That's You
.
Cast :
- Kyuhyun
- Sungmin
- Another cast
.
Pairing : KyuMin
.
Disclaimer : semua cast milik Tuhan dan dirinya masing-masing
.
Rate : T+
.
Warning : GS, OOC, typo dimana-mana, EYD yang tidak sesuai
.
Chapter 10
~HAPPY READING~
.
.
Seorang pria tampak duduk dibangku bus dengan headphone yang terpasang ditelinganya. Wajahnya di tolehkan ke arah kaca disebelahnya. Bait demi bait lirik lagu yang didengarnya membuat matanya kian terpejam.
If you ever see her
If you ever meet her
If you ever get a chance to sit down and talk to her
Then tell her it's so cold
It's so cold, it's so cold
Here without her
Pria jangkung berkulit pucat itupun semakin mengeratkan pejaman matanya saat kalimat pada lagu itu terdengar begitu pas untuknya saat ini.
And tell her I miss her
Tell her I need her
Tell her I want her
I really want her to come back home, back to keep me warm
Tell her I'm sorry, I'm really sorry
Can you forgive me?
Please forgive me
And come back home, keep me safe and warm
'Jika waktu dapat kembali terulang, jika kesempatan itu kembali ada. Maka aku Cho Kyuhyun tidak akan pernah menyiakan cinta Lee Sungmin bahkan aku akan mencintainya lebih dulu'
.
.
"Lee Sungmin" Teriak Siwon. Sungmin melangkah mendekati Siwon yang saat ini tersenyum lebar .
Senyum Siwon perlahan memudar saat pandangannya menangkap sesuatu yang terasa janggal.
"Dimana kopermu, Min?" Tanya Siwon. Matanya terus melirik tangan Sungmin yang kosong tanpa membawa koper besarnya.
Sungmin hanya tersenyum tipis. "Maaf. Aku tidak jadi berangkat. Aku memutuskan untuk tetap disini. Maafkan aku Siwon ah~"
"Kau tidak jadi mengambil tawaran itu? Kau yakin?"
Sungmin mengangguk pasti. "Aku yakin. Sangat yakin"
"Baiklah. Jika itu memang keputusanmu"
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku sudah banyak merepotkanmu, Siwon ah~. Jadilah orang sukses disana. Aku selalu mendoakanmu"
"Terima kasih. Jangan lupa kirim email padaku. oke?"
"Pasti"
"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa" Siwon mulai menggeret kopernya sambil sesekali melambaikan tangannya ke arah Sungmin yang kini juga sedang melambaikan tangan padanya.
'Kau adalah teman terbaikku. Terima kasih, Siwon ah~"
'Aku sadar, aku kalah darimu Cho Kyuhyun. Jaga Sungmin, jangan biarkan dia menangis. Dan Sungmin, semoga kau behagia. Sampai jumpa'
.
.
Sungmin setengah berlari setelah keluar dari taksinya. Langkahnya terus mengarah pada sebuah rumah sederhana yang menjadi tujuannya.
"Bibi?" Panggil Sungmin. Wanita yang dipanggil bibi itu pun menoleh dan betapa terkejutnya saat meihat Sungmin berdiri dengan nafas terengah.
"Sungmin?"
"Bibi, apa Kyuhyun ada?"
"Dia sedang tidak dirumah. Pagi-pagi sekali dia sudah pergi. Tapi Sungmin bukankah seharusnya kau—"
"Sungmin Onni!" Teriakan Taemin membuat Ny. Cho menghentikan ucapannya. Sedikit bingung kenapa Sungmin malah berada disini.
"Oppa bilang padaku bahwa dia ingin melihat matahari terbit"
'Matahari terbit? Apakah tempat itu?'
"Terima kasih Taemin ah~. Aku permisi dulu Bibi, Taemin" Tanpa membuang waktu. Sungmin langsung melangkahkan kakinya cepat membuat Ny. Cho menatapnya bingung.
"Aku tahu hal ini pasti akan terjadi" Gumaman Taemin berhasil membuat ibunya menjadi tambah bingung.
.
.
