Chapter 4
Tapi, ngomong-ngomong Sakura berat tidak, ya? Bukannya apa-apa, bisa saja walau pun terlihat imut begitu, ternyata berat tubuhnya 100 kilogram! Eh? Ngaco ya? Iya, sih. Aku juga merasa begitu. Aku segera berjongkok membelakanginya.
"Hn. Naiklah." Jawabku datar. Meski begitu, sebenarnya ratusan Sasu chibi di dalam sana sedang berlarian panik, jangan-jangan berat! Jangan-jangan berat! Jangan-jangan be—
PLUK!
—rat. Sakura resmi nemplok di punggungku. Yah, tidak terlalu berat sih. Rasanya cuma seperti memanggul karung beras kok.
Berat, ya?
Biasa saja kok. Cuma aku hanya sedikit curiga, jangan-jangan sebelum ke rumahku tadi, dia sengaja memasukkan besi ke dalam saku roknya, ya? Iya, Sakura pakai rok. Iya, iya, aku tahu, aku tahu. Memangnya kenapa kalau Sakura pakai rok? Roknya selutut kok. Iya, selutut. Memangnya aku harus bagaimana?
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasu, Ai Lop Yu © Reggika Uchiha
Genre :
Romance & Humor
Rate :
T
Pair :
SasuxSaku, Slight NaruxHina
Warning :
OoC, AU, Typo bertebaran, GaJe, Mengakibatkan Mual dan Muntah, dll.
DON'T LIKE DON'T READ!
R&R please?
Chapter 5
Naruto's POV
Dipinggir jalan..
Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Sakura-chan dengan Sasu-Teme sekarang. Bayangkan saja, aku sedang asyik menceritakan hasil ulanganku yang dapat nilai 90 —berkat nyontek Hinata-chan— dan ternyata mereka berdua sudah tidak ada! Apa-apaan ini?! Aku sedikit curiga dengan Sasu-Teme, dari tadi pagi tingkahnya sudah aneh, kelihatannya dia naksir pada Sakura-chan tapi tidak berani ngomong langsung. Cih. Katanya Uchiha, tapi nembak cewek saja tak berani. Tapi aku bersyukur, setidaknya gossip kalau Sasu-Teme itu gay dan dia naksir padaku —aku sebenarnya enggan mengatakan ini, tapi kata para Fujoshi, aku ini cocok jadi uke—. Cih. Aku ini straight-ttebayo! Buktinya aku punya pacar.
EH?
Oh, aku lupa bilang, ya? Ya sudah, aku kasih tahu deh, tadi pas pulang sekolah, aku nembak Hinata-chan. Bukan! Bukan karena aku dikasih contekan pas ulangan tadi! Sungguh! Tapi kupikir Hinata-chan naksir padaku, sedangkan Sakura-chan kelihatannya naksir si Sasu-Teme jelek itu. Jadi aku tembak saja Hinata-chan, setelah kupikir-pikir, rasanya nyaman kalau berada di dekatnya. Adem~
Ah, sial. Mengingat itu aku jadi makin kesepian-ttebayo! Awas saja si Sasu-Teme itu, kalau dia belum jadian dengan Sakura-chan, aku akan memusnahkan semua tomat di muka bumi ini! Lebay, ya? Ya sudah, aku memusnahkan tomat-tomat di Konoha saja-ttebayo! Biar dia tahu rasa.
"Na-naruto-kun.." Sebuah suara lembut menyadarkanku dari khayalan jahatku pada Sasu-Teme. Aku menoleh,
"Hinata-chan!" Sapaku heboh. Kurasa Hinata-chan memang jodohku, deh. Coba pikir saja, aku tidak bisa mengerjakan ulangan, dia ngasih contekan, aku kesepian, dia datang!
"Se-sedang ap-apa Na-naruto-kun?" Tanyanya geblek. Jelas-jelas aku sedang bengong. Yah, tapi bagaimana pun, dia kan pacarku. Tetap terlihat imut kok :D
"Sedang menunggumu, Hinata-chan.." Bohong banget. Biar dia senang, sekali-sekali aku kan juga ingin romantis. Sepertinya aku berhasil, mukanya merah tuh. Khekhekhe~
"Be-benarkah Na-naruto-kun? Ak-aku m-mau ke ked-kedai Ich-chiraku, m-mau i-ikut?"
