Chapter 04.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi retret, Eren tidak sadar bahwa guru wali kelasnya yaitu Rivaille terus memperhatikan dirinya dari kursi paling depan.
Begitu bis berhenti, para murid tahu bahwa mereka sudah sampai di tempat retret yang mereka tunggu-tunggu.
"Kita sudah sampai di tempat tujuan. Periksa barang bawaan kalian, jangan sampai ada yang tertinggal." Ujar Rivaille sambil kemudian berjalan keluar bis untuk menemui guru lainnya.
Begitu memasuki tempat retret, para murid bisa melihat ada beberapa pondok kecil yang tersebar ditempat retret tersebut.
Bukan hanya itu, para murid juga mendapati lapangan rumput yang lumayan luas, kolam renang, serta aula yang luas, cukup untuk menampung seluruh murid kelas satu angkatan ke-34.
Semua murid disuruh berbaris menurut kelas mereka dan memulai pembagian kamar.
Dengan menggunakan toa yang diberikan(lagi) oleh Irvin, Pixis menyebutkan nama para murid satu persatu dan menyebutkan kamar mana yang akan mereka tempati.
"Eren Jaeger, Reiner Braun, dan Connie Springer akan menempati pondok nomor 12." Ujar Pixis yang kemudian memberikan kunci kamar kepada Reiner.
"Yo, Eren, Connie. Kita sekamar, ya." Sapa Reiner ramah sambil melambaikan tangannya kepada Eren dan Connie yang sedang berusaha membawa koper mereka menaiki tangga.
"Betapa enggak beruntungnya kita, dapet pondok yang paling ujung." Ujar Connie sambil duduk di bangku yang tersedia di teras pondok.
"Udahlah, daripada enggak dapat pondok, kan?" Eren, mana mungkin murid yang ikut serta dalam retret bisa enggak dapet pondok atau kamar?
Reiner facepalm.
Connie facepalm.
Readers facepalm.
Sampai Authornya juga ikut facepalm.
"Sudahlah, pokoknya kita bereskan barang-barang kita dulu terus langsung ke aula." Ujar Reiner sambil membuka pintu pondok dan membereskan barang-barangnya.
Pondok yang mereka tempati tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, terdapat satu kamar mandi, dan ada 3 kasur yang berjejer dari samping pintu masuk.
"Eren, kau tidur di tengah saja." Connie memberikan usul.
"Kalau begitu aku yang di dekat tembok, ya." Reiner memberikan suara sedangkan Eren hanya menerima keputusan kedua teman sekamarnya.
Begitu selesai membereskan barang bawaan, para murid disuruh berkumpul di aula yang terletak di seberang ruang makan.
"Dihari pertama ini, kita hanya akan melakukan kegiatan yang ringan karena kita baru saja sampai. Sekarang Rivaille-sensei dan Hanji-sensei akan membagikan Name tag untuk kalian, mohon tulis nama dan kelas kalian di name tag tersebut dan jangan sampai hilang.
Setelah Rivaille dan Hanji membagiakan name tag yang dimaksud oleh Pixis, para murid dengan cepat menulis nama dan kelas mereka di kertas yang diselipkan di name tag tersebut.
Acara yang mereka ikuti hari itu berjalan lancar.
Mereka diberi pengarahan tentang retret, berapa lama waktu yang diberikan untuk istirahat, dan jam berapa mereka harus bangun dan melakukan senam pagi bersama di lapangan.
Karena mereka akan mengikuti beberapa acara yang mengandalkan team work, maka para murid dibagi menjadi beberapa kelompok.
Hari pertama sudah selesai. Para murid dipersilahkan kembali ke pondok mereka untuk istirahat.
Para guru juga sudah disiapkan pondok yang terletak tidak terlalu jauh dari aula.
Pukul 21.00 malam hari.
Eren,Connie, dan Reiner tidak bisa tidur karena mereka merasa lapar dan haus. Berita buruknya : murid tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman ke dalam pondok.
Jadilah mereka sengsara.
"Hei, bagaimana kalau kita ke ruang makan dan mengambil air minum di sana?" Eren member saran yang nekat setengah mati sehingga membuat Connie dan Reiner membuat ekspresi 'Dafuq'.
"Apa kau terlalu haus sampai kau memberikan ide sarap seperti itu!?" Connie menentang keras.
