Chapter 5
"Sakura, aku tahu kau tidak sedang tidur."
"Tadi katanya aku suruh diam, Sasuke-kun." Ngambek. Sakura. Ngambek. Padaku.
"Hn. Kau.. marah?"
"Tidak." Orang ganteng memang mudah dimaafkan, sih. Maklum lah, pesona Uchiha tiada tara Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tralala.
"Oh. Kita ke mana, Sakura?"
"Hm.. Kita ke danau saja yuk, Sasuke-kun!" Ucapnya sambil mencoba melompat-lompat di punggungku. Aku ingin mengucapkan, 'Bro, punggung gue sakit!' lalu menjadikannya bintang di atas sana (baca: menendangnya), tapi sekali lagi tidak jadi. Kalau dia jadi bintang, lalu aku pacaran dengan siapa? Naru-Dobe? Aku kan sudah bilang kalau aku straight! Aku tidak mau mahoan dengan si Dobe. Tidak juga dengan Shikamaru, Kiba, Sai, Gaara, apalagi Chouji. Hah? Baka Aniki? Sudah kuduga. Banyak yang berharap kami incest. Tapi tidak, terima kasih.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasu, Ai Lop Yu © Reggika Uchiha
Genre :
Romance & Humor
Rate :
T
Pair :
SasuxSaku
Warning :
OoC, AU, Typo bertebaran, GaJe, Mengakibatkan Mual dan Muntah, dll.
DON'T LIKE DON'T READ!
R&R please?
Chapter 6
Madara's POV
Di dunia lain...
Aku tidak tahu pasti kenapa aku bisa punya dua cucu yang sama-sama tidak beres dari Fugaku. Pertama, Itachi Uchiha. Sekilas anak ini benar-benar menampakkan ke-Uchiha-annya pada orang-orang asing, tampan, pendiam, dingin, dan jenius. Tapi siapa sangka anak ini justru menampakkan ke-Yamanaka-an, ke-Uzumaki-an, dan ke-Lain-an pada orang-orang yang dia kenal dengan baik. Dilihat dari segi fisik, dia memang Uchiha, tapi dalamnya? Kalau mengingatnya aku bahkan sampai mengelus dada.
Flashback on
Sasuke's POV
—'Kusenggol lengan kanan Sakura —aku berjalan di samping kanannya—, mati-matian kutahan pekikanku ketika dia menatapku dengan wajah innocent, ingin berteriak 'Sakura! Jangan memasang wajah seimut itu! Aku bisa memakanmu!' kemudian memeluknya sambil lompat-lompat, tapi tidak jadi. Mau dikemanakan image Uchiha kalem datarku? Aku belum siap didatangi si Kampret Madara itu untuk dimintai pertanggung jawaban atas rusaknya image khas Uchiha.'
— 'Aku was-was, jangan-jangan dia akan memintaku untuk goyang ngebor erotis telanjang dada sambil nyanyi 'iwak peyek' di tengah jalan ini! Atau lebih parahnya lagi di tengah-tengah Taman Kota! Ugh! Bisa hancur ke-Uchiha-anku! Bagaimana kalau si Kampret Madara itu benar-benar mendatangiku dan bicara,
"Kau telah mempermalukan Uchiha, Sasuke! Kau harus mati!"
Mami Mikoto, Papi Fugaku! Selamatkan anakmu yang tampan tingkat Internasional ini!'
— 'Aku ingin berteriak 'Diamlah, Sakura! Suaramu itu terlalu seksi dan membuatku linglung!' kemudian berguling-guling, tapi tidak jadi. Aku tidak mau dikira mesum oleh Sakura —meski pun yang sebenarnya juga begitu— dan dikira gila oleh orang-orang yang sedari tadi lalu lalang di sekitar sini. Selain takut pada si Kampret Madara, aku juga ngeri pada Papi Fugaku. Aku tidak mau berita 'Seorang Remaja Paling Tampan di Konoha Tewas Dibunuh Ayahnya Sendiri' menjadi headline surat kabar besok pagi.'
Flashback off
Tapi yang lebih membuatku benar-benar kebelet ingin bunuh diri namun sayang seribu kali sayang sialnya aku sudah mati, adalah pikiran konyol dan nista seorang Sasuke Uchiha seperti pada flashback di atas.
