Old Man
By Ritsu-ken
The Avengers © Marvel & Paramount Picture
T rated
Friendship/Tragedy
(bermaksud) Canon, OOC, time skip, typo(s), miss-eyd, abal, first fanfic in this fandom~
Chapter 4
.
"Kau yakin soal itu, Direktur?"
"Seratus persen, Dokter Banner. Kami telah melakukan uji coba yang sama sembilan belas kali dan hasilnya tetap sama."
"Buat menjadi dua puluh kalau begitu."
Bruce dan Fury yang sedang berdebat seketika menoleh ke arah pria berkaos kelabu yang baru muncul di persimpangan lorong. Mereka sedang berkumpul di lorong depan laboratorium yang dipakai Bruce dulu saat insiden New York. Clint, Natasha, dan Thor yang berdiri di samping mereka ikut menoleh saat Tony berhenti tepat di depan mereka.
"Bagaimana kondisi Steven, Pria Baja?" tanya Thor dengan rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan dari suaranya.
"Bangun dan tetap menjengkelkan," jawab Tony cepat.
Clint menghela napas lega. "Dia baik-baik saja kalau begitu."
Tony berbalik menghadap Clint dan mendelik. "Tidak, Otak Burung, dia tidak baik-baik saja. Apa aku sudah menyebutkan otot-otot tubuhnya yang terus menegang dan tremor yang terlihat di tangannya?" sanggahnya sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Tidak, kau belum menyebutnya." Natasha menyahut.
Tony kini berbalik menatap Natasha tajam dan berkata, "Well, aku baru saja menyebutnya."
Natasha sudah menegakkan kedua bahunya dan siap menyalak saat Clint maju dan menempatkan dirinya di antara mereka. "Teman-teman, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Masih ada Cap ingat?"
Kalimat itu berhasil membuat keduanya menghela napas dan memalingkan muka sejenak untuk menenangkan diri mereka masing-masing.
"Apa Steven sudah tahu berita ini?" tanya Thor tenang.
"Aku belum memberitahunya, tapi kurasa ia sudah tahu apa yang tidak kuberitahukan padanya." Tony mengusap wajahnya dengan tangan kanan dan menyilangkannya lagi di depan dada. "Kalian tidak melihat wajahnya saat itu. Dia terlihat ... tersesat? Entahlah. Dia memang tersesat secara harfiah—mungkin setengah harfiah."
Mereka semua terdiam, membayangkan sosok Steve yang selama ini terus berusaha terlihat tegar dan menyembunyikan kebingungannya, kini benar-benar terlihat 'tersesat' di depan Tony, yap, Tony Stark. Natasha menghela napas berat dan segera berbalik. "Akan kuberitahu dia. Bagaimana pun dia akan mendengar ini cepat atau lambat secara jelas."
"Tidak—tunggu, Nat!" Clint mencengkram lengan sang mata-mata. Clint sedikit bergidik mendapati mata rekan kerjanya yang menatapnya sangat tajam. "Biar aku," saat Natasha hendak membantah Clint cepat-cepat menambahkan, "Nat, biarkan ini menjadi pembicaraan antarlelaki, oke? Ini bukan waktu yang pas untukmu. Kau mengerti, kan?"
Natasha menghela napas panjang dan merilekskan dirinya. "Ya, kurasa kau benar," wanita itu menyeka rambutnya ke belakang telinga, "Aku akan berkeliling untuk mengontrol penjagaan Steve dan lab."
"Aku akan bicara pada Allfather dan Loki untuk mencari tahu. Mungkin mereka tahu bagaimana cara menyembuhkan Steven," ujar Thor lalu mengangguk singkat dan mempersilakan diri, mengikuti Natasha.
"Semoga perjalananmu menyenangkan, Point Break," timpal Tony tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku ... erm ... akan kembali ke lab kalau begitu. Tidak banyak yang bisa kulakukan di sini." Bruce memutar-mutar jemarinya seperti biasa dan mengangguk kecil pada Clint, Tony, dan Fury. "Mungkin sebaiknya kalian mendiskusikan tentang ... kalian tahu ... bagaimana Steve 'ke depannya'."
Clint, Tony, dan Fury bergidik saat mendengar kalimat terakhir Bruce. Ke depannya ... itu masalah rumit. Clint ikut mempersilakan diri dan meninggalkan bos serta rekannya dengan tepukan pelan di bahu Tony.
