Chapter 4! Lebih singkat dari chapter yang sebelumnya, memang. Seperti chapter 2, semacam interlude sebelum menuju ke chapter 5 yang memang jauh lebih panjang. Anyway, enjoy!
Tidak ada banyak orang di departemen elektronik Junes, seperti biasa. Souji menghela napas lega setelah ia menemukan kalau kedua kristal abu-abunya tidak menemukan sosok manusia selain para anggota tim investigasi di sana. Ia masih tidak mengetahui tentang kebenaran di balik kondisi Naoto, dan hal terakhir yang diharapkannya adalah sekumpulan orang yang bergerombol, menanyakan kondisi sang gadis bermata biru keabu-abuan. Oh, dan mempertanyakan mengapa sekelompok remaja tanggung tiba-tiba keluar dari layar televisi.
Dicurinya pandangan singkat ke arah Naoto. Sang detektif muda, masih terlihat--aneh? Souji tidak tahu pasti bagaimana menjelaskan keadaan Naoto. Sorot mata gadis itu masih terlihat kosong, walaupun jelas sekali ada gurat-gurat kekecewaan di wajah mungilnya. Di wajah yang dianggap oleh pemuda itu sebagai wajah terindah di dunia. Souji merasa kesal kepada dirinya sendiri. Mengapa, ia tidak dapat melakukan sesuatu? Mengapa, ia tidak memiliki jawaban atas kondisi Naoto sekarang? Mengapa, ia tidak dapat menolong perempuan yang paling penting baginya?
"Souji?"
Pemuda itu menoleh, dan sosok seorang Hanamura Yousuke segera muncul di hadapannya. Remaja yang selalu mengenakan headphone kemanapun ia pergi itu tampak khawatir, seperti yang jelas sekali tergambar dari air mukanya. Tidak perlu banyak waktu bagi Souji untuk mengerti kalau sahabatnya itu sedang mengkhawatirkan keadaannya juga--sama seperti ia mengkhawatirkan kondisi Naoto. Souji mengangguk. "Ya?"
"Tidak, hanya saja aku merasa aneh. Dari tadi, kau terus melamun. Apakah ada sesuatu di pikiranmu?"
Banyak, pikir sang pemimpin. Akan tetapi, ia tidak boleh mengatakan hal itu, bukan? Souji harus selalu tenang. Ia harus selalu terlihat dapat mengontrol emosinya sendiri, walaupun sesungguhnya perasaannya sudah keluar dari batas yang dapat dikendalikannya. Ditariknya napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan oksigen. "Tidak apa-apa." Ia berbalik, memandang para anggota tim penyelidikan lainnya. "Dan kalian semua, silakan pulang ke rumah masing-masing."
Setelah beberapa anggukan, yang Souji hanya bisa simpulkan ditujukan kepada diri mereka sendiri, anggota grup yang lain pulang dan meninggalkan Souji seorang diri di departemen elektronik Junes.
Atau, itulah kelihatannya.
Souji memejamkan matanya, berusaha melupakan apa yang terjadi antara dirinya dan Naoto tadi. Tidak ada apa-apa, tidak akan terjadi apa-apa. Mungkin Naoto hanya lemah secara mental, dan tidak menyadari apa yang telah ia ucapkan. Setelah beristirahat, gadis itu akan kembali ke sosok Shirogane Naoto yang dikenalnya--kuat, cerdas, mandiri. Dan yang jelas, Naoto yang tidak memiliki alasan untuk menginginkan--tidak, menyukai seorang Seta Souji yang merupakan seorang laki-laki biasa. Laki-laki biasa berusia enambelas tahun, yang dihadapkan dengan kasus pembunuhan di kota yang ditinggalinya selama satu tahun, dan entah mengapa menjadi terlibat dalam penyelamatan para korban seraya berusaha menghentikan dan menemukan sang pelaku.