Nak, ada salah apa Kakek padamu? Setiap menyebut namaku dalam hati, awalan 'Kampret' tak pernah dilupakan untuk dijadikan pembuka nama besarku. Bayangan buruk 'aku akan mendatangi dia saat dia melakukan hal nista' selalu nyempil di dalam pikirannya yang parnonya sebesar gunung Merapi. Yah, aku memang terkadang merasa malu sekali mengetahui dia bisa bertindak sebodoh itu, tapi aku sama sekali tak pernah berpikir demikian. Kenapa dia selalu negative thinking padaku, sih?! Senista dan sekejam itukah Kakek di matamu, Nak?
Terkadang aku merasa ingin benar-benar mendatanginya di dalam mimpi, tapi aku tak tega. Aku kasihan dengannya. Pertama dan terakhir aku datang dalam mimpinya, dia masih sempat-sempatnya berteriak, 'Tolong! Aku didatangi Kakek Singa! Simbaaaaa!' kemudian dia jatuh dari tempat tidur. Sungguh, aku shock, kecewa, dan kasihan pada anak ini. Semenjak saat itu, aku tak pernah lagi berniat datang dalam mimpinya. Selain kasihan padanya, aku juga takut sakit hati lagi.
Fugaku's POV
Di kantor Perusahaan Uchiha…
Flashback on
Sasuke's POV
— 'Aku was-was, jangan-jangan dia akan memintaku untuk goyang ngebor erotis telanjang dada sambil nyanyi 'iwak peyek' di tengah jalan ini! Atau lebih parahnya lagi di tengah-tengah Taman Kota! Ugh! Bisa hancur ke-Uchiha-anku! Bagaimana kalau si Kampret Madara itu benar-benar mendatangiku dan bicara,
"Kau telah mempermalukan Uchiha, Sasuke! Kau harus mati!"
Mami Mikoto, Papi Fugaku! Selamatkan anakmu yang tampan tingkat Internasional ini!'
— 'Aku ingin berteriak 'Diamlah, Sakura! Suaramu itu terlalu seksi dan membuatku linglung!' kemudian berguling-guling, tapi tidak jadi. Aku tidak mau dikira mesum oleh Sakura —meski pun yang sebenarnya juga begitu— dan dikira gila oleh orang-orang yang sedari tadi lalu lalang di sekitar sini. Selain takut pada si Kampret Madara, aku juga ngeri pada Papi Fugaku. Aku tidak mau berita 'Seorang Remaja Paling Tampan di Konoha Tewas Dibunuh Ayahnya Sendiri' menjadi headline surat kabar besok pagi.'
Flashback off
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku jadi bersin-bersin. Sekretarisku bilang kalau ini gejala influenza. Tapi kurasa aku tidak makan minum sembarangan akhir-akhir ini. Aku juga tidak ke tempat-tempat yang berpotensi menularkan penyakit yang super duper menyiksa tingkat dunia bernama influenza itu. Lagipula aku selalu minum multivitamin setiap harinya. Tapi kenapa aku bersin-bersin terus dari tadi? Apa ada yang salah pada diriku? Apakah aku sudah mau mati? Oh! Jangan dulu, Kami-sama! Aku bahkan belum menimang cucu, setidaknya, aku ingin melihat kedua putraku yang menyebalkan tapi aku sayang itu bersanding dengan perempuan cantik dan kaya di pelaminan.
(Readers: Nah loh, teryata Fugaku-san orangnya mata duitan!)
Sakura's POV
Aku Sakura Haruno, sedang nemplok dengan berbunga-bunga pangkat sejuta namun bertabur galau dalam gendongan Sasuke-kun, manusia paling tampan di Konoha. Kenapa galau? Apakah aku kekenyangan? Apakah aku ingin melata? Apakah aku kebelet pipis? Atau parahnya lagi kebelet pup?
Tidak, kawan. Kekenyangan dan melata tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku juga cukup tahu dan tahu betul, kebelet pipis atau pup itu tidak hanya mengakibatkan kegalauan yang maha dahsyat tetapi juga memicu keluarnya keringat dingin, tapi bukan itu masalahnya. Masalah utamanya begini…
Flashback on
—"Mana mungkin kau hanya mandi sedangkan kau wangi begini, Sasuke-kun?!"
"Hn. Aku memang wangi, Sakura."
"Kau narsis, Sasuke-kun."
