Kyuhyun memandang tubuh Ryeowook yang terbaring kaku di lantai rumah berwarna putih itu. Dengan baju putih dan warna putih lantai yang mendominasi ruangan, namja manis itu terlihat begitu…indah, benar-benar seperti malaikat.

Malaikat berdarah yang tidur dalam keabadian….

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Satu lagi…dia merenggut satu lagi kebahagiaan orang lain. Orang lain yang sebenarnya tidak pernah bersalah apa-apa. Orang lain yang punya hak untuk bahagia…dan sebenarnya tidak pantas menderita seperti ini.

Ya, kemesraan yang Kyuhyun lihat dari interaksi sesaat saat dia melihat Yesung dan Ryeowook di pesta istana Sungmin dulu, meski hanya sesaat, sudah cukup bagi Kyuhyun untuk melihat kalau cinta mereka berdua begitu dalam. Ikatan yang begitu kuat…perasaan nyata yang sungguh-sungguh dan tulus. Senyum bahagia yang tersungging di bibir mereka berdua saat itu bukanlah kepalsuan…. Meski hanya sekilas Kyuhyun menyadari…betapa dalam rasa cinta keduanya untuk satu sama lain….

Dan dengan kejamnya dia menghancurkan kebahagiaan itu…hanya untuk seseorang.

Kyuhyun berdiri dari lantai tempatnya berlutut dan memandang api perapian yang masih menyala di hadapannya. Di bara api itu…dia seperti bisa melihat kebencian dan kemarahan orang-orang yang selama ini dia bunuh, pandangan berdarah yang menghantuinya selama ini…hanya saja dia abaikan. Dia abaikan untuk seseorang…untuk kebahagiaan seseorang…

Seseorang yang begitu dia cintai…dan harapkan untuk kembali….

FLASHBACK

Kyuhyun menghela napas saat dia meletakkan buku yang dibacanya di meja yang ada di sampingnya. Dia segera berbalik dan menghadap Sungmin yang berbaring di ranjangnya. "Sungmin-hyung, sudah waktunya aku kembali. Tidur yang nyenyak, ya…besok adalah hari pertama hyung menjadi raja kerajaan ini. Hyung harus bekerja keras mulai besok."

Kyuhyun pun segera beranjak pergi dari tempatnya duduk di sebelah ranjang Sungmin menuju pintu tapi suara Sungmin segera menghentikan namja berambut cokelat itu. "Ada satu hal yang salah dalam buku yang kau baca…" kata Sungmin pelan dengan nada datar tanpa emosi. "Tidak semua raja di dunia ini…bahagia."

Kyuhyun segera berbalik untuk memandang Sungmin. Dia melihat kalau namja manis bermata kelinci itu menatapnya dengan mata kosong. "Apa artinya kemewahan dan kekuasaan…kalau kau tidak bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang lain?"

Kyuhyun hanya diam membisu. Sungmin tersenyum dan bangkit dari ranjangnya. Namja manis itu segera berjalan ke arah Kyuhyun dan menggenggam tangan Kyuhyun.

"Selama kerajaan ini ada, aku adalah raja di sini, penguasa segalanya tapi…seandainya bisa aku berharap bisa kembali menjadi Lee Sungmin. Lee Sungmin yang bisa bermanja-manja padamu, Lee Sungmin yang selalu bisa tertawa bersamamu, Lee Sungmin yang selalu merasa bahagia bersamamu…." Jarak di antara mereka semakin dekat dan dekat, hingga hampir tidak ada jarak yang tersisa di bibir mereka. "Lee Sungmin yang bisa dengan bebas mencintaimu…."

