Chapter 2! Oh yeah! Baca aj ya, karakternya semakin OOC di sini =.="
Chapter 2: Be With Me, I Will Protect You
Gaara POV
Aku menarik jaket tebal yang kugunakan lebih dalam. Udara dingin yang menusuk kulitku benar-benar membuatku menggigil. Aku memperbaiki kain yang mengikat gentongku di punggungku. Pulau yang diselimuti salju ini membuatku tidak enak.
(A/N: Emang sih di Naruto The Movie 1, Yukigakure berubah jadi pulau musim semi gitu, tapi anggap aja The Movie 1 itu gak ada jadi Yukigakure masih diselimuti salju XP)
"Ayo Gaara, sebaiknya kita segera pergi ke desa terdekat," aku mengangguk dan sedikit keheranan mengapa kapal ini berlabuh di tempat yang nggak ada orangnya. Kulihat beberapa orang juga turun dan segera pergi ke tempat yang berbeda-beda. Aku melihat beberapa orang berterimakasih pada Uzumaki.
Aku memandanginya dari kejauhan. Dia....benar-benar hebat, dalam waktu cepat ia bisa membuat orang berteman dengannya dan mengakui keberadaannya. Sangat berbeda denganku.
Aku terkejut ketika ada orang yang menarik bajuku dan aku menoleh melihat gadis kecil yang kutolong tersenyum padaku di sebelahku. Butuh waktu lama sampai kesadaranku kembali. "Terimakasih, kakak," katanya dengan suara kecil dan ia berlari menuju ibunya. Aku hanya bisa tersenyum tipis ketika ia melambaikan tangannya padaku dan dengan sedikit ragu, aku balas melambai.
"Aku tidak sangka, seorang Sabaku no Gaara cepat akrab dengan anak kecil."
Aku terkejut dan menoleh pada Uzumaki yang entah sejak kapan berdiri di sebelahku dengan senyum hangatnya terpulas dibibirnya. Aku merasakan wajahku menghangat dan aku segera berpaling ke arah lain.
"Ayo, kita segera pergi ke desa terdekat," kata Uzumaki dan kemudian ia melangkah. Aku mengikutinya di belakang. Aku melihat tangannya yang ia lipat di belakang kepalanya. Aku....ingin ia menggandeng tanganku lagi....tapi.....
"Oh ya, apa ada keterangan tentang buronan itu?" tanya Uzumaki padaku. Aku segera mengingat-ingat apa yang dikatakan tetua. "Katanya para buronan itu adalah ninja dari Yukigakure yang membuat kekacauan beberapa kali di Suna saat perang besar 3 Shinobi (A/N: maaf ya kalau nulis perangnya salah). Mereka sempat dikurung oleh para ninja Suna namun kemarin akhirnya melarikan diri kembali ke Yukigakure," kataku. Uzumaki memecingkan matanya dengan dahi berkerut. Tampak sedang berpikir keras.
"Lalu? Ada semacam petunjuk tidak?" tanya Uzumaki. Aku menggeleng dan ia mendesah berat.
Aku punya firasat buruk untuk misi ini. Pertama, hanya aku dan Uzumaki saja yang mengerjakan misi ini, padahal misi ini level B, seharusnya dikerjakan oleh tim inti beranggotakan 4 orang. Lalu, tempat ini adalah kelemahanku, tempat dimana pasirku tidak berguna. Dan, kami juga tidak diberi petunjuk mengenai buronan itu.
Lalu, bukankah Naruto juga memiliki monster dalam tubuhnya? Aku mendengar hal itu dari Baki. Jadi, rasanya misi ini berkesan seperti.....
Misi bunuh diri....
"Gaara?" aku menoleh pada Uzumaki yang entah sejak kapan wajahnya hanya berjarak 5 centi dari wajahku. Spontan aku segera mundur karena kaget.
"Kau melamun saja, kan kutanya, kalau tidak ada petunjuk lalu kita bagaimana sekarang?" tanyanya. Aku menganngguk pelan. "Ke desa terdekat, mungkin pilihan yang paling bagus," kataku. Ia mengangguk tampak setuju dan kemudian melirikku. Aku bingung apa maksud dari pandangannya namun aku kaget ketika ia menggandeng tanganku. Aku bisa melihat pipinya terlihat sedikit kemerahan. Tanpa sadar pipiku pun ikut memerah. Aku tidak menggenggam tangannya dan ia menoleh padaku. Sambil menunjukkan senyumnya.
