That's You
.
Cast :
- Kyuhyun
- Sungmin
- Another cast
.
Pairing : KyuMin
.
Disclaimer : semua cast milik Tuhan dan dirinya masing-masing
.
Rate : T
.
Warning : GS, OOC, typo dimana-mana, EYD yang tidak sesuai
.
.
Chapter 5
~HAPPY READING~
.
.
Hening. Sunyi. Hanya terdengar suara angin yang berdesir. Dua orang yang sedang duduk di sebuah bangku taman itu tampak larut dalam suasana sepi yang mereka ciptakan sendiri. Tidak ada yang memulai untuk bicara. Sang wanita bahkan terus menundukan kepalanya, sedangkan sang pria lebih memilih untuk menatap rerumputan di depannya.
"Kyuhyun ah~, bukankah kau membenciku?" Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir mungil milik Sungmin. kyuhyun yang mendapat pertanyaan itu pun kemudian menoleh dan menatap Sungmin yang bahkan masih menunduk.
"Aku tidak pernah membencimu. Terkadang, aku hanya kesal dengan kelakuanmu. Tapi demi tuhan, aku tidak membencimu" Jujur Kyuhyun. Kalau kalian berpikir Kyuhyun membenci Sungmin, itu salah besar. Sikap dingin yang selalu Kyuhyun perlihatkan kepada Sungmin semata agar gadis itu berhenti. Jujur saja, kelakuan Sungmin memang sedikit mengganggunya.
"Syukurlah" Lirih Sungmin. "Maaf kalau selama ini aku sudah mengganggumu. Aku hanya merasa kesepian. Tapi saat aku bertemu denganmu, rasa kesepian itu perlahan hilang. Setiap detik aku bisa memikirkanmu tanpa perlu mengingat bahwa aku sendirian disini. Apalagi kalau aku pergi ke rumahmu, aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga"
Pandangan Kyuhyun berubah sendu, ada rasa iba dihatinya saat menatap gadis disampingnya. Yang Kyuhyun tahu selama ini, Sungmin adalah gadis ceria dan pantang menyerah. Dia tidak menduga bahwa selama ini gadis itu kesepian. Hidup sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi Sungmin tampak kuat. Haruskah dia salut pada Sungmin?
"Appa dan Omma— mereka berpisah saat aku masih di sekolah dasar. Aku tidak tahu kalau selama ini mereka sering bertengkar. Aku kira semuanya baik-baik saja. Hingga suatu hari, Omma bilang padaku bahwa mereka sudah berpisah dan Appa akan pergi ke Jepang—" Sungmin tampak menghapus air mata yang mulai mengalir dipipinya.
"—Aku tinggal bersama Ommaku. Mulai saat itu, Omma menjadi gila kerja dan setahun kemudian Omma mendapat kesempatan untuk memegang perusahaan yang ada di China. Aku tidak tahu kenapa Omma tidak mau membawaku. Aku sempat tinggal di jepang bersama Appaku. Tapi, karena aku selalu bertengkar dengan Yuriko akhirnya Appa membawaku kembali ke Korea"
"Yuriko?"
"Appaku menikah dengan wanita Jepang dan Yuriko adalah saudara tiriku"
"Kau tinggal seorang diri di Korea?"
"Awalnya aku tinggal bersama seorang Ahjuma di rumahku saat ini. Ahjuma itu ditugaskan Appa untuk merawatku. Tapi, saat aku berada ditingkat 2 sekolah lanjutan, Ahjuma sakit parah dan akhirnya pergi dari dunia ini" Sungmin tampak menghela nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"—Setelah itu, aku tinggal seorang diri. Aku memang tidak pernah kekurangan uang karena setiap bulan orangtuaku selalu mengirimkan uang untukku"
"Apa kau tidak punya keluarga lain? Maksudku—Kakek dan Nenekmu?"
