"Cho Kyuhyun…" gumam Kibum pelan sambil membaca informasi yang dia dapat mengenai namja berambut cokelat itu di apartemennya. "Lahir di Seoul, 18 Februari 1989. Anak tunggal dari keluarga Cho, pendiri sekaligus pemilik Cho corporation. Keluarganya…terlihat normal, tidak ada catatan kriminal dan semacamnya. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil saat dia masih berusia 5 tahun dan sejak itu Cho Corporation diambil alih oleh sepupu jauhnya, Tan Hankyung. Kyuhyun bersekolah di sebuah sekolah asrama di Seoul dan tinggal sendiri setelah lulus SMU. Dia memasuki akademi kepolisian atas saran namjachingu sepupunya, Kim Heechul. Wow, ternyata Heechul-hyung adalah sahabat baik dari Leeteuk-hyung pantas saja mereka memanjakan Kyuhyun," cibir Kibum sebelum menghela napas. "Yah…dunia itu memang sempit."

Namja berambut hitam itu menghela napas sambil menyandarkan diri di kursi yang didudukinya. "Dia…terlihat normal…. Latar belakang keluarganya juga kelihatannya normal. Dia…tidak terlihat seperti seseorang yang akan melibatkan diri atau bahkan sekedar memiliki hubungan dengan organisasi SM." Kibum menutup profil Kyuhyun di layar komputernya dan menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. "Mungkin…aku hanya terlalu paranoid mengenai dia."

Namja cool berambut hitam itu segera mematikan komputernya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Kibum memandangi jendela balkon kamarnya, menatap pemandangan malam kota Seoul dengan jelas dan mengepalkan tangannya dengan erat.

Dia…meskipun dia sudah meyakinkan diri kalau Kyuhyun adalah orang yang kelihatannya tidak memiliki hubungan apa pun dengan organisasi SM, khususnya dengan seorang Max Changmin, dia tidak bisa merasa lega. Dia…masih merasa tidak tenang, seolah-olah masih ada sesuatu yang disembunyikan Kyuhyun darinya, sesuatu yang gelap…dan jujur saja, membuatnya tidak tenang.

"Cho Kyuhyun…" bisik Kibum pelan. "Siapa kau sebenarnya?"


Kyuhyun berjalan ke arah apartemennya dengan pelan dan membuka pintu apartemen itu. Namja manis berambut cokelat itu segera berjalan masuk dan menghela napas sebelum menyandarkan tubuhnya di permukaan pintu apartemen itu dan memejamkan matanya sejenak.

Dia sungguh tidak pernah menyangka kalau bekerja di FBI, khususnya di divisi pembunuhan, ternyata sangat melelahkan. Dia mendapatkan begitu banyak kasus untuk diperiksa, dan ini baru hari pertamanya bekerja di sana!

Dan ditambah pula dengan sikap dingin Kibum padanya. Kangin dan Leeteuk memang sudah memperingatkannya kalau Kibum memang terkesan antisosial pada orang lain, terutama orang-orang yang tidak terlalu akrab dengannya tapi halo~mereka itu partner, rekan kerja! Bagaimana bisa dia dan Kibum bekerja sama jika namja berambut hitam itu memperlakukan dirinya seolah-olah dia itu pajangan dinding? Kan kesannya tidak sopan sekali! Sungguh, jikasaja tidak ada larangan untuk bersikap tidak sopan pada seseorang yang lebih senior di FBI dan akan menerima hukuman keras, dia pasti sudah menonjok pangeran es itu sekali atau dua kali untuk sekedar memastikan kalau namja cool itu tahu kalau dia itu ada di sana.

"Oh, kau sudah pulang?" kata sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari kesunyian ruangan apartemen yang lumayan besar itu. Kyuhyun segera membuka matanya dan melihat seorang namja tampan berambut hitam pendek yang berjalan ke arahnya dengan sebuah seringai tersungging di bibirnya.

"Jadi…kau kembali lebih cepat dari yang kukira," kata Kyuhyun sambil tersenyum lelah. "Mianhae…."

"Tidak apa-apa," kata namja tampan itu sambil mengulurkan tangannya dan mengalungkannya di pinggang Kyuhyun. "Bagaimana hari pertamamu bekerja di FBI? Apa kau senang?"

Kyuhyun tetap tersenyum selama beberapa saat sebelum senyum itu tergantikan oleh sebuah seringai dan namja berambut cokelat itu mendorong namja yang memeluknya itu dan tertawa. "Hmmm~mungkin ya mungkin tidak…" kata Kyuhyun dengan nada yang penuh dengan arogansi dan kesinisan. "FBI adalah taman bermain yang menyenangkan, aku mengakui itu tapi~orang-orang di sana membosankan."