"Connie benar, Eren. Kalau kita ketahuan keluar kamar malam-malam, kita akan menjadi kelinci percobaan dari Hanji-sensei."
Perkataan Reiner membuat Eren dan Connie bergidik ngeri membayangkan betapa sengsaranya menjadi bahan percobaan Hanji.
Serem banget pasti.
"Tapi aku haus banget, nih!" Eren guling-guling di atas kasurnya.
"Apa boleh buat, sebenernya aku juga haus." Connie akhirnya setuju.
"Kalau kalian nekad tetep mau pergi ke ruang makan yasudahlah. Bawain minum buat aku juga, ya."
Krik, Reiner, Krik.
Dengan hati-hati, Eren dan Connie melihat keadaan sekitar sambil berjalan menuju ruang makan.
Ternyata di dekat ruang makan ada beberapa murid yang mempunyai tujuan yang sama dengan Eren dan Connie : minum.
"Hei, Eren, Connie. Apa yang kalian lakukan di sini?" Terdengar suara Jean yang menyapa Eren dan Connie dari belakang sambil membawa segelas air putih.
"Kami haus. Kau sendiri ngapain di sini?"
"Sama seperti kalian."
"Oohhh…"
"Eren, ayo cepat ambil minum buat Reiner lalu kembali ke pondok!"
Begitu Eren mengambil minum untuk Reiner, tiba-tiba pintu pondok para guru terbuka dengan efek suara 'krieeet' dan para murid mendapati sosok Hanji yang tersenyum ala 'Mad Scientists' sambil mengancam para murid yang berkeliaran di sekitar ruang makan.
"Hei,kalian~ Kalau kalian tidak kembali ke pondok kalian masing-masing dalam waktu 5 detik, kalian semua akan menghadapi neraka dengan menjadi kelinci percobaanku besok pagi~"
"TIDAAAAKKKK! " Para murid histeris dalam hati.
Semua murid langsung ngacir ke kamar mereka masing-masing tanpa ba-bi-bu-be-bo.
Yang paling malang nasibnya adalah Eren dan Connie karena pondok mereka terletak dipaling ujung kawasan retret.
Begitu sampai di dalam pondok, saking paniknya, Eren langsung terjun ke kasurnya tanpa melepas sandal yang ia pakai saat ke ruang makan.
Reiner dan Connie ngakak guling-guling.
Jam 05.00 pagi.
Eren, Reiner, dan Connie yang sedang tertidur dikagetkan oleh suara peluit yang menggelegar.
"Para murid diharap untuk segera bangun dan mencuci muka dan langsung ke lapangan untuk senam pagi!" Terdengar suara Irvin yang memberikan instruksi dari arah lapangan.
"Kalau kalian tidak ke lapangan tepat waktu, aku akan menghukum kalian dengan berlari keliling lapangan ini sebanyak 20x!" Terdengar suara Hanji yang memberikan ancaman kepada murid menggunakan toa yang dia rebut dari Irvin, dan nada bicara yang cerah ceria penuh sukacita.
Dalam waktu lima menit para murid sudah siaga di lapangan.
Pemanasan dilakukan dengan keliling lapangan sebanyak 3x dan senam bersama, setelah itu para murid dipersilahkan mandi dan mengganti pakaian mereka dan segera ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Setelah sarapan, seharian mereka habiskan di dalam aula dengan berbagai rangkaian acara seperti menonton film yang memperlihatkan apa arti hidup, dan hal-hal yang dipelajari di retret.
Pukul 20.00 malam.
Para murid dibagikan sebuah saputangan berukuran agak besar yang digunakan untuk menutup mata mereka.
Setelah semua murid menutup mata mereka, mereka diatur dalam sebuah barisan panjang yang melingkari aula dan para murid harus memegang bahu teman yang ada di depan mereka.
Eren yang kurang mengerti suasana hanya bisa mengikuti instruksi dari guru-guru pembimbing dan memegang bahu Reiner Connie yang berada di depannya, sedangkan di belakang Eren ada Reiner yang memegangi bahunya.
Ternyata para murid disuruh untuk mengelilingi kawasan retret dengan kondisi yang tadi author jelaskan ditambah lagi mereka tidak menggunakan alas kaki.
Betapa malangnya kaki mereka.
Perjalanan mereka berjalan lancar sampai mereka sampai di tepi kolam renang dan mendengar suara 'BYUR!' yang bisa ditebak itu adalah suara sesuatu atau sesorang jatuh kedalam kolam renang tersebut.
