Readers! Author is back! Author minta maaf kalau banyak kekurangan di fic ini. Chapter 3 updated.


Author bales review dulu ya.

Red devils: Thanks y udah review. Tenang aja, ide kamu yang kyubi itu bakal Dre pake, cuman dengan cara yang agak beda. Trims buat idenya. Bless you!

Soputan: Maaf itu udah alur ceritanya, wkwk! BTW thanks udah review! Bless you!

Ozha: Thanks ya udah review! Maaf kalo ini bukan yaoi, soalnya bukan selera saya wkwk! Makasih ya, karena reviewnya, Dre jadi termotivasi buat lanjutin nih crita. Thanks a lot, Bless you!

Happy Reading!


Genre: Mystery/Suspense Slight Horror (mungkin)
Disclaimer: Mashashi Kishimoto
Main Character: Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
WARNING! NO YAOI; ALUR NGACO;
Inspired from game "Indigo Prophecy"


Konoha Insurance Office
Sabtu, 09:36 A.M.
-7
Celcius
Naruto's POV

Walaupun aku sedang dalam masalah, aku harus tetap bekerja. Tak mungkin ada yang mau mendengar alasan anehku karena dikendalikan orang. Apalagi soal kasus pembunuhan ini.

Aku sedang mengetikkan laporanku lalu-

TOK TOK TOK

"Masuklah!" Kemudian orang ini masuk.

"Selamat pagi, tuan Uzumaki. Saya Detektif Uchiha Sasuke. Bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan?"

'Ah sial.'

"Apa yang ingin Anda tanyakan?" Masalah ini harus kuhadapi.

"Saya ingin tahu, dimanakah Anda berada kemarin pagi."

"Aku sedang berada di cafe, aku tidak bisa masak. Jadi aku keluar mencari makan." Aku tidak berbohong.

"Kemudian apa yang Anda lakukan setelah itu?"

"Ya, aku kembali ke apartemenku dan menjalani hariku yang membosankan lainnya hehe." Aku memberi sedikit candaan agara tak terlihat mencurigakan

Tiba-tiba aku melihat seekor ular raksasa berada di sebelah detektif itu dan menyemburkan bisa nya kearah ku. Sontak aku pun bereaksi menghindar. "UAAA!"

"Tuan! Anda baik-baik saja?!"

Kemudian ular itu tidak terlihat lagi, mungkin itu hanya halusinasiku saja.

"Iya, maaf. Aku tidak apa-apa." Aku berusaha menenangkan diriku

"Pak, aku merasa tidak enak badan. Aku akan mencuci muka dan segera kembali." Aku rasa harus ke toilet untuk menenangkan diri

Sasuke's POV

"Silahkan, saya akan menunggu." Aku menjawabnya.

Kemudian Naruto meninggalkan ruangannya.

'Ia bertingkah aneh, seperti melihat sesuatu di belakangku.'

Sementara ia pergi aku berusaha mencari barang bukti di mejanya.

Aku melihat sebuah foto, ini fotonya bersama seorang wanita berambut lavender, mungkin ini istrinya.

Kemudian aku mencari lagi, aku menemukan buku Shakespear, The Tempest. Entahlah mungkin tidak ada kaitannya. Aku meletakannya kembali.

Lalu aku mengambil pulpen di mejanya.

"Mungkin di pulpen ini bisa memastikan sidik jarinya."

CKLEK!

Dia datang!

"Bagaimana keadaan Anda?" Tanyaku

"Merasa lebih baik. Trima kasih."

"Saya rasa, tidak ada lagi pertanyaan yang perlu saya ajukan. Saya permisi. Trimakasih atas kerja samanya, pak! " Aku pun meninggalkan tempat itu.


Markas Konoha Police
Sabtu, 11:12 P.M.
-5 Celcius
Sasuke's POV

Ternyata mengajukan pertanyaan kepada Naruto secara langsung , tidak ada gunanya.

Akan kucoba mencocokan sidik jari Naruto dengan pisau pembunuh.

Aku menuju ke ruang sidik jari.

"Baiklah, mari kita lihat." Setelah ku cetak hasil sidik jari itu, aku mencocokannya ke arsip sidik jari pembunuhan di cafe.

"Tidak diragukan lagi, hasilnya cocok!"

"Ada apa detektif?" Sakura bertanya padaku

"Ini." Aku memperlihatkan kecocokan sidik jari itu.

"Bukankah ini..."

"Benar, hari ini aku akan menugaskan polisi untuk menangkapnya."


