"Selamat datang di Velvet Room."
Pemandangan yang sangat familiar di mata Souji, dimunculkan di hadapannya. Sebuah limusin dengan interior berwarna biru, sebuah rak berisi botol-botol anggur yang berjejer terletak di sebelah kirinya. Dan, ah, dua orang yang sekarang sudah sangat dikenalnya, duduk di sofa panjang yang terletak di hadapannya. Salah satunya adalah seorang lelaki dengan rambut putih dan berhidung panjang, dengan mata besar yang intimidatif. Yang lain, seorang wanita berambut pirang pucat, dengan bando dan pakaian berwarna biru. Igor dan Margaret. Mereka, memanggil Souji di dalam mimpinya? Mimpi, eh? Aku tidak tahu kapan aku tertidur...
Igor, sang petugas utama Velvet Room, menatap Souji dengan pandangan seolah-olah seorang predator mencari mangsanya. Pemuda berambut abu-abu itu hanya menarik napas dalam-dalam, ia sudah terbiasa dipandangi oleh Igor seperti itu. Pikiran remaja itu melayang, mempertanyakan alasan mengapa Igor memanggil dirinya ke Velvet Room di dalam mimpinya. Terakhir kali ia dipanggil ke ruangan itu, seingatnya, sudah lama sekali. Ketika Igor memberitahunya kalau ia sudah menyetujui suatu kontrak yang bahkan ia tidak ingat kapan ditandatanganinya, dan itu terjadi ketika ia baru beberapa minggu berada di Inaba. Tepat setelah ia mendapatkan Izanagi, itu yang diingatnya. Sisanya, ia sendiri yang pergi mengunjungi ruangan itu, untuk mendapatkan persona-persona yang akan memperkuat arsenal-nya.
Sejauh ini, Igor hanya memanggilnya apabila ada suatu hal penting yang harus diungkapkan oleh lelaki itu kepada Souji. Umumnya, terkait dengan perannya sebagai seorang pengunjung tetap di Velvet Room, ruangan yang berada di tengah lautan kesadaran manusia itu. Tidak pernah sebelumnya Igor mengundang Souji di dalam tidurnya, apabila bukan untuk hal yang sangat mendesak diketahui oleh Souji. Hal penting apa, yang sangat gawat sehingga Igor harus memanggil dirinya dalam mimpi--
Naoto.
Bagaimana bisa, Souji melupakan hal itu?
"Kulihat, kau sedang menghadapi masalah yang, ah, sangat dilematis. Bukankah begitu, Souji?" sang penghuni Velvet Room bertanya kepada Souji, nada skeptis dominan di suaranya. Jemari di kedua tangan pria itu bertautan, dagunya diistirahatkan di perpaduan tangannya itu.
Bukankah sudah sangat jelas? Souji mentautkan kedua alisnya, memberikan pandangan kau-sudah-tahu-alasannya kepada Igor. Lelaki yang lebih tua itu hanya tersenyum aneh, mencondongkan tubuhnya ke arah depan, yang semakin menutup jarak antara dirinya dan Souji. Secara insting, Souji memundurkan tubuhnya, merasa tidak nyaman dengan perilaku Igor. Pria penghuni Velvet Room itu hanya tertawa kecil, matanya masih terfokus ke arah pemuda yang duduk di depannya. Souji hanya dapat meringis, tidak menyukai cara Igor bereaksi.
"Persona yang datang kepadamu, telah menimbulkan suatu riak dalam kehidupanmu... Bukankah begitu?"
Keadaan Naoto langsung mendatangi pikiran Souji, dan situasi yang menyebabkan kondisi gadis itu menjadi aneh. Masih terukir jelas di ingatan pemuda itu mengenai apa yang dikatakan Yousuke sebelumnya; tentang bagaimana Tentarafoo yang digunakannya tidak sengaja mengenai Souji, dan bagaimana Souji menggunakan serangan tidak jelas dari persona yang baru didapatkannya--Narcissus, yang kemudian menyerang Naoto. Ia tidak ingat pasti mengenai apa yang terjadi ketika ia menggunakan persona itu, Narcissus, akan tetapi pemuda bermata abu-abu itu yakin bahwa Yousuke mengatakan yang sebenarnya. Ia sendiri, tidak dapat melihat apa-apa mengenai Narcissus, tidak peduli seberapa kerasnya ia berusaha.