"Eh, Eren." Connie berbisik kepada teman di belakangnya.
"Apa?"
"Kau dengar suara byur yang tadi?"
"Iya dengar. Emang kenapa?"
"Katanya itu suara Jean yang kehilangan keseimbangan kemudian jatuh ke kolam renang."
Eren niatnya mau ngakak setengah mati tapi ia tahan karena dia tahu dia bisa dihukum kalau benar-benar ngakak setengah mati.
Tidak ada badai, tidak ada hujan, cucian sudah diangkat, tiba-tiba ada suara teriakan yang menggelegar yang berasal dari barisan yang berada agak jauh di depan Eren.
"AAHHHH! ADA ULAR! ULAAARRR!" Dan teriakan tersebut disusul teriakan lainnya seperti "AAARGGH! ULAAAARRR!" Atau saking paniknya jadi "MANA!? ULER!? DORAEMON NABRAK TIANG LISTRIK!?"
Dan teriakan berjumawa itu ternyata berasal dari Christa yang kakinya mengenai sebuah ranting pohon yang jatuh.
Krik.
Setelah suasana chaos berlalu, mereka melanjutkan perjalanan dengan damai.
Tapi itu hanya imajinasi.
Sentuhan di bahu Eren berubah menjadi sebuah cengkraman yang sakitnya melebihi apapun di jagad per-titan-an.
Reiner mencengkram bahu Eren sekuat tenaga karena barisan mereka hampir putus.
Bayangkan : malem-malem, mata ditutup pake saputangan, jalan di lapangan rumput tanpa alas kaki, tanganmu mau lepas dari satu-satunya penuntun arah.
Serem banget pastinya.
"ARRGHHH! REINER! JAKETKU! LEPAASSS!" Eren merintih kesakitan karena Reiner menarik hoodie milik Eren yang menyebabkan si pemakai hoodie tersebut kecekek seketika.
"Reiner Braun! Lepaskan tanganmu sekarang!" Terdengar suara indah Rivaille yang datang mendekati Eren yang sedang setengah hidup dan Reiner yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.
"T-tapi sensei! Nanti aku bakalan ketinggalan barisan!" Reiner bersikeras sambil (masih)menarik hoodie milik anak malang di depannya.
"Kau tidak sadar kalau Eren Jaeger di depanmu sudah setengah hidup gara-gara kau tarik hoodienya!? Lepas dulu!"
Kaget mendengar pernyataan tersebut, Reiner langsung melepaskan tangannya dari hoodie Eren yang tidak berdosa.
"Jaeger, kau tidak apa-apa?"
"Aku piker aku akan mati…" ERen sudah sangat hopeless sekali.
"Eren, maaf ya! Aku tidak sadar!" Bertobatlah kau Reiner Braun.
"Ya..tidak apa…" Terlihat nyawa Eren keluar dari mulutnya.
"Kau bisa berdiri?" Tanya Rivaille kepada muridnya yang sedang mengatur nafasnya tersebut.
"B-bisa kayaknya."
"Eren, lebih baik kau istirahat dulu." Reiner yang sedang duduk di samping Eren turut perihatin karena Eren sudah seperti mayat hidup(lebay banget ya?).
"Jaeger, aku punya permen mint yang bisa membuat tenggorokanmu lebih baik. Ayo kita ke pondok guru."
"Baik.."
.
.
.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Ng…tenggorokanku sudah terasa lebih baik."
"Baguslah kalau begitu." Rivaille tersenyum lembut seperti saat di ruangannya beberapa hari yang lalu.
Eren nge-blush seketika.
"Wajahmu memerah, apa kau demam?" Ujar Rivaille sambil mengelus pipi Eren.
"T-tidak kok!"
"Benar?"
Eren mengangguk cepat.
"Kau tahu, kemarin saat di bis aku menciummu saat kau tidur."
Kurang frontal apakah kau Rivaille.
Wajah Eren sekarang lebih merah dari pada Colossal Titan.
"E-eeehhhhh!?"
"Ternyata kau benar-benar tidak sadar, ya?"
"W-waku itu aku tertidur pulas, a-aku benar-benar tidak sadar!" Eren berusaha menutupi wajah merahnya dengan kedua tangannya.
"Supaya kau ingat," Lanjut Rivaille sambil mendekati Eren ",Bagaimana kalau aku melakukannya sekali lagi?"
