Kibum menghela napas saat dia memarkir mobilnya di tempat parkir milik markas FBI sebelum dia memakai jaket hitamnya dan berjalan keluar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di kantornya dan tergeletak lemas di kursinya. Sepertinya dia memang harus berpikir ulang untuk bekerja di divisi pembunuhan. Bagaimana tidak, dia selalu dipanggil untuk menginvestigasi satu kasus pembunuhan dan ketika selesai dan melaporkan hasilnya kepada kepala divisinya dia disambut dengan kasus lain tanpa diberikan waktu untuk beristirahat! Hei, dia ini manusia, punya rasa lelah! Tidak bisakah memberikan kasus-kasus itu kepada orang lain di divisi ini?! Oh sebentar…dia yang meminta semua kasus-kasus itu….

Lee Donghae, sahabat Kibum yang bekerja di divisi obat-obatan terlarang dan transaksi ilegal memandang namja berambut hitam itu dengan pandangan bingung ketika dia berjalan melewati meja namja itu. Bagi namja ikan itu melihat seorang Kim Kibum yang selalu bekerja keras (sampai-sampai Donghae menyebut Kibum workaholic) tergeletak lemas di mejanya karena kelelahan adalah sebuah pemandangan langka. Namja ikan berambut hitam itu berjalan ke arah meja Kibum dan mengusap punggung namja berambut hitam itu pelan.

"Kau lelah, kan?" tanya Donghae sambil tetap mengusap punggung Kibum, mencoba untuk menghilangkan sedikit rasa lelah yang dirasakan namja berambut hitam itu. "Kau tahu Kibummie, jika saja kau itu bukan seorang workaholic dan selalu memberikan hasil investigasi terbaik di antara orang-orang yang ada di divisi ini, mungkin tugas lapangan yang diberikan padamu tidak akan ada sampai setengahnya dari semua tugas lapangan yang kini ditugaskan padamu."

Kibum hanya menggumam pelan dari balik lengannya, membuat Donghae tertawa kecil melihat sikap (menurutnya sih imut) Kibum. Namja berambut hitam itu selalu bersikap begitu cool dan serius ketika dia bekerja tapi ketika dia selesai dengan semua itu dan menanggalkan topengnya sebagai 'agen FBI yang serius dan perfeksionis, Kim Kibum' Kibum hanyalah seorang namja yang kadang-kadang manja (bukan dalam arti negatif) dan kadang-kadang membuat Donghae gemas padanya.

"Dan tolonglah Kibummie…jangan terlalu terobsesi dengan Changmin," bisik Donghae pelan. "Aku tahu kau ingin menangkap dia tapi seriuslah Bummie, kudengar Changmin adalah tangan kanan organisasinya! Dia adalah orang yang paling banyak membunuh di organisasinya, dan lihat apa yang terjadi padamu sekarang saat kau memaksakan diri untuk menginvestigasi semua kasus pembunuhan yang dilakukan Changmin! Dia membunuh banyak orang, kau tidak bisa menginvestigasi semua kasus itu satu demi satu hanya untuk mencari jejaknya! Membunuh dan menginvestigasi itu dua hal yang berbeda, Bummie! Apa yang Changmin lakukan hanya dalam hitungan menit, kau perlu waktu berminggu-minggu untuk menginvestigasinya!"

Kibum hanya diam saat mendengar perkataan Donghae. Dia tidak ingin berargumen dengan namja ikan itu. Bukan hanya karena dia tidak ingin membuat Donghae marah dan kecewa padanya, dia juga…Donghae tidak akan mengerti. Bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti. Dia tidak mengerti kenapa Changmin benar-benar mempengaruhi hidupnya. Yah…mungkin itu karena Changmin memilih dirinya untuk menjadi lawan namja itu. Dia memilih Kibum sebagai seseorang yang ingin dia bunuh sebelum namja itu berhasil menangkapnya dan Kibum merasa tersanjung karenanya…oke, alasan yang menakutkan dan bodoh, kan? Tapi itu benar….

Suara ponsel miliknya yang berbunyi di kesunyian ruangan itu membuat Kibum meraba-raba jaketnya dan mengambil ponsel itu. "Yoboseyo?" tanyanya dengan nada malas. Dia tidak peduli siapa yang meneleponnya sekarang. Mendengar nada ringtonenya tidak mungkin itu kepala divisinya jadi dia merasa tidak ada gunanya memaksakan diri untuk bersopan santun.

