Lama, saya tahu. Dan mungkin jadwal update saya akan menjadi (sedikit) berantakan, mengingat saya akan menghadapi tes... ;___; Dan chapter ini sedikit lebih panjang, sebagai semacam 'kompensasi'? 8'DD
Disclaimer: semua yang saya ketahui tentang masak-memasak, saya pelajari dari Cooking Mama. Mama rules ftw! 8DD *ditendang*
Dentang bel sebanyak tiga kali menjadi pertanda bahwa jam sekolah telah selesai. Guru yang sedang mengajar segera menyelesaikan pelajaran mereka hari itu. Kemudian, beliau meninggalkan ruang kelas, yang segera membuat suasana menjadi riuh akibat obrolan murid-murid yang pada akhirnya merasa bebas setelah satu hari sekolah yang melelahkan telah usai.
Suasana yang sama juga terjadi, tidak terkecuali di salah satu ruang kelas di lantai pertama gedung utama SMU Yasogami. Para muridnya, siswa kelas satu, sibuk dalam aktivitas mereka masing-masing, membereskan peralatan sekolahnya, siap untuk menjejakkan kaki mereka keluar dari area sekolah. Entah untuk langsung pulang ke rumah, atau ke tempat-tempat lain, sendirian ataupun bersama dengan teman-teman mereka.
Tidak terkecuali dengan seorang gadis bernama Shirogane Naoto, yang entah mengapa, tampak sangat terburu-buru. Berbeda dengan sosok yang senantiasa ditampilkannya di hadapan orang lain, dimana Shirogane muda itu selalu menjadi pribadi yang tenang, diiringi dengan pemikiran yang dewasa dan logis. Tingkahnya kali itu, sungguh berbeda. Wajahnya bersinar cerah, layaknya ia sedang tidak sabar menunggu sesuatu yang sangat didambakan. Dan seorang Kujikawa Rise, menangkap jelas perbedaan perilaku Naoto hari itu.
"Hey, Naoto!" ucapnya riang, menepuk pundak Naoto. Diliriknya meja detektif muda itu, sepasang irisnya menangkap gambar meja yang sudah bersih, tanpa satupun jejak perlengkapan sekolah di atasnya. Alis idola itu terangkat, sebesit rasa penasaran menari di sepasang kristalnya yang cerah. "Buru-buru, ya?"
Wajah Naoto terangkat, pandangannya yang tadi terpusat ke mejanya beralih kepada Rise. Ia hanya melemparkan tatapan singkat kepada gadis yang selalu tampak ceria itu, gumaman 'ya' singkat menjawab pertanyaan yang terlontarkan. Kemudian, Naoto kembali memfokuskan dirinya ke mejanya lagi, berkutat dengan aktivitasnya membereskan perlengkapan sekolah.
Seorang Kujikawa Rise, tidak puas dengan jawaban yang diberikan. "Ah, Naoto-kun! Maksudku, kenapa kamu sampai buru-buru begini? Tidak biasanya!"
Sang detektif muda terdiam, gerakannya terhenti seketika. Terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membenarkan letak topinya, menunduk lebih dalam. Menghindari sorotan mata Rise yang nampak ingin tahu. Rise mencondongkan tubuhnya, terheran-heran dengan reaksi Naoto yang diluar dugaannya. Kedua bulirnya bertemu dengan wajah Shirogane muda itu, yang entah mengapa kini tengah bersemu merah muda. Ia tersenyum, tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi.
"Jadi―, ada apa, Naoto-kun?" Senyum sang idola melebar, nyaris merupai seringai serigala yang menemukan mangsanya. Maniknya semakin bersinar cemerlang, seolah seorang anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Ia menggumam ke dirinya sendiri, sebelum ia mendapat semacam pencerahan, yang tanpa ragu-ragu langsung diucapkannya kepada Naoto, "Ah! Aku tahu, aku tahu! Kamu ada janji sepulang sekolah, kan? Jujur saja!"
Tersentak, Naoto seketika mengangkat wajahnya, memperlihatkan semburat kemerahan yang tampak semakin jelas kepada Rise. Ia kemudian memalingkan wajahnya, meraih tasnya dengan cepat, siap untuk segera keluar dari lingkup interogasi Rise. Akan tetapi, sebelum ia dapat melangkahkan kakinya untuk menjauh, ia merasakan tangannya ditahan oleh Rise, yang tidak puas sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Naoto mendesah. "Dengan Souji."
