Jika salah satu keinginanmu akan terkabulkan, apa yang akan kau inginkan? Jika kau memohon, dan permohonanmu itu akan terkabulkan, apa yang akan kau mohon? Kekayaan? Kekuatan? Rupa yang rupawan? Kehormatan? Ketenaran?

Itukah yang akan kau inginkan? Itukah yang akan kau mohon?

Kalau aku, aku tidak akan memohon itu. Jika salah satu keinginanku akan terkabulkan, aku hanya akan meminta satu hal, yaitu; aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Melihat senyumnya, mendengar suara tawanya, merasakan kehangatan tubuhnya, dan memberitahunya,

"Maafkan aku, karena aku mencintaimu…."

.

.

.

I'm sory, because I love you

By : Razux

Disclaimer : Naruto Belong To Masashi Kishimoto

.

.

.

Tidak ada rahasia yang bisa bertahan selamanya. Sebuah rahasia pasti akan terbongkar, tidak peduli bagaimana bagusnya kau merahasiakannya. Mungkin akan memakan waktu yang lama, tapi ketahuilah, tidak ada rahasia yang abadi.

Kutatap dirimu sekarang. Sekali lagi, aku melihatnya—pemandangan dirimu yang paling tidak ingin aku lihat. Kau terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup rapat. Badanmu sangat kurus dan pucat, rambut hitammu yang panjang, kini telah tiada. Lalu, infus di nadi lenganmu, selang oksigen di mulut dan hidungmu, serta layar monitor yang terus bergerak dan berbunyi lemah menandakan kehidupanmu.

"Hinata koma semenjak satu minggu yang lalu," kata Sakura yang ada di sampingku pelan. "Kadang dia sadar sebentar dan memanggil namamu. Kurasa dia merindukanmu, Kak Sasuke.."

Aku bisa mendengar setiap kata yang diucapkan Sakura. Tapi, aku tidak bisa bergerak, karena aku tidak bisa mempercayainya.

"Hinata menderita kanker darah semenjak dulu Kak Sasuke. Dia menyadarinya saat masuk SMP. Namun, dia merahasiakannya darimu..."

Kanker—kanker darah.

"Hinata memintamu pergi, meninggalkan dan melupakannya karena dia tidak ingin kau melihat kondisinya yang seperti ini, tidak ingin kau bersedih.."

Mimpi.

Aku tahu, ini adalah mimpi. Sebuah mimpi buruk. Hinata tidak mungkin menderita kanker darah. Dia pasti baik-bak saja, tertawa dan berlari seperti biasanya. Karena itu,sadar! Aku harus segera sadar dari mimpi buruk ini!

"Melupakan dan membencimu, itu adalah kebohongan. Tidak pernah sehari pun dalam hidupnya dia melakukan itu. Bahkan dosamu padanya dulu, dia sudah memaafkanmu pada hari kau berlari mendekatinya saat dia mengalami kecelakaan."

Sadar! Aku harus segera sadar dari mimpi buruk ini!

"Dia selalu mencintaimu, Kak Sasuke…"

.

.

.

"Selasa, 22 Januari XXX4."

"Kenalkan namaku, Hinata Hyuga. Mungkin kau bingung saat mendengar ucapanku ini lewat kaset rekaman yang tua ini. Aku sebenarnya ingin menulis di buku harian, tapi karena kondisi mataku, kurasa merekam suaraku akan lebih baik."

" Hm… apa yang ingin aku katakan, ya? Hm.. Begini saja. Aku akan menjelaskan diriku sendiri. Namaku Hinata Hyuga. Aku duduk dibangku SMP kelas dua sekarang. Aku seorang anak yatim piatu dan aku… Aku seorang penderita kanker darah."

" Jangan salah paham, ya? Jangan mengatakan hidupku menderita. Hidupku bahagia kok, sebab aku punya Bu Tsunade yang selalu menjagaku, teman-teman yang selalu menemaniku, yaitu Naruto dan Sakura, serta ada dia, Sasuke..."