Sungmin tampak duduk dengan gelisah di dalam bus yang akan mengantarnya ke tempat yang mungkin saja Kyuhyun datangi. Namun hatinya tidak yakin apakah Kyuhyun masih berada disana? Bukankah saat ini matahari sudah berada di atas kepalanya. Tidakkah seharusnya Kyuhyun sudah pulang jika tujuannya kesini untuk melihat matahari terbit? Dan yah, Sungmin hanya bisa berdoa dalam hati agar dia bisa bertemu dengan Kyuhyun disana.
'Tidakkah seharusnya aku menunggu saja dirumahnya? Tidak Lee Sungmin, itu pasti akan menjadi sesuatu yang paling menyebalkan. Menunggu hingga waktu yang tidak ditentukan. Hah, kenapa pria itu tidak membawa ponselnya? Oh Tuhan bantu aku. Kumohon'
.
.
Sungmin terbangun dari tidurnya saat seseorang menepuk lembut bahunya. "Tujuanmu sudah sampai nona" Ujar pria paruh baya yang baru saja membangunkannya.
Sungmin mengerjapkan matanya dan benar saja dia sudah sampai di tempat tujuannya. Songnisan National Park.
"Ah terima kasih Tuan" Ucap Sungmin. Setelah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada tuan paruh baya itu, Sungmin mulai melangkahkan kakinya.
Sepanjang perjalanannya, Sungmin berusaha mengingat dimana letak mereka membangun tenda dulu. Salahkan otaknya yang tidak mampu menyimpan banyak memori, apalagi untuk sesuatu yang tidak begitu penting.
Wajah resahnya perlahan berubah, bibir itu terlihat tengah tersenyum senang saat melewati jalan yang sepertinya mulai diingatnya. Dengan langkah pasti, Sungmin mengikuti jalan itu dan yup, tidak sampai beberapa menit dia sampai pada tempat tujuannya.
Sungmin sedikit memejamkan matanya dan berdoa sebelum dia kembali melangkah ke tempat dimana dirinya pernah melihat matahari terbit bersama Kyuhyun.
Sungmin mengehentikan langkahnya. Dadanya semakin berdegup dan air mata yang mulai berkumpul di kelopak matanya. Seseorang yang dicarinya berada disana. Cho Kyuhyun berada disana, berdiri membelakanginya dengan kepala mengadah menatap lurus pada hamparan langit biru yang begitu luas.
Sungmin mulai mendekat dan langsung memeluk tubuh jangkung itu erat. Kyuhyun tersentak saat merasakan sebuah tangan mungil melingkar dipinggangnya. Tanpa perlu menoleh, Kyuhyun sudah tahu siapa si pemilik tangan itu.
'Wangi manis yang begitu khas. Hanya gadis itu yang punya wangi tubuh seperti ini' Batinnya.
"Sungmin ah~" Panggil Kyuhyun. Pria itu hendak berbalik sebelum pelukan ditubuhnya mengerat dan menahan pergerakannya.
"Jangan berbalik. Biarkan seperti ini" Cegah wanita dibelakangnya.
Sungmin menyandarkan kepalanya pada punggung Kyuhyun. Menyesapi wangi tubuh Kyuhyun yang begitu dirindukannya.
"Kenapa kau begitu bodoh, Kyu? Matahari sudah berada diatas kepalamu. Kenapa kau masih berdiri disini?" Lirih Sungmin.
"Tidak. Matahariku baru saja datang dan memelukku"
"Hikss... Hikss... Hikss..." Dan akhirnya suara isakan itu mulai terdengar dari balik punggung Kyuhyun.
Dengan gerakan cepat Kyuhyun berbalik menghadap Sungmin yang kini sedang menundukan kepalnya. Kyuhyun mengangkat wajah Sungmin dan menghapus air mata itu dengan jemari tangannya.
"Aku mohon jangan menagis. Kau boleh memukulku, menghinaku atau apapun terserah padamu. Tapi jangan menangis. Itu membuatku sakit"
Sungmin mengehentikan tangisannya dan memandang Kyuhyun dengan tatapan beningnya yang tetap indah walau tertutup oleh lelehan air mata.
"Kau bodoh. Sungguh bodoh" Rutuk Sungmin.
Detik selanjutnya, kyuhyun sudah menarik Sungmin dan membawa gadis itu dalam pelukan hangatnya.