"Sepertinya moodmu sedang tidak baik ya? Maaf kalau aku menggangumu, Kibum-ah," suara sunbae dan partner divisinya, Kim Jaejoong terdengar dari seberang sambungan telepon. "Hmm…karena moodmu sedang buruk, kau ingin berita buruk atau berita baik dulu?"

Kibum menghela napas sebelum mengusap rambutnya dengan kesal. "Berita buruk," jawabnya datar dan singkat.

"Berita buruknya ada sebuah kasus pembunuhan yang kuselidiki sekarang dan aku membutuhkan bantuanmu, jadi bisakah kau datang ke gedung kosong di dekan pelabuhan tua sekarang?" tanya Jaejoong, membuat Kibum mengerang kesal.

"Apa berita baik untuk berita semacam itu?" tanyanya kesal.

"Yah berita bagusnya…" Jaejoong terdiam sejenak. "…melihat kondisi mayat-mayat yang ada di sini ada indikasi kalau pembunuhan ini dilakukan oleh Changmin."


Kibum berjalan ke arah gedung kosong di pelabuhan tua yang dimaksud Jaejoong dengan tenang tapi kalau kau melihat auranya kau bisa melihat kalau dia sedang mengantisipasi apa yang akan dia lihat di dalam. Aura penasaran…dan sedikit kegirangan.

Girang dan senang…karena Changmin mengirim petunjuk berdarah lain untuknya, untuk menangkap Changmin dan melemparkan namja berambut hitam pendek itu ke penjara.

Namja berambut hitam itu berjalan menaiki tangga dan menyapa polisi-polisi yang berkumpul di sana dengan nada datar tanpa emosi. Namja itu terus berjalan menuju ruangan di mana dia melihat seorang namja cantik berambut hitam yang berdiri tenang sambil memegang sebuah surat di tangannya. Kibum memandangi ruangan itu dan sedikit berjengit saat dia melihat kondisi mayat-mayat di ruangan itu. Yah…dia tahu sih kalau Changmin itu adalah salah satu pembunuh berdarah dingin di organisasi SM tapi tetap saja dia tidak bisa terbiasa sedikitpun dengan sikap darah dingin itu.

Ada lima mayat yang bergelimpangan di sekeliling ruangan itu. Satu mayat tergeletak di dekat pintu masuk dengan sebuah lubang peluru di dadanya, kelihatan sekali kalau Changmin membunuh namja itu segera setelah dia membukakan pintu untuk namja bertubuh tinggi itu. Dua mayat lagi tergeletak di dekat pintu keluar darurat, dengan dua atau tiga lubang peluru di kepala dan dada mereka, luka itu cukup dangkal hingga tidak akan menyebabkan kematian seketika, yang Kibum yakini pasti menyebabkan rasa sakit yang sangat untuk kedua namja itu sebelum mereka meninggal karena kehabisan darah. Fakta ini membuktikan kalau Kibum benar, kalau Changmin akan selalu membunuh orang dengan cara yang lebih sadis dan lebih tidak berperikemanusiaan jika namja bertubuh tinggi itu merasa kalau korban-korbannya adalah para pengecut yang melarikan diri tanpa mencoba membela diri sedikitpun. Mayat keempat adalah mayat dengan kondisi yang terlihat paling baik, dengan hanya sebuah lubang peluru di kepalanya (membuat Kibum yakin namja itu pasti mata seketika karena tembakan langsung ke otak), kelihatannya Changmin sedikit berbaik hati dengan namja ini karena dia mencoba menyerang balik (terbukti dengan pistol yang masih tergenggam erat di tangan mayat itu) dan memutuskan untuk memberikan kematian seketika untuk mengurangi rasa sakit mayat itu.

