-Chapter 02.
Beberapa hari setelah insiden 'Eren-diserang-sama-guru-wali-kelasnya-sendiri.' itu,Eren jadi sering melamun,jarang makan siang dan menjauhi Rivaille tentunya.
''oooi?Eren?'' Mikasa berusaha membangunkan Eren yang sedang melamun sambil menopang dagunya dengan tangan kanan.
''eh?ah,Mikasa,Armin?ada apa?''
''kok malah ada apa?kami kesini buat ngajak kamu makan dikantin,kalo gak cepet nanti kantinnya penuh,loh.''
''kalian ke kantin aja duluan,aku lag enggak napsu makan.''
''Eren,akhir-akhir ini kamu jarang makan siang,loh. Apa ada masalah?kamu bisa cerita sama aku dan Mikasa.'' ah,Armin…kamu memang cowok shota yang paling baik.
''tidakada apa-apa kok,aku cuma lagi agak enggak napsu makan.'' Eren tertawa tapit erlihat jelas kalau ketawanya itu dibuat-buat.
''kalau begitu,aku dan Armin ke kantin,ya?kalau ada apa-apa panggil kami saja,ya.'' kemudian Mikasa dan Armin beranjak dari kelas Eren menuju ke kantin.
''AAAAHHHH!apa yang waktu itu hanya mimpi?tapi bekasnya terlihat jelas dileherku,jadi…itu bukan mimpi?tap iRivaille-sensei bersikap sepert ibiasa saja?atau aku yang aneh?AAARRRGGGH AKU TIDAK MENGERTI!''batin Erensambil meletakkan kepalanya diatas meja.
''Eren!''
''hah?apa?si—''
JDUAK!
Begitu namanyadipanggilsecaratiba-tiba,Erenlangsung sajamengangkatkepalanyatanpaba bi bu be bo,dan puncak kepala Eren berhasil menyundul dagu Jean yang tidak bersalah.
''AARRGH!EREN!APA YANG KAU LAKUKAN!?KAU PIKIR DAGUKU ITU BOLA VOLI YANG DIPAKE BUAT ATRAKSI ANJING LAUT!?'' teriak Jean dengan suara indahnya sambi lmemegangi dagunya dengan kedua tangan.
''aduduh…sori-sori,tadi aku lagi ngelamun makanya kaget pas kamu panggil tiba-tiba.'' Eren yang memegangi puncak kepalanya meminta maaf layaknya anak kecil nabrak pak polisi…pake sepeda.
''udahlah,kamu dipanggil Rivaille-sensei tuh,disuruh keruangannya.''
JEDER.
Bumi gonjang ganjing
Colossal Titan nari balet
Dunia kiamat.
''…..Rivaille-sensei memanggilku?ada perlu apa?'' tanya Eren dengan wajah penuh tanda tanya(baca : shock).
''mana aku tahu. Palingan disuruh bantu beresin ruangannya atau apalah gitu?'' Jean menjawab sambil mengangkat kedua bahunya. Eren beranjak menuju ruangan Rivaille dengan efek background awan hitam dan hujan petir.
.
.
.
''p-permisi…?'' Eren membuka pintu ruangan Rivaille dengan perlahan dan melihat Rivaille sedang berdiri ditengah-tengah tumpukan buku tebal yang berserakkan dilantai.
''apa kau tidak pernah diajari oleh ibumu kala umau masuk ke ruangan atau rumah orang lain itu harus ketuk pintu dulu,Jaeger?'' Rivaille memasang wajah datarnya yang entah kenapa terlihat lebih seram dari biasanya bagi Eren.
Eren bergidik ngeri.
''m-maaf..''
''ulangi lagi.''
''hah?''
''kok malah hah?keluar,tutup pintu,lalu ketuk pintunya. ''
''…'' Eren tidak bisa membantah,hanya bisa menuruti Rivaille.
Setelah keluar dan menutup pintu,Eren mengetuk pintu tersebut.
''permisi,Rivaille-sensei.''
''ya silahkan masuk.''
'serius,ini apa gunanya,sih?'' batin Eren sambil menutup pintu ruangan dan berjalan menuju Rivaille yang masih diposisi semula.
''jadi…kenapa sensei memanggilku?''
''aku perlu bantuan.''
''bantuan apa?'' Eren bertanya sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
''bantuan untuk menyusu nbuku-buku in imenurut alphabet.''
Ada hening sebentar.
''semua buku….yang ada disini?'' mata Eren membulat.
Dari yang dia lihat,ini seperti lautan buku yang memenuhi ruangan layaknya air laut Samudera Pasifik.
