Hari itu hari yang cerah di Konohagakure seperti biasanya. Ada yang istimewa, siang itu Naruto akan dilantik sebagai Hokage. Sakura dan Naruto berdua gelisah dalam kantor Hokage. Sudah lewat setengah jam dari waktu perjanjian mereka, Sasuke belum juga muncul menampakkan batang hidungnya, padahal tiga puluh menit lagi pelantikan akan dimulai.
"Kususul saja dia, Naruto"
"Ah, ya. Jangan-jangan dia malah belum bangun. Tidur telat kebanyakan minum kopi semalam kali."
"Bingung milih baju malahan jangan-jangan"
Naruto dan Sakura mencoba bercanda, menutupi kegalauan dan kerisauan yang tak dapat terjelaskan dalam hati mereka.
Sakura lalu berjalan dengan gelisah ke arah apartemen tempat Sasuke tinggal sendirian.
Ah, kenapa ini, pikirnya. Mengapa aku begitu gelisah karena Sasuke belum muncul juga. Apa terjadi sesuatu padanya? Ah, tidak, tidak. Kurasa karena hari ini pelantikan Naruto makanya aku jadi senewen karena kami bertiga belum lengkap. Mungkin telat gara-gara dia mencari sesuatu atau apalah. Kuomeli dia nanti. Lalu kami datang di pelantikan, gembira karena Naruto sudah berhasil mencapai impiannya dan pulangnya akan kuseret membantu menyelidiki hilangnya obat penenang di rumah sakit sebagai hukuman karena telat...
Sakura tiba juga. Di depan apartemennya dia masih melihat semua sandal Sasuke tertata amat rapi, hampir tak wajar rasanya. Diketuknya pintu. Dipanggilnya temannya itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tak ada jawaban.
Sakura baru menyadari bahwa pintu apartemen itu tidak terkunci.
"Sasuke?" Sakura memanggil lagi, masih tak ada jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk.
Kamar apartemennya sama rapi dan sama tak wajarnya dengan bagian luarnya. Degup jantung Sakura makin keras.
Ada sesuatu! Pasti ada sesuatu!
Sosok Sasuke terbaring di atas tempat tidur. Sakura mengguncang bahunya.
"Sasuke, bangun..."
Ada yang salah.
Dada Sasuke tidak naik turun. Tidak ada hembusan napas yang hangat.
Dia...
Dipegangnya pergelangan tangan Sasuke. Tak ada denyut.
Kemasan-kemasan kosong obat penenang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Dia baru menyadari sekarang ke mana perginya obat-obat itu.
Sakura berlari keluar, menuruni tangga cepat-cepat. Berlari di jalanan. Tak peduli apa yang orang lain pikirkan melihatnya seperti itu. Sambil berlari Sakura merasakan matanya jadi basah. Yang ada di pikirannya hanyalah bertemu dengan Naruto secepatnya.
Langit masih juga cerah.
Tangan Sakura gemetar saat hendak memegang handel pintu ruangan tempat Naruto berada. Terpaksa dikuat-kuatkan dirinya dan diputarnya handel dan didorongnya pintu membuka.
"Naruto... ada Kakashi-sensei juga... Tolong ikut aku..." suaranya bergetar.
Melihat Sakura seperti itu, Naruto dan Kakashi hanya mengikuti Sakura tanpa bicara. Sunyi, dengan penuh tanya gelisah dalam hati Naruto.
Mereka sampai di ambang pintu apartemen Sasuke. Sakura paling depan, Naruto di belakangnya, disusul Kakashi.
"Naruto..., Sasuke..." kata-kata Sakura terhenti, ditekapkannya tangan ke mulut dan tangisnya pecah. Naruto langsung berlari ke dalam. Kakashi dengan langkah berat masuk, matanya penuh kesedihan memandang Naruto mendekap tubuh tak bernyawa Sasuke dengan air mata terus mengalir tanpa suara.
Kakashi melihat sebuah amplop di meja samping tempat tidur. Untuk Naruto, begitu tertulis di atasnya.
Kakashi berbicara dengan hati-hati, "Naruto.., ini untukmu..."
Naruto mengangkat wajahnya memandang Kakashi, Sasuke masih di pelukannya. Diambilnya amplop itu, dibuka dan ditariklah surat di dalamnya. Naruto menarik napas membaca surat untuknya.
Naruto, maaf aku tak bisa datang dalam pelantikanmu sebagai Hokage, walaupun aku sudah berjanji. Lebih baik begini, aku hanya akan mencorengkan arang di wajahmu kalau aku datang.
Maaf aku mengambil keputusan seperti ini. Hidupmu akan jauh lebih baik kalau aku tidak ada. Aku hanya akan mencelakakan orang yang menyayangiku. Aku ini cuma benalu, parasit, menukar hidup kakakku dengan hidupku sendiri. Aku tak ingin hal yang sama terjadi padamu.
Aku selamanya akan jadi awan gelap saja, menutupi sinarmu yang harusnya menerangi banyak orang. Aku hanya akan menjadi beban bagimu, merintangi kakimu. Mungkin harusnya kita tak pernah bahkan berteman, bahkan bertemu. Keberadaanku hanya akan membawa penderitaan.
Aku yakin setelah aku pergi, kau akan berhasil melalui semuanya, melanjutkan hidupmu dan bahagia.
Selamat tinggal, Naruto.
Mencintaimu selamanya
Sasuke
PS: Tomat ceri hadiah darimu kukembalikan. Tidak bisa tumbuh subur kalau kurawat.
Tangan Naruto terkulai lemas, surat wasiat Sasuke meluncur lepas dari jemarinya. Didekapnya lagi tubuh Sasuke erat-erat. Air matanya sampai membasahi bahu Sasuke. Dipanggil-panggilnya nama kekasihnya.