"E-ehh? Riv—mmh!" Perkataan Eren terputus karena tanpa memperdulikan sekitar, Rivaille melahap mulut Eren yang tidak berdosa.
Tidak seperti yang di bis, kali ini Rivaille menyuruh Eren membuka mulutnya supaya Rivaille bisa melahap mulut anak itu.
"Pastikan kau mengingat yang satu ini, Eren." Rivaille mencium dahi muridnya yang unyu cetar membahana tersebut, sedangkan sang murid hanya bisa menutup matanya sambil mendorong bahu Rivaille supaya dia terbebas dari posisi ambigu tersebut.
"R-Rivaille-sensei, kalau kita tidak kembali yang lain bisa khawatir…"
"Ka—"
"Ooooiiii Rivaaaaaaille~~~~~~~"
Sekali lagi, sang penghancur klimaks datang mengganggu.
Para fangirl menyiapkan 3D Maneuvering Gear untuk memberantas sang penghancur klimaks.
Tapi dihalangi oleh author yang masih waras.
"Che, Hanji." Akhirnya Rivaille mengambil jarak dengan Eren.
Eren masih membeku sambil menundukkan kepalanya.
"Jaeger, kau kembalilah ke pondokmu."
"Baik.."
.
.
.
"Eren, oooooiiii Ereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen."
"Hah? Apa? Armoured Titan nari balet?" Eren kelabakan.
"Dari tadi kau melamun terus, ada apa sih?" Tanya Connie sambil mengamati wajah Eren yang baru kembali dari dunia imajinasi.
"Enggak apa-apa kok, Cuma agak capek."
"Maaf ya tadi aku menarik hoodie mu, soalnya aku panik banget." Reiner meminta maaf seperti sedang mengaku dosa—halah—kepada Eren.
"Tidak apa-apa, kok. Aku capek nih, aku tidur dulu ya." Lalu tanpa ba-bi-bu-be-bo, Eren langsung saja tidur pulas.
.
.
.
Hari terakhir retret.
Para murid dibangunkan dengan cara yang sama seperti kemarin dan melakukan senam pagi bersama.
Setelah sarapan, para murid melanjutkan acara di aula.
Mereka diceritakan tentang seorang lelaki yang membuat film dokumentar sesuai pengalaman hidupnya. Setelah mendengarkan cerita, para murid disuruh menuliskan kesan mereka terhadap cerita tersebut disebuah kertas kecil.
"Eren, kau mau menulis apa?" Connie benar-benar tidak tahu mau menulis apa sampai dia bertanya kepada Eren yang duduk di sebelahnya.
"Aku sih jawab asal saja, misalnya ceritanya mengharukan atau apalah gitu?"
"kalau kau, gimana?" Tanya Connie pada Reiner yang sama seperti Eren, sedang menulis di kertas.
"Aku sama seperti Eren, ngasal."
"Yaelah, masa aku harus ngasal juga, sih?"
"dari pada enggak jawab?"
Akhirnya Connie mengikuti cara Eren dan Reiner menjawab : ngasal.
Beruntungnya jawaban asal mereka bertiga tidak begitu diperhatikan, maka mereka bebas dari malapetaka.
Pukul 09.00 pagi hari.
Para murid disuruh untuk kembali ke pondok masing-masing dan mengganti baju mereka dengan baju olahraga.
Benar sekali, mereka akan melakukan Out bound.
Out bond terdiri dari beberapa permainan seperti long tail, dan permainan lainnya yang mengandalkan team work.
Permainan pertama yang akan dihadapi oleh tim Eren adalah "Long Tail".
Long tail adalah permainan dimana seluruh anggota kelompok membuat sebuah barisan yang terdiri dari barang yang mereka bawa maupun tubuh mereka sendiri, kelompok yang membuat barisan paling panjang dialah pemenangnya.
Kelompok Eren berusaha membuat barisan terpanjang, bahkan para lelaki rela membuka kaos mereka untuk memperpanjang barisan.
"Sasha! Urai rambutmu keatas sambil tiduran! Itu akan membuat barisan semakin panjang!" Eren memerintah Sasha, si gadis pecinta kentang rebus berambut coklat dikelompoknya sambil membuka sepatunya dan melepaskan tali sepatunya untuk diulurkan.
"E-Eh? Memangnya itu akan berpengaruh?"
