Setelah hari itu, hubungan Kibum dan Kyuhyun menjadi semakin dekat. Yah…mungkin memang tidak sedekat yang diinginkan Kyuhyun tapi setidaknya sekarang Kibum bisa berbicara dengannya dengan normal, seperti dia berbicara dengan Donghae, Leeteuk, Jaejoong, atau orang-orang lain yang cukup akrab dengannya. Kyuhyun entah kenapa…merasa lega saat dia mengetahui ini, karena setidaknya sekarang dia dan Kibum bisa bekerja sebagai partner kerja tanpa merasa canggung satu sama lain. Bagaimanapun Kyuhyun tahu kalau Kibum bukan orang yang dingin…dia hanya tidak terlalu pandai…dalam mengekspresikan dirinya, hanya itu.
Tapi seiring dengan dekatnya hubungan mereka, datanglah badai yang mempermainkan hubungan mereka berdua….
Badai bernama kecemburuan dan rasa iri….
Suatu hari, Kibum dan Kyuhyun hanya bersantai-santai tanpa melakukan apa pun karena mereka memang tidak memiliki tugas apa pun untuk dilakukan karena mereka baru saja menyelesaikan sebuah kasus yang sudah mereka selidiki selama beberapa hari ini. Kibum hanya duduk di kursinya sambil membaca buku sementara Kyuhyun asyik memainkan PSP yang memang sepertinya tidak pernah lepas dari tangannya kalau namja berambut cokelat itu ada di kantor (sampai orang-orang malah merasa aneh kalau melihat Kyuhyun ada di kantor tapi tangannya tidak menyentuh PSP sama sekali). Ya, karena kesibukan jadwal mereka, Kyuhyun sering sekali beralasan kalau memainkan PSP itu adalah caranya untuk melepaskan stress berlebihan yang dia rasakan. Menurutnya, stress berlebihan itu tidak baik karena hanya akan menurunkan daya kerja otak dan tubuh dan tentu saja itu akan menghambat pekerjaannya (terutama kalau dia malah menelantarkan tugas untuk mengerjakan laporan-laporan kasus karena keasyikan bermain PSP dan menuai teguran dari Kangin).
"Hei, Kibum-hyung…" tanya Kyuhyun tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari layar PSP di tangannya sedikitpun. Kibum hanya menggumam pelan untuk menjawab panggilan Kyuhyun, sama-sama tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari lembaran buku yang dibacanya. "Aku tahu…kalau organisasi SM itu membunuh banyak orang dan melakukan banyak kejahatan kriminal juga, tapi…kenapa kelihatannya…kau begitu terobsesi untuk menangkap Max?"
Ya, Kyuhyun selalu merasa heran saat dia mengetahui obsesi Kibum untuk menangkap Changmin. Dia tahu kalau Changmin adalah pembunuh berdarah dingin yang membunuh banyak orang, bahkan tanpa rasa kasihan dan bersalah sedikitpun, bahkan kadang-kadang Changmin membunuh hanya untuk mencari hiburan dari rasa bosan tapi…untuk seorang agen FBI, untuk memendam obsesi pada seorang kriminal sampai memaksakan diri untuk bekerja lembur dan memeriksa begitu banyak kasus yang berhubungan dengan Changmin…Kyuhyun merasa kalau semua itu terlalu…berlebihan untuk disebut sebagai kewajiban seorang agen FBI yang bertugas untuk menangkap para kriminal dan melindungi masyarakat semata (walaupun Kyuhyun tahu…orang-orang yang Changmin bunuh juga sebenarnya bukan orang yang bisa disebut baik juga….)
Kibum hanya bungkam. Sampai sekarang, satu-satunya orang yang tahu tentang alasan kenapa dia menjadi begitu terobsesi dengan Changmin hanyalah Donghae (itu pun setelah namja ikan itu memaksanya untuk mengaku tanpa letih setiap harinya). Dia tahu…jauh di dalam lubuk hatinya…obsesi yang dia miliki pada Changmin bukanlah sesuatu yang memiliki hubungan apa pun dengan FBI. Obsesinya pada Changmin murni hanyalah untuk dirinya sendiri.
