That's You

.

Cast :

- Kyuhyun

- Sungmin

- Another cast

.

Pairing : KyuMin

.

Disclaimer : semua cast milik Tuhan dan dirinya masing-masing

.

Rate : T+

.

Warning : GS, OOC, typo dimana-mana, EYD yang tidak sesuai

.

.

Chapter 9

~HAPPY READING~

.

.

Kyuhyun seakan lepas kendali dan terus menguasai tempo cumbuannya. Sungmin semakin tak berdaya dan mulai terisak ditengah lumatan-lumatan Kyuhyun yang semakin mendominasi bibirnya kini.

Kyuhyun mulai terbuai dengan ciuman itu hingga tanpa sadar kungkungan pada tubuh Sungmin mengendur. Dengan kekuatan yang tersisa, Sungmin mendorong Kyuhyun. Ciuman itu terlepas dan Kyuhyun sukses terdorong beberapa langkah kebelakang. Belum sempat otak jenius Kyuhyun memproses apa yang baru saja terjadi, sebuah tamparan kerasa mendarat di pipi pucatnya yang kini tampak merah.

Tamparan itu terasa panas dan nyeri di pipinya, tapi tidak sesakit hatinya ketika melihat Sungmin menangis dengan tangan yang bergetar hebat setelah menamparnya.

"Min, aku—"

"PERGI KAU! AKU TIDAK MAU MELIHATMU LAGI!" Teriak Sungmin. Dan detik selanjutnya pintu itu tertutup.

Tubuh Sungmin merosot tanpa tenaga ke lantai. Tangan kirinya membekap tangan kanannya yang terus saja gemetar. Dia sama sekali tidak menyangka akan menggunakan tangannya untuk menampar Kyuhyun. Sungguh, Sungmin tidak mau berbuat kasar. Tapi, tindakan Kyuhyun barusan benar-benar diluar batas.

"Sebenarnya kau anggap aku apa Kyu?" Lirih Sungmin.

.

.

Siwon memakirkan mobilnya di tepian sungai Han. Pikirannya begitu kalut dan dia sangat membutuhkan udara segar untuk saat ini. Pikirannya kembali ke beberapa saat lalu, Siwon terdiam dan tersenyum getir.

Tiba-tiba Siwon teringat sesuatu. Bukankah malam ini, dia akan pergi dengan Sungmin? dan betapa anehnya kalau dia tidak mengabari gadis itu?

Dengan cepat jemari panjangnya mencari sebuah nama pada ponselnya. Setelah menekan simbol bewarna hijau, sebuah nada sambung mulai terdengar. Lama telpon itu tidak diangkat. Hingga—

"Yeobseyo. Min, maaf aku—"

"Siwon ah~... hiks..."

.

.

Siwon berjalan dengan cepat menyusuri lorong-lorong apartemen Sungmin. Pikirannya bertambah kalut saat mendengar Sungmin terisak saat dia meneleponnya.

'Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang kau lakukan Cho?'

Siwon menghentikan langkahnya. Tangannya terkepal kuat saat melihat tubuh Kyuhyun yang duduk bersandar pada pintu apartemen Sungmin. Tanpa buang waktu pria jangkung itu menghampiri Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya. Kyuhyun menatap sekilas si pemilik suara dan kembali membuang pandangannya.

Siwon mulai jengah dan segera mencengkram kerah baju Kyuhyun dan menariknya kuat. Kedua pria itu kini berdiri saling berhadapan dengan tangan Siwon yang masih setia mencengkram kerah baju Kyuhyun.

"APA KAU YANG MEMBUATNYA MENANGIS? KAU YANG MEMBUAT SUNGMIN MENANGIS? JAWAB AKU!"

Namun lagi-lagi Kyuhyun hanya diam.

"BRENGSEK KAU!" Teriak Siwon sambil memukul wajah Kyuhyun. Tidak ada balasan yang dilakukan oleh pria yang kini sudah tersungkur di lantai dengan darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.