Sungmin menggelengkan kepalanya."Appa dan Omma tidak pernah menceritakan tentang kakek dan nenekku. Aku tidak tahu apakah aku masih punya keluarga lain atau tidak"
Kyuhyun terdiam. Melihat Sungmin yang sedari tadi menahan tangisannya membuat pria itu tidak tega untuk bertanya lebih. Menceritakan kembali kisah yang begitu pahit bukanlah perkara mudah. Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris saat mengetahui Sungmin berusaha untuk menahan air matanya. Semua memang menjadi sia-sia karena pada akhirnya air mata itu meluncur tanpa diperintah, membuat jemari Sungmin terus bergerak untuk menghapusnya.
"Aku begitu iri padamu. Walaupun kau hidup dengan sederhana. Tapi keluargamu— kalian saling menyayangi. Kau harus bersyukur dilahirkan di tengah keluarga seperti itu"
Mendengar ucapan Sungmin membuat Kyuhyun sadar bahwa hidupnya tidak sesulit yang selama ini dia pikirkan. Dia memang hidup dengan sederhana, tapi semua kebutuhannya masih dapat terpenuhi dan yang terpenting adalah adanya keluarga yang akan selalu mendukungnya.
"Aku yakin suatu saat keluargamu akan menyesal sudah mengabaikanmu" Sungmin tersenyum pahit mendengar ucapan Kyuhyun. "Bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Kau ingin tetap disini atau kembali ke kelas?" Tanya Kyuhyun.
"Aku masih ingin disini. Kau kembalilah ke kelas"
"Baiklah. Aku akan kembali ke kelas" Pamit Kyuhyun. Sungmin hanya meganggukan kepalanya.
Kyuhyun bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menjauh. Suasana hening kembali menyelimuti taman belakang itu.
"Hiks... hiksss...hikss..." Suara isakan mulai terdengar. Bibir mungil itu kini tanpa ragu mengeluarkan suara tangisannya. Air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya dibiarkan keluar tanpa berniat untuk menghapusnya. Biarkan, biarkan dirinya menangis. Dia sendiri. Tidak akan ada yang mendengarnya.
Walaupun jauh disana, seseorang masih berdiri sambil menatap sendu gadis yang kini terlihat sedang menutupi wajah dengan kedua tangannya. Suara tangisan itu bahkan masih bisa terdengar samar.
.
.
Sungmin tampak membolak-balikan tubuh mungilnya di atas tempat tidur besar miliknya. Mata yang seharusnya sudah terpejam itu masih terbuka lebar. Entah kenapa dirinya sama sekali tidak merasakan kantuk, begitu banyak pikiran yang melayang-layang di kepalanya. Sungmin masih ingat betul kejadian tadi siang, dimana dirinya menceritakan semua masa lalu yang sudah ditutupinya kepada Kyuhyun. Ada sedikit perasaan lega.
Dan untuk urusan dengan wali kelasnya. Sungmin benar-benar tidak tahu. Ini sudah kesekian kalinya, orangtuanya tidak dapat memenuhi panggilan itu. Sungmin juga tidak mungkin meyewa orang lain untuk datang, sang wali kelas pasti akan mengetahuinya.
"Apa aku jujur saja pada Kim seonsaengnim?" Tanyanya bermonolog.
Tidak... Tidak. Cukup Kyuhyun saja yang mengetahuinya. Hyuk bahkan tidak tahu akan hal ini.
"Tapi apa yang harus aku katakan besok?" Sungmin mengacak rambutnya frustasi.
"Tidak ada jalan lain" Gumamnya.
.
ooOoo
.
Setelah bel istirahat berbunyi, Sungmin segera keluar dari kelasnya. Sambil memainkan jemarinya, Sungmin berjalan ragu menuju ruang guru. Haruskah dia mengatakan pada wali kelasnya?
Sungmin menatap pintu ruangan itu sebelum mengetuknya. Sedikit terkejut saat pintu itu terbuka dan sang wali kelas keluar dari ruangan itu.
"Lee Sungmin, sedang apa kau disini?"
"Kim seonsaengnim. Aku...aku kesini ingin bilang bahwa orangtuaku—"
"bahwa orangtuamu sudah mengirimkan walinya untuk datang menemui Ibu?" Potong Kim seonsaengnim.
Sungmin mengangkat wajahnya. "Ne?"