Keheningan mengambil alih cukup lama sampai Tony berbalik cepat dan menatap Fury tajam. "Kalau kau berpikir kau bisa mengurung Rogers di sini sebagai bahan penelitianmu atau membuang dia ke jalan karena kau tidak membutuhkannya lagi, kau sebaiknya pergi keliling dunia untuk melengkapi koleksi penutup matamu dan bersembunyi, Nicky, atau kami akan memburumu."
Fury hanya bergeming dan balas menatap Tony tajam, terbiasa dengan ancaman dan gertakan orang di depannya ini, tidak perlu menyebutkan tingkah menyebalkan dan merepotkannya. "Ada tiga hal yang perlu kuperjelas di sini, Stark. Pertama: koleksi penutup mataku lebih dari cukup. Kedua: kondisi Rogers saat ini memang perlu diteliti dan dianalisis untuk mencari solusi penyembuhannya, dan aku dan kau sama-sama tahu kalau kau bukan seorang sicientist yang berkelut di bidang biomolekuler, berbeda dengan Banner, tapi sudah jelas kalau Banner tidak bisa memecahkan masalah ini sendirian dan kita tidak punya waktu. Wita membutuhkan bantuan sebanyak-banyaknya: orang-orangku. Ketiga ...," Fury maju selangkah dan menusuk-nusukkan telunjuknya pada Arc Reactor Tony, "Captain Rogers akan tetap ada di sini atau tidak bukan kau yang memutuskan, Stark. Rogers sendiri yang memutuskan. Kau mengerti segala perhitungannya, kan?"
Sedalam apa pun Tony membenci pernyataan itu, ia tidak bisa membantahnya. Fury menghela napas dan menurunkan jarinya. "Yang bisa kujanjikan padamu saat ini adalah aku tidak akan membuang Rogers."
Tony tersenyum menyindir dan mendengus. "'Saat ini', eh? Aku lupa kau bergerak di bawah Dewan-Dewan Pelempar Nuklir."
"Stark—"
"Kita lihat nanti."
.
Clint sibuk berdebat dalam hati selama perjalanannya menuju ruangan Steve. Apa yang harus dikatakannya? Sangat mudah mengatakan pada Natasha kalau ia yang akan menangani soal ini 'secara lelaki', tapi lihat kenyataannya! Sulit sekali, Bung.
Karenanya, saat Clint mengangguk singkat pada kedua agen S.H.I.E.L.D. yang berjaga di kedua sisi pintu Steve dan masuk setelah memasukkan kode yang ada pada tombol di samping pintu, pria itu tidak mengira akan menemukan sosok Steve yang sedang melingkar di sisi kanan tubuhnya bersamaan dengan selimut putih yang ia tutupi hingga bawah matanya. Clint tersenyum. Steve benar-benar terlihat seperti anak kecil yang bersembunyi dari monster malam hari di waktu tidur.
"Kau tidur, Cap?" tanya Clint sambil menarik kursi dekat ranjang dan menjatuhkan dirinya begitu saja.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir," jawab Steve dengan suara yang agak teredam karena tertutupi selimut.
"Ingin berbagi?"
"Bukan apa-apa." Pemuda itu menghela napas panjang dan menyingkirkan selimutnya. Steve mengambil posisi duduk lebih mudah dari saat pertama ia bangun dan memfokuskan pandangannya pada Clint. Mendapati ekspresi aneh di wajah pria itu, Steve bertanya. "Ingin berbagi tentang apa yang kau pikirkan, Agen Barton?"
Clint mendengus mendengar panggilan itu. "Sudah kubilang, panggil aku 'Clint', Cap. Kau memanggilku seolah kita baru bertemu satu-dua kali."
Steve tersenyum kecil. "Clint, kalau begitu. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Ironi. Lihat siapa yang sedang berada dalam masalah di sini, dan dia bertanya apa ada yang mengganggu pikiranku? Clint menghela napas dan mengusap kedua wajahnya sebelum menopangkan kedua lengannya di atas paha dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak akan basa-basi. Ada yang harus kuberitahukan padamu, Steve."
Pemuda pirang itu terdiam mendengar Clint menyebut namanya kali ini. Ia menegakkan bahunya dan menatap Clint lekat, bersiap menerima apa pun yang akan keluar dari bibir pria itu. "Ini tentang serum itu, kan?"
"Yeah, ini tentang serum itu. Tony benar, Steve—meski aku benci mengakuinya—tapi kali ini ia benar. Superserum-mu sudah mencapai masa kadaluarsanya."