''jangan bengong saja,bantu aku. Aku sudah menyusun buku-buku ini sampai urutan D.'' perintah Rivaille sambil mengambil beberapa buku yang berserakkan untuk diurutkan didalam rak.
Tanpa banyak komentar,Eren langsung saja mengambil beberapa buku dilantai untuk diurutkan.
Suasana hening.
Tidak suara yang berarti diruangan Rivaille saat ini,hanya suara langkah kaki Eren atau Rivaille yang sesekali beranjak dari depan rak untuk mencari buku.
''suasana ini awkward banget…'' batin Eren sambil mencari-cari buku dengan huruf G.
''oi,Jaeger.'' suara Rivaille tiba-tiba memecahkan keheningan.
''y-ya?''
''kau susun buku ini dirak,aku akan mencari buku dengan huruf G.''
''eh?kenapa tiba-tiba ga—'' tiba-tiba Eren menyadari sesuatu : Rivaille enggak bisa menggapai rak yang tinggi itu.
''cepat susun buku-buku ini,Jaeger.'' Rivaille memberikan 'Death Glare'nya kepada Eren yang langsung sigap menyusun buku-buku tersebut dengan rapi.
'DING DONG.' bel istirahat berbunyi dengan kencang,membuat Eren yang sedang konsentrasi mencari buku jadi terkejut.
''a-aaah!pelajaran Irvin-sensei sudah dimulai!mana akubelum ganti baju,pula!'' Eren panik pangkat 12.
''kau sudah cukup banyak membantu,kau boleh pergi sekarang.'' ujar Rivaille sambil masih menyusun buku dengan rapih.
''a-ah..saya permisi dulu.'' kemudian Ere nlangsung ngacir untuk mengganti seragamnya dengan baju olahraga.
.
.
.
''kau telat 10 menit,Jaeger.'' ujar Irvin sambil mencatat keterlambatan Eren dibuku absen miliknya.
''maaf,sensei .tadi aku membantu Rivaille-sensei,makanya tidak sadar kalau pelajaran selanjutnya sudah mulai.'' Eren menjelaskan sambi lmenyeka keringatnya.
''membantu Rivaille?'' Irvin memasang wajah agak terkejut.
''i-iya…''
''membantu apa?''
''membantu mengurutkan buku-buku menurut alphabet diruangannya.''
''aneh,biasanya Rivaille tidak suka ada orang yang masuk keruangan pribadinya,makanya dia tidakpernah menyuruh orang untuk datang keruangannya.'' entah kenapa Irvin menegaskan dibagian 'tidakpernah' dikalimatnya tadi.
Eren memasang wajah bingung ''lalu kenapa dia malah sengaja memanggilku untuk membantunya?'' batin Eren sambil melamun.
''sudahlah. Jaeger,sekarang kau lari lapangan 10x.''
''H-HAAH!?'' Eren shock setenga hidup.
''apa kau mau hukumanmu ditambah,Jaeger?''
Eren menggeleng cepat dan langsung menuruti perintah Irvin.
Setelah Eren menyelesaikan hukumannya,para siswa laki-laki membagi kelompok untuk bermain sepak bola.
Namun Eren masih memikirkan perkataan Irvin tadi sehingga dia tidak konsen main,malahan dia hanya melamun dipinggir lapangan sementara teman-teman sekelasnya sedang bermain bola dengan rusuhnya.
''hei,Bert. Apa kau merasa akhir-akhir ini Eren terlihat lesu dan sering melamun?'' tanya Reiner yang sedang duduk dipinggir lapangan,diseberang tempat Eren melamun.
''hm?masa sih?aku sih tidak terlalu perhatiin.''
''kamu itu memang enggak peka tau gimana?nenek-nenek lagi kayang juga pasti nyadar kalo Eren itu lagi…galau.'' Reiner sengaja menekankan dibagian 'galau'nya.
''iya juga sih,kira-kira dia kenapa,ya?'' Bertholdt berpikir sambil terus memperhatikan Eren yang masih melamun dipinggir lapangan tanpa melakukan apa-apa .
''ngomong-ngomong,Berth,bagi minum dong.''
''minum kamu kemana?tadi,kan kamu bawa minum 1 botol?'' tanya Bertholdt sambil mencari-cari botol yang ia maksud.
''sudah habis,jadi aku taruh dikelas biar enggak hilang. Udah bagi ya,minumnya.'' tanp aba bi bu be bo,Reiner langsung mengambil botol air mineral yang ada ditanga nBertholdt dan langsung meminumnya.