"Yosh! Tentu Hinata-chan!"
Dan aku berakhir bahagia, ke kedai Ichiraku bersama pacar adalah hal yang sangat menyenangkan, kau tahu! Sakura-chan dan Sasu-Teme? Biar saja, semoga mereka jadian hari ini juga, Kami-sama. Aamiin :3
Sasuke's POV
Aku Sasuke Uchiha, manusia paling awesome di Konoha, sedang berjongkok kaku di bawah naungan tubuh Sakura Haruno, gadis paling imut —menurutku—di Konoha. Kenapa? Tentu saja, aku sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan pikiranku yang sedikit (baca: sangat) mesum setelah Sakura nemplok di punggungku.
Hei, kau yang baca! Jangan meledek!
Ya, berbagai cara. Mulai dari membayangkan bahwa yang kugendong ini adalah karung beras, komodo, kadal —dan kadal tak pernah sebesar Sakura—, buntelan kentut, sampai benda-benda lain yang tak kalah absurd dari yang kusebutkan itu. Tapi tetap saja, rasanya berbeda dari ini. Bahkan bangkit dari jongkok saja aku seperti tak kuat.
(Readers: Ternyata lo emang mesum, Sas. *lirik Sasuke*
Sasuke: Jangan salahin gue. Gue cuma korban si Author Sableng. *lirik Author*
Author: *mimisan 3 liter*)
Lanjut.
"Sasuke-kun~ berdiri dong~" Tuh kan. Dia semakin membuatku tak kuat berdiri. Jelas saja, dia merengek begitu, sih. Aku ingin berteriak 'Diamlah, Sakura! Suaramu itu terlalu seksi dan membuatku linglung!' kemudian berguling-guling, tapi tidak jadi. Aku tidak mau dikira mesum oleh Sakura —meski pun yang sebenarnya juga begitu— dan dikira gila oleh orang-orang yang sedari tadi lalu lalang di sekitar sini. Selain takut pada si Kampret Madara, aku juga ngeri pada Papi Fugaku. Aku tidak mau berita 'Seorang Remaja Paling Tampan di Konoha Tewas Dibunuh Ayahnya Sendiri' menjadi headline surat kabar besok pagi. Tidak. Terima kasih.
(Readers: Sama-sama, Sas. *salamin Sasuke*
Sasuke: Hn. *pasrah*
Author: *pingsan*)
Lanjut.
Kemudian sekuat tenaga aku mencoba bangkit dari posisi jongkokku dan berhasil meski pun kakiku masih agak bergetar, tapi aku tetap berjalan kembali. Bukan! Bukan karena aku tidak bertenaga dan loyo, tapi aku cenderung gugup dan kehilangan separuh lebih kekuatanku hanya untuk berdiri dengan Sakura yang nemplok di punggungku. Ngomong-ngomong, aku heran dengan Sakura, dia tadi kesambet apa, sih? Kok dia jadi semanja ini?
"Sasuke-kun. Kau wangi~, aku suka~" Ujarnya sambil menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada tengkukku. Uh. Geli sekali. Geli, geli, geli~! Aku harus menghentikannya sekarang juga. Kalau tidak, bisa-bisa aku bertambah mesum!
"Hn. Sakura, hentikan kegiatan hidungmu." Aku menarik napas, semoga yang kuucapkan tidak mengandung unsur ketidak beresan, "Kau membuatku geli."
Uh. Sebenarnya aku malu mengatakan itu. Blushing? Pasti. Tapi biar saja, deh. Daripada aku tambah mesum.
"Ehehehe.. Ma'af Sasuke-kun. Tapi boleh aku tanya satu hal?"
"Hn. Kau sudah bertanya, Sakura." Jawabku geblek. Aku yakin Sakura pasti sedang tertawa dalam diam.
"Bukan itu maksudku, Sasuke-kun!"
"Hn. Lalu apa?" Tanyaku datar. Tapi di dalam sana ratusan Sasu chibi sedang gelundungan panik, bagaimana kalau Sakura bertanya tentang perasaanku padanya?!
"Kau tadi pakai parfum merk apa, Sasuke-kun? Ini wangi dan segar sekali, Sasuke-kun. Aku mau beli~" Tanyanya sableng. Aku sweatdrop.
