Sapphire09: Chapter pertama !!

DISCLAIMER: Naruto itu milik Masashi Kishimoto-sensei....


I. Cermin Api


"Perbuatan yang tidak lagi bisa kutarik... Akan kubayar semuanya, meskipun harus kutukar dengan hidupku."


"Cermin?"

Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari cermin berbentuk lingkaran berdiameter 40 cm yang ada di tanganku ke muka wanita cantik yang memiliki rambut merah lurus yang sepanjang pinggulnya dan memiliki mata berwarna biru. Dia adalah ibuku, namanya Namikaze Kushina. Aku kemudian menatap ibuku dengan penuh tanda tanya. Ibuku kemudian tersenyum.

"Itu hadiah dari ayahmu. Besok ulang-tahunmu, bukan?" katanya. Wajahku seketika menjadi cerah. "Dari Chichi!? Benarkah!?" ujarku tak percaya. Ibu kemudian kembali tersenyum. "Iya, benar."

Aku kemudian mengamati cermin bundar yang ada di tanganku. Cermin itu sangat bersih dan aku bisa melihat bayanganku dengan sangat jelas. Mataku yang biru, rambut pirangku yang panjang, tanda lahirku.... Semuanya terlihat sangat jelas, seolah olah yang kulihat bukan bayangan, tapi orang sebenarnya. Figura cermin tersebut berwarna merah gelap dan ukiran-ukiran indah menghiasi permukaan kayunya.

"Eh? Bentuk ini…," kataku dengan perlahan saat aku menemukan sebuah ukiran yang terletak di bagian atas cermin. Bentuknya seperti lambang…

"Konoha…" tanpa sadar kuucapkan. "Eh? Ada apa, Sayang?" tanya ibuku. Nampaknya dia mendengar apa yang baru saja kuucapkan. Aku bahkan tidak tahu apa yang kuucapkan barusan.

"Hah? Apa?" tanyaku balik. Ibuku kemudian melihatku penuh tanda tanya sebelum dia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Baiklah, kalau begitu. Akan kutaruh cermin ini di kamarku dulu ya, Kaa-san," ujarku seraya berdiri dan menggenggam cermin hadiahku dengan kedua tangan sebelum pergi menuju kamarku di lantai atas.

Setelah sampai, aku meletakkan cermin hadiah Chichi tersebut di atas meja. Aku menatap bayanganku yang terpantul di cermin itu sambil tersenyum. Aku kemudian mendekatkan jariku untuk mengusap permukaan cermin tersebut. Sebelum aku bisa menyentuhnya, tiba-tiba saja bayanganku menghilang dan digantikan oleh pemandangan yang aneh.

Gadis dengan rambut pink... yang sedang memegang sesuatu yang nampak seperti pisau....

Cowok yang memiliki mata berwarna merah, dengan tiga koma hitam mengelilingi pupilnya... nampak terkejut....

Darah dimana-mana... di semua tempat....

Wajah-wajah yang sedih, menyesal.... Marah.

Lautan api.... Membakar semuanya menjadi abu....

Semua gambaran itu melintas begitu saja di cermin itu. Entah bagaimana caraku menangkap semua emosi itu. Tapi,ang paling membuatku kaget, aku kemudian melihat seorang anak laki-laki yang terlihat seperti...

Aku.

Rambut jabrik pirang yang seperti ayah, mata sebiru langit, dan yang paling mengena adalah tanda berbentuk tiga garis berjejer kebawah yang ada di pipinya. Dia menatap lurus ke arahku. Aku kemudian menatap matanya, yang sarat akan determinasi... untuk terus hidup.... Juga kesedihan.... yang membunuhnya dari dalam... dan...

Pengkhiatan.

Aku kemudian melihat bibirnya bergerak, seolah-olah sedang mengatakan sesuatu. Aku mencoba membaca gerakan bibirnya, namun tetap saja aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan.

Mataku kemudian berkedip sekali, dan semua gambar itu hilang. Aku kembali menatap bayanganku sendiri, bukan anak laki-laki itu. Aku kemudian menggosok mataku.

'... Aku mimpi kali, ya?' pikirku penuh tanda tanya. Aku kemudian menggelengkan kepalaku dan melirik ke arah jam dindingku.

'Gila! Sudah jam segini!? Telat deh!' jeritku dalam hati. Aku kemudian menyambar tasku yang berwarna oranye yang sudah terisi dengan buku pelajaranku. Aku kemudian berlari ke lantai bawah dan menyambar sepatuku.

"Aku pergi dulu ya, Kaa-san!" pamitku. Samar-samar, aku bisa mendengar ibuku menyahut dengan, "hati-hati di jalan!"

"Jangan kuatir!" balasku sambil berlari keluar. Kushina hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat anaknya keluar dengan sangat terburu-buru.


