Chapter kelima!

Sebelumnya, saya ingin mempromosikan suatu forum yang didekasikan kepada para author fanfiction di Indonesia, yaitu Indonesian Fanfiction Author Forum (Infantrum). Untuk link-nya, dapat ditemukan di profile page lalapyon atau saya. Join us!

Seperti biasanya, saya mengharapkan masukan untuk menjadikan karya ini lebih baik!


Pemuda berambut abu-abu itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas futon, tidak mengganti seragamnya terlebih dahulu. Jantungnya berpacu cepat, pernapasannya masih tersengal-sengal tidak teratur. Kakinya lemas, seolah tidak memiliki kekuatan untuk menopang berat tubuhnya lebih lama lagi kalau saja ia tidak segera membaringkan tubuhnya di atas futon yang empuk. Tidak pernah di dalam hidupnya, ia berlari secepat itu untuk segera pulang ke rumah keluarga Doujima. Tidak pernah sekalipun ia merasa selelah itu setelah berlari, walaupun jarak yang ditempuhnya tidak dapat dikatakan jauh. Tidak pernah sebelumnya, seorang Seta Souji harus menenangkan pikirannya dengan cara-cara yang berhubungan dengan fisik--berlari.

Sekujur ototnya seolah berteriak, meminta sosok pemimpin dan idola Inaba itu untuk beristirahat. Dicobanya untuk menurut. Ia memejamkan matanya, berusaha menutup semua pemikiran yang sempat menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Akan tetapi, tidak peduli sekeras apapun pemuda itu berusaha untuk menghalau semua kenangan-kenangan tersebut, ia tidak dapat menghindari semua hal tersebut dari memasuki pikirannya secara paksa. Otaknya kini seperti jendela kaca transparan, yang tidak dapat menghalau sinar mentari tidak peduli seberapa tebalnya kaca tersebut.

Ah, tetapi bukankah apa yang sedang berusaha menginvasi otaknya, bukanlah sesuatu yang secerah sinar matahari?

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ia, Seta Souji, tidak tahu persis bagaimana kronologisnya sehingga ia bisa berada di tempat itu. Di samping seorang detektif berambut biru yang selama ini diam-diam dicintainya, Shirogane Naoto. Ditempat yang sebelumnya sama sekali tidak pernah dibayangkannya untuk dikunjungi; kecuali di satu kali saja ketika ia harus melakukan tugasnya sebagai seorang pemimpin, untuk memastikan bahwa setiap orang yang diselamatkannya dan timnya baik-baik saja. Dan itu, sudah lama sekali.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan kembali ke tempat itu lagi. Tidak pernah sekalipun terlintas di otaknya, kalau ia akan datang lagi ke apartemen itu. Kali ini, Souji tidak mengerti mengapa kakinya setuju dilangkahkan menuju ke tempat itu, mengapa nuraninya tidak meneriakkan kata-kata tidak setuju selama perjalanannya menuju ke sana. Seolah-olah akal sehatnya yang selama ini dipertahankannya dengan susah payah menghilang entah ke mana, membiarkan tubuh pemuda berusia enambelas tahun itu untuk dikontrol sepenuhnya oleh hormonnya.

Ia menyesal.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dibukanya kedua matanya, sepasang iris keperakan terlihat di balik kelopak matanya yang terbuka. Ditatapnya atap-atap kamar, napasnya semakin tidak teratur, jantungnya tetap berdetak cepat. Ia mengurut dadanya dengan tangan kanannya, berupaya untuk menenangkan dirinya sendiri.

Pemuda itu, Souji, tetap tidak bisa tidur.

Ingin sekali ia membawa seluruh kesadarannya ke dunia mimpi, dan bangun keesokan harinya, menganggap semua kegilaan yang terjadi di hari itu sebagai mimpi belaka. Akan tetapi, ia tidak bisa. Jam biologisnya menolak untuk dibawa beristirahat, karena hari memang belum menjelang malam. Baru sore hari. Pikirannya juga tidak dapat diajak bekerjasama, selalu memutarkan kejadian yang dialaminya tadi setiap ia mencoba menutup mata. Bagaimana ia bisa menenangkan diri dan mencoba tidur, apabila tubuhnya sendiri menentang?

Rasa frustasi mulai memenuhi diri lelaki itu. Semakin ia mencoba untuk melupakan semuanya, semakin segalanya terlihat lebih dekat. Menghantui pikirannya, membuatnya merasa gelisah. Bagaimana tidak, kalau ia nyaris saja melukai gadis yang paling penting baginya itu--Shirogane Naoto?