Aku menarik jaketku lebih dalam, rasanya sangat dingin namun tanganku terasa sangat hangat.
***
Naruto POV
Aku menoleh ke belakang, dimana Gaara berada satu langkah di belakangku. Ia tampak sedikit menggigil. Aku cukup mengakui kalau udaranya semakin bertambah dingin. Kamu sekarang berada di hutan cemara yang saljunya sangat tebal sampai setiap aku menginjakkan kaki, kakiku tenggelam ke dalam salju, padahal aku sudah memakai sandal bergerigi khusus untuk daerah bersalju.
Aku merasa tangan Gaara yang ada di dalam genggamanku mulai gemetaran. Hal ini membuatku khawatir. Aku menarik syal panjang yang kegunakan dan melepaskan genggaman tanganku padanya. Ia memandangku dengan tampak sedikit kecewa namun kaget ketika aku mengalungkan syalku ke lehernya.
"Kau kedinginan kan? Pakai saja syalku," kataku sambil merapikan syalnya. Ia memandangiku dengan mata terbelalak dan pipi yang kemerahan. Aku merasa pipiku sedikit memanas dan dadaku kembali berdebar kencang.
Duh, kenapa aku jadi deg-degan lagi sih?
"Oh ya Gaara, kau tidak berat membawa gentong dan tas itu sekaligus?" tanyaku merasa tidak enak melihat beban yang dibawa tubuh kecil Gaara. Ya, tubuhnya lumayan kecil, aku sadar itu ketika memeluknya.
Ia menggeleng dan menatap ke bawah. Aku hanya bisa tersenyum. Kami kembali berjalan menelusuri hutan. Aku kaget ketika Gaara mendadak menggandeng tanganku, ia hanya menatap ke bawah namun menggandeng tanganku erat. Aku bisa merasakan kalau Gaara jadi sedikit tegang, namun aku menggenggam balik tangannya meski jantungku kembali berdebar kencang di luar kontrol.
Namun, panikku menyeruak saat sadar kalau bermunculan banyak keberadaan tak di kenal disekitar kami. Aku berhnti berjalan dan menggenggam tangan Gaara sangat erat seakan takut tiba-tiba ia lenyap dari sisiku.
"Siapa mereka?" gumamku merasa panik. Entah kenapa aku jadi mempunyai firasat buruk, mengapa aku jadi pesimis begini?
"Uzumaki," aku menoleh dan melihat Gaara menarik lengan bajuku, ia tampak....takut? Atau wajahnya terlihat pucat? Entahlah, tapi aku tahu keadaan Gaara jauh dari baik.
"Yosh, bocah ninja!"
Aku terkejut dan menoleh ke sekelilingku sudah dikelilingi tiga ninja yang tampaknya tidak bersahabat. Apakah....mereka buronannya? Kenapa mereka yang menghampiri kami duluan?
"Coba kutebak, kalian adalah ninja yang diutus untuk menangkap kami?" tanya seorang ninja laki-laki yang beradad di tengah. Ia memiliki rambut spike berwarna hijau dengan mata ungu yang tajam yang rasanya menusuk kulitku.
Dua ninja lainnya adalah cewek berbadan langsing dengan rambut pendek berwarna putih dan satunya lagi adalah cowok berbadan besar seperti bola dengan rambut berwarna hitam.
Mereka semua memakai seragam yang agak mirip, Warna putih dengan garis-garis hitam.
Aku mundur dan mengambil posisi siaga, aku melirik Gaara di sebelahku. Ia tampak tenang dan dingin, namun firasatku mengatakan itu semua hanya acting yang menutupi kepanikan dalam dirinya.
Ketika ketiga ninja itu dengan kecepatan luar biasa menghampiri kami sambil mengacungkan senjata, aku meraih kunai yang ada dikantong celana kananku. Dengan segera aku menahan sabitan sabit yang diarahkan ke leherku. Aku menatap ninja berambut spike itu, aku menahan sabitannya sekuat tenaga namun aku sadar aku mulai terdorong ke belakang. Salju yang tak bisa membuatku berpijak dengan mantap ini juga tidak membantu.