Sepasang bulir cerah milik Rise membesar, pegangan tangannya merenggang. Kesempatan yang langsung digunakan oleh Naoto untuk pergi dari Rise dan pertanyaan-pertanyaan lanjutannya. Rise sendiri, masih terdiam, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Naoto-kun―dengan Senpai?" gumamnya, tidak sadar bahwa ia memperkatakan apa yang tengah dipikirkannya. Kening gadis itu mengerut. "Dan aneh, bukankah Naoto selalu memanggilnya Senpai, dan bukan nama depannya?" Ia menggeleng, sebelum menarik napas panjang, masih dalam kebingungan.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Souji hanya terbelalak melihat sosok Naoto yang tiba-tiba muncul di depan pintu ruang kelasnya, tepat ketika ia melangkah keluar. Nyaris menabrak gadis itu. Ia menarik napas dalam-dalam, kesulitan menatap detektif itu secara langsung. Ia tahu, sebenarnya, alasan mengapa Naoto berada di sana sekarang. Bagaimanapun, ia telah berjanji kepadanya untuk pulang bersama. Janji yang, ya, ia tahu sebenarnya tidak boleh dibuatnya. Ditariknya napas lagi, dan ditenangkannya dirinya. Tidak akan terjadi apa-apa, ia menekankan ke dirinya sendiri. Aku hanya pulang bersamanya, itu saja. Hanya memastikan ia baik-baik saja...
"Hei, Naoto," sapanya, memaksakan sebuah senyuman. Jantungnya berdegup kencang, tetapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ditelusurinya semua persona yang ada di dalam arsenalnya, berusaha menemukan persona yang sekiranya dapat membantu dirinya. White Rider, Mother Harlot, Jinn, Mara... Sial, mengapa tidak ada yang bisa membantu?
"Arcana ini akan membantumu, ya, akan memberikanmu jalan keluar dari permasalahanmu sekarang."
Perkataan Igor semalam kembali terngiang di kepalanya ketika sosok Belphegor muncul di kepalanya. Persona dari arcana the Devil, yang diisyaratkan Igor sebagai jalan keluar dari masalah yang tengah menderanya. Souji menghela napas, tidak yakin dengan saran yang diberikan oleh Igor. Akan tetapi, Igor tidak mungkin berbohong kepadanya, kan? Sepengetahuannya, mereka berdua terikat dalam suatu kontrak, dimana Souji harus menyelesaikan apa yang semestinya ia lakukan, dan Igor akan membantunya dalam kapasitasnya sebagai penghuni Velvet Room. Dan sejauh ini, rasanya pemuda itu tidak melakukan hal apapun yang dapat dikategorikan sebagai dirinya mengambil langkah yang salah, atau menyalahi kontrak yang ada―
―karena apa yang terjadi dengan Naoto, sepenuhnya di luar batas kemampuanku. Mungkin.
Ia mendesah, dan diambilnya keputusan untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Igor, sebagaimana apa yang senantiasa dilakukannya. Walaupun agak ragu, dipilihnya Belphegor sebagai persona utama di arsenalnya, sepenuhnya berharap kalau keputusannya itu adalah keputusan yang tepat. Souji kembali tersenyum, memberanikan dirinya untuk menatap mata Naoto secara langsung. "Belum pulang?"
"Karena Souji juga belum pulang. Bukankah kita berjanji untuk pulang bersama?" ucap gadis berambut biru itu tenang, walaupun tidak dapat disangkal kalau wajah detektif muda itu merona merah.
Jawaban yang sebenarnya sudah diduga oleh pemuda itu, tetapi tetap saja tidak dapat menahannya dari merasakan suatu getaran aneh, yang seolah menularkan rona kemerakan dari sang Shirogane muda ke dirinya sendiri. Souji berusaha untuk kembali menahan perasaannya yang nyaris meluap, menyembunyikan semuanya di balik senyuman tenang yang dipertahankannya dari tadi. Hanya pulang bersama. Bukankah aku pernah mengantarnya pulang, dulu? Dan tidak akan ada yang berubah, dengan ini saja.
"Jadi, ayo kita pulang sekarang," ajaknya, berusaha memunculkan nada seringan mungkin di suaranya. Suatu ajakan yang ditanggapi Naoto dengan anggukan ringan, seiring dengan suara detapan kaki mereka berdua yang melangkah keluar dari ruang kelas itu.