"Aku tahu, aku memang bodoh. Maafkan aku, Min. Dan tolong bantu si bodoh ini menemukan kebahagiannya. Bersamamu"
Dan tangisan itu kembali terdengar. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung gadisnya dengan lembut.
.
ooOoo
.
Sungmin dan Kyuhyun kini sudah berada di dalam sebuah bus. Keduanya tampak duduk saling berdampingan namun kecanggungan itu masih begitu kentara. Entah kenapa mereka memilih untuk diam tanpa bicara. Malu atau... ah entahlah.
"Sebenarnya ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu, Kyu. Tapi sekarang aku benar-benar mengantuk. Kau berhasil membuatku tidur hanya 2 jam" Keluh Sungmin. kyuhyun hanya tersenyum sambil memandang gadisnya yang kini sedang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kalau begitu tidurlah. Kau masih punya banyak waktu untuk bertanya dan aku akan menjawab semuanya. Sekarang mendekatlah kesini" Kyuhyun membimbing Sungmin untuk duduk lebih mendekat padanya.
Dengan lembut pria itu merebahkan kepala Sungmin di bahunya dan merangkul posesiv gadis di sampingnya. Sungmin menyamankan duduknya dan mulai memejamkan matanya. Menghirup wangi tubuh yang selalu memabukan untuknya.
"Kyu, aku tidak pernah bermimpi bahwa kau akan memelukku seperti ini" Ucap Sungmin masih sambil memejamkan matanya.
Tangan Kyuhyun terulur untuk mengusap rambut Sungmin dan mengecup pucuk kepala Sungmin dengan bibirnya.
"Maaf harus membuatmu lama menunggu dan Terima kasih kau sudah bertahan untukku. Kau tahu betapa beruntungnya aku dicintai oleh gadis sepertimu" Lirih Kyuhyun. Pria itu kemudian tersenyum saat mendengar deru nafas Sungmin yang mulai teratur. Gadis itu sudah lelap dalam tidurnya.
.
.
Sungmin meletakkan kembali pakaian-pakaian dan perlengkapan lainnya dari dalam koper ke tempatnya semula dan tentunya dengan dibantu oleh kekasih barunya. Memang tidak ada kata 'maukah kau menjadi kekasihku?' yang terlontar dari bibir Kyuhyun tapi mengetahui bagaimana perasaan Kyuhyun padanya bukankah sudah bisa dijadikan bukti bahwa mereka bisa menjadi sepasang kekasih? Ya seperti itulah pemikiran mereka yang begitu sederhana.
Mereka sudah selesai dengan pekerjaan mereka dan keduanya pun memilih untuk duduk bersama di ruang santai yang menghadap langsung ke layar tv. Sesekali Sungmin melirik Kyuhyun yang sedari tadi terus menatap layar televisi dengan wajah yang terkesan datar dan dingin seperti biasa.
"Kyu, kenapa wajahmu begitu dingin?" Tanya Sungmin tiba-tiba. Kyuhyun menoleh dan menatap Sungmin masih dengan wajah dinginnya.
'Apa pertanyaanku salah ya?' Batin Sungmin.
Kyuhyun tersenyum melihat Sungmin terus saja meremas ujung bajunya sendiri. "Lalu kenapa kau duduk sejauh itu? Mendekatlah!" Perintah Kyuhyun sambil menepuk ruang kosong tepat disampingnya. Sungmin menggeser duduknya hingga kini mereka tampak begitu dekat.
"Kyu, aku ingin bertanya padamu. Bolehkan?"
"Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, sayang?" Sungmin sedikit terkejut dengan panggilan baru dari Kyuhyun. Sayang? Oh tidak. Ini bagaikan mimpi bagi Sungmin.
"Sejak kapan kau mencintaiku? Ah maksudku—menyadari perasaanmu padaku. Entahlah itu suka atau cin—"
"Sejak aku tidak lagi menjadi seorang munafik yang terus saja mengelak dari perasaan ini. Aku tidak tahu tepatnya kapan. Tapi hati ini mulai menjadi aneh saat kau mulai mengubah sikapmu padaku"
"Mengubah sikapku?"
"Ya setelah aku bilang bahwa Seohyun kekasihku. Sikapmu langsung berubah padaku. Tepatnya saat kau kembali ke sekolah setelah kau tidak masuk"
"Oh saat aku sakit" Gumam Sungmin.