"Sekali-sekali tidak apa-apa."
"Kau tidak sedang sakit kan, Sasuke-kun?"
"Hn. Tidak."
"Atau jangan-jangan kau alien?!"
"Jangan bodoh, Sakura."
"Kau mencurigakan, Sasuke-kun."
"Kau yang aneh."
"Kau lebih aneh, Sasuke-kun."
"Biar saja."
"Kau suka padaku ya, Sasuke-kun?"
"Iya."
"Hah?!"
"Ada apa?"
"Kau sakit, Sasuke-kun."
"Hn. Tidak."
"Atau kau lapar, Sasuke-kun?"
"Aku bukan Si Dobe, Sakura. Dan diamlah."
Flashback off
Padahal aku hanya asal nyeletuk tadi. Kenapa dia jawab juga? Yang membuatku galau bukan karena dia suka padaku, tapi benar atau tidaknya jawaban Sasuke-kun tadi. Masalahnya dia itu mau serius atau main-main sama saja, tidak kelihatan bedanya. Nadanya kelewat datar. Mukanya juga selalu terlihat stoic kapan pun dan di mana pun serta bersama siapa pun dalam kondisi apa pun. Aku kan jadi bingung! Kalau aku percaya, nanti kalau ternyata dia hanya bercanda bagaimana? Tapi kalau tidak percaya, sayang sekali. Siapa tahu dia serius. Duh, aku rasanya seperti mau pingsan, deh, memikirkan hal ini!
Dan juga sedikit ngantuk.
Sasuke's POV
Aku Sasuke Uchiha, pangeran tampan dari Konoha, sedang berjalan lemas setengah mati sambil menggendong pujaan hatiku, Sakura Haruno. Kenapa lemas? Apakah aku kurang darah? Apakah aku lapar seperti yang dikatakan Sakura?
Sama sekali tidak.
Aku lemas bukan karena masalah kesehatan, apalagi gara-gara kelaparan. Tidak, tidak. Bukan seperti itu. Aku lemas karena Sakura dengan —aku berat mengatakan hal ini karena aku naksir padanya, tapi aku harus mengatakannya— lemotnya memberikan respon buruk terhadap aksi nekadku, yaitu menyatakan cinta padanya di pinggir jalan berbekal dia yang nemplok di punggung hangatku. Dia justru menuduhku sakit, dan setelah itu menuduhku lapar!
Cih! Sial. Aku jadi makin lemas mengingat hal itu. Aku sendiri sih justru curiga, jangan-jangan yang sakit itu dia? Jangan-jangan yang lapar itu dia? Karena sibuk memikirkan jawaban dari kecurigaanku pada Sakura, tiba-tiba kami sudah sampai di pinggir danau yang —harus kuakui— sangat indah, aku bahkan tidak sempat berbicara sepatah kata pun padanya di perjalanan tadi.
"Hn. Sudah sampai."
"…"
Karena tidak merasakan pergerakan di belakangku, aku menoleh. Sakura terlihat sedang memejamkan kedua matanya, menyembunyikan dua buah emerald yang selalu membiusku dan membuatku selalu ingat padanya setiap aku mau tidur. Nafasnya juga terdengar beraturan. Oh. Ternyata dia sedang tidur. Untung saja dia tidak ngiler dan melukis jajaran pulau-pulau di Indonesia di kaosku.
Jangan meledek!
Aku hanya sedikit shock, dulu aku pernah naik pesawat dengan Baka Aniki. Dia duduk di sampingku. Dan tahukah kalian apa yang membuatku shock setelah bangun tidur di dalam pesawat? Kepalanya bersandar di pundakku dan tangannya melingkari lengan kananku —aku duduk di samping kirinya— dan aku jadi berasa homo. Cih. Katanya banyak cowok-cowok maho yang memintanya untuk jadi seme. Seme apaan? Seme jadi-jadian kali. Tapi yang jadi masalah utamanya bukan itu. Yang membuatku ingin menjerit histeris dan gelundungan di atas lantai pesawat adalah karena dia ngiler. Iya, ngiler pemirsa. NGILER!
Masih maklum kalau hanya sedikit, lah ini, Baka Aniki ngilernya ke mana-mana, dan membasahi hampir separuh bagian kaosku. Mana ilernya bau lagi! Dan kampretnya lagi adalah, bau itu tidak hilang meski pun sudah dicuci puluhan kali, dengan kata lain, iler Baka Aniki itu seperti parfum luar negeri, yaitu bersifat 'tahan lama'.
