Sapphire09: Wah... lama sekali saya meng-updet nii cerita ya... Maklumlah.. Saya lagi konsen ke cerita saya yang laen... Hehehe... Gomen...

Warning: OOC-ness n' Gaje-ness...


II. Pertemuan Kembali


"Akan terus kucari dirimu, meskipun aku harus menembus dimensi ruang dan waktu."


Sosok itu berdiri membelakangiku. Dia memiliki rambut merah jabrik dan dia juga memakai jaket kulit hitam dan jeans biru.

"S-Siapa?" tanyaku ragu kepada sosok yang memunggungiku itu. Dari belakang, kulihat sosok itu memiliki ciri-ciri yang rasanya cukup familiar untukku.

Rasanya rambutnya jabriknya mirip dengan rambut jabrik ayahku, hanya saja rambutnya itu berwarna merah.

Setelah pertanyaanku itu terlontar dari mulutku, sosok itu kemudian mulai berbalik. Aku kemudian bisa melihat sosoknya lebih jelas.

Matanya berwarna merah dan wajahnya cukup mirip denganku, hanya saja tanpa tanda lahir, lebih maskulin, dan lebih tua. Mataku terbelalak saat menyadari siapa sosok yang ada dihadapanku itu.

"Aniki...," bisikku perlahan. Sepasang mata yang berwarna merah itu juga kemudian terbelalak kaget, sebelum bibirnya menekuk keatas, membentuk sebuah senyum.

"Narucchi!" ucapnya senang sebelum tiba-tiba melingkarkan lengannya ke tubuh Naruto yang masih kaget dan memeluknya erat-erat. Naruto yang kemudian tersadar dari rasa kagetnya balik memeluk kakaknya itu.

"Kyuu-nichan!" ucapku dengan gembira dan rasa tidak percaya. Kakakku itu hanya membalasku dengan sebuah senyuman lebar sebelum melepasku.

"Ya ampun! Kakak kapan balik? Naru kira kakak bakal di Suna sampai tahun baru!" tanyaku tidak percaya. Jarak usiaku dan kakakku memang beda sekitar 5 tahun. Kakakku sedang berkuliah di Negara Suna, di negeri padang pasir itu, sehingga aku tidak pernah melihatnya lagi selama 2 tahun. Kakakku kemudian mengacak-acak rambutku dengan gemas sambil tertawa.

"Hahaha.... Kakak baru balik tadi siang. Kakak memang mau bikin surprise ke kamu. Besok ultahmu, kan?" tanyanya lagi. Setelah mendengarnya, senyumku yang lebar kemudian semakin bertambah lebar. Akupun memeluknya lagi.

"I missed you, Nichan...," ucapku pelan. Aku kemudian merasakan tangan kakak yang hangat mengelus kepalaku dengan penuh kesayangan. Tinggiku yang hanya sebahu kakak mempermudahnya untuk mengelus kepalaku. "Aku juga, Naruto," kudengar kakak berbisik. "Aku juga...."

Aku terus membenamkan kepalaku di pelukan kakak, sehingga aku tidak melihat tatapannya yang sendu dan senyumnya menjadi sebuah senyum yang terlihat sedih.

Kakak kemudian melepaskan pelukannya.

"Baiklah! Sedah cukup reuninya. Kakak lapar nih! Pas kakak pulang, tau-tau aja Kaa-san nggak ada di rumah.... Emang kaa-san kemana?" tanya kakak.

"Kaa-san lagi ada urusan kayaknya. Paling nanti malam baru balik, atau besok pagi," jawabku.

"Ya sudah deh.... Kalau gitu kakak pergi beli makanan dulu ya. Kamu mau apa?" tawar Kyuubi.

"RAMEN!!" ucapku bersemangat dengan mata berbinar-binar. Kakakku yang melihat reaksiku yang begitu bersemangat hanya mengedipkan mata beberapa kali dan geleng-geleng kepala.