Aku sadar, mereka kuat. Apakah mereka adalah buronan tingkat S?
Saat kurasa sabit itu tak bisa kutahan lagi, aku mengerahkan tenagaku dan menepisnya dan kemudian mengincar dadanya. Ninja itu mundur sampai jarak aman dan mengeluarkan semacam segel, dengan cepat aku juga mengeluarkan beberapa bunshin, namun aku sangat terkejut ketika melihat ombak salju yang ada di depanku. Aku segera melompat namun ombak itu segera menyapu diriku dan menenggelamkanku di dalam salju, aku berhenti terbawa arus saat tubuhku menabrak pohon cemara. Aku bisa mendengar beberapa bunyi tulang retak, punggungku sakit luar biasa dan darah yang mengalir di mulutku bukanlah merupakan hal bagus.
Pandanganku terasa kabur namun kupaksa mataku untuk tetap terbuka. Aku melirikke sampingku, sejenak aku sempat melupakan Gaara. Ia...bagaimana keadaannya?
Mataku terbelalak saat melihat Gaara terbaring di salju yang memerah karena darah, aku bisa melihat betapa banyak luka bacokan disekujur tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat, tangannya yang penuh darah menggenggam kunai namun aku sadar ia sudah sampai batasnya.
Aku merasa tubuhku memanas dan tenagaku mulai meluap. Ah, rupanya tanpa sadar aku sudah menarik cakra Kyuubi. Namun, inilah saatnya untuk melepaskan kekuatan secara penuh bukan?
Aku membuka segel kuchiyose no jutsu sambil mengikis ibu jariku sebelumnya. Aku merasa cakraku banyak yang tertarik namun aku tak peduli.
Kepulan asap muncul di bawahku dan kusadari kini aku berada di atas Oyaji, Gamabunta. Aku sedikit panik dan mencari dimana Gaara berada, namun kusadari ia ada jauh di bawah sana, setidaknya ia tidak terinjak Oyaji.
"Apa-apaan lagi ini bocah!? Kenapa kau memanggil di tempat dingin begini?" bentak Oyaji yang serasa menggelegar di kupingku.
"Oyaji, kumohon tolong aku! Aku....Gaara....!" aku tak mampu mengontrol suara panik yang meledak di suaraku, aku melihat Oyaji tampak mengerti.
"Bukan Sakura-chan?" tanyanya dengan nada mengejek. Butuh waktu lama sampai aku mengerti apa maksudnya. "Bukan! Bukan! Dia temanku!" seruku panik dan marah namun tidak bisa meredam warna merah di pipiku. Oyaji hanya tertawa.
Namun, obrolan kami tak berlangsung lama begitu aku merasakan tubuh Oyaji berguncang keras. Aku melihat ke bawah dan terkejut melihat di bawahku terdapat banyak banjir salju yang seakan terlihat seperti badai ombak yang ada di lautan.
"GAAARRAAA!" teriakku tanpa pikir panjang segera melompat ke bawah. Aku merasa tubuhku terseret arus salju dan aku dapat melihat ninja-ninja itu tertawa dari kejauhan, aku menghiraukan mereka dan segera mencari teman seperjalananku. Ketika seberkas warna merah menangkap penglihatanku, aku segera menghampirinya dengan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terseret arus salju. Begitu aku sampai di sampingnya, aku segera menariknya keluar dari salju dan melompat ke dahan pohon dan melompat lagi ke punggung Oyaji.
Aku bisa merasakan tubuh Gaara yang terasa membeku di pelukanku. Rasanya aku bisa merasakan amukan Kyuubi yang ada di dalam tubuhku, entah karena dia merasa senang dengan situasi menegangkan ini atau karena merasa marah merasa harga diri monster tersakiti? Entahlah, bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu.
"Oyaji, bisakah kau hancurkan gunung itu?" tanyaku melupakan kalau hal yang kutanyakan adalah hal yang berbahaya.