"Tunggu! Apa karena hubunganku dan Seohyun yang membuatmu sakit?"
"Entahlah. Aku sudah tidak ingat" Elak Sungmin diselingi tawa kecil dietiap katanya. Bagaimana pun juga dia tidak mau memberitahukan Kyuhyun apa yang sebenarnya terjadi karena itu akan membuat pria itu tidak enak hati.
"Aku tahu, pasti memang karena aku kau sakit. Aku benarkan?"
"Tidak. itu tidak benar"
"Tidak bisakah kau jujur padaku sekarang apa yang terjadi pada saat itu. Sungmin sayang, aku mohon" Pinta Kyuhyun.
Sungmin menelan salivanya kelu. Apa dia harus memberitahukan yang sebenarnya.
"Ya kau benar. Aku sakit karena aku kelelahan, telat makan dan kurang tidur. Memikirkan hubungan kalian pada saat itu membuat nafsu makanku hilang. Yang aku lakukan hanya menagis dan menangis hingga Kesehatanku memburuk karena itu aku harus dirawat di rumah sakit"
"Aku benar-benar membuatmu sulit. Maafkan aku Sungmin"
"Itu hanya masa lalu, Kyu. Nyatanya saat ini kau disini. Bersamaku"
Kyuhyun mengecup kening Sungmin. Gadis ini sudah begitu kesulitan karenanya tapi tetap saja cinta tulus gadis itu masih miliknya hingga saat ini. Haruskah dia berterima kasih pada Tuhan sekarang?
"Awalnya aku begitu ragu kau akan kembali padaku. Kau dan Siwon terlihat begitu dekat. Kabar kau akan pergi ke Amerika membuatku hilang harapan. Aku masih tidak percaya sekarang kau disini bersamaku bukan di pesawat bersama Siwon"
"Karena aku membutuhkanmu. Cho kyuhyunku. Dari awal aku sudah memilihmu"
"Tapi, aku sudah membuat kesalahan fatal hari itu"
"Aku tahu. Aku sempat marah padamu tapi aku juga marah pada diriku sendiri. Karena seberapapun aku berpikir aku membencimu, nyatanya aku lebih merindukanmu"
"Terimakasih Sungmin" Kyuhyun membwa tubuh Sungmin dalam pelukannya.
"Kyu, kau mau tahu sesuatu?" Tanya Sungmin. Kyuhyun langsung menatap Sungmin penasaran. "Aku lapar" Sambung Sungmin sambil terkikik dan Kyuhyun pun ikut tersenyum.
"Bagaimana kalau sekarang kita kerumahku. Keluargaku pasti ingin bertemu denganmu. Oh iya, aku belum bertanya bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke tempat itu?"
Sungmin mendekatkan bibirnya ditelinga Kyuhyun. "Ra ha si a" Bisiknya kemudian beranjak menuju pintu depan. "Ayo, Kyu. Katanya kita akan pergi kerumahmu"
Dan Kyuhyun lagi-lagi hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan kekasihnya.
.
.
"Jadi kau memilih untuk melanjutkan sekolah disini, Sungmin ah~?" Tanya Ny. Cho ditengah kegiatan makan malam mereka.
"Iya Bibi"
"Kenapa? Bukankah kesempatan bagus kau bisa sekolah disana?" Tanya Tn. Cho. Sungmin hanya tersenyum kecil, dia tidak tahu harus menjawab apa bahkan Kyuhyun sudah memberikan deadglare-nya kepada sang ayah.
"Appa seperti tidak tahu saja. Jawabannya hanya satu, karena Kyuhyun oppa tidak ada disana. Aku benarkan, Onni?"
Sungmin tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Taemin yang kelewat jujur. Mendadak pipi Sungmin memerah malu dan Kyuhyun hanya melirik gadis itu sambil tersenyum samar. Tn dan Ny. Cho bahkan hanya tersenyum maklum.
"Sudah sudah lanjutkan makan kalian. Bagaimana Sungmin, apa masakannya enak?" Tanya Bibi. Sungmin sangat tahu bahwa Nyonya Cho sengaja mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.
"Iya. Masakan bibi sangat enak dan aku selalu menyukainya" Jawab Sungmin.
"Onni, tidakkah seharusnya kau berhenti memanggil Omma dengan sebutan 'bibi'?"