Kembali ke dunia sekarang.
Karena aku tak mungkin tega untuk menjatuhkan Sakura ke tanah untuk membangunkannya, sebagai lelaki bertanggung jawab aku mencari bangku di pinggir danau yang menghampar indah di hadapanku ini. Setelah menemukan bangku yang kosong, perlahan-lahan aku mendudukkannya. Tak berniat membangunkan peri manisku dari tidur cantiknya, aku hanya segera duduk di sampingnya dan mengamati wajahnya dari dekat. Uh! Aku jadi ingin berteriak, 'Kau manis sekali, Sakura! Aku jadi ingin memakanmu!' kemudian mengguncang-guncang pundaknya kemudian nyebur ke dalam danau, tapi seperti biasa, tidak jadi. Kutepis pikiran konyolku itu. Aku tidak mau dicap lelaki mesum sekaligus sableng oleh Sakura dan orang-orang di sekitarku. Kusibakkan poni yang menutupi jidatnya yang —kata teman-temanku— seluas lapangan golf tapi menurutku menambah keseksiannya, entah kenapa aku bisa berpikir demikian, kalau kata Baka Aniki sih aku sudah gila. kau tahu saja Baka Aniki, kau lebih gila dari aku.
Ulangi.
Kusibakkan poni yang menutupi jidat seksi Sakura dan kuselipkan di belakang telinganya. Perlahan kudekatkan wajahku padanya. Dan entah setan mana yang merasuki diriku, kuberanikan diri untuk mencium—
"Sasu, Ai Lop Yu~"
—jidat dan pipi kanannya —aku duduk di samping kanannya—. Dia mengigau tuh. Katanya dia suk— HAH?!
"Sasu, Ai Lop Yu~"
"Sasu, Ai Lop Yu~"
"SASU, AI LOP YU~"
Jadi dia juga suka padaku? Oh yeah! Uchiha selalu mendapatkan apa yang dia mau! Yah, meski pun harus menahan dongkol karena dipanggil Sasu, aku rela, sungguh aku rela
Kubelai lembut pipi chubbynya, kemudian aku berbisik di telinganya,
"Ai Lop Yu Tu, Saku-chan." Aku mengambil nafas dalam-dalam kemudian berkata, "Mulai sekarang kau resmi jadi pacarku." Kemudian kucium lagi pipi chubby di hadapanku ini. Senangnya~ Ternyata tidak sia-sia selama ini aku naksir padanya. Ternyata berbalas. Khukhukhu~
Sakura's POV
Hooo~ kau kena Sasuke-kun. Kuberi tahu ya kalian semua, aku memang sempat tertidur. Tapi aku sudah terbangun sejak aku didudukkan di bangku di pinggir danau. Jadi aku merasakan ciuman lembut dari Sasuke-kun di jidat seksiku dan pipi chubbyku. Karenanya kuberanikan diri untuk pura-pura mengigau seperti itu! Khukhukhu~
Ternyata dia memang naksir padaku! Senangnya~.. Akhirnya si tampan berwajah surga ini jadi kekasihku juga. Habis aku naksir padanya sejak aku masih kanak-kanak, sih. Tapi aku dulu tidak begitu dekat dengannya. Aku baru bisa dekat dengannya satu setengah tahun yang lalu, tepatnya saat masuk SMA dan ternyata kami satu kelas, bahkan sebangku! Kami-sama, terima kasih atas anugerah yang telah kau berikan padaku! \(^3^)/
Masih TBC!
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa Sasu-chan akan tahu kalau dia ditipu Saku-chan?
Apa reaksi Itachi-chan, Naru-chan, Madara, Fugaku, dan yang lainnya?
Tungguh di chapie depan!
Gomen, gomen..
Saya telat update
Akhir-akhir ini saya supersibuk. Hehehehee.. *garuk pantat*
Yosh!
Pendek? Jelek? Garing?
Yah, mau gimana lagi? Hiks.. Aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari ini.. *pundung di pojokan*
Seperti biasa,
Ngga review, pedang melayang!
Ngga jadi.
Tapi tetep,
R&R please? #PuppyEyesNoJutsu
Jangan cuma jadi silent reader, Ok? ;)