Dia ingin menang…menang dalam permainan yang dia lakukan dengan Changmin. Dia tidak peduli meski harus menggunakan seluruh koneksi dan informasi yang ada di FBI, juga statusnya sebagai seorang agen FBI sekalipun, untuk mendekat ke arah Changmin, untuk menangkapnya. Dia tidak peduli apapun asalkan dia bisa menangkap assassin berambut hitam pendek itu dan menjadi pemenang dalam permainan mereka berdua. Dia tidak boleh kalah! Karena dia tahu…saat dia kalah dari Changmin, namja berambut hitam pendek itu akan membunuhnya.
"Ya…katakan saja…jika aku tidak menangkapnya dia akan membunuhku…" gumam Kibum pelan. Dia tidak bisa membiarkan Kyuhyun mengetahuinya sekarang. Kyuhyun bukanlah orang yang bisa Kibum libatkan dalam permainan berdarahnya dengan Changmin. Dia tidak akan membiarkan Kyuhyun tahu…betapa egois dan pengecutnya dia sebenarnya. Dia menggunakan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Dia ingin menjadi pemenang di permainan mereka berdua, meskipun harus melakukan hal kotor sekalipun.
Tiba-tiba handphone Kibum berbunyi. Namja cool berambut hitam itu segera menarik handphonenya dan melihat nama Donghae sebagai Caller IDnya. Namja tampan berambut hitam itu hanya mengerutkan dahi dengan bingung sebelum menjawab telepon itu.
"Yoboseyo?" tanya Kibum. "Ada apa, Donghae-hyung? Jarang sekali kau meneleponku di tengah tugas begini…kau masih bertugas, kan?"
"Em…aku meneleponmu…karena aku perlu bantuanmu," kata Donghae dengan nada ragu-ragu. "Terjadi kebakaran di sebuah gudang yang kelompokku curigai sebagai tempat penyimpanan obat-obatan terlarang dan benda-benda ilegal lainnya…."
Kibum semakin mengerutkan dahinya mendengar perkataan Donghae. "Lalu kenapa? Aku bekerja di divisi pembunuhan, bukan divisi kebakaran dan bencana alam. Apa yang bisa kulakukan kalau ada kebakaran di sebuah tempat di mana seseorang, atau mungkin sekelompok orang, menyimpan obat-obatan terlarang? Itu bukan tugasku, juga bukan kewajibanku, kecuali kalau ada orang yang terbunuh di sana tapi…kurasa tidak ada orang yang tewas di sana, kan?"
"Ya…memang tidak, sih…" kata Donghae. "Tapi…ada sebuah surat yang ditemukan di depan gudang ini. Surat itu…mengatakan kalau Max adalah orang yang bertanggung jawab atas pembakaran gudang ini, jadi karena itulah…aku perlu bantuanmu. Kepolisian mencurigai kalau kebakaran ini dilakukan oleh organisasi SM karena gudang ini menyimpan obat-obatan terlarang dan semacamnya."
Wajah Kibum langsung berubah serius seketika, membuat Kyuhyun yang melihatnya menjadi sedikit heran melihat perubahan ekspresi yang begitu tiba-tiba di wajah namja tampan berambut hitam itu. "Aku mengerti," kata Kibum pelan. "Aku akan segera ke sana."
Kibum dan Kyuhyun berjalan memasuki gudang yang diberitahu oleh Donghae. Mereka melihat namja ikan Mokpo berambut hitamitu sedang memberikan instruksi kepada beberapa petugas kepolisian untuk membongkar beberapa peti dan membuka beberapa kotak yang ada di gudang itu dan memeriksa isinya. Dari beberapa peti dan kotak yang sudah terbuka, Kyuhyun bisa melihat tumpukan obat-obatan terlarang, mulai dari kokain hingga heroin dan berbagai macam tipe lainnya. Melihat dari jumlah obat terlarang yang ada di gudang itu Kyuhyun bisa menduga kalau siapa pun orang (atau organisasi) yang berada di balik kepemilikan obat-obatan terlarang ini bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.
"Donghae-hyung!" seru Kibum sambil berjalan ke arah namja berambut hitam seleher itu (diikuti oleh Kyuhyun yang setia mengekor Kibum di belakang namja cool berambut hitam itu). Namja berambut hitam itu segera mengalihkan pandangan dan konsentrasinya dari pekerjaannya dan tersenyum saat melihat dua orang namja yang mendatanginya itu.
"Hei, Kibummie, Kyuhyun-ah," kata Donghae sambil mengangkat tangannya untuk menyapa mereka. "Maaf ya aku jadi mengambil waktu istirahat kalian yang berharga tiba-tiba."