"Apa yang kau inginkan bocah?" tanya Oyaji dengan nada kesal. Aku mendesah. "Yah....kau bisa membuat longsoran salju?" tanyaku semakin panik saat aku melihat mereka kembali mengeluarkan jurus-jurus berbahaya.
Oyaji hanya mangut-mangut dengan badan menggigil, ya....namanya katak mungkin tidak bisa hidup di daerah bersalju ya?
Oyaji menghunus katananya ke gunung yang berada tak jauh dari kami. Hanya dengan sekali sabetan aku bisa melihat salju yang runtuh dengan skala besar dan meluluh lantakkan sekitarnya. Aku berpegangan pada Oyaji dengan erat, karena aku bahakn bisa merasakan getaran hebat dari longsoran salju tersebut.
Aku mendekap Gaara erat, aku bahkan bisa merasakan betapa dingin tubuhnya dari balik jaket tebalku. Aku melepas jaketku dan berusaha melupakan dinginnya udara yang menusuk kulitku dan aku segera menyelimuti tubuh Gaara dengan jaketku. Mataku memanas melihat banyak luka di tubuhnya dan betapa dingin kulitnya.
Gaara yang kukenal tak pernah lemah, ia selalu kuat, selalu sendiri. Apakah Gaara yang seperti itu hanya topeng semata, dan Gaara yang ada di hadapanku sekarang ini adalah Gaara yang sebenarnya?
"Tempat ini tidak menguntungkan untuknya, pasir lemah melawan air dan semua salju ini adalah air yang beku. Semua jurusnya tak akan berguna," kata Oyaji menjelaskan semua yang terjadi.
Aku hanya bisa mengangguk, aku merasa kesal....tapi aku terlalu sedih untuk bisa melampiaskan rasa kesalku. Aku juga tak peduli dengan nasib ninja yang ada di bawah sana. Aku hanya merasa sedih dan kesal....karena Gaara jadi begini karena aku tidak melindunginya. Teman macam apa aku?
***
Gaara POV
Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat. Ketika aku mulai melihat cahaya, tubuhku serasa meledak oleh rasa sakit. Aku meringis dan aku merasa air mataku jatuh. Namun, kehangatan menyelubungiku membuatku sedikit bisa menahan rasa sakit itu.
"Gaara."
Penglihatanku semakin jelas dan aku sedikit terkejut ketika sadar kalau aku ada di pelukan Naruto. Dadaku kembali berdebar kencang, seakan menarikku kembali sadar sepenuhnya. Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya, pasrah dalam pelukannya.
"Gaara, aku sudah bangun," tanyanya. Aku tak bisa melihat wajahnya di posisi seperti ini, namun aku bisa mendengar nada khawatir di suaranya.
Rasanya, sangat senang bila ada yang khawatir padamu....ya?
"Uzumaki....," kataku lemah. Aku ingin berterimakasih. Ia membuatku sangat bahagia, ia membuatku merasa hidupku, rasanya aku ingin memeluknya selamanya.
Aku membiarkan tanganku melingkari pundaknya, mendekapnya lebih erat. Namun, aku kemdian sadar, kalau tubuhnya hanya ditutupi selembar kaos yang tipis, aku sadar kalau kulitnya sangat dingin. Eh, tunggu, aku juga diselimuti jaketnya...Uzumaki, melakukan ini semua untukku?
"Uzumaki...kau....kedinginan," kataku dengan suara yang masih pelan. Aku sadar kalau aku dan Uzumaki diselimuti selembar selimut yang agak tipis bersama. Namun, aku tahu Uzumaki masih kedinginan.
"Tidak apa-apa, Gaara," kata Uzumaki, aku bisa merasakan Uzumaki seakan bernapas di leherku. Aku sedikit merasa nervous, aku jarang sekali berada sedekat ini dengan orang. Dadaku terasa sesak dan aku tak bisa berpikir lurus.
Aku mendorong Uzumaki sedikit, melepaskan pelukannya dariku. Ia melihatku dengan pandangan bertanya, namun kugunakan ruang yang sedikit bebas untuk melihat sekelilingku. Aku sadar ternyata aku berada di dalam gua....dan suara ini....