"Kau tidak tahu? Ibumu sudah mengirimkan walinya untuk datang. Beliau baru saja pergi dari sini" Ucapan wali kelasnya membuat Sungmin sedikit bingung. Walinya?
"Si—siapa?"
"Mungkin beliau belum jauh. Kau bisa mengejarnya" Ucap sang guru sambil tersenyum.
"Khamsahamnida. Aku pergi dulu. Annyeonghaseyo"
Tanpa babibu, Sungmin langsung berlari mengejar orang yang sudah datang menemui wali kelasnya. Tidak ada dibayangan Sungmin tentang siapa yang sudah berbaik hati menjadi walinya.
Setelah berlari hampir di depan pintu utama sekolahnya, Sungmin melihat punggung seorang wanita paruh baya yang begitu dikenalnya. Mungkinkah?
"Bibi?" Panggilan Sungmin membuat wanita paruh baya itu berhenti melangkah dan berbalik. Wanita itu tersenyum saat mendapati Sungmin berdiri tidak jauh darinya masih dengan nafas yang terengah.
Sungmin berjalan mendekati wanita paruh baya itu. "Bibi?"
"Sungmin ah~, Kyuhyun sudah menceritakan semuanya pada bibi. Kalau kau perlu bantuan, jangan sungkan untuk memintanya pada kami. Bibi sudah menganggapmu seperti keluarga. Arasso?" Sungmin mengangguk dan tanpa sadar air mata mulai mengalir di kedua pipinya. Wanita yang dipanggil bibi itu kemudian memeluk tubuh mungil Sungmin.
"Khamsahamnida" Ucap Sungmin. Wanita itu—Ny. Cho— melepaskan pelukannya dan mulai menghapus air mata Sungmin dengan jarinya.
"Jangan pernah merasa sendiri. Rumah kami selalu terbuka untukmu, Sungmin ah~" Sungmin hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Entah dia harus berkata apa untuk saat ini.
"Wali kelasmu bilang, kau harus tingkatkan belajarmu agar kau bisa mengerjakan ujianmu. Kau harus lulus bersama dengan Kyuhyun. kau mengerti?"
"Ne. Aku akan rajin belajar. Terima kasih—Bibi"
"Bibi harus pulang. Kau berkunjunglah ke rumah. Paman dan Taemin merindukanmu"
"Ne"
.
.
Sungmin kembali ke kelasnya. Perasaannya begitu lega. Keluarga Kyuhyun benar-benar penyelamat untuknya, setidaknya dia tidak harus mengatakan yang sebenarnya kepada sang wali kelas dan dia juga tidak harus berbohong.
Sungmin terus tersenyum. Namun, senyuman itu terhenti saat matanya melirik kursi kosong disebelahnya. Hyuk memang belum pulang dari kompetisi dancenya di daerah Gwangju dan jujur saja Sungmin merasa rindu pada gadis ber-gummy smile itu.
.
ooOoo
.
Sejenak lepas dari hiruk pikuk kota dengan mengunjungi Songnisan National Park adalah pilihan yang tepat. Itulah yang dilakukan oleh Keluarga Cho beserta Sungmin dan Seohyun hari ini. Songnisan National Park di daerah pedesaan Provinsi Chungcheongbuk-do ini memang cocok untuk sekedar piknik dengan membawa bekal makanan dari rumah, berkemah sejenak dengan keluarga atau melakukan photo hunting seputar keindahan alam disana. Dan mereka memilih untuk berkemah selama dua hari satu malam.
Tuan dan Nyonya Cho memang sangat menyukai acara berkemah bahkan mereka pertama kali bertemu di sebuah acara perkemahan. Itulah yang diceritakan dua orang paruh baya itu selama perjalanan.
Tuan Cho sangat ahli dalam mendirikan kemah, buktinya hanya perlu memakan waktu sebentar tiga buah tenda sudah berdiri dengan kokoh.
"Cha! Lihatlah Appamu, Taemin. Appa hebat, kan?" Puji Tuan Cho pada dirinya sendiri. Taemin hanya mendengus tak peduli dan lebih memilih pergi membantu sang ibu merapikan barang-barang bawaannya.