"Sasuke adalah teman yang selalu berada di sampingku saat aku masih kecil. Menjaga dan melindungiku. Dan hari ini, aku mendapatkan sebuah kabar gembira dari Bu Tsunade! Kau tahu! Aku senang sekali mendengarnya! Sasuke memang selalu pintar dan hebat! Dia mendapat beasiswa penuh di sekolah ternama di Tokyo! Masa depannya pasti sangat cerah! Sejak kecil dia selalu dapat diandalkan. Dia adalah sosok yang aku tahu pasti akan berhasil kelak! Hehehehe"

"Ehm… Sudah satu minggu sejak kecelakaan yang merengut penglihatanku. Sasuke…. Aku tahu, dia selalu berada di depan kamar setiap hari tanpa berani melangkah kaki masuk ke dalam."

" Sasuke.. Kami mungkin memang sama-sama yatim piatu, tapi, dia sesungguhnya adalah orang yang berbeda dunianya denganku. Dia pintar, tampan, jago olah raga, berkharismadia adalah milik dunia germelap. Sedangkan aku… Aku bodoh, jelek, ceroboh, tidak dapat diandalakan dan… Seorang pesakit."

" Kami berbeda, bukan? Saat aku kecil, aku tidak pernah menyadarinya, namun semenjak masuk SMP, aku sadar. Sasuke… Dia begitu luar biasa. Banyak yang menyukainya, dan hahahahaha, dia bahkan memiliki fanshahahahaha, lucu sekali. Aku jadi teringat dengan kejadian tiga hari setelah aku masuk SMP. Para fansnya datang mencariku, memintaku menjauhinya dan mengatakan aku tidak pantas bersamanya. Ada-ada saja para fansnya itu, tidak diberitahu, aku juga tahu, aku tidak pantas untuknya.."

"Aku tahu, dia marah saat aku mulai menjauhinya. Namun, apa boleh buat, aku tidak mungkin mengikutinya pergi dan pulang sekolah sama-sama seperti saat kami kecil lagi, kan? Aku harus ke rumah sakit untuk memeriksa penyakitku ini, lalu, yang paling penting aku tidak mau dia tahu akan penyakitku.. Sebisa mungkin aku menghindarinya, sebab dengan otaknya yang pintar, dia pasti akan tahu ada sesuatu yang salah dengan diriku jika aku selalu berada di dekatnya. Aku tahu kok, Sasuke sayang padaku. Aku adalah orang yang tubuh besar bersamanya, baginya aku pasti merupakan adiknya,keluarganya. Karena itulah aku tidak mau dia tahu akan penyakitku. Aku tidak mau dikhawatir, sebab penyakitku tidak segawat yang terdengar kok…"

"Sasuke…"

"…"

"…"

" kupikir aku mengerti dirinya, tapi, ternyata aku salah, aku mungkin sebenarnya, tidak pernah begitu mengerti dirinya… Dia berubah, aku tidak tahu kenapa, dia membenci Naruto, bahkan, dia menggunakan kekuasaannya untuk menindas temanku. Namun, yang paling menakutkan itu adalah hari itu… Pada hari dimana Naruto jadian dengan Sakura… Hari itu, aku tidak pulang bersama mereka berdua, karena aku tidak ingin menganggu mereka hahahaha, aku masih ingat betapa gembiranya Naruto saat Sakura menerima perasaannya. Dia berlari mencariku yang ada di belakang gedung sekolah, memelukku erat dan mengatakan dia sudah jadian dengan Sakura. Aku hanya bisa tertawa sambil membalas pelukannya, sebab, aku gembira sekali saat itu, kedua sahabatku akhirnya bersama."

"…"

"…"

" Hari itu seharusnya menjadi hari yang sangat membahagiakan bagiku… Tapi, ternyata aku salah…"

"Saat aku pulang sekolah, Sasuke menarikku ke dalam gudang belakang sekolah, dan disana dia…. d-dia melukaiku… Hik..Hik.. Aku tidak mengerti, aku takut, aku takut….. Itu bukan Sasuke. Sasuke tidak mungkin melakukan itu padaku. Sakit, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu…"

"Hanya, Naruto dan Sakura yang tahu. Mereka marah besar, dan mereka ingin melaporkan apa yang terjadi pada polisi. Namun, aku menghentikan mereka. Aku tidak mau. Bagaimana masa depan Sasuke jika dia sampai masuk penjara? Aku tidak mau masa depannya yang cerah hancur gara-gara aku…"

"…"

"…"

"Naruto memarahiku, dia mengatakan aku bodoh, dan mungkin dia benar, aku memang bodoh. Aku bodoh, bodoh, bodohbodoh karena masih memikirkan Sasuke, masih melindunginya…"