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Souji masih tidak dapat memproses alasan mengapa ia bisa sampai di tempat itu. Seingatnya, ia masih kukuh dengan pendiriannya, masih dapat mengontrol akal sehatnya sendiri. Kalau begitu, apa yang membuatnya hilang kendali atas dirinya sendiri?

Pikirannya melayang, kembali mengingat apa yang telah terjadi ketika ia masih berada di departemen elektronik Junes. Ketika semua anggota grup investigasi yang lain sudah pulang ke rumahnya masing-masing, meninggalkan Souji dan Naoto, berdua saja di sana. Ia masih dapat mengingat jelas percakapan yang ia miliki dengan Naoto di Junes, bagaimana ia benar-benar menyadari kalau memang ada sesuatu yang aneh dengan Naoto. Bagaimana ia mengetahui kalau apa yang seharusnya dilakukannya adalah pergi ke Velvet Room, mengkonfirmasikan keadaan dengan Igor, dan menanyakan bagaimana caranya mengembalikan keadaan Naoto seperti semula. Bukannya malah berada di tempat itu.

Bukannya berada di apartemen Naoto.

"Souji...?"

Suara lembut Naoto memenuhi telinga pria muda itu, dan secara refleks kepalanya menoleh, mempertemukan sepasang kristal abu-abunya dengan manik biru-keabuan milik gadis di depannya itu. Ditangkapnya seulas senyuman manis bertengger di bibir sang pangeran detektif. Hatinya mencelos.

"Aku... hanya mau berterimakasih karena kamu bersedia mengantarkanku pulang ke rumah," Naoto melanjutkan perkataannya, kedua tangannya memegang erat tangan pemuda di hadapannya itu. Disandarkannya kepalanya di pundak sang pemimpin. "Aku sangat senang."

Jantung Souji berdegup kencang--ia berharap Naoto tidak menyadari hal itu. Gadis itu, sekarang terlalu dekat. Sama sekali tidak menolong, fakta bahwa ia sekarang berada di tempat yang tidak seharusnya ia berada. Kalau saja ia masih berada di Junes, atau bahkan di dunia para shadows ketika teman-teman setimnya berada di jarak pandangnya, mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah. Sekarang, ia hanya berada di apartemen Naoto, duduk di sofa, hanya berdua saja--tidak ada orang lain di sana. Menjadi semakin sulit bagi sang pemimpin tim investigasi untuk mempertahankan akal sehatnya, ketika sama sekali tidak ada orang lain untuk mengawasi setiap gerak-geriknya. Dan menjadi lebih sulit lagi, karena siapa lagi kalau bukan gadis yang sekarang menginvasi pertahanannya? Naoto.

Souji mengerjapkan matanya. Ia tahu, ia bukanlah seorang sosok yang sempurna. Ia melakukan kesalahan-kesalahan di tiap liku hidupnya, tentu, tetapi ia cukup pintar untuk menghindari terjerumus ke dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan. Hidupnya, kebanyakan dilaluinya dengan perhitungan-perhitungan. Ah, bukankah karena sosoknya yang selalu mengantisipasi dan berakal sehat itulah, ia dipercaya memimpin sekumpulan remaja tanggung yang bertekad menyelesaikan kasus penculikan dan pembunuhan di Inaba?

Apa sulitnya--mempertahankan sosok yang sempurna itu?

"Sekarang kau sudah di rumah, Naoto. Aku permisi," ucapnya, seraya membangkitkan tubuhnya dari sofa. Ia dapat merasakan Naoto yang melepaskan sandaran kepalanya di bahunya. Mungkinkah, gadis itu mengerti? Bagaimanapun, ia adalah seorang detektif, yang seharusnya dapat membaca suasana dengan sempurna. Hati Souji menjadi lega.

"Jangan pergi, Souji."

Pemuda itu menoleh. Dirasakannya genggaman tangan Naoto yang semakin erat memegang tangan kanannya, seolah tidak ingin membiarkan sang remaja berambut abu-abu itu pergi. Semua perasaan lega kalau Naoto mungkin sudah pulih, kembali menghilang. Ditariknya napas dalam-dalam. "Sudah mau malam, Naoto. Paman dan Nanako... mereka sedang menungguku di rumah," ucapnya beralasan.

Guratan muncul di kening sang junior. Gadis itu berdiri, tangannya masih mengenggam jemari Souji erat. "Akan kutelepon mereka berdua." Ia mengambil beberapa langkah, mendekatkan dirinya dengan Souji yang masih terpaku. "Kubilang kalau kau akan menginap di sini."

