Title: Sacrifice

Cast: Huang Zi Tao ; Wu Yi Fan ; Other EXO Members

Pair: TaoRis ; Other

Summary: Tao mencintai Kris. Tapi cinta Tao itu bertepuk sebelah tangan. Tao sudah banyak berkorban untuk Kris. Tapi Kris tak menghargai penghorbanan itu. Lalu, akankah Tao menyerah? Bad summary. Yaoi. BoyxBoy. TaoRis. EXO fic. DLDR. RnR? Please?

A/N: Chap ini dan chap selanjutnya (mungkin) full flashback. Selamat menikmati! Oh ya, tolong read A/N yang dibawah yaa. Terimakasih~

-0-

Kris mengerutkan dahinya heran ketika melihat sosok sang kekasih yang saat ini tengah berlari kearahnya dengan nafas terengah-engah. Oh, jangan lupakan luka lebam yang terlihat dengan jelas di wajahnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kekasihnya itu?

"Tao, ada apa denganmu?" tanya Kris khawatir ketika Tao telah berada di dekatnya. "Ada seseorang yang menyakitimu?"

"Ti-Tidak, ge," kata Tao sambil tersenyum. Senyuman paksa, sebenarnya. "Aku tadi hanya jatuh."

Setelah mengucapkan hal itu, Kris dapat melihat Tao tertawa kecil. Tapi Kris tau, tawa itu bukanlah tawa Tao yang biasanya. Ada sesuatu yang salah. Kekasih manisnya sedang membohongi dirinya.

Namun Kris tidak ingin mengatakannya. Biarlah ia menyimpan pemikirannya itu sendiri. Kalau Tao ingin mengatakan kebenarannya, biarkanlah itu karena keinginannya sendiri. Mungkin Tao menyembunyikan hal itu untuk kebaikannya. Entahlah. Yang pasti, Kris percaya kalau Tao tidak menyembunyikan sesuatu yang buruk.

Andai saja Kris tau kalau sangkaannya itu tidak tepat…

-0-

"Jadi sekarang Tao sering pulang dengan lebam-lebam, begitu katamu?"

Kris menganggukan kepalanya. Lay, sang sahabat, yang kini tengah berjalan menemani Kris, hanya dapat menatap wajah Kris heran. Kenapa sahabatnya yang satu ini tidak memberikan reaksi apapun?

"Ya, dia pulang dengan lebam di wajahnya. Kadang bahkan di tubuhnya. Aku tau karena aku melihat tubuhnya saat mandi dan- AWW!" Kris terlihat meringis kesakitan. "Yak, Zhang Yi Xing! Apa yang kau lakukan? Argh. Ini sakit sekali."

"Kau mau bilang kalau kau mengintip Tao saat ia mandi, kan? Astaga Wu Fan! Kau ini keterlaluan sekali!"

"Yak! Aku tidak sehina itu, ya!" Kris menatap Lay kesal. "Tidak begitu. Pokoknya aku tidak mengintipnya. Hanya tidak sengaja terlihat."

Lay memutar bola matanya kesal. Dalam hati, ia mengatakan kalau apa yang dilakukan Kris itu sama saja dengan mengintip. Tapi, daripada sahabat tingginya satu ini kembali memberikannya death-glare, lebih baik ia diam.

"Aku bingung. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Tao. Dulu dia selalu mengatakan semua masalahnya padaku. Tapi sekarang? Ia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku yakin itu," kata Kris panjang lebar. "Aku sudah menjadi kekasihnya sejak beberapa bulan yang lalu. Menurutku itu cukup untuk mengetahui kapan ia berbohong dan kapan ia jujur."

"Kau terlalu berpikiran negative, Kris," kata Lay sambil menghela nafasnya. "Bisa saja Tao bukannya berbohong, kan? Bisa saja ia mengatakan hal yang benar."

Kris menatap Lay dengan pandangan bosannya. Ia seperti mengatakan 'harus-berapa-kali-lagi-aku-mengatakan-alasannya?' begitu. Lay yang ditatap seperti itu hanya mengedikkan bahunya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Dia berbohong. Aku yakin itu. Mana ada orang yang jatuh sampai lebam di seluruh tubuh begitu, Lay?" Kris memijat kepalanya pelan. Ia seperti tengah menghadapi masalah yang begitu pelik. "Ia menyembunyikan sesuatu dariku."

"Terserah kau, lah," balas Lay sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Kris. Secret admire mu ada di sini lagi,"

"Hah!" Kris menghela nafasnya kasar. "Secret admire apanya. Ketahuan sekali kalau ia selalu memperhatikanku. Memang sulit jadi orang tampan, pasti banyak fansnya."

Lay menjitak Kris telak di dahinya. Sungguh. Kalau orang ini bukan sahabatnya, mungkin Lay sudah meninggalkan Kris dan berpura-pura tidak kenal pada orang yang pede-nya setinggi langit seperti ini. Memalukan.

Tiba-tiba pikiran kesal Lay terhenti ketika ia mendapat pencerahan akan masalah yang tengah Kris hadapi saat itu. Fans Kris. Mungkinkah…?

