Chapter 2

BLUSH

Alisnya semakin gencar naik turun memandangku yang sedang memalingkan muka ke arah lain. Uh. Apa pun, semoga ada yang bisa menyelamatkanku dari makhluk kampret di hadapanku ini. Kabulkan do'a Sasu ya—

"Teme!/Sasuke-kun!" Terdengar dua suara yang sangat kukenal, Naru-Dobe dan Sakura.

—Tuhan. Terima kasih ya Tuhan. \(^3^)/

"Hn. Aku pergi, Baka Aniki." Ujarku kemudian secepat kilat pergi meninggalkan seonggok kampret yang masih melongo di ruang tamu.

"Khukhukhu~.. Aku tidak bisa membiarkan Otoutoku tercinta 'bermain' tanpa aku. Khukhukhu~"

Hei, Itachi, kau mencurigakan tahu.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Sasu, Ai Lop Yu © Reggika Uchiha

Genre :

Romance & Humor

Rate :

T

Pair :

SasuxSaku

Warning :

OoC, AU, Typo bertebaran, GaJe, Mengakibatkan Mual dan Muntah, dll.

DON'T LIKE DON'T READ!

R&R please?

Chapter 3

Sasuke's POV

Kulangkahkan kakiku dengan ganteng mensejajari langkah Sakura, mengikuti Naru-Dobe yang sedari tadi mengoceh entah apa—aku yakin apa yang dia bicarakan sejak tadi itu sangat tidak penting—dengan sesekali menyahut dengan 'Hn' kebanggan Uchihaku dan sedikit bertanya-tanya, sebenarnya kami mau ke mana karena sejak tadi tak ada yang berusaha bicara padaku. Kulirik sekilas ke arah Sakura, ternyata saat itu dia juga sedang melirik ke arahku, secepat kilat aku segera memalingkan wajah, menyembunyikan blushing kampret yang secara tidak elit merayapi wajahku yang tampan ini. Namun ternyata, kenyataan itu sungguh pahit dan menyakitkan, dan tentu lebih kampret dibandingkan blushing yang tadi sempat menyerobot ekspresi wajahku. Di sana, di arah aku memalingkan muka tadi, seonggok manusia yang sangat kukenal sedang ketahuan ngintip dan kemudian secepat kilat nyempil di balik pohon, lengkap dengan kumis bodohnya dan keriput yang menghiasi wajahnya yang cukup —sebenarnya aku menahan muntah mati-matian mengatakan ini— tampan. Iyaks! Siapa lagi kalau bukan si Baka-Itachi-Keriput-nii. Jujur, aku sedikit menyesal karena punya kakak seperti dia. Kenapa dia tidak jadi anggota keluarga Uzumaki atau Yamanaka saja sih, batinku heboh.

CLING! —sebuah lampu super duper terang Indonesia Raya Merdeka Merdeka muncul di atas kepalaku—

"Ssstt."

Kusenggol lengan kanan Sakura —aku berjalan di samping kanannya—, mati-matian kutahan pekikanku ketika dia menatapku dengan wajah innocent, ingin berteriak 'Sakura! Jangan memasang wajah seimut itu! Aku bisa memakanmu!' kemudian memeluknya sambil lompat-lompat, tapi tidak jadi. Mau dikemanakan image Uchiha kalem datarku? Aku belum siap didatangi si Kampret Madara itu untuk dimintai pertanggung jawaban atas rusaknya image khas Uchiha.

(Readers : Hooo.. Ternyata selain mesum, lo juga cucu durhaka, Sas. *mata nyipit-nyipit*

Sasuke: Hn. Ingatin gue buat ngebunuh si Author Sableng itu ntar. Gue udah siap sama Amaterasu gue. *tampang datar kayak triplek*

Author: *kabur*)

Lanjut.

"Ada apa Sasuke-kun?" bisiknya lembut. 'Uwooh! Cantik! Cantik! Imut! Ah~ aku jadi naksir kamu deh!' innerku heboh, kalau ekspresiku sih tenang-tenang saja, masih datar kok. Malu dong kalau teriak-teriak begitu. Maaf-maaf saja, aku bukan Baka Aniki. Aku sedikit menunduk, kudekatkan mulutku ke telinga Sakura. Aku tahu, aku tahu. Aku masih cukup kuat kok untuk menahan blushingku. Sekilas terlihat mesra sekali, sih. Si Itachi mukanya pasti merah tuh melihat adegan ini. Khukhukhu~

"Ada yang ngintip." Bisikku pada Sakura.