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Mengapa, sangat sulit melupakan sesuatu yang ingin kau lupakan?

Mengapa, sangat sulit mempertahankan diri dari sesuatu yang kau sadari tidak boleh kau lakukan?

Mengapa, sangat sulit membuat keputusan yang baik ketika pikiranmu sedang tidak jernih?

Mengapa?

Pikiran pemuda itu tetap melayang, tidak mau membiarkan pemiliknya beristirahat dengan tenang. Bayangan akan apa yang telah, sedang, dan mungkin akan terjadi semakin membuatnya--ah, ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Yang ia tahu hanya, garis yang membatasi antara akal sehat dan dorongan gairah masa mudanya, terlihat begitu tipis. Begitu mudahnya kah, mengikis batasan yang selama ini dipertahankannya dengan susah payah di depan semua orang?

Dibalikannya tubuhnya yang masih terbaring di permukaan futon, menghadap ke arah tembok. Diraihnya permukaan tembok itu, telapak tangannya menyentuh beton. Souji menggigit bibirnya, memejamkan matanya. Kemarahan akan dirinya sendiri, yang entah datang dari mana, memenuhi dirinya. Giginya bergeretak. Terdorong impulsi sesaat, dihantamkannya tangan kirinya ke tembok, tinjuan yang tidak membuat tembok itu bergeming. Ia tahu. Rasa sakit memenuhi sarafnya, ngilu mendominasi tulangnya. Pemuda itu, Souji, hanya dapat meringis. Apa artinya rasa sakit ini?

Ia--hanya pemuda biasa, dibalik sosoknya sebagai pemimpin, teman, murid, saudara, dan anak yang ideal.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tidak, tidak, TIDAK! Hati nurani Souji berteriak, berusaha mengalahkan suara lain yang kini bernyanyi di otak pemuda itu. Dua pihak yang berlawanan berperang di kepalanya, membuat sang pemimpin merasakan denyut yang membuat dirinya merasa pusing. Sentuhan jemari Naoto di tangannya menjadikan tubuh pemuda itu panas dingin, apalagi mengingat apa yang baru saja dikatakan oleh gadis berambut biru itu.

Tidak boleh, Souji. Jangan berharap. Kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan, kan? Akal sehat Souji masih bersuara, berusaha memenangkan pertarungan yang sekarang terjadi di otak pemuda itu. Sebuah melodi sumbang terputar di otaknya, hasil dari pertentangan antar dua sisi yang mencoba mempengaruhi pemuda itu. Ia memejamkan matanya. Souji tahu apa yang seharusnya dilakukannya sekarang, ia sadar sepenuhnya kalau kondisi Naoto memang sedang aneh. Akan tetapi, mengapa sekarang ia merasa sangat sulit untuk mengambil sebuah keputusan?

Ia membalikkan tubuhnya, menatap sepasang iris biru keperakan milik gadis di depannya. Dari ekspresi wajahnya, sangat jelas terlihat kalau sang pangeran detektif membutuhkan suatu jawaban yang konkrit dari pemuda yang masih berdiri kaku di hadapannya itu. Sinar yang tadi sempat menghuni sorot mata gadis itu meredup ketika ia mengetahui bahwa pria di depannya itu sama sekali tidak menjawab, walaupun beberapa menit telah berlalu. Ditariknya tangan sang pemuda yang dari tadi dipegangnya.

Keterkejutan menyelinap keluar dari bibir tipis sang pemuda. Naoto adalah seorang gadis yang kuat, jauh lebih kuat dari perempuan lain yang seusia dengannya. Ia adalah seorang detektif yang terlibat dalam berbagai macam kasus yang dapat membahayakan jiwanya, tetapi terus bertekun di garis depan untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Ia adalah anggota tim investigasi yang bertarung melawan shadows dengan kekuatan persona yang dimilikinya, juga dengan revolver yang setia mendampinginya. Sudah tidak terhitung lagi, bulir keabuan pemuda itu menangkap sosok sang detektif yang bertarung di garis depan; terluka, terbakar, tersambar, berdarah. Akan tetapi, gadis itu tetap bangkit, menembaki para shadows dengan pistolnya dan merapalkan aneka serangan. Souji tahu semua itu, sudah sering sekali hatinya merasa miris karena ia tidak dapat melindungi gadis itu dari berbagai macam jenis luka.