"Sadis, kan?" kata Jaejoong sambil sedikit tersenyum sinis saat dia melihat Kibum berjalan mendatanginya. "Julukan "The Death Reaper With Crimson Wings," benar-benar sesuai dengan Changmin. Semua korbannya tenggelam dalam darah, tanpa belas kasih sedikitpun." Jaejoong memberikan surat yang dia pegang kepada Kibum. "Dan sebuah surat berdarah lain untukmu. Benar-benar deh memangnya dia tidak bisa mengirim e-mail atau semacamnya? Menulis surat di jaman modern ini kan…kuno…sekali…" gumam namja cantik berambut hitam itu sambil berjalan pergi untuk bicara dengan salah satu anggota tim forensik mengenai keadaan TKP.

Kibum membuka surat yang ada di tangannya. Di dalam surat itu hanya ada empat atau lima kalimat, tertulis dengan tinta merah seakan-akan surat itu ditulis dengan darah.

Aku menunggumu, dan permainan kita masih berlanjut.

Datanglah padaku sebelum aku yang mendatangimu.

Karena jika aku memutuskan untuk mendatangimu, aku akan membiarkan dewa kematian memelukmu dengan pelukan kematiannya.

Kau adalah satu-satunya orang yang kubiarkan mengetahui wajahku. Kau harusnya bangga mendapatkan rasa hormat setinggi itu dariku.

Jadi jangan buat aku kecewa, buatlah permainan kita menjadi lebih menarik…dan lebih berdarah.

-Max Changmin-

P.S: Aku akan mencoba untuk membuat permainan kita menjadi lebih menarik. U-know-hyung sudah tahu soal permainan kita berdua dan memutuskan untuk membantuku. Dia bilang dia akan menambahkan satu pemain lagi dalam permainan kecil kita.

Temukan orang ini, dia akan memberikanmu keuntungan untuk tidak hanya menemukan aku, tapi seluruh organisasi, tapi jika kau berani melukainya, aku tidak akan berjanji kalau aku akan membunuhmu dengan mudah.

Kibum menggeretakkan giginya sebelum meremas surat di tangannya hingga remuk. Ya, di antara seluruh anggota FBI, Kibum memang adalah satu-satunya orang yang pernah melihat wajah Changmin, dan bukan…jauh dari pikiran orang-orang, Kibum bukannya mengetahui wajah Changmin karena dia pernah menangkap namja bertubuh tinggi itu, dia bisa tahu mengenai itu karena…karena Changmin mendatanginya dan menunjukkan sosoknya di hadapan namja berambut hitam itu.

FLASHBACK

Kibum mengela napas lelah saat dia berjalan memasuki apartemenya. Bekerja berjam-jam benar-benar membuatnya lelah…sekarang rasanya dia hanya ingin mandi dan tidur lelap hingga pagi.

Namja berambut hitam itu berjalan menuju kamar tidurnya dan membuka pintu di hadapannya. Dia langsung disambut dengan hembusan angin yang mengacak-acak rambutnya. Kibum mengerutkan dahi bingung…aneh, rasanya tadi dia sudah mengunci seluruh jendela di kamar tidurnya lalu kenapa bisa ada angin yang berhembus di kamarnya?

Dan jawaban dari pertanyaan itu membuat mata Kibum terbelalak.

Dia melihat seorang namja berambut hitam yang memiliki tubuh lumayan (atau bahkan sangat) tinggi dengan sebuah topeng putih menutupi wajahnya. Sebuah seringai tersungging di bibir namja itu ketika dia berbalik dan menghadap ke arah Kibum. Dia segera membungkukkan tubuhnya seperti seorang pelayan menyambut kedatangan tuannya saat dia pulang "Selamat datang…tuan Kim Kibum." Namja itu membuka topengnya, membuat Kibum berhadapan dengan seorang namja berwajah tampan dengan sorot mata tajam yang memandang ke arahnya. "Aku Max Changmin…sang 'Death Reaper With Crimson Wings' dari organisasi SM."

Wajah Kibum terlihat terkejut sebelum berubah menjadi wajah datar tanpa ekspresi. "Ada perlu apa assassin nomor satu di Seoul datang ke rumahku? Kau ingin aku menangkapmu di sini sekarang juga?"