"Paman memang hebat" Puji Sungmin sambil mengangkat kedua ibu jarinya.
"Terima kasih, Sungmin ah~. Ini tendamu dengan Seohyun, kau bisa mulai merapikannya" Ucap Tuan Cho sambil menunjuk sebuah tenda yang terletak di ujung sebelah kiri.
Sungmin pun mengangguk. "Ne. Terima kasih, paman"
Sungmin mulai memasukkan tas ranselnya begitu juga dengan Seohyun. Hanya memasukkannya saja, karena Nyonya Cho sudah memanggil mereka untuk makan. Hari memang sudah menjelang malam, matahari bahkan sudah meninggalkan wujudnya dan hanya menyisakan sebuah sinar keemasan di langit.
Mereka semua tampak menikmati makanan yang sengaja dibawa Nyonya Cho dari rumah. Mereka sengaja makan malam sebelum hari benar-benar malam. Bukan karena takut gelap atau apa. Percayalah, di tempat ini banyak rombongan yang melakukan hal sama seperti mereka, berkemah. Hanya saja malam nanti mereka harus merapikan tenda masing-masing.
Setelah selesai makan malam, Sungmin segera masuk ke dalam tendanya diikuti Seohyun. Kedua gadis itu saling membantu untuk merapikan alas tidur mereka. Tanpa adanya percakapan sedikitpun. Suasana memang begitu canggung bahkan suara nyamuk saja bisa terdengar saking heningnya.
Dua gadis itu tampak duduk menghadap tas masing-masing saat pekerjaan mereka dirasa sudah selesai. Sebuah dering ponsel terdengar dari dalam sebuah tas. Sang empunya— Seohyun— mulai merogoh ponsel tersebut dan membuka pesan yang diterimanya.
"Kyuhyun" Sebuah nama yang keluar dari bibir Seohyun membuat Sungmin menghentikan kegiatan merapikan isi tasnya. Dari balik punggungnya, Sungmin dapat mereasakan bahwa Seohyun langsung melesak keluar setelah membaca isi pesan itu.
Sungmin melirik ke arah tenda yang kini bergerak karena sebuah pergesekan.
'Apa Kyuhyun mengajak Seohyun untuk bertemu?' Batin Sungmin bertanya-tanya.
Sungmin menghela nafasnya berat. Untuk apa dia mencampuri urusan orang lain? Bukankah mereka berdua memang sepasang kekasih, jadi tidak aneh mereka saling bertemu di malam hari seperti ini. Pikirnya.
Sungmin pun langsung merebahkan tubuhnya. Dia mencoba untuk mulai mmejamkan matanya walaupun rasa kantuk itu sebenarnya belum datang. Dia harus tidur sebelum pikiran-pikiran bodohnya memenuhi isi kepalanya.
.
.
Suara serangga malam begitu mendominasi saat seorang gadis bernama Sungmin terbangun dari tidurnya. Diraihnya ponsel dari dalam tasnya, pukul 04.35. Ini masih terlalu pagi, tapi mata Sungmin sudah terbuka lebar. Apa ini akibat karena tidur terlalu awal?
Diliriknya Seohyun yang masih terlelap disampingnya. Dekat sedikit mengendap agar tidak membangunkan Seohyun, Sungmin keluar dari tendanya dan tidak lupa untuk menutup tenda itu kembali.
Langit masih terlalu gelap, tanda-tanda matahari akan terbit bahkan belum ada. Sungmin pun duduk di sebuah potongan pohon yang langsung menghadap ke arah timur. Berharap dia bisa menyaksikan matahari terbit nanti.
Sungmin bersenandung pelan sekedar mengusir rasa bosannya. Ternyata duduk di tempat ini tidak terlalu buruk juga buktinya sekarang Sungmin tampak menikmati kegiatannya.
"Sungmin ah~, kau sedang apa?" Sebuah suara membuat Sungmin menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Kyuhyun berdiri tidak jauh darinya.