"Kris, aku duluan. Ada urusan."

Lay langsung beranjak dari duduknya dan berjalan – berlari, sebenarnya – menuju pintu keluar ruangan tersebut. Kris yang melihat tingkah aneh sahabatnya tersebut hanya dapat menaikan alisnya heran. Hey, sebenarnya ada apa dengan Lay? Kenapa ia tiba-tiba jadi aneh begitu?

"Ckck. Kenapa orang-orang jadi aneh begini sih," Kris menghela nafasnya pelan. Ia heran. Akhir-akhir ini orang-orang memang bersikap aneh. Terutama Tao. Kekasih manisnya itu entah mengapa akhir-akhir ini seperti menjauhinya. Sebenarnya apa yang terjadi?

Tao juga akhir-akhir ini selalu pulang dengan lebam di tubuhnya. Kadang di wajah, kadang di punggung, bahkan kadang di sekujur tubuh. Kris benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan panda-nya itu. Kris sudah memikirkan segala kemungkinan. Dari mulai Tao ikut geng sampai Tao di-bully. Namun segala pemikiran itu segera Kris tepis jauh-jauh. Mana mungkin panda-nya yang manis itu ikut geng tidak jelas. Iya, tidak mungkin.

Tapi, mungkin kan, kalau Tao di-bully?

-0-

"Ini benar-benar tidak boleh dibiarkan,"

Kini terlihat Lay yang sedang mengepalkan tangannya erat tak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Kepalan tangannya sudah memutih, itu membuktikan kalau Lay sedang berusaha meredam emosi-nya kuat-kuat.

"Aku tidak percaya kalau mereka benar-benar melakukan hal ini kepada Tao!" batin Lay kesal. "Awas saja mereka. Akan kuadukan pada Kris!"

Lay sudah ingin beranjak dari tempatnya ketika ia menyadari sesuatu. Tao, menyembunyikan hal ini dari Kris, kan? Itu berarti, Tao tak ingin Kris mengetahuinya.

Jadi… ia sebenarnya tidak boleh mengatakannya pada Kris.

Lay menghela nafasnya kasar. Berarti ia tidak bisa mengatakan perbuatan hina ini pada Kris. Lalu apa yang harus dilakukan? Bagaimana-pun, ia tidak bisa membiarkan Tao diperlakukan seperti ini. Tidak! Walaupun sebenarnya ia juga mempunyai sedikit rasa kesal terhadap Tao, tetap saja Tao juga termasuk adik kesayangannya. Ia tidak boleh membiarkan sang adik kesayangan ini diperlakukan seperti itu!

Lay terdiam untuk beberapa saat. Namun, ia seperti mendapat pencerahan ketika akhirnya ia menampilkan smirk-nya.

"Aku memang tidak boleh mengatakannya pada Kris. Tapi, kalau Kris yang melihatnya sendiri, tidak apa, kan?"

Dan dengan itu, Lay segera pergi dari tempatnya dan mencari Kris. Ia harus menemukan Kris sekarang juga.

-0-

-Meanwhile at Tao's-

"Kau seharusnya mati saja!"

"Kalau kau tidak ada, maka Rae Mi yang akan menggantikan posisi-mu untuk mendapatkan Kris!"

"Kau kan hina! Lelaki, lagi! Kenapa Kris mau dengan-mu, ya?"

Pemandangan yang terlihat sekarang begitu menyedihkan. Seharusnya ruang kelas ini digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Bukan untuk kegiatan seperti ini.

"Teman-teman, hentikan dulu!"

"Rae Mi? Kenapa? Sedang seru-serunya, tau!"

Terlihat seorang perempuan yang sedang berjalan menuju tengah ruangan, dimana kegiatan itu berlangsung. Sosok perempuan itu terlihat begitu licik dengan smirk yang tampil di wajahnya. Dan tampaknya, ia merupakan pemimpin dari kelompok itu. Karena, lihat saja. Yang lainnya langsung menurut padanya untuk menghentikan kegiatan yang sedang mereka lakukan.

"Hentikan dulu. Aku ingin berbicara dengannya," kata perempuan itu, Rae Mi, sambil menatap seseorang yang berdiri paling dekat dengannya. "Kau, cepat cari Kris. Pastikan kalau ia sedang tidak ada di dekat sini."

Orang itu, entah namanya siapa, langsung mematuhi perintah Rae Mi dan berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah itu, hanya keheningan yang terdengar. Ah, bukan hanya keheningan. Namun juga suara rintihan.

"Bagaimana, Zi Tao? Sakit, ya?" tanya perempuan itu dengan nada kasihan di suaranya. Namun tentu saja ia tidak kasihan. Nada kasihan itu malah lebih seperti nada seseorang yang tengah berbicara dengan seorang musuhnya. "Kalau sakit, bagaimana kalau kau menyerah saja?"

"A-Aku tidak akan menyerah!" seorang lelaki yang tengah terduduk di kursi dan tadi merintih kesakitan, itu Tao, kini tengah menatap Rae Mi dengan mata penuh kebencian. "Kris-ge hanya mencintaiku. Dia tidak mencintaimu!"

