Jika salah satu keinginanmu akan terkabulkan, apa yang akan kau inginkan? Jika kau memohon, dan permohonanmu itu akan terkabulkan, apa yang akan kau mohon? Kekayaan? Kekuatan? Rupa yang rupawan? Kehormatan? Ketenaran?

Itukah yang akan kau inginkan? Itukah yang akan kau mohon?

Kalau aku, aku tidak akan memohon itu. Jika salah satu keinginanku akan terkabulkan, aku hanya akan meminta satu hal, yaitu; aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Melihat senyumnya, mendengar suara tawanya, merasakan kehangatan tubuhnya, dan memberitahunya,

"Maafkan aku, karena aku mencintaimu…."

.

.

.

I'm sorry, because i love you

By : Razux

Disclaimer : Naruto Belong To Masashi Kishimoto

.

.

.

"Sasuke-sama, ada yang memaksa untuk bertemu dengan anda."

Itulah kalimat yang menjadi pembuka dari semua yang kau rahasiakan dariku. Kalimat yang aku dengar melalui telepon saat duduk di kursi ruang kerja dalam kantorku.

"Tolak."

"Ehm, mereka terus memaksa, Sasuke-sama. Mereka mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan pada anda."

"Perintahkan security untuk mengusir mereka. Siapa mereka? Apakah mereka berpikir bisa menemuiku sesuka mereka tanpa membuat janji terlebih dahulu? Tanya pada mereka, apakah mereka mengerti tata krama dalam dunia bisnis?"

"Ehm, mereka berdua adalah suami-istri Uzumaki."

Jawaban itu membuatku tetegun. Membuat jantungku bagaikan berhenti bedetak sesaat.

"Aku akan segera memanggil security untuk mengusir mereka berdua. Maaf karena telah menganggu anda."

"Tunggu!" perintahku cepat. "A-antarkan mereka ke ruanganku sekarang juga."

Kututup teleponku, kuhempas badanku pada kursiku dan menarik napas panjang. Suami-istri Uzumaki. Si berengsek itu dan juga….

Hinata.

.

.

.

"Apa yang telah kau lakukan pada Hinata, berengsek!"

Tinju melayang menghantam pipiku. Membuatku jatuh tersulungkup ke atas lantai keramik dalam rumah sakit. Namun, tidak kupedulikan itu semua. Sebab, aku memang tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Yang kupikirkan sekarang hanyalah doadoa semoga Hinata yang sedang menjalani operasi dalam ruangan UGD di depanku selamat.

"Hentikan, Naruto! Ini bukan saatnya kau melakukan ini!" teriak seorang gadis berambut pink berusaha menghentikan Naruto yang diliputi kemarahan.

"Kenapa kau membelanya, Sakura?! Kau sudah tahu, kan? Apa yang telah dilakukan si berengsek ini pada Hinata?! Dan sekarang, lihat! Apa yang kembali dia lakukan padanya!? Seharusnya si berengsek inilah yang ada dalam ruang UGD itu, bukan Hinata!"

Aku setuju dengan apa yang dikatakan Naruto. Yang seharusnya berada dalam ruang UGD dan melakukan operasi adalah aku, bukan Hinata. Akulah yang seharusnya berada di sana!

"Naruto, hentikan ini semua! Tenangkan dirimu!" teriak Sakura lagi.

Naruto mencibir dan membuang mukanya dari Sakura. Dia kembali menatapku. Kebencian dan kemarahan memenuhi mata birunya. Aku tahu, jika saja Sakura, gadis berambut pink itu tidak ada di sini sekarang, dia pasti akan membunuhku.

"Kak Sasuke, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura pelan sambil mengulurkan tangan padaku. Namun, tidak kupedulikan itu. Aku hanya duduk, mengangkat tangan menyusuri kepalaku sambil menutup erat mataku.

"SASUKE!"