"Aku sudah memberimu kesempatan, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan memberikanmu kesempatan kedua. Jangan pernah kau mengganggu Sungmin. Ingat itu, Cho!" Desis Siwon.

Siwon pun melesak masuk ke dalam apartemen Sungmin yang pintunya bahkan tidak dikunci oleh sang pemilik. Kyuhyun menatap miris tubuh Siwon yang sudah menghilang sambil menyeka darah di sudut bibirnya.

'Pukulan ini sama sekali tidak sakit. Tapi—hati ini begitu sakit. Lee Sungmin, maafkan aku'

.

ooOoo

.

Gadis cantik bernama Sungmin itu masih setia menutup matanya ketika seorang pria tampan kini tampak duduk di tepi ranjangnya. Matanya terus memandang Sungmin yang tampak begitu manis saat tertidur. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Hanya melihat wajah tidur Sungmin, kenapa begitu menyenangkan? Pikirnya.

"Kau cantik, Sungmin ah~" Gumamnya. Jemarinya tanpa sadar sudah menyingkap rambut Sungmin yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu.

Kelopak mata Sungmin mulai bergerak tak nyaman. Pria itu kembali tersenyum dan menarik tangannya dari helaian rambut halus milik Sungmin. Hanya perlu beberapa detik, hingga kedua kelopak mata itu terbuka perlahan. Sebuah foxy bening itu kini sudah terbuka lebar membuat pria itu semakin mengembangkan senyumannya.

"Kau sudah bangun?" Tanya pria itu.

"Si—siwon ah~"

Sungmin terkesiap dan segera bangkit dari tidurnya. Gadis itu tampak terkejut mendapati Siwon sudah duduk di tepi ranjangnya di pagi hari seperti ini.

'Apa semalam Siwon yang memindahkanku kesini?' Dia baru sadar kalau saat ini dia tertidur di kamarnya. Bukankah kemarin—

"Kau ingin sarapan apa, Min? Aku akan menyiapkannya"

"Ti—tidak perlu. Aku bisa menyiapkannya sendiri. Kau duduk saja dan terima kasih sudah membantuku"

.

.

Dua piring omelet dan dua gelas susu sudah terhidang di meja makan. Sungmin dan Siwon duduk dengan canggung dan mulai menyantap menu sarapan khas barat yang disediakan Sungmin.

"Maaf, aku hanya membuat omelet. Aku belum membeli bahan makanan"

"Tidak masaah. Omelet ini sangat enak" Puji Siwon.

Keduanya kembali terdiam. Ingin sekali Siwon bertanya tentang kejadian kemarin, tapi dia tidak setega itu untuk bertanya pada Sungmin saat ini bahkan mata itu masih terlihat membengkak.

"Siwon ah~, terima kasih" Ucap Sungmin tiba-tiba.

"Kalau kau perlu bantuan jangan sungkan untuk memintanya padaku. Aku selalu disampingmu, Lee Sungmin"

.

ooOoo

.

Benar saja, kini keduanya tampak begitu dekat, tidak jarang mereka terlihat bersama. Siwon memang pria yang baik, dia akan selalu datang saat Sungmin membutuhkan seorang teman. Ya kalian harus tahu, kedekatan mereka sampai saat ini hanyalah sebatas teman.

Sepertinya Siwon belum siap untuk menyatakan perasaannya. Dia sudah begitu senang bisa melihat senyum Sungmin serta suara tawa renyah gadis itu setiap hari. Siwon adalah lelaki yang tahu situasi dan kondisi, Sungmin sedang tidak baik dengan hatinya semenjak kejadian beberapa minggu lalu. Walaupun Sungmin masih setia untuk menutup rapat soal kejadian itu, tapi Siwon meyakini bahwa masalah itu belum selesai.