"Menghindar dan menjauhinya. Walau dia mencoba berbicara atau mendekatiku setelah kejadian itu, aku akan segera kabur. Meski wajahnya tersenyum, yang kuingat hanyalah ekspresi wajah dirinya saat melukaiku. Badanku akan bergemetaran dengan sendirinnya… A-aku takut padanya…"

" Hingga semingu yang lalu. Saat aku melihatnya tersenyum dan memanggil namaku, badanku kembali bergemetar hebat. Aku tidak bisa mengendalikan badanku, kakiku melangkah dengan sendiri untuk kabur, dan saat aku melihatnya mengejarku, kepanikkan memenuhi hatiku, aku tidak bisa berpikir dengan jernih, yang aku pikirkan saat itu hanyalah menjauh darinya, dan aku… Aku pun tertabrak."

"Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi saat itu, seingatku, badanku sakit, teriakan orang-orang disekeliling, pandangan yang buram, lalu.. wajahnyawajah Sasuke. Wajah Sasuke yang penuh kebingungan, kepanikan dan ketakutan. Wajah Sasuke yang meminta pertolongan untukku…"

" Sasuke… Walau terdengar lucu, aku gembira saat itu, sebab wajah itu, ekspresi itu, dirinya yang meminta pertolongan untukku, itu adalah Sasuke yang aku kenalSasuke yang selalu ada untukku. Saat aku mengangkat tangan menyentuh pipinya, memanggil namanya, dia segera menatapku dan berkata 'Tenanglah, Hinata. Aku ada di sini, semua akan baik-baik saja, kau tidak akan apa-apa. Aku ada di sini'."

"Aku ada di sini."

"Aku tidak merasa sakit lagi saat mendengar kata-kata itu. Pandanganku jadi gelap, tapi aku gembira, sebab Sasuke yang aku kenal ada di depanku.. Sasuke yang selalu melindungikuSasuke yang selalu kucintai…"

"Ah! Sepertinya, batas rekaman kaset ini sudah habis. Hari ini, cukup sampai sini saja. Semoga Naruto dan Sakura akan membawakanku kaset rekaman baru besok, supaya aku bisa membuat rekaman kaset ini lagi. Hahahahaha…"

"Hinata Hyuga. Selamat malam.."

.

.

.

"Sabtu, 16 Februari XXX4."

"…"

"…"

"Maaf…"

"Maafkan aku, Sasuke…"

"Hari ini, aku telah berbohong kepada Sasuke."

" Aku…"

"Yang aku lakukan adalah benar. Bu Tsunade mengatakan padaku, Sasuke berencana untuk menolak beasiswa yang didapatkannya di Tokyo, sebab, dia tidak mau meninggalkan kota ini, tidak mau meninggalkan aku…."

"Aku senang sekali mendengar itu. Sasuke yang aku kenal sudah kembali, benar-benar telah kembali. Sasuke yang selalu ada di sampingku dan tidak pernah meninggalkanku. Tapi… Aku tidak boleh egois. Ini adalah kesempatan bagi Sasuke, aku tidak mau menjadi penghalang untuknya. Karena itu, aku berbohong padanya, memintanya pergi, tinggalkan aku sendirian, dan mengatakan; Aku membencinya…"

"Aku juga mengatakan pada Sasuke, 'Hiduplah dengan bahagia, jadilah orang yang berhasil, jadilah orang yang hebat, jadilah orang yang sukses di masa depa. Tinggalkan aku, jangan mengingat aku lagi, jangan mencari informasi apa pun lagi mengenai aku. Lupakan aku, lupakan aku seperti aku akan melupakanmu…' . Hahaha, untuk ini, aku tidak bohong. Sasuke, aku hanya ingin dia bahagia, sukses, jadi orang yang hebat. Dan untuk itu, dia harus meninggalkan aku dan melupakanku…"

"Aneh, ya? Padahal ini adalah yang aku inginkan. Namun, kenapa hati ini terasa sakit sekali.. Sakit, sakit sekali seperti telah hancur. Lalu, kenapa air mataku terus mengalir tanpa henti? Kenapa? Kenapa..."

