Halo readers! Selamat pagi/siang/sore/malem/jam pocong (?). Sebelumnya author minta maaf, updatenya kelamaan. Tapi nih, udah apdet! Enjoy! BTW, Trimakasih buat yang udah nge-review.
Genre:Mystery, Suspense
Disclaimer: Mashashi Kishimoto
WARNING! NO YAOI, ALUR NGACO, Slight NaruHina
Markas Konoha Police
Jumat, 21:00 P.M.
-18 Celcius
Sasuke's POV
Pembunuhan kemarin masih sangat sulit untuk dipecahkan. Apa motifnya, kenapa pembunuhan ini terjadi. Namun, dari hasil sidik jari, kami menemukan satu nama. Uzumaki Naruto.
Namun polisi tidak bisa menuduhnya begitu saja tanpa kejelasan yang pasti. Karna itu kami tidak memasang poster, atau mengumumkannya di media apapun. Kami memilih untuk menyelidiki kasus ini sebelum menetapkan terdakwa.
"Hai Detektif, bagaimana semuanya?" Ternyata Kabuto menyapaku.
"Kasus ini sangat rumit, entahlah akan selesai kapan. Bagaimana denganmu?" Tanyaku kembali.
"Detektif, sebelumnya aku memohon maaf." Aku bingung mendengar Kabuto mengatakan itu.
"Apa yang kau bicarakan?" Aku semakin bingung.
"Sebenarnya... Aku melihatnya kemarin" Katanya sedikit gugup
"Siapa yang kau maksud?"
"Kemarin di taman, aku melihat Uzumaki Naruto. Namun, ia menyelamatkan seorang anak kecil yang nyaris mati tenggelam. Jadi aku membiarkannya pergi." Jelas Kabuto.
"Tidak apa. Aku yakin aku akan melakukan hal yang sama. Selamat bertugas, opsir." Aku tidak menegurnya, karna memang Kabuto melakukan hal yang baik.
Aku melanjutkan beberapa tugas laporanku. Tapi, tak lama kemudian aku mendapat sebuah penggilan
"Perhatian! Telah terjadi pembunuhan malam ini. Kami meminta petugas segera menuju ke laundry di jalan Hatsumachi!"
Aku menghela napas panjang. "Hahh. Selalu saja kasus baru di saat-saat yang rumit."
Hatsumachi Laundry
Jumat, 21:11 P.M.
-18.6 Celcius
Sasuke's POV
Aku mendatangi TKP, dan melihat sekitar.
Senbuah jenazah berada di bawah telpon umum. Gagang telpon menggantung di sana. Kemudian ada satu lagi jenazah yang berseragam sebagai petugas laundry di sana, dengan pisau yang tertusuk di mata kirinya. Ugh, pasti sakit.
Aku bertanya kepada petugas disana. "Bagaimana kronologisnya"
"Dari analisa, korban sedang menelpon seseorang saat menunggu laundry. Kemudian secara tiba-tiba sang petugas menyerang dan menusuk dada kiri korban. Setelah membunuh korban naasnya ia bunuh diri."
"Tunggu dulu. Kau bilang dada kiri?" Aku meminta penjelasan.
"Ya, tepat di aorta. Mengakibatkan korban tidak mampu mengambil tindakan maupun berteriak."
Aku mulai berpikir, 'Apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan kasus Naruto?'
Aku mulai bertanya. "Apa ada hal yang lain?"
"Mari, akan kutunjukkan." Opsir ini membawaku ke mayat petugas.
Ia menunjukkan sebuah luka di lengan mayat itu. Karna penasaran aku mengambil sapu tangan dan membersihkan luka lengan di mayat itu.
"Apa ini... gambar ular?" Aku memandangi luka sayatan yang berbentuk ular itu.
"Benar-benar aneh.. Apa maksudnya."
Kemudian aku ingat kasus di cafe kemarin. Ahli forensik berkata 'Dan ada yang lebih mengejutkan lagi, darah di pisau ini tidak hanya darah korban, tapi darah sang pembunuh juga'
Jadi luka bergambar ular inikah yang membuat pisau itu memiliki darah dari pembunuh? Tidak salah lagi, ini memang ada hubungannya dengan kasus Naruto.
Tapi, jika petugas ini bunuh diri setelah membunuh, kenapa Naruto spesial? Ia tidak bunuh diri setelah melakukan itu.
Perempatan Ryuku
Jumat, 21:30 P.M.
-20 Celcius
Naruto's POV
Aku sampai di tempat dimana Hidan bilang padaku untuk menemui nona Chiyo di perempatan Ryuku. Hmm, aku berharap dia bisa membantuku.
Aku mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
.
.
Belum ada yang membukakan, lalu aku mengetuk lagi.
TOK TOK TOK "Permisi!"
.
.
