Chapter 03.
"Jadi, yang ingin kusampaikan adalah seluruh anak kelas 1 angkatan ke-34 tahun ini akan pergi mengikuti acara retret selama 3 hari 3 malam,dan untuk itu—" Belum selesai Pixis berbicara, salah seorang murid yang terlalu bahagia melewati garis batas normal kebahagiaan manusia langsung berteriak bahagia.
"YEIY KITA BAKALAN NGINEP 3 HARI 3 MALEEEM!" Teriakan seorang murid berambut-cepak-yang-kita-kenal-sebagai-Connie diikuti teriakan "HOREE!" Oleh murid-murid lainnya, termasuk Eren yang (tumben) tidak sedang melamun.
Sorakan bahagia para murid kelas 1-5 langsung menghilang ketika Rivaille memukul mejanya dengan satu tangan dan memasang 'death glare.' yang mampu membuat seseorang ciut jika menatapnya terlalu lama.
''Terima kasih, Rivaille,'' Setelah batuk sedikit, Pixis melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong ",Kita akan berangkat untuk retret tanggal 28 Oktober nanti, jadi kalian segera beritahu orang tua kalian dirumah. Nanti saya akan menyuruh OSIS untuk menempelkan pengumumannya di majalah dinding supaya kalian bisa mencatat keterangan tentang retret kali ini."
"Hem…tanggal 28 Oktober berarti 3 hari lagi,ya?" Gumam Jean sambil menopang dagunya.
"Pixis-san." Eren mengangkat tangannya yang menandakan kalau ia ingin bertanya sesuatu.
"Ya?ada apa?"
"Um..sejak minggu lalu kedua orang tuaku sedang pergi keluar negeri, jadi aku tidak bisa memberi tahu mereka soal retret ini…''
"Apa kau tidak tahu nomor telepon atau alamat mereka disana?"
"Aku tidak tahu nomor telepon mereka disana, kalaupun aku menulis surat pasti sampainya akan lama."
"Hem…." Pixis terlihat bingung sambil mengusap dagunya.
"Apa kau tidak punya wali di sini, Jaeger?" Rivaille yang dari tadi diam akhirnya berbicara.
"Wali? Sebenarnya ada paman Hannes yang mengurusku,tidak apa kalau dapat ijin dari pamanku?"
"Tidak apa, asalkan walimu sudah mengijinkan itu sudah cukup.'' Pixis membalas dengan senyum ke-bapak-an.
"Baiklah, akan kutanyakan pada Hannes-san sepulang sekolah nanti."
.
.
.
"Aku pulang."
"Yo, Eren. Kau sudah pulang?"
"Eh? Hannes-san? Bukannya Hannes-san harusnya masih bekerja sekarang?"
"Yah, hari ini aku dapat jadwal bekerja setengah hari dari jam 6 sampai jam 12."
''Hee…ngomong-ngomong Mikasa mana? Belum pulang?" Eren bertanya sambil melihat kesana kemari mencari Mikasa.
"Tadi dia mengirim E-mail, dia bilang kalau dia sedang ke rumah temannya yang bernama Sasha buat belajar bareng."
"Ooh…"
"Apa kau mau makan? Aku sudah menyiapkan makan siang."
"Ah,ya aku mau."
.
.
.
"Oiya Hannes-san," Eren membuka suara saat sedang makan onigiri yang dibuat oleh Hannes ",Tanggal 28 Oktober nanti sekolahku akan mengadakan retret selama 3 hari 3 malam, apa aku boleh mengikutinya?"
"Retret? Memangnya dalam rangka apa?"
"Hemm…gatau juga sih, kayaknya sih setiap tahun memang ada retret."
"Hoo…baiklah,kamu boleh pergi retret."
"Yang benar?" Eren menyambut kata-kata Hannes dengan senyumnya yang manis membahana yang membuat semua fangirl nosebleed(?).
"Ya, asalkan kau mau membantuku mengerjakan pekerjaan rumah selama dua hari ini." Jawab Hannes sambil melahap onigiri nya.
"Terima kasih, Hannes-san!" Eren tersenyum unyu membahana.
.
.
.
"Armin! Selamat pagi!" Eren menyapa Armin yang sedang berjalan dilorong sekolah.
"Ah, Eren. Ada apa? Kelihatannya kau ceria sekali hari ini?''
"Hannes-san memperbolehkanku untuk mengikuti retret nanti!"
"Hee, orang tua ku juga sudah mengijinkanku. Oiya, kalau kau ikut berarti Mikasa juga ikut?''
