Old Man

By Ritsu-ken

The Avengers © Marvel & Paramount Picture

T rated

Friendship/Tragedy

(bermaksud) Canon, OOC, time skip, typo(s), miss-eyd, abal, first fanfic in this fandom~


Chapter 2


.

Steve Rogers melingkarkan badannya seperti bayi di atas kasur dengan kedua mata terpejam kuat dan gigi bergemeletuk. Seluruh tubuhnya gemetar dan pemuda pirang itu menggenggam seprai warna susu-nya seolah itu adalah tali kehidupannya. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya dan mengalir turun ke leher dan tubuhnya. Kerah dan bagian punggung kaos putih polos pemuda itu sudah basah dan memperlihatkan warna yang lebih gelap.

"Sir, saya menyarankan Anda untuk mendapatkan pertolongan medis secepatnya." Suara JARVIS entah kenapa terdengar sedikit khawatir di balik gelapnya kamar bernuansa '40 semi-modern itu.

"Tidak, JARVIS ...," Steve menggigit bawah bibirnya kuat, menahan rasa sakit yang merambat di seluruh badannya seperti dihujani ratusan belati dari segala arah, "tidak ada Avengers ... yang perlu tahu ..."

"Saya bisa menghubungi S.H.I.E.L.D. jika Anda tidak menginginkan Dokter Banner membantu Anda."

Steve tersedak dan terbatuk beberapa kali saat berusaha menjawab. "Tidak ... Tidak ada S.H.I.E.L.D. atau ... Avengers ... Tidak ..."

"Sir, bagaimana jika—"

"JARVIS!" Pemuda itu menyesal mengeluarkan suara sekeras itu pada A.I. yang sebenarnya hanya ingin membantunya—meringankan penderitaannya—karena tenggorokannya kini terasa panas dan seperti tertusuk jarum. "Cukup ..."

A.I. tercanggih dan setia itu pun memutuskan untuk diam.

Misi hari ini sebenarnya tidak begitu berat. Seperti biasa, mereka mengurusi beberapa orang yang ingin menghancurkan dunia atau menebar terorisme yang mengancam Amerika—atau dalam beberapa situasi—dunia. Mereka mendarat di sebuah pelabuhan kecil di wilayah Ohio dimana Nick Fury memberitahu mereka bahwa ada operasi jual-beli senjata ilegal dengan Jerman. Steve cukup bersyukur Jerman yang mereka temukan bukanlah bagian dari Hydra dan hanya sekumpulan pembisnis kotor yang berkeliaran dengan senjata canggih.

Mereka bisa menyelesaikan misi meski hampir seluruh gudang cargo meledak bersama dengan barang bukti—yang membuat Stark mengumpat—dan menangkap Goulferd Stronghand—sang otak operasi—sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan peluru bersarang di otaknya—lagi, kali ini Barton ikut mengumpat bersama Stark.

Natasha hanya mendapat beberapa goresan dan bengkak di bagian dahi, Clint dengan bahu kanannya yang mengalami dislokasi, Tony yang hanya mengalami beberapa memar, wajah mulus Thor dan Bruce yang membuat Natasha, Clint, dan Tony melempar pandangan iri sekaligus kesal pada dua makhluk 'semi-manusia' itu, serta Steve yang mendapatkan sebuah peluru yang bersarang di bagian pinggang kanannya ketika berusaha keluar dari salah satu gudang cargo setelah mengejar Stronghand. Sebuah peluru dari sebuah misi 'kecil'.

Steve mengumpat, entah karena teringat akan fakta bahwa ia benar-benar payah atau rasa sakit lain yang baru saja membuat tubuhnya mengejang. Ia yakin, sangat yakin, kalau rasa sakit yang menyerangnya ini bukan berasal dari luka tembak di pinggangnya—tidak, meski luka itu terasa sangat panas dan terbakar. Rasanya seperti tiap sel dan jaringan dalam tubuhnya ditarik dan otot-ototnya dikoyak. Tepi bibir sang Kapten mengalirkan darah karena gigitan berulang untuk menahan jeritan yang hendak keluar. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Steve tidak ingin membangunkan penghuni Avengers Tower lain dengan suaranya yang menyedihkan.