Dan jarak di antara mereka berdua menghilang seketika. Sungmin menyatukan bibir mereka, mencium bibir Kyuhyun dengan lembut. Kyuhyun sendiri, begitu merasakan lembut bibir Sungmin di bibirnya, merasa begitu…benar. Namja berambut cokelat itu segera membalas ciuman namja manis bermata kelinci itu. Tangan Kyuhyun merengkuh pinggang Sungmin, memeluk namja manis itu dengan erat, begitu eratnya, hingga satu-satunya hal yang menyatukan tubuh mereka berdua hanyalah pakaian mereka, yang mulai mereka rasa mengganggu.

Hingga ciuman itu terasa asin… asin karena air mata kesedihan….

Sungmin mengakhiri ciuman mereka berdua, memisahkan bibir mereka berdua, hanya untuk memandang Kyuhyun dengan mata yang penuh dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, air mata yang membuat Kyuhyun tertegun.

"Tolong untuk terakhir kalinya…" bisik Sungmin pelan sambil mengelus pipi Kyuhyun yang masih tertegun memandang wajah Sungmin yang basah oleh air mata itu. "Cintai aku…sebagai Lee Sungmin…teman masa kecil yang selalu bersamamu. Sentuh aku…jadikan aku milikmu…seutuhnya…."

Sungmin tersenyum sedih pada Kyuhyun. "Karena ini…adalah terakhir kali seorang Lee Sungmin bisa hidup. Besok…yang akan hidup di tubuh ini hanyalah raja dari kerajaan Lee, seorang raja…yang mungkin…kehilangan segalanya."

Kyuhyun menggigit bibirnya dan menganggukkan kepalanya sebelum mempertemukan bibir mereka sekali lagi. Dia mencengkeram rambut Sungmin dengan kuat saat dia mulai mengelus tubuh namja manis bermata kelinci itu dan membuka kancing piyama namja manis itu, mengelus tubuh Sungmin dan membaringkan namja manis itu di atas ranjang sambil mengecup leher dan dada Sungmin…sebelum menyatukan tubuh mereka dalam ikatan nafsu dan cinta di bawah sinar rembulan malam yang redup…rembulan malam yang perlahan-lahan tertutup awan hitam…seakan-akan menghitung batas waktu mereka berdua hingga matahari pagi tiba….

Dan itu terakhir kalinya…Kyuhyun melihat Sungmin tersenyum bahagia dengan begitu manis….

Senyum manis seorang Lee Sungmin yang selalu disukainya….

FLASHBACK END

"Mungkin aku yang merenggut kebahagiaan Sungmin-hyung dengan membentangkan jarak di antara kami…meski ini adalah hal yang seharusnya…" gumam Kyuhyun sambil menggenggam kalung yang dipakainya, kalung yang diberikan Sungmin padanya. "Tapi aku telah berjanji dengan diriku sendiri malam itu…untuk mengembalikan senyum itu." Dia kembali memandang bara api perapian di hadapannya dan tersenyum sedih penuh kegetiran.

"Aku akan bertanggung jawab untuk kalian semua, untuk nyawa yang telah kuambil dengan semena-mena…" gumam Kyuhyun, tanpa sadar air mata mengalir dari mata Kyuhyun. "Meski harus mati sekalipun aku pasti tak akan membuat kematian kalian semua sia-sia…."

Kyuhyun mengangkat wajahnya, pandangannya berubah keras dan penuh tekad. "Meski harus makan waktu bertahun-tahun sekalipun aku pasti akan mengembalikan Sungmin-hyung…menjadi namja manis yang dulu kukenal."


Sungmin sedang memandang kosong pemandangan taman istana dari jendela besar di kamar tidurnya. Taman istana itu…dulu begitu indah untuknya, taman itu adalah kebahagiaannya, tempat di mana dia dulu selalu bermain dengan Kyuhyun, berkejar-kejaran di taman mawar, bermain petak umpet di labirin taman atau memanjat pohon istana untuk menikmati pemandangan kota…taman itu begitu indah.

Lalu kenapa…sekarang taman itu begitu menjijikkan untuknya?