"Betul," sahut Souji, kekecewaan dan putus asa jelas di suaranya. "Narcissus, persona yang kau ciptakan itu, mengacaukan segalanya."
Igor mendelik. "Aku tidak menciptakan persona-persona yang kau miliki, Souji." Dijentikkannya jarinya, dan sebuah kartu tarot muncul. Igor memainkan kartu itu di tangannya, dan melanjutkan apa yang sedang dikatakannya, "Yang kulakukan hanyalah sekadar memanggil persona itu dari lautan hatimu. Dari kesadaranmu yang paling dalam, dari sisi-sisi kepribadianmu yang, ah, nyaris tidak terbatas." Satu jentikan jari lagi, dan kartu itu pun menghilang. Igor kembali mentautkan jemari di kedua tangannya. "Kalau misalkan, Narcissus itu datang kepadamu, berarti ada satu sudut di kehidupanmu yang sangat layak untuk diwakilkan olehnya. Bahkan, mungkin saja persona itu mewakilkan keinginanmu yang terdalam...?"
"Tidak!" bantah Souji cepat. Ia mengakui kalau apa yang dikatakan oleh Igor masuk akal. Bukankah Igor, nampaknya, sudah sangat berpengalaman dalam urusan persona dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Bahkan, Souji tidak ragu menyatakan kalau ia percaya bahwa Igor tidak pernah meninggalkan Velvet Room di sepanjang hidupnya, dan tetap setia dengan tugasnya itu. Akan tetapi, otak pemuda itu tidak dapat sepenuhnya menerima penjelasan Igor. Ia--menginginkan Naoto menjadi seperti itu? Tidak, sama sekali tidak. Ia sudah cukup bahagia hanya dengan melihat sang detektif Shirogane dari kejauhan, terima kasih. Ah, dan apakah Igor mencoba mengatakan sesuatu tentang Incubus, Succubus, dan Mara sebagai persona yang dapat dipanggilnya?
Ia merasa tersinggung.
Seta Souji memang hanyalah seorang pemuda biasa, remaja dengan pergolakan hormon sebagaimana laki-laki seusianya. Ia lemah, ia tahu itu--kejadian di apartemen Naoto semakin membuktikan betapa kurangnya kontrol dirinya di tempat-tempat dimana tidak ada orang yang memperhatikan. Akan tetapi, ia tidak merasa dirinya serendah itu. Dihargainya Naoto, dihargainya perasaan gadis itu yang mungkin saja--bukan, pasti tidak melihat apapun di sosok seorang Souji selain sebagai pemimpin tim investigasi yang dapat diandalkan. Ia tidak ingin melukai wanita muda itu dengan memaksakan kehendaknya, tidak seperti sosok-sosok mitologi tersebut yang sangat berkaitan dengan pemuasan hawa nafsu belaka tanpa mempedulikan efek sampingnya. Ia--tidak ingin seperti itu. Tidak akan, ditekankannya di dalam hati.
"Tenang, anak muda," sahut Igor tenang, mengibaskan tangan kanannya. "Setiap orang memiliki sisi gelap tersendiri, hm? Kau pasti tahu, sudah kau lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana bagian yang selalu dipendam oleh teman-temanmu bermanifestasi sebagai shadow. Tidak pernah kau bayangkan sebelumnya, bukan?"
Souji terdiam, mempertimbangkan perkataan Igor dengan serius. Kalau pemuda itu boleh jujur, ia sama sekali tidak menyangka kalau Yukiko sempat berniat untuk kabur dari posisinya sebagai penerus penginapan keluarganya, Rise yang tidak menyukai bagaimana publik menilai sosoknya sebagai seorang idola, Kanji yang sangat ingin diterima sebagai dirinya apa adanya--dan berbagai permasalahan lain yang dipendam oleh teman-temannya. Ia sendiri sama sekali belum menghadapi sisi gelapnya yang berwujud shadow sebagaimana teman-temannya, bahkan mungkin sama sekali tidak akan. Bukankah sangat mungkin, kalau begitu, bahwa itulah yang dipendam di dalam hatinya?
Suara tawa tertahan khas Igor terdengar, memenuhi Velvet Room. "Tidak bisa berbicara, Souji? Kalau begitu, apa yang kukatakan tadi benar, hm?"