Di sisi kelas yang lain, Yousuke hanya dapat menonton kejadian kecil yang terjadi di dekat pintu dengan decakan. "Ternyata benar, mereka berdua..." gumamnya, mengelus-elus dagunya yang tidak berjenggot. "Tidak kusangka. Bagaimana kira-kira reaksi Kanji, kalau ia tahu?"
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Souji hanya terdiam sepanjang perjalanannya mengantarkan Naoto, dan entah mengapa menjadi sangat tertarik dengan sepatunya. Hal yang sama juga terlihat jelas dari sang detektif muda di sampingnya, yang hanya membisu setelah mereka berjalan melewati gerbang sekolah hingga di sisi Sungai Samegawa. Tidak ada kata yang terlontar, hanya kesunyian dengan aura merah jambu yang menghiasi atmosfir di antara kedua insan itu.
Pemuda itu, Souji, kemudian menelan ludah. Terlalu berat, semuanya―bagaimana ia dan Naoto sama sekali tidak berbicara. Pikirannya melayang, membayangkan betapa mudahnya ia dapat memulai pembicaraan dengan Naoto sebelum semuanya menjadi. Mungkin memang tidak terlalu mudah, mengingat ia dapat merasakan semacam dinding yang dibangun oleh gadis itu di sekelilingnya, tetapi yang jelas lebih mudah dari sekarang. Kasus yang sedang dihadapinya dan tim investigasinya langsung terlintas di pikiran remaja itu, atau kasus Phantom Thief yang baru-baru saja menyita perhatiannya dan Naoto. Semuanya, terasa begitu mudah.
Ia mencuri lirikan singkat ke arah Naoto, yang masih tetap tertunduk. Hatinya mencelos. Ia tidak tahu bagaimana semestinya ia bersikap, tidak dengan keadaan Naoto yang seperti itu. Tidak dengan keadaan dirinya sendiri, dimana ia dapat merasakan suatu sensasi aneh yang jelas memenuhi sukmanya, membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih. Menjadikannya seperti tidak mengenal dirinya sendiri, tidak mengetahui kemanakah perginya Seta Souji sang pemimpin yang sangat dan teramat bijaksana, yang selalu mampu menahan emosinya di dalam. Ia merasa seperti seorang Hanamura Yousuke yang setiap malam selalu meneleponnya untuk meminta saran bagaimana caranya menghadapi sosok Satonaka Chie―dan tidak, ia tidak ingin disamakan seperti Yousuke. Seorang remaja yang hanya dapat bertingkah bodoh di hadapan orang yang disukainya―
―tetapi, tidakkah apa yang dilakukannya tidak jauh berbeda dengan Yousuke? Ia menerima ajakan Naoto saja, sudah dapat dikategorikan sebagai hal yang bodoh. Itu sangat dimengertinya. Karena apa yang harusnya dilakukannya adalah menjauhi gadis itu, sejauh-jauhnya, menutup semua kesempatannya untuk melukai gadis itu dengan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Dan lihatlah, apa yang sedang dilakukan Seta muda itu di sana?
Tidak akan ada yang terjadi, ia menekankan ke dirinya sendiri, berusaha menepis semua pemikiran negatif yang mulai menumpuk. Tidak akan, tidak akan, batinnya lagi, mengulang semuanya seperti suatu mantra,
"Souji?"
Kesunyian yang sempat terbangun di antara mereka terpecah, seiring dengan terbukanya bibir sang detektif, mengutarakan nama seniornya itu. Souji terkejut, tidak disangkanya Naoto akan mengucapkan sesuatu. Namun ia hanya terdiam, mempertemukan irisnya dengan birunya kristal milik Naoto, dan membiarkan gadis itu melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.
Semburat merah menghiasi wajah sang detektif, beberapa detik sebelum ia kembali mengucapkan pemikirannya. "Bolehkah aku mengunjungi rumahmu?"
Pikiran Souji seketika menjadi kosong. Sungguh satu hal yang diluar dugaannya. "Kenapa?" tanyanya, tidak mampu merangkai kata-kata lain.