"Ngintip?" Wajahnya makin imut. Aku makin gemas~

"Hn. Baka Itachi-nii rupanya mengikuti kita." Jawabku semakin dekat dengan telinganya.

Itachi's POV

Uh. Hampir saja aku ketahuan Sasu-chan. Tapi sepertinya dia tidak lihat deh, dia asyik blushing sih, sampai kelihatan dari sini. Sasu-chan terlihat mendekatkan diri ke Sakura, ah~ aku jadi curiga. Dan bukannya segera menjauh, di a malah semakin mendekat. 'Tuh kan, tuh kan. Jangan-jangan mereka mau ciuman!' batinku nista. Uh. Pasti saat ini aku sedang blushing berat, tapi tak apa deh, tak ada yang lihat ini. Kekekek~ Kulanjutkan acara memperhatikan secara sembunyi-sembunyi —kalau tidak mau disebut mengintip— mereka berdua. Si Uzumaki? Jangan tanyakan padaku, karena aku tak tahu, uwoo~ —bercanda— Si Uzumaki itu sedang berbicara–entah–apa jauh di depan sana. Yah, sebelas dua belas lah sama orang gila.

Sakura's POV

Sasuke-kun kenapa sih? Jangan dekat-dekat! Kalau aku pingsan bagaimana? Ah~ kenapa pula dia menyeringai begitu? Aku jadi curiga. Sasuke-kun, jangan sekarang, aku masih sekolah~.

(Readers: Sak, kok lo ikut-ikutan mesum sih? *jambak rambut* *lirik Sasuke*

Sakura: Ah, si Author Sableng ini, aku jadi malu nih~

Sasuke: Hn. *lirik Author* *Sharingan aktif*

Author: Eh? Ehehehe… *jalan mundur* *berniat kabur*)

Lanjut.

Sasuke's POV

"Mana?" Sakura hampir saja menengok sana-sini, secepat kilat segera kutahan wajahnya kemudian berbisik padanya.

"Ssstt, jangan tengok-tengok. Dia bisa curiga." Setelah itu aku menggandeng tangannya —dia sempat terlihat sedikit kaget— dan kembali berjalan santai. Eh? Sebenarnya tidak santai sih, di dalam sini ratusan Sasu chibi sedang panik dan lari ke sana kemari berhamburan. Bagaimana ini! Tangannya.. tangannya.. tangannya! TANGANNYA!

(Readers : Kenapa tangannya Sas? *muka bete* *Sasuke resmi stress*

Sasuke: *lirik ke arah Author tadi* Eh? Kok ngga ada? *celingak-celinguk*)

Lanjut.

Tangannya, hangat bro! Hangat! Tapi dari tadi jantungku kok berasa keras begini ya bunyinya? Apakah aku mau mati? Ah~ Jangan sekarang, deh, matinya. Aku belum membuat perhitungan dengan Baka Itachi-nii, nih.

"Kau kenapa sih Sasuke-kun? Tanganmu berkeringat.. Apa Sasuke-kun sakit?" Tanya Sakura padaku.

Mampus.

Ingatkan aku untuk benar-benar memutilasi Baka Aniki nanti.

"Hn. Tujuan." Jawabku tak nyambung. Jelas sekali dia makin bingung.

"Hah?" Tuh kan, tuh kan. Dia bingung!

"Hn. Kemana?" Tanyaku lagi dengan sabar. Ini Sakura sih. Kalau si Dobe, pasti sudah kutendang dari tadi.

"Kemana apanya Sasuke-kun?" Sakura makin bingung. Entah kenapa aku seperti pernah mengalami hal serupa. Dia menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku yakin 70% kalau dia benar-benar beranggapan kalau aku benar-benar sakit. 30%nya? Oh.. Kalau 30%nya mungkin dia sedang menikmati pemandangan indah di hadapannya (baca: ketampananku) ini.

"Kita mau ke mana? Si Dobe sudah jauh." Jawabku datar. Si Dobe memang sudah jauh sih. Aku sedikit berharap dia diculik elang raksasa dan– ah, lupakan. Sakura celingak-celinguk imut, berusaha mendeteksi keberadaan makhluk kampret yang tadi sempat mengganggu acara kencan kami.

EH?

Kencan?

Kencan?!

Kencan?!

KENCAN?!

Ah~

"Ah, iya. Padahal dia yang menentukan kita mau ke mana." Jawabnya santai sambil terus berjalan. Aku tetap mengimbangi langkahnya, kemudian, "Ah, ya, Sasuke-kun?"