Pemuda itu membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke sisi tubuh bagian kanannya. Warna putih di sana sudah berubah menjadi merah gelap yang cukup lebar. Steve menutup matanya lagi. Biasanya ia hanya akan merasa sakit sekitar dua sampai tiga jam setelah tembakan, tapi ini sudah delapan jam dan rasa sakit itu masih ada, bahkan luka itu belum menutup!

Steve merasakan gelombang rasa takut yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Projek: Rebirth di Brooklyn tahun 1942. Dengan susah payah ia menggeser dirinya ke tepi tempat tidur dan terjatuh, menimbulkan sedikit bunyi debam yang teredam. Pemuda itu menggenggam tepi lemari kecil di samping tempat tidurnya untuk berdiri dan hampir jatuh lagi kalau saja tangannya tidak sempat menjangkau dinding lebih dulu. Matanya menangkap cahaya dari arah kamar mandi dan dengan susah payah serta langkah goyah, Steve memasukinya.

Matanya tertuju pada lemari obat di balik kaca di atas wastafel. Ia sama sekali tidak tertarik dengan bath tub super megah dan mengilap di sisi kirinya, atau kilauan dinding dan lantai yang dilapisi marmer, tidak, sama sekali tidak. Steve sempat tersandung saat melewati bath tub namun ia bisa menggapai tepi bak wastafel lebih dulu. Pandangannya tidak fokus, tapi ia bisa menemukan tonjolan kecil di samping cermin dan menariknya, menampilkan deretan beberapa botol sampoo, sabun, deodoran, losion, antiseptik, obat-obatan lain, dan alat cukur.

Itu dia.

Genggaman Steve semakin kuat dan ia bisa merasakan sedikit bagian tepi bak itu dalam beberapa serpihan berada dalam tangannya saat ia melawan 'serangan' lain di seluruh tubuhnya. Ia menahan napas saat berusaha memfokuskan pandangannya, mencari-cari tumpukan kecil persegi empat yang dibalut kertas.

Ia meraih salah satu bungkusan kecil datar itu dan membukanya cepat, menampilkan kilauan tajam dari silet cukur di depannya. Steve menelan ludah. Jika ini bisa membantunya menyelesaikan rasa sakit ini, maka ia akan melakukannya.

.


Lima menit sebelumnya ...

"Selamat datang, Nona Potts."

Pepper baru saja memasuki lift di lantai dasar saat suara JARVIS dengan aksen Inggrisnya yang kental menyapanya. Wanita itu baru saja selesai melakukan presentasi di depan para investor utama Stark Industry. Pertemuan itu berjalan mulus, memang, namun diwarnai dengan beberapa adu mulut dan bukan tugas yang mudah untuk memilih kata-kata yang bagus saat seseorang memojokkanmu dan membuatmu merasa ingin melempar wajahnya dengan sepatu. Wanita itu menghela napas sembari memijit-mijit puncak hidungnya. "Terima kasih, JARVIS. Bagaimana kabar di atas? Kuharap tidak ada 'masalah'. Terutama dari Tony."

"Anda bisa tenang karena hari ini Tuan Stark tidak menimbulkan masalah apa pun, Nona Potts, kecuali sedikit ledakan di laboratoriumnya saat melakukan eksperimen pakaian khusus untuk dan bersama Dokter Banner."

Yap. Tidak ada 'masalah', batin Pepper sambil memutar bola matanya.

"Namun saya sarankan Anda segera menuju kamar Tuan Rogers, Nona Potts." Suara JARVIS kembali terdengar bersamaan dengan munculnya angka 57 di atas pintu.

Kali ini pernyataan sang A.I. menarik perhatiannya. "Kamar Steve? Ada apa dengan Steve? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan yang lain? Dimana mereka?" tanyanya sedikit panik.