"Aku hanya terbangun dan sepertinya menunggu matahari terbit akan menyenangkan" Jawab Sungmin. Kyuhyun pun mulai mendekat dan langsung duduk disamping gadis itu. Pandangannya langsung mengikuti arah pandang Sungmin dimana sebuah semburat merah mulai terlihat.
Keduanya tampak duduk dalam diam sambil menyaksikan bagaimana matahari terbit secara perlahan. Semburat-semburat dilangit itu pun kini diikiuti oleh wujud sang mentari, sinarnya bahkan mulai menerpa wajah kedua insan yang kini sedang tersenyum kagum.
"Indah" Ucap Sungmin masih sambil menikmati pemandangan di hadapannya.
Masih dengan senyumannya, Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin. Tiba-tiba saja pria itu terdiam. Dilihatnya Sungmin yang kini sedang memjamkan matanya seraya menikmati hangat sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Sungmin mulai membuka kembali kedua matanya dan reflek langsung menoleh ke arah Kyuhyun dan akhirnya kedua pasang bola mata itu saling bertemu. Saling menatap dalam diam.
"Kau benar, ini memang indah" Ucap Kyuhyun tiba-tiba sebelum bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Sungmin yang masih termengu di tempatnya. Namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum.
.
.
Taemin terlihat begitu kesal. Pasalnya, dia tidak dapat melihat matahari terbit karena bangun terlalu siang. Sambil membantu ibunya menyiapkan sarapan, gadis itu terus menggerutu.
"Kenapa Omma harus kesiangan, aku kan jadi tidak bisa melihat metahari terbit. Menyebalkan" Gerutunya yang tentu saja masih dapat didengar oleh sang Ibu.
"Seharusnya kau bisa bangun sendiri. Kenapa kau jadi menyalahkan Omma?" Taemin hanya mendengus sebal.
"Kalau aku tahu, kau sangat ingin melihatnya— tadi akan aku bangunkan" Ujar Sungmin. Taemin langsung menoleh cepat ke arah Sungmin.
"Tadi, onni melihat sunrisenya?" Tanya Taemin. Sungmin pun mengangguk. "Oppa melihatnya... Onni juga melihatnya... Apa kalian melihatnya bersama?"
Sungmin hanya dapat tersenyum mendengar pertanyaan dari Taemin. Pikirannya kembali melayang ke beberapa saat lalu. Dimana Kyuhyun tersenyum dengan begitu manis padanya. Oh well, itu pertama kalinya.
"Apa begitu indah?"
"Ne. Sangat indah, Taemin ah~"
.
.
Hidangan sarapan sudah tersedia ditengah-tengah tikar. Mereka pun langsung duduk mengelilingi tikar dan mulai menyantap makanannya.
Sungmin sedikit kelu menelan makanan yang sudah masuk ke dalam mulut ketika matanya tak sengaja menangkap kemesraan Kyuhyun dan Seohyun yang duduk tepat dihadapannya. Bagaimana pun, melihat mereka bermesraan secara langsung membuat hati Sungmin menjerit. Bahkan selama membantu bibi membuat sarapan, Sungmin mencoba untuk tetap terlihat biasa saat menyaksikan interaksi antara bibi dan Seohyun. Walaupun di dalam hatinya, gadis itu menangis.
Sungmin masih ingat betul bagaimana bibi memanggil Seohyun dengan sayang. Mereka terlihat seperti seorang ibu dan calon menantu. Mungkin pikiran itu yang membuat Sungmin ingin menangis.
"Kita akan kembali ke Seoul sore hari. Jadi pergunakan waktu sebaik mungkin selama disini" Ucapan Tuan Cho mendapat anggukan dari semua orang yang berada disana.
Dan benar saja, selesai sarapan— tanpa membuang waktu mereka mulai melakukan kegiatannya masing-masing. Tuan dan Nyinya Cho memilih untuk tetap tinggal di kemah, yang lebih muda memilih untuk berjalan-jalan disekitar kemah. Setidaknya orangtua itu harus diberikan waktu untuk berduaan.
