Hari ini aku mulai masuk akademi. Tousan mau juga datang di upacara penerimaan murid baru berkat Niisan. Semua hanya melihatku sebagai adik Itachi Uchiha...
Di sana ada anak kecil seumuran denganku. Rambutnya pirang, tampak begitu riang. Tapi mengapa semua menjauhinya? "Jangan dekat-dekat anak itu." seseorang bilang padaku.
Dia bodoh, aneh. Selalu melakukan hal-hal konyol. Dia selalu gembira, selalu tertawa, riang. Seperti sinar matahari awal musim semi, melelehkan salju.
Kenapa, kenapa Niisan melakukan ini? Mengapa dia begitu tega? Siapa dia yang selama ini kukenal?
Aku sendirian, sendirian...
Aku selalu ada di luar lingkaran. Melihatnya bertingkah konyol dari tepian. Aku ini berada di bawah bayang-bayang, melihat ke tempat terang. Aku mungkin yang paling pintar di kelas, tapi aku iri melihatnya. Hidup tanpa beban, melompat-lompat, menuangkan seluruh dirinya di sana. Betapa iri aku pada orang yang tidak perlu hidup dengan dendam dan kemarahan.
Hari ini ujian kelulusan. Dia gagal lagi, ketiga kalinya. Tapi, hei, gagal berulang kali dan bangun lagi itu hal yang mengagumkan. Mengapa dia bisa sekuat itu?
Anak-anak lain pulang dijemput orangtuanya. Aku pulang sendirian seperti biasa. Naruto, kecewa, duduk di ayunan di depan sekolah.
Naruto, maukah kau menemaniku pulang hari ini saja? Aku butuh seseorang untuk berbagi momen menggembirakan kecil ini. Tapi ketika aku hendak membalikkan badan memanggilmu, kubatalkan. Kau pasti tersinggung, mengiraku menghina ketidaklulusanmu. Aku berjalan sendiri, hanya bisa berharap kau beriringan denganku.
Hari ini pembagian tim. Mengapa kau ada di sebelahku? Bagaimana caranya kau lulus? Tapi untunglah, untunglah, kau ada di sini. Kalau aku cukup beruntung kita bisa dijadikan satu tim.
Dan insiden itu... Kau memandangiku lekat-lekat. Mengapa kau begitu dekat? Bertahun-tahun tak ada sentuhan manusia menghampiriku, tapi hari ini... Bibirmu begitu hangat, kebekuan ini nyaris saja mencair, tapi... tapi... aku tak mau ada orang yang tahu tentang hal ini... Di kamarku aku hanya bisa mengguratkan momen itu dalam-dalam di pikiranku, bagaimana itu tadi terasa. Aku tahu, itu tak akan terjadi lagi selamanya, kau nyaris saja muntah setelah kejadian tadi, tapi bolehkah aku mengenangnya?
Kau memang keras kepala, dengan segala kenaifanmu kau coba merebut lonceng dari Kakashi-sensei, berakhir dengan diikat di tonggak. Kau satu-satunya yang tidak mendapat bento. Aku hanya makan separuh pun tak apa, mana bisa aku membiarkanmu kan? Kalau kita tidak ketahuan kita bisa merebut loncengnya... Dan ketika kita bertiga lulus karena hal sederhana ini...
Haku terus menyerangmu... terus... Tidak, tidak! Kau bisa tewas! Tidak boleh terjadi lagi, orang yang kusayangi pergi tanpa bisa kucegah. Tak apa, menukar nyawa dengan hidup orang yang kaucintai tak terlalu buruk juga. Kupikir ini saatnya aku berpisah dengan kehidupan, tapi ternyata masih ada kesempatan untukku. Tahukah kau, saat kau menangis lega saat tahu aku selamat, aku merasa begitu berharga. Matahari sudi menangis untukku.