"Aku hanya teringat dengan pembicaraan kita tadi pagi dengan Nanako," ucapnya diplomatis. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap sepasang mata Souji secara langsung. "Mengenai bagaimana Souji nampaknya ingin mencicipi masakan buatanku." Ia terhenti, ekspresinya menjadi lebih serius. "Kamu belum makan dari pagi, bukan? Aku tahu kalau kemampuanku dalam bidang memasak memang jauh dari sempurna, tetapi aku cukup percaya kalau aku dapat membuat sesuatu yang sederhana."
Souji melongo. Ditariknya napas dalam-dalam, berusaha merangkai penolakan yang tepat. Ia tidak boleh menarik Naoto lebih jauh lagi, ia tahu, dan semakin menenggelamkan dirinya sendiri dalam fantasinya yang semu. Tidak boleh, ya, walaupun tidak dapat dipungkirinya tentang keberadaan suara yang berteriak kepadanya, mengatakan bahwa ini-kesempatan-bagus-yang-seharusnya-tidak-dilewatkannya. Ia berusaha menepis semuanya, walaupun sulit. "Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu."
"Sama sekali tidak merepotkan," detektif muda itu segera menanggapi perkataan Souji dengan cepat. Langkahnya melambat. "Atau Souji hanya tidak menginginkan keberadaanku di kediamanmu? Aku... mengerti."
Cahaya yang sempat berpendar di sepasang kristal kebiruan gadis itu meredup, ekspresinya sayu. Semuanya mengingatkan Souji dengan kejadian tadi pagi, dimana Naoto terlihat amat, sangat terluka―dan semua itu salahnya. Seberapapun ia memaksa dirinya sendiri untuk menelan kenyataan bahwa Naoto yang dihadapannya itu bukan Naoto yang dikenalnya, yang tidak akan pernah melontarkan tawaran semanis itu dari bibirnya, tetap saja sangat sulit baginya untuk tidak melihat semuanya sebagai Naoto menawarkan sesuatu, dan ia menolaknya dengan dingin. Ia melukai gadis itu, semuanya sesederhana itu. Dan Souji, tidak menginginkan semuanya.
―bahkan dengan melanggar janjimu sendiri?
Tidak, Sou. Kau tidak melanggar janji siapa-siapa. Itu bukan salahmu, ingat?
Itu adalah suatu pelanggaran! Tidak semestinya―
―pilih! Melanggar suatu janji yang bodoh, atau melukainya?
Dua suara berbisik di kepalanya, semakin lama semakin keras, membuatnya merasa bimbang. Ia memejamkan kepalanya, berupaya mengusir kedua suara tersebut untuk membiarkannya berpikir dengan jernih. Tidak bisa, perang kecil itu bahkan menjadi semakin intensif. Remaja itu lebih tidak dapat memutuskan, tidak dengan keadaan pikirannya yang sama sekali tidak kondusif. Akan tetapi, ia juga tahu kalau ia harus segera memutuskan. Naoto, mungkin, menunggu jawabannya.
Menunggu jawaban dari orang yang tidak mungkin disukainya.
Souji mendesah. "Baiklah, kalau begitu," ucapnya. Ia tahu, ia tidak boleh melakukan ini―seharusnya. "Tapi kurasa tidak banyak bahan makanan di rumah."
Mimik wajah Naoto menjadi cerah, seolah baru saja mendengar kabar baik yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Menjadikan pemuda tanggung itu semakin tidak enak, mengetahui bahwa dirinya seolah memanfaatkan keadaan Naoto untuk tetap mempertahankan delusinya. Wanita muda itu tersenyum, akhirnya, dan entah mengapa semua rasa bersalah Souji sedikit menghilang setelah melihat senyuman itu―atau justru bertambah. "Tidak apa-apa," ucap Naoto lembut, "selama masih ada bahan yang dapat dijadikan makanan."
Dan Souji, ia hanya dapat tersenyum getir.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Nanako, aku pulang!"
Souji melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Doujima, Naoto mengikuti di belakangnya. Ia memendarkan pandangannya ke sekeliling rumah, tetapi tidak dilihatnya sosok Nanako yang biasanya selalu duduk dan menonton televisi selagi menunggu kepulangan kakak sepupu kesayangannya itu. Kening Souji mengerut, dan ia berjalan mendekati meja makan yang terletak di dapur. Sepasang maniknya terpaku, menangkap keberadaan selembar kertas di atas meja itu. Diraihnya kertas itu, dan dibacanya.
"Aku pergi mengerjakan tugas di rumah Mai. Ayah sudah tahu, kok!
―Nanako."