"Di luar ada badai salju yang dahsyat," kata Naruto sambil mendesah. Aku kembali menyandarkan kepalaku di dada Naruto. Aku sedikit menyadari betapa memalukan posisiku saat ini. Aku duduk di pangkuan Uzumaki.
"Uzumaki, ini....jaketmu," kataku menarik jaket oren dari pundakku, namun aku sadar kalau kemudian aku kehilangan syal pemberian Uzumaki padaku. Aku menoleh sekelilingku, apa mungkin syalnya jatuh saat bertarung tadi?
"Syalnya....," gumamku tanpa sadar air mata sudah berkumpul di pelupuk mataku. Aku sudah menghilangkan syal pemberian Uzumaki, bagaimana ini!? Dia pasti marah!
"Tidak apa-apa, mungkin yalnya sudah hilang terseret longsor salju tadi. Aku bisa menemukan ranselku saja suatu keajaiban," kata naruto menunjuk tas ranselnya yang ada di sampingnya. Lho? Ranselku?
"Aku tidak bisa menemukan ranselmu, gentongmu juga tak bisa kutemukan," kata Uzumaki terlihat lelah. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding gua sementara aku terus duduk di pangkuannya, menghadap padanya.
"Maaf," kataku tak tahu lagi harus berkata apa. Uzumaki menatapku, aku memalingkan pandanganku ke samping, tak bisa bertatapan dengannya. "Sudahlah, kita masih hidup saja sudah cukup sebenarnya," kata Uzumaki tampak kesal. "Mereka sangat KUAT!" katanya lagi membuatku kaget.
"Aku tidak tahu kemana mereka pergi, mereka berhasil menghindari longsoran salju itu, tapi mereka jelas masih hidup," kata Uzumaki. Sedikitnya, aku bisa membayangkan apa yang terjadi ketika aku tidak sadarkan diri.
"Maaf, karena aku tidak bisa membantu apa-apa, pasirku....," aku kaget saat sadar air mataku sudah jatuh mengalir ke pipiku. Ini pertama kalinya aku merasa begitu lemah, tidak berguna, dan tidak berdaya. Aku hanya jadi.....beban!
"Gaa...Gaara! Kenapa kau menangis!" kata Uzumaki dengan nada panik, ia menghapus air mataku dan menarik daguku agar menatapnya. "Tidak apa-apa Gaara, aku tahu....pasirmu tidak berguna di tempat seperti ini, aku lah yang bodoh karena tidak menyadarinya lebih awal, maksudku....harusnya aku melindungimu tadi! Aku membiarkan kau melawan 2 orang ninja seorang diri! Ya Tuhan! Aku benar-benar idiot!" jerit Uzumaki seakan ia sangat frustasi.
Kenapa? Aku terluka merupakan hal bagus kan? Maksudku, tak ada orang yang peduli bila aku terluka atau tidak, jadi aku terluka itu adalah kebahagiaan semua orang...'kan?
Lalu...kenapa dia....bilang "melindungiku" maksudku...ayolah....tak ada orang yang ingin melindungiku 'kan? Memang Uzumaki sempat menolongku saat di kapal tapi siapa yang ingin repot-repot melindungiku....
Aku mati itu hal bagus kan? Orang sepertiku....
"Hah, Gaara, aku berjanji akan melindungimu!" jerti Uzumaki membuatku sadar dari lamunanku, aku hanya terdiam memandangnya kebingungan.
Deg!
Kenapa sikap Uzumaki begitu berbeda dari orang lain? Kenapa...ini semua membuatku bingung.... aku memangs sangat senang dengan semua sikapnya yang baik tapi....itu juga membuatku takut....
Aku....merasa tidak pantas....aku....aku....
"Gaara, apa kau kedinginan?" tanya Uzumaki. Butuh waktu lama sampai aku bisa menjawabnya, semua sikap, keadaan dan perasaan ini membuatku sangat bingung.
Uzumaki menarik selimut yang menyelimuti kami lebih dalam, dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku tidak bisa menolak dipeluknya....maksudku...rasanya...ah....aduh....