Suara Tsunade, ibu pemilik panti aushan terdengar keras memanggil namaku. kulihat dia berlari mendekatiku penuh kepanikan. Dia bertanya padaku, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Hinata? Bagaimana keadaanku? Namun, kepalaku masih tidak bisa berpikir lagi, aku tidak tahu apa-apa.

Takut.

Aku takut. Aku sangat takut sekarang. Apa yang akan aku lakukan jika operasi itu gagal? Apa yang akan aku lakukan jika Hinata tidak terselamatkan? Apa yang akan akau lakukan jika Hinata mati gara-gara dosaku? Mati gara-gara keegoisanku. Apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku lakukan terhadapnya?!

AKu memohon padamu, Tuhan. Biarkan aku memutar balik lagi waktuku. Aku rela menukarnya dengan apa pun yang kumiliki. Putar kembali waktu pada saat sebelum ini semua terjadi. Aku tidak pernah berharap ini terjadi! Kumohon! Kumohon…

'KRET.'

Kudengar pintu ruang operasi terbuka, kuangkat kepalaku ke atas. Seorang Dokter berjalan keluar. Tidak mempedulikan apa pun, aku segera bangkit dan berlari mendekatinya. Kugenggam baju Dokter itu dengan tangan gemetar, "B-bagaimana H-Hinata?"

"Dia selamat. Dia akan sadar." jawab Dokter pelan. "Namun, karena benturan keras di kepalanya, dia mungkin akan kehilangan penglihatan untuk selamanya…"

.

.

.

Kutatap dirimu yang masih terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang tempat tidur. Jarum infus menusuk nadi lenganmu, perban menutupi badan dan kepalamu. Lalu, yang paling penting, perban putih yang menutupi matamu.

Sakit.

Hatiku sakit sekali. Betapa kurusnya dirimu sekarang. Betapa rapuh dan babak-beluknya badanmu. Kugenggam tanganmu. Tanganmu yang dulu selalu kugenggam, tangan yang selalu hangat itu, kini begitu dingin. Kuberlutut di samping ranjangmu, memendamkan kepalaku pada jarimu. Air mata mengalir menuruni pipiku.

Hancur. Aku telah hancur.

Tidak pernah terbesit sedikit pun dalam hatiku untuk menyakitimu. Menyengsarakan dan membuat dirimu menderita seperti ini. Aku hanya ingin kau selalu berada di sampingku, tertawa, tersenyum dan menggenggam tanganku selamanya. Jika kutahu, inilah yang akan terjadi jika aku mencintaimu, maka percayalah, aku pasti akan berusaha keras untuk belajar berhenti mencintaimu…

Maaf, maaf, maaf, maaf, maafkan aku…

"Maafkan aku, karena aku mencintaimu…."

.

.

.

Setiap hari aku menjengukmu, tapi, tidak berani aku memasuki kamarmu. Aku hanya berdiri di luar, di depan pintu kamarmu. Aku tidak punya wajah untuk bertemu denganmu. Tidak punya keberanian untuk menatap wajahmu. Takut kau akan mengusirku, takut kau berkata dirimu membenciku, tidak akan memaafkanku. Tapi, siapa yang mau aku tipu? Berapa lama aku bisa bersembunyi darimu? Barapa lama aku bisa meghindari dosaku?

Waktunya pun akhirnya tiba…

Satu bulan setelah kecelakaan lalu lintas itu. Saat aku berdiri di depan pintu kamarmu seperti biasa. Kudengar suara kaca yang pecah dari dalam. Tanpa mempedulikan apa pun, aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam. Kulihat dirimu, jatuh dari ranjang tempatmu tidur dengan gelas kaca yang pecah di sampingmu.

Kuberlari mendekatimu, kupeluk dirimu, kuangkat dan meletakkanmu lagi di atas tempat tidur. Kutatap wajahmu yang sekian lama telah tidak kulihat. Kau masih kurus, kau masih terlihat begitu rapuh. Dan meski perban disekujur tubuhmu telah dilepaskan, perban yang menutup matamu tetap adaperban yang membuktikan kau telah buta.