"Tentu saja."
"Hee…Ah! Itu pengumuman tentang retret-nya! Ayo kita lihat, Eren!" Ujar Armin sambil menarik-narik tangan Eren.
Inilah sisi pengumuman tersebut :
RETRET TAHUNAN SNK HIGH SCHOOL
-Murid yang ingin ikut serta harap meminta ijin dari orang tua kemudian segera melapor kepada OSIS, paling lambat tanggal 26 Oktober.
-Barang-barang yang perlu dibawa : jaket, topi, baju olahrga sekolah, dan obat-obatan(perekat luka, obat demam, dll.)
-Berangkat : tanggal 28 Oktober 2013, jam 06.00 sudah berkumpul di lapangan sekolah.
-Pulang : tanggal 30 Oktober 2013, berangkat dari hotel jam 06.30.
-Guru pembimbing : Dot Pixis, Rivaille, Irvin Smith, Mike Zacharias, Hanji Zoe.
-Murid yang terlambat memasuki bis saat pulang maupun berangkat akan ditinggal.
Ketua OSIS, Petra Ral.
"…." Eren hening seketika saat mengetahui bahwa Rivaille juga ikut retret sebagai guru pembimbing.
"Eren? Ada apa?"
"A-ah, tidak apa-apa kok. Oiya Armin, istirahat nanti kita lapor ke OSIS, yuk."
"Oiya, kita, kan harus lapor ke Petra-senpai,ya?"
"Nanti saat istirahat aku akan kekelasmu, sudah ya.'' Eren kmudian langsung meninggalkan Armin dan beranjak menuju kelas 1-5.
Hari itu pelajaran berlangsung normal,tidak ada kejadian absurd maupun yang tidak bisa diperkirakan. Normal.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi,murid-murid memberi salam kemudian melakukan aktivitas masing-masing.
Ada yang makan, membaca buku, dan bahkan tidur pulas.
"Jaeger, kau ada waktu sebentar?"
Suara ini…kayaknya pernah denger,dimana ya?
"Rivaille-sensei? Ada apa?" Eren yang menghentikan langkahnya langsung menatap wajah wali kelasnya yang lebih pendek darinya itu.
"Aku ingin bicara di ruanganku."
"Eh? Tapi saya har—"
"Nanti saja. Ikut aku."
Eren hanya bisa mengikuti Rivaille menuju ruangannya sambil manyun karena harus melanggar janji dengan Armin yang dia ajak untuk menemui Petra.
.
.
.
Di ruangannya,Rivaille langsung duduk dikursi dengan nyamannya dan mempersilahkan Eren untuk duduk di kursi kayu yang berada tepat di depan mejanya.
"Apa yang ingin anda bicarakan, Sensei?"
"Aku hanya ingin minta maaf soal beberapa hari yang lalu."
"M-minta maaf?" Eren agak tidak percaya, guru wali kelasnya yang tingginya dibawah rata-rata orang dewasa minta maaf padanya.
Badai apakah yang akan terjadi?
''Soal yang di rumahku itu, aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja…ya kau tahu apa maksudku."
"Ah..A-aku tidak marah atau apa,kok."
"Kalau kau tidak marah, kenapa kau terus menghindariku beberapa hari ini?" Rivaille mengerutkan dahinya.
"I-itu karena aku tidak tahu harus bicara apa, jadi…ya begitulah."
"Jadi benar, kan kau tidak marah padaku?"
Eren hanya membalas dengan anggukan pelan sambil menundukkan kepalanya. Walaupun Eren menundukkan kepalanya, dia bisa menyadari bahwa sekarang Rivaille sedang beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Eren.
"Hiii! Apa dia marah padaku!?" Eren histeris dalam hati.
Namun yang sampai dikepala Eren bukanlah sebuah jitakan atau sebuah pukulan melainkan elusan lembut yang membuat Eren mendongakkan wajahnya.
"Baguslah kalau begitu." Rivaille tersenyum lembut sambil terus mengelus puncak kepala Eren.
Eren sendiri hampir tidak percaya.
Author yang nulis ini juga tidak percaya.
"RIVAILLE-SENSEI TERSENYUM!" Suasana dalam otak Eren chaos.
"Baguslah kau tidak marah padaku, aku tidak mau selama retret nanti suasana jadi awkward." Rivaille masih tersenyum lembut kearah muridnya itu, sedangkan sang murid hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah.
"J-jadi selama ini Sensei merasa kalau aku menghindari Sensei karena aku marah?"