Tidak ada yang menjawab, apakah aku harus masuk? Tidak, itu tidak sopan.
.
.
Setelah berpikir lebih baik aku mencoba masuk.
CKLEK
Tidak dikunci. Aku masuk ke dalam. "Permisi! Apa ada orang?!" Tak ada yang menjawab.
Aku melihat sekitar, banyak sekali kepala boneka yang dipajang di dinding itu.
"Tempat ini cukup menyeramkan." Aku berjalan ke sekitar, tapi tidak ada seorang pun.
Aku memasuki sebuah dapur dan melihat ada lilin di sana, aku hendak mengambilnya sebagai penerangan.
Tapi tiba-tiba...
"Ada apa anak muda?"
"UWAAA!" Aku terkejut melihat seorang nenek yang duduk di kursi roda berada di belakangku.
"Kau kenapa, tidak pernah melihat nenek tua hah?"
"Maafkan aku! Tadi aku hanya terkejut. Tunggu, apakah Anda nenek Chiyo?" Tanyaku padanya
"Kau mau apa?"
"Aku memerlukan bantuanmu, aku harap kau bisa menyelesaikan masalahku." Jelasku padanya
Lalu nenek itu berkata "Jadi kau ingin aku memberi jawaban terhadap kasus pembunuhanmu?"
"Tunggu dulu, nek. Bagaimana kau mengetahuinya?" Aku terkejut nenek ini bisa tahu.
"Ikut aku anak muda, dan bawa lilin itu." Kemudian ia bergerak menggunakan kursi rodanya ke sebuah ruangan.
Aku mengikutinya dan duduk di ruang tamu.
"Nyalakan lilin itu di atas meja, kemudian nyalakan."
Aku melakukan persis yang ia perintahkan.
"Duduklah berhadapan denganku, buka kedua tanganmu, pejamkan matamu."
Dan aku melakukan yang ia suruh.
"Sebelumnya Naruto, apakah kau siap dengan tekanan yang akan terjadi?" Ia mencoba meyakinkanku
"Ya, apapun yang terjadi, aku akan siap."
"Baik kalau begitu. Kib nui shwe naar luki nega!" Nenek itu mengatakan sebuah mantra
Badanku tersentak, kemudian samar samar aku bisa melihat sesuatu dalam keadaan masih terpejam
Kemudian aku mendengar suara nenek itu 'Naruto, sekarang aku ingin kau kembali ke awal. Ke cafe dimana semua kejadian berawal. Kau mengerti?'
'Aku mengerti nek.' Jawabku
'Sekarang apa yang kau lihat, Naruto?'
'Aku berdiri tepat di depan cafe itu.' Jelasku
'Masuklah ke dalam cafe itu Naruto.'
'Aku mengerti' Kemudian aku mengikuti diriku dan melihat diriku sendiri duduk dan menikmati steak.
'Aku melihat cafe itu sangat sepi. ' Jelasku
'Bagus, teruskan'
'Ada seorang pelayan, dua orang pelanggan dan seorang polisi yang menikati kopi di konter.' Aku menjenlaskan sesuai yang kulihat
'Dimana kau Naruto?'
'Aku duduk di sebuah meja, aku sedang makan disana sambil membaca sebuah buku. The Tempest oleh Shakespear.' Jelasku
'Naruto. Apa lagi yang kau lihat?' Perintah nenek Chiyo
Pria berjaket hitam itu berbincang denganku
.
Pria: "Seperti yang saya katakan kepadamu sebelumnya, saya dikenakan tiran. Seorang penyihir bahwa dengan licik menipu saya beroleh pulau."
Naruto: Apa yang Anda katakan?
Pria: Itu paragraf yang ada di bukumu, Shakespear. benar?
Naruto: Ya,
.
'Seorang pria datang padaku, ia berjaket dengan hoodie yang menutup kepalanya.' Aku mendeskripsikan orang tersebut.
'Siapa dia, Naruto?'
'Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat wajahnya' Aku tidak ingat orang itu sebelumnya.
'Apa yang dia katakan padamu?'
'Entahlah, aku tidak ingat.' Ini membuatku makin tertekan.
'Konsentrasi, nak. Aku harus ingat.'
.
Pria: Itu adalah buku yang juga sering aku baca. Apa aku boleh duduk sebentar?
Naruto: Sebenarnya-
Tapi pria itu sudah duduk terlebih dulu.
Pria: Apakah kau percaya sihir?
Naruto: Tidak. Dengar, aku-
Pria: Kau salah. Kau tahu? Ada banyak yang lebih di dunia ini yang tidak mampu dilihat oleh mata terlanjang.
Naruto: Dengar tuan. Bukannya tidak sopan, tapi aku akan merasa lebih nyaman bila aku makan sendirian.
Pria: Naster nachtitlan kastannechli Quechinitlan naar...