Remaja berambut abu-abu itu hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kita belum membicarakan masalah yang harus kita beritahukan kepada Souji, Master," suara tenang dan dewasa Margaret terdengar di ruangan itu, menggantikan nada misterius dari suara Igor.
Mata Igor membesar, seperti menyadari sesuatu. Suara tawa tertahan kembali menyelinap dari lelaki misterius itu. "Ah, benar, benar. Sudah waktunya kita berbicara soal masalahmu, hm?"
Masalahku, benar, gerutu Souji di dalam hati. Ia tidak tahu dari mana Igor mengetahui soal masalah-masalahnya, akan tetapi pria itu selalu tahu apa saja yang dilakukan oleh Souji dan hubungannya dengan rekan-rekan social link-nya. Terkadang, bahkan pemuda itu merasa bahwa salah satu aktivitas rutin yang dilakukan oleh para penghuni Velvet Room adalah menguntit kesehariannya dan menginvasi kepribadiannya. Ia meringis di dalam hati.
"Kau sedang menghadapi masalah dengan detektif Shirogane itu, bukan?" Ucapan Igor langsung menusuk ke pusat masalah, membuat Souji merasa tidak nyaman. "Seperti, gadis itu terkena serangan yang membuatnya kehilangan kesadaran?"
Terlalu tepat sasaran, sehingga Souji semakin tidak dapat mengatakan apa-apa. Dan bukankah pemuda itu sama sekali tidak bisa mengutarakan apapun sejak pertama kali ia dipanggil di dalam mimpinya? Ia menelah ludahnya sendiri, dan membuka mulutnya, "Betul. Sangat betul." Ditariknya napas dalam-dalam. Ini kesempatan, ia menekankan ke dirinya sendiri. Aku harus mencari tahu cara mengembalikan keadaan Naoto... Igor mungkin mengetahui sesuatu. "Apa kau tahu, bagaimana cara mengembalikan keadaan Naoto?"
Pria di hadapan Souji itu tersenyum misterius, sembari menyandarkan dagunya di tangannya yang bertautan. Kedua maniknya membesar, seolah menginterogasi lelaki muda yang sedang duduk di depannya itu. Souji merasa semakin tidak enak, kegelisahan dapat dilihat dari sorot matanya yang berusaha menghindari pandangan yang seolah menuduh dari Igor.
"Apa kau sungguh-sungguh ingin memulihkan keadaannya, hm?"
Souji mengangguk antusias, yang dibalas oleh Igor dengan senyuman asimetris. Ia menepukkan tangannya, ekspresi wajahnya senang. "Ah, kulihat seorang pria yang lurus sebagai tamu ruangan ini? Aku sangat senang Tuanku tidak salah memilih orang." Dijentikkannya jari kurusnya yang panjang, dan selembar kartu muncul di hadapan kedua lelaki itu. Igor menyodorkan kartu itu kepada Souji sembari berkata, "Arcana ini akan membantumu, ya, akan memberikanmu jalan keluar dari permasalahanmu sekarang."
Kedua bulir keperakan milik Souji terpaku, memandang kartu yang diserahkan oleh Igor kepadanya. Kartu dari Major Arcana yang ke-limabelas, the Devil. Ia mengernyitkan keningnya, tidak sepenuhnya memahami maksud perkataan Igor. Kepalanya memutar apa yang pernah dibacanya dari sebuah buku mengenai arcana itu. Mewakili hasrat duniawi dan ketidakmauan untuk melihat kebenaran. Dalam posisi tegak, melihat ilusi dan bukannya kenyataan. Dalam posisi terbalik, menghindari keinginan itu sendiri dan munculnya rasa tanggung jawab.
Pemuda itu mulai berpikir, kira-kira apa yang dimaksud oleh Igor? Apakah ia harus menghindari Naoto sampai gadis itu kembali seperti semula? Terdengar sebagai suatu opsi yang baik baginya. Ia, memang tidak bisa lagi memandang detektif itu setelah apa yang telah dan hampir saja dilakukannya. Akan tetapi, bagaimana dengan makna lain dari arcana itu? Atau malah, berhubungan dengan orang yang berasosiasi dengan arcana itu, Sayoko?