Steve mengernyit saat merasakan sedikit nyeri yang baru saja muncul di tubuhnya. Ditambah mendengar berita itu secara blak-blakan, naah, meski ia sudah bersiap ternyata tetap terasa menohok juga. "Aku tahu ... Aku merasakannya sejak beberapa hari yang lalu."
"Dan kau tidak berpikir sama sekali untuk memberitahu kami?"
"Aku minta maaf. Tapi ada yang lebih penting dari hal ini yang perlu kalian pikirkan," balas Steve, keras kepala seperti biasanya. "Waktuku sepertinya sudah tiba, kan?" Ia terkekeh kecil mengingat-ingat nasibnya. Menjadi seorang Steve Rogers yang hanya seorang lelaki kurus sakit-sakitan, berubah menjadi Captain America, ikut dalam Perang Dunia Dua, tertidur dalam es selama hampir 70 tahun, berperang melawan alien, dan mati hanya beberapa waktu setelahnya.
"Kita masih belum tahu efeknya. Jangan bicara seperti itu, Cap."
"Tapi aku merasakannya, Clint."
Clint bersandar di punggung kursi dan mengusap wajahnya yang menatap langit-langit dengan kedua tangan sambil meluruskan kakinya. "Geez, kurasa sekarang aku mengerti kenapa Tony bisa terlihat sangat kesal setelah bicara dengan sisi keras kepalamu ini, Cap. Kau benar-benar menyebalkan. Optimislah! Kau pemimpin kami, ingat? Pemimpin macam apa yang menyerah sebelum menghadapi musuhnya?"
Steve meletakkan telunjuknya di bawah dagu. "Kurasa aku tahu apa yang menyebabkan Tony terlihat sangat kesal dan emosional mengenai hal ini," ujarnya mengabaikan kata-kata sang assassin.
Clint kali ini menopang pipi sebelah kirinya dengan malas, merasa tidak dihiraukan. "Apa?"
"Ini tentang tanggung jawab."
Clint menaikkan sebelah alisnya. "Tanggung jawab?"
Steve menurunkan jarinya dan meremas selimut yang menutupi kakinya. "Ya, Clint, tanggung jawab. Urm ... kau mengerti, kan?"
Pria itu terdiam sejenak dan mulai memroses makna tersirat dari perkataan Steve. Mengerti, pemuda itu membelalakkan matanya dan duduk tegak. "Tidak-tidak-tidak. Jangan bilang ... jangan bilang kau akan ..."
Steve hanya mengangguk pelan, sebenarnya ia sendiri tidak yakin dengan keputusan dadakannya ini. "Maaf aku tidak memilihmu?"
"Aku tidak peduli soal dipilih atau tidak—darn, aku justru senang! Tapi ... oh tidak! Ini mimpi buruk! Aku tidak mau bekerja di bawah komando pria itu, Steve! Yang benar saja!"
"Tenanglah dan coba pikirkan baik-baik, Cli—"
"Tidak akan!" Pria itu bangkit berdiri dan segera menghampiri pintu. "Kau sebaiknya pulih secepatnya—tidak—hindari dirimu dari masalah, lebih terbukalah pada kami, katakan masalahmu, dan tetap optimis karena Bruce dan para scientist lainnya—bahkan Thor—sedang berusaha mencari cara untuk menyembuhkanmu! Sebaiknya kau tidak menyerah, Cap, atau aku akan menghajarmu. Masa depanku ditanganmu."
Steve tertawa kecil melihat reaksi yang tidak diduga dari Clint. Ia tahu benar bahwa Clint pun menyadari kalau keputusannya adalah keputusan yang paling tepat—suka atau tidak. Ia harus bicara dengan Tony nanti. "Akan kucoba, Clint. Akan kucoba."
Clint keluar dan menutup pintu dengan kesal.
.
Umm, maaf? *innocent*
Bahkan lagi-lagi saya harus diingatkan sama KatziusTheInfected untuk ngelirik lagi arsip ini. Ahahah, maaf dan terima kasih lagi, ya Katz! Ehehehe #geplaked# *gaktobattobat*
Hwaaaa pokoknya saya minta maaf banget karena masalah update lama ini susah banget diubah sama sayaa. Mana chapter kali ini pendek pulaa *bejeked* T_T
Saya makasih banget dan terharu banget sama reviewer dan readers yang masih setia dan rela baca fic ini~ It is something.
Every critics and comments are accepted! Sampai ketemu di chapter selanjutnya! ^^