"Sepertinya aku akan mengambil tawaran kuliah di Amerika saja" Ucap Sungmin sambil mengaduk minumannya dengan sedotan.

Saat ini, Sungmin dan Siwon sedang berada di salah satu kafe setelah seharian mereka berjalan-jalan tidak jelas.

"Benarkah?" Tanya Siwon memastikan.

"Aku dulu pernah mendapatkan tawaran kuliah disana setelah pertunjukan seniku waktu itu"

"Ah, aku ingat. Penampilanmu waktu itu memang menakjubkan" Puji Siwon dengan mata yang terlihat—hemm—berbinar.

"Kau melihatnya?"

"Tentu saja. Ah, aku juga punya rencana untuk kuliah disana. Haruskah kita pergi bersama?"

"Itu bukan ide yang buruk"

"Aku yakin kau akan mendapat beasiswa di Seoul National University ketika lulus nanti"

"Lalu?"

"Aku akan berusaha untuk masuk kesana. Dan kita bisa pergi bersama"

Sungmin teringat akan ucapannya dengan Kyuhyun dua tahun lalu. Bukankah dia berencana untuk masuk ke universitas itu agar bisa bersama Kyuhyun? Tapi sekarang—

"Lee Sungmin, kau melamun?"

"Tidak. Aku hanya sedang berpikir betapa menyenangkannya bisa sekolah di Amerika"

"Kalau begitu besok kita ke sekolah dan mengambil data-data yang dibutuhkan"

"Oke"

.

ooOoo

.

Sekolah yang biasanya tampak ramai kini terlihat sepi. Tentu saja, ini adalah waktunya libur sekolah. Hanya terlihat beberapa alumni ynag sedang hilir mudik sambil membawa berkas-berkas di tangan mereka.

Siwon dan Sungmin sudah duduk menghadap seorang guru konseling yang sangat dicintai para siswanya karena hatinya yang begitu lembut. Jang Seonsangnim.

"Jadi kalian akan melanjutkan ke Amerika? Wahh kalian hebat. Tapi tidakkah universitas disini juga bagus? Choi Siwon, bukankah kau mendapat tawaran di Korea University?"

Ucapan jang Seonsangnim membuat Sungmin spontan menolehkan wajahnya ke arah Siwon yang kini sedang tersenyum tipis.

'Korea University? Kenapa Siwon tidak pernah cerita padaku?'

"Tidak ada salahnya saya mencoba untuk sesuatu yang baru. Sekolah di luar memang keinginan saya dari dulu" Jawaban Siwon memang masuk akal tapi harus kalian tahu, itu bukan alasan utamanya.

"Kau benar. Mengeksplor diri dengan pengetahuan dan wawasan memang sangat bagus. Ya dengan sekolah di luar negri kalian bisa menambah pengetahuan dan pengalaman baru"

"Dan Lee Sungmin, kau benar-benar akan menerima tawaran itu? Dulu kau bilang akan menolaknya?"

"Itu—" Belum sempat Sungmin menjawab pertanyaan sang guru, suara derit pintu terbuka menginterupsi ucapannya.

"Silahkan masuk, Cho Kyuhyun" Sang guru mempersilahkan seorang pria muda dibelakangnya untuk masuk dan duduk di tempat yang ditunjuknya.

Suara ketukan sepatu bertalu bersamaan dengan detak jantung Sungmin yang terasa semakin cepat. Tanpa melihat ke arah Kyuhyun, Sungmin begitu tahu jika pria itu sedang melewatinya kini. Wangi tubuh Kyuhyun yang sudah sangat dihapalnya mulai menguar.

"Lee Sungmin, ada apa? Kenapa kau diam saja?" Ucapan sang guru membuat Sungmin terkesiap.

