Fandom: Sasukeganteng

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Summary: Ladang bunga, tempat pertemuan mereka. Setangkai bunga, tanda cinta mereka.

Warning: ooc, abal, gaje, gombal, nista, crack, pedo, elektra, alur yang lambat zzz …dan nistatiadatara -__-'

Settingnya saat-saat menjelang ujian chuunin untuk Sasuketampan cs akan dimulai.

--

Fic untuk Infantrum ~ Tantangan Satu Bahasa Kita -_-'

SETANGKAI BUNGA

II

Setangkai bunga putih berada dalam vas di atas meja kamar Hanabi. Sebagian kelopaknya sudah rusak, siraman air tidak mampu memperlambat layunya. Hanabi tahu itu bukan bunga plastik yang bisa selalu tampak segar. Tapi Hanabi tidak tahu mengapa dia terus menyimpannya.

Di hari ketika bunga itu tersemat di rambutnya, Hanabi meremas dan membuangnya, dia tidak mau menerima perlakuan Hokage kepadanya. Untuk apa seorang Hokage melakukan hal tidak berguna seperti itu. Hanabi merasa dipermalukan di depan guru dan teman-temannya, dia berlari tanpa menghiraukan banyak pasang mata memandang heran padanya.

Jauh dari ladang bunga, di tepi sungai dalam hutan kecil itu, Hanabi terduduk dengan raut kesal. Bunga apanya? Menjadi ninja tidak butuh bunga untuk menjadi kuat. Manis apanya? Menjadi ninja tidak perlu manis untuk menjadi hebat. Kelakuan Hokage hanya membuatnya tampak bodoh.

"Hanabi! Cepat keluar dari kamarmu. Kau tidak mau latihan hari ini?"

Teguran Hiashi menghentikan lamunan Hanabi. Yang terpenting untuk menjadi ninja adalah latihan. Jika tidak bisa menjadi ninja yang kuat, mungkin Hanabi akan gagal menjadi ahli waris dan akan dipindahkan ke keluarga cabang, begitulah pikirnya.

'Apa yang menjadi bebanmu? Apa yang salah dari bunga ini?'

Sang Hokage Ketiga sendirian menyusul Hanabi yang kabur ke tepi sungai. Di tangan keriputnya tergenggam setangkai bunga putih yang telah rusak teremas. Sekali lagi dia tersenyum dan menyematkan bunga itu ke rambut Hanabi.

'Aku akan menunggumu di ladang bunga setiap hari. Temuilah aku kalau kau ingin menumpahkan semuanya.'

Sambil berbegas menuju dojo Hanabi kembali teringat ucapan Hokage. Hanabi tidak mengerti mengapa itu terus terngiang di kepalanya, sama seperti mengapa bunga itu masih dia simpan di kamarnya.

.

.

.

"Wah! Belakangan ini Anda cekatan sekali!"

"Semua dokumen beres sebelum tengah hari! Benar-benar hebat!"

Kotetsu dan Izumo terkagum melihat tumpukan dokumen di atas meja Hokage siang ini. Mereka terbiasa mengambil dokumen-dokumen itu pada sore hari. Walaupun begitu, tanpa banyak tanya mereka memberi hormat lalu pergi membawa tumpukan dokumen itu untuk diproses lebih lanjut oleh pegawai lainnya.

Menyelesaikan tugas sedemikan banyaknya dalam waktu singkat bukanlah hal mudah untuk orang setua dirinya. Namun itu tidak menjadi masalah karena dia ingin semuanya beres secepatnya supaya bisa melakukan hal yang lain.

Hokage melangkah keluar dari kantornya dengan pipa rokok yang tak pernah lepas darinya. Setiap warga yang berpapasan dengannya disapa dengan ramah. Sudah beberapa hari Hokage berjalan di rute yang sama ini, dia tertawa pada dirinya sendiri.

"Apakah hari ini pun dia masih tidak mau ke tempat itu? Atau mungkin dia sudah melupakannya, haha."

.

.

.

"Hanabi-chan, main bareng yuk! Ada boneka baru di rumahku!"

"Lain kali yah, Mimiko-chan. Aku harus latihan bersama ayahku hari ini."

Usai sekolah bukan waktu yang bebas bagi Hanabi yang hidup dengan ayah yang keras, juga peraturan keluarga yang keras. Namun Hanabi heran, mengapa kakaknya masih lembek walau sudah ditempa dalam lingkungan yang keras.

Sembari berjalan menuju rumahnya, terkadang Hanabi berhenti sebentar di depan jalan masuk ke hutan kecil yang ada di dalam desa. Hanabi masih mengingat ucapan Hokage saat itu. Antara ragu-ragu dan kurang berminat, akhirnya Hanabi hanya melewatinya begitu saja. Tidak ada gunanya menemui orang yang bicara bodoh soal bunga, sekalipun seorang Hokage.

.

.

Hinata tergeletak tak berdaya di lantai dojo, sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Tak jauh dari situ ada Neji yang menatap dingin padanya, sementara Hiashi berdiri di samping arena. Hanabi belum sempat masuk ke dojo dan mengintip kejadian itu dari balik pintu.

"Jangan berbaring saja, Hinata. Ini caramu membanggakan aku dan keluarga utama kita? Kau tidak akan pernah menjadi ahli warisku kalau sikapmu seperti ini terus. Huh, apa yang Kurenai-san pikirkan dengan mendaftarkanmu dalam ujian chuunin tahun ini?!"