Sungmin mencengkeram piyama yang dipakainya. Semua hal yang dimilikinya…sejak kapan semua keindahan dan kemewahan yang dia dulu impikan untuk miliki saat kecil…terasa begitu menekan dan memuakkan? Dia seharusnya bahagia, dengan semua kekuasaan dan kemewahan yang dia punya dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan. Semua hal yang dia inginkan…kecuali….

"Aku tetap tak bisa memilikinya…" gumam Sungmin dengan air mata yang mulai mengalir dari matanya. "Kekuasaan dan uang tak pernah bisa membeli cinta…."

Ya…semua kemewahan ini tidak berarti. Kemewahan ini lah yang memisahkan dirinya dari Kyuhyun. Karena kemewahan dan kekuasaan ini…orang yang paling dia cintai pergi dari sisinya, meninggalkannya berdiri di puncak sendirian untuk berdiri di tempatnya yang seharusnya, di bawahnya. Apa artinya semua kemewahan ini…apa artinya semua kekuasaan ini…kalau semua ini yang membuat dia terkekang? Terpisah dari Kyuhyun?

Semua cinta yang bisa dia dapatkan menghilang dan lenyap bagaikan pasir dari jari-jemarinya…hanya untuk menghilang sebagai ilusi. Kenyataannya sebagai raja dia sendirian di puncak…sendirian dalam ketakutan dan kesepian….

FLASHBACK

Sungmin memandang Kyuhyun yang tengah membaca buku di sebelahnya. Namja tampan berambut cokelat itu menemani Sungmin atas permintaan Sungmin setelah pelantikannya sebagai raja hari itu. Sungmin terus memandangi wajah Kyuhyun saat namja berambut cokelat itu membacakan buku di tangannya itu padanya.

Hari ini…mungkin adalah terakhir kalinya mereka sedekat ini….

"Mulai besok aku hanyalah pelayanmu, hyung. Bukan seseorang yang bisa, atau bahkan pantas kau anggap sejajar. Lupakan semua hal tentang kita…karena itu semua masa lalu bodoh yang harus terlupakan sebagai kenangan."

Tapi Sungmin tidak mau melupakannya.

Kenangannya bersama Kyuhyun itulah keinginannya yang paling dalam. Alasan dia terus hidup…alasan dia bersedia menjadi raja setelah kematian orangtuanya. Jika status raja ini adalah orang yang mengambil Kyuhyun darinya….

Kenapa…dia begitu menginginkannya? Dia…tidak ingin…menjadi raja….

Apa artinya menjadi raja yang harus memastikan kebahagiaan semua orang…kalau dia sendiri tak bisa bahagia?

Sungmin memandang Kyuhyun yang berjalan menuju pintu kamarnya. Tidak, dia tidak boleh membiarkan semua ini terjadi. Tak akan pernah dia biarkan Kyuhyun pergi meninggalkannya, meski harus melakukan dosa tak termaafkan sekalipun.

Dan saat itulah Sungmin memutuskan untuk menyerahkan jiwa dan dirinya pada iblis.

Entah iblis apa yang merasukinya, saat Sungmin sadar apa yang sudah dilakukannya, dia menemukan dirinya terbaring di ranjang, dengan piyama yang acak-acakan dan terbuka, dengan Kyuhyun yang mencium leher dan dadanya. Perasaan nikmat dan nyaman yang dia rasakan…semua itu terasa begitu…benar untuk Sungmin.

Karena itu dia mau menyerahkan segalanya, tubuhnya dan jiwanya pada Kyuhyun malam itu. Membiarkan mereka berdua menyatukan tubuh dan jiwa mereka berdua dalam kegelapan nafsu yang tak berujung.

"Kau benar, Kyunnie…kau adalah bawahanku, aku punya kuasa untukmu, karena itu perintah pertamaku untukmu…adalah tetaplah ada di sisiku…."

Dan perkataan dingin yang meluncur dari bibirnya keesokan harinya telah menyegel hidupnya.