"Dikelompok kita cuma kau yang perempuan, pastinya akan berpengaruh walau cuma sedikit." Ujar Connie sambil melepas kaos olahraganya.
Seluruh barang sudah direlakan untuk membuat barisan, semua anggota sudah tiduran, tibalah waktu pengukuran.
"Selamat, tim Eren Jaeger menang tantangan long tail," Lanjut Irvin setelah mengukur panjang barisan tim Eren dengan menggunakan meteran ",Sekarang kalian ke tempat Rivaille untuk melakukan tantangan selanjutnya."
"Posnya Rivaille-sensei!?" Eren benar-benar tidak sanggup menemui Rivaille setelah apa yang guru wali kelasnya lakukan kemarin malam.
Kelompok Eren menuju ke pos Rivaille untuk menyelesaikan tantangan selanjutnya sambil ber-hore-ria. Kecuali Eren.
Sesampainya di pos Rivaille, Eren bahkan tidak dapat menatap wajah Rivaille saking malunya.
"Jaeger, ada daun dirambutmu." Ujar Rivaille sambil mengambil daun yang terlihat jelas dirambut Eren.
"Eh? Ah, terima kasih…" Karena malu, Eren tidak sengaja sedikit menepis tangan Rivaille.
Tanpa mengatakan apa-apa, Rivaille langsung saja menjelaskan tantangan yang harus diselesaikan oleh kelompok Eren.
Nama tantangannya adalah "Menara Air". Dalam permainan ini, seluruh anggota kelompok(kecuali satu orang perwakilan) harus duduk melingkar dan saling berhadapan. Mereka akan menaikkan kedua kaki mereka supaya semua kaki anggota kelompok membentuk sebuat kerucut, dan menahan sebuah ember menggunakan kaki mereka supaya tidak jatuh atau miring. Kalau ember sudah siap, seorang perwakilan dari kelompok yang tidak ikut duduk di tanah dan membentuk kerucut akan mengisi ember tersebut dengan air yang dia ambil dari ember yang terletak sekitar 1 setengah meter dari tempat teman-teman sekelompoknya menahan ember.
Dikelompok Eren, yang berperan sebagai pengisi ember adalah Sasha, sedangkan yang lainnya bertugas menahan ember sampai ember tersebut terisi penuh.
"SASHA! CEPETAN! BERAT NIH!" Ember yang sudah terisi tiga per empatnya membuat Connie histeris sendiri menyuruh Sasha untuk tancap gas, sedangkan yang lain hanya terus berusaha menahan ember tersebut supaya tidak miring ataupun jatuh.
"Yak stop! Tim Jaeger menang."
Begitu mendengar pernyataan dari Rivaille bahwa mereka menang, Eren, Connie, Reiner, Marco, dan Sasha langsung berdiri dan ber-hore-ria sekali lagi.
Setelah menyelesaikan tantangan, Connie dengan senyum liciknya mengambil ember yang tadi diisi air dan menyiram satu per satu anggota kelompoknya sampai basah kuyup.
"Connieeee!" Satu per satu dari mereka menjitak Connie yang hanya cekikikan karena berhasil membuat teman-teman sekelompoknya basah.
"Mission Success!" Batin Connie sambil dijitaki.
"Pos kalian selanjutnya adalah posnya Hanji, berhati-hatilah."
Kebahagiaan mereka berubah menjadi rasa takut akan tantangan Hanji.
"Haaaii~ selamat dataang~~~" Hanji tebar senyuman bahagia kepada kelompok Eren yang berwajah suram.
"Kita akan mati di sini." Pikir mereka.
Tantangan yang akan mereka selesaikan di pos kematian—salah, pos Hanji— adalah "Pipa Bocor".
Cara bermain pipa bocor tidak terlalu sulit.
Semua anggota kelompok harus menutup lubang-lubang yang ada di pipa besar yang akan diisi oleh air, mereka boleh menutup lubang dengan tubuh ataupun jari mereka, usahakan tutup lubang-lubang itu sampai air meluap dari pipa tersebut.
"ARRGGHHH! JARIKU NYANGKUT DILUBANGNYAAA!" Jerit Eren sambil berusaha menarik tangannya dari lubang pipa.
"Tahan dulu sampai airnya penuh!" Reiner sebenarnya kasihan sama Eren, tapi dia harus menahannya sampai airnya meluap.
Setelah airnya berhasil meluap, jari Eren ditarik keluar dengan bantuan Hanji dan alhasil jari Eren merah setengah.