" 'Aku membencimu. Sangat membencimu.' , kata-kata itu kuucapkan padanya, tapi, pada saat bersamaan, hatiku terus bereteriak, 'Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, sungguh mencintaimu, sungguh-sangat hanya mencintaimu.' "

"Perasaan bersalah padakulah yang membuat Sasuke masih berada di sini, di sisiku sekarang. Kecelakaan yangmerengut penglihatanku, dan perbuatan itu… "

"Tapi, kecelakaanku itu tidak ada kaitan dengannya, aku sendiri yang ceroboh. Dan untuk perbuatan itu… Aku sudah memaafkannya. Aku sudah melupakan itu, dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Aku mungkin memang orang aneh, sebab dapat memaafkan perbuatannya itu…"

" Mungkin karena aku mencintainya. Cinta memang aneh, ya? Cinta itu buta, aku mengerti sekali sekarang."

"Bagi Sasuke, aku adalah adik. Namun, sikapnya dulu dan sekarang, kadang-kadang membuatku berpikir, kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Hei, Sasuke, bolehkah aku berharap? Berharap semoga sikapmu selama ini, bukanlah karena kau berpikir aku adalah adikmu. Sikapmu terhadapku selama ini; senyum, tawa, genggaman tangan dan kehangatan, adalah karena kau juga mencintaiku seperti aku mencintaimu… "

"Hinata Hyuga, selamat malam…"

.

.

.

"Rabu, 20 Februari XXX4."

"Hari ini, Sasuke meninggalkan kota ini. Aku tidak mengantarnya."

'"Hahahaha…. Bagaimana mungkin aku bisa mengantarnya. Aku dan dia sekarang.. Hubungan kami…. Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi…"

"Tuhan. Apakah kau bisa mendengar suaraku ini? Kabulkanlah doaku ini, lindungi Sasuke, jauhi dia dari hal-hal buruk. Berikan dia kesehatan, berikan dia masa depan yang cerah, bahagiaberikan Sasuke kebahagiaan hingga akhir…."

"Hinata Hyuga… Selamat malam.."

.

.

.

"Kamis, 4 april XXX5."

"Tidak terasa sudah satu tahun lebih semenjak aku kehilangan penglihatanku. Dan, aku baik-baik saja. Aku sekolah di sekolah khusus sekarang. Aku punya teman-teman baru. Lalu, yang paling penting, aku juga tidak kehilangan kedua sahabatku; Naruto dan Sakura. Mereka berdua masih rutin menemuiku."

"Lalu.. Hari ini, tanpa sengaja, aku mendengar Bu Tsunade membicarakan Sasuke. Syukurlah dia baik-baik saja. Di Tokyo, kudengar dia berkerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dan juga dia harus belajar keras untuk mempertahankan beasiswanya. Hidup Sasuke pasti berat sekali sekarang…"

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya, selain berdoa. Tuhan, lindungi Sasuke. Berikan dia kesehatan, ketabahan, dan kebahagiaan…"

"Sasuke, aku yakin kau bisa menghadapi semua rintangan yang ada…"

"Hinata Hyuga, selamat malam."

.

.

.

"Minggu, 15 Februari XXX6."

"Hebat! Hebat sekali! Sasuke berhasil masuk TODAI, dan tidak hanya itu! Dia juga mendapatkan beasiswa penuh! Hahahahaha, masa depan Sasuke sekarang, seratus persen, sudah terjamin cerah! Terima kasih, Tuhan. Kau sudah mengabulkan doaku!"

"Selama Sasuke! Selamat! Aku gembira sekali!"

"Hinata Hyuga, selamat malam!"

.

.

.

"Sabtu, 6 Juni XXX7"

"…"

"…"

"…"

"Hari ini, aku pingsan. Penyakitku, seperti sudah mulai memperlihatkan tanda-tandanya. Tapi, tidak ada yang tahu, syukurlah…"

"Penyakit inisaat aku pertama kali mengetahuinya, aku duduk di bangku SMP. Aku tahu kok, penyakit ini jugalah yang merengut nyawa Ibu kandungku. PenyakitkuKankerku, tidak ganas, dan dokter mengatakan sangat beruntung bagiku, karena terdeteksi saat masih sangat awal. Namun, untuk pengobatannya, memerlukan biaya yang sangat besar…

"Bu Tsunade yang membayar obat-obatku selama ini, dan aku…"

" Aku sebenarnya merasa sedih, sebab ternyata aku hanya menjadi beban saja…."