"Hn."

"Kenapa kau menggandengku?"

"Biar kau tidak hilang seperti Si Dobe." Jawabku sableng. Padahal sebenarnya karena aku sedang mengerjai Baka Itachi-nii. Tapi aku agak kurang berani untuk mengatakan yang sebenarnya saja. Masih sayang nyawa. Aku tak bisa membayangkan pukulan sekuat monster itu mendarat di tubuhku. Sudah cukup aku melihat bagaimana orang-orang terkena pukulan itu secara langsung. Sudah cukup membuatku trauma. Bukannya apa-apa, sebenarnya aku bisa sajs sih membalas menendang, tapi tidak lucu kalau aku menendang perempuan seimut ini. Berasa banci.

"Oh."

"Hn. Sakura?"

"Ya, Sasuke-kun?"

"Hn. Tidak jadi."

"…" Kami masih berjalan. Masih berdampingan. Masih bergandengan tangan. Dan jantungku makin keras berdetak. Kemudian aku teringat lagi, memangnya kami mau ke mana?!

"Hn. Kita ke mana?"

"Hm.. Kurasa kita lebih baik ke taman bu—

"Jangan. Di sana banyak orang." Potongku. Potong bebek angsa, masak di kuali~.. Bebek ya? Ah, sial. Aku malah teringat pada Baka Itachi-nii. Aku jadi penasaran, apakah dia masih membuntuti kami? Aku celingukan, mencoba mendeteksi keberadaan Baka Itachi-nii.

—nga. Memangnya kenapa kalau banyak orang, Sasuke-kun? Kan asyik?"

'Aku ingin berduaan denganmu, Saku-chan.' Innerku. Aku masih celingukan. Ketika telapak tangan yang sedang kugandeng ini mengeras, aku berhenti celingukan dan menoleh pada Sakura.

"M-ma-makse-se-sudm-mu S-sa-sas—"

"Hn. Kenapa?" Tanyaku innocent. Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?

"B-be-ber—

"Kau kenapa, sih?" Kenapa dia jadi gagap begitu? Jangan bilang kalau dia ketularan Hinata! Itu loh, cewek yang naksir setengah mati pada Si Dobe.

"K-kau ta-tadi bil-bilang kalau k-kau ingi-ingin be-berduaan deng-denganku, Sas-sasuke-kun." Jawabnya dengan muka semerah tomat. Tuh kan, tuh kan! Kenapa dia bisa ketularan Hinata si—EH?!

"Aku ingin berduaan denganmu, Saku-chan."

"Aku ingin berduaan denganmu, Saku-chan."

"Aku ingin berduaan denganmu, Saku-chan."

"AKU INGIN BERDUAAN DENGANMU, SAKU-CHAN."

Jadi tadi bukan Cuma innerku?! Jadi aku tadi benar-benar mengucapkannya?!

"Hn. Mungkin kau salah dengar." Jawabku datar sambil memalingkan muka. Padahal sebenarnya aku benar-benar ingin berlari sejauh mungkin, entah mengapa kali ini aku merasa bodoh, dan mungkin Sakura merasa dirinya mulai tuli.

"Sakura tidak salah dengar, Sasu-chan. Khukhukhu~.."

Seingatku suara Sakura itu lembut, deh. Kenapa ini jadi terdengar berat, ya? Yah, sebelas dua belas dengan suaraku lah.

EH?

Suaraku?!

Aku menoleh horror, ternyata Baka Itachi-nii ada di belakang kami! Cih! Sial. Aku jadi ingin membunuh Baka Itachi-nii nih. Boleh tidak?

(Itachi Fans Club : JANGAN! *muka horror*

Author: Jangan! *muka horror juga*

Readers: Ngga usah macem-macem deh, Sas. *lirik Author* Lanjutin gih, ceritanya.)

Lanjut.

Engga jadi.

TBC aja deh, hohoho~


TBC!

Apa yang akan dilakukan oleh Sasu-chan?

Apakah Sasu-chan akan membunuh Itachi-chan?

Jawaban ada di next chapie :D

Sudah update lagi! Gaje sekali?!

Oh Em Ji! Ripiu mana ripiu?! *panik* *Sasu ikut panik* *Sasu chibi berhamburan*

Jelek? Garing?

Yah, mau gimana lagi? Hiks.. Aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari ini.. *pundung*

Tapiii..

R&R please? #PuppyEyesNoJutsu