Souji mendesah, kembali meletakkan pesan itu di meja. Nanako tidak ada... padahal tadinya aku berharap agar dia ada di rumah. Ia berbalik, menatap Naoto yang sejak memasuki rumah tetap terdiam. Merasa tidak nyaman, ia mencoba memulai percakapan, "Mau minum sesuatu, Naoto? Kami memang tidak punya banyak jenis..."
"Tidak perlu." Naoto melangkah ke arah dapur, terhenti tepat di depan refrigerator. "Aku tidak ingin merepotkan. Dan bolehkah aku membuka refrigerator ini? Aku perlu mengetahui apa saja yang ada, kemudian memasak sesuatu yang sesuai."
Souji mengangguk, pikirannya melayang, memikirkan apakah isi lemari pendingin keluarga Doujima... masih dapat dikategorikan sebagai 'normal' oleh Naoto. Sejauh ini, ia sudah menemukan jam weker, rumput, bahkan susu yang sudah menjadi yogurt di dalam lemari itu. Ia meringis. Pemuda itu tidak mengetahui kemampuan memasak Naoto, dan ia hanya dapat berharap gadis itu sedikit berbeda dari rekan-rekan perempuannya yang lain, yang nampaknya memiliki kemampuan khusus menjadikan segala sesuatu yang mereka masak menjadi makanan misterius perenggut nyawa itu―
―tetapi, bukankah aku seharusnya tidak banyak meminta? Souji mendesah, menjauhkan segala pikiran itu dari kepalanya. Seharusnya aku berharap kalau masakannya juga menjadi makanan misterius itu, pikirnya sambil menatap Naoto yang masih melihat-lihat isi refrigerator, sebagai hukuman bagiku untuk membiarkan semua ini...
"Souji?"
"Ya?"
Naoto membalikkan badannya, menatap ke arah Souji. "Apa yang sedang ingin kau makan?" Ia melirik ke arah lemari pendingin sesaat, sebelum kembali mempertemukan sepasang iris biru keabuannya dengan manik keperakan milik sang ketua tim investigasi itu. "Aku perlu tahu apa yang kau ingin makan, baru kemudian aku dapat memasak makanan yang sesuai. Walaupun, ah, melihat apa yang tersimpan di dalam refrigerator ini, aku menyimpulkan bahwa tidak banyak varietas makanan yang dapat diolah dari bahan-bahan yang ada."
Souji hanya mengangguk, mencuri pandangan singkat ke arah lemari pendingin. Terlihat kosong―mungkin Nanako belum berbelanja, dan untung saja, ia sama sekali tidak menangkap sosok benda-benda aneh yang biasa menghuni refrigerator itu. Ia menyapukan kedua maniknya ke bahan makanan yang ada, melihat lobak, wortel, dan seikat seledri dari sedikit makanan yang tersisa. "Terserah saja," gumamnya, cukup keras untuk didengar oleh Naoto. "Tapi sama sekali tidak ada bahan yang dapat digunakan?"
Mendesah, Naoto menjawab, "Benar, Souji... Andaikan aku mengetahui ini sebelumnya, kita dapat berkunjung sebentar ke Junes untuk membeli sesuatu." Detektif muda itu terdiam sesaat, memikirkan sesuatu. "Akan tetapi, jika Souji tidak keberatan, sebenarnya aku dapat memasak sesuatu dari bahan-bahan sederhana ini."
Alis pemuda bermata abu-abu itu terangkat. "Maksudmu?"
"Hanya masakan yang sangat sederhana." Shirogane muda itu menjulurkan tangannya, mengambil sebuah lobak yang berada di dalam refrigerator. "Sup lobak. Aku menyadari bahwa itu tidak terlalu bernutrisi, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali."
Menit berikutnya, Souji hanya terpaku di tempatnya, menyaksikan Naoto yang segera bekerja dengan gesitnya. Sang pangeran detektif mencuci lobak tersebut dan memotongnya. Semuanya, terlihat baik-baik saja. Pemuda itu mendesah, bayangannya mengenai substansi bernama Mystery Food X itu perlahan terlihat kabur. Naoto―ternyata bisa memasak...
"Ah!"