Changmin tertawa sambil menyandarkan diri di meja yang ada di belakang tubuhnya. "Tidak aku tidak punya rencana untuk menyerahkan diri padamu dan aku tidak sebodoh itu sampai mau-maunya menyerahkan diri padamu. Ini adalah perkenalan…sebagai sebuah pujian untukmu karena aku gagal untuk membunuh si CEO bodoh itu. Ini adalah pertama kalinya aku gagal melaksanakan misiku dan harus kukatakan aku tersangjung," kata Changmin dengan santai. "Jadi…aku akan memberikanmu kesempatan untuk lebih membuktikan dirimu padaku."

Kibum memandang Changmin dengan tatapan aneh. "Oh, terima kasih banyak atas pujianmu, tuan Max Changmin," kata Kibum dengan dingin. "Dan jika aku sudah sangat membuatmu tersangjung untuk apa lagi aku harus membuktikan diriku padamu?"

"Karena…jika kau membuktikan dirimu pantas untuk menjadi lawanku, aku akan memberikanmu kesempatan untuk menangkapku," kata Changmin. "Bukan penawaran yang buruk, kan?"

Kibum tersenyum sinis. "Apa kau pikir aku akan dengan bodohnya bersedia jatuh dalam perangkapmu, Changmin-ssi? Kesempatan yang lebih besar untuk menangkapmu juga berarti kesempatan yang lebih besar untukmu membunuhku! Apa kau pikir aku sebodoh itu sampai-sampai tidak menyadari hal sesimpel itu?"

Changmin hanya mengangkat bahu. "Yah…kita impas, kan? Kau berusaha untuk menangkapku dan aku akan mempertahankan diri dengan berusaha membunuhmu. Permainan ini akan terus berlanjut…sampai aku merasa puas. Mari kita sebut permainan ini permainan tangkap-aku-sebelum-aku-membuhmu."

Kibum menggelengkan kepalanya. "Ini valid, kan?" tanyanya. Dia tidak akan sudi menerima tantangan dari namja bertubuh tinggi itu jika ada kemungkinan Changmin menipunya! Dia tahu bahwa menangkap Changmin itu seperti menangkap ikan terbesar dalam sejarah tapi jika itu harus dibayar dengan nyawanya….

Changmin tersenyum sinis sebelum berjalan keluar ke arah balkon kamar tidur Kibum. "Selama yang kau inginkan…" bisiknya sebelum melompat turun dari balkon kamar dan menghilang di kegelapan malam.

FLASHBACK END

Kibum menghela napas sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Jaejoong. "Jadi, bagaimana hyung?" tanyanya. Jaejoong menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak kaki, tidak ada apa-apa," gerutu Jaejoong. "Dan itu bisa dikatakan sebagai keajaiban kalau kita melihat betapa banyak dan tebal debu di sini."

Kibum mengangkat bahu, dia memang sudah mengira perkataan itulah yang akan keluar dari mulut Jaejoong. "Yah…mereka tidak akan disebut sebagai organisasi kriminal nomor satu di Seoul jika sesuatu sebodoh itu saja akan bisa diketemukan oleh kita," gumam Hoya. "Bukan hanya itu penghinanaan yang akan mencoreng nama mereka, U-know-ssi juga tidak akan suka dengan itu…."

"Sang 'Hellish Prince of Death', U-know Yunho, huh?" gumam Jaejoong. "Dia benar-benar seseorang yang hebat…bisa menjadi seorang pemimpin dari organisasi semengerikan ini di usia yang cukup muda…." Jaejoong juga menghela napas sebelum namja cantik itu berjalan keluar dari gedung, diikuti oleh Kibum. "Benar-benar…hebat…."

"Aku tidak peduli sehebat apa mereka," kata Kibum dengan dingin. "Aku akan menangkap mereka semua dan melemparkan mereka ke balik jeruji besi selamanya!"


Kibum berjalan memasuki kantornya. Surat yang diberikan Changmin masih terpatri jelas di otaknya. Changmin…masih melanjutkan permainan mereka yang mempertaruhkan nyawa itu, dan kelihatannya dia masih belum ingin menghentikan permainan itu dalam waktu dekat, tapi surat itu terlihat seperti sebuah peringatan…kalau dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Mungkin, sekarang kelihatannya Changmin juga sudah memulai perburuannya ke Kibum, dan mereka berdua harus siap untuk menjadi pemburu dan yang diburu.

Bagus…benar-benar bagus…bisakah hari ini menjadi hari yang lebih baik lagi?