Namja tampan yang berdiri di hadapan Kyuhyun juga tertawa ketika dia melhat pandangan gelap misterius di mata Kyuhyun. Pandangan gelap yang selalu dia suka. "Mereka tidak akan terlalu membosankan lagi nantinya~saat aku memberikan mereka lebih banyak kasus untuk diinvestigasi."

"Hmm…begitu?" kata Kyuhyun sambil berjalan ke arah namja tampan berambut hitam di hadapannya itu dan mengusap pipi namja tampan itu. "Aku senang mendengarnya, Max Changmin, karena jujur saja…aku bosan."

Changmin kembali tertawa sebelum berjalan ke arah Kyuhyun dan menghimpit namja berambut cokelat itu ke dinding. "Aku janji akan menghiburmu, Kyu," bisik Changmin sambil memandang mata Kyuhyun yang dingin tanpa ekspresi. "Selama kau memberikanku ciumanmu sebelum aku melaksanakan misiku hari ini."

Senyum Kyuhyun melebar saat dia mendengarkan perkataan Changmin. "Well…semoga sukses dengan misimu," kata Kyuhyun sambil memeluk leher Changmin dengan erat. "Tuan "Death Reaper With Crimson Wings" SM~"

Dan namja berambut cokelat itu segera menyatukan bibir mereka berdua dalam sebuah ciuman panas penuh nafsu. Membiarkan diri mereka berdua tenggelam dalam sensualitas nafsu mereka berdua….


Hari berikutnya, hubungan antara Kibum dan Kyuhyun masih tidak berubah sedikitpun. Walaupun namja berambut hitam itu sudah mulai mau mengatakan sesuatu pada Kyuhyun, tetap saja dia masih bicara satu dua patah kata saja. Sumpah, Kyuhyun sampai berpikir apa Kibum itu memang antisosial? Tapi kalau dia itu antisosial mana mungkin dia akan bekerja di FBI yang mengharuskan mereka untuk berinteraksi, bahkan dengan orang tidak dikenal, pada waktu interogasi?

Atau…Kibum hanya menganggap semua itu kewajiban dan karena itu menganggap berinteraksi itu adalah sebuah kewajiban bukan sebuah keinginan?

Tapi…yah, baik Kangin, Leeteuk, Jaejoong, dan Donghae, mereka semua sudah mengatakan padanya kalau di kantor Kibum tak ada bedanya dengan orang bisu.

Hari itu, lagi-lagi mereka berdua bekerja dalam kesunyian kecuali beberapa sesi pertanyaan dan jawaban yang sebenarnya malah terkesan basa-basi, hingga malam. Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal saat dia akhirnya memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya untuk hari itu dan berdiri dari tempat duduknya dan bersiap-siap pulang.

Setidaknya hingga dia mendengar suara sesuatu yan jatuh di belakangnya. Namja berambut cokelat itu segela menoleh dan menemukan Kibum yang terbaring di lantai, tampak tidak sadarkan diri.

"Kibum-hyung!" jerit Kyuhyun sambil berlari mendatangi namja berambut hitam itu. Dia segera membungkuk dan meletakkan kepala Kibum di pangkuannya, hanya untuk merasakan panas dari tubuh namja berambut hitam itu.

"Dia deman?!" gumam Kyuhyun pelan. "Dan dia sama sekali tidak mengatakan apa pun pada siapa pun? Kalau tingkahnya saat sakit selalu begini suatu hari nanti dia pasti akan mati tanpa disadari orang lain…."

Kyuhyun segera menggotong tubuh Kibum ke mobilnya. Namja itu terlihat berpikir kemana dia harus membawa Kibum. Hei, tidak mungkin dia membawa namja berambut hitam ini ke apartemennya, siapa yang mau menjamin kalau Changmin tidak ada di rumah? Namja berambut cokelat itu akhirnya menghela napas dan mengambil handphonenya. Dia segera menelepon Leeteuk untuk menanyakan alamat Kibum dan menyetir mobilnya menuju alamat yang diberitahukan namja berambut cokelat terang itu padanya.


Kibum perlahan-lahan membuka matanya. Dia merasakan kalau kepalanya berdenyut sakit, seperti dipalu dari berbagai arah. Dia mengusap kepalanya dan tertegun saat merasakan ada sebuah handuk yang diletakkan di dahinya.