"Udaranya makin dingin," kata Uzumaki sambil memperart pelukannya. Aku yakin aku bisa mati karena sesak napas, aku memang bisa merasakan udara yang dingin menyapu disekitarku, aku juga bisa mendengar deru badai di luar gua yang terdengar seperti menggema. Tapi, kalau seperti ini kan....
Aku hanya bisa pasrah, Uzumaki melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku erat, aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya. Berusaha untuk tidak memperdulikan detak jantungku yang lagi-lagi berdetak di luar kontrol.
***
Naruto POV
Aku mendekap Gaara sekuatnya. Maksudku...ayolah...udaranya sangat dingin dan aku hanya memakai baju biasaku beserta selimut tipis, aku yakin aku bisa mati kedinginan sebentar lagi. Tapi, meski begitu aku tidak bisa berbohong kalau posisi kami...membuatku....yah.....
Tidak ada pilihan lain kan? Ayolah, masa' harus aku yang duduk di pangkuan Gaara? Gaara kan sedang terluka, belum lagi tubuhnya juga kecil, mana bisa aku duduk di pangkuannya.
Tapi, aku tidak bisa berhenti deg-degan saat Gaara menyandarkan kepalanya di pundakku, aku tidak bisa menahan diri untuk memeluknya lebih erat. Tubuhnya kecil (memang sih tidak terlalu kecil, cuma beda tipis denganku) namun hangat. Dan, aku senang berada dekat dengannya. Yah, meski...aku sudah punya banyak teman, aku....masih jarang disentuh orang. Aku hanya sering berpelukan dengan Guru Iruka, itu pun cuma sebentar.
"Kapan badai ini akan reda?" gumam Gaara seakan ia berkata tepat di telingaku. Aku menatap ke luar, di luar terlihat badai salju dahsyat sampai-sampai aku tidak bisa melihat apapun kecuali salju saja.
"Entahlah," kataku. Gaara bergerak sedikit dalam pelukanku, seakan ia tidak nyaman dengan posisi kami sekarang. Aku menarik selimut sampai menyelimuti kepalanya dan sedikit memperbaiki posisi tanganku yang melingkari pinggangnya.
Aku bisa merasakan tangan Gaara yang menggenggam baju depanku di dadaku, persis seperti kucing yang sedang ketakutan. Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku ke kepalanya, berusaha menenangkannya dalam diam.
"Uh...Uzumaki...."
Huh? Sejak kapan Gaara memanggilku dengan panggilan "Uzumaki"?
"Ya?" tanyaku memikirkan untuk membahas persoalan nama panggilan lain kali saja. "Misi ini....apa kita bisa menyelesaikannya?" tanyanya. Aku tidak bisa menjawab segera. Aku bingung. Tempat ini benar-benar tempat yang sangat merugikan untuk Gaara. Dimana-mana salju dan salju adalah air yang membeku, pasir Gaara tidak bisa bergerak bebas di sini.
"Pasti bisa!" kataku untuk membangkitkan semangatku sendiri. Bila Gaara tidak bsia, setidaknya aku masih bisa! Aku harus mengalahkan ketiga ninja itu dan melindungi Gaara!
"Apa kau tidak merasa aneh?" aku melepaskan pelukanku dan mendorong Gaara sedikit agar aku bisa melihat wajahnya. "Maksudmu?" hei, aku kan tidak bisa berpikir sepintar itu!
"Itu...misi ini, seperti misi untuk membunuh kita berdua....atau setidaknya untuk membunuhku," kata Gaara dengan suara pelan yang terdengar pahit. Aku hanya terpaku, berusaha mengartikan apa yang Gaara maksud dengan semua itu.
Tempat ini memang tempat yang sangat merugikan untuk Gaara. Kami berdua masih genin namun level misi ini bisa dikatakan misi tingkat A atau bahkan S, dan kami juga cuma berdua. Gaara dan aku juga memiliki monster dalam tubuh kami....
He...hei tunggu dulu! Jangan bercanda!
"Kalau begitu yang perlu kita lakukan adalah menyelesaikan misi ini dan pulang dengan selamat kan!?" kataku berusaha menambah semangat. Aku melirik Gaara yang menatapku dengan ekspresi blank namun polos, kemudian perlahan-lahan ia tersenyum tipis dengan semburat warna pink di pipinya dan kemudian ia mengangguk.