Tersentak dari lamunannya, sepasang iris keabuan sang pemimpin langsung bergulir, tertumpu di asal suara tersebut. Ditangkapnya sosok Naoto, yang entah mengapa berhenti memotong lobak. Dan juga cairan merah yang mengalir dari jari telunjuk gadis itu―astaga. Souji terkejut, menyadari bahwa Naoto telah melukai dirinya sendiri. Karena membuatkan makanan untuknya, karena ia. Hujaman rasa bersalah kembali menghantui remaja tanggung itu, dan dengan segera ia melangkah untuk mendekati gadis itu. Hanya seutas kalimat yang dapat diucapkannya, "Kamu tidak apa-apa?"
Tersenyum tipis, Shirogane muda itu menjawab, "Tidak." Ditatapnya lagi telunjuknya yang terluka. "Hanya luka kecil. Sama sekali tidak masalah, aku akan segera kembali melanjutkan apa yang tengah kulakukan."
Souji terdiam.
Ia terluka karenamu, Sou! Lakukan sesuatu! Ia pasti tengah kesakitan sekarang, semua karenamu! Lakukan sesuatu untuk menghilangkan sakitnya, Sou! Seperti――
Suara itu kembali memenuhi rongga kepala Souji, mengutarakan berbagai cara baginya untuk mengekspresikan rasa bersalahnya kepada sang gadis yang sekarang berdiri di depannya. Pemuda itu terdiam, masih, mempertimbangkan semuanya. Ia mencoba menghiraukannya, namun remaja itu tidak sanggup. Semakin lama, bisikan-bisikan itu semakin kencang, semakin mendera pertimbangannya. Membuat kepala sosok pemimpin itu berdenyut, tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
――makanya, lakukan saja, Sou! Kau menyukainya, kan? Dan ia, sekarang menyukaimu juga! Sekarang, Sou. Sekarang!
Suara-suara tersebut, kini mengambil alih kendali atas saraf-saraf dan otot-ototnya. Dijulurkannya tangan kanannya, meraih tangan Naoto yang terluka. Lalu, menundukkan kepalanya, dan menyelipkan jemari yang berdarah itu di antara bibirnya. Seperti apa yang pernah dilakukan ibunya kepadanya ketika ia masih baru belajar memasak, dan tidak sengaja mengiris jarinya sendiri―menghisap darah yang akan mengalir keluar, menghentikan pendarahan. Karena saliva itu adalah salah satu obat penghenti luka termudah, dan terampuh, dari apa yang dapat diingatnya.
Satu menit, dua menit, dan akal sehat kembali menemukan jalannya ke substansi keabuan yang terlindung di balik tempurung kepala pemuda bernama Seta Souji itu. Rona kemerahan memenuhi wajahnya, dan diangkatnya wajah itu, melihat Naoto―yang kini juga bersemu merah muda.
"Kak Souji! Aku pul―"
Postur mungil Doujima Nanako terpantul di manik sepasang senior dan junior itu. Sang gadis kecil terlihat terkejut, hazelnya membesar, sepasang tangannya menutupi mulutnya. Semburat kemerahan mewarnai wajahnya yang mungil, sebelum ia membalikkan badan dan berkata, "A-aku tidak bermaksud menganggu!"
Menit berikutnya, anak perempuan itu berlari ke kamarnya, meninggalkan Souji dan Naoto berdua kembali di dapur kecil keluarga Doujima. Sang pemuda berambut abu-abu itu tersentak dengan reaksi Naoto, segera menghentikan apa yang tengah dilakukannya. Ia memalingkan wajahnya, tidak berani memandang sang detektif. "Ma-maaf," adalah satu-satunya yang berhasil keluar dari mulutnya.
―dan bibirnya, masih dapat mengingat jelas jemari Naoto yang terluka itu.
― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ―
Cliché, sinetron, lama, abal, ―memang. 8'DD Dan mengapa lobak, padahal ada wortel? Saya juga tidak tahu, itu alam di bawah sadar saya... *ditendang*
― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ― ―
Join us at Infantrum!
Forum yang didedikasikan bagi para author fanfiction di Indonesia; dimana para member-nya dapat berdiskusi mengenai fanfiction dan unsur-unsurnya. Ingin mempelajari teknik-teknik dalam menulis fanfiction, berbagi pendapat mengenai fanfiction dengan sesama author secara terbuka, mengikuti challenge yang beraneka ragam, atau sekadar berbincang bebas? Semuanya ada di sini!
link: s3 [dot] zetaboards [dot] com [slash] infantrum atau infantrum [dot] co [dot] nr
