OhaKonniKonbaOya Minna-san! Ini update-annya chap 4. Saya lagi mood jadi cepet updatenya. Ya sebenernya gacepet-cepet banget sih ya tapi... (readers : udah gak usah basa-basi! Berisik!)

Oke-oke fine-_- Oke bales ripiw dolo :

Hinata-san : Ne, gaada peralatan lengkap kek dokter yang dikirim Tsubasa~ yah tapi itu sih di otak daku doang~ Hehe.

Karena baru dua hari di post mungkin ya chap 3? Ripiw nya baru satu~ Ah biarlah, yang penting saya bales._.

Yuumo : Ada yang mau baca disclaimernya Minna?

Nagisa : Aku, Author!

Yuumo : Eh Nagisa, kan ceritanya kamu buta!

Nagisa : Aku apal kok. Eh btw kan 'ceritanya' hehe~

DISCLAIMER - Cerita ini punya neng Yuumo, tapi 00nye, lagunye, akb-nye punya mamang Yasushi Akimoto~

WARNING - Typo, Alur Gaje, Genre Gaje, Latar Gaje, semua-muanya gaje deh pokoknya.

Yuumo : Baru tau gue orang buta bisa baca. Okeh, back to story.

-[]-

"Jarum itu berisi mantra sihir.." Dokter nya masang wajah agak serius

"Apa?! Mantra Sihir?!" Semuanya kaget

"Iya mantra sihir." Muka si dokter masih biasa aja.

"Apa?! Mantra Sihir?!" Semuanya masih kaget

"Iye, bawel lo semua." Dokternya mulai kesel

"Ciyus,miapa,eloh dok?" Tiba-tiba semuanya pake bahasa gaul gitu?

"Sekali lagi gue keluar nih ye." Dokter nya udah bener-bener kesel

"Oke,oke. Fine." Semuanya merasa bersalah.

"Hm.. Mantra sihir macam apa dok?" Yukirin menimpal.

"Mantra sihir yang hanya bisa sembuh kalau yang memberikan mantra pada jarum itu mati atau ilmunya hilang. Tapi mantra ini akan permanen dalam 2 minggu." Dokter itu mulai serius lagi.

"Bagaimana bisa? Kita semua saja tidak tahu siapa pelakunya!" Yuuka mulai memerah.

"Tunggu Minna!" Nagisa menyambar.

"Apa,Nagisa?" Yuuko menjawab Nagisa.

"Tadi malam Chieri bilang, orang itu adalah yang menjadi Takamina palsu saat hari pertama sekolah kemarin. Orang itu yang menculik Takamina juga. Ada bekas luka di leher nya. Tadi malam saat aku belum buta, aku melihatnya. Tingginya sekitar 187 cm." Nagisa menjelaskan

"Apa kau melihat mukanya?" Sayaka menimpal

"Tidak. Malam itu sangat gelap. Mukanya tidak kelihatan." Nagisa melanjutkan

"Uh! Terus bagaimana?" Semuanya panik

"Sabar dulu, aku belum selesai," Nagisa nyaut lagi.

"Kemarin, ada guru kesenian. Namanya Omoe. Lagaknya sih agak aneh. Chie juga bilang ke daku, kalo dia curiga sama Omoe-sensei." Nagisa melanjutkan lagi.

"Omoe ya?" Yuuko mulai memutar otaknya (Author : Emang lo punya otak, Yuuko? Yuuko : Punya lah! Kalo gak punya, gue gabisa ngapalin koreografi dong!)

"Yup, Omoe Kirisame." Nagisa meyakinkan.

"Baiklah, terimakasih ya, Dok." Yukirin menyudahi urusan dengan dokter itu sekarang.

"Baiklah,"

"Arigatou Gozaimasu!" Semuanya mengucap begitu sambil membungkuk. Yang gak membungkuk Nagisa doang. Sonata gak ngucap apa-apa juga gak membungkuk. Iyalah, dia lagi gak sadar diri!

"Doushiteshimashite!" Lalu dokter itu minggat

Mereka semua melanjutkan pembicaraan.

"Jadi bagaimana, ada yang punya rencana?"

"Hm, aku punya." Si Cyborg tiba-tiba nyamber kek petir.

"Firasat gue ko jelek dah?" Yuuko yang udah tau kelakuan Mayu kalo punya ide gimana, langsung punya firasat gaenak.

