Old Man

By Ritsu-ken

The Avengers © Marvel & Paramount Picture

T rated

Friendship/Tragedy

(bermaksud) Canon, OOC, time skip, typo(s), miss-eyd, abal, first fanfic in this fandom~


Chapter 3


.

Pancaran sinar yang menyusup melewati jendela berbingkai baja menjadi hal pertama yang ditangkap mata Steve. Telinganya pun perlahan menangkap sesuatu yang berdengung dan bunyi alarm di sampingnya. Pemuda itu menutup matanya sejenak, merasakan kehangatan nyaman yang berasal dari matahari pagi meski dengan beberapa suara mengganggu di sekitarnya. Sedikit keributan di pagi hari adalah hal normal di Stark Tower. Ah, pagi yang normal ...

Benarkah?

Matanya dengan cepat terbuka lagi dan ia segera duduk. Steve menyesal karena tindakannya barusan membuat seluruh tubuhnya menegang dan terasa linu. Ia menutup matanya erat—menahan sakit—dan entah kenapa alarm di sampingnya menjadi semakin berisik.

"Steve! Tenang, Bung! Kau aman! Aku di sini, kau aman!"

Steve membuka sebelah matanya dan menoleh ke asal suara. Suara itu ... "'Ony?"

"Ya Steve, ini aku. Sang milyuner, jenius, dermawan, playboy satu-satunya yang kau kenal," pria itu terlihat linglung dan sepertinya bingung dengan apa yang harus ia lakukan, "akan kubawakan air, diam di sana dan cobalah untuk tidak banyak bergerak!" Pria bermata cokelat itu berbalik, mengambil sebuah gelas kertas dari atas lemari kecil di samping ranjang dan dengan cepat menuangkan air putih dari teko ke dalamnya. Sepertinya pikiran pria itu sendiri sedang teralihkan karena Tony mengumpat saat air yang ia tuang tumpah karena terlalu penuh. Ia cepat-cepat mengelap tangan kirinya yang basah di kaos kelabunya dan kembali menghampiri Steve.

Steve mengulurkan tangannya untuk menerima gelas itu namun Tony hanya mengangkat tinggi gelas di tangannya sebelum membawanya langsung ke depan bibir sang pemuda pirang. Steve, dengan tangannya yang bergetar hebat, masih berusaha memegang gelasnya sendiri namun hanya berhasil menyentuhnya di pantat gelas. Suara alarm yang ia dengar tadi tidak seberisik sebelumnya namun masih berbunyi. Steve melirik ke arah suara menjengkelkan itu—ah, ternyata itu suara dari monitor berlatar gelap dengan beberapa gelombang hijau, terlihat seperti sebuah alat monitor jantung.

Alat monitor jantung?

Steve mengangkat wajahnya—sekaligus sebagai tanda bahwa ia telah selesai—lalu mulai menyapu keadaan di sekitarnya dengan kedua mata birunya. Dinding bercat putih bersih, AC, bentangan tirai hijau muda kebiruan di sebelahnya, kursi di samping tempat tidur. Tempat tidur ..., tapi ini bukan kamarnya. Selain itu, mesin-mesin tadi dan kabel-kabel serta selang yang terpasang di dada dan tangannya ...

"Selamat datang di Bagian Medis Hellicarier, Capsicle! Aku akui tempat ini memang suram dan sangat sesuai untuk lokasi pengambilan gambar film horor, tapi paling tidak mereka punya AC dan bukan kipas angin. Untuk lampunya? Bersinar seperti ide-ide yang selalu berkeliaran dalam otakku," ujar Tony, menarik perhatiannya.

Steve menoleh dan kali ini ia baru menangkap wajah Tony secara keseluruhan. Pria itu terlihat lelah dan pasti kurang tidur karena kantung mata dan lingkaran hitam yang mengitari matanya benar-benar jelas, tidak perlu menyebut jenggotnya yang belum dicukur dan rambutnya yang kusut ke segala arah. "Apa yang terjadi padamu, Tony?"

"Aku?" ia tertawa miris, "seharusnya aku yang bertanya padamu, Bung. Apa. Yang. Terjadi. Padamu?"

"Aku? Kenapa aku?"