"Tidak apa-apa, hyung, kita toh juga sedang menganggur. Lebih baik bekerja dan mendapat bayaran daripada jadi pengangguran di kantor dan makan gaji buta kan?" kata Kyuhyun santai sambil tersenyum.
Donghae hanya tertawa mendengar perkataan Kyuhyun sebelum akhirnya menanyakan sesuatu kepada petugas di sebelahnya. Tidak lama kemudian, petugas itu kembali sambil membawa sebuah kantong transparan, dengan sebuah kertas putih di dalamnya. Donghae memberikan kantong itu kepada Kibum yang segera memeriksa surat di dalamnya dengan teliti.
Gudang ini…hanya sebuah tempat yang konyol untuk terus dipertahankan karena toh memang tidak ada gunanya.
Mereka sudah membuat diri mereka sendiri menjadi musuh kami saat mereka mencoba untuk mengkhianati kami. Kami tidak suka ada musuh yang lancang memasuki organisasi kami dan seenaknya mengklaim harta benda kami sebagai milik mereka, karena itu aku menghancurkan gudang ini, karena sejak awal mereka memang tidak punya hak untuk ini.
-Max Changmin-
"Jadi bagaimana? Apa menurutmu itu benar-benar dia?" tanya Donghae. "Aku sudah menanyakan hal yang sama pada Jaejoong-hyung tapi dia ragu-ragu untuk mengatakan kalau ini adalah perbuatan organisasi SM karena dia bilang…em…dia bilang kalau surat itu…terasa berbeda…."
"Aku setuju dengan Jaejoong-hyung," kata Kibum. "Surat yang selalu kuterima dari Changmin atau anggota organisasi SM yang lain selalu ditulis tangan, masing-masing dengan tinta berwarna yang menjadi ciri khas mereka masing-masing. Changmin selalu menulis dengan tinta merah, sesuai dengan sebutan yang disandangnya tapi surat ini…dicetak dengan tinta hitam." Dia memandang surat itu sekali lagi. "Dan bahasanya juga…terasa berbeda. Changmin biasanya lebih…arogan daripada ini."
"Jadi…kau berpikir kalau surat itu palsu, hyung?" tanya Kyuhyun pada namja cool berambut hitam di sebelahnya.
"Entahlah, aku tidak tahu dengan pasti tapi…kurasa tidak ada salahnya kalau kita memeriksanya," kata Kibum. "Donghae-hyung, aku ingin semua dokumen dan pemeriksaan mengenai kasus ini dan kasus lain yang mungkin berhubungan jika ada kasus serupa seperti ini lagi nantinya," kata Kibum dengan tegas pada namja berambut hitam seleher di depannya yan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Kyuhyun hanya diam saat dia berjalan memasuki apartemennya. Begitu dia memasuki apartemen yang tergolong mewah itu, Kyuhyun segera berjalan memasuki ruang tamu, di mana dia melihat Changmin duduk dengan senyum tersungging di bibirnya. "Ada apa, Kyu? Kau terlihat muram. Apa ada sesuatu yang terjadi di kantormu?" tanya Changmin.
Kyuhyun segera melemparkan semua dokumen yang Kibum dan Donghae berikan padanya ke arah Changmin yang segera membaca dokumen-dokumen itu. "Seseorang mencoba memfitnah dirimu dan organisasi SM atas semua kasus kebakaran yang baru-baru ini terjadi," kata Kyuhyun dengan dingin. "U-know-hyung tidak akan senang kalau dia tahu soal ini, kan?"
"Tentu saja tidak," kata Changmin dengan santai. "Dan si bedebah ini berani mengaku sebagai diriku? Sombong sekali." Changmin segera meletakkan seluruh dokumen-dokumen yang dilemparkan Kyuhyun ke atas meja. "Tapi…U-know-hyung sudah tahu soal ini kok, dari dia. Dia sudah menyuruhku untuk mencari tahu siapa 'Changmin' ini…membunuhnya dengan sadis kalau mau."
"Ah, dia lagi ya," kata Kyuhyun sambil bersiul nyaring. "Namjachingu U-know-hyung yang manis, yang selalu memainkan perannya sebagai orang bermuka dua lebih baik dariku. Memuakkan, dia kan juga cuma seorang pembohong yang jago bermulut manis! Kenapa U-know-hyung sangat mengistimewakan dia, bahkan bisa mencintainya?"