"Udah dengerin aja ide Mayu dulu! Jadi..." Mayuyu mulai serius tapi tetap dengan palm face nya

"Um.. Oke juga. Tumben Mayuyu!" Yuuko mengejek tapi juga mengakui ide Mayuyu itu bagus.

"Siapa dulu dong! Cyborg Mayu Watanabe Type 3!" Sambil memunculkan 3 jarinya menandakan angka 3.

Semuanya sweatdrop.

Hm... Kira-kira apa ya, rencana Mayuyu dan yang lainnya?

Pagi itu jam 7.00 AM... Para tikus-tikus senbatsu dan tikus-tikus kenkyuusei-tidak termasuk NagiSon-berjalan cepat. Menghindar dari tatapan mata elang si kepala sekolah yang pagi-pagi nunggu di depan gerbang sekolah. Kalo ketahuan kan berabe. Bisa-bisa mereka disuruh masuk sekolah.

Eee.. Readers, ini hanya fanfict jadi jangan ditiru dirumah yah (^^")

Begitu udah agak jauh sama gerbang sekolah,

"Kalo dia itu guru di sekolah kita, Zero-0 JHS, pasti rumahnya tidak jauh dari sini." Yuuko memulai menyelidiki.

"Eh, Yuuko, aku merasa ada yang janggal dengan tempat itu." Sae menunjuk satu toko tua bertulisan 'Antique Clock'.

"Hm.. kenapa ditempat seperti ini ada toko tua yang menjual jam antik?" Yuuko juga mulai curiga

"Ayo kita kesana." Mereka perlahan berjalan ke toko itu dan masuk.

Dipintu toko itu ada tulisan : WELCOME! -011103-

"Welcome, nol-satu-satu-satu-nol-tiga? Apa maksudnya?" Suzuko membaca tulisan di pintu itu.

"Ah sudahlah! Abaikan saja! Ayo masuk!" Sayaka mendorong semuanya masuk.

"Kringing!" Suara bel di pintu itu berdering. Suasana didalamnya sepi sekali. Sunyi senyap. Tidak ada orang disitu.

Jam-jam disitu bentuknya antik-antik semua. Bahkan ada yang tidak menyentuh tanah, entah digantung, entah apa.

Tiba-tiba, mereka sampai di ujung ruang setelah melihat isi toko itu. Ujung ruangan itu dihiasi oleh pintu kayu yang setengah rapuh. Bertuliskan huruf jepang kuno (eh emang ada? Saya tidak tahu pastinya. Yang pastinya itu cerita ini cuma fanfict) bertuliskan..

"Um... Aku menyerah untuk membacanya!" semuanya mencoba untuk membacanya.

Disebelah tulisan itu, berjejer dari atas kebawah, jam dinding antik bermodel sama berjumlah 6 buah. Waktunya berbeda-beda. Acak-acakan.

"Apa maksudnya ini?" Suzuko menunjuk-nunjuk jam-jam itu sambil sesekali membenarkan kacamata-nya yang agak melorot.

"Um, entahlah."

"Jangan-jangan?" Suzuko mencoba memutar-mutar atau menyetel jam itu.

Jam pertama di angka 12. Kedua,ketiga,keempat, di angka 1. Kelima di angka 12 juga. Serta yang terakhir di angka 3.

Tiba-tiba pintu tua reyot itu terbuka dan tiba-tiba ada angin kencang menarik mereka semua masuk. Mereka melalui benda seperti perosotan yang terbuat dari besi, panjang-panjang sangat panjang.

Mereka nggak nyampe-nyampe kebawah. Padahal itu juga kecepatannya lumayan tinggi. Kira-kira 2 jam mereka terperangkap menuruni perosotan itu.

BRAK! Mereka pun sampai di ruang bawah

"AW!" Mereka kadang memegangi pantat/punggung nya yang terkena lantai saat lepas dari ujung perosotan

"Aih, kita dimana? Aku-aku takut!" Makocchi menahan tangis.

Sebuah ruangan tinggi sekali. Temboknya hanya berupa semen berwarna abu-abu. Tidak dilapisi cat atau apa. Ruangan itu sangat seram. Para Senbatsu dan Kenkyuusei berjalan menyusuri ruangan tinggi, besar dan lumayan gelap itu.