"Sasuke... Sasuke... kau bercanda kan... Bukalah matamu... Kumohon..." katanya putus asa.
Kakashi dan Sakura merasa hati mereka amat perih teriris melihat pemandangan itu. Mereka berdua hanya bisa tercekat kesunyian yang memilukan hati.
Kakashi akhirnya memberanikan diri bicara, "Naruto... apa perlu kita tunda pelantikanmu?"
Naruto menyeka air matanya, "Hanya untuk mempersiapkan persemayaman Sasuke saja."
!#$%^&*()
Naruto mencuci mukanya dan mengompres matanya dengan air dingin, menghilangkan sembab di kedua matanya. Dia mencoba untuk tersenyum, seolah tidak ada tragedi yang baru saja mendatangi hidupnya. Bagi Sakura apa yang dilihatnya itu tak kalah menyakitkannya dengan kepergian Sasuke. Entah sudah keberapakalinya Naruto menutupi luka hatinya dengan senyum. Selalu berusaha menjadi orang yang bisa diandalkan, sandaran bagi banyak orang, menghibur orang yang bersedih, sementara disimpannya sendiri dukanya. Menampakkan wajah tenang pada dunia, sementara hatinya sendiri remuk redam.
"Naruto..."
"Nggak apa-apa kok, Sakura. Ayo, pelantikannya sebentar lagi mulai."
Di luar, matahari bersinar terik dan terang tak terganggu.
!#$%^&*()
Tak banyak orang yang melayat. Hanya Shikamaru, Ino, Chouji, Kiba, Hinata, Shino, Neji, Lee, Tenten dan Sai. Naruto pun tak banyak bicara. Hanya mengatakan bahwa dia sangat berterima kasih mereka semua mau datang malam itu. Lebih banyak Naruto hanya diam di depan jenazah Sasuke. Dan malam itu Naruto berkeras menunggui jenazah Sasuke, menolak tawaran Kakashi yang mengatakan bahwa biar dia saja yang di sana, bahwa Naruto seharusnya pulang dan istirahat agar tidak jatuh sakit.
Pemakamannya juga sama sepinya. Hanya yang kemarin malam melayatlah yang datang.
"Naruto, ayo pulang, pemakamannya sudah selesai."
"Sakura dan Kakashi-sensei pulang duluan saja, aku masih mau di sini."
Naruto terus berdiri terpaku di depan makam Sasuke selama dua jam. Kakinya tak mau beranjak dari sana. Langit pun akhirnya menumpahkan air hujan begitu deras ke bumi. Naruto tidak peduli.
Sakura datang dengan membawa payung. Diulurkannya payung yang masih terlipat di tangan kanannya pada Naruto. "Pulang yuk." begitu katanya.
Naruto menerima payung dan membukanya, berjalan pulang di samping Sakura tanpa bicara. Saat mereka berdua sampai di depan rumah Naruto, Sakura bicara dengan hati-hati dan ragu-ragu, "Kalau... kalau kamu perlu sesuatu... aku... aku... siap membantu."
Naruto tersenyum lemah, "Makasih, Sakura. Aku nggak 'pa-'pa kok."
"Ah... gi... gitu ya..."
"Ini payungnya kukembaliin."
"Oh, makasih... Aku pulang dulu."
"Hati-hati Sakura."
Naruto gemetaran membuka pintu rumahnya sendiri. Dia masuk. Korden-kordennya tak ada yang terbuka, dibiarkannya saja. Dienyakannya tubuhnya di atas tempat tidur, bersandar pada dinding, menyelonjorkan kaki. Dalam keremangan kamarnya, dia terpekur berpikir.
Apakah dia sendiri yang mendorong Sasuke mengambil tindakan sedrastis itu. Apakah ungkapan cintanya justru akan menambah pandangan sinis dan menghina terhadap Sasuke. Tidakkah dia terlalu lemah untuk menjadi tempat bersandar Sasuke?
Sakura berjalan pulang sendirian di bawah gerimis, perlahan-lahan sambil berpikir. Entah sejak kapan ia memahami bahwa ada cinta di antara Naruto dan Sasuke. Tidak ada kesadaran yang menghentak pikiran, hanya ada pengertian perlahan-lahan yang begitu wajar dan tak terasa.
!#$%^&*()
Hari dan bulan berlalu. Selama itu pula Naruto menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya sebagai Hokage. Tak pernah Naruto membiarkan dirinya termenung, karena jika begitu dia kembali akan terbenjiri duka kehilangan Sasuke. Dan Sakura tak berani bertanya. Dan Sakura melihat pula, altar arwah di rumah Naruto sekarang bertambah satu foto di dalamnya.
Sasuke.
Tahun-tahun pun berlalu. Semua teman-temannya akhirnya mapan dan menikah, termasuk Sakura sendiri. Tapi Naruto...
Senja itu Sakura sedang berjalan dengan putrinya, yang rambutnya sama pink dengan miliknya, melewati pemakaman.
"Ah, Okaachan! Itu Naruto-jichan!"
"Biarkan Naruto-jichan sendiri di sana, Sayang."
"Kenapa begitu?"
"Karena dia sedang mengenang orang yang penting untuknya. Orang yang mengisi ruang hatinya, yang tak tergantikan." Sakura paham betul Naruto berdiri di depan makam siapa.
Putrinya hanya menatap Sakura tak mengerti. Dan Sakura berhenti, memandang sahabatnya di bawah sinar matahari senja.
AN: Selesai! Begitu balik Jogja habis PKL teru bikin ini deh. Ya gini akhirnya. Bikinnya lagi-lagi sambil dengerin lagu-lagu t.A.T.u ^ ^
Seperti biasa, kalau berminat ngreview silakan manfaatkan tombol cantik di bawah.