"Lalu aku harus menyebutnya apa?"
"OMMA dan APPA"
Pipi Sungmin semakin memerah karena malu. Oh adik kecil Cho Kyuhyun ini memang pintar membuat orang kehilangan kata-katanya.
"Omma dan Appa tidak keberatan kan? Bukankah Sungmin Onni sudah menjadi bagian dari 'keluarga' kita?"
"Ya kami tidak keberatan. Kau boleh memanggil kami seperti itu kalau kau mau" Ucap Nyonya Cho. Sungmin begitu senang namun juga begitu malu mendengarnya.
"Terima kasih bibi" Sungmin sedikit melirik ke arah Taemin yang sedang menatap tajam kearahnya. "Ah maksudku—Om ma" Ucap Sungmin ragu.
"Terdengar lebih baik" Ujar Taemin santai sambil kembali memakan makanan di mangkuknya.
Kyuhyun terkekeh dalam hatinya. Sungminnya begitu kikuk dan itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
.
.
Kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu kini terlihat sedang berdiri di depan sebuah apartemen. Mereka tampak saling melempar senyum satu sama lain. Siapapun yang melihat mereka pasti akan iri.
"Kenapa kau tidak menginap saja di rumahku?" Tanya Kyuhyun.
"Tidak Kyu, aku harus menyiapkan beberapa file untuk mendaftar besok"
"Kau akan mendaftar kemana?"
"Han Seonsaengnim pernah mengirim aplikasiku ke Seoul Institute of the Arts (SeoulArts). Aku kira aplikasi itu bisa membantuku untuk diterima disana. Aku berharap semoga saja bisa"
"Kau pasti bisa. Kalau begitu besok akan aku jemput. Kau akan berangkat jam berapa?"
"Mungkin jam 9"
"Baiklah. Besok aku akan menjemputmu, sekarang masuklah dan istirahat. Aku pergi dulu. Annyeong" Pamit Kyuhyun sambil mengusap pipi Sungmin dan kemudian pria itu langsung melangkahkan kakinya.
Sungmin masih berdiri di depan pintu apartemennya sambil memandang Kyuhyun yang mulai menjauh. 'Dasar Cho Kyuhyun, tidak bisakah dia berpamitan dengan cara yang lebih romantis' Kesal Sungmin sambil membuka pintunya.
"Min" Sebuah panggilan menghentikan aktivitasnya. Dilihatnya Kyuhyun yang kini berbalik dan berjalan ke arahnya. Entah kenapa tiba-tiba jantung Sungmin berpacu tak beraturan. Tangannya yang masih bertengger di kenop pintu pun terasa begitu kebas.
"Ada apa?" Tanya Sungmin yang bahkan suaranya terdengar seperti sebuah bisikan samar.
"Aku lupa mengucapkan selamat malam" Jawab Kyuhyun. Dan dengan cepat pria itu mengecup bibir Sungmin dan mengusap pucuk kepala gadisnya dengan lembut.
"Selamat malam. Jaljaayo" Kyuhyun tersenyum dan kemudian kembali melangkah pergi.
Sungmin seakan meleleh seketika. Ini memang yang dia mau. Tapi, ini begitu—begitu membuatnya lemas dan melayang.
Masih dengan senyuman yang mengembang, Sungmin masuk ke dalam rumahnya dan langsung merebahkan dirinya di ranjang. Perlahan, jari tangannya mengusap bibir yang baru saja dikecup oleh sang kekasih. Ini memang bukan ciumannya yang pertama dengan Kyuhyun. Tapi kecupan singkat itu terasa begitu lembut dan Sungmin menyukainya.
"CHO KYUHYUN! AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU" Teriak Sungmin.
.
ooOoo
.
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya walau sinarnya tidak terpancar dengan sempurna. Ini hampir memasuki musim dingin, wajar kalau sinar matahari tidak sehangat saat awal musim gugur.
Gadis bernama Sungmin terlihat bangkit dari tidurnya dan segera melangkah ke kamar mandi. Mengisi bathup-nya dengan air dan memasukkan tubuhnya yang langsung tertutup oleh busa sabun. Mengusap seluruh bagian tubuhnya dengan spons mandi.
Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Sungmin keluar dari bathup dan segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Memakai pakaian yang sudah disediakannya dan mulai berias. Hanya polesan tipis seperti yang biasa dia lakukan, rambutnya pun dibiarkan terurai.
Sungmin mulai menyiapkan segala keperluannya dan memasukkannya ke dalam tas. Suara bel pintu mengalihkannya. Dengan cepat, Sungmin berjalan menuju pintu apartemennya. Sebuah senyuman langsung mengembang saat matanya menangkap tubuh jangkung Kyuhyun yang kini berdiri di hadapannya.
"Masuklah Kyu. Kita sarapan dulu" Ajak Sungmin. Pria itu pun masuk dan langsung duduk di sofa ruang santai.
"Aku belum berbelanja bahan makanan. Apa kau ingin roti panggang? Dan segelas kopi mungkin?"
"Ya boleh"
"Baiklah" Sungmin melangkah menuju dapurnya dan segera menyalakan toaster lalu memasukkan dua lembar roti kedalamnya. Sambil menunggu, Sungmin pun mengambil cangir dan membuat kopi untuk Kyuhyun sedangkan dia memilih untuk menuangkan susu cair ke dalam gelasnya.
Sungmin begitu sibuk menyiapkan sarapan hingga tidak sadar ada seorang pria yang terus memperhatikannya dari meja makan sambil terus tersenyum.
Roti dalam toaster itu sudah terangkat naik, Sungmin langsung menaruhnya di atas piring. Betapa kagetnya dia saat membalikan badan, Kyuhyun sudah duduk disana sambil memandang ke arahnya.
"Kau benar-benar mengagetkanku. Sejak kapan kau duduk disana?"
"Kau terlalu serius sehingga tidak sadar, aku sudah disini sejak kau memasukkan roti itu ke dalam toaster"
"Benarkah? Kau ingin pakai selai apa?"
"Biar aku yang melakukannya sendiri" Kyuhyun pun mulai mengolesi rotinya dengan selai coklat dan Sungmin mengambil secangkir kopi dan segelas susu miliknya.
"Apa kita terlihat seperti pengantin baru?" Tanya Kyuhyun dengan santainya. Sungmin yang sedang meminum susunya langsung tersedak.
"Minumlah pelan-pelan. tidak usah terburu-buru"
"Kau yang membuatku tersedak"
"Aku kan hanya bertanya. Apa salah?"
Dan Sungmin hanya memakan rotinya tanpa berniat menjawab pertanyaan yang membuat pipinya merona itu.
.
.
Kyuhyun terlihat duduk di sebuah kafe sambil meyesap lette yang dipesannya. Jemarinya tampak mengutak atik ponsel ditangannya. Menggeser layar touchscreen-nya yang menampilkan foto-foto dirinya dengan Sungmin yang baru saja diambilnya sebelum perjalanan ke SeoulArts. Dari mulai ketika mereka sarapan sampai saat mereka sampai disini.
Kyuhyun saat ini memang berada di sebuah kefa dekat SeulArts sambil menunggu Sungmin selesai dengan keperluannya. Untunglah hari ini dia sedang free sehingga bisa mengantar kekasihnya. Pria itu sesekali tersenyum dan tekekeh pelan saat melihat satu persatu foto dirinya bersama Sungmin. Sungmin memang photogenic, semua foto yang diambilnya pagi ini terlihat begitu cantik.
"Kyuhyun, apa aku begitu lama?" Mendenagr ada yang bicara padanya, Kyuhyun langsung mengangkat wajahnya Dan tersenyum.
"Entahlah, bahkan aku tidak sadar ini sudah jam berapa"
"Memang apa yang kau lakukan?"
"Tidak melakukan apa-apa. Oh iya, bagaimana tadi?"
"Mereka menyukai penampilanku di acara seni waktu itu dan ya aku hanya harus melakukan interview dua hari lagi. Mereka bilang bahwa kemungkinan besar aku akan diterima disana"
"Benarkah? Itu kabar baik. Bagaimana kalau kita merayakannya?"
"Merayakan apa? Aku bahkan belum pasti diterima"
"Kau pasti diterima. Talentamu begitu luar biasa. Mereka akan rugi jika tidak menerimamu"
"Terserah padamu Tuan sok tahu. Lalu kita akan pergi kemana?"