"AHHH! APA-APA-APA INI?" Suara Yuuka,Orine,Makoto-agak tergagap-yang tertinggal agak belakang dari yang lain.

"Iyuhh.. Bau amiss!" Yuuka terlihat ingin muntah.

"Aih, kalian itu kenapa si..., OH TIDAK! Darah! Darah! Jangan-jangan, tempat ini milik seorang pembunuh!" Yuuko pemimpin perjalanan itu, kaget saat melihat ke belakang, kearah Yuuka,Makoto,Orine.

"Aku tidak mau berakhir disini..." Makoto tampak sudah tidak tahan untuk tidak menangis

"LARI, MINNA!" Yuuko berteriak. Mereka semua lari, setelah agak jauh, mereka berhenti sebentar

"Huft! Tempat apa sih ini?! Kenapa sangat menyeramkan sih? Aku nyesel kesini!" Mimori menyambar.

Mereka semua mengobrol sejenak sambil melepas lelah.

-[]-

Other Side.

Mereka bertiga mendengar suara yang mereka kenal, mengobrol di dekat ruangan mereka.

"Suara siapa itu?" Takamina bingung dan memberi kode alis terhadap Kanata dan Chieri.

"Aku sepertinya kenal suara itu." Chieri memasang wajah serius

"Itu..itu.." Kanata mencoba mengingat

"Um,um,um!" Takamina memberi kode pada Chieri dan Kanata sambil menggoyangkan kursinya

Kanata dan Chieri langsung mengerti arti kode itu dan langsung mengangguk.

"BRAK,BRAK,BRAK!" Mereka bertiga menggoyangkan kursi mereka sekeras-kerasnya.

Diluar..

"Eh,Minna, suara apa itu?" Yukirin menghentikan pembicaraan.

"Apa? Aku tak dengar apapun!" Sayaka menjawab

"Coba dengar lagi Sayaka!" Yukirin mencoba meyakinkan.

"Ya,ya, Yukirin, aku dengar sesuatu!" Yuuko berjalan mengikuti arah suara itu

Setelah berjalan sekitar 20 meter, di sebelah kanan mereka terdapat sebuah ruangan pintunya tertutup rapat.

"Hm, mungkin dari sini sumber suaranya! Mayuyu..!" Yuuko menemukan sumber suara itu dan memanggil Mayuyu

"Baik, Yuuko! Menyingkir dulu semuanya. BOOM!" Mayuyu beraksi dengan palm face. Dia menembak pintu itu dan tembakannya menimbulkan lubang besar yang memungkinkan untuk mereka masuk ke ruangan itu.

Saat mereka semua masuk...

"Ya Tuhan! Chieri?! Kanata?! TAKAMINA?!" Semuanya kaget.

Chieri dan Kanata hanya pasrah. Takamini-eh salah-Takamina memberi kode agar mereka melepaskan ikatannya, Kanata dan Chieri.

"Apa yang terjadi pada kalian?" Yuuko bertanya sambil membuka ikatan tangan Takamina. Yang lain membantu melepas ikatan di tubuh Takamina yang lain. Selain yang membantu Takamina, mereka juga membantu Kanata dan Chieri.

"Ceritanya panjang! Ayo lebih baik kita pergi dari sini dulu." Takamina terburu-buru.

"Tapi darimana?"

Takamina menunjuk ke sebuah tempat-semacam lift-di depan ruangan itu.

"Tapi, aku tidak tahu kuncinya." Takamina lemas.

"Um, mungkin kuncinya yang tadi, Suzuko." Yuuko melirik Suzuko.

"Hm.. Mungkin." Suzuko hanya membalas sambl membenarkan kacamatanya

"Yasudah! Ayo kita masuk sebelum ia datang! Kalau mau tanya nanti saja!" Takamina langsung berlari ke arah lift itu.

"Hai'!" Semuanya hanya mengiyakan dan segera mengikuti Takamina ke lift itu.

Suzuko yang terakhir soalnya dia yang tahu kodenya.

Setelah semuanya masuk, Suzuko mulai mengatur jam-jam yang ada di lift itu seperti tadi. Ternyata benar! Pintunya langsung tertutup dan lift nya naik keatas.

