BLEACH is belongs to Tite Kubo


I loph you

Pasti, akan ada saatnya dimana kita mempunyai kebernaian untuk menyatakan itu...


Ichigo sudah capek. Bukan, bukan karena dia baru aja mendaki gunung sambil jongkok, tapi karena Rukia. Ia capek terus menerus disakiti oleh gadis itu, terlepas dari apakah orang yang bersangkutan sadar atau tidak.

Makanya, kini Ichigo akan mencoba untuk mengakhiri semuanya. Ia akan menyatakan perasaannya pada Rukia. Jika diterima, tentunya ia akan senang sekali, tapi jika ditolak.... minimal perasaannya takkan terombang-ambing seperti ini terus kan?

Makanya kini Ichigo sedang berusaha meluncurkan berbagai cara untuk menyatakan perasaannya....

Taktik 1: Ajak kencan ke bioskop

"Rukia, aku punya 2 tiket nonton film... Tadinya mau ajak Renji, tapi ternyata dia nggak bisa. Daripada tiketnya terbuang, kau saja yang ikut nonton, ya? Film Romansa di WC Umum ini lagi ngetop, lho," ajak Ichigo dengan gaya se casual mungkin walaupun sebenarnya jelas-jelas maksa.

"Eh? Aku nggak minat sama film kayak gitu... ajak yang lain saja," tolak Rukia.

"Memangnya kau maunya nonton apa?" tanya Ichigo, belum menyerah.

Dengan mantap Rukia menjawab, "The Totally Greatest Hilarious Adventure of Chappy".

Ichigo tak mampu berkata-kata.

Masih belum menyerah, beberapa hari kemudian Ichigo kembali menemui Rukia dan mengajaknya menonton film bla bla bla apalah Chappy itu, yang tiketnya (diakuinya) merupakan hadiah menang lotre. Dan jawaban Rukia adalah...

"Aku sudah punya DVDnya".

Taktik 2: Ajak ke restoran

Ichigop berhasil menemukan sebuah restoran yang romantis, tapi juga tak terlalu mahal. Apalagi dengan iming-iming event Chappy live show, ia yakin bisa mengajak Rukia kesana. Dan benar saja, Rukia dan Ichigo pun pergi berdua ke sana Sabtu ini.

Dan inilah saat yang tepat untuk Ichigo...

"Rukia, aku sebenarnya...."

Dreng!! Troreng!! Tot Tet Tot!! Terereng!!

Omongan Ichigo terputus oleh The Chappy live show yang musiknya keras banget karena mereka duduk dekat dengan speaker. Dan otomatis, Rukia hanya menganggap Ichigo angin lalu karena sibuk memperhatikan Chappy live Show.

Taktik 3: Tulis surat cinta

Taktik tradisional yang simpel dan efektif, Ichigo sendiri heran kenapa dia nggak menggunakan taktik ini sejak awal Dengan semangat bergelora yang membara ia pun menulis surat cinta yang sangat romantis; sulit membayangkan yang menulis surat itu adalah Ichigo Kurosaki jika kita membacanya.

Dengan penuh rasa percaya diri Ichigo pun memasukkan surat yang setebal kamus itu ke loker Rukia.

Saat pulang sekolah, Ichigo langsung menguntit Rukia yang seperti dugaannya; langsung menuju loker untuk menukar sepatu.

Rukia pun membaca surat cinta Ichigo (yang sekali lagi saya ingatkan; setebal kamus) selama beberapa menit. Lalu wajahnya mulai menunjukkan semburat merah. Melihat reaksi ini, Ichigo positif perasaanya tersampaikan. Ia sampai jingkrak-jingkrak sendiri dibalik tembok.

"Eh? Itu surat cinta ya, Kuchiki-san?" tanya Orihime yang datang menghampiri Rukia. Rukia mengangguk pelan, wajahnya masih memerah.

"Hebat!! Dari siapa??". Rukia pun melihat lagi surat itu untuk mengecek siapa si pembuat surat. Rasanya tadi tak disebut-sebut....

"Ah..." kata Rukia. Dan inilah saat-saat paling menegangkan bagi Ichigo.

"Nggak ada nama pengirimnya...".

"..." Bodohnya Ichigo, lupa menulis hal ang paling penting dalam surat cinta...

Dalam kondisi seperti ini, ada beberapa pilihan untuk Ichigo:

a. Lompat ke hadapan Rukia dan teriak bahwa dialah penulisnya

b. Pulang dan melupakan rencana ini, anggap saja nasib

c. Ngupil

Ichigo pun menimbang-nimbang konsekuansi dari tiap pilihan itu...

Kalau pilih a, selain mungkin Rukia nggak percaya, dia juga bakal disangka gila karena teriak-teriak nggak jelas. Kalau pilih B, yah... udah susah payah juga, masa gagal lagi sih? Ichigo pun melakukan pilihan c. Lumayan, sekalian membersihkan hidung.

