Malam itu, langit begitu gelap dan berawan. Awan kelabu menutupi bulan, membuat sinar rembulan hanya dapat memberikan sinar redup untuk menyinari kegelapan malam. Atmosfer malam itu begitu tenang, karena waktu memang sudah menunjukkan waktu tengah malam. Orang-orang mungkin sudah pergi menuju dunia mimpi mereka, bahagia dengan dunia khayalan mereka sendiri tanpa peduli dengan apa pun yang terjadi di dunia nyata.
Tapi bukan itu halnya yang terjadi di sebuah mansion besar yang cukup tersembunyi dari huru-hara masyarakat. Di sebuah ruangan mansion itu seorang namja tampan berambut hitam pendek duduk diam di sebuah kursi di ruangan itu dengan sebuah seringai kejam tersungging di bibirnya. Sebuah pistol tergenggam di tangannya yang pucat. Sekilas dilikat, pistol itu hanya terlihat seolah-olah itu adalah mainan yang membuat pemiliknya terlihat lebih bergaya dan menakutkan saja, dan tidak akan pernah digunakan kecuali untuk tujuan menakuti-nakuti dan mengancam belaka.
Dan itu memang benar adanya, jikasaja kita mengabaikan orang-orang yang sekarang terbaring kaku di lantai di hadapan namja itu dengan lubang peluru di kepala atau dada mereka. Semua pandangan mereka kosong dan gelap, dan tubuh mereka pucat, darah mereka juga menetes ke lantai, menodai karpet yang mulanya berwarna putih salju itu dengan warna merah darah yang indah.
"Jadi…apa ada yang hal yang ingin anda katakan sebelum aku mengakhiri hidup anda?" namja tampan berambut cokelat itu bertanya pada seorang namja lain yang sudah cukup berumur yang kini berlutut lemas di hadapannya dalam ketakutan. "Dan bersyukurlah aku memberikan anda waktu untuk membuat permohonan terakhir. Yunho-hyung benar-benar marah dengan anda dan dia memberikanku perintah untuk membunuh anda sesegera mungkin saat aku melihat anda." Namja itu memain-mainkan pistol di tangannya dengan malas. "Dan anda juga harus bersyukur karena dia tidak mengirim Heechul-hyung ke sini. Jika si Devil Cinderella itu yang dia kirim ke sini, dia akan menyiksa anda tampa ampun sampai anda akan memilih untuk bunuh diri bahkan sebelum anda melihatnya."
Namja tua itu, jika mungkin, menjadi lebih ketakutan ketika dia mendengar perkataan namja tampan di hadapannya itu. "S…saya mohon, Changmin-ssi…. K…kasihanilah saya…saya…saya berjanji…."
"Yunho-hyung tidak membutuhkan janji anda dan begitu pula aku," kata Changmin dengan dingin. "Dan aku tidak berada di sini untuk mendengar tawaran bodoh anda! Aku di sini untuk menyelesaikan semua kebodohan yang telah anda buat…dengan kematian anda."
Wajah namja tua itu menjadi semakin pucat ketika dia melihat Changmin berdiri dari kursi yang didudukinya dan berjalan ke arahnya, masih dengan seringai mematikan tersungging di bibirnya. "Tuan Cho, aku harus mengakui heroin dan obatan-obatan terlarang lain yang kau berikan adalah pengaruh besar dan keuntungan yang bagus untuk organisasi tapi mengirim heroin itu kepada organisasi lain menggunakan nama kami adalah tindakan yang terlarang. Perbuatanmu hampir saja mengekspos keberadaan kami dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami terima," kata Changmin dengan nada ceria dan santai, memberikan kesan menyeramkan dan angker di mansion gelap itu. "Kebodohan itu cukup untuk Yunho-hyung untuk mengatakan kalau anda tidak cukup kompeten untuk kami dan karena itu…kami tidak membutuhkanmu lagi."
Tubuh tuan Cho gemetar ketika dia mendengar suara Changmin yang memasang peredam suara di pistolnya. "Dan untuk itu…selamat, tuan Cho, anda telah menandatangani kontrak kematian anda dengan malaikat kematian," kata Changmin sebelum mengarahkan pistol itu ke dahi tuan Cho. "Jadi…maafkan aku karena mempercepat waktu kematian anda, tapi…kurasa ini waktunya anda mengatakan selamat tinggal."
"C…Changmin-ssi…."
Changmin tidak memberikan waktu bagi keraguan untuk memperlambat pekerjaannya. Dia segera menembak tuan Cho di kepalanya, membuat namja tua itu tergolek di genangan darah. Changmin memandangd ingin ke arah mayat di hadapannya itu dan melangkah pergi.
"Dan sejujurnya, aku membenci orang yang dengan pengecutnya memohon belas kasihan tanpa melakukan apa pun untuk mempertahankan hidupnya," kata Changmin sambil memandang ke arah ruangan berdarah itu sekali lagi sebelum melangkah keluar ke arah koridor mansion besar itu. "Kalau ingin hidup, berikan aku bukti kalau kalian pantas hidup dengan bertarung mempertahankan hidup kalian tapi jika tidak bisa melakukan itu, terima saja kematian kalian, semudah itu saja. Tuan Cho, kau benar-benar pengecut, tidak heran Yunho-hyung meletakkan namamu di daftar blacklistnya segera setelah kau memasuki organisasi."
Changmin memandangi langit yang penuh dengan kegelapan dari jendela sebelum menghela napas dan berjalan ke lantai atas. "Satu orang lagi yang harus dibunuh…" gumamnya pelan.
