Chapter 7, terlambat satu minggu dari jadwal update yang saya rencanakan, saya tahu. TT____TT Dan saya minta maaf juga untuk formatting yang sedikit berantakan di chapter ini. *dilempari kol dan tomat*


"Partner! Kamu tampak kusut sekali hari ini!"

Souji menoleh, sepasang iris abu-abunya menangkap sosok seorang pemuda berambut oranye dengan headphone tergantung di lehernya. Teman sekelasnya sendiri, Hanamura Yousuke. Dilemparkannya senyum lemah kepada remaja penggila musik itu, meletakkan tasnya di atas meja. Kemudian, dihempaskannya tubuhnya ke bangku, dan diistirahatkannya wajahnya di kedua tangannya yang bersilang di atas meja.

Melihat perilaku pemimpinnya itu, Hanamura Yousuke menaikkan sebelah alis. "Ada masalah?" tanyanya, menyilangkan kedua tangannya.

Souji menggeleng, wajahnya masih dipendam di perpaduan kedua tangannya. Yousuke tidak bisa begitu saja menerima jawaban dari Souji, yang dianggapnya terlalu ambigu. Sekali lagi, remaja itu bertanya, "Kau tahu, partner, kamu bisa menceritakan apa saja kepadaku. Kita teman, kan?"

Sang pemuda berambut abu-abu akhirnya mengangkat wajahnya, mempertemukan sepasang manik keperakan dengan kristal coklat milik sahabatnya itu. Mendesah, ia berkata, "Ya, memang kita itu teman."

Senyuman merekah di bibir Yousuke, yang segera membalas perkataan Souji tanpa membuang-buang waktu, "Ceritakan saja masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu?"

Ya, membantu, pikir Souji sarkastis. Dipertimbangkannya, apakah ia harus mengatakan yang sesungguhnya kepada Yousuke. Yousuke, yang notabene adalah salah satu pemicu rentetan kejadian yang menimpanya. Ia tahu, kalau Tentarafoo dari Yousuke yang menyerang dirinya, mengambil alih kesadarannya, dan membuatnya menggunakan serangan yang ia tidak ketahui apa itu. Serangan yang kemudian mempengaruhi Naoto, dan membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya―sampai saat itu.

Sampai tadi pagi.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Souji tidak tahu apa yang telah dilakukannya, sehingga ia harus mengalami hal seperti itu.

Nampaknya tidak cukup Tentarafoo dari Yousuke yang malah menyerang dirinya, mengambil alih kontrol pikirannya, dan membuatnya melakukan suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Nampaknya tidak cukup kalau Naoto terpengaruh dengan serangan yang ia lontarkan ketika pemuda itu kehilangan akal sehatnya, dan sebagai akibatnya gadis detektif itu berubah menjadi aneh. Nampaknya tidak cukup ia sudah hampir saja melukai gadis yang dicintainya itu karena dorongan sesaat yang muncul dari gairah masa mudanya.

Sekarang, Naoto berada di bawah, menunggunya untuk alasan-alasan yang tidak dapat dimengerti oleh pemuda itu. Rencananya untuk menghindari Naoto gagal, karena gadis itu sendiri yang datang ke rumah yang ditumpangi oleh Souji, seolah-olah tidak berhenti ingin mengejar sosok pemimpin itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi sang Shirogane muda, setelah apa yang nyaris dilakukannya kepada gadis itu. Entah apakah gadis itu sudah memperoleh kembali kesadarannya―yang semoga begitu―atau malah masih sama seperti keadaannya kemarin. Souji mendesah.

"Kak Souji?"

Sosok Nanako muncul dari balik pintu, ekspresi kebingungan di wajahnya. Anak perempuan itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang kakak sepupu, setelah dilihatnya Souji yang telah selesai mandi dan berpakaian. Masih berekspresi bingung, Nanako membuka mulutnya untuk berkata, "Kapan kakak mau turun? Kak Naoto sudah dari tadi menunggu di bawah."

Tadi, Souji sempat berharap, hanya berharap, kalau Naoto akan menyerah menunggunya dan pergi. Dengan demikian, ia dapat menjalankan rencananya untuk menghindari Naoto, sembari mencari tahu arti dari petunjuk yang diberikan oleh Igor. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin melihat ekspresi kecewa di wajah gadis itu. Tidak ingin, meskipun mimik kecewa itu tidak berasal dari kesadaran Naoto yang sesungguhnya.