"Maaf Seonsaengnim. Untuk masalah kenapa aku menerima tawaran itu karena— karena mungkin itu kesempatan baik untukku"

"Baiklah. Ibu akan menyiapkan keperluan kalian dulu. Tunggulah"

Sungmin berusaha untuk tidak menolehkan wajahnya ke arah Kyuhyun. Entah kenapa rasanya dia sangat penasaran dengan wajah Kyuhyun saat ini. setelah kejadian waktu itu, ini pertama kalinya dia bertemu dengan Kyuhyun.

"Selamat atas beasiswamu, Cho Kyuhyun" Suara sang guru di depan Kyuhyun membuat Sungmin menajamkan pendengarannya kini.

"Terima kasih, Seonsaengnim" Jawab Kyuhyun dengan suara khasnya.

"Hanya kau satu-satunya yang mendapat beasiswa di Seoul National University dan saya sangat bangga padamu. Baiklah, tunggu disini. Saya akan menyiapkan keperluanmu"

'Kau berhasil Kyuhyun ah~? Selamat'

.

.

Sungmin dan Siwon sudah keluar dari ruangan itu dengan berkas yang kini sudah berada ditangan mereka. Keduanya berjalan menyusuri lorong sekolah yang mungkin akan sangat dirindukannya kelak. Terlalu banyak kenangan yang terjadi di sekolah ini, terutama Sungmin.

.

Science Laboratory

Sungmin memelankan langkah kakinya saat melewati laboraturium IPA. Ruangan ini adalah tempat pertama kalinya dia bertemu dengan Kyuhyun. Sebuah insiden yang mengawali adanya perasaan itu. Namun kini, gadis itu hanya mampu tersenyum kecil saat mengingat kejadian-kejadian masa lalunya.

Langkah mereka mengarah ke area parkir yang kini tampak begitu lapang. Namun belum genap mereka sampai, Sungmin menghentikan langkahnya.

"Siwon ah~, kau duluan saja ke mobil. Aku ingin ke toilet. Titip ini" Sungmin menyerahkan map yang berada ditangannya kepada Siwon.

Dengan cepat gadis itu berjalan menuju toilet—masuk—dan setelah beberapa menit gadis itu keluar. Sungmin kembali melangkahkan kakinya menuju mobil Siwon.

"Lee Sungmin" Sebuah panggilan dari arah belakangnya membuatnya seketika menghentikan langkahnya.

'Suara itu. Suara itu. Cho Kyuhyun?'

"Aku mohon Sungmin. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan kejadian waktu itu" Ucap Kyuhyun mengiba. Sungmin tak bergeming dari tempatnya yang tetap berdiri membelakangi Kyuhyun. Tidak. Dia tidak bisa menoleh saat ini atau pertahanannya mungkin akan runtuh.

"Aku benar-benar minta maaf, Min. Sungguh aku tidak bermaksud untuk—"

"Kenapa kau melakukannya? Kau ingin mempermainkan aku? Tapi maaf, aku bukan mainanmu" Setelah mengucapkan kalimat itu, Sungmin mengambil langkah seribu sebelum air mata itu mengalir turun. Sungmin menyeka air mata yang bahkan belum jatuh dari pelupuk matanya.

Kyuhyun tersadar Sungmin sudah tidak lagi berada di depannya. Dengan cepat dia berlari menyusul Sungmin. Namun terlambat. Seorang pria tampan sudah membuka pintu mobilnya untuk Sungmin. Dan kini, dia hanya bisa memandangi sebuah mobil yang bergerak semakin menjauhinya.

"Bodoh" Rutuk Kyuhyun pada dirinya sendiri.

.

ooOoo

.

Hari ini Siwon membantu Sungmin untuk mengepak barang-barangnya. Mereka memang berencana untuk berangkat lebih cepat. Mereka bahkan sudah mencari tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari kampus mereka berdua, ya walaupun mereka berada di kampus yang berbeda namun jaraknya tidak terlalu jauh satu sama lain sehingga mereka memutuskan menyewa tempat di gedung yang sama.