''CIEEE REINER SAMA BERTHOLDT CIUMAN ENGGAK LANGSUNG!CIEEEEHHH!'' tiba-tiba suara perempuan yang terdengar dari sebelah Reiner membuat Reiner menyemburkan air yang baru saja dia minum.
''H-HAAH!?APA MAKSUDMU,HANJI-SENSEI!?'' Reiner berteriak seraya menatap wajah sang pemilik suara,Hanji Zoe,guru kesehatan di SnK High School.
''ufufufuuu,kau tidak tahu,ya?kalau Bertholdt sudah minum dari botol itu,lalu kamu minum dari botol itujuga,itu artinya kalian CIUMAN ENGGAK LANGSUNG.'' Hanji menjelaskan sambi lmemasang senyuman ala fujoshi yang terlihat jelas diwajahnya.
Background dibelakang Reiner langsung retak.
Sedangkan Bertholdt sedang asik nge-blush disebelah Reiner.
''HAN-JI-SEN-SEEEIII!''
''HUAAAA ADA ARMOURED TITAN NGAMUUKK!KYAHAHAHAAA!''
Mereka berduapun berakhir kejar-kejaran keliling lapangan selama satu jam pelajaran olahraga.
.
.
.
''EREN!AWAAAS!'' teriak seorang anak lelaki berambut-hampir-botak-alias-cepak kearah Eren sambil memasang tampang horor.
''hah?AAAHHH!'' Eren yang sadar dari lamunannya,langsung menutupi wajahnya dengan lengan kanannya untuk menghindari bola sepak yang terbang kearahnya dengan kecepatan tinggi.
JDUG.
Bola sepak sukses menghantam lengan kanan Eren dengan diiringi epic Hallelujah sound efect.
''aduduh…CONNIE!KAMU TENDANG BOLANYA KEMANA SIH!?'' teriak Eren kepada cowo-cepak-Connie tersebut.
''sori,sori!lagian dari tadi dipanggilin kamu cengo aja,sih dipinggir lapangan.''
''lengan kanan kusakit banget,nih.''
''udah kamu keruangk esehatan aja,biar Hanji-sensei mengobatimu.''
''yaudah,bilangin Irvin-sensei,ya kalau aku keruang kesehatan.''
''yaya,sekarang kamu keruang kesehatan,sana.''
.
.
.
Saat Eren membuka pintu ruang kesehatan,bukannya Hanji yang ia temui,melainkan….Rivaille.
Eren asma ditempat.
''Jaeger?bukannya kau sedang pelajaran olahraga sekarang?''
''e-eh?ya…tadi lengan kananku kena bola sepak..''
''hoo?kau datang disaat yang tidak tepat,Jaeger.''
''eh?kenapa?''
''beberapa menit yang lalu Hanji datang kesini dengan lesu dan langsng ambruk keatas kasur,katanya sih habis dikejar-kejar sama 'Armoured Titan yang lagi ngamuk' makanya dia langsung tidur begitu saja.'' Rivaille menjelaskan panjang lebar sambil menunjuk Hanji yang sudah terlelap diatas kasur ruang kesehatan dengan mulut terbuka dan masih menggunakan kacamatanya walau saa ttidur.
''armoured titan?itukan julukan buat Reiner gara-gara dia mirip armoured titan dari anime itu?masa Hanji-sensei kejar-kejaran sama Reiner?'' batin Erens ambil memperhatikan Hanji yang tidur dengan damainya.
''biar aku saja yang mengobati lukamu,Jaeger.''
''e-eh?memangnya Rivaille-sensei tidak ada jadwal mengajar?''
''tidak,aku sedang bebas sekarang. Duduk disini dan lepas jerseymu.'' perintah Rivaille sambil menunjuk bangku kosong disebelah tempat dia duduk.
''a-ah..baik.''
Saat Eren membuka jerseynya,bekas gigitan yang ditinggalkan oleh Rivaille masih terlihat jelas dileher Eren.
''bekas itu…'' Rivaille menaikkan alisnya.
''e-eh?aahh!i-ini..'' Eren yang menyadari kalau bekas itu telihat,langsung beruhasa menutupinya menggunakan tangan kirinya.
''perlihatkan bekas itu padaku.'' Rivaille memaksa Eren untuk memperlihatkan bekas itu supaya dia bisa menutupinya menggunakan plester.
''sudah. Sekarang perlihatkan lenganmu.''
''ah..ya.''
''lukamu tidak parah,hanya memar. Kalau kuberi obat pasti akan sembuh dalam waktu dekat.'' Rivaille mengamati bekas memar yang terlihat jelas dilengan kanan Eren sambil mengelusnya pelan dengan obat.