"Maksudnya? Aku kurang--"
Igor menghela napas, memotong perkataan Souji, "Nampaknya, waktu kita sudah habis. Sampai bertemu di lain kesempatan, Souji..."
Pemuda itu kaget dengan perpisahan Igor yang memang dianggapnya tiba-tiba. Ia berdiri, ingin menggapai pria misterius itu. Masih banyak yang ingin ditanyakannya, mengenai solusi dari Igor yang jauh dari jelas. "Tunggu, Igor! Kubilang, TUNGGU!"
Akan tetapi, semua yang dapat ditangkap oleh telinganya hanyalah kikikan aneh khas Igor, dan pemandangan di depannya mulai memburam.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Kak Souji?"
Souji seketika membuka matanya, di hadapannya sosok seorang Doujima Nanako yang nampak khawatir. Pemuda itu terduduk, memandangi sekitarnya. Ia sekarang duduk di futon-nya di kamar yang dipinjamkan oleh Paman Doujima kepadanya, masih mengenakan seragam sekolah. Dipandangnya ke arah jendela, sepasang kristal abu-abunya menangkap sinar matahari pagi yang mencoba menembus jendela yang tertutup. Ia menghela napas.
"Kakak... tidak apa-apa? Dari semalam kakak tidak turun untuk makan, dan juga bangun lebih terlambat dari biasanya..." anak perempuan berusia tujuh tahun itu berkata, kekhawatiran jelas di raut wajahnya. "Kemudian, aku mendengan teriakan dari kamar kakak, dan aku sangat khawatir sampai menerobos masuk ke dalam."
Souji tersenyum tipis. Hari sudah berganti, kelihatannya, dan teriakannya di dalam mimpi untuk memanggil kembali Igor, ternyata juga terdengar sampai di dunia nyata. Sampai membuat sepupu kesayangannya itu khawatir. Ia bangkit berdiri, tangannya membelai kepala Nanako. "Aku tidak apa-apa," ucapnya berusaha meyakinkan Nanako. "Aku akan segera mandi dan menyiapkan sarapan."
Ekspresi wajah anak perempuan itu menjadi lebih tenang, setelah mendengar dari kakaknya itu kalau ia tidak apa-apa. Nanako tersenyum, bibir mungilnya berkata, "Ng--tidak apa-apa! Aku sudah menyiapkan sarapan, kok!"
Souji menghela napas lega. Nanako, masih seperti Nanako yang dikenalnya. Bertanggungjawab dan lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Diam-diam, pemuda itu merasa senang ia tidak harus memasak makan pagi hari itu. Ia tidak yakin kalau makanan yang dimasaknya dengan hati yang gundah seperti itu tidak akan menjadi versi lain dari masakan misterius hasil kreasi Yukiko, Chie, dan Rise--sekecil apapun kemungkinannya.
"Kalau begitu, aku akan mandi sekarang."
Pemuda itu melangkahkan kakinya untuk mengambil peralatan mandinya. Nanako terkikik geli, entah untuk alasan apa, dan berjalan keluar dari kamar sepupunya yang lebih tua itu. Akan tetapi, sebelum ia menutup pintu kamar Souji, gadis kecil itu terdiam, seperti mengingat sesuatu. Ia berbalik, kembali menatap Souji dengan pandangan yang jauh lebih serius. Remaja pemilik iris abu-abu itu terdiam, satu alisnya terangkat melihat perilaku Nanako yang tidak biasanya. Dibukanya mulutnya untuk bersuara, "Ada apa, Nanako?"
Di luar dugaannya, saudaranya itu malah tersenyum lebar, sepasang hazel-nya bersinar terang. "Aku baru ingat," ucapnya, tidak dapat menahan senyumnya untuk menjadi lebih sumringah, "Kalau Kak Naoto dari tadi menunggu kakak. Pergi ke sekolah bersama, katanya."
Terdengar suara pintu ditutup. Kedua manik abu-abu milik Souji melebar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Nanako. Baru saja ia mendapatkan resolusi untuk menghindari gadis itu, yang diyakininya sebagai salah satu cara untuk memulihkan keadaan sang junior. Tapi--sekarang? Ia menjadi semakin tidak tahu bagaimana cara berpikir dengan baik, dan itu baru pukul tujuh lewat duapuluh menit di pagi hari.