Gigitan dingin mengerikan Orochimaru di tengkukku, katanya dia akan memberiku kekuatan. Tapi... tapi... ini menakutkan... Naruto... Naruto... hentikan aku!
Mengapa yang menghentikanku Sakura, bukan kau?
Itachi, dia, dia kembali! Mengincarmu... Kupastikan hidupnya akan berakhir di tanganku hari ini!
Tapi aku begitu lemah, baginya aku hanya seekor semut kecil. Mengapa begini, mengapa begini? Aku tak mau menerimanya! Tak mau! Aku tak mau jadi orang yang selalu harus diselamatkan! Sementara kau... kau... melesat dengan cepat ke ketinggian.
Kakashi bilang jangan mengejar dendamku, karena itu hanya meninggalkan kekosongan. Mudah saja dia bicara! Bagaimana aku bisa memaafkan Itachi?
Dibanding pion-pion Orochimaru pun aku tak ada apa-apanya. Kekuatan... Ya... di sana! Hidup damai seperti ini hanya membuatku lemah. Selamat tinggal kedamaian. Selamat tinggal juga kegembiraan. Selamat tinggal juga matahari dan langit biru...
Benar, kau pasti mengejarku. Tahukah kau bagaimana rasanya memutuskan untuk pergi, meninggalkan orang yang paling berharga bagimu? Aku sudah bertekad, kulangkahkan kakiku menjauh, tapi hati ini mulai goyah. Aku harus memutuskan ikatan itu... selamanya...
Kau tak mengerti, kau tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan segalanya, bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian. Bagimu ikatan ini tak boleh putus, karena inilah ikatan yang akhirnya kaudapatkan... Kau tak mengerti, hidupku bukan di masa depan, tapi di masa lalu...
Padahal aku bisa memperoleh kekuatan, tapi tak sanggup kuakhiri hidupmu dengan tangan ini... Kau terlalu... terlalu... Hhhh... aku tak mau mengikuti jejak Itachi.
Entah pertarungan ini akan berakhir bagaimana. Aku sudah memutuskan untuk pergi, tapi sebagian hatiku berharap aku dipukul pingsan dan diseret pulang...
Maaf Naruto, aku harus pergi... Lupakan saja aku pernah ada... Selamat tinggal. Kau pasti baik-baik saja tanpa aku.
Aku harus memulai kehidupan yang keras di Oto. Menyerap apa saja yang diajarkan Si Ular Tua itu padaku. Harus berhati-hati, aku tak mau kakek itu mengambil alih tubuhku, dengan segala akal kubuat dia menunggu dan menunggu. Tak sekali dua kali kulihat sorot mata yang memancarkan nafsu tak wajar terarah padaku. Rencana balas dendamku tak boleh gagal.
Dan tahukah kau bagaimana sakit rasanya berada di keremangan, padahal sebelumnya kau berada di tempat terang? Rasanya aku ingin lari saja, kembali di tempat yang dilimpahi cahaya, tapi aku tahu, tempatku bukan di sana, melainkan ada di bawah bayang-bayang. Aku hanya bisa memandang ke arah cahaya, merindukannya, menginginkannya seperti kecanduan.
Dan kita bertemu lagi. Dasar kau keras kepala, tetap saja ingin menyeretku pulang. Kutahan agar wajah ini tetap datar dingin, padahal, tahukah kau, bermacam perasaan berkecamuk dalam pikiranku. Aku harus berakting, berpura-pura, padahal, bisa melihatmu lagi setelah sekian lama... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku hanya bisa terdiam, memandangmu...
Selamat tinggal, kakakku. Tapi bagiku kau sudah mati sejak dulu, yang tewas di hadapanku adalah musuhku...
Madara melemparkan semua kenyataan itu ke wajahku, kisah kakakku, kisah Itachi-niisan. Ternyata... ternyata... Selamanya baginya aku adalah adik kecil kesayangannya... Bagaimana dia harus menanggung semua beban itu sendirian... bagaimana Niisan harus membunuh semua orang yang dekat dengannya... Tapi denganku dia tak sanggup. Dan Konoha, Konoha! Harus membebankan semua itu padanya, membuatnya jadi penjahat! Tak akan kuampuni! Tak akan!