"Nggak janji ya," katanya sambil ngeloyor keluar. "AAH! Kan kakak yang nawarin!!" seruku tidak terima. "Awas ya kalu nggak dibeliin!"

Kyuubi hanya melambaikan tangannya dengan cuek seraya turun ke lantai bawah. Aku segera melipat tanganku di dada, tanda ngambek. Tapi, percuma. Kakak sudah terlanjur keluar. "Hu-uh!" ujarku kesal. Tapi kemudian bibirku yang melengkung ke bawah perlahan-lahan membentuk sebuah senyum senang.

Kakak mungkin nggak bakal ngebeliin ramennya, tapi... yah, sudahlah.

Aku kemudian tertawa kecil sebelum berjalan ke pintu kamarku dan menutupnya rapat-rapat. Aku kemudian berjalan menuju lemariku dan mengambil beberapa potong pakaian sebelum aku mulai mengganti bajuku.

Aku sama sekali tidak menyadari adanya sepasang mata berwarna merah tersembunyi yang memperhatikan kami sedari tadi.


"Ho… Jadi kakakmu sudah balik dari Suna?" ucap Chouji sedikit cuek sambil terus mengunyah makanan kecilnya. Aku, Hinata, Chouji, Shikamaru, dan Kiba sekarang sedang duduk-duduk di dalam kelas sambil menunggu bel masuk kelas. Aku hanya tersenyum, tapi nampaknya mereka tahu mood-ku memang lagi bagus. Hinata juga tersenyum, turut senang melihatku ceria seperti ini.

"P-pasti kamu s-senang sekali, ya?" ujar Hinata.

"Iya! Banget!" kataku.

Kiba, yang duduk di samping Shikamaru, cemberut sedikit.

"Emang apa sih hebatnya kakak loe itu? Jangan-jangan dia tuh pedophile, lagi," ucapnya. Tanpa berpikir panjang, akupun dengan sigap memukul kepala si pecinta anjing itu.

"ITAI! Sakit, tahu! Apa-apaan, sih?" protesnya. Aku kemudian mengalihkan perhatian dengan cueknya sementara Chouji dengan terang-terangan menertawakan kesialan Kiba, sedangkan Hinata hanya menatap Kiba dengan khawatir.

"Kamu tuh ya, jangan ngejelekin Kyuubi-niisan di depan adeknya, dong. Ngomongin kalo dia tuh pedophile, lagi," kata Shikamaru dengan malas. Kiba hanya melirik kearahnya dengan tatapan sedikit kesal.

"Peringatanmu tuh telat, tau gak?" balas Kiba. "Lagipula, aku serius nih! Emang kakaknya Naruto tuh gimana sih orangnya?" katanya lagi.

Moodku yang tadinya bagus berubah drastis gara-gara Kiba. Enak saja, kakak yang baik gitu dibilang pedophile! Hmph!

"Memang kamu belum pernah ketemu sama Kyuubi-niisan?" tanya Chouji heran. Kiba hanya geleng-geleng kepala.

"Jangankan ketemu. Tau aja baru sekarang, kok!" ujarnya lagi.

"Iya, ya," kata Shikamaru tiba-tiba. "Kiba kan baru pindah ke kota Moriyama ini sekitar semester 2 kelas 1 tahun lalu, kan? Pantas saja dia belum tahu tentang Kyuubi-niisan."

"Nah, tuh inget! Makanya, cepetan ceritain dong!" ucap Kiba tidak sabaran. Aku kemudian melihat Shikamaru melirik ke arahku dengan tatapan malasnya itu. Nampaknya dia mau aku yang cerita. Aku membalas tatapannya dengan tatapan yang sama malasnya sebelum aku akhirnya menyerah dan bercerita.