Kyuhyun dan Seohyun lebih dulu meninggalkan area kemah dan pergi entah kemana, sedangkan Sungmin dan Taemin pergi ke area air terjun. Tempat yang begitu indah dan menenangkan. Sungmin pun siap membidik dengan kamera yang sengaja dibawanya. Dan mereka berdua pun akhirnya berfot-foto.
.
.
Sungmin langsung merebahkan dirinya di tempat tidur sesampainya dia dirumah. Sekarang ini sekitar pukul delapan malam. Selama perjalanannya pulang, gadis itu tertidur di bus dan saat bangun tubuhnya terasa pegal luar biasa. Karena lelah, akhirnya Sungmin memutuskan untuk tidur tanpa mandi hanya berganti baju dan mencuci muka. Dan besok dia harus kembali ke sekolah.
.
ooOoo
.
Matahari bersinar hangat seperti biasanya, membawa semangat baru bagi siswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menghadapi ujian sekolah. Seperti Sungmin, dengan semangat dan tekad baru dia berjanji untuk lebih rajin belajar. Gadis itu sadar betul bahwa selama ini dia tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Dulu, yang membuatnya datang ke sekolah hanyalah agar bertemu dengan Kyuhyun. Namun mulai detik ini, dia harus melaksanankan kewajibannya dengan lebih bertanggung jawab.
Sungmin memasuki kelasnya dan sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya saat mendapati Hyuk sudah duduk di kursinya. Sedikit berlari, Sungmin menghampiri Hyuk dan langsung memeluk gadis yang sedang tertidur di atas meja itu.
"Sungmin ah~, kau ingin membuatku mati jantungan, eoh?" Bentaknya. Namun Sungmin hanya tersenyum tanpa dosa.
"Aku hanya merindukanmu, Hyuk... oh iya, bagaiaman kompetisimu?"
"Apa kau lupa kalau temanmu ini sangat berbakat? Tentu saja aku membawa pulang hadiah utamanya" Bangga Hyuk.
"Benarkah? Kau memenangkan kompetisi itu? Kau memang yang terbaik, Hyuk"
"Maka dari itu, sepulang sekolah aku dan Donghae mengajakmu untuk merayakan kemenangan kami. Kau mau ikut kan?" Tanya Hyuk penuh harap.
Sungmin tampak berpikir."Bagaimana ya?—" .Hyuk mulai mengeluarkan puppy eyes miliknya, memohon." Tentu saja aku akan ikut" Lanjut Sungmin akhirnya yang langsung mendapat soarakan riang dari Hyuk.
.
.
Alunan musik menguar ke seluruh area cafe. Tampak dua orang gadis yang sedang duduk dengan gelas juice dihadapan mereka. Kedua gadis itu tampak larut dalam obrolan mereka sambil sesekali menyeruput minumannya masing-masing.
"Dimana Donghae? Kenapa sampai sekarang dia belum sampai?" Tanya Sungmin penasaran. Hyuk bilang bahwa Donghae akan datang. Tapi kenapa pria itu belum muncul juga?
"Donghae sedang menjemput sepupunya" Jawab Hyuk.
"Sepupu?"
"Itu mereka!" Teriak Hyuk tiba-tiba. Sungmin pun segera memutar kepalanya hingga dia dapat melihat Donghae bersama seorang pria masuk ke dalam cafe. Tunggu dulu! Pria itu kan—
"Choi Siwon? Sepupu kekasihmu itu Choi Siwon?"
"Ne. Kau mengenal Siwon?" Belum sempat Sungmin menjawab, dua pria itu sudah datang dan langsung duduk dibangku yang masih kosong.
"Annyeong! Apa kalian sudah lama menunggu?" Tanya Donghae.
"Ani" jawab Hyuk
"Oh iya, Lee Sungmin perkenalkan dia sepupuku, Choi Siwon"
"Kami sudah saling mengenal Donghae ah~"
"Benarkah? Kalau begitu bagus. Hari ini aku dan Hyuk sengaja mengajak kalian untuk merayakan keberhasilan kami"
"Ne. Berkat doa kalian, aku dan Donghae bisa memenangkan kompetisi itu. Tidak sia-sia selama satu minggu kami di karantina dan pada akhirnya kami pulang sebagai juara" Lanjut Hyuk.