"Tuhan, aku tidak tahu harus berdoa apa kepadamu. Kadang aku jadi berharap, bolehkah aku menghilang saja dari dunia ini? Dengan begitu, semuanya pasti akan lebih baik, kan? Hahahaha…"

" Tuhan, berapa lama aku bisa bertahan? Jika kau tidak keberatan, mau kau mengabulkan permintaanku, berikan aku waktu di dunia ini, hingga aku bisa mendengar kabar bahwa Sasuke sudah berhasil, sudah sukses dan bahagia… Tidak apa-apa, aku sendiri juga akan berjuang. Berjuang untuk hidup hingga hari itu tiba…"

"Hinata Hyuga, selamat malam."

.

.

.

"Minggu, 27 April XXX8"

"Penyakitku sepertinya sudah bertambah parah. Tanda-tandanya mulai terlihat. Aku jadi sering mimisan, tulangku jadi nyeri, aku semakin kurus, dan rambutku rontok. Aku hanya bisa berusaha, sebisa mungkinku untuk menyembunyikan semua itu. Aku tidak mau merepotkan dan membuat mereka yang menyayangiku khawatir…"

"Tuhan. Hanya kaulah tempatku bercerita sekarang. Kumohon, berikan aku waktu.. Belum saatnya, sampai aku mendengar kabar Sasuke sudah sukses dan bahagia, hanya sampai hari itu saja, kumohon…"

"…"

"…"

"Hinata Hyuga, selamat malam.."

.

.

.

"Sabtu, 20 Desember XXX8"

"…"

"…"

"Naruto dan Sakura marah besar hari ini-padaku."

"Saat kami berjalan-jalan, aku pingsan, dilarikan ke rumah sakit, dan… rahasia akan penyakitku terbongkar. Haih… yang paling aku takutkan sudah terjadi. Naruto marah, Bu Tsunade sedih, dan Sakura menangis…"

"Tuhan, egoiskah aku karena mengrahasiakan ini semua? Aku hanya ingin mereka bahagia, tidak ingin mereka khawatir dan sedih. Kenapa ini semua jadi seperti ini, ya?

"Sasuke, jika kau tahu kondisi diriku sekarang, apakah kau juga akan seperti mereka? Sedih dan khawatir…"

"Tidak! Tidak! Aku baik-baik saja, aku harus segera menjadi baik-baik saja! Demi mereka yang menyayangiku! Aku baik-baik saja! Hahahahaha!

"Hinata Hyuga! Selamat malam!

.

.

.

"Senin, 13 Maret XXX9"

"Selamat Sasuke! Selamat! Kudengar kau telah lulus TODAI dengan nilai yang sangat memuaskan. Selamat! Aku gembira sekali! Hahahaha!"

"Semoga Sasuke bisa menapatkan perkerjaan yang bagusah, tidak! Buat apa aku menghawatirkan ini! Sudah pasti Sasuke akan mendapatkan perkerjaan yang bagus! Hehehehe. Sasuke sudah lulus dan akan berkerja, dia harus bersemangat! Seperti aku!

"Oh, iya, sepertinya, aku tidak pernah mengatakannya. Begini-begini, aku sudah kerja loh. Semenjak aku lulus dari Sekolahku setahun yang lalu. Aku berkerja di panti asuhan dimana aku dibesarkan. Ya, memang hanya ini yang bisa aku lakukan. Orang yang ceroboh, bodoh dan buta sepertiku, sangat susah mendapatkan pekerjaan. Untung Bu Tsunade dengan baik hati mengijinkanku berkerja di sini…"

"Ah! Aku tidak seharusnya merekam kata-kata tidak berguna ini. Sekali lagi! Sasuke! Selamat!"

"Hinata Hyuga, Selamat malam!"

.

.

.

"Kamis, 15 Agustus XX10"

"Uwa…. Aku tidak tahu harus berkata apa hari ini. Aku mendengar kabar mengenai Sasuke hari ini. Dia membangnu perusahaan sendiri. Hebat sekali, aku hampir tidak percaya saat mendengarnya."

"Sasuk… Dia sudah semakin mendekati apa yang kuharapkan darinya, hehehehehe…"

"Tuhan, apakah ini artinya waktuku akan segera tiba?"