"Kakak lebih tua 5 tahun dari aku. Sejak aku umur 6 tahun, seperti yang sudah kalian tahu, ayahku jarang berada di rumah, begitu juga ibuku. Pada saat itu, kakak yang selalu menemani aku, susah maupun senang. Makanya, hubunganku dengan kakak bisa dibilang cukup dekat. Tapi, sejak kakak pergi kuliah ke Suna 2 tahun yang lalu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Katanya, semester awal kuliah itu selalu sibuk, makanya meskipun di Universitas kakak ada hari libur, kakak jarang bisa pulang," ceritaku. Kiba hanya mengangguk tanda mengerti.

"Makanya, kalau kamu berani ngejelek-jelekin kakakku lagi, jangan heran kalau kepalamu lepas dari lehermu lho, ya?" ujarku mengancam.

"He-he… aku kan cuma bercanda…. Jangan dianggap serius, dong," ucap Kiba sedikit takut.

"Oya, Naruto. Kyuubi-niisan ngambil jurusan apa?" tanya Chouji yang masih sibuk mengunyah. Aku kemudian memasang pose berpikir ala Detektif Conan.

"Hmm… Apa, ya? Kalau nggak salah sih ada hubungannya sama Sejarah dan Mitos, deh," jawabku tidak yakin. "Kakak jarang ngebicarain kuliahnya. Kaa-san dan Chichi juga nggak pernah ngebahas itu. Entah tidak peduli, atau karena percaya sama kakak," tambahku. Mereka kemudian hanya ber-ooh ria.

Tidak lama kemudian, belpun berbunyi. Murid-murid yang tadinya berada di luar kelas segera masuk ke kelas masing-masing.

"Eh, kudengar bakal ada murid baru yang masuk, lho!" bisik seseorang. Aku kemudian melirik ke arah suara itu. Seorang cewek teman sekelasku sedang berbisik ke teman sebangkunya.

"Oh ya? Cewek atau cowok?" balas teman sebangkunya itu.

"Cowok! Tadi aku lihat waktu lewat depan ruangan Kepala Sekolah. Cakep lho! Banget!" sahutnya dangan semangat. Tidak lama kemudian, bisikan mereka terhenti karena pintu kelas tiba-tiba terbuka. Perhatianku kemudian teralih ke Kakashi-sensei, guru wali kelas kami yang terkenal karena keterlambatannya.

Nampaknya rumor kalau ada murid baru itu benar, karena jarang sekali guru yang satu ini tepat waktu.

"Baiklah, anak-anak. Pagi ini akan ada murid baru di kelas ini," ucap Kakashi-sensei dari depan kelas. Dia kemudian menoleh kearah pintu dan memanggil masuk murid baru tersebut.

"Masuklah," panggilnya. Murid baru itu kemudian melangkah masuk. Kebisingan yang awalnya menyapu kelas ini tiba-tiba saja menghilang, digantikan oleh kesunyian yang senyap. Suara-suara sekecil apapun tiba-tiba saja bisa terdengar jelas. Suara nafas, benda kecil jatuh, bahkan suara langkahnya.

Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.

Murid baru tersebut tidak memiliki karakteristik yang mencolok. Rambut hitam legam, warna mata yang senada dengan rambutnya, dan postur wajah yang oriental. Seragam sekolah dia pakai dengan rapi dan lengkap. Tentu, gaya rambutnya sedikit aneh. Belah tengah dengan poni panjang di sisi kanan kiri wajahnya dan bagian rambut belakangnya di sasak ke atas.

'Mirip pantat ayam,' pikirku tanpa sadar. Nampaknya Kiba, yang duduk dibelakangku juga berpikiran sama, karena aku mendengarnya menahan tawa.

"Nama saya Sasuke Uchiha. Salam kenal," salamnya dengan nada datar. Aku kemudian mendengar suara desahan nafas, meskipun samar-samar. Aku menangkap rasa kaget dalam suara itu. Aku kemudian melirik kearah sumber suara itu. Alisku terangkat saat melihat tampang kaget dari wajah seorang Haruno Sakura.