.
'Pria itu menunjuk kearahku dan aku melihat diriku terkejang. Tak mampu mengendalikan diriku sendiri.' Aku menjelaskan.
'Dimana pria itu Naruto? Dimana dia?'
'Dia berdiri, lalu pergi. Tapi aku masih terkejang disana!' Aku semakin depresi.
'Tenangkan dirimu Naruto. Dimana pria itu?'
'Dia menuju pintu belakang hendak pergi.' Aku melihat dia berjalan dengan santai.
'Ikuti pria itu, nak. Pikiranmu dan pikirannya kini terhubung, kau bisa melihat apa yang dia lihat.'
Pria itu pergi. Di luar sana, aku melihat sesuatu melayang.
Tunggu dulu, itu adalah jiwa orang yang telah kubunuh!
Roh melayang itu masuk ke dalam pria berjaket itu dan dia menyala, semakin terang dan menyilaukan. Seketika itu aku sadar dari ingatanku.
.
.
.
Kulepaskan tanganku dari nenek Chiyo dan tersentak.
"Kau sebenarnya tahu kan pria itu?!" Aku mengintrogasi nenek Chiyo
"Tidak Naruto, a..aku benar-benar tak tahu!" Tapi ia terlihat gugup.
"Bohong! Kau sudah mengetahuinya sejak melihat luka di lenganku! Katakan padaku nek!" Aku membentak sambil menggoyangkan tubuh nenek Chiyo yang masih terduduk.
"Masih banyak yang perlu aku pastikan, Naruto. Kembalilah besok, di waktu yang sama."
"Baiklah kalau begitu." Aku berusaha menenangkan diriku dan pergi dari sana.
.
.
Apartemen Naruto
Jumat, 22:00 P.M.
-21 Celcius
Naruto's POV
Aku pulang ke apartemenku, hahh. Hari ini benar-benar rumit.
TOK TOK TOK
Aku membukakan pintu, itu Hinata. Mantan istriku.
"Naruto. Maaf aku mengunjungimu malam begini. Aku hanya ingin mengambil barangku yang tertinggal."
Kami memutuskan untuk berpisah dikarenakan sebuah masalah. Aku selalu pergi ke klub malam, berjudi dan lain sebagainya. Tapi, sejak ia meminta untuk becerai, aku sangat terpukul. Dan sejak kami berpisah, aku berhenti dari hidupku yang lalu.
"Umm, silahkan Hinata. Masuklah." Aku mempersilahkannya masuk.
"Aku sudah mempersiapkannya, itu barangmu. Sudahku kumasukkan tas." Aku menujukan tasnya.
"Trimakasih Naruto."
Hening. Lalu ia mulai membuka percakapan.
"Naruto, kau masih memainkan gitar?" Ia melirik gitar di belakangku.
"Ya... kau mau mendengarnya?" Tawarku.
"Tentu, jika kau tidak keberatan." Ia terlihat senang. Dan, jujur. Aku juga bahagia melihatnya tersenyum.
Aku mengangkat gitarku dan memainkannya.
Tapi aku memainkannya dengan pelan, aku melihat bahwa Hinata benar-benar menikmati tiap nada yang ku mainkan.
Aku selesai dengan musik. Hinata tertunduk, ia terlihat sedih.
"Naruto, aku akan pergi.." Katanya lirih.
"Aku tahu. Hinata, aku takkan melupakan ini, pertemuan kita."
CUP
Aku mengecupnya dengan lembut, ia membalasnya.
"Trimakasih Naruto, aku mencintaimu."
"Aku juga Hinata."
.
.
.
Ia pergi, entah kapan kita akan bertemu lagi. Aku hanya berharap ia tak berpindah ke lain hati. Walaupun kami telah berpisah, aku masih mencintainya.
Aku lelah, aku memutuskan untuk tidur. Besok aku akan bekerja.
Konoha Insurance Office
Sabtu, 09:36 A.M.
-7 Celcius
Naruto's POV
Walaupun aku sedang dalam masalah, aku harus tetap bekerja. Tak mungkin ada yang mau mendengar alasan anehku karena dikendalikan orang. Apalagi soal kasus pembunuhan ini.
Aku sedang mengetikkan laporanku lalu-
TOK TOK TOK
"Masuklah!" Kemudian orang ini masuk.
"Selamat pagi, tuan Uzumaki. Saya Detektif Uchiha Sasuke. Bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan?"
'Ah sial.'
~To Be Continued~
Maaf author update nya telat. Soalnya author lagi ke luar kota dan ga boleh bawa laptop. Jadi mohon dimaafkan.
Masih butuh banyak perkembangan buat fic ini. Bagi yang punya ide-ide bagus, tolong bagiin yaa plisssss! (oke berlebihan)
REVIEW?
