Chapter 3
"AKU INGIN BERDUAAN DENGANMU, SAKU-CHAN."
Jadi tadi bukan Cuma innerku?! Jadi aku tadi benar-benar mengucapkannya?!
"Hn. Mungkin salah dengar." Jawabku datar sambil memalingkan muka. Padahal sebenarnya aku benar-benar ingin berlari sejauh mungkin, entah mengapa kali ini aku merasa bodoh, dan mungkin Sakura merasa dirinya mulai tuli.
"Sakura tidak salah dengar, Sasu-chan. Khukhukhu~.."
Seingatku suara Sakura itu lembut, deh. Kenapa ini jadi terdengar berat, ya? Yah, sebelas dua belas dengan suaraku lah.
EH?
Suaraku?!
Aku menoleh horror, ternyata Baka Itachi-nii ada di belakang kami. Sial. Aku jadi ingin membunuh Baka Itachi-nii nih. Boleh tidak?
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasu, Ai Lop Yu © Reggika Uchiha
Genre :
Romance & Humor
Rate :
T
Pair :
SasuxSaku
Warning :
OoC, AU, Typo bertebaran, GaJe, Mengakibatkan Mual dan Muntah, dll.
DON'T LIKE DON'T READ!
R&R please?
Chapter 4
Sasuke's POV
"Cih! Sial. Dasar stalker." Umpatku dengan tampan —sungguh, yang tampan aku, bukan si Keriput di hadapanku ini—. Kulayangkan deathglare andalanku padanya. Sakura? Dia masih melongo. Bukan, bukan karena shock setelah mengetahui bahwa Baka Aniki mengikuti kami, aku kan sudah memberitahunya. Kemungkinan besar dia cukup prihatin melihat Baka Aniki menjadi lebih tua secepat itu —kemarin dia bertemu Baka Aniki yang belum berkumis, dan tadi dia belum sempat melihat Baka Aniki di rumahku—. Kulangkahkan kakiku mendekati Baka Aniki masih dengan menggandeng (baca: menyeret) Sakura. Si Baka Aniki hanya senyum-senyum tidak jelas. Mungkin mencoba mengejekku dalam hati.
"Aku kebetulan lewat, kok, Saskey." Jawabnya enteng. Tidak peduli dengan aku yang benar-benar menyesal tidak membawa golok tadi. Yah, mungkin bisa kugunakan untuk memotong lehernya. Potong bebek angsa, masak di kuali~.. Cih! Sial. Aku jadi makin dongkol padanya.
"Hn. Kebetulan kau lewat, kebetulan kau melihatku tadi, kebetulan kau sembunyi di balik pohon, kebetulan kau mengikuti kami di belakang kami, dan kebetulan kau menguping pembicaraan kami. Kebetulan juga kau ada di hadapanku, dan kebetulan aku ingin membunuhmu sekarang juga, Baka Aniki." Jawabku sarkastik. Aku tak peduli Sakura makin melongo karena ucapanku yang kelewat panjang.
"Sabar, Sasuke-kun." Sakura mencoba menenangkanku dengan melepaskan tangannya dari gandenganku dan digunakan untuk mengelus punggungku berulang-ulang. Aku jadi keenakan deh, terus Sakura, terus, terus! Khukhukhu~
(Readers: *lirik Author* Thor, mending lo ganti deh judul fic ini. *muka bete*
Author: *bingung* Diganti gimana?
Readers: *lirik Sasuke* 'Si Mesum Sasuke' kayaknya bagus.
Author: Oh. Ntar Author pikir-pikir lagi deh.)
Lanjut.
"Aku mau ke rumahmu ya, Saku-chan. Mau belajar kelompok dengan Sasori, nih. Dadaahh~" Ucapnya seraya menjauh dan melambaikan tangan. Cih, dia mencoba kabur. Aku ingin mengejarnya, tapi di sisi lain aku masih keenakan dengan elusan Sakura di punggungku. Kurasa dia cocok sekali jika menjadi istriku. Khukhukhu~ .. Aku berbalik kemudian kembali menggandeng tangan halus yang tadi mengelus punggungku. Bukannya apa-apa, aku cuma tidak ingin pikiranku bertambah mes– lupakan.
"Kurasa aku harus membunuhnya nanti."
"Memangnya kenapa Sasuke-kun?"
"Hn. Rahasia." Jawabku geblek. Aku merasa menyusut menjadi Sasu chibi yang suka main rahasia-rahasiaan. Tapi aku tak mungkin menjawab yang sesungguhnya, bahwa dia membuat acara —kencan— kami berantakan. Dan membuatku merasa malu pangkat sejuta di hadapan calon istriku in—
HAH?
Duh, aku keceplosan, deh, bicara pada kalian.
Ah~
Yang penting aku tidak keceplosan pada Sakura. Duh, sekarang bicara membatin saja was-was. Takut keceplosan seperti tadi. Lama-lama dia bisa illfeel padaku, bisa dikira mesum deh nanti.
. Apa lihat-lihat?! Jangan meledek!
"Sasuke-kun, menurutmu sebaiknya kita ke mana?" Aku memutar otak, bukan dalam artian yang sesungguhnya. Kasihan kalau benar-benar diputar-putar, bisa pusing nant– aku ngomong apa, sih?!