-SKIP TIME-

Perempatan Ryuku
Sabtu, 21:30 P.M.
-20 Celcius
Naruto's POV

Aku kembali ke rumah nenek Chiyo. Tepat sesuai perjanjian, akhirnya aku akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Aku memasuki rumah itu

"Nenek! Aku datang!" Namun tidak ada jawaban

'Kurasa aku harus mencarinya lagi, dan kuharap ia tak muncul dengan menakutkan lagi.' Batinku.

"Nenek dimana kau?" Aku memasuki sebuah ruangan dimana kemarin ia membuka pikiranku.

"Oh, tidak..." Aku melihat nenek Chiyo tergeletak di lantai.

"Nenek!" Aku berlari dan memegangnya. Ia tidak bernafas.

"Tolong, tidak seperti ini. NENEK! BANGUNLAH!" Aku menggoncang tubuhnya kencang. Tapi percuma, ia telah tiada.

"Sial! Aku tidak akan pernah menemukan jawaban pada diriku. Pria berjubah itu pasti membunuhnya."

WIII U WIII U WIII U

Tiba-tiba suara sirine polisi terdengar dari luar

'Gawat, mereka datang! Aku harus cepat lari!'

Tanpa pikir panjang Naruto langsung melompat ke arah jendela belakang.

'Tunggu dulu, ini lantai 3! UWAAAAA!'

BOOM! BRETAKKK

Aku mendarat diatas kakiku dan aspal yang kuinjak retak. Tapi aku tidak apa-apa.

"Bagaimana ini terjadi?" Aku bingung, tidak ada patah tulang namun aspal yang kuinjak terkena retakan hebat.

"Yang penting aku harus lari sekarang!" Aku pun berlari menuju apartemenku.


Di Depan Gedung Apartemen Naruto
Sabtu, 22:03 P.M.
-20.3 Celcius
Normal POV

Naruto berlari hendak memasuki gedung itu, tiba tiba-

"Jangan bergerak! Kau sudah dikepung! Menyerahlah!" Polisi berteriak menggunakan megaphone

'Ah, Sial!'

Dua orang polisi mendekatinya secara perlahan sambil menodongkan pistolnya. Naruto tertunduk, merasa tak berdaya.

'Oh tidak, mereka mengepungku. Tapi apakah aku akan berakhir seperti ini. Tanpa mengetahui ribuan pertanyaan yang belum terjawab? Tidak... TIDAK! Aku tidak boleh berhenti sampai disini!' Naruto mengamuk dalam hatinya.

Tiba-tiba saja Naruto merasakan energi yang luar biasa dalam dirinya. Aura merah merasuk dalam tubuhnya

'Aku harus kabur!' Naruto tiba-tiba saja mengihilang bagaikan kilat. Ia berlari di dinding mengarah ke atap apartemennya.

"Kirimkan bantuan helikopter sekarang!" Polisi memanggil bantuan helikopter untuk mengejar Naruto.

Tapi Naruto tetap berlari dan melompat dari atap ke atap, ia berlari tanpa henti.

Sebuah helikopter mengejarnya dari belakang

"Apa itu?! Apa dia benar-benar manusia?!" Polisi di helikopter itu terkejut melihatnya.

Saat Naruto berada di ujung sebuah atap, tiba-tiba ada helikopter itu sudah berada di depannya

"Jangan bergerak!"

Naruto tidak menghiraukannya lalu ia melompat ke bawah.

"Kemana dia? Apa dia terjatuh?!"

"Kau melihatnya?" Pilot itu bertanya pada rekannya

"Negatif! Target tidak terlihat!"

"Petugas melapor! Target menghilang! Diulangi, target menghilang!"

Ternyata saat melompat Naruto berpegangan di kaki helikopter itu.

Helikopter itu bergerak hendak kembali ke markas.

Ketika Naruto merasa cukup dekat dengan sebuah atap, ia langsung melepaskan pegangannya dan mendarat di atap itu.

"Energi apa yang kudapat barusan..." Naruto terdiam dan duduk di atap itu.

"Mereka telah mengetahui identitasku dan tempat tinggalku. Aku tidak bisa kembali ke apartemen." Hal ini membuatnya semakin depresi. Naruto terpaksa menjadi pelarian.

Naruto turun meninggalkan atap itu dengan sebuah tangga di dekatnya.

'Polisi telah mengenali aku, seluruh kota mengenaliku. Aku harus menyamar.' Batinnya.

Akhirnya ia berjalan menuju toko dan membeli jaket dan sebuah topi untuk menutupi identitasnya.

"Kurasa, mulai saat ini aku akan menjadi pelarian."

.

.