"Bukan apa-apa. Aku hanya mandi biasa tadi."
"Bohong."
"Tidak bohong."
"Bohong."
"Tidak bohong."
"Mana mungkin kau hanya mandi sedangkan kau wangi begini, Sasuke-kun?!"
"Hn. Aku memang wangi, Sakura."
"Kau narsis, Sasuke-kun."
"Sekali-sekali tidak apa-apa."
"Kau tidak sedang sakit kan, Sasuke-kun?"
"Hn. Tidak."
"Atau jangan-jangan kau alien?!" Tuduhnya geblek. Entah kenapa hari ini aku dan Sakura banyak gebleknya.
"Jangan bodoh, Sakura."
"Kau mencurigakan, Sasuke-kun."
"Kau yang aneh."
"Kau lebih aneh, Sasuke-kun."
"Biar saja."
"Kau suka padaku ya, Sasuke-kun?"
"Iya." Jawabku nekat. Kupikir sudah saatnya menyatakan cinta padanya.
"Hah?!"
"Ada apa?" Tanyaku geblek lagi. Jelas-jelas dia shock!
"Kau sakit, Sasuke-kun."
"Hn. Tidak."
"Atau kau lapar, Sasuke-kun?"
"Aku bukan Si Dobe, Sakura. Dan diamlah." Sakura kicep. Enak saja, dia kira aku akan bicara melantur hanya karena lapar? Aku ini Uchiha, Sasuke Uchiha! Yah, aku tak tahu sih apa hubungan antara Uchiha dan melantur saat lapar. Kuteruskan langkahku dengan wajah sedater tripleks dengan berlembar-lembar rasa dongkol setengah mati pada Sakura. Kenapa dia bodoh sekali, sih?! Kenapa aku naksir dia, sih?!
"Hn. Kita ke mana?"
"…"
"Sakura?"
"…"
"Sakura, aku tahu kau tidak sedang tidur."
"Tadi katanya aku suruh diam, Sasuke-kun." Ngambek. Sakura. Ngambek. Padaku.
"Hn. Kau.. marah?"
"Tidak." Orang ganteng memang mudah dimaafkan, sih. Maklum lah, pesona Uchiha tiada tara Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tralala.
"Oh. Kita ke mana, Sakura?"
"Hm.. Kita ke danau saja yuk, Sasuke-kun!" Ucapnya sambil mencoba melompat-lompat di punggungku. Aku ingin mengucapkan, 'Bro, punggung gue sakit!' lalu menjadikannya bintang di atas sana (baca: menendangnya), tapi sekali lagi tidak jadi. Kalau dia jadi bintang, lalu aku pacaran dengan siapa? Naru-Dobe? Aku kan sudah bilang kalau aku straight! Aku tidak mau mahoan dengan si Dobe. Tidak juga dengan Shikamaru, Kiba, Sai, Gaara, apalagi Chouji. Hah? Baka Aniki? Sudah kuduga. Banyak yang berharap kami incest. Tapi tidak, terima kasih.
(Readers: Sama-sama, Sas. *salamin Sasuke lagi*
Sasuke: Gue frustasi. *nunduk*
Readers: Kenapa emang, Sas?
Sasuke: Gue dinistain terus sama Author ini, huweee *nangis* *gelundungan*)
Lanjut.
Lanjut di chapter berikutnya, maksud sayah.
Hohoho~
TBC!
Apakah Sasu-chan dan Saku-chan benar-benar akan pergi ke danau?
Apa Sasu-chan tetap akan berusaha menyatakan cinta pada Saku-chan?
Jawaban ada di next chapie :D
Sudah update lagi! Gaje sekali?!
Oh Em Ji! Ripiu mana ripiu?! *panik* *gelundungan*
Pendek? Jelek? Garing?
Yah, mau gimana lagi? Hiks.. Aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari ini.. *pundung di pojokan*
N.B. : Karena request dari Nabila Chan BTL, Author nyoba bikin Sasuke POV lagi di chapie ini :D
Kalau ada request lagi, silahkan isi di kolom review, kalau Author bisa, pasti Author coba untuk menuhin kok ^_^
Ngga review, pedang melayang!
Ngga jadi.
Tapi tetep,
R&R please? #PuppyEyesNoJutsu