"Tuan Stark dan Dokter Banner masih bekerja di laboratorium. Tuan Thor, Tuan Barton, dan Nona Romanoff sudah tidur di kamar mereka masing-masing. Namun Tuan Rogers sedang dalam keadaan mengkhawatirkan dan saya tidak diizinkan untuk memberitahu Avengers yang lain."

Mengkhawatirkan? Keadaan seperti apa yang membuat seorang Steve Rogers berada dalam situasi yang mengkhawatirkan? Dia seorang Captain America. Dia Captain America! Perlahan, rasa cemas mulai menggerogoti wanita itu. Ia bersyukur Tony menciptakan A.I. yang sangat cerdas seperti JARVIS. Pepper mulai bisa menebak-nebak perintah pemuda itu untuk JARVIS. Oh, yeah. Steve tidak bilang JARVIS tidak boleh memberitahu orang lain yang bukan bagian dari Avengers. "Kalau begitu, tolong bawa aku langsung ke lantai Steve, JARVIS."

"Sudah saya lakukan, Nona Potts."

Pintu baja berwarna cokelat itu terbuka dan menampakkan simbol perisai kebanggaan Amerika di dinding. Wow, JARVIS, kau memang pintar, gumam Pepper kagum. Wanita itu segera melangkahkan kakinya yang jenjang menyusuri lorong kecil dan sampai di depan pintu yang terbuka secara otomatis—terima kasih lagi, JARVIS.

"Steve?" suara Pepper menggema dalam ruangan yang gelap. Ia sempat ragu untuk masuk ke kamar pria—selain Tony, tentunya—apalagi ini kamar Captain America, pahlawan nomor satu di rumah Paman Sam. Namun melihat kondisi kamar yang gelap, kasur yang berantakan dengan selimut yang sudah menjulur sebagian ke lantai dengan posisi yang aneh, dan tidak ada sosok Steve di sana membuat Pepper melangkah masuk tanpa ragu. Ia menyadari pintu kamar mandi yang terbuka dan cahaya kuning yang berasal dari pantulan marmer. Pepper mempercepat langkahnya saat menemukan sedikit noda merah di atas seprai. "Steve?" panggil wanita itu lagi sambil menjurkan kepalanya dari tepi pintu kamar mandi.

Matanya membelalak saat mendapati pria pirang bertubuh kokoh yang ia cari sedang berdiri dengan napas memburu di depan wastafel sambil memegang silet hanya beberapa senti dari tangannya. "Oh, Tuhan! Steve! Apa yang kau pikirkan?!" tanpa pikir panjang Pepper langsung berlari ke arah pemuda itu untuk menyingkirkan apa pun yang ada di tangannya.

Beberapa tetesan darah terlebih dulu mengalir dalam jumlah banyak ke bak. Steve menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan jeritan yang mendesak keluar, saat ujung tajam silet itu mengiris dalam permukaan telapak tangan kirinya. Pepper segera menyambar tangan kanan Steve dan melepaskan benda tajam itu sebelum melemparnya jauh-jauh. Matanya tertuju pada darah yang masih mengalir dengan deras. Sebaris umpatan keluar dari bibir tipisnya saat Pepper menghidupkan keran dan meletakkan telapak tangan Steve di bawahnya. Sang CEO bisa merasakan tangan Steve yang menegang namun genggaman tangannya masih kuat. "Sial, Steve. Apa yang kau pikirkan?".

Steve menggeleng pelan. "Kau ... tidak mengerti ..."

"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau jarang bicara tentang masalahmu dan tiba-tiba saja memutuskan kalau bunuh diri adalah tiket ekspres menuju akhirat?"

Steve menarik tangannya dan semakin menggeleng. "Tidak. Kau salah. Kau tidak mengerti. Lihat, Pepper, lihat."

"Aku sudah melihat apa yang kau lakukan dengan jelas, Steve."

"Tidak! Lihat!'" Pemuda itu menyodorkan tangannya lagi ke depan yang mulai dinodai darah baru.

Pepper menautkan alisnya. Apa yang salah? Luka itu jelas luka yang dalam dan masih mengeluarkan darah segar. Pemandangan itu mulai membuatnya mual. Namun apa yang salah? Apa yang berbeda?