.


Markas Konoha Police
Sasuke's POV

"Bagaimana penangkapannya? Dimana dia?" Tanyaku meminta laporan.

"Negatif detektif. Kami gagal."

Aku terdiam, seharusnya aku tahu bahwa penyergapan secara frontal berkemungkinan besar gagal.

"Maaf detektif. Kami melakukan apapun yang kami bisa. Tapi pria itu melarikan diri dengan cara yang di luar akal sehat."

"Apa maksudmu?" Laporannya membuatku bingung

"Tidak seperti manusia pada umumnya, ia melarikan diri dengan berlari menaiki gedung. Dan melompat dari atap ke atap."

"Jangan main-main opsir! Aku tidak punya waktu untuk bergurau denganmu!" Emosiku mulai naik setelah mendengar omong kosong ini.

"Jika Anda tidak percaya, kami bisa perlihatkan dari kamera pengintai di helikopter tadi."

Polisi itu memberiku sebuah kamera dan menunjukkan gambar Naruto berlari keatas di tembok gedung, lalu melompat dari atap ke atap. Dan berakhir melompat ke bawah gedung.

"Tidak mungkin! Sebenarnya siapa dia?!" Aku terkejut setelah melihat rekaman itu.

"Ini memang sulit dipercaya detektif, tapi kami telah melakukan seluruhnya yang kami bisa. Saya permisi."

Polisi itu meninggalkanku yang terdiam setelah melihat gambar barusan.

'Memang ada yang aneh, aku harus memeriksa apartemennya!'

"Sakura! Besok pagi, kita akan menerobos masuk ke apartemen Naruto dan memeriksa tempat itu."

"Siap detektif!"

.

.

.


-SKIP TIME-

Apartemen Naruto
Minggu, 04:30 A.M.
Sasuke's POV

Aku berada di dalam apartemen bersama Sakura untuk melakukan penggrebekan.

"Detektif, di ruang nomor berapa ia tinggal?"

"Nomor 66." Kemudian kami mencari dan akhirnya menemukan ruang itu.

Aku bersiap di depan pintu hendak membukanya.

"Kau siap, Sakura?"

Ia hanya mengangguk. "Siapkan pistolmu, kita tidak akan tahu apa yang ada di dalam."

Kami menyiapkan pistol dan perlahan membuka pintu itu.

"Tempat macam apa ini?!" Aku terkejut melihat ruang tengah itu.

Seluruh tembok bermotif ular namun digambar dengan darah, dan di lantainya ada lingkaran bermotif yang ditengahnya ada gambar bintang segi sembilan yang juga terbuat dari darah.

"Apa yang telah ia lakukan?" Aku bingung melihat ruangan ini.

"Sakura! Laporkan!"

"Ia tidak ada dimanapun detektif" Jawabnya.

Tapi kenapa ruangan ini dipenuhi dengan simbol-simbol aneh? Aku semakin bingung, apa ini ada hubungannya dengan pembunuhannya.

.

.

.


Jl. Ryuku Blvd.
Minggu, 07:09 A.M.
-10 Celcius
Naruto's POV

Aku berkelana, tidak tahu harus kemana. Aku lapar, haus, kesepian. Yang dapat kulakukan hanya tetap berjalan berkelana tanpa tujuan.

Rasa laparku tak tertahankan, naluriku untuk mencuri makanan pun muncul.

"Seharusnya aku tidak boleh melakukan ini, tapi ini sangat mendesak." Aku pun membulatkan niatku untuk mencuri makanan

Aku memasuki sebuah gang sempit, disana banyak sekali rumah. Aku menemukan sebuah rumah yang terlihat sepi dan lampunya telah dimatikan. Akhirnya aku pun menuju rumah itu.

Aku melihat sekitarku, 'Aman' pikirku. Aku menuju belakang rumah itu dan mengintip jendela. 'Sangat sepi, kelihatannya tidak ada orang.' Aku pun memberanikan diri untuk masuk melalui jendela.

Aku melihat ruangan itu sepi, aku menuju dapur dan membuka lemari es yang penuh itu.

Aku mengambil roti dan susu, lalu melahapnya dengan ganas.

"Siapa kau?" Aku mendengar seseorang di belakangku

Saat aku berbalik badan..

"Hinata..." aku terkejut

"Naruto?!" Begitupun dia..

~TBC DENGAN ANEHNYA~


Readers, author minta maaf ya kalau chapter ini dan sebelumnya mengecewakan. Soalnya emang author masih pemula n ga tau harus motong cerita darimana. Thank you for reading

REVIEW PLEASE!