"Ya, tapi aku lega saat tahu kalau kau tidak marah padaku."
"M-maaf…"
"Kenapa jadi kau yang minta maaf?"
"Aku membuat Rivaille-sensei merasa bersalah, aku jadi merasa tidak enak." Eren meminta maaf dengan wajahnya yang memerah dan matanya tidak berani untuk menatap wajah gurunya itu.
Eren, bolehkah Author menculik engkau yang begitu unyu membahana? *Author dikejar Rivaille yang bawa pedang 3DMG*
"Sudahlah, pokoknya kita harus bersikap seperti biasa kalau tidak mau ada yang tahu soal ini." Senyuman lembut diwajah Rivaille kembali hilang, diganti oleh wajah datarnya yang biasa ia perlihatkan.
"Baik…"
"Kenapa kau lesu begitu?" Rivaille mencubit pelan pipi kanan Eren yang unyu-unyu.
"Aduduh! S-sakit!" Eren merintih kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan Rivaille yang mencubit pipinya.
"Padahal aku mencubitmu dengan pelan, tapi kau malah kesakitan. Dasar bocah." Rivaille kembali tersenyum sambil lanjut mencubit pipi muridnya yang unyu tersebut.
"H-hapi ihi hakit hanghet!" Eren bahkan tidak bisa bicara dengan baik dan benar karena pipinya dicubit.
Cubitan tersebut mendadak berubah menjadi elusan lembut yang tidak sakit melainkan terasa hangat.
"Riva—"
'TOK TOK TOK' Sang penghancur klimaks datang mengganggu.
"Siapa?" Rivaille melepaskan tangannya dari pipi Eren dan beranjak menuju pintu ruangannya.
"Oi, Rivaille~~~"
Belum juga pintu dibuka, Rivaille dan Eren(dan mungkin para readers juga tahu) siapa yang ada dibalik pintu tersebut. Benar sekali. Hanji Zoe.
"Rivaille, setelah istirahat selesai, para guru akan meng—" Kalimat Hanji terpotong saat ia melihat Eren yang sedang duduk didepan meja Rivaille.
"Arere~? Eren-kun? Apa yang kau lakukan disini~?" Tanya Hanji sambil menutupi mulutnya untuk menyembunyikan senyuman ala Fujoshi miliknya.
"Aku memanggilnya karena ada sesuatu yang perlu kubicarakan. Sudahlah, apa yang ingin kau sampaikan?" Rivaille membalas pertanyaan yang bukan ditujukan untuknya dengan nada bicara agak kesal.
"Oiya, hampir lupa. Setelah istirahat siang nanti,para guru pembimbing retret akan mengadakan rapat, jadi jangan telat, ya~~" Kemudian Hanji langsung ngacir untuk memberitahu soal rapat kepada guru pembimbing lainnya.
"Jaeger, kau bisa kembali ke kelasmu sekarang."
"Eh?"
"Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, Aku tidak ingin kau terlambat lagi seperti saat pelajaran irvin."
"A-ah, Baik. Saya permisi dulu, Rivaille-sensei."
.
.
.
2 hari penantian dihabisi oleh Eren dengan normal, ia juga sudah bersikap biasa pada Rivaille. Semuanya normal.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid kelas satu angkatan ke-34 datang.
Jam 05.45
Di lapangan sekolah, para murid-murid kelas satu sudah berkumpul dengan membawa bawaan masing-masing. Ada yang membawa koper, ransel, tas selempang, dan lain sebagainya.
Eren membawa satu koper berukuran sedang berwarna biru tua, dan sebuah tas ransel yang ukurannya tidak terlalu besar.
Mikasa juga membawa satu koper kecil berwarna merah, dan tas selempang kecil berwarna kuning terang, dan ia juga masih memakai syal kesayangannya yang ia dapat dari Eren saat Natal tahun lalu.
Sedangkan Rivaille membawa koper berwarna hijau tua yang tidak terlalu besar, serta tas ransel berwarna hitam yang ukurannya lumayan besar.
"Para murid kelas satu angkatan ke-34, sekarang kita akan menaiki bis yang diparkirkan di depan sekolah,mohon kalian berjalan menuju bis tersebut dalam barisan sesuai dengan kelas kalian. Kalian akan menaiki bis sesuai dengan kelas kalian. Di bis sudah ditempelkan urutan nama kelas masing-masing, jadi kalian carilah bis sesuai kelas kalian." Pixis menjelaskan bis mana yang harus dinaiki para murid dengan menggunakan toa Masjid—salah,maksudnya—Toa yang ia dapat dari Irvin supaya semua murid dapat mendengarkan penjelasannya.