Mata Pepper membulat dan langsung menyambar tangan Steve untuk memperhatikannya lebih dekat, tidak menggubris tetesan-tetesan baru yang menodai lantai. Steve meringis namun tetap diam, berkonsentrasi untuk mengatur napasnya.

"Steve, kau berdarah. Maksudku, kau masih berdarah, banyak." Pepper melihat mata Steve, memastikan bahwa apa yang dilihatnya nyata. Sang CEO kembali memerhatikan luka itu. "Aku tidak mengerti. Tony pernah bilang kalau kau punya sistem metabolisme 4 kali lebih cepat dari biasanya dan luka-lukamu sembuh sendiri dengan cepat. Tapi ..."

"Kau masih beranggapan aku ingin mengakhiri hidupku sendiri?"

"Urm. Maaf soal itu tapi, hei, apa reaksi yang kau harapkan saat melihat seseorang berdiri dengan senjata tajam hampir mencium tangannya? Ah sudahlah. Kita harus mengurus tanganmu dulu," wanita itu berlari ke ruang utama, membuka lemari es kecil di bawah lemari kecil di samping tempat tidur, dan mengeluarkan sekantung penuh es batu dari freezer. Pepper berlari lagi dan meletakkan kantung es itu di telapak tangan Steve yang terluka. Ia membantu pria itu untuk duduk di atas penutup closet dan berlutut di depannya. Wanita itu menghela napas dan menyeka poninya yang menjuntai menutupi matanya. Pandangannya kini tertuju pada noda merah lebar di sisi kanan pemuda itu. "Ayo temui Bruce. Dia masih ada di lab dengan Tony dan kita bisa memintanya menjahit lukamu. Kau berdarah sangat banyak," ujar Pepper sembari menyeka tepi bibir Steve pelan dengan tisu.

Steve menarik tangannya dari genggaman Pepper. Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi Steve yang sedih dan kesakitan—Pepper sangat tahu pemuda di depannya ini berusaha menyembunyikannya tapi usaha itu sama sekali tidak berhasil. "Tidak, Pepper. Aku tidak ingin mereka tahu. Tidak Avengers mau pun S.H.I.E.L.D."

"Kenapa?" tanyanya lembut dan pelan, menatap iris biru itu lekat, mencari kebenaran di dalamnya.

Steve mengalihkan pandangannya, tidak sanggup memandang mata bulat berwarna hijau itu. Tentu saja ia tidak ingin Avengers atau pun S.H.I.E.L.D. tahu. Bagaimana kalau dugaannya benar? Bagaimana kalau ternyata efek super serum itu telah habis? Berakhir? Selesai? Tidak ada lagi Captain America. S.H.I.E.L.D. membutuhkan Captain America. Captain America lah bagian dari Avengers, bukan Steve Rogers. Jika tidak ada lagi Captain America, maka tidak ada lagi Steve Rogers. Tidak di abad 21. Memikirkan semua itu membuat Steve merasa ketakutan itu kembali lagi. Ia tersentak saat merasakan sentuhan lembut di tangannya yang tidak terluka dan terkejut saat melihat kedua tangan yang kurus dan lentik mengatupnya lembut. Ia baru sadar kalau tangannya gemetar.

"Steve, apa pun yang sedang kau pikirkan, apa pun yang kau takutkan tidaklah benar—oke, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan jadi mungkin saja itu benar—tapi intinya adalah, kau tidak sendiri, Steve, kau memiliki kami. Kami temanmu. Natasha, Thor, Clint, Bruce, Tony, aku, Rhodey, Happy, bahkan JARVIS adalah temanmu. Apa kau memercayai kami?"

"Kau tidak akan sendiri."

Oh, Peggy. Betapa pertanyaan itu mengingatkannya pada pembicaraannya dengan Peggy di malam kematian Bucky. Perasaan rindu yang menyesakkan mulai menyerangnya. Andai Peggy ada di sini ...