Tony mendengus dan berbalik memunggungi Steve sambil menyeka seluruh rambutnya ke belakang. Bahkan Tony masih bisa mendengar teriakan-teriakan Steve yang membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding di kepalanya. Ia masih ingat jelas sosok Natasha yang langsung berlutut dan berusaha menarik perhatian Steve dengan mengajaknya berbicara—yang tentu saja gagal. Bruce pun langsung berlari dari sofa nyamannya dan bergabung dengan Natasha setelah mendorong yang lain untuk memberi mereka ruang lebih lapang. Clint langsung mengambil pisau saku dari balik punggung dan menoleh ke segala arah dengan siaga untuk mendeteksi adanya ancaman. Thor merentangkan tangannya dan beberapa detik kemudian ia sama siaganya seperti Clint dengan Mjolnir di tangan kanannya. Pepper sibuk berbicara dengan siapa pun di ponselnya dan Tony ... ia hanya bisa diam. Pikirannya kosong saat Steve mulai mengeluarkan percikan darah bersamaan dengan batuknya. Sampai Pepper menarik bahunya dan memanggil namanya.

"Tony!"

"Umm, Tony?"

"Naah, lupakan," ujar pria itu sambil mengibaskan tangannya. Ia menarik kursi dan kembali duduk di samping pemuda itu. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum menopang sikunya di kedua paha dan mengatupkan kedua tangannya di depan dagu. Pria bermata cokelat itu menatap sang pasien dengan tajam. "Baiklah Steve, apa ada sesuatu—apa pun—yang perlu kau beritahukan padaku? Pada kami?"

Steve terdiam. Bahkan pergerakan kecil dari jari Steve yang menegang tidak luput dari pengamatan Tony namun pria itu memutuskan untuk diam ... dan menunggu. Pemuda pirang yang masih bingung itu pun merasa tertolong saat desis pintu otomatis kamar itu terdengar. Tony memutar bola matanya dan menyandarkan punggungnya di kursi saat beberapa suster dan dokter masuk dengan pakaian putih mereka sambil membawa map berisi kertas-kertas-entah-apa.

Seorang pria dengan usia sekitar 40-an berhenti di sisi lain ranjang Steve dan tersenyum. "Selamat pagi, Captain Rogers, Tuan Stark. Maaf mengganggu—"

"Yeah, yeah~ Kalau kau sudah tahu kalau kalian mengganggu, cepatlah selesaikan gangguan kalian ini dan pergi," sela Tony datar dengan sentuhan sarkatisnya seperti biasa.

"Stark!" tegur Steve sambil mendelik pada sang milyuner.

"Apa? Hanya memperjelas." Pria itu hanya mengangkat bahu dan kembali menaruh jari telunjuk kanannya di antara bibir atas dan hidungnya. Awalnya Steve masih ingin mendebat namun ia menangkap sesuatu yang aneh dari Tony. Tatapannya kosong seperti tiap kali sesuatu sedang berputar di kepalanya dan ia lebih 'diam'—oke, diam Tony Stark dan orang lain memang berbeda. Namun Steve yakin sebenarnya Tony bisa lebih sarkatis dan terus melontarkan ocehannya saat ini. Lalu kenapa?

Sang dokter menghela napas dan mengeluarkan senter dari kantung Snelli-nya. "Baiklah, Steve. Kami akan memeriksa keadaanmu sebentar jadi tolong berbaring sejenak."

Steve mengangguk dan merebahkan dirinya lagi sekaligus mencari posisi yang lebih nyaman. Para suster sibuk mencatat dan memeriksa beberapa peralatan yang tersambung di sana sedangkan sang dokter sibuk menanyakan beberapa hal seperti 'bagaimana perasaanmu', 'merasa nyeri atau tidak', dan berbagai hal lainnya sambil terus melakukan inspeksi.

Setelah selesai, dokter tersebut tersenyum dan merasa sedikit puas dengan kemajuan yang terlihat dan mengucapkan terima kasih serta menganjurkan beberapa hal. Ekspresinya sedikit berubah saat ia bertemu pandang dengan sang presiden Stark Industries. Tony hanya mengibaskan tangannya sedikit dan berkata pelan, "Biar aku yang urus."

Lagi, Steve hanya bisa menatap mereka bergantian dengan bingung.

Sang dokter mengangguk pelan dan pergi diikuti para suster. Tidak menunggu lama setelah bunyi klik terdengar, Tony langsung mencondongkan badannya lagi dan menatap Steve. "Oke, Steve. Aku ingin jawaban."

Steve mengambil posisi duduk kembali meski agak susah karena seluruh badannya masih terasa kaku. "Aku yang seharusnya berkata begitu, Tony. Apa maksud perkataanmu pada dokter tadi? Ada apa dengan sikapmu hari ini yang ... entahlah ... janggal?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Capsicle. Aku bertanya padamu duluan dan kau belum menjawab. Jadi aku bertanya lagi padamu, apa ada sesuatu yang perlu kau beritahu padaku, pada kami?"