Deg!
Uh...kenapa wajah Gaara memerah seperti itu? Ma...manis sih...he...hei! Yang benar saja, masa' aku bilang Gaara manis?! Dia kan cowok!
Aku dengan perlahan, menyentuh pipi Gaara yang kemudian semakin memerah.
Dia, malu? Pipinya kemerahan juga....karena aku?
Aku...lho? Lho? Kenapa aku...maksudku....kami teman kan? Lalu kenapa?
Aku mengelus pipinya yang ternyata sangat lembut seperti kulit bayi, ia tampak malu dan hanya bisa menatap ke bawah. Aku segera menarik tanganku, sadar yang apa yang telah kulakukan.
"Maaf," kataku merasa bingung. Gaara hanya menggeleng tanpa suara.
Kenapa....kami? Kami...teman kan? Tapi kenapa perasaanku....
Suara deru badai membuatku sedikit sadar akan suhu yang semakin merendah. Sejak kapan jadi sedingin ini?
Aku menarik Gaara dalam pelukanku sambil berusaha melupakan detak jantungku yang berdebar sangat keras. Gaara tidak protes ataupun melawan, ia hanya kembali menggengam baju depanku. Aku menarik selimut lebih erat, berusaha untuk menghilangkan rasa dingin.
"Dingin....," gumam Gaara pelan dengan badan yang sedikit menggigil. Aku sadar kalau badanku juga mulai menggigil. Keadaan ini sama sekali tidak bisa dibilang baik.
Sayang aku tidak bisa mengeluarkan jurus api seperti Sasuke, kalau bisa setidaknya kami bisa menghangatkan diri dengan api sedikit kan? Lalu apa yang harus kulakukan di saat seperti ini?
Apa ya yang bisa membuat tubuh jadi panas selain api? Uhm...banyak bergerak? Hei mana bisa! Kami sedang terluka dan kelelahan begini. Lalu apa?
Uhm.....
Entah kenapa pikiranku melayang memikirkan buku porno karangan Senin Mesum. Aku pernah sih ngintup isi bukunya sedikit, tentang yah...katanya kalau melakukan hal yang itulah katanya bisa menaikkan suhu tubuh....apa benar?
HEI! MASA' AKU HARUS MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU DI TEMPAT SEPERTI INI!? DAN DENGAN GAARA!? DIA KAN COWOK! JANGAN GILA DONG!
Tapi memang tidak ada pilihan lain, bagaimana ini?
Aku sedikit terkejut saat Gaara kembali bergerak dalam pelukanku, mungkin ia memang merasa tak nyaman duduk di pangkuanku...tapi karena ia tidak protes jadi mungkin tidak seburuk itu juga ya?
"Ne...Gaara," akhirnya aku panggil dia, ia mundur sedikit agar bisa menatapku. "Kau punya ide untuk membuat kita lebih hangat?" tanyaku dengan badan sedikit menggigil, aku bisa melihat uap yang berasal dari mulutku, huh udaranya benar-benar dingin sekali.
Gaara diam sebentar namun kemudian ia menggeleng. Tampaknya ia tidak punya aide sama sepertiku. Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang?
"Sepertinya kita akan mati membeku di sini," kataku merasa tak ada harapan – efek samping dari kepalaku yang berdenyut-denyut karena terlalu banyak mikir. Aku terkejut saat Gaara mengalungkan lengannya ke pundakku dan maju lebih dekat, aku bisa merasakan hangat tubuhnya dari balik baju kami. Aku mendesah, merasa ini lebih baik meski aku masih kedinginan.
Ya Tuhan, aku masih belum ingin mati di sini, setidaknya aku ingin Gaara tetap hidup. Dia masih belum merasakan apa itu kebahagiaan sebenarnya – aku mungkin sok tahu, tapi aku tahu kok ini benar (kemungkinan besar) – setidaknya aku rela mati di sini namun Gaara harus tetap hidup!
"Tenang saja Gaara, aku berjanji akan melindungimu."
Keren kan? Hahahahaha, tunggu aja deh chapter 3nya :P
REVIEWNYA DONG! TOLONG!!!!