Mereka berangkat lebih cepat karena Siwon harus mengikuti beberapa tes lagi disana. Kampus Siwon termasuk kampus bergengsi disana dan yah, sudah pasti dengan otaknya yang juga pintar, Siwon pasti diterima.

"Apa kau yakin hanya ini yang ingin kau bawa?" Tanya Siwon. Sungmin melirik satu koper besar yang sudah tertutup rapat.

"Ya, aku tidak perlu membawa banyak barang. Aku bisa membelinya disana" Jawab Sungmin. Siwon hanya mengangguk mengerti.

"Baiklah. Semua sudah siap dan sekarang aku harus pulang. Istirahatlah kerena dua hari lagi kita akan berangkat. Sampai jumpa" Siwon memberikan Sungmin sedikit wejangan sebelum akhirnya dia keluar dari apartemen gadis itu.

Sungmin berjalan mendekat ke arah kopernya yang sudah berdiri tegak. Benarkah ini keinginannya? Dua hari lagi dirinya akan meninggalkan korea. Haruskah dia berpamitan dengan keluarga Cho? Cho Kyuhyun?

.

ooOoo

.

Satu hari tersisa sebelum keberangkatannya ke Amerika. Sungmin menggunakan waktu itu untuk berpamitan dengan teman-temannya. Dia sudah bertemu dengan Hyuk dan gadis bergummy smile itu hanya menangis sambil menasihatinya beberapa petuah yang harus diingat oleh Sungmin seperti jangan membawa teman pria tengah malam, seks bebas dan minum alkohol terlalu banyak. Hyuk sangat tahu, bahwa Sungmin bukan peminum yang baik.

Dan kini, Sungmin sudah berdiri di depan rumah sederhana yang dulu begitu sering dikunjunginya. Rumah yang selalu memberinya kehangatan, dan selalu memberinya kesempatan untuk menikmati kasih sayang sebuah keluarga.

Sungmin mengetuk pintu itu perlahan dan seorang gadis cantik keluar dengan senyum khas yang mengembang di wajahnya. Taemin.

"Onni" Teriaknya sambil memeluk Sungmin erat.

"Ayo masuklah" Taemin mengajak Sungmin masuk ke dalam rumahnya.

.

.

Sungmin sudah menceritakan tujuan kedatangannya hari ini dan kedua orang paruh baya itu hanya tersenyum sambil memeluk Sungmin. Mengucapkan beberapa nasihat yang harus dipatuhi Sungmin selama tinggal disana. "Semua pilihan dari hatimu adalah yang terbaik" Ucap Nyonya diakhir pelukannya pada Sungmin.

"Kau tidak ingin menunggu Kyuhyun datang? Dia sedang mengurus beberapa keperluan di kampus barunya"

"Tidak Bibi. Mungkin aku akan menemuinya nanti. Sekarang aku harus pulang. Terima kasih atas semua kebaikan kalian selama ini. Aku benar-benar merasakan mempunyai keluarga"

"Kami memang keluargamu" Ucapan Tuan Cho sukses membuat Sungmin menitikan air matanya.

"Aku permisi" Sungmin membungkukan tubuhnya hormat dan segera berjalan keluar dari rumah yang pasti akan sangat dirindukannya.

"Onni" Teriakan Taemin membuat Sungmin kembali menoleh. Gadis mungil itu tampak membawa sebuah kotak.

"Ini untukmu, sudah lama aku ingin memberikan ini" Taemin menyodorkan kotak itu kepada dan langsung memeluk Sungmin—lagi.

"Aku pasti akan merindukanmu Onni" Ucapan Taemin sedikit tersengal karena sebuah isakan yang mulai terdengar.

"Aku juga pasti akan merindukanmu, Taemin ah~" Taemin melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang mulai mengalir di pipi putihnya.

"Apa boleh aku membukanya?" Taemin mengangguk.