"Kalian memang hebat" Puji Sungmin.
Akhirnya satu-persatu dari mereka mulai bercerita, membuat suasana menjadi lebih akrab. Setelah acara makan-makan yang tentu saja ditanggung oleh duo HaeHyuk dan sedikit perbincangan usai makan. Mereka pun memutuskan untuk pulang berhubung hari sudah menjelang malam.
Siwon memutuskan untuk mengantar Sungmin. Wanita tidak baik jalan sendirian di malam hari seperti ini, itulah kata-kata yang Siwon ucapkan setelah Sungmin menolaknya dengan alasan takut merepotkan. Karena tidak enak menolak tawaran baik itu, akhirnya Sungmin pun menerima ajakan Siwon untuk pulang bersamanya.
Disepanjang jalan, Sungmin hanya diam sambil memandang keluar melalui jendela mobil dan membiarkan Siwon fokus dengan jalanan di depannya. Tapi, sepertinya pria bernama Siwon itu tidak menyukai suasana hening dan canggung dan kemudian pria itu pun mulai membuka pembicaraan.
"Aku dengar— kau pernah bertemu dengan adikku, Minho?" Tanya Siwon.
"Ne. Aku bertemu adikmu si perayaan ulang tahun Taemin. Aku bahkan tidak sadar kalau dia adikmu, padahal kalian begitu mirip"
"Aku malah tidak menyangka kau begitu dekat dengan keluarga Cho" Ucapan Siwon membuat Sungmin menelan ludahnya kelu.
"Aku juga tidak tahu kalau kekasih Minho itu adalah adik dari Cho Kyuhyun. Ternyata dunia begitu sempit" Lanjutnya lagi. Sungmin pun hanya tersenyum kikuk.
"Itu rumahku. Aku turun disini saja" Ucap Sungmin. Siwon pun mulai menepi dan menghentikan mobilnya.
"Terima kasih" Ucap Sungmin.
Gadis itu langsung keluar dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil Siwon mulai menjauh dari tempatnya berdiri. Sambil menghela nafas lelah, Sungmin masuk ke dalam gedung apartemennya. Isrirahat adalah satu-satunya yang dibutuhkan Sungmin saat ini.
.
ooOoo
.
Akhir pekan kembali datang dan waktu ujian semakin dekat membuat para siswa yang berada pada tingkat akhir mulai mempersiapkan diri dengan belajar lebih giat. Banyak dari siswa memilih untuk mengikuti bimbingan belajar atau mengikuti kelas malam yang diadakan pihak sekolah.
Mengikuti serangkaian pembelajaran yang diadakan sekolah membuat akhir pekan begitu berarti bagi gadis bernama Sungmin yang kini tampak tertidur pulas di ranjang empuknya.
.
TING TONG
Suara bel pintu membuat gadis itu terbangun dari tidur siangnya. Diliriknya jam dinding di kamarnya. pukul 14.00. Sungmin merutuki siapa yang sudah menganggu tidur sianganya. Tidak bisakah orang itu datang disaat dia sudah bangun? Oh bahkan ini baru satu jam dia terlelap.
Dengan langkah gontai dan mata yang belum terbuka sempurna, Sungmin berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu itu perlahan dan seketika matanya membulat.
"Kyuhyun ah~" Ada nada terkejut saat gadis itu menyebut nama Kyuhyun. kemudian dia sadar bahwa ini kedua kalinya dia membukakan pintu untuk Kyuhyun dengan mata setengah terpejam.
"A—ada apa kau kesini?" Tanya Sungmin. Pria itu tampak santai memasuki rumah Sungmin tanpa menunggu ijin dari pemiliknya.
"Mulai sekarang, aku akan membantumu belajar. Omma bilang padaku, bahwa nilaimu mengalami penurunan. Omma memintaku untuk mengajarimu" Pertanyaan Sungmin akhirnya terjawab. Malu sekali rasanya Kyuhyun mengetahui otak bodohnya dan apa tadi? Membantu belajar? Maksudnya?