Steve menggeleng. "Sungguh, tidak ada. Kenapa kau bertanya begitu? Aku bai—"

"JANGAN BERI AKU OMONG KOSONG 'BAIK-BAIK SAJA'-MU ITU!" sahut Tony kesal. Ia segera bangkit dan berjalan mengitari ruangan dengan gelisah. Pria itu sibuk memutar-mutar jarinya yang saling bertaut di depan dada sambil mengeluarkan serentetan umpatan dengan suara rendah.

Steve mengerjap beberapa kali sebelum matanya mengikuti punggung orang itu. Ia yakin, ia sangat yakin kalau Tony mengetahui sesuatu. Sesuatu yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat sejak beberapa hari yang lalu. Pemuda itu mengalihkan pandangannya. Cengkraman kedua tangannya di permukaan selimut semakin erat.

Terdengar helaan napas berat dan Steve merasakan beban tambahan di atas kasur dekat kakinya. Tony bahkan tidak heran mendapati pemuda berusia 90-an itu yang enggan menatapnya. Well, mungkin membentak 'anak nakal' bukan keputusan yang bijak. "Kau tahu, Cap? Ambruk tiba-tiba di lantai dapur seorang Tony Stark lalu menjerit ditambah kejang-kejang ... itu ... itu—kau tahu—sama sekali tidak keren. Tidak tahu sama sekali penyebabnya, itu super tidak keren dan menjengkelkan."

Tidak mendapat reaksi apa pun dari lawan bicaranya, Tony melanjutkan. "Dengar, Steve. Kita ini tim, bahkan kita tinggal dalam satu atap! Apa kau masih belum percaya pada kami?"

"Kau sudah tahu."

"Ya. Kami semua tahu. Tenang, Pepper dan JARVIS sama-sama diam soal kejadian malam sebelum kau ambruk," pria itu tertawa miris, "bahkan kau bisa membuat anak dan istriku memihakmu—tapi itu bukan masalah. Sama sekali bukan masalah. Kami tahu dari hasil pemeriksaan yang S.H.I.E.L.D. lakukan. Yang paling membuatku kesal—tidak, aku marah—adalah kau tidak mengatakan sepatah kata pun soal ini pada kami! Apa kau tahu bagaimana rasanya melihat temanmu tumbang tanpa tahu apa-apa—dan yak! Aku baru saja mengakui kalau aku berteman dengan Captain Stone America!"

"Aku tidak mau membuat kalian khawatir."

"Kau sudah melakukannya."

Keheningan mengambil alih. Steve menegakkan tubuhnya dan menarik napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang cerah dipenuhi awan putih yang bergerumul dengan tatapan kosong. Tony merasa sedikit tidak enak—ya, Tony Stark merasa tidak enak—melihat bahu Steve yang biasanya tegap kini dibiarkan lemas begitu saja. Entah kenapa Steve terlihat seperti remaja besar yang tersesat meski jenggot tipis yang tidak dicukur sejak tiga hari yang lalu mulai merambati dagunya. Terkadang Tony lupa kalau lelaki di depannya ini jauh lebih muda sekaligus jauh lebih tua dari dirinya dan teman-temannya yang lain. Tony menghela napas dan menjatuhkan dirinya di atas kursi tempatnya semula.

"Maaf ..."

Tony membalas dengan gumaman. "Yeah, Cap." Aku juga minta maaf, sambung Tony dalam hati. Tentu saja, Tony Stark tidak meminta maaf di depan orang lain. "Sekarang kita punya hal lebih penting yang harus dipikirkan."

.


TBC


.

Maaf!

Maaf banget karena udah update-nya super lama, chapter kali ini pendek pula #mojok. Makasih untuk KatziusTheKyoujinuntuk PM-nya. Serasa diguyur air biar sadar dan kembali ke arsip yang udah dibiarkan menjamur di laptop #sigh.

Saya gak akan mengelak dan membuat alasan, pure kemalasan karena meski idenya udah ada tapi bingung gimana cara nulisnya #taboked.Again, I'm sorry...

Every critics and comments are accepted! Terima kasih untuk para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir dan para reviewer: karinuuzumaki, IndyCinnamon, Phantomhive Black Lupin, Tiburontooth, KatziusTheKyoujin, dan skyesphantom!Juga terima kasih untuk readers yang udah ngikutin dari chapter 1 sampai sekarang. It means a lot :')

See you in the next chapter! :D