Perlahan, jemari lentik Sungmin mebuka kotak itu dan air mata kembali mengalir. 'Hadiah ini— begitu cantik'. Sebuah lukisan tangan Taemin dimana dia, Taemin, paman, bibi dan juga Kyuhyun menjadi objek dalam lukisan itu.

"Terima kasih, Taemin. Lukisan ini begitu indah" Sungmin menangis dan kembali memeluk tubuh mungil Taemin.

"Aku pasti akan membawa lukisan ini dan menjaganya. Terima kasih" Ucapan Sungmin membuat Taemin tersenyum.

.

.

Setelah mengunjungi rumah keluarga Cho, Sungmin memutuskan untuk pergi ke sekolahnya dulu. Tempat dimana semua kenangan itu terjalin. Ruang kelas, lapangan basket, aula utama dan perpustakaan menjadi kunjungannya hari ini.

Tidak terasa tiga tahun begitu cepat terlewati bahkan Sungmin tidak menyadarinya. Dulu hari-harinya hanya berpusat pada Kyuhyun dan Kyuhyun hingga dirinya tidak sadar bahwa dia sudah membuang waktu berharganya untuk tidak mengutamakan tugasnya sebagai siswa. Dan kini Sungmin hanya bisa tersenyum tipis mengingat kelakuannya dulu.

"Lee Sungmin" Sebuah panggilan membuat Sungmin berhenti dan menoleh ke arah si pemanggil itu. seorang gadis cantik tersenyum padanya. Seohyun.

Mereka pun akhirnya duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke bangunan megah sekolahnya.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Seohyun.

"Aku baik. Bagaimana denganmu?"

"Ya, aku juga baik. Hanya sibuk mempersiapkan kuliahku saja. Aku dengar, kau akan melanjutkan sekolahmu di Amerika bersama Choi Siwon. benarkah?"

"Ya seperti yang kau dengar"

"Lalu Kyuhyun? Bagaimana kabarnya sekarang?" Pertanyaan Seohyun membuat Sungmin mengernyitkan dahinya bingung.

"Bukankah kau seharusnya lebih tahu dibanding aku?"

"Apa Kyuhyun tidak memberitahumu jika kami sudah berpisah?"

"Berpisah?"

"Iya. Kami berpisah tepat sehari setelah hari kelulusan" Jawab Seohyun. Sungmin kembali mengingat hari itu.

'Bukankah hari itu—hari dimana Kyuhyun datang kerumahku?'

"Ke—kenapa kalian berpisah?" Tersirat keingintahuan yang begitu besar dari cara Sungmin mengajukan pertanyaan itu.

"Karena dari awal dia tidak mencintaiku. Dia mencintai orang lain. Mungkin dia bodoh, sehingga dia tidak tahu bahwa dia sudah mencintai orang lain saat menyatakan perasaannya padaku atau mungkin memang aku yang bodoh karena menerima pernyataannya tanpa pemikiran. Entahlah"

"Dia mencintai orang lain?" Tanya Sungmin tanpa sadar. Soehyun menolehkan wajahnya dan tersenyum.

"Dia mencintaimu Lee Sungmin"

"Apa?"

"Hah, kenapa kalian tidak membuat ini jauh lebih mudah? Lee Sungmin, jika keberangkatanmu ke Amerika hanya untuk menghindar dari Kyuhyun maka jangan pernah lakukan itu. Dia terlalu membutuhkanmu"

Sungmin terdiam. Kalimat Seohyun membuatnya begitu terkejut. Tentu saja hal seperti itu tidak pernah menghampiri pikirannya selama ini. Kyuhyun jatuh cinta padanya?

"Banyak yang masih harus aku urus. Jadi, aku permisi dulu. Aku harap kau memikirkannya baik-baik sebelum terlambat"

Dan Sungmin kembali terdiam.

.

.

Otaknya terus memutar kata demi kata yang terlontar dari bibir Seohyun. Layaknya benang kusut kalimat-kalimat itu berkumpul menjadi satu membuat kepala itu mulai berdenyut.