BRUNGGG...Suara lift itu naik keatas, sangat cepat. Lift tua itu juga bergerak-gerak, membuat para senbatsu dan kenkyuusei berteriak.

"BRAK! BRAK! BRAK!" Besi-besi berkarat di lift itu juga sudah mulai lepas semua.

"AHH!" Mereka yang ada di lift tua itu ketakutan. Seperti tadi, mereka terjebak 2 jam di lift itu.

SKIP TIME!

2 jam berlalu, mereka sampai di bagian paling atas.

"BRAK!" Suara lift yang menabrak dinding-dinding. Di depan mereka gelap, gelap. Mereka tidak tahu bagaimana keluar dari lift itu. Tiba-tiba...

"MINNA! Lihat diatas! Ada cahaya yang menembus atap lift ini! Berarti kita bisa keluar lewat situ!" Takamina menyambar.

Atap lift itu agak terbuka sedikit, cahaya bisa masuk lewat situ. Tapi..

"Bagaimana cara membukanya?" Yuuko memutar otak

Tiba-tiba tanpa basa basi,

"Target : [LOCKED] Target : [FIRE]" Si Cyborg tiba-tiba menembak atapnya dan alhasil, atap itu bolong. Dan benar saja, itu jalan keluarnya.

"MAYUYU!" Semuanya marah. 4 siku siku sudah ada dikepala mereka masing-masing.

"Kenapa kamu tidak bilang dulu sih? Kita semua hampir mati tau ga, gara-gara jantungan!" Yuuko siap dengan kepalan di tangannya.

"Oh, gomen ne." Mayuyu membalas dengan palm facenya

SKIP, SKIP, SKIP!

Semuanya sudah keluar, tinggal Takamina, Kanata sama Mayuyu didalam.

"Mayu, kamu keluar terakhir!" Yuuko meneriaki dari atas

Mayuyu hanya diam.

"Uh! Aku tidak bisa menjangkaunya! Terlalu jauh!" Si Takamini kependekan sih!

"Naik ke punggung ku, Takamina-san." Kanata menawari sambil blushing

"E-e-eh? H-hai'!" Takamina naik ke punggung Kanata sambil blushing

Yuuko diatas udah panas aja (Author : sabar, mbak Yuuko, sabar! Yuuko : Ih gimana bisa sabar? Panas tau ngeliatnya!)

Takamina berhasil naik, disusul Kanata lalu Mayuyu yang tadi cari gara-gara.

"Semuanya udah naik ke atas?" Yuuko mengecek

"Sudah semua!"

Mereka berjalan keluar dari toko jam yang bukan toko jam tadi. Mereka agak terburu karena omongan Takamina

"Minna, kurang lebih satu jam lagi orang itu akan datang! Cepat!" Mereka berlari sekencang-kencangnya. Tapi tiba-tiba, jarak 10 meter habis keluar dari toko itu, lelaki itu menghadang mereka.

"Wah,wah, baru aku mau kesana, kalian udah kabur duluan ya? Wah, mangsaku makin banyak!"

"Mau apa lagi kau?" Takamina udah muak sama lelaki ini

"Menculik-kalian-semua.. Hahaha."

"Tidak! Kami tidak mau! Pergi kamu!" Yuuko berteriak melawan.

"Oh, apa aku harus menggunakan sihirku? H,h,h..!" Pria itu tertawa licik.

"Kau tidak akan menang Omoe!" Chieri berteriak yang membuat semuanya kaget.

"Omoe? Omoe-sensei, guru kesenian, maksudnmu?!" Yang lain kaget

Kanata dan Chieri yang sudah mengetahuinya mengangguk, "Ya!"

"Omoe? Guru kesenian sekolah Zero-0?" Takamina yang belum pernah masuk sekolah kebingungan

Lelaki itu-yang diketahui-bernama Omoe, langsung sweatdrop

"Ini kapan ya tarungnya? Gue bosen nih, dengerin lo semua debat!" Omoe berbicara dengan enteng

"Eh, oke-oke! Mayuyu lock target!" Karena semuanya gaada yang bawa micsaber atau apa, mereka cuma bisa andalin Mayuyu.

"Target : [FOUND]"

"Target : [LOCKED]"

"Target : [MAXIMUM FIRE]" Seketika tempat itu ber-abu.