"Hinata-sama, apakah latih tanding kita sebelum mengikuti ujian chuunin ini masih ingin diteruskan?"

Tidak ada jawaban dari Hinata. Pukulan-pukulan Neji telak mengenainya. Untuk menggerakkan jemarinya saja Hinata sudah kepayahan. Hiashi masih terus memarahi putri sulungnya. Neji masih menahan diri agar tidak membunuh sepupunya. Suasana dojo yang berat dan menegangkan membuat Hanabi tidak berani masuk.

Kalau saja Hinata tidak lebih lemah dari dirinya, mungkin Hanabi lah yang menjadi bulan-bulanan keluarga. Hyuuga adalah keluarga elit yang aneh. Mengapa harus ada keluarga utama dan keluarga cabang. Mengapa ada peran majikan-pelayan antar saudara. Hanabi sudah cukup bersabar dan terus berusaha sekuat tenaga agar dirinya tidak terbuang dari keluarga utama, tiap hari mati-matian berlatih agar bisa menjadi orang yang diakui ayahnya.

Melihat Hinata terkapar seperti itu, Hanabi tahu berpura-pura tidak peduli seperti yang biasanya adalah pengingkaran terhadap rasa sayang kepada kakak kandungnya. Namun Hanabi tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Masuk dan membela Hinata atau menentang Hiashi bukanlah pilihan yang tepat untuk anak kecil sepertinya. Hanabi menjauhi pintu masuk dojo, melangkah mundur dan berlari keluar dari kompleks rumahnya yang luas itu.

.

Marah, sedih, kecewa, putus asa, tidak berdaya, semuanya bercampur dalam pikiran yang membuntu. Mengapa Hyuuga tidak bisa menjadi keluarga yang normal seperti yang lainnya? Hanabi terus berlari tak tentu arah sambil menahan air matanya agar tidak keluar.

Setelah kakinya mulai lelah, Hanabi baru menyadari dirinya sudah berada dalam hutan kecil di dalam desa. Entah apa yang membuatnya menuju ke tempat ini. Mungkin Hiashi akan mendampratnya karena hari ini tidak mengikuti latihan, berbagai alasan basi terpikirkan untuk mengelak nanti. Kini Hanabi hanya ingin menenangkan diri.

'Apa yang menjadi bebanmu?'

Kalimat itu kembali muncul di dalam kepalanya.

'Aku akan menunggumu di ladang bunga setiap hari.'

Hanabi tidak yakin karena sudah seminggu berlalu. Tapi siapa yang tahu. Melewati pepohan dan semak belukar, tak perlu waktu lama untuk mencapai tempat itu. Di sana Hanabi melihat seorang pria yang berbaring santai di antara bunga-bunga berwarna-warni ditemani asap yang mengepul dari pipa rokoknya.

"Sudah seminggu aku menunggu. Lebih cepat dari yang kukira."

Hokage bangkit duduk dan tersenyum pada Hanabi yang berjalan perlahan menuju kepadanya.

"Adakah yang menggangu pikiranmu hingga datang kemari?"

Hanabi ingin menumpahkan segala beban pikirannya tentang Hyuuga. Namun ada hal yang membuatnya sedikit penasaran ketika melihat Hokage berbeda dari biasanya.

"Hokage-sama, di mana jubah dan caping lambang Hokage yang biasa Anda kenakan?"

Kembali sebuah senyuman hangat terbentuk di wajah Sang Hokage.

"Aku ingin menemuimu bukan sebagai Hokage Ketiga, tapi sebagai Sarutobi Hiruzen."

Tbc… XD

.

.

Aduh, nista sekali kau Sandaime =_=' mulai terasa ooc dah. Maksut hati menawarkan diri jadi biro konsultasi alias tempat curhat, tapi keliatan kayak mo flirting ajah hahah, ato itu emang maksut sebenernya? Ufufu. Smoga next chapter bisa memperjelas maksut Sandaime :p

Maap kalo Hinata babak belur dan Neji+Hiashi masih jahat,
mari kita tunggu hingga Naruto menempeleng Neji mpe tobat di ujian chuunin nanti XD

Jadi,
Akankah Hanabi mulai membuka hatinya pada Sandaime?
Akankah cinta tumbuh di antara mereka?
Udah dua chapter dan ceritanya ga maju-maju juga! *ditimpuk*

…yah…karena saia berpikir ini kisah nista dari crack pairing yang rasanya lebih susah dari crack pairing macem SasuKillerbee ato SasuKonan ato siapapun yang sebaya ato beda usianya ga tlalu ekstrim, rasanya aneh kalo antara kakek bau tanah dan anak bau kencur tau2 ada rasa cinta ga jelas darimana datangnya kan? Hahah –alesan mulu-

Oh ya, jangan tanyakan siapa itu Mimiko-chan, dia cuma OC numpang lewat dengan 1 baris dialog dan ga kebagian deskripsi fisik sama sekali lol. Sudahlah. Haha. /stress.

Pembaca yang terhormat,
Terima kasih Anda masih mengikuti kisah nista ini,
Mari menantikan kelanjutannya yang makin nista =_='
Mari bergabung dalam INFANTRUM, tempat pecinta fanfiction berkumpul.
Ikuti workshopnya dan belajar bersama untuk membuat fic yang berkualitas!
Silahkan mengunjungi profile page saia untuk keterangan lebih lanjut.
Oia, minta ripyu donk? Haha.
Arigatobitobitobi XDD