"Serahkan padaku dan kau hanya perlu mengikutinya"
.
.
Sungmin benar-benar menyerahkan semuanya pada Kyuhyun. Seharian ini Kyuhyun dengan semangat mengajaknya ke tempat yang belum pernah dikunjunginya seperti ke Insa-dong dimana banyak toko barang antik disana juga ke Istana Gyeongbok-gung yang di dalamnya juga terdapat Museum Kebudayaan Nasional.
Memang tidak terlalu banyak tempat yang mereka kunjungi, namun Kyuhyun bisa menjadi guide yang baik karena perjalanan mereka menjadi begitu menarik. Setidaknya itu menurut Sungmin. Dan disinilah merek asekarang, Banpo Bridge.
"Benar-benar menyenangkan. Kau sangat berbakat menjadi guide, Kyu"
"Benarkah? Ini belum berakhir. Satu menit lagi" Ucap Kyuhyun sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya. sungmin mengernyitkan dahinya bingung.
"Apanya yang satu menit lagi?"
"Lima... empat... tiga...dua... satu..."
Air mancur yang berada di sisi-sisi jembatan mulai menari-nari indah dipadukan dengan teknologi LED dan lampu-lampu warna-warni membuat air mancur itu terlihat seperti pelangi.
"Ini benar-benar indah" Kagum Sungmin. Mata bening itu tampak berbinar cantik.
"Tepat jam 8 malam. Air mancur itu akan beratraksi. Kau menyukainya?"
"Tentu saja. Ini begitu cantik, Kyu"
"Tapi kau jauh lebih cantik Lee Sungmin" Bisik Kyuhyun sambil memeluk tubuh gadisnya dari belakang. Tangannya melingkar di pinggang Sungmin, membawa gadis itu dalam kehangatan yang memabukkan. Sesekali Kyuhyun tampak mengecup bahu Sungmin yang bisa dijangkaunya dan menyesap wangi vanila yang menguar dari tubuh Sungmin saat hidungnya mencium leher kekasihnya. Sungmin mulai memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut yang dilakukan pria dibelakangnya.
"Kyu, kenapa kau bisa mencintaiku?"
Kyuhyun tak langsung menjawab. Bibirnya tampak masih asik mengecupi bahu Sungmin. "Jawabannya hanya satu. Karena kau Lee Sungmin. Gadis pantang menyerah yang pernah aku temui. Dan aku beruntung sudah menemukannya. Lalu kenapa kau mencintaiku?" Kini Kyuhyun balik bertanya.
Sungmin menggenggam lengan Kyuhyun yang melingkar dipingganggnya. "Karena kau Cho Kyuhyun. Pria yang bisa membawaku dalam kebahagiaan. Terima kasih, Kyu"
Kyuhyun membalik tubuh Sungmin sehingga gadis itu tepat berdiri menghadapnya. Saling memandang dan tersenyum sebelum akhirnya Kyuhyun mencium bibir mungil Sungmin kemudian melumatnya seperti cumbuannya saat itu namun kali ini terasa begitu lembut tanpa paksaan. Hingga akhirnya kedua bibir itu harus terlepas setelah sekitar 5 menit saling menyatu.
"Aku mencintaimu"
"Begitupun aku"
Kyuhyun pun kembali membawa Sungmin dalam pelukannya. Perjalanan mereka masih begitu panjang. Dan keyakinan membuat mereka terlihat lebih kuat. Karena selamanya Cho Kyuhun akan ada untuk Lee Sungmin, dan Lee Sungmin akan ada untuk Cho Kyuhyun.
.
Kiss me on my shoulder, and tell me it's not over
I promise to always come home to you
Remind me that I'm older to be brave, smart, sweet, and bolder
And don't give up on what we're trying to do
Don't count the miles, count the "I love you's"
Christina Perri - Miles
.
.
FIN
.
.
A/N:
Oh god, cheesy abis. Oke, Kyuhyun bener-bener out caracter di last chapter ini *mungkin ketularan donge kali ya.
Dan dengan updatenya last chapter ini, selesailah perjumpaan kita di ff ini. Terima kasih buat semua readers dan reviewers yang sudah meluangkan waktunya.
Maaf jika begitu banyak kekurangannya.
SEE YOU
.
.
Review please