Tetapi, Souji sama sekali tidak mengetahui kalau Naoto memiliki kekuatan yang sebesar itu, hanya dari sebuah gerakan yang sebenarnya sederhana. Ataukah, hanya dirinya saja yang terlalu bimbang sehingga kehilangan kekuatan? Pemuda itu kehilangan keseimbangan seketika. Tubuhnya terjatuh ke depan. Dipejamkannya matanya selama tubuhnya jatuh, mengharapkan untuk bertemu dengan lantai yang keras.

Akan tetapi, ia tidak menemukan lantai yang didambakannya. Hal pertama yang dirasakannya bukanlah rasa sakit karena tubuhnya yang terjatuh bebas menghantam lantai. Terasa sesuatu yang lembut, seperti menopang tubuhnya. Souji membuka matanya perlahan, pikirannya masih tidak teratur. Sepasang retinanya menangkap sosok yang sangat familiar, wajah yang sangat dikenalnya.

Naoto.

Darah mengalir deras ke otak pemuda itu. Ia, dan Naoto, dan posisi mereka sekarang--semua itu memenuhi otaknya. Suara-suara yang memberikan sugesti-sugesti yang jauh dari murni semakin asyik menyanyikan lagu mereka, volume suaranya nyaris mengalahkan bisikan pelan dari akal sehat pemuda itu. Hampir setiap kesadaran yang dipertahankan oleh remaja tanggung itu menghilang, hanya menyisakan sejengkal kecil tempat untuk dihuni oleh pikirannya yang masih dapat berpikir dengan bijak.

Belum pernah Souji memandang wajah Naoto, dalam jarak yang sedekat itu. Ia tidak mengetahui kalau Naoto memiliki bulu mata yang lentik, atau bagaimana hidungnya yang mungil terlihat sangat proposional dengan wajahnya. Tidak pernah ia memperhatikan betapa bibir gadis itu terlihat sangat lembut--dan mungil. Disapukannya telunjuk kanannya di bibir gadis itu, inderanya dengan cepat memberitahukannya kalau memang benar bibir sang detektif itu selembut kelihatannya.

Semburat kemerahan muncul di wajah gadis itu, senyuman menghiasi wajahnya yang merona merah muda. Sangat manis, sehingga membuat pemuda berambut abu-abu itu ikut menyunggingkan bibirnya. Sang pemimpin itu mencondongkan kepalanya, semakin menutup jarak di antara mereka berdua.

Sadar, Souji! Kau--hanya akan melukai dirinya! Apakah itu yang kauinginkan?

Teriakan putus asa terdengar di salah satu sudut otak Souji. Nuraninya berbicara untuk yang terakhir kalinya, menggunakan seluruh kekuatan untuk mengalahkan bisikan-bisikan lain yang mendominasi kepala pemuda itu. Seperti sambaran petir, kata hatinya membangunkan Souji dari apa yang terasa seperti tidur yang panjang. Tanpa menunggu lebih lama, ia bangkit, dan berbalik dari Naoto yang masih terbaring di lantai. Bibirnya hanya dapat mengucapkan kata maaf yang lirih. Pemuda itu langsung menerjang keluar dari apartemen sang gadis, kakinya dibawanya berlari sekencang mungkin.

Nyaris saja. Hampir sedikit lagi, dan ia akan sudah melukai gadis yang dicintainya diam-diam itu.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Rasa sakit dari memukul tembok masih terasa sangat nyata di saraf-saraf tangannya. Rasa sakit dari kenyataan bahwa hampir saja ia memaksakan kehendaknya pada gadis yang sangat dicintainya, jauh lebih sakit menusuk hatinya. Tidak sebanding dengan rasa ngillu yang dirasakan oleh tulang-tulangnya, tidak sebanding dengan rasa lelah yang menerpa kakinya.

Souji membalikkan tubuhnya sekali lagi, menghadap ke arah atap-atap kamar. Ditatapnya plafon dengan tatapan kosong. Bagaimana ia akan dapat menghadapi hari besok? Ia tidak sanggup untuk bertatap muka dengan Naoto lagi, tidak peduli apakah gadis itu sudah mendapatkan kesadarannya kembali atau tidak. Pemuda itu beranjak dari futon, melangkahkan kakinya ke arah meja. Ingin mengambil telepon genggamnya, menginformasikan kepada Yousuke kalau ia tidak dapat masuk sekolah keesokan harinya. Disapukannya sepasang kristal abu-abu di meja belajarnya, akan tetapi tidak ditemukannya tas berwarna hitam yang senantiasa dibawanya ke sekolah itu.

Tertinggal di apartemen Naoto.

Dan lagi, pukulan telak lain yang menghujam sosok seorang Seta Souji.