"…"

"…"

"Hinata Hyuga, Selamat malam.."

.

.

.

"Sabtu, 24 Juli XX11"

"…"

"…"

"…"

"Hari ini, aku mendengar suara Sasuke. Meski hanya melalui TV, aku mendengar suaranya. Dia diwawancara sebagai pengusaha muda yang sukses. Suaranya terdengar lebih berat sekarang, sangat maskulin… Ugh! Apa yang aku pikirkan! Hinata bodoh! Aku tidak tahu bagaimana rupanya sekarang, karena aku tidak dapat melihatnya. Tapi, dari orang-orang yang juga ikut menonton bersamaku, para wanita berdesah penuh kekaguman dan mengatakan dia tampan.."

"Tampan. Hehehehe, sudah pasti dia tampan. Sejak kecil, Sasuke kan memang sudah sangat tampan, saat dewasa, tentu saja dia akan jadi semakin tampan… Ugh! Apa yang kupikirkan?!"

"Pokoknya, selamat Sasuke! Kau sudah menjadi orang yang berhasil sekarang!"

"…"

"…"

"Ehm.. Tuhan, mau kau kau mengabulkan satu doaku hari ini?"

"…"

"…"

"…"

"Aku memang tidak bisa melihat rupa Sasuke sekarang. Tapi, bisakah kau membantuku, biarkanlah aku memimpikan rupanya yang sudah dewasa. Aku ingin melihatnya… J-jangan salah paham, ya? Aku hanya penasaran saja, dengan rupanya… ugh! Tuhan, lupakan saja permohonanku barusan! Kenapa aku merasa seperti sedang meminta sesuatu yang tidak seharusnya?"

"Hinata Hyuga, selamat malam."

.

.

.

"Minggu, 14 Juni XX12"

"Sasuke sudah punya kekasih. Seorang artis terkenal. Muncul dalam berita hari ini.. Hahahhaha, Sasuke sudah bahagia sekarang. Yang paling aku inginkan darinya, doa-doakuTuhan, terima kasih. Terima kasih telah mengabulkannya.."

"…"

"…"

"…"

"Tuhan, kenapa hati ini sakit sekali? Kenapa saat aku mendengar berita dia sudah punya kekasih, hatiku sakit sekali? Lalu, kenapa air mataku mengalir? Kenapa, Tuhan? Apakah karena waktuku sudah akan segera tiba? Sasuke sudah sukses dan bahagia, waktu perjanjian kita…"

"…"

"…"

"Hinata Hyuga, selamat malam…"

.

.

.

"Sabtu, 24 Maret XX13."

"Naruto mengatakan aku bodoh. Sebenarnya kalau aku pikir-pikir, dari dulu hingga sekarang, sudah berapa kali, ya, dia mengatakan aku bodoh?"

"Rahasiaku sudah terbongkar semuanya. Hari ini, aku jatuh pingsan lagi, karena penyakitku yang kambuh. Lalu, rekamanku selama ini…tidak tahu bagaimana, Naruto dan Sakura berhasil menemukan dan mendengarnya semua…"

"Naruto marah, dan Sakura menangis. Lagi-lagi aku membuat mereka sedih."

"…"

"…"

"Naruto ingin pergi menemui Sasuke. Dia ingin membawanya kemari, kehadapanku. Namun, aku menghentikannya. Aku tidak mau menganggu hidupnya yang sempurna lagi. Dan untuk itu, Naruto kembali marah. Naruto bertanya padaku, sampai kapan aku mau membohongi diriku sendiri?"

"Membohongi diri sendiri…"

"Perasaanku yang sesungguhnya…."

" Perasaan Sasuke padaku yang sesungguhnya sejak dulu hingga kami berpisah…"

" Naruto sebenarnya benar. Aku selama ini, terus dan selalu membohongi diriku sendiri.."

"Aku mencintai Sasuke. Aku ingin berbahagia bersamanya, mendampinginya, menikahinya, melahirkan anaknya dan menua bersamanya. Lalu, aku juga tahu, Sasuke mencintaiku, bukan sebagai seorang adik. Dia mencintaiku, mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Kami seharusnya bisa bersama, kami seharusnya b-bisa.. Kami bisa bahagia."