Taktik 4: Menembak sambil menodong

Menembak sambil menodong? Ya, menembak disini jelas-jelas maksudnya adalah menyatakan cinta,tapi menodong? Ichigo sudah benar-benar frustasi, makanya dia berniat untuk menembak Rukia dengan cara seperti ini:

Ichigo: (menodongkan pisau) Aku suka padamu!! Jadilah pacarku, atau pisau ini akan memutuskan urat nadimu!!

Karena sudah frustasi, Ichigo pun nekat pergi ke rumah Rukia untuk menjalankan rencananya yang (sangat) tidak brilian itu.

"Rukia!!" teriak Ichigo dari depan pintu. Pintu pun terbuka dan tampaklah sosok yang lebih menakutkan daripada guru matematika menurut Ichigo...

"Rukia sedang keluar. Ada urusan apa kau dengannya, hah?" tanya Byakuya Kuchiki sambil menodongkan pedang yang (jelas-jelas) lebih tajam dan panjang dari pisau yang dibawa Ichigo.

Sungguh, Ichigo tak menyangka rencananya menghasilkan hasil terbalik begini.

Taktik 5: Tembak langsung tanpa peduli tempat

Taktik yang benar-benar butuh keberanian. Dan begitulah keadaan Ichigo sekarang, mengumpulkan keberanian sembari melangkah ke kelas Rukia untuk menyatakan perasaannya. Ichigo pun masuk dan melihat keadaan yang sangat menguntugnkannya; tak ada siapapun di kelas selain Rukia.

"Rukia... ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu..." kata Ichigo grogi.

"Eh? Ada apa? Mau hutang lagi?" tanya Rukia polos.

"Bukan! A...aku... aku sebenarnya... ingin mengatakan bahwa aku... su.... su...:"

"Eh~? Yang benar saja?" sebuah suara yang mendadak muncul dari belakang Ichigo menyeruak masuk.

"Benar kok! Aku melihat Kak Kitagawa lagi jalan bareng sama pacar barunya!"

Ternyata teman-teman sekelas Rukia masuk kelas. Termasuk Tatsuki dan Orihime.

"Nih, Rukia, titipanmu," kata Orihime sambil memberikan roti susu pada Rukia.

Rukia tersenyum, "terima kasih".

Melihat ada Ichigo, Tatsuki pun menggodanya, "Ngomong-ngomong sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan pada Kuchiki, Ichigo?"

"Ah, iya..." kata Rukia setelah menggigit rotinya, "Tadi mau bicara apa, Ichigo?"

"Eeh... i... itu... aku...". Mustahil. Tidak mungkin Ichigo bisa menyatakan perasaannya dengan Orihime, Tatsuki, dan segerombol anak-anak lain yang berada di sekelilingnya dengan pandangan tertuju hanya padanya.

"Apa?"

"Aku... su... suka susu!! Iya, aku suka susu, makanya aku ingin berhutang lagi padamu untuk beli susu kotak..."

Sungguh, kadang Ichigo menyesali betapa naif dan bodohnya dia.

Taktik 6: Menyerah

Ichigo benar-benar sudah lelah. Ia sudah tidak mau tahu lagi. Mungkin ia akan berusaha mencari perempuan lain dan melupakan Rukia. Meskipun kecewa, di dunia ini perempuan tidak hanya Rukia saja kan?

Ichigo yang sudah pasrah pun berjalan menuju pintu gerbang dengan langkah gontai. Sampai ia melihat sosok Rukia berdiri sendirian di depan gerbang.

"Hei," panggil Ichigo sambil menghampiri Rukia. "Sedang apa?"

"Menunggu teman untuk pulang bareng, kau mau?"

"Boleh".

Dan kali ini, Ichigo benar-benar mengunci mulutnya di perjalanan pulang.

Rukia pun mengawali pembicaraan, " Ini akhir pekan, kau ada rencana apa?".

"...Tidak ada," jawab Ichigo pendek.

"Oh... aku juga belum ada rencana".

Tanpa sadar omongan Ichigo jadi ceplas-ceplos, "Bagaimana kalau kita berpacaran? Aku menyukaimu, sih".

"Begitu? Boleh saja".

Seandainya Ichigo tahu akan semudah ini.

Begitulah, kisah mereka pun berakhir dengan (tidak) indah. Mungkin selanjutnya pun, hubungan mereka tidak akan semulus kulit bintang ponds. Namun, mereka memang dua insan yang saling mengisi layaknya sate dan saus kacangnya. Mungkin besok, atau minggu depan, atau bahkan bertahun-tahun yang kan datang, akan tercipta kisah romantis dari hubungan mereka. Namun, saya serahkan romantisme itu pada imajinasi pembaca sendiri.

Selesai


Meski ternyata tak terlalu memerlukan keberanian untuk melakukannya.


Yup! Selesai! Maaf bagi yang udah mengharapkan romantis2 an Ichiruki, tapi saya nggak bisa mengabulkannya. Review please!!