Tubuh Eren terasa bergetar dan wajahnya memerah.
''e-eh..se-sensei…a-aku sudah lebih baik,jadi…''
''lenganmu perlu dipijit sedikit lagi supaya memarnya tidak tambah parah. Bersabarlah sedikit,Jaeger.''
''t-tapi..i-itu..''
''…..apa kau takut padaku?''
'b-bukan begitu!h-hanya saja..itu..'' Eren sudah tidak tahu mau bilang apa lagi.
''Ere—''
''Eren-kun~ ada apa kemari~?'' tiba-tiba Hanji muncul dibelakang Rivaille sambil memasang senyuman fujoshi-nya yang khas itu.
''H-HANJI-SENSEI!?BUKANNYA ANDA TERTIDUR!?''
''memang,tapi aku mendengar suara kalian,makanya aku terbangun.''
''kayaknya suara kita itu kecil dan jarak kami dengan kasur yang ditempati Hanji-sebsei itu agak jauh,kenapa dia bis abangun?jelas banget kalau dia bohong.'' batin Eren sambil sweatdrop.
''k-kalau begitu,saya permisi dulu,pelajaran selanjutnya akan dimulai.'' Eren pun langsung ngacir keluar ruangan untuk mengganti bajunya.
''hei,bukannya itu jerseynya Eren-kun?'' Hanji yang menyadari jersey Eren tertinggal diatas meja ruang kesehatan langsung mengambil jersey tersebut.
''dasar bocah ceroboh.'' Rivaille menghela nafas sambil menyenderkan punggungnya kepinggiran meja.
''aku mau sihmengembalikan jersey ini,tapi aku tidak tahu dia dikelas mana.''
''kemarikan,'' lanjut Rivaille sambil mengambil jersey Eren dari tangan kanan Hanji '',biar aku yang mengembalikan ini.''
.
.
.
''Jaeger!''
Mendengar suara yang dia kenali memanggilnya,Eren bergidik ngeri kemudian melihatkearah sang pemilik suara.
''jerseymu ketinggalan diruang kesehatan.'' ujar Rivaille sambil memberikan jersey yang ia maksud.
''a-ah…maaf,aku akan lebih hati-hati.''
''jangan diulangi lagi,bisa-bisa nanti kau malah kehilangan sesuatu yang berharga bagimu. Sekarang ayo kita masuk kekelas,waktunya pelajaran dengan wali kelas.''
''baik.''
begitu Rivaille dan Eren memasuki kelas,kepala sekolah yaitu Pixis,sedang memberikan pengumuman.
''ah,kalian datang diwaktu yang tepat sekali,aku baru saja akan memberikan pengumuman.''
''pengumuman apa,Pixis-san?'' Rivaille memasang nada bicara agak bertanya-tanya walau wajahnya tidak berubah sedikitpun.
''kau akan tahu saat kuumumkan. Nak,kau duduklah dibangkumu supaya aku bisa memberikan pengumuman.''
''ah,baik.'' Eren langsung duduk tertib ditempatnya.
''jadi,yang ingin kusampaikan adalah...''
- TO BE CONTINUED -
yo,minna~ Alice desu~
terima kasih kepada para readers yang sudah setia membaca fic gaje nan labil ini sampai chapter 2. ngomong2,Alice mandapat banyak komentar di chapter 1 tentang ''alur ceritanya kecepetan'' atau ''Rivai main nyerang Eren aja,dia itu guru pedo,ya?'' makanya,chapter 2 ini Alice tambahin dialog sama adegannya biar kesannya gaterlalu kecepetan dan tadinya Alice mau buat Riviai -uhuk- nyerang Eren dikit2 gitu diruang kesehatan,tapi karena mereka lagi disekolah dan kebetulan ada Hanji,jadi Alice bikin Hanji jadi ''sang penghancur suasana.'' muahahahaa.
maaf ya kalau akhir chapter 2 ini ngegantung banget dibagian Pixis mau ngomong,Alice masih pemula dalam menulis fic,jadi gatau mau bikin akhir yang bikin penasaran itu gimana caranya
mungkin ada beberapa dari readers yang nyadar kalau Alice nyelipin sedikit Reiner x Bertholdt disini,tapi cuma pas Reiner di-cie-in sama Hanji,terus Bertholdtnya nge-blush sendiri,fufufufufu /abaikan author labil ini/
any way by the way busway,sekali lagi terima kasih kepada para readers yang membaca fic ini,Alice akan berusaha membuat fic yang lebih bagus dan cetar membahana!ganbarimasu!
Kurosawa Alice.