"Hn. Aku juga bingung. Kita cari Dobe saja dulu." Bukan! Sungguh, aku straight! Mana mungkin aku mahoan dengan si Dobe?! Yah, meski pun —kata para Fujoshi— tampangku cocok sekali menjadi seme, aku sungguh tak mungkin yaoi-an dengan si Cerewet itu.
Eh?
Sakura juga cerewet?
Oh, iya, lupa. Tapi ngomong-ngomong, cerewetnya Sakura itu berkurang drastis saat bersamaku. Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu, uwoo~ —lupakan. Tapi sungguh, aku bahkan sering tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini, Sakura tidak cerewet jika bersamaku. Apa dia illfeel? Apa dia takut padaku? Apa dia tidak suka style Pantat Ay— maksudku, emoku? Apa dia kekenyangan? Apa dia ingin melata? Apa dia ingin munta— cukup, aku mulai melantur.
Kulirik Sakura sekilas, wajahnya terlihat agak masam.
Masam.
Masam?
MASAM?!
Kenapa?! Apa dia marah padaku? Apa dia benci padaku? Apa dia marah pada Baka Aniki? Apa karena aku jelek?— Yang terakhir itu, sangat tidak mungkin.
"Hn. Kau kenapa?" Tanyaku perhatian. Kalau menyangkut Sakura, aku selalu perhatian, sih. Hohoho~
"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Hanya—"
"Kenapa?"
"Hanya saja—"
"Hanya saja kenapa?"
Entah kenapa aku merasa ada yang kurang beres dengan omonganku, tapi aku tidak tahu kenap—
"Ck! Sasuke-kun! Dengarkan aku dulu!"
—a. Oh. Sekarang aku tahu. Apa sebabnya aku merasa ada yang kurang beres. Habisnya Sakura ngomongnya pelan sekali, sih. Menyiksaku yang sudah sangat penasaran ini.
"Aku malas mencari si Baka itu, Sasuke-kun. Capek~" Jawabnya manja.
Manja?
Manja?
MANJA?!
Mam to the Pus. Mampus. Kata Baka Aniki yang katanya kata Deidara yang katanya kata Sasori—entah kenapa, aku merasa omonganku ini muter-muter—, Sakura itu dari waktu masih embrio, manjanya keterlaluan, meminta sesuatu yang katanya susah dilakukan dan bikin repot. Nyusahin pokoknya. Aku was-was, jangan-jangan dia akan memintaku untuk goyang ngebor erotis telanjang dada sambil nyanyi 'iwak peyek' di tengah jalan ini! Atau lebih parahnya lagi di tengah-tengah Taman Kota! Ugh! Bisa hancur ke-Uchiha-anku! Bagaimana kalau si Kampret Madara itu benar-benar mendatangiku dan bicara,
"Kau telah mempermalukan Uchiha, Sasuke! Kau harus mati!"?!
Mami Mikoto, Papi Fugaku! Selamatkan anakmu yang tampan tingkat Internasional ini! Dengan —mencoba— lembut, aku bertanya pada Sakura, siapa tahu bisa mengurangi kadar keanehan permintaannya,
"Hn. Lalu maumu apa, Sakura?"
"Gendong~" Oh. Cuma minta gendong, kok. EH?!
"Gendong~"
"Gendong~"
"GENDONG~"
Ha! Itu sih aku mau sekali! Khukhukhu~
Tapi, ngomong-ngomong Sakura berat tidak, ya? Bukannya apa-apa, bisa saja walau pun terlihat imut begitu, ternyata berat tubuhnya 100 kilogram! Eh? Ngaco ya? Iya, sih. Aku juga merasa begitu. Aku segera berjongkok membelakanginya.
"Hn. Naiklah." Jawabku datar. Meski begitu, sebenarnya ratusan Sasu chibi di dalam sana sedang berlarian panik, jangan-jangan berat! Jangan-jangan berat! Jangan-jangan be—
PLUK!
—rat. Sakura resmi nemplok di punggungku. Yah, tidak terlalu berat sih. Rasanya cuma seperti memanggul karung beras kok.
Berat, ya?
Biasa saja kok. Cuma aku hanya sedikit curiga, jangan-jangan sebelum ke rumahku tadi, dia sengaja memasukkan besi ke dalam saku roknya, ya? Iya, Sakura pakai rok. Iya, iya, aku tahu, aku tahu. Memangnya kenapa kalau Sakura pakai rok? Roknya selutut kok. Iya, selutut. Memangnya aku harus bagaimana?
(Readers: Tumben lo ngga mesum Sas? *lirik Sasuke*
Sasuke: Hn. *lirik Author* *Puppy Eyes aktif*
Author: Tunggu aja, dia Cuma belum beraksi kok, khukhukhu~ *ketawa nista* *lirik Sasuke*)
Lanjut.
Engga ah.
TBC aja. Hohoho~
TBC!
Apa yang akan dilakukan oleh Sasu-chan?
Bagaimana nasib Saku-chan?
Jawaban ada di next chapie :D
Sudah update lagi! Gaje sekali?!
Oh Em Ji! Ripiu mana ripiu?! *panik* *gelundungan*
Pendek? Jelek? Garing?
Yah, mau gimana lagi? Hiks.. Aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari ini.. *pundung*
N.B. : Karena request dari Nabila Chan BTL, Author nyoba bikin Sasuke POV lagi di chapie ini :D
Kalau ada request lagi, silahkan isi di kolom review, kalau Author bisa, pasti Author coba untuk menuhin kok ^_^
Makanya,
R&R please? #PuppyEyesNoJutsu