"Ah, Kibummie, kau datang di saat yang tepat!" kata Kim Youngwoon, atau yang lebih sering dipanggil dengan nama Kangin di FBI, kepala divisinya. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

Kibum hanya mengangkat alis mendengar perkataan namja rakun yang lebih tua itu. "Ada apa, hyung?" tanyanya. Dia tidak ingin terdengar kasar pada atasannya, tapi…rasa lelah yang dia rasakan benar-benar membuatnya ingin melampiaskannya pada seseorang (tapi jika dia berani membentak atasannya sendiri itu berarti dia harus siap kehilangan pekerjaan jadi ya…dia tidak berani).

"Kupikir belakangan ini kau bekerja terlalu keras. Kau kelihatan lelah dan kupikir itu karena aku selalu memaksamu bekerja sendirian," kata Kangin sambil tersenyum. "Jadi kupikir aku akan memberikanmu seorang partner mulai hari ini untuk membagi pekerjaanmu jadi kau bisa sedikit santai, oke?"

Saat Kangin menyelesaikan perkataannya, terdengar suara ketukan di pintu dan seorang namja berambut cokelat berjalan masuk. Kibum memandangi namja itu sesaat. Rambut cokelat ikal, kulit putih pucat, tubuh kurus…namja di hadapannya benar-benar terkesan lemah dan…imut dan Kangin mengharapkan namja itu untuk membantunya sebagai partner? Apa dia sudah gila?

Tapi tiba-tiba saja, kata-kata di surat Changmin berkelebat di pikiran Changmin.

U-know-hyung sudah tahu soal permainan kita berdua dan memutuskan untuk membantuku. Dia bilang dia akan menambahkan satu pemain lagi dalam permainan kecil kita.

Temukan orang ini, dia akan memberikanmu keuntungan untuk tidak hanya menemukan aku, tapi seluruh organisasi, tapi jika kau berani melukainya, aku tidak akan berjanji kalau aku akan membunuhmu dengan mudah.

Apa ini…kebetulan? Changmin baru saja mengirimkan dia surat yang memperingatkan dia tentang kedatangan seseorang yang mungkin menjadi mata-mata Changmin untuknya dan tiba-tiba saja namja berambut cokelat ini datang dan memperkenalkan dirinya sebagai partnernya. Timingnya terlalu pas…. Benar-benar mencurigakan kalau berpikir ini hanya sebuah kebetulan.

Tapi dengan seseorang yang selicik dan sepintar Changmin dan U-know apa mungkin mereka akan memasukkan seorang mata-mata untuk mengawasinya di waktu yang sangat mencurigakan seperti ini? Tentunya mereka tahu kalau Kibum akan mencurigai namja di hadapannya ini dengan segera…jadi mungkin…tidak? Mungkin ini…murni hanya kebetulan?

"Namanya Cho Kyuhyun," kata Kangin sambil menarik tangan namja manis berambut cokelat itu hingga kini dia berdiri tepat di hadapan Kibum. "Dan mulai sekarang…dia adalah partnermu. Jadi bersikap baiklah padanya, oke?"

'Cho Kyuhyun…' pikir Kibum sambil memandang Kyuhyun yang tersenyum manis padanya dan membungkukkan badan untuk memberi salam padanya. 'Apa kau…mata-mata kematian yang dikirimkan Changmin padaku sehingga dia bisa mengakhiri hidupku dengan mudah? Maaf, Changmin, tapi tidak peduli siapa pun yang kau kirim padaku, aku tidak akan pernah membiarkan diriku jatuh dalam perangkapmu dengan mudah….'


Author note:

Oke, akhirnya saya bisa update fanfic ini lagi! Buat yang udah nungguin, maaf~banget ya! Benar-benar minta maaf karena sudah menelantarkan fic ini! Soalnya saya sibuk dan...writer's block -digampar- Sekali lagi maafkan saya -bungkuk-

Oke, bagi yang mau baca fic yang sudah ditelantarkan lama~banget ini, saya mohon reviewnya ya? Review itu benar-benar memotivasi saya untuk terus melanjutkan fic ini dan tanda kalau masih ada yang mau baca fic saya (kalau ga ada pun ga heran sih )

Oke, meet again (hopefully) at the next chapter~ Bye Bye ^^