"Masa?" kini Rae Mi mensejajarkan dirinya dengan Tao. "Asal kau tau ya, moron, Kris itu pasti hanya terpaksa menyatakan perasaannya padamu. Ia kasihan, tau. Ia pasti sangat kasihan pada seseorang sepertimu."

"Bukankah seharusnya kau yang lebih dikasihani?" kini Tao mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal tersebut. "Kalau ia menyatakan perasaanku padaku hanya karena kasihan, bukankah harusnya ia menyatakan perasaan padamu saja? Karena kau lebih pantas dikasihani!"

Rae Mi mendekatkan dirinya pada Tao. Tampak kilat kemarahan pada matanya.

"Kau bilang apa, bocah panda?"

"Kau yang lebih pantas dikasihani. Kenapa? Karena kau terus saja mendambakan kekasih orang lain!"

PLAKK

Rae Mi terlihat menampar Tao keras sekali. Itu terlihat dengan bekas merah yang tercetak jelas di pipi putih milik Tao. Tao yang tidak menyangka bahwa Rae Mi akan menamparnya, hanya dapat menatap Rae Mi tak percaya.

"Kaget?! Iya?! Kaget kalau orang yang kau bilang terus mendambakan kekasihmu ini menamparmu?!" Rae Mi membentak Tao. Jika kalian ada di sini sekarang, kalian pasti dapat melihat wajah Rae Mi yang merah padam akan amarah.

"Kau kira Kris-mu itu menganggapmu seorang kekasih? Iya?! Tidak sama sekali! Siapa sih yang mau denganmu! Kau kan jelek, mirip panda! Seharusnya orang-orang lebih menyukai aku, aku lebih cantik darimu! Dan jauh lebih kaya dari orang yang tidak berkeluarga sepertimu!"

Tao yang mendengar keluarganya disebut-sebut langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Rae Mi tajam. Sebenarnya ia berniat diam saja tadi, ketika Rae Mi mengejeknya. Namun ketika perempuan licik itu mengatakan sesuatu tentang 'keluarga'nya, ia tidak bisa diam saja.

"Lebih baik tidak berkeluarga daripada berkeluarga tapi tidak diperhatikan, kan?" tanya Tao sambil menatap Rae Mi tajam. "Lebih baik tidak berkeluarga daripada memiliki orangtua yang bahkan tidak pernah memperhatikan anaknya sama sekali, kan? Lebih baik tidak berkeluarga daripada memiliki orangtua yang bahkan lebih bangga pada anak orang lain, kan?!"

Untuk sesaat, Rae Mi terdiam mendengar penuturan yang seperti sindiran baginya. Ya, Rae Mi memang memiliki orangtua yang tidak pernah memperhatikan yeoja itu barang sedikit saja. Ya, kedua orangtua Rae Mi memang lebih memilih untuk memperhatikan dan membanggakan anak lain daripada dirinya. Ya, semua yang dikatakan Tao itu memang benar. Dan semua itu membuat Rae Mi sedih. Ya, sedih. Sekaligus… marah.

"Jaga ucapanmu, bocah," kini Rae Mi menatap Tao dengan amarah yang tercetak jelas di wajahnya. Jujur saja, Tao sedikit takut melihat wajah Rae Mi saat itu. Ia teringat betapa kejamnya para teman Rae Mi yang membully-nya. Kalau saja ia tidak dibekali dengan kekuatan dari wushu-nya dulu, mungkin kini ia sudah tidak dapat melihat dunia lagi. Mungkin ia sudah tidak dapat bersama Kris-genya lagi.

"Shin. Cepat bawa teman-temanmu kesini. Ayo lakukan dengan cara baru," tanpa Tao sadari, kini Rae Mi tengah berbicara salah satu temannya. Wanita itu memperlihatkan smirk kejamnya. Sepertinya Rae Mi tengah memikirkan suatu rencana yang menarik.

"Kris, sepertinya besok kau tidak akan melihat sosok kekasihmu yang manis dalam bentuk utuh lagi, kkk~"

-TBCin dulu ya(?)-

Halo readers-deul, ada yang kangen saya? Ga? Yah. #ehh Maaf saya terlalu lama hilang x_x Laptop saya, you know-lah -_- Sebenernya fic ini udah mau kelar di laptop saya, udah sepuluh halaman apa ya-_- tapi abis itu gara-gara insiden LCD pecah dan kegalauan saya yang meningkat/? Ya jadi gini deh. Saya cuma bisa lanjutin fic ini sampai segini. Maafin saya yahh :'( Maaf kalau chap ini ga memuaskan. Oh iya, saya kan janjinya bawa Confident duluan ya, tapi gapapa lah. Fic itu masih dalam tahap penyelesaian haha.

Oh iya, saya cuma mau bilang. Saya bakal fokusin diri saya ke EMPAT FF dulu. FF yang mau tamat, terutama.

- Duizhang, Who Is HE?

- Sacrifice

Nah dua fic lagi biar reader-deul aja yang nentuin. Bisa vote lewat comment kok #eaa. Udah ya, saya mau balik ke AFF lagi. Pay~