Desa ini sudah cukup hancur. Tapi di tanganku akan jadi debu. Tak akan ada yang cukup kuat untuk melawanku, pasti. Tapi di sana, Naruto berdiri. Dia sungguh berbeda, sorot matanya... Rasanya aku tak mengenalinya. Dia mencoba menghentikanku, sudah kuduga.
"Kau tak pernah mengerti rasanya ditinggalkan sendirian!"
"Justru kau yang tak mengerti! Aku selalu sendirian, Sasuke! Dan setelah kau masuk dalam hidupku, kau pergi! Kau pikir aku tidak merasa kehilangan?"
Semuanya... semuanya... Ternyata aku... aku... hanya cangkang kosong yang digerogoti dendam...
"Naruto, hanya kau, hanya kau... satu-satunya..."
Kau memaafkanku, tanpa syarat. Kau menerimaku kembali...
Kau mengagumkan. Selalu. Hanya saja sekarang yang melihatnya bukan hanya aku, seluruh desa. Kau pahlawan. Dan aku... Sangkaan para tetua yang menganggap klanku akan menbawa bencana, akulah yang mewujudkannya...
Apakah bersamamu lagi hanyalah mimpi yang terlalu indah untukku? Apa aku pantas mencintai seseorang, padahal akulah yang menyebabkan satu-satunya keluargaku yang tersisa menjemput kematian?
Kau sekarang tinggal sedikit lagi mewujudkan impianmu sejak lama. Mungkin yang orang katakan benar, tak pantas calon hokage terlalu akrab dengan pengkhianat sepertiku. Desas-desus beredar bahwa kita terlibat hubungan terlarang. Oh, aku berharap itu benar adanya... Sungguh aku egois.
Bunga krisan putih di tanganku ini, kupetiki kelopaknya satu-satu. Putus asa mencoba menebak bagaimana perasaanmu padaku.
Kau mencintaiku... Tidak... Kau mencintaiku... Tidak... Kau mencintaiku... Tidak...
Tak mungkin kan kau mencintai seorang pria?
Hidupmu sudah cukup lelah dihantui prasangka yang telah menimpamu sejak kecil, tak perlu ditambah lagi dengan stigma. Lebih baik kau tak mencintaiku, aku tertawa pahit. Harapan ini lebih baik kupendam saja. Aku tak ingin kehilangan satu-satunya orang yang dekat denganku.
Yang terberat dalam mencintai seseorang bukan saat mencintai orang yang jauh, tapi saat kita mencintai orang yang begitu dekat.
"Aku mencintaimu jauh dari lubuk hati Sasuke, sejak dulu, sekarang, dan akan selalu begitu."
Kau... kau... ternyata...
Yahaaaaaaa! Bab duanya selesai juga! Sebenernya aku lagi ujian :p, tapi waktu ngiseng idenya keluar, kurang dikit, ya dibikin sekalian aja.
Beginilah usaha saya mengintip, menafsirkan dan menggambarkan apa yang tersimpan di kepala Sasuke tentang Naruto. Dan usaha ini sangat terbantu dengan lagu-lagu t.A.T.u, terutama Loves Me Not (lagu-lagu mereka emang top buat nulis yaoi angst ;p).
Buat teman-teman semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca dan meramaikan kolom review cerita ini, terima kasih banyak. Seperti yang ditulis dalam Chicken Soup for the Writer's Soul, menulis seperti mengirimkan pesan bersandi ke ruang angkasa. Bisa berkomunikasi dengan para pembaca adalah suatu hal yang sangat berarti.
Suka cerita ini? Tertarik berkomentar? Punya saran? Seperti biasa silakan klik tombol review di bawah halaman ini. Sankyu! ^_^