Perkataan iblis itu adalah tanda…kalau Lee Sungmin yang selalu menyayangi dan mencintai Cho Kyuhyun dengan tulus dan manis…sudah tidak ada….

Yang tersisa…hanya Lee Sungmin yang egois, seseorang yang mencintai Kyuhyun dengan obsesi kegelapan yang mendalam….

FLASHBACK END

"Aku mungkin begitu egois padamu…" gumam Sungmin pelan sambil memandangi kalung yang ada di tangannya, kalung pasangan dari kalung yang dia berikan pada Kyuhyun. "Tapi aku bersumpah pada diriku sendiri…kalau aku akan melakukan apa pun untuk membuat dia tetap berada di sisiku….meski itu berarti aku…harus mengikat dan merantainya dengan rantai dosa agar dia jatuh bersamaku ke neraka sekalipun."

Sungmin memandang langit malam di hadapannya dengan pandangan nanar. "Aku tidak akan membuat pengorbanan nyawa kalian yang sudah mati karenaku sia-sia…" gumam Sungmin pelan. "Akan kupastikan Kyuhyun bahagia…bersamaku…."

Sungmin memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membuka matanya, memperlihatkan mata yang dipenuhi sorot tekad yang begitu kuat. "Meski harus menghancurkan seluruh dunia sekalipun akan kupastikan…Kyuhyun tetap ada di sisiku…."


Sungmin sedang meminum tehnya di balkon kamar tidurnya saat tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka pelan. Sungmin menoleh dan tersenyum manis saat Kyuhyun berjalan memasuki kamarnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Ah, kau sudah kembali, Kyu? Bagaimana?" tanya Sungmin sambil tersenyum. "Kau berhasil membunuh Ryeowook?"

Kyuhyun menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya sebelum berlutut di samping Kyuhyun dan menyampingkan tangannya di depan dadanya. "Ya…yang mulia…" bisiknya pelan. "Dia sudah berhasil saya singkirkan…sesuai keinginan yang mulia…."

Senyum di bibir Sungmin sedikit melebar, dan Kyuhyun semakin menggigit bibirnya melihat senyum itu. Senyum yang penuh racun dan kelicikan…sungguh, senyum itu tidak pantas ada di wajah semanis wajah Sungmin.

Sungmin hanya pantas tersenyum tulus dengan penuh kebahagiaan…senyum bahagia yang tulus dari dasar lubuk hatinya….

"Terima kasih, Kyuhyun-ah…" kata Sungmin sambil meletakkan cangkir tehnya di meja di hadapannya. "Kau boleh pergi sekarang. Kau pasti lelah kan? Istirahatlah. Aku akan memanggilmu lagi saat aku membutuhkan bantuanmu."

Kyuhyun segera berdiri dan membuka tudung jubah hitam yang menutupi wajahnya dan memandang Sungmin dengan pandangan nanar penuh kesedihan. "Yang mu…" Kyuhyun terdiam sejenak. "Sungmin-hyung…."

Sungmin tertegun mendengar panggilan Kyuhyun padanya. Semenjak dia menjadi raja tidak sekalipun Kyuhyun pernah memanggilnya seperti itu. Biasanya Sungminlah yang harus memaksa Kyuhyun untuk memanggilnya dengan sebutan hyung, bukan yang mulia. Sungmin mencengkeram baju yang dipakainya dengan tangan gemetar. Ini..nyata kan? Kyuhyun memang memanggilnya Sungmin-hyung…bukan karena paksaan…ataupun perintah….

Dia…rasanya dia bahagia…. Sungmin merasa dadanya terasa hangat mendengar panggilan Kyuhyun…karena dia merasa kalau Kyuhyun memanggilnya seperti dulu….

Kalau Kyuhyun yang selama ini dia inginkan kembali padanya….