Aku tidak berani bersuara, sebab aku takut kau menyadari siapa aku. Tapi, tidak tahu bagaimana, kau sadar. Kau tahu, siapa yang ada di sampingmu sekarang.

"Apa maumu di sini?" tanyamu pelan.

Aku terkejut. Namun, aku tetap diam membisu.

"Apakah kau ingin mentertawakanku? Senangkah dirimu melihatku yang telah seperti ini sekarang?"

Kutetap diam membisu.

Kau menolehkan kepala ke arahku. Meski kau tidak bisa melihat, kau tetap saja tahu dimana aku berada. "Lihatlah! Apa yang telah kau lakukan padaku!? Puaskah?! Puaskah dirimu sekarang!?" teriakmu keras.

Marah dan benci.

Itulah perasaan yang tertinggal untukku dalam hatimu. Kau marah padaku, kau benci diriku. Kucoba mencari suara untuk mengatakan sesuatu, namun, tidak dapat kutemukan. Yang kubisa hanyalah memanggil pelan namamu dengan terbata-bata. "H-Hinata.."

"Jangan panggil namaku!" potongmu keras.

"Hinata, kumohon, tenangkan diri—"

"Hentikan! Hentikan! Jangan panggil namaku! teriakmu lagi sambil menutup telinganmu, meringkuk badanmu bagaikan sebuah bola.

Aku kembali diam membisu. Melihat kondisimu yang seperti ini. Hanya satu kata yang ada dalam pikiranku, yakni; maaf. Namun, belum sempat kuungkapkan, kau kembali mengangkat kepala menatapku.

"Jangan muncul di depanku lagi…" katamu pelan. Kubisa melihat air mata mengalir membasahi perban di matamu. "Aku mohon padamu, jangan muncul dalam hidupku lagi…"

Permohonanmu.

Permohonanmu membuat duniaku runtuh. Apa yang paling aku takutkan telah kau ucapkan. Apa yang paling tidak ingin kudengar, telah kudengarkan. Tidak pernah lagi muncul di hadapanmu. Tidak lagi berada dalam hidupmu. Bisakah aku melakukan itu? Tidak! Aku tidak bisa! Kucoba untuk membalas ucapanmu. "H-Hinata.. Dengarkan aku. Maafka "

"Hentikan! Hentikan! Jangan kau katakan maaf padaku!" teriakmu lagi sambil menutup telingamu, membuatku terdiam seribu bahasa. Tanganmu kemudian bergerak membuka perban yang menutup matamu. Matamu yang dulu berwarna biru tua, kini telah berubah. Warna biru tua kini memundar bagaikan warna lavendermata lavender yang tidak fokus dengan selaput putih tebal menutupinya.

"Ini! Mataku!" teriakmu sambil menunjukkan matamu. " Inilah yang telah kau lakukan padaku! Aku tidak menginginkan kata maaf darimu! Hiduplah dengan bahagia! Jadilah orang yang berhasil! Jadilah orang yang hebat! Jadilah orang yang sukses di masa depanmu! Aku tidak peduli! Karena itu, tinggalkan aku! Jangan mengingat aku lagi! Jangan mencari informasi apa pun lagi mengenai aku! Lupakan aku! Lupakan aku seperti aku akan melupakanmu!"

Meninggalkanmu dan melupakanmu.

"Aku membencimu! Aku membencimu! Sangat membencimu! Jangan muncul lagi dalam hidupku!"

Benci.

Aku membencimu…

Kusadar untuk pertama kali, hukuman bagi dosaku, ternyata bukanlah penjara atau pun hukuman mati. Hukuman dalam hidupku adalah harus meninggalkanmu, dilupakan, dibenci…

Dibenci olehmu. Itulah hukuman terberat bagi dosaku.

.

.

.