"Ah, akhirnya bangun juga!" kata sebuah suara di sampingnya. Kibum menolehkan kepalanya dan matanya langsung terbelalak saat dia melihat Kyuhyun yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi cemas terlihat di wajah manisnya. Namja berambut cokelat itu menggenggam sebuah handuk basah di tangannya dan dia menggunakan handuk itu untuk mengusap wajah dan tubuh Kibum yang penuh keringat.

"Kenapa kau ada di sini?" teriak Kibum sambil mencoba bangkit, tapi sayangnya, kondisi tubuh dan sakit kepala yang dideritanya membuatnya tidak memiliki tenaga sedikitpun untuk mengangkat tubuhnya.

"Jangan bergerak! Kau itu masih demam, hyung!" kata Kyuhyun sambil mendorong Kibum untuk kembali berbaring dan meletakkan handuk basah di tangannya ke dahi Kibum sekali lagi. "Dan demammu itu cukup tinggi, jadi sekarang lebih baik kau istirahat saja, hyung! Aku tidak akan mencuri apa pun dari apartemenmu jadi tidak usah khawatir!"

Kibum hanya diam membisu tapi tetap dia menuruti perintah Kyuhyun untuk berbaring dengan tenang. Kyuhyun tersenyum dan mengumpulkan pakaian Kibum yang sudah dia lepas. "Oke, karena hyung sudah bangun aku akan buatkan teh untuk menghangatkan tubuhmu. Oh, dan aku juga mengganti bajumu saat kau tidur karena bajumu basah karena keringat, hyung," kata Kyuhyun. "Tetap berbaring dan jangan kemana-mana, oke? Aku akan segera kembali." Namja berambut cokelat itu segera berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Kibum sendirian untuk memikirkan tindakan Kyuhyun.

Kyuhyun itu hangat, dan juga baik hati. Namja berambut cokelat itu benar-benar bukan seperti seseorang yang memiliki hubungan apa pun dengan dunia kegelapan mafia dan semacamnya. Seseorang yang mau menolong orang dingin seperti dia seperti Kyuhyun…tidak, Kibum tidak bisa membayangkan Kyuhyun hidup dalam genangan darah merah dan kegelapan seperti Changmin dan seluruh anggota organisasi SM.

Kyuhyun…dia begitu suci seperti malaikat, berbeda dengan seluruh iblis berdarah di organisasi SM….

Kibum mencengkeram seprainya dengan erat. 'Tidak…' pikirnya. 'Kyuhyun bukan anggota organisasi SM dan dia pasti bukan mata-mata Changmin. Kedatangannya di hari yang sama dengan surat yang dikirimkan Changmin itu pasti semata-mata hanya kebetulan."

Kyuhyun kembali berjalan memasuki kamar dengan secangkir teh di tangannya. Namja berambut cokelat itu tersenyum saat dia kembali duduk di samping Kibum dan memberikan cangkir di tangannya pada namja berambut hitam itu.

"Silakan diminum, hyung. Ini teh dicampur jahe, seharusnya ini bisa menghangatkan tubuhmu dan membuat perasaanmu jadi sedikit lega," kata Kyuhyun. Kibum hanya memandang cangkir di tangannya sebelum akhirnya menyesap cairan hangat itu, merasakan kehangatan yang mulai menjalar di tubuhnya.

"Terima kasih…Kyuhyun-ah…" gumam Kibum pelan. "Karena mau menolongku…walaupun aku selalu bersikap dingin padamu…."

Kyuhyun hanya tertawa geli. "Bodoh, semua orang yang bekerja di FBI memang harus menolong siapapun yang membutuhkan bantuan, kan? Termasuk patung batu sepertimu, hyung," kata Kyuhyun sambil memeriksa suhu tubuh Kibum lagi. "Meskipun memang…aku harap kau bisa lebih mempercayaiku sedikit saja daripada hanya diam dan bersikap dingin begini…."

"Sangat sulit untukku…untuk mempercayai seseorang," kata Kibum pelan. "Setelah…apa yang terjadi pada keluargaku…."

Kyuhyun memandang Kibum dengan tatapan penasaran. "Apa maksudmu, hyung? Apa yang terjadi pada keluargamu?"

"Orangtuaku…" Kibum memandang cairan cokelat kental di cangkir yang masih berada di tangannya. "Adalah orang tua terbaik yang kumiliki…tapi bukanlah orang yang paling baik di dunia…." Kibum tertawa masam. "…Karena mereka bekerja untuk sebuah keluarga mafia, menjual narkoba, membunuh orang, menipu orang, dan semacamnya…. Aku tahu…kalau mereka adalah orang yang kejam…tapi untukku…mereka adalah orangtua terbaik yang selalu membuatku bahagia memiliki mereka."

