandang Naoto. "Jadi, Naoto, kita harus kembali ke Junes sekarang. Kamu bisa berdiri?"

Naoto hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apapun. Sang detektif melepaskan pelukannya dari Souji, dan mengumpulkan sisa kekuatannya untuk berdiri. Souji langsung merasakan perasaan tidak enak mengetahui reaksi Naoto. Pemuda itu merasa bersalah, mudah saja. Ia merasa telah mengecewakan Naoto, meskipun tidak dapat dipungkirinya bahwa Naoto sedang tidak dapat berpikir dengan benar ketika gadis itu memeluk dirinya dan mengatakan kata-kata tersebut. Ia tidak dapat berbohong kalau ia merasa sedikit hampa ketika Naoto melepaskan pelukan itu darinya. Kalau Souji boleh melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya, remaja berambut keperakan itu akan langsung merengkuh Naoto dalam pelukannya, dan tidak akan membiarkan gadis itu pergi.

Tidak akan. Souji menatap Naoto dengan pandangan lirih. Kalau saja...


Dan itulah chapter ketiga. Saya berharap chapter ini tidak terlalu membosankan, dan sudah cukup bisa memberikan petunjuk mengenai apa yang akan terjadi di chapter-chapter berikutnya... Silakan memberikan kritik maupun saran!