Jika itu adalah keinginanmu, jika itu adalah harapanmu, jika itu adalah hukuman bagi dosaku, aku akan menjalaninya.

Aku pindah dari kota tempat kita besar, meninggalkan panti asuhan. Aku mendapatkan beasiswa di SMA ternama di Tokyo. Aku tidak akan kembali lagi ke kota ini lagi, tidak akan muncul lagi di hadapanmu dan juga tidak akan mencari informasi akan dirimu, lalu, aku akan belajar melupakanmu.

Waktu berlalu dengan cepat. Kutamat dari SMA dengan sangat memuaskan. Mendapatkan beasiswa di TODAI. Lulus dan berhasil membangun perusahaan kecil yang kemudian segera berkembang menjadi besar, besar, sangat besarperusahaan terbesar di Jepang.

Kuberhasil, Hinata. Sepuluh tahun berlalu, aku adalah orang yang berhasil sekarang. Orang yang hebat, orang yang sukses sesuai yang kau inginkan. Dan juga sesuai yang kau inginkan, meski aku adalah penyandang dana terbesar panti asuhan tempat kita dibesarkan, meski aku memberikan berjuta-juta yen pada penghuni panti asuhan yang kekurangan makan, kekurangan selimut, bahkan kekurangan biaya untuk penyakit kronis, aku tidak pernah muncul di hadapanmu, tidak mencari informasi akan dirimu.

Hanya saja, ada satu yang masih belum bisa kulakukan, yakni; melupakanmu.

Kapan aku bisa melupakanmu? Aku tidak tahu. Meski aku berhubungan dengan wanita lain, berusaha keras membina hubungan dnegan mereka, semuanya gagal. Aku masih belum bisa melupakanmu.

Tahukah kau? Ternyata kalimat yang sering aku dengar itu benar. Mencintai seseorang mungkin hanya memerlukan waktu sesaat, tapi melupakan seseorang yang kau cintai segenap hati, Itu mungkin membutuhkan waktu seumur hidup…

.

.

.

Suami-istri Uzumaki.

Kududuk di kursi kerjaku. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku. Bermacam-macam perasaan beradu satu dalam hatiku. Bingung, karena tidak tahu mengapa mereka datang menemuiku. Sedih, karena kau kini memang telah menjadi milik si berengsek itu. Takut, karena telahkah kau memaafkanku? Namun, juga tidak dapat kupungkiri, gembira dan senang. Karena, akhirnya kita bisa bertemu lagi…..

'KRIEK'

Pintu ruang kerjaku terbuka. Kulihat seorang pria berambut pirang dengan mata berwarna biru langit berjalan masuk. Aku kenal wajah itu, tidak berubah banyak—Naruto Uzumaki. Di belakangnya, kulihat seorang wanita berjalan dengan pelan sambil mengenggam erat tangan Naruto. Kutahan napasku, karena aku tahu, itu pasti adalah kamu, Hinata.

Namun, saat aku melihat jelas wanita itu, ternyata, aku salah. Itu bukan kamu. Wanita itu berambut pink dengan mata berwarna hijau. Aku kenal wanita itu, dia adalah Sakura, sahabatmu.

Kebingungan, aku menatap heran kedua orang di depanku. Aku tidak tahu, apa yang mereka inginkan dariku. Lalu, air mata tiba-tiba mengalir menuruni pipi sahabatmu, mulutnya terbuka dan mengucapkan sesuatu, "Kak Sasuke… Kami mohon, temuilah Hinata untuk terakhir kalinya…"

.

.

.

To Be countinue…

Author's note : Well, akhirnya update juga, setelah sekian lama terhenti -_-". Hm… tinggal satu chapter lagi, fic ini akan mencapai endingnya. Aku tahu, para tokoh di sini sangat OOC, tapi, mohon dimaklumi ya ^^

^^Terima kasih bagi yang sudah menriview mau pun men-alerts fic ini ^^

Razux.