"T-tapi, aku pengecut. Aku bodoh. Penakut dan tidak berguna. Penyakitku membuatku yakin hidupku tidak akan lama. Membuatku tidak berani menerima uluran tangan yang ada. Aku bersembunyi, membangun sebuah tembok bernama kepalsuan. A-aku… Aku.."

"M-mengapa? Mengapa semua ini menjadi seperti ini…."

.

.

.

"Jumat, 28 Mei XX13"

"Aku tidak mau berbohong lagi, tidak mau menipu diri sendiri lagi."

"Hari ini, aku berdiri, menggunakan tanganku menyentuh tubuhku, wajahku dan rambutku. Meski tidak dapat melihat. Kutahu, kurus kering, pipi yang tirus, lalu.. rambut yang tidak lagi selebat biasanya. Penyakitkuaku tidak bisa menipu siapa pun lagi…"

"Aku setuju untuk dirawat inap di rumah sakit, untuk menyembuhkan penyakit ini. Kurasa akan sangat menyakitkan. Tapi, aku akan berjuang, aku akan berusaha…"

"Naruto, Sakura, Bu Tsunade dan semuanya.. Maaf, ya… Maafkan aku karena aku adalah orang yang seperti ini…"

" T-terima kasih. terima kasih karena menyayangi aku yang seperti ini…"

"Hinata Hyuga, selamat malam…"

.

.

"Selasa, 28 Juli XX13"

"Aku menunggu pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untukku. Tapi, sampai hari ini, aku masih belum mendapatkannya. Aku ikut kemoterapi sekarang. Rambutku sudah tidak ada, meski tidak dapat melihat, aku tahu, diriku kini pasti benar-benar tinggal tulang dibalut kulit…"

"Kemoterapi… membutuhkan uang yang banyak. Tapi, Bu Tsunade mengatakan padaku untuk tidak perlu menghawatirkannya. Ada orang baik hati, penyandang dana panti asuhan yang akan membayarnya. Aku tidak tahu siapa itu, tapi, aku berterima kasih padanya. Sungguh berterima kasih padanya.."

"Aku akan berjuang…"

"Aku akan berjuang melawan penyakit ini.."

"Hinata Hyuga, Selamat malam.."

.

.

.

"Kamis, 29 Agustus XX13"

"Kemarin, aku bermimpi. Mimpi yang menyenangkan sekali. Mimpi masa kecilku bersama Sasuke…"

"Air mataku tidak berhenti mengalir saat aku bangun, danhahaha, bahkan saat merekam inipun air mataku kembali mengalir."

"Padahal itu mimpi yang menyenangkan, tapi kenapa aku menangis, ya? Dalam mimpi, aku berlari. Sasuke mengejarku, menangkapku, memelukku dan kami tertawa lepas bersama—mimpi yang menyenangkan sekali."

"Aku ingin kembali ke saat itu. Jika saja aku bisa. Aku ingin waktu terhenti saja di sana, bersama Sasuke, selamanya."

"Sasuke, bagaiman,a ya, kabarnya sekarang? Kurasa dia baik-baik saja.."

"Tuhan, aku ingin bertanya padamu, jika saja dulu aku tidak merahasiakan penyakit ini darinya, memberitahunya dan menginginkan dirinya tetap disampingkumenerima cintanya, apakah hidupku sekarang akan lebih baik? Apakah hidupnya juga akan lebih baik dari pada sekarang?"

"Tuhan…"

"Ini rahasia kita berdua saja, ya? Tuhan, aku menyesal sekarang. Tidak seharusnya aku jadi pengecut, mungkin memang egois, tapi, aku ingin Tuhan, aku ingin dia ada disampingku sekarang, mengenggam tanganku…"

"…"

"…"

"Tuhan… Sasuke… Aku takut mati…."

"…"

"…"

"…"

.

.

.

"Rabu, 13 Januari XX14…"

"Aku tidak tahu kapan aku bisa membuat rekaman ini lagi. Hari-hari berlalu, namun, aku tidak dapat mengingat jelas lagi apa yang terjadi…"

"Badanku sakit, perutku terus terasa mual.. Aku tidak punya tenaga. Aku terus tertidur.."

"Tapi, mimpiku menyenangkan… Aku sering memimpikan masa kecilku dengan Sasuke sekarang…"

"Sasuke.. Aku ingin memberitahmu… Dalam hidupku yang singkat ini; Terima kasih.. Terima kasih karena telah mengajariku apa itu cinta…"

"Hinata Hyuga, Selamat malam…"

.