Di dalam kamar Naruto, cermin merah yang ada di atas meja tersebut mengeluarkan cahaya—atau aura berwarna biru tua. Aura tersebut melayang untuk beberapa saat sebelum kemudian membentuk bentuk yang seperti orang, dengan bentuk kepala, tangan, dan kaki, meskipun tidak terlalu jelas. Sepasang mata berwarna hitam legam kemudian terbuka, sebelum mata itu berubah merah dengan tiga koma hitam.

"Akhirnya.... Kutemukan...."


'Plis, plis, plis.... Semoga Iruka-sensei belum datang....,' doaku dalam hati sambil berlari menuju kelasku, kelas 2-1. Setelah sampai, aku tidak langsung masuk. Aku berhenti dulu untuk merapikan pakaian seragamku.

Kerah kemeja warna putihku kurapikan. Blazer hijauku yang berlengan panjang juga kurapikan, namun tetap kubiarkan tidak terkancing. Aku kemudian menepuk-nepuk rokku yang berwarna sama dengan blazerku yang panjangnya tidak sampai lutut. Jujur, aku nggak terlalu suka memakai rok, jadi aku nambahin celana pendek ketat warna hitam dibawah rokku.

Aku juga mengecek kaus kaki putihku yang tingginya mencapai betis, juga mengecek sepatuku. Aku kemudian memperbaiki rambut pirangku yang kukuncir kuda di bagian belakang. Poniku yang rada berantakan kubiarkan saja. Toh, emang dari sananya bagian poniku mirip dengan poni ayahku....

Setelah aku yakin semuanya sudah rapi, aku membuka pintu kelas, dan bernapas lega setelah melihat bahwa Iruka-sensei belum datang.

"Pagi!" sapa seorang temanku. Aku kemudian menoleh ke arahnya. Tubuhnya yang chubby dan rambutnya yang rada jabrik itu sangat kukenal. "Ah, pagi juga, Chouji," salamku balik. Kemudian, ada lagi yang menepuk punggungku keras-keras. "Yo! Pagi, Naruto!!"

Aku kemudian merintih kesakitan sebelum memelototi temanku yang lain lagi, yang baru saja menepuk—nggak, kata yang lebih pantas adalah memukul punggungku. Ada tato warna merah berbentuk segitiga kebalik di kedua pipinya.

Waktu kutanya, dia hanya bilang kalau tato itu kayaknya emang dia banget, dan memang... Rasanya kalo dipake orang lain, rasanya gak bakal cocok.

"Kiba!! Sakit, tau! Ga usah keras-keras, napa!?" ujarku. Dia hanya tersenyum bodoh sambil mengangkat kedua tangannya. "He he he... Sori, ya."

"Semuanya, cepat duduk!" kata seseorang dari belakangku. Aku tahu suara siapa itu. Akupun menelan ludah.

'Iruka-sensei!?' pikirku penuh katakutan. Saat aku menoleh ke belakang, Iruka hanya menghela napas.

"Lupakan saja. Aku akan pura-pura tidak tahu bahwa kamu terlambat, seperti biasanya. Sekarang, cepat duduk di tempatmu," katanya dengan pasrah. Aku kemudian tersenyum lebar.

"He he he... Makasih, Sensei! Sensei baik, deh," ucapku dengan ceria, sementara Iruka hanya geleng-geleng kepala. Aku kemudian pergi menuju tempat dudukku.

Aku duduk di tempat bagian tengah. Di sekolahku, satu kelas hanya terdiri dari 30 orang, paling banyak. Tempat duduk de kelasku diatur delapan baris berjejer ke samping dan empat baris berjejer ke belakang. Meja guru terletak di arah berlawanan dari pintu masuk kelas dan di pojok depan. Aku duduk di baris keempat dari meja guru, dan baris ketiga dari depan.

Choji duduk di sebelah kananku, sementara Shikamaru, anak jenius seaentro sekolah, duduk di depannya. Di belakangku ada Kiba, dan di depanku ada Hinata, anak perempuan yang cukup pemalu yang juga temanku. Dia sangat baik dan juga lembut. Sayang, dia kurang pe-de. Padahal sebenarnya dia sangat cantik, dan, meskipun orangnya nggak sadar, lumayan banyak yang demen sama dia. Adek kelas, kakak kelas, bahkan alumni sekolah yang udah kuliah pun tetep jatuh hati sama Hinata!

Di sebelah kiri Hinata, ada anak perempuan yang bernama Sakura Haruno. Rambutnya warna pink dan bermata hijau cemerlang. Seragamnya dia modifikasi sehingga bergaya anak punk. Dia anak baru di kelas ini, dan baru datang sekitar dua minggu yang lalu. Nggak tahu kenapa, kayaknya dia gak terlalu mau bersosialisasi. Aku pernah menagkapnya melirik ke arahku terus, tapi aku pura-pura nggak tahu. Dia juga kayaknya rada nervous sama teman-temanku. Aku juga sudah pernah nyoba ngedeketin dia, tapi kayaknya dia nggak mau dideketin.