Akan tetapi, tidak peduli seberapa kerasnya ia berusaha, kejadian tadi tetap terus-menerus berputar bagaikan suatu dokumentari di otaknya. Ia masih dapat mengingat jelas sensasi berdesir di dadanya ketika Naoto memeluknya, rasa panas yang memenuhi wajahnya ketika gadis itu bertanya apakah ia tidak menginginkan sang detektif lagi. Semakin lama, gambaran-gambaran itu muncul semakin jelas, semakin terasa dekat. Tidak boleh. Tidak boleh sama sekali. Pemuda itu menghela napas, dan perlahan-lahan membuka matanya.
Dan tidak dapat dikatakan betapa terkejutnya ia ketika hal pertama yang dilihatnya adalah sosok seorang gadis bertubuh mungil yang memakai topi berwarna biru yang senada dengan warna rambutnya. Naoto. Kenapa, dia belum pulang?
"Belum pulang, Naoto?" tanya Souji, sekadar basa-basi. Ia mencoba tersenyum secara natural, akan tetapi bibirnya terasa kaku. Bayang-bayang kejadian di dunia TV masih menghantui pikirannya--walaupun jujur, Souji merasakan ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap kali ia mencoba mengingat apa yang dialaminya. Sensasi yang, jujur, menyenangkan.
Gadis itu hanya tersenyum, dengan senyuman yang di mata Souji terlihat sangat manis--dan tidak berdosa. Dipertemukannya manik biru keabu-abuannya dengan sepasang iris abu-abu Souji, bibirnya terbuka untuk berkata, "Aku ingin pulang denganmu."
"Arah rumah kita berlawanan," sahut Souji cepat.
"Tidak masalah. Aku ingin pulang bersamamu."
Apakah Souji sedang bermimpi? Kalau iya, maka itu sungguhlah suatu mimpi yang sangat indah. Diinjaknya kakinya dengan kaki yang lainnya. Terasa sakit. Berarti, semua yang terjadi bukan mimpi. Akan tetapi, bukannya merasa senang, Souji malah merasa semakin tidak enak--walaupun tidak dapat dinafikan kalau pemuda itu merasa sedikit gembira. Naoto yang dikenalnya, selama ini terus menolak ajakan Souji untuk pulang bersama. Meskipun pada akhirnya, gadis itu akan menerima penawaran pemuda itu. Masih ada sesuatu yang aneh menguasai pikiran gadis itu, pemuda bermata abu-abu itu langsung menyadarinya.
"Hari sudah menjelang sore, Naoto. Bisa kemalaman," ucap pemuda itu, berusaha untuk membuat suatu alasan.
Sorot mata Naoto meredup, yang membuat Souji merasakan seperti ratusan pisau tiba-tiba menusuk dirinya. Ia tahu kalau Naoto sedang tidak dapat berpikir dengan jernih, ia bukan dirinya yang biasanya, tetapi itu semua tidak mengubah fakta bahwa ia telah membuat gadis itu merasa kecewa. Merasa sedih. Ia mengigit bibirnya, berusaha memalingkan wajah. Akan tetapi, pemuda berambut abu-abu itu tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Naoto.
"Jadi, Souji benar-benar sudah tidak menginginkanku lagi...?"
Pukulan yang telak. Souji tidak dapat berkata apa-apa, walaupun ia membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu. Suaranya tercekat, entah mengapa tiba-tiba seperti ada blok besar yang menutup mulutnya dari berbicara. Matanya terbelalak, terpaku memandang sepasang kelereng biru abu-abu milik gadis yang berdiri di depannya. Nada sedih, nada kecewa, dan nada putus asa dari suara gadis itu, yang entah mengapa menggunakan suaranya yang tinggi, terngiang-ngiang di telinga lelaki berusia enambelas tahun itu. Semakin lama, semakin terdengar jelas di telinganya. Semakin menyakitkan, mengingat pemuda itu menyadari kalau hal-hal tersebut tidak akan pernah menyelinap keluar dari bibir sang detektif ketika ia dalam keadaan sadar.