Belum sempat Steve menjawab, Pepper segera bediri dan menarik tangannya. "Ayo, Steve. Kita akan pergi menemui dokter. Bukan dokter pribadi Tony atau dokter S.H.I.E.L.D. Dokter umum, rumah sakit, klinik, apa pun. Kita tidak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Aku tidak mau dipanggil untuk menjadi saksi atas kematian Steve Rogers sang Captain America yang ditemukan kehabisan darah di kamar mandinya."

Steve tertawa kecil sembari berusaha berdiri dan sempat terhuyung sebelum Pepper menyangganya dengan susah payah. Pemuda itu menggumamkan kata maaf dan terima kasih saat mereka berhasil keluar dari kamar mandi.

"JARVIS, tolong panggil Happy dan minta dia bersiap di lobby," perintah Pepper sigap dengan nada CEO-nya yang khas.

"Segera, Nona Potts."

"Pepper," panggil Steve lirih, menyadari bahwa 'serangan' yang menyerang tubuhnya sudah berhenti dan ia merasa sangat lelah saat ini. Pemuda itu tetap berusaha untuk terjaga dan berdiri sendiri karena ia tahu Pepper tidak akan sanggup menyokong tubuhnya. Saat matanya dan mata Pepper bertemu, wanita itu tahu apa yang hendak dikatakan sang Kapten.

Ia tersenyum tipis. "Tenang, Steve. Mereka tidak akan mendengar apa pun soal ini dariku kecuali kau menginginkannya. Kau bisa percaya padaku."

"JARVIS?" tanya Steve dengan suara serak.

"Saya jamin anggota The Avengers yang lain tidak akan mendengar apa pun dari saya tentang kejadian malam ini di kamar Anda, Tuan Rogers."

Steve ikut tersenyum dan merasa dadanya terasa sedikit lebih lapang.

.


"Selamat pagi, Tuan Rogers. Sekarang pukul 7.00 pagi dengan suhu 72 derajat dan cuaca cerah dengan kemungkinan sedikit berawan di siang hari. The Avengers yang lain sedang menikmati sarapan pagi di lantai 70 dan Tuan Stark bertanya jika Anda ingin bergabung atau tidak."

Steve mengerjap beberapa kali saat JARVIS menggeser tirai berwarna hijau lembut dan membiarkan cahaya matahari menyeruak masuk ke penjuru kamar. Ia merasa seluruh tubuhnya kaku dan kalau boleh jujur, ia sangat ingin kembali tidur di atas kasurnya yang empuk dan hangat. Namun risiko tentang teman-temannya yang khawatir membuatnya bangkit dan merasa sedikit pusing karena tindakannya yang terburu-buru.

Steve masuk ke kamar mandi dan segera mencuci mukanya dengan air hangat di wastafel. Matanya sedikit membulat namun dengan cepat berganti dengan tatapan datar yang diiringi helaan napas. Piyama yang biasanya melekat sangat pas di badannya kini terlihat longgar meski tidak begitu drastis. Ia memutar-mutar bahunya dan meraba otot bisepnya. Masih terbentuk namun tidak sekencang kemarin. Setelah menggosok gigi dan menyisir rambutnya, kini ia bingung tentang baju yang harus dikenakannya agar perubahan bentuk tubuhnya tidak begitu menarik perhatian Avengers yang lain, terutama Bruce. Sentilan tentang diet dari Tony pun sangat tidak menarik perhatiannya untuk memakai kemeja yang biasa ia kenakan. Jadi Steve hanya bisa menggaruk belakang kepalanya di depan lemari pakaian yang terbuka.

"Tuan Rogers, ada paket dari Nona Potts di atas meja kerja Anda."

"Paket?" Alis Steve bertaut. Seingatnya ia tidak menerima tamu lagi setelah kembali dari rumah sakit bersama Pepper tadi malam. Namun kebingungannya segera berganti saat ia ingat bagaimana Pepper bisa masuk ke kamarnya tadi malam. Steve sekarang mengerti kenapa Tony sering memanggil JARVIS 'pengkhianat'.