"Aku akan segera turun," jawab pemuda itu, akhirnya, dan menghirup napas dalam-dalam. Dilangkahkannya kakinya keluar dari kamarnya, menyusuri tangga, sampai akhirnya ia menjejakkan kakinya di ruang keluarga. Hatinya mencelos ketika dilihatnya sosok seorang Shirogane Naoto, yang tengah duduk di kursi meja makan, di samping Nanako. Dikuatkannya dirinya, dan dipasangnya tampang tenang seraya ia berjalan menuju ke arah meja makan.

"Souji?" Naoto berbalik, menghadap ke arah Souji. Senyuman terulas di bibirnya. "Aku berharap aku tidak menganggu. Kemarin, ah, tasmu ketinggalan di apartemenku."

Naoto... tampak normal. Perasaan Souji mulai menjadi sedikit lebih lega, harapannya kalau keadaan Naoto sudah pulih menjadi seperti semula, nampaknya dikabulkan. Bibirnya melengkung, melambangkan kelegaan di dalam hatinya. "Oh... Terimakasih, Naoto. Aku sudah merepotkanmu."

"Tidak sama sekali, Souji," ucapnya, manis di mata Souji, "Justru aku senang.. dapat memiliki alasan untuk menjemputmu." Ditatapnya sang senior lekat-lekat, melanjutkan perkataannya, "Aku takut kalau kau akan merasa terganggu jika aku datang begitu saja, apalagi melihat bagaimana kau terlihat enggan menci―"

"―menci..?" celetuk Nanako, nyaris memotong perkataan Naoto.

Alarm berdentang keras di dalam diri pemuda berambut abu-abu itu, yang jelas memberitahu dirinya kalau memang masih ada yang aneh dengan Naoto. Dan ia, juga bersikeras agar apa yang terjadi kemarin tetap tertutup di antara dirinya dan Naoto, tidak menyebar keluar. Ia, bagaimanapun, tetap berniat untuk melupakan kejadian kemarin.

"Mencicipi masakan buatanmu, ya," potong Souji cepat, dan ia sangat berterimakasih dengan kinerja otaknya yang cukup cepat untuk memberikan solusi di saat seperti ini. "Aku sungguh minta maaf, bagaimana dengan lain kali?"

Alis Naoto terangkat, mengindikasikan bahwa gadis itu tidak memahami mengapa Souji tiba-tiba mengatakan sesuatu yang berbeda jauh dengan apa yang terjadi sehari sebelumnya. "Bukan itu.." ucapnya protes, sebelum akhirnya menyadari maksud perkataan Souji, tentu dengan interpretasinya sendiri. "Ternyata itu maksudmu, Souji.

Aku mengerti," Naoto berkata, tersenyum dan memejamkan matanya sejenak. "Aku akan bersiap-siap kapanpun kau menginginkannya, Souji."

Mata cokelat Nanako tampak berbinar. "Wow!" anak perempuan itu tampak takjub, "Kak Naoto bisa memasak?"

"Kalau Souji yang meminta, tentu," jawab Naoto tenang.

"Dan yang lainnya," tambah Souji cepat. Alarm kedua mulai berbunyi di kepalanya, menandakan kalau ia sudah seharusnya menghentikan percakapan ini, sebelum hal-hal ang tidak diinginkan terjadi. Diraihnya tasnya, dan tidak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Naoto. Wajah Souji merona merah, dan dengan segera ia melepaskan tangannya, mengambil tasnya. Hanya diutarakannya seutas kata maaf, wajahnya masih berpaling dari sang Shirogane muda.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ia menghela napas. "Tidak, Yousuke. Kupikir kamu bahkan tidak akan mampu membantuku," gumamnya, akan tetapi cukup keras untuk didengar oleh pemuda di sampingnya itu.

Sang Pangeran Junes tampak kesal dengan ucapan sahabatnya itu. "Oh. Merendahkanku, Souji?"

"Bukan begitu," ucap Souji lemas, menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, masalahku itu.. terlalu besar."

"Karena itu, kamu seharusnya berbagi denganku! Bukankah dua orang yang bersatu jauh lebih baik dari satu orang yang sempurna?"

Souji, lagi-lagi hanya mendesah frustasi. Apakah, memberitahu Yousuke adalah keputusan yang baik?