Senyum manis segera tersungging di bibir Sungmin saat dia berbalik untuk menghadap Kyuhyun. "Ya, Kyunnie?"

Saat itu entah khayalan atau ilusi…Kyuhyun seperti melihat kalau kini mereka berdua tidak lagi berada di balkon tempat tidur istana yang mewah di kerajaan. Mereka berdua seperti berdiri di tengah padang rumput di dekat istana, tempat mereka berdua biasa bermain dengan akrab dan bahagia. Semuanya terasa begitu nyata…hingga bahkan Kyuhyun bisa merasakan semilir angin yang selalu berhembus lembut di padang itu.

Dan senyum Sungmin…senyum yang tersungging di bibir namja manis bermata kelinci yang ada di hadapannya itu kini….

Adalah senyum yang selama ini selalu dinanti Kyuhyun untuk kembali….

Saat itu entah apa yang ada di pikiran Kyuhyun atau apa yang menggerakkan tubuh Kyuhyun, melihat senyum manis yang tersungging di bibir namja manis bermata kelinci di hadapannya itu Kyuhyun merasa kalau dia tidak bisa lagi menahan perasaannya. Rasa bersalah, rasa rindu, dan rasa sayang yang telah dia simpan dan kunci di suatu tempat di sudut hatinya selama bertahun-tahun dalam penderitaan dan kesepian seakan-akan tiba-tiba saja memerintahkan tubuhnya untuk bergerak sendiri dan sebelum dia bisa menghentikan tubuh dan pikirannya yang memerintahkannya untuk pergi ke arah Sungmin, Kyuhyun sudah menemukan dirinya memeluk Sungmin yang hanya terpaku di kursi yang didudukinya.

Sungmin terpaku saat dia merasakan dua lengan yang melingkari pinggang dan bahunya. Lengan itu…terasa begitu hangat, terasa begitu nyaman…dan terasa begitu aman. Rasanya…begitu merasakan sepasang lengan itu memeluknya Sungmin merasa dia pulang…pulang ke tempat yang paling diinginkannya melebihi apapun di dunia ini….

Pulang ke sisi Kyuhyun…ke pelukan namja tampan berambut cokelat itu….

"Kyu…Kyunn…" gumam Sungmin pelan tapi perkataan namja manis bermata kelinci itu terputus oleh pelukan Kyuhyun yang semakin mengerat di tubuhnya.

"Aku…rindu padamu, hyung…" gumam Kyuhyun pelan sambil mempererat pelukannya di tubuh Sungmin. "Sangat rindu padamu yang seperti ini."

Sungmin hanya terdiam saat dia mendengar perkataan Kyuhyun, terlebih saat dia merasakan air yang menetes membasahi pakaiannya. Kyuhyun…menangis?

"Kyunnie…."

"Sejak kapan semuanya…jadi seperti ini?" gumam Kyuhyun sambil mulai terisak pelan di bahu Sungmin, masih memeluk namja manis bermata kelinci itu dan membenamkan wajahnya di bahu Sungmin. "Sejak kapan…kau seakan-akan menghilang, hyung? Seberapapun aku berusaha…seberapapun aku ingin menjagamu…membuatmu bahagia…kau…tetap terasa hilang dan menjauh dariku. Aku…sungguh…aku ingin kau kembali, hyung. Kembali menjadi Sungmin-hyung yang dulu…Sungmin-hyung yang selalu bersamaku dulu…."

Sungmin memandang Kyuhyun dengan pandangan sedih dan menggigit bibirnya pelan. Dia…dia juga ingin kembali seperti dulu. Dia ingin kembali menjadi Lee Sungmin yang dulu, Lee Sungmin yang selalu bahagia dan tertawa bersama Kyuhyun. Hanya saja…seperti yang selalu Kyuhyun katakan…sudah tidak bisa.

Takdir tidak mengizinkan mereka untuk kembali….