Kyuhyun hanya diam.

"Tapi suatu hari…orangtuaku melakukan kesalahan fatal. Keluarga mafia tempat mereka bergabung memutuskan untuk membunuh mereka dan itulah yang kulihat suatu hari saat aku pulang dari sekolahku. Aku melihat…orangtuaku berlumuran darah…dibunuh oleh orang-orang yang seharusnya paling mereka percayai di atas segalanya, rekan mereka sendiri….. Aku beruntung mereka sama sekali tidak menyadari keberadaanku saat aku berlari pergi menuju rumah Leeteuk-hyung. Sejak saat itu…mereka merawatku dan mengadopsiku tapi aku tidak bisa…melupakan apa yang terjadi pada orangtuaku. Bagaimana kepercayaan itu adalah sesuatu yang membunuh mereka berdua…."

"Karena itu…aku tidak pernah mempercayai seseorang. Semua orang…sedekat apa pun mereka, di satu titik tertentu akan mengkhianati satu sama lain untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, untuk melindungi orang lain yang mereka anggap penting, untuk menjaga harga diri mereka, dan beribu alasan lainnya. Kepercayaan itu hanya kebohongan, sebuah tipuan manis yang bodoh dan aku…."

Perkataan Kibum terputus saat Kyuhyun memeluknya, oke mungkin…merebahkan kepala namja berambut hitam itu di dadanya adalah sebutan yang lebih tepat. Kyuhyun mengusap rambut Kibum lembut, membuat Kibum merasa seolah-olah Kyuhyun adalah seorang ibu yang menenangkan anaknya yang ketakutan sehabis bermimpi buruk.

Dan dia…merasa begitu hangat dan nyaman…membuatnya tidak ingin kehilangan kehangatan itu selamanya.

"Pasti semua ini berat untukmu kan, hyung?" gumam Kyuhyun pelan sambil tetap mengusap rambut Kibum. "Tapi hyung…setidaknya…percayalah padaku. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengkhianatimu karena mungkin suatu hari nanti aku juga akan meninggalkanmu sendirian tapi…untuk sekarang…." Kyuhyun mencium dahi Kibum dengan lembut. "Aku akan selalu ada di sini bersamamu…. Untuk sekarang, aku bisa menjadi orang yang kau percaya, dan aku janji…saat waktu bagiku untuk mengkhianatimu tiba…aku tidak akan melawan kalaupun seandainya kau ingin membunuhku. Kau bisa membunuhku saat waktunya tiba, hyung tapi tolong…percayalah padaku kali ini…biarkan aku menopangmu, hyung…dan menyembuhkan lukamu, oke?"

Kibum hanya diam sambil mendengarkan perkataan Kyuhyun tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa begitu…nyaman. Membiarkan Kyuhyun memeluknya seperti ini…merasakan kehangatan namja berambut cokelat ini…terasa…begitu…benar. Kibum mengangkat tangannya dan memeluk bahu Kyuhyun dengan erat, membuat Kyuhyun segera mempererat pelukannya di tubuh namja berambut hitam itu.

Tapi tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memandangi mereka dengan tatapan penuh kecemburuan dan kemarahan.

"Aku tidak akan membiarkanmu memilikinya, Kim Kibum…" gumam pemilik mata itu."Kyuhyun adalah milikku dan hanya milikku. Dia adalah satu-satunya hal…yang tidak akan pernah kubiarkan kau ambil dariku!"


Author note:

Okeh, hidup Kibum-oppa malang banget ya -kan kamu yang buat gitu!- dan hehe...yak bagi yang heran kenapa Kyuhyun masih hidup padahal di chapter sebelumnya dia ketembak, udah ga heran lagi, kan? Iya, Changmin-oppa ga bunuh dia, itu cuma gertakan aja, untuk alasan yang bakal dijelasin di chapter-chapter depan. Sekarang aja malah tinggal bareng tuh mereka berdua -nunjuk ChangKyu- so~silakan pikir sendiri apa hubungan ChangKyu di chapter ini.

Oke, terima kasih bagi yang mau terus baca dan review fanfic ini. Review kalian sangat memberikan saya motivasi untuk terus menulis, dan bagi yang mau baca fic ini, saya mohon reviewnya ya? Review itu benar-benar memotivasi saya untuk terus melanjutkan fic ini dan tanda kalau masih ada yang mau baca fic saya (kalau ga ada pun ga heran sih )

Oke, meet again (hopefully) at the next chapter~ Bye Bye ^^