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Seluruh tubuhnya terasa panas-dingin; dan entah mengapa, perjalanan dari rumah keluarga Doujima ke SMU Yasogami terasa amat, sangat jauh.

"Souji?"

Suara Naoto, terdengar amat jelas di telinga Souji. Juga tangannya yang menggamit tangan Souji, terasa amat jelas terasa di saraf-sarafnya. Pemuda itu sepenuhnya sadar kalau itu tidak boleh, tetapi ia tiba-tiba tidak memiliki kekuatan untuk menepis tangan Naoto. Satu sisi dari otaknya beralasan, kalau ia hanya tidak ingin menyaksikan wajah kecewa gadis itu untuk yang sekian kalinya, tidak mau. Akan tetapi, sudut otaknya yang lain, sisi dirinya yang berbeda, berdesis sarkastis kalau ia hanya sedang memanfaatkan keadaan. Bukan begitu, ia berteriak di dalam hati, menepis semua tuduhan yang dilontarkan bagian lain dari kepalanya.

"Souji?"

Dapat didengarnya detap langkah Naoto yang terhenti, memaksa dirinya juga ikut berhenti. Berjinjit, dan kedua tangan gadis itu kemudian memegang wajah sang pemimpin, memaksa sosok pemuda itu untuk menatap sang detektif muda. "Souji... marah kepadaku? Sejak dari rumah Detektif Doujima, kau tidak mau melihatku sama sekali..."

Souji kembali berpaling. "Tidak, bukan begitu. Hanya saja―"

"Tidak perlu melontarkan alasan," potong Naoto, nada sedih dominan di suaranya. "Apakah keberadaanku begitu mengganggu?" Ia melepaskan pegangan tangannya dari lengan Souji, mengambil beberapa langkah menjauh. Ditatapnya sang senior sejenak, sebelum melangkah menjauh dari sang pemuda yang masih terdiam kaku.

Apa yang sudah kulakukan? Souji menghela napas, kedua irisnya terpaku dengan sosok Naoto yang semakin menjauh. Tidak... ini yang terbaik.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Bunyi bel pertanda waktu istirahat berdentang kencang, menyadarkan Souji dari lamunannya. Dilihatnya ke arah papan tulis, guru yang tadi mengajar sudah bersiap-siap untuk keluar kelas. Ia mendesah, sudah sejak kapan pelajaran dimulai? Sama sekali tidak disadarinya, sedari tadi pikirannya mengawang entah di mana.

Souji bangkit dari kursi, merogoh isi dalam tasnya untuk mencari bekalnya. Tidak ada, gumamnya di dalam hati setelah menghabiskan beberapa menit untuk mencari. Baru kemudian, ia teringat akan apa yang telah terjadi. Aku tadi buru-buru keluar rumah, pikirnya suram, dan tidak mengambil bekal apa-apa. Dihelanya napas, seraya ia melangkah keluar dari kelas untuk membeli makanan―

―dan menabrak sosok mungil yang sangat dikenalnya.

"Na-Naoto?" serunya kaget, setelah pikirannya dapat memproses kalau sosok yang sekarang berada di depannya itu sungguh nyata. Sama sekali tidak diduganya kalau Naoto akan muncul di kelasnya secara tiba-tiba, mengingat bagaimana gadis itu tampak sangat terluka tadi pagi. Ah, tetapi bisa saja ia datang untuk mengunjungi, Yukiko, misalnya? pikir Souji, berusaha menetralkan pikirannya yang mulai bergejolak.

"Aku tahu kalau Souji mungkin tidak ingin melihatku... Tapi aku tidak akan menyerah," ujarnya, penuh percaya diri layaknya Naoto yang dikenalnya sebelum tragedi itu terjadi. "Karena aku sungguh tidak bisa tanpamu, Souji."

Semacam bom waktu yang sekian berapa di diri pemuda itu kembali meledak, sepenuhnya menghentikan kemampuannya untuk berpikir dengan jernih. Ia hanya dapat terdiam di sana, terpaku, mendengarkan semua yang dikatakan oleh sang detektif di hadapannya.