'Apa mereka saling kenal, ya?' pikirku. Namun, aku tidak memikirkannya lebih jauh. Pikiran itu hanya terlintas begitu saja tanpa ada pendalaman. Namun, aku menjadi penasaran saat anak baru tersebut bertemu mata dengan Sakura. Aku melihat Sakura menelan ludah saat anak baru itu menyadari keberadaannya. Tampangnya antara gugup dan takut.

Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari Sakura ke anak baru itu. 'Wajar aja Sakura takut… matanya memicing ngeri gitu, sih,' pikirku kesal. Aku jadi merasa ingin membela Sakura…

"OI! Pantat ayam!" panggilku keras. Dia nampaknya kaget dan kemudian mencari-cari siapa yang berani menghinanya tadi. Tampangnya jadi tambah ngeri kalau marah. Kakashi yang sudah tahu siapa yang berbicara, hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.

Sudah kuduga Kakashi-sensei juga berpikiran seperti itu. Ha!

Anak-anak lain yang mendengar ucapanku tadi juga berusaha menahan tawa. Tetap saja, ada yang terang-terangan tertawa, misalnya Kiba. Ada juga yang bertingkah tidak peduli, misalnya Shikamaru, dan ada juga yang tidak terima, contohnya para cewek-cewek fangirl-nya.

"Siapa tadi yang bicara!" kata si anak baru itu dengan keras sembari menyapu ruangan, mencari pemilik suara yang tak lain adalah aku. Aku kemudian berdiri.

"Aku yang tadi bicara. Kenapa? Nggak terima?" ucapku menantangnya. Wajahnya kemudian menjadi dingin dan tidak terbaca lagi. Tapi, sebelum itu aku sempat melihat sesuatu di matanya untuk sesaat. Aku merasa dia mengenalku dari sorot matanya pada waktu sesaat itu.

Tapi, aku hanya berpikir kalau aku salah lihat.

"Ehem," Kakashi berdeham, berusaha mencairkan suasana. Kakashi kemudian menoleh kearah si anak baru itu.

"Baiklah, Sasuke-kun. Silahkan pilih tempat duduk yang kamu inginkan," ujar guru Kakashi. Si anak baru itu kemudian melangkah ke tengah kelas, sebelum akhirnya berhenti di dekatku. Dia kemudian dengan seenaknya mengambil tempat di sampingku, di tempatnya Ino.

"H-Hei! Di situ ada orangnya!" protesku.

"Sekarang lagi nggak ada, kan?" ujarnya cuek. AKu kemudian kembali protes, tapi tidak diacuhkannya. Aku kemudian menggeram marah sebelum aku akhirnya protes kepada guru Kakashi.

"Sudahlah, Naruto," kata Kakashi dengan cueknya. "Ino nanti bisa duduk di tempat duduk belakangnya, di samping Kiba-kun."

Agh! Sialan! Guru sama murid sama aja! Sama-sama cuek!

Pada akhirnya, aku harus bersabar duduk di samping si brengsek ini…. Haah, kok kayaknya aku lagi sial ya sekarang?

Aku kemudian menyibukkan diri dengan mencatat semua apa yang Kakashi-sensei jelaskan. Sementara itu, Sasuke menatap ke arahku sekilas.

Aku pura-pura tidak menyadari pandangannya yang tajam ke arahku. Pandangan yang marah, namun sekaligus rindu dan sedih. Tatapan itu adalah tatapan yang penuh emosi yang rumit, yang kumengerti, namun juga tidak kumengerti.

Pandangan itu… Aku mengenal pandangan itu… Dulu sekali…


Sapphire09: So? menurut kalian gimana? Apa cerita saya segitu jelek dan gaje-nya sampai-sampai saya harusnya berhenti nulis nih cerita?

btw, tolong jangan lupakan kata-kata yang terletak di bawah judul chapter. Masing-masing punya arti sendiri dan bisa dibilang merupakan kunci cerita. Jika ada yang bisa menebak benar siapa saja yang 'mungkin' mengucapkan kata-kata itu, akan saya berikan cookies deh!

Anyway, makin banyak review yang dateng, makin cepat saya updet!

So... please review!!