.

.

"Jumat. 7 April XX14"

"Aku ingin semua orang bahagia. Aku ingin mereka tetap tersenyum dan tertawa, hidup dengan bahagia walau aku sudah tiada…"

"Orang yang selalu menyayangiku, Bu Tsunade, Naruto, Sakura dan Sasuke…"

"Sasuke… kau harus hidup, ya? Bahagia…. Sebab aku akan bahagia jika kau bahagia…

"Hinata Hyuga… Selamat malam.."

.

.

.

"Senin, 20 Mei XX14.."

"T-Tuhan… A-aku tahu, waktuku akan tiba tidak lama lagi. Aku tidak dapat merasakan apa-apa lagi sekarang…"

"…"

"…"

"Tuhan, aku punya permintaan…"

"Ijinkan aku melihatnya… Aku tahu, a-aku sudah buta. T-tapi, ijinkanlah aku melihatnya…"

"I-ijinkan aku melihat Sasuke untuk terakhir kalinya dan memberitahunya…"

"Terima kasih…"

"..."

.

.

.

.

Hari ini adalah selasa, tanggal 28 Mei XX14—Satu minggu setelah rekaman Terahir Hinata.

Duniaku hancur. Hatiku hancur. Hancur lebur. Air mata mengalir turun, tanpa bisa kuhentikan lagi. Mimpi buruk. Ini mimpi buruk. Mengapa? Kenapa? Aku tidak bisa menerimanya. Aku telah membiarkannya menderita. Hinata, aku telah membiarkannya menderita selama sepuluh tahun. Menangis, ketakutan dan tidak berdaya…

Aku tidak berguna, meski aku sudah tahu semuanya, yang bisa kulakukan sekarang tetaplah hanya duduk di sampingmu, mengenggam tanganmu dan menangis…

Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu. Sakit. Hatiku sakit sekali. Sesak, hatiku sesak sekali, aku tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir— aku serasa sudah gila! Kumohon, siapapun juga, aku mohon selamatkan dia! Selamatkan Hinata!

Aku seharusnya mengetahuinya. Hinata yang tumbuh besar bersamaku, aku seharusnya tahu ada sesuatu yang salah padamu. Namun, aku tidak. Aku sudah gagal. Aku tidak berguna. Aku tidak bisa melindungimu, yang aku bisa hanyalah menyengsarakanmu, membuatmu menangis dan menderita..

Yang seharusnya berada di sana, tebaring lemah tanpa dapat bergerak seharusnya adalah aku, bukan kamu, Hinata.

"S-Sasuke…"

Suara pelan dan lemah itu segera membuatku mengangkat kepala menatap dirimu yang terbaring. Kurasakan tanganmu bergerak, dan kulihat kedua matamu terbuka.

"S-Sasuke…" panggilmu lagi lemah.

"Aku di sini. A-Aku di sini, Hinata. Aku di sini." Aku segera berdiri dan mengenggam erat tangan,u. Kelegaan dan kebahagiaan membanjiri hatiku. Kau sudah sadar, dan aku berjanji, aku bersumpah, aku pasti akan mencari jalan meyembuhkanmu.

Kepalamu dengan pelan menoleh menatapku, Lalu…

Keajaiban terjadi. Matamu terbelalak, air mata mengalir turun, sebuah senyum merekah di wajahnya—kebahagiaanmu. Detik itu, aku tahu, kau melihatku. Matamu yang seharusnya tidak dapat melihat apa-apa lagi selain kegelapan, berhasil melihatku, melihat wajahku..

"S-sasuke.. T-terima kasih, dan.. Maafkan aku, karena aku mencintaimu…"

.

.

.

The End…

Author 's Note : Aku akan membuat Epilog untuk bagian terakhir Fic ini. Dan jujur saja, aku sebenarnya kurang puas dengan bagian terahir chapter ini, tapi, ya.. aku sudah terlalu malas membuatnya -_-".

Aku tahu fic ini pasti sangat aneh dan OOC. Jalur cerita dan plotnya juga mungkin sangat aneh, typos banyak. Tapi maklumi ya, sebab aku bukan seorang Pro ^^

^^Terima kasih bagi yang sudah menriview fic ini ^^

Razux.