"Ah, dan selain itu, bukankah Souji tidak membawa makanan?" Dikeluarkannya sebungkus roti yakisoba dan sebotol minuman dari kantong plastik yang dibawanya, dan diserahkannya kepada Souji―yang hanya diam saja menerima pemberian dari sang junior. "Aku tidak akan memaksamu untuk makan siang denganku," lanjutnya, tersenyum manis, "Akan tetapi, aku sangat berharap kau memiliki waktu sepulang sekolah..." terhenti, rona merah memenuhi wajah mungil gadis itu. "Pulang bersama, ya."

Souji tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya, bahkan mungkin sama sekali tidak ada apa-apa. Yang diketahuinya, atau mungkin tidak, karena pikirannya sangat mungkin sekali sedang kosong, ia mengangguk mengiyakan ajakan sang pangeran detektif. Ekspresi Naoto tampak sangat senang, dan ia pun kembali ke kelasnya sendiri di lantai satu.

"Sekarang Naoto, eh?" Tepukan ringan terasa di bahu Souji. Pemuda itu berbalik, sepasan kristal keabuannya menemukan sosok Yousuke yang kini menampilkan sebuah cengiran di wajahnya. "Tidak bisa hidup tanpamu?" ucapnya terkekeh.

"I-ini bukan masalah yang patut kamu tertawakan, Yousuke," ucap Souji, akhirnya, setelah mengumpulkan semua daya berpikirnya yang sempat terserak. "Aku tidak butuh lebih banyak masalah lagi."

Kening Yousuke mengerut. "Masalah? Kukira kamu akan senang, melihat gadis yang kamu sukai―"

"Dari mana kamu tahu?" potong Souji, nadanya naik.

Yousuke hanya terkekeh, lagi, kedua tangannya diistirahatkan di bahu Souji. "Sangat jelas, Souji. Siapapun akan tahu, hanya dengan melihat caramu memandang Naoto." Ia berdeham, dan melanjutkan, "Dan sekarang kamu sudah mendapatkan hatinya. Selamat, kalau begitu!"

Detik berikutnya, sang remaja yang bekerja di Junes itu langsung menghilang dari jarak pandang Souji. Sang Seta muda hanya dapat menghela napas, memandang makanan yang diberikan oleh Naoto dengan tatapan kosong. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan makanan dan minuman tersebut. Ia tidak dapat memungkiri kalau ada sekelebat rasa bahagia, dan lega, di dalam hatinya. Mungkin, Naoto tidak sepenuhnya kecewa dengan caranya mempelakukan gadis itu tadi pagi. Mungkin, sang detektif muda tidak lagi merasa sedih, tidak lagi merasa ditolak. Akan tetapi, ia juga sadar bahwa segala sesuatu yang tengah terjadi, kebahagiaan dan kelegaannya termasuk, hanya semu belaka. Semuanya akan lenyap, ketika Naoto menemukan kesadarannya kembali.

Souji kembali menghela napas. Bukankah itu yang diinginkannya? Naoto, kembali menjadi dirinya yang dikenal oleh pemuda itu. Kembali menjadi sosok yang dicintainya. Pribadi yang independen, yang tajam, yang tidak menyukai segala hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Hal yang bodoh, seperti apa yang pernah dikatakan oleh gadis itu kepadanya; yang juga membuatnya sedikit patah hati mengetahui bahwa kesempatannya untuk bisa bersama dengan gadis itu, sangatlah tipis.

Dan sekarang, lihat. Naoto, begitu menginginkannya, walaupun itu karena pengaruh yang tidak diketahuinya. Palsu, ia tahu itu. Akan tetapi, semuanya terasa begitu nyata. Seorang Shirogane Naoto, yang sudah entah berapa lama hanya dapat dikaguminya dari jauh tanpa berani mengungkapkan perasaan, kini mendeklarasikan bahwa ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan hati Souji. Apapun, pemuda itu mengenang di dalam hatinya. Bahkan setelah apa yang kulakukan...

Pemuda itu, Seta Souji, mulai goyah dalam keyakinannya.


Join us at Infantrum!

Forum yang didedikasikan bagi para author fanfiction di Indonesia; dimana para member-nya dapat berdiskusi mengenai fanfiction dan unsur-unsurnya. Ingin berbagi pendapat mengenai fanfiction dengan sesama author secara terbuka, mengikuti challenge yang beraneka ragam, atau sekadar berbincang bebas? Semuanya ada di sini!

Link: z3 [dot] zetaboards [dot] com [slash] infantrum atau www [dot] infantrum [dot] co [dot] nr