"Itu…sudah tidak mungkin, kan?" gumam Sungmin pelan. "Sungmin yang ada di depanmu ini sudah terlalu jatuh dalam kegelapan, sudah tidak mungkin bagiku untuk kembali…menjadi diriku yang dulu. Sejak aku menjadi raja…Lee Sungmin yang selalu bersamamu…sudah menghilang untuk selamanya…."

Mendengar perkataan Sungmin, Kyuhyun hanya diam sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Sungmin dengan pandangan sedih sebelum membungkuk di hadapan Sungmin. "Ya…anda benar yang mulia. Maafkan saya atas kelancangan saya memeluk anda. Itu perbuatan yang sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang pelayan seperti saya."

Sungmin hanya tersenyum, meski sekarang senyuman itu terlihat begitu pahit dan getir, dan kembali mengangkat cangkir tehnya. "Ya sudahlah, aku memaafkanmu karena itu sekarang is—"

"…Tapi aku tidak akan mempercayainya," kata Kyuhyun tiba-tiba, membuat tangan Sungmin yang mengangkat cangkir tehnya terhenti di udara dan dia segera memandang Kyuhyun dan pandangan yang Sungmin lihat di mata namja berambut cokelat itu segera membuatnya kembali terpaku.

Pandangan yang penuh dengan tekad…dan juga kemarahan….

"Sebagai pelayanmu yang selalu berada di sisimu…juga sahabat kecilmu yang selalu bersamamu sejak kecil…aku tidak akan mempercayai Sungmin-hyung yang kukenal sejak kecil sudah menghilang dari dirimu, hyung. Aku percaya Sungmin-hyung yang dulu masih ada…dan akan tetap ada," kata Kyuhyun dengan tegas. "Dan aku bersumpah…apapun yang terjadi…aku akan mengembalikan hyung kembali…ke dirimu yang dulu."

Kyuhyun segera kembali berlutut di hadapan Sungmin. "Maafkan akan kelancangan saya yang mulia, saya permisi," katanya pelan sebelum berjalan keluar dari kamar tidur Sungmin, meninggalkan Sungmin yang duduk terpaku di kursi balkon kamar tidurnya.

Sungmin hanya diam memandang pintu kamarnya yang kini tertutup, perkataan Kyuhyun masih terngiang-ngiang di telinganya.

"Aku bersumpah…apapun yang terjadi…aku akan mengembalikan hyung kembali…ke dirimu yang dulu."

"Kyunnie…" gumam Sungmin pelan sambil menggenggam kalung yang terpasang di lehernya sebelum melepasnya dan memandangi kalung itu.

"Pantaskah aku…yang sudah egois mengekangmu sampai seperti ini…kembali padamu?" bisiknya pelan. "Aku…tak peduli siapa diriku…tetaplah monster yang selalu ingin memilikimu seutuhnya…tak peduli sekarang…ataupun dulu…."

Hanya angin yang berhembus pelan bersamaan dengan dentang lonceng gereja yang terdengar dari kejauhan yang menjawab pertanyaan Sungmin. Pertanyaan penuh kebimbangan…yang dilandasi rasa cinta yang sebenarnya penuh dengan ketulusan dan kesucian….


Author note:

Wokeh, kayaknya chapter ini makin ga jelas dan jelas~melenceng jauh dari lagu aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena ngerombak lagu ini habis-habisan oke? Kuharap kalian suka sama chapter ini ^^

Oke, Dan...terima kasih buat para readers yang sudah bersedia membaca dan mereview fic saya ini. Saya sangat senang dan berterima kasih sekali dari lubuk hati yang terdalam. Dan...terakhir...sebenarnya ini lancang banget kan, tapi bolehkan saya meminta review dari readers sekalian? Mau saran, kritik, apa pun, akan saya terima dengan senang hati selama itu adalah untuk menuju perbaikan yang lebih baik.

Okay, meet again at (hopefully) the next chapter, bye bye ^^