"Karena mereka berdua sama-sama pembohong manis bermuka dua, Kyu~" kata Changmin sambil tersenyum sinis. "Sesama pembohong memang seharusnya akan saling menjebak satu sama lain dalam kebohongan, hingga mereka tak tahu mana kenyataan dan yang mana yang kebohongan. Tapi mereka saling mencintai, Kyu, karena itu saat mereka berdua bersama tidak ada kebohongan. Hanya ada cinta, seperti kau dan aku."
"Lebih baik kau tutup mulutmu tuan assassin gombal," desis Kyuhyun tajam. "Karena kau ada aku…sangat berbeda dengan U-know-hyung dan dia. Mereka saling mencintai dengan kehangatan dan kebaikan tapi kita…kita saling mencintai dengan kekejian dan darah…."
"Karena itu…kau suka sekali berada di dekat Kim Kibum itu?" tanya Changmin, nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin. "Karena dia bisa memberikanmu kehangatan dan kebaikan yang tidak bisa kuberikan?"
Changmin segera berdiri dan tanpa aba-apa dan peringatan sedikitpun segera melempar Kyuhyun ke atas sofa dan menindih tubuh namja berambut cokelat itu. Kyuhyun memandang wajah Changmin yang ada di atasnya dengan tatapan datar tanpa emosi tapi sebuah sinis tersungging di bibirnya. "Ya…kau benar sih…kalau Kibum-hyung itu manis dan gentle, berbeda sekali denganmu. Harus kuakui aku dia bukan pilihan yang jelek untuk dijadikan calon namjachingu. Aku jadi berpikir…bagaimana ya rasa bibirnya, hangat pelukannya dan mungkin…sentuhan tangannya dan…."
Changmin menggeram dan segera mempertemukan bibirnya dan bibir Kyuhyun dalam sebuah ciuman panas yang brutal dan penuh nafsu. Tanpa sedetikpun merasa ragu, namja tampan berambut hitam pendek itu segera memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kyuhyun yang terbuka, membiarkan lidah mereka berdua saling berusaha mendominasi satu sama lain dalam ciuman panas mereka. Kyuhyun mengerang pelan saat dia merasakan Changmin membuka kemeja yang dipakainya dan menyentuh leher dan dadanya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua segera menghentikan ciuman mereka dan memisahkan bibir mereka karena paru-paru mereka yang menjerit meminta asupan oksigen. Changmin menyeringai saat dia melihat wajah Kyuhyun yang bersemu merah saat namja manis berambut cokelat itu berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen dan kembali bernapas normal. Changmin segera menundukkan kepalanya sekali lagi dan menggigit lembut daun telinga Kyuhyun, membuat namja berambut cokelat itu mendesah pelan.
"Kau milikku, Kyu," bisik Changmin sambil menyusuri bahu dan leher Kyuhyun dengan tangannya. "Aku tidak akan pernah memberikanmu pada siapapun atau membiarkanmu pergi dengan orang lain. Aku akan memastikan itu…." Namja tampan berambut hitam pendek itu menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat sambil menjilat leher dan dada Kyuhyun.
"Meski harus membunuh sekalipun…."
Author note:
Entah kenapa saya malah suka ngeliat Kyuhyun bermuka dua gini -digeplak Kyu ama SparKyu- Iya, saya tahu kalau begini kesannya Kyuhyun itu ga jelas banget ya, sama Changmin sok dan arogan tapi sama Kibum manja dan manis tapi...kayaknya di dunia nyata juga Kyuhyun gitu kok sama Changmin dia adalah sesama evil magnae tapi sama anggota Suju (termasuk Kibum) dia itu magnae yang disayang abis tapi ya...saya minta maaf kalau personality Kyuhyun itu malah bikin kalian bingung tapi ada alasan sendiri kenapa personality dia kayak begini
Oke, terima kasih bagi yang mau terus baca dan review fanfic ini. Review kalian sangat memberikan saya motivasi untuk terus menulis, dan bagi yang mau baca fic ini, saya mohon reviewnya ya? Review itu benar-benar memotivasi saya untuk terus melanjutkan fic ini dan tanda kalau masih ada yang mau baca fic saya (kalau ga ada pun ga heran sih )
Oke, meet again (hopefully) at the next chapter~ Bye Bye ^^