Mata seorang namja manis berambut cokelat perlahan-lahan terbuka ketika dia mendengar suara pintu menuju kamar tidurnya terbuka perlahan. Sebuah senyum tersungging di bibirnya ketika dia memutar kursi yang didudukinya sehingga dia bisa menghadapi penyusup yang memiliki keberanian untuk memasuki kamarnya.
"Jadi akhirnya kau datang, Shim Changmin…" namja berambut cokelat itu berkata dengan santai. "Sudah selesai membunuh appa di bawah sana?"
Changmin memandang namja di hadapannya itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Perkataan yang begitu blak-blakan itu benar-benar mengejutkannya. Namja berambut cokelat itu melihat seorang malaikat kematian berdiri di hadapannya dan dia hanya tersenyum seolah-olah dia melihat seorang malaikat. "Kau benar-benar seseorang yang aneh, Cho Kyuhyun…dengan sikap seperti itu aku bisa mengerti kenapa appamu menjadi orang sebrengsek itu."
Kyuhyun hanya mengangkat bahu ketika dia mendengar perkataan Changmin. "Yah…anak itu mengikuti appanya, kan?" katanya sambil tertawa pelan. "Yah, tapi ngomong-ngomong…kenapa kau masih berdiri di sana? Kau datang untuk membunuhku, kan? Tembak saja aku dan kau akan menyelesaikan pekerjaanmu," kata Kyuhyun sambil menelusuri dadanya dengan tangannya dengan gesture yang mengundang, membuat Changmin penasaran…dan terpesona.
Ini pertama kalinya bagi Changmin untuk melihat seseorang mengundangnya untuk membunuhnya dengan cara menantang seperti itu. Kyuhyun terlihat begitu pasif dan pasrah untuk mengundang Changmin untuk membunuhnya begitu saja tapi Changmin tahu di balik kepasrahan itu ada sebuah tantangan. Kyuhyun menantang Changmin…untuk membunuhnya. Dia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang berani menantangnya, orang lain akan ketakutan dan memohon ampun dan namja di hadapannya ini…malah menatangnya untuk membunuhnya.
Benar-benar makhluh buas…yang terperangkan di dalam kepolosan seorang namja. Membuat darah Changmin mendidih untuk mendapatkan makhluk buas itu seutuhnya untuk dirinya sendiri.
Bagi Kyuhyun sendiri, dia tidak punya alasan untuk takut kepada Changmin. Changmin hanyalah satu bentuk kematian lain yang datang padanya. Dia selalu mengerti kalau dia tidak akan mati dengan cara normal, jadi dia selalu mempersiapkan dirinya untuk menyambut semua kematian yang mendatanginya. Tapi sekarang…Kyuhyun tidak bisa menyangkal kalau kematian yang datang kali ini…begitu tampan dan indah. Mata yang memberikannya sebuah ilusi kepalsuan yang begitu dalam untuk meyakinkan hatinya, membuat Kyuhyun tanpa sadar membuat wajahnya menjadi bersemu merah ketika Changmin memandangnya.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Kyuhyun. "Jika kau bisa membunuh appa, tentunya membunuhku bukan pekerjaan yang begitu sulit, kan?"
Changmin menyeringai sebelum berjalan ke arah Kyuhyun dan mengusap pipi namja manis berambut cokelat itu. "Bagaimana kalau…sebuah ciuman terakhir sebelum aku mengantarmu ke kematianmu?" tanya Changmin, membuat Kyuhyun mengangkat alis karena bingung.
"Ciuman kematian? Aku tidak pernah menyangka kalau kau ternyata tipe namja seperti itu, Shim Changmin," kata Kyuhyun. "Meminta sebuah ciuman kepada seseorang yang akan kau bunuh."
"Bukannya kematian dan ciuman itu sama?" bisik Changmin sambil mengusap helai rambut cokelat Kyuhyun. "Manis dan pahit yang sama, kesakitan dan kebahagiaan yang sama, cinta dan benci yang sama…mereka sama. Dan akan sangat bagus untuk memiliki satu sebelum memiliki yang lainnya."
Kyuhyun tersenyum sebelum akhirnya mengangkat tangannya dan meremas kemeja yang dipakai Changmin dengan erat. "Kau tidak takut…kalau aku akan menaruh racun di mulutku dan membunuhmu ketika aku memberikanmu sebuah ciuman?"
"Ciuman kematian…adalah ciuman termanis yang akan kumiliki darimu, Cho Kyuhyun…" bisik Changmin ketika dia membungkuk dan menjilat telinga Kyuhyun. "Dan aku tidak akan menyesalinya sedikitpun…."
Kyuhyun segera menangkup pipi Changmin dan membawa wajah mereka mendekat. Namja berambut cokelat itu mencium bibir Changmin dengan lembut sebelum ciuman mereka menjadi lebih bernafsu saat Changmin memasukkan lidahnya kedalah mulut Kyuhyun. Pada saat yang sama, namja tampan berambut hitam itu mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke punggung Kyuhyun.
Dan tidak lama kemudian…suara letusan pistol bergaung di kegelapan malam….
Author note:
Hore~bagaimana chapter pertama ini para reader sekalian? Apa bagus atau nggak? Tolong kasih pendapat dan opini kalian ya, semuanya~dalam bentuk review, so review please, oke?
Oke, meet again at (hopefully) the next chapter ^^