"Uhuk!" Semua anggota terbatuk karena abu itu kecuali Mayuyu

Dari balik abu itu terbentuk bayangan. Ternyata si sialan Omoe itu baik-baik saja, tidak ada yang lecet. Tapi tiba-tiba seseorang menyusul dibelakang Omoe

"CIAAAAAAAAAH!" Omoe tiba-tiba terjatuh dengan bagian dada terkena aspal.

Seorang gadis berambut biru ketua-tua-an dan dikuncir satu ke kiri. Memegang sebuah micsaber dengan kedua tangannya. Wajahnya merah, ia menangis trauma sambil kaget terduduk.

"Makoto! Hebat!" Semuanya memuji Makoto.

"Ayo sekarang kita lari!" Takamina lari buru-buru sambil mengajak yang lain.

Mereka berlari menuju rumah Yuuko

-[]-

Omoe Side.

Ia tersadar dari pingsan sementaranya tadi. Ia teringat bahwa ada yang menusuknya dengan pedang listrik, oh, tepatnya micsaber dari belakang sampai menembus perut depan. Darah dari perutnya berceceran. Ia menyadari semuanya telah kabur darinya

"Uhm,... Awas kalian!"

*POOF!* ia menggunakan tongkat sihirnya lalu menghilang dari tempat itu.

-[]-

Normal Side.

Setelah 100 meter jauhnya mereka berhenti melepas lelah sejenak.

"Aku capek, lapar, belum sarapan!" Mayuyu mengeluh

"Jangan mengeluh dulu Mayu! Aku tidak diberi makan selama 3 hari tau!" Takamina marah-marah, merasa keadaannya lebih buruk daripada si Cyborg.

"Oh," Mayuyu membalas nya sambil palm face. 4 siku-siku merah cabai bertengger di kepala Takamina

"Eh, sudah,sudah! Mending kita meneruskan perjalanan!" Nyan-nyan melerai sambil nyengir.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah homestay Yuuko.

SKIP AGAIN!

Mereka sampai dirumah Yuuko sambil terengah. Mereka masuk dan melepas lelah di sofa empuk di rumah itu

"Takamina, Kanata, Chieri, lebih baik kalian mandi dulu. Kamar mandinya disitu." Yuuko mengarahkan mereka untuk mandi. Jari telunjuknya mengarah ke ruang bertuliskan toilet.

Mereka hanya mengangguk tanda mengiyakan.

-[]-

Selesai para senbatsu dan kenkyuusei mandi membersihkan keringat, mereka menghampiri ke kamar NagiSon.

"ASTAGA, NAGISA KAU KENAPA?" Chieri heboh

"Apa itu Chieri-chan? Aku-aku buta. Karena jarum sihir lelaki yang menculik mu waktu itu." Nagisa bercerita

"Oh Tuhan! Ada apa dengan adikku? Sonata? Kenapa dia tidak bangun-bangun?"

Yuuka menjelaskan semuanya, "Jadi...Blabla..."

"Jadi, Omoe bajingan itu harus kita bunuh agar mereka bisa sembuh?" Takamina kaget

"Ya, begitulah. Tapi Nagisa akan buta dan Sonata akan tidur selamanya jika Omoe itu tidak dikalahkan dalam 2 minggu." Yukirin mulai sedih

"Tapikan... Omoe sudah dibunuh oleh Makoto tadi?"

"Kalau mantranya belum hilang, mereka belum sembuh, berarti Omoe bejat itu belum mati." Kanata berpikir

"Bagaimana caranya? Kita bermodal micsaber atau senjata lainnya, bisa mengalahkan penyihir, begitu? Enggak mungkin!" Mimori pesimis duluan

"Baiklah, kita pikirkan nanti." Takamina menimpal

"Hiks,hiks...Bagaimana nasib Nagisa dan Sonata?" Chieri menangis

Dan ruangan itupun penuh tangisan.

Hm.. Apa si Omoe bisa dikalahkan oleh gadis-gadis itu? Bagaimana nasib NagiSon? Siapa sebenarnya yang menyuruh Omoe melakukan itu?

Arigatou, minna-san for reading...Hontoni Gomennasai, kalau kurang memuaskan ya! RnR please! :D Kalo ada yang typo bilang yah, minna-san!

Ketemu Yuumo lagi di Chap 5 ya! Jane!