"Tapi tidak apa-apa," Naoto melanjutkan perkataannya, yang membuat pemuda yang memimpin tim investigasi di depannya itu terkejut. Detektif itu tidak mempedulikan keterkejutan Souji, nampaknya, karena ia malah memegang kedua tangan lelaki itu dengan tangannya. Suatu tindakan yang membuat Souji semakin terkejut, walaupun ia hanya diam saja dan membiarkan tangannya dipegang erat oleh Naoto. Hanya memegang tangan saja... Tidak masalah, kan?
Di luar dugaannya, rona kemerahan memenuhi wajah juniornya itu, yang membuat Naoto tampak semakin manis di mata Souji. Kedua bulir keperakan pemuda itu tidak bisa lari kemanapun lagi, terperangkap untuk hanya memandang wajah sang detektif. Ia dapat merasakah darah yang mengalir semakin deras di pembuluh-pembuluhnya, jantungnya berpacu cepat.
Ah--gelora masa muda.
"Karena aku akan berusaha membuatmu kembali menginginkanku, Souji."
Bom waktu yang kedua--atau malah yang ketiga?--telah meledak di dalam diri lelaki berusia enambelas tahun itu. Wajahnya memerah, lebih merah dari tomat yang sudah masak. Ia tidak dapat mempercayai telinganya lagi, ia tidak percaya kalau telinganya masih bekerja dengan benar dan bukannya membuatnya mendengar hal-hal yang diinginkannya. Dan pemuda itu juga mulai berpikir kalau yang selama ini dilihatnya, mengenai Naoto yang tersipu dan tersenyum manis, hanyalah ilusi yang diputar oleh otaknya.
"Aku tidak--maksudku... Err--" Souji tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak dapat mengontrol pikirannya sendiri, ia tidak tahu bagaimana ia seharusnya bereaksi. Bahkan remaja itu tidak tahu apakah yang dihadapinya sekarang itu nyata--kalau saja ia tidak dapat merasakan tangan Naoto yang menggenggam tangannya erat.
"Akan kulakukan apapun untuk mendapatkan hatimu, Souji," Naoto melanjutkan perkataannya. Ditatapnya pemuda di hadapannya dengan pandangan teduh, pandangan yang seperti merindukan sesuatu. "Sungguh."
Souji nyaris saja yakin kalau ia sedang berada di awang-awang, sedang berada di surga--kalau saja ia tidak menyadari kalau Naoto sedang berada di bawah suatu pengaruh yang ia juga tidak tahu jelas apa. Pikirannya semakin tidak bisa diajak bekerjasama, sebagaimana yang juga terjadi di seluruh bagian tubuhnya.
Seorang Souji Seta, seharusnya tidak mudah terpengaruh dengan keadaan di sekelilingnya, terutama apabila ia mengetahui kalau ada sesuatu yang salah di balik keadaan tersebut. Ia harus dapat mengontrol emosinya, mengendalikan dirinya sendiri, dan bukannya terbawa perasaan sesaat. Akan tetapi, tidak peduli sesempurna apa pengendalian diri yang dimiliki oleh pemuda berambut abu-abu itu, ia tetaplah manusia biasa yang memiliki batasan. Ia hanyalah seorang remaja yang sedang puber, yang dapat dikendalikan oleh hormon--dibalik topeng seorang pemimpin yang bijak, dewasa, dan sempurna.
Sang pangeran detektif sekarang menggelayutkan tangan kirinya di lengan kanan Souji, menyandarkan kepalanya di lengan pemuda itu. Ditatapnya sepasang kristal abu-abu milik Souji, seulas senyuman manis masih bertengger di bibirnya. "Ayo pulang?"
Apapun yang terjadi, terjadilah.
Saya sangat mengharapkan untuk mendengar pendapat anda mengenai kelanjutan cerita ini! *tebar-tebar bunga*