"Cepat siapkan buku-bukumu. Kita akan mulai belajarnya" Sungmin pun tersadar dan segera berlari ke kamar mengambil semua buku-bukunya dan dibawanya ke ruang tengah.
Kyuhyun sudah duduk diatas lentai berkarpet saat Sungmin keluar dari kamarnya. Dengan segera gadis itu meletakkan semua bukunya di atas meja.
"Kyu, kau ingin minum apa?" Tanya Sungmin.
"Apapun, terserah padamu" Sungmin pun bangkit menuju dapur. Gadis cantik itu menyiapkan dua gelas orange juice dan dua toples makanan ringan.
"Ini, mimumlah dulu" Ucap Sungmin sambil meletakan minuman itu di atas meja.
.
.
Sungmin memang benci belajar tapi matematika mungkin satu-satunya pelajaran yang sangat sangat sangat tidak ingin dia temui di dunia ini. Dan Kyuhyun dengan santai menyuruhnya mengerjakan banyak soal setelah dia menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya yang bahkan Sungmin tidak ingat apa yang Kyuhyun katakan tadi.
Sungmin benar-benar dalam keadaan frustasi saat ini dan dia terus merutuki buku penuh angka dihadapannya.
'Ayolah Matematika,tumbuhlah menjadi dewasa dan pecahkan masalahmu sendiri' Jerit Sungmin dalam hati. Diliriknya Kyuhyun yang kini sedang asik membaca komik yang dibawanya.
.
.
Kyuhyun tanpak serius membaca lembar demi lembar komik di tangannya. Pria itu bahkan tidak tahu berapa soal yang sudah berhasil diselesaikan Sungmin. Akhirnya, Kyuhyun pun menurunkan komiknya untuk melihat hasil kerja gadis itu. Pria itu tampak menghela nafasnya saat mendapati Sungmin malah tertidur dengan kedua tangan di atas meja dan dipakai untuk alas kepalanya.
Kyuhyun meletakkan komiknya. Tanpa sadar, tangan Kyuhyun terangkat untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sungmin. Dengan lembut, pria itu menyelipkan helaian rambut itu ke telinga Sungmin.
Matanya terus menatap gadis yang kini sedang tertidur pulas didepannya. Seulas senyum mulai terlihat diwajah tampannya.
.
.
TBC
A/N:
No comment for typos... chapter ini cukup sampai disini dulu ya. Kalo masih kurang panjang, yasudahlah ya... author emang ga bisa buat yang lebih panjang lagi...
Kemarin ada yang tanya apa ff ini repost? Jawabannya bukan atau tidak. ff ini bukan repost tapi mungkin cerita seperti ini banyak jadi kayak pernah baca.
Untuk konflik Sungmin dengan orangtuanya ini adaptasi dari masalah karakternya Jiyeon di drama God of Study. Serupa tapi tak sama.
Oke deh. See you yaa...
.
.
Thanks to:
BoPeepBoPeep137, aidafuwafuwa, is0live89, sitara1083, haosungmin, tweety . airy, vey900128, sholania . dinara, kyuminalways89, dessykyumin, Kyurin Minnie, kyuminnnnnn, kyugaem, najika bunny, Baby Kim, Cho Kyuri Mappanyukki, mayasiwonest . everlastingfriends, hyuknie, myeolchikyu, Rima KyuMin Elf, HeeKitty, Tiasicho, Margareth Pumpkins, Hyugi Lee, lia, min190196, tiaa, kyumin forever, lovegood cherry, 137Line, chabluebilubilu, 18thOfMay, Inna137, Lee minlia, leefairy, hyukjae lee, Cho Minyu, kyuvie, JewelsStar, Aey Raa kms, sdongenter, coffeewie kyumin, eunhee24, kyumin07, arisatae, fifin yefi137, sansan, ina . khuzairina, Miss key, Ayu Fitria II, and guests
.
.
Thanks for your reviews guys. Untuk namanya yang ga tercantum, mohon maaf namanya juga manusia suka siwer.
Sekali lagi, reviewnya boleh?
klik