Setelah diberi instruksi dari Pixis, para murid kelas satu langsung berjalan menuju bis di depan sekolah dalam barisan dengan rapih.
Disetiap bis ada satu guru pembimbing yang menjaga para murid di dalam bis, setiap bis mendapat guru wali kelas masing-masing sebagai guru pembimbing.
Di kelas Eren jelas Rivaille yang menjadi guru pembimbing, sedangkan kelas Mikasa dan Armin adalah kelas yang paling (tidak)beruntung karena wali kelas mereka adalah Hanji Zoe.
"Kalian boleh melakukan apa yang kalian bisa lakukan di dalam bis, tapi kalau kalian membuat keributan atau semacamnya...kalian akan menjadi bahan eksperimenku yang selanjutnya, ufufufufuu~~~" Hanji mengeluarkan aura 'Mad Scientists' yang langsung membuat murid kelas 1-3 bergidik ngeri sambil sweatdrop.
Sama halnya dengan Hanji, Rivaille juga mengancam para muridnya tapi tidak sesadis Hanji.
"Pokoknya kalau kalian menimbulkan keributan atau merusak sesuatu dan lain lain, kalian akan kuhukum membersihkan bis ini sampai benar-benar bersinar."
Reaksi para murid kelas 1-5 juga sama dengan kelas 1-3 : bergidik ngeri sambil sweatdrop.
Betapa suramnya mereka.
.
.
.
Di dalam bis,para murid melakukan hal yang berbeda-beda.
Ada yang bermain kartu, makan, tidur, bercanda ria dengan teman sebangkunya, dan lain lain.
Sedangkan Eren sendiri hanya mendengarkan musik menggunakan headsetnya sambil tertidur pulas.
Bahkan saat semua murid dan bahkan supir bisnya pergi ketoilet, Eren masih saja tertidur pulas dengan headset yang masing terpasang di telinganya.
"Oi, Jaeger." Rivaille berusaha membangunkan Eren namun tidak ada respon sama sekali.
"Oi." Masih tidak ada respon .
Akhirnya Rivaille memutuskan untuk memberikan Eren ciuman selamat pagi kepada muridnya yang sedang tertidur pulas tersebut.
Wajah Rivaille mendekati wajah Eren yang masih tertidur, jarak antara wajah mereka hanya berbeda 3cm.
Bibir Rivaille bertemu dengan bibir muridnya itu. Tidak ada main lidah ataupun gigitan melainkan hanya sentuhan antara bibir dengan bibir.
Menyadari kalau para murid sudah kembali dari toilet, Rivaille cepat-cepat menjauh dari murid kesayangannya itu dan duduk di bangku paling depan di bis, tempat dia duduk tadi.
Saat melanjutkan perjalananya, Eren terbangun dan menemui Jean dan Connie yang sudah kembali duduk disebelahnya.
''Sepertinya bibirku habis menyentuh sesuatu yang hangat…tapi apa, ya?'' Pikir Eren masih setengah tidur ''Ah, sudahlah.'' Eren kemudian menghabiskan sisa perjalanan dengan mengobrol dengan teman-teman sekelasnya sambil memakan camilan yang ia bawa dari rumah.
"Dasar, anak itu bahkan tidak sadar kalau aku menciumnya saat dia tidur. Haa…sudahlah." Pikir Rivaille pasrah.
"Lain kali aku akan menciumnya saat dia terbangun." Rivaille tersenyum tipis sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
- TO BE CONTINUED -
Yo minna~
DEMI SEMPAK FEMALE TYPE TITAN YANG BERENDA,TERNYATA KALAU FILE UPLOAD PAKE MS WORD BARU BISA!*sembah sujud didepan komputer* /what/
aduuuuhhhh,Alice baru nyadar ternyata kalau pake ms powerpoint gabisa,pake ms word baru bisa di file upload,begitu Alice copy paste nih chapter 03 ke word terus Alice submit document,BISAA *nari balet diatas kepala colossal titan*
mungkin dichapter 03 yang gaje nan labil ini masih ada kekurangan dalam hal typo, pengetikan dengan bahasa indonesia yang tidak baik dan tidak benar. tapi Alice sudah berusaha sekuat tenaga armoured titan untuk membuat chapter 03 ini sesuai saran para readers yang setia.
Alice akan terus berusaha!ganbare!
Kurosawa Alice.