Pemuda itu berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar dan menemukan bungkusan kotak yang agak besar berwarna cokelat. Ia membuka bungkusan itu dan tersenyum melihat apa yang ada di dalamnya.

.

"Wow, Cap! Aku tidak menyangka akhirnya kau mau membuka diri tentang mode abad 21!" seru Tony dengan mata membulat saat Steve melangkah masuk ke ruang santai dimana seluruh teman-temannya sudah berkumpul.

"Lupakan dia, Cap. Tony hanya tidak bisa mengeja kalimat 'kau terlihat bagus' dengan baik," timpal Natasha dengan seulas senyum di bibirnya dari kursi mini bar, "ada apa dengan tanganmu, Cap?"

Steve bisa merasakan pipinya menghangat dan hanya mengangkat kedua bahunya. "Ceroboh saat memakai pisau cukur?" Ia mengenakan celana jins dan sebuah jumper warna putih yang diberikan Pepper dalam paketnya. Saat menyadari sosok Pepper yang sedang menuangkan kopi di gelasnya sendiri di samping Tony, pemuda itu segera mendekat untuk mengambil minumannya sendiri.

"Pagi, Pepper," sapa pemuda itu dengan gelas kosong di tangannya dari samping wanita itu.

"Hai, Steve! Bagaimana perasaanmu?" balasnya dengan nada cerianya yang biasa namun Steve mengerti maksud sebenarnya dari pertanyaan itu.

"Baik dan ... um ...," ia berjalan ke belakang Pepper dan sedikit menunduk, "terima kasih untuk ini," bisiknya pelan.

Pepper tertawa dan hanya mengibaskan tangannya. "Sama-sama, Tuan Rogers. Kau memang perlu sedikit modernisasi."

"Wowowow, ada apa ini. Nona Potts, apa terjadi sesuatu di antara kalian yang tidak aku—sang jenius Tony Stark—ketahui? Capsicle, apa yang kau lakukan dengan Pepper-ku?" tanya Tony dengan kedua alisnya yang terangkat.

Natasha dan Pepper memutar bola mata mereka yang diiringi erangan dari arah sofa di depan TV mendengar kalimat itu. "Tidak ada yang terjadi dan aku bukan Pepper-mu, Tuan Stark."

Clint dan Tony mulai saling melempar ejekan yang disusul tawa Thor. Bruce menggumamkan soal acara TV yang ingin dia tonton dan kata-kata 'diam' yang tidak digubris siapa pun. Bahkan Natasha dan Pepper ikut bergabung dengan Clint dan Tony di sela ejekan mereka yang memanas.

Steve tersenyum di atas kursinya di samping Natasha, menikmati semua keributan itu. Semua kehangatan dan interaksi unik yang sudah lama tidak ia rasakan akhirnya menyelimutinya. Ia berharap ia bisa terus menikmati pagi-pagi seperti ini, tanpa panggilan berbahaya dari Nick Fury atau serangan alien dan teroris yang melelahkan. Ia masih ikut tertawa saat Clint mengatakan sesuatu tentang Monyet Terbang sebelum genggaman tangannya di tepi cangkir terlepas dan merasakan tetesan panas di sekitar kakinya. Ia bahkan tidak mengerti kenapa suara-suara di sekitarnya berubah menjadi bisikan-bisikan aneh yang tidak jelas dan saling bertumpuk saat pandangannya mulai dipenuhi kabut dan dunianya berputar. Yang ia tahu hanya rasa sakit yang sangat hebat menjalar di seluruh tubuhnya seolah seluruh tubuhnya tertimpa reruntuhan bangunan dan ia tidak bisa bernapas. Ia merasakan lehernya tercekat dan terbatuk beberapa kali sampai tubuhnya menegang. Ia menangkap sesuatu yang berwarna merah serta keributan lain dan semuanya menghilang menjadi panggung berlatar hitam.

.


TBC


.

Okee, chapter 2 is up! Maaf kalo ternyata terlalu lama di update-nya. Kebiasaan. #plak.

Every critics and comments are accepted! Terima kasih untuk para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir dan para reviewer!

I appreciate them a lot! :D Jaa~