Tapi, aku punya perasaan kalo aku dan dia pernah ketemu sebelumnya, karena rasanya dia sangat familiar untukku. Aku hanya memikirkannya sebagai Déja vu.

Tempat duduk di sebelah kiriku kosong, tapi itu memang karena tempat itu ada yang punya. Temanku yang lain, yang bernama Ino, adalah pemilik tempat duduk itu. Namun, dia kena penyakit tifus sejak tiga minggu yang lalu. Terakhir kujenguk, dia udah baikan, jadi kayaknya dia sudah bisa sekolah tiga hari lagi.

Ino Yamanaka adalah seorang gadis yang sangat modis dan fashionable. Gaul, cantik, dan juga anak yang nggak rebellious. Tapi, entah kenapa, aku merasa Ino dan Sakura bisa jadi best friend yang bakal deket banget....

Huh. Aneh....

Tanpa sadar, bel tanda istirahat kemudian berbunyi dengan lantangnya. Lamunanku pun langsung buyar karenanya. Aku kemudian memasukkan bukuku ke dalam tas oranyeku.

"Hei, Naruto! Mau ke kantin, gak?" tanya Kiba dari belakangku. Aku kemudian menoleh ke belakang.

"Nggak, deh. Lagi bokek, nih!" tolakku. Mukanya kemudian nampak kecewa. "Yaah... Kok loe gitu siih? Ayo dong! Gue traktir, deh!" bujuknya lagi. Aku kemudian menatapnya heran.

"Hah!? Loe ngetraktir gue? Tumben?" tanyaku. Mukanya kemudian jadi cemberut. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku.

Tunggu dulu... Kok mukanya jadi merah, sih?

"Besok ultah lo, kan?" tanyanya, tetap tidak memandangku. Sialan. Kok caranya ngomong sombong gitu, sih?

Tapi kok suaranya kayak malu-malu gitu, ya?

"Ng... Iya. Trus?" tanyaku lagi. Lho, kok mukanya tambah merah lagi, sih? Apa sih maunya ni anak?

....

Hah!? Jangan-jangan....

"Kiba...," mulaiku. "Jangan-jangan kamu...."

Aku kemudian melihatnya panik sendiri. Aku perlahan mendekatkan tanganku ke wajahnya.

"Kamu lagi sakit panas, ya?" tanyaku tanpa ragu. Setelah kupegang dahinya, ternyata benar! Dia panas banget! Pantes aja dia tiba-tiba jadi baik gitu. Tapi kok kayaknya dia jadi salting gitu, ya?

"G-Gue gak sakit, kok!" ucapnya buru-buru. Aku hanya menatapnya dengan rasa khawatir.

"Yakin? Maksudku, mukamu merah banget. Telinga dan lehermu juga merah tau," kataku lagi.

"A-Aku.... AARGH!! Yaudah, deh!! Kalo elo gak mau ke kantin, gue ngajak Shino aja!" katanya seraya menarik Shino, yang duduk di sebelah kanan Hinata, dengan paksa sebelum ngeloyor keluar kelas.

"Lha? Kok dia malah marah, sih?" ucapku heran sambil melihatnya pergi bersama Shino.

Akupun kemudian menghela nafas panjang. Cowok tuh memang misterius banget, ya?

Aku kemudian mengeluarkan Sketch Book-ku yang berukuran A4 dan mulai menghabiskan waktu istirahatku dengan menggambar, hobi yang sudah kutekuni dari SD. Aku sama sekali tidak menyadari apapun selagi aku menggambar. Aku terus menunduk dan terus menggerakkan tanganku.

Kalau saja aku tidak menundukkan kepalaku, aku pasti akan bisa melihat sepasang mata hijau zamrud yang menatapku dengan penuh kesedihan dan familiaritas.


"Aku pulang!!" salamku setelah sampai di rumah. Tidak ada yang menjawab. Hmm... Berarti Kaa-san lagi nggak ada di rumah....

Yah, sudahlah. Ini kan bukan pertama kalinya aku di rumah sendiri.... Haah.... Bakal bosan nih....

Aku kemudian tersentak setelah mengingat cermin hadiah dari ayah. Akupun kemudian berlari ke atas dan langsung menuju kamarku.

Langkahku terhenti sesaat sebelum aku tiba di depan pintu kamar. Aku mendengar suara gemerisik dari balik pintu kamarku.

'Eh? Suara appan tuh? Maling ya?' pikirku, anehnya dengan tenang. Akupun kemudian mengendap-endap ke pintu kamarku dan membukanya perlahan.

Betapa terkejutnya aku saat menemukan sebuah sosok manusia berdiri di dalam kamarku.


Sapphire09: So... menurut para pembaca dan para author senior yang membaca fic saya ini, nii cerita gimana?

Tentang hobi Naruto, itu juga merupakan hobi si author yang sudah nggak ketulungan. Terkadang, pas pelajaran, bukannya ngederin guru ngomong, malah sibuk nyoret-nyoret buku tulis ;p

hhehehe...