Tanpa sadar langkah kaki Sungmin sudah sampai di depan pintu apartemennya dan sedikit terhenyak saat menemukan Kyuhyun sudah bersandar pada pintunya.

"Aku dengar kau akan berangkat ke Amerika besok. Aku tahu kau tidak akan mendengarkan penjelasanku. Tapi aku kesini hanya untuk meminta maaf dan menyerahkan buku ini. Kalau kau masih ingat, aku pernah meminjam buku ini darimu" Kyuhyun menyerahkan buku itu kepada Sungmin.

"Aku benar-benar minta maaf. Dan—" Kyuhyun menghentikan ucapannya sejenak. "Sampai jumpa" Ucapnya dan kemudian pergi meninggalkan Sungmin yang masih mematung di tempatnya.

Tangan Sungmin mendekap buku itu erat dan kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.

Sungmin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Betapa lelahnya hari ini.

.

ooOoo

.

Sungmin terbagun dari tidurnya setelah dua jam dia berhasil memejamkan matanya. Benar saja, hampir semalaman mata itu tidak kunjung menutup padahal Sungmin sengaja untuk tidur lebih awal agar tidak kelalahan esok harinya. Tapi yang terjadi adalah, matanya mulai memberat saat pagi mulai menjelang.

Sungmin mandi dan berapakaian bersiap untuk pergi ke bandara. Gadis itu akan kesana dengan menggunakan taksi agar Siwon tidak repot-repot menjemputnya.

Sungmin sudah siap dengan semua perlengkapannya. Hanya tinggal mengambil tasnya dan dia siap untuk berangkat. Namun suara benda jatuh saat dia mengambil tasnya membuat pandangannya mengarah ke banda itu.

Sebuah lembaran kertas mencuat dari dalam buku yang baru saja dikembalikan Kyuhyun begitu menarik perhatiannya. Dengan gerakan cepat, diambilnya buku itu dan mengeluarkan kertas yang terlipat rapi.

# # #

Kau pernah bertanya kenapa aku melakukan itu? apa aku mempermainkamu?

Dan jawabannya tentu tidak. Aku sama sekali tidak mempermainkanmu. Dan kenapa aku melakukan itu? Karena aku begitu takut. Takut jika kau akan pergi meninggalkanku. Sebuah ketakutan yang baru aku rasakan saat aku melihat ada pria lain disampingmu. Maafkan aku Sungmin. Aku benar-benar minta maaf. Kau boleh mengatakan aku bodoh dan pengecut. Tapi rasa ini begitu nyata. Begitu bahagia bahwa aku menemukanmu dan begitu sakit saat kau melihatku dengan tatapan bencimu. Aku mohon padamu, Sungmin. Hilangkan rasa takut ini. ini begitu meyesakkan. Aku mencintaimu.

CK

# # #

Sungmin menatap nanar lembaran kertas yang ada ditangannya. Matanya mulai mengembun karena air mata dan lagi-lagi dia menangis.

Tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar. Diambilnya ponesl itu dan nama Siwon memenuhi layarnya.

"Yeobseyo"

"Kau dimana, Min? Lekaslah kesini. Aku sudah datang"

"Ne"

Sungmin melirik ke arah surat dan kopernya secara bergantian.

"Semua pilihan dari hatimu adalah yang terbaik"

.

.

Siwon terlihat duduk di ruang tunggu sambil sesekali mengetukkan jari-jarinya pada ruang kosong di sampingnya. Tampak geliasah. Pasalnya tinggal sedikit lagi pesawatnya akan take off.

Sebuah senyuman terbentuk di wajahnya saat orang yang sedari tadi ditunggunya mulai terlihat. Siwon melambaikan tangannya ke arah orang itu.

"Lee Sungmin" Teriaknya.

.

.

TBC

A/N:

maaf ya atas keterlambatannya. see you next chap

terima kasih buat semua reviewers