.
.
.
Pukul 06.00 sore hari.
'PRIITTT!' Suara peluit yang kencang terdengar dari arah lapangan dan membuat murid-murid yang sedang menjalankan tantangan terkejut.
"Suara apa itu?!" Marco yang sedang berjalan bersama kelompoknya terkejut saat mendengar suara peluit.
"Itu isyarat dari Pixis-san, kalian harus cepat-cepat kembali ke lapangan." Ujar Mike dengan wajah agak datar.
Hanya dalam waktu 5 menit, semua murid sudah berkumpul dilapangan.
"Kalian sudah mengikuti out bond dengan semangat, sekarang kalian diperbolehkan kembali ke pondok masing-masing untuk mandi dan mengganti baju kalian. Aku member kalian waktu setengah jam untuk mandi dan langsung ke ruang makan, sekian."
.
.
.
"Huuh, badanku basah gara-gara tadi Connie sirem-sireman, nih." Tampangnya Eren masih tidak terima disirem sama Connie.
"Heheheheheeee, iseng doang, iseng."
Dua jitakan mendarat dikepala botak Connie secara bersamaan. Dari Eren dan bonus dari Reiner.
.
.
.
Setelah makan malam bersama, mereka kembali ke aula untuk melanjutkan acara.
"Jaeger, kau baik-baik saja? Tampaknya kau lemas sekali." Rivaille bertanya kepada Eren yang berjalan memasuki aula sambil agak sempoyongan.
"A-Aku baik-baik saja—"
BRUGH.
Eren sukses jatuh dan mendarat dipelukan Rivaille yang hangat.
"J-Jaeger!?"
"Eren!?"
Suasana chaos.
Eren yang masih berada dipelukan Rivaille pingsan, wajahnya merah, dan nafasnya berat tidak beraturan.
Betul sekali. Eren demam.
.
.
.
"Kenapa dia bisa demam begini?" Tanya Hanji sambil mengukur suhu tubuh Eren yang sedang tertidur di kasur Rivaille. Di ondok guru. *para fangirl mulai mimisan*
"Apa gara-gara tadi aku menyiramnya saat main Menara Air?" Connie tampaknya merasa bersalah.
"Tapi bukankah kau menyiram kami semua? Kenapa hanya Eren yang demam!?" Ujar Sasha agak panik.
"Mungkin ini karena memang daya tahan tubuhnya lemah, kalau menurutku sih begitu." Ternyata Hanji memang seorang dokter. *dijadiin umpan titan sama Hanji*
"J-jadi gara-gara aku dia jadi demam dan pingsan begini…"
"Sudahlah, kau 'kan tidak tahu kalau daya tahan tubuhnya lemah, lebih baik sekarang kalian kembali ke pondok kalian." Hanji berusaha menenangkan Connie yang mulai panic karena merasa bersalah.
"Tapi Eren mas—"
"Biar saja Rivaille yang merawat Eren-kun, ya, kan?" Ujar Hanji sambil menepuk pundak pria yang duduk di sebelahnya.
"Hah? Ap—"
"Aku mau tidur, sebaiknya kalian kembali ke pondok. Rivaille, jaga Eren-kun baik-baik, ya~ ufufufuuu~~" Hanji pun keluar dari kamar Rivaille bersama murid-murid lainnya.
Hening.
"Dasar, apa sih yang ada dikepala Fujoshi aneh itu." Batin Rivaille sambil menghela nafas.
"Rivaille..sensei..?" Terdengar suara Eren yang baru bangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun, Eren?"
.
.
'Eren…'
.
.
"…Lagi…"
"Hah?"
"Panggil namaku sekali lagi…" Gumam Eren sambil memegangi lengan baju Rivaille.
"Eren…"
"Sensei…"
"Apa?"
"Kenapa saat kita sedang berdua saja kau memanggilku 'Eren'?"
"…Rahasia." Rivaille menjawab dengan tersenyum tipis sambil meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya. Persis Seb*sti*n Mic*elis dari Bl*ck B*tl*er. Bedanya Rivaille ce—tidak setinggi Seb*sti*n.
"Eeehh?" Eren langsung memonyongkan bibirnya kayak gini ( =3=).
"Tapi suatu saat kau akan tahu." Ujar Rivaille yang masih tersenyum tipis sambil mengelus dahi Eren dengan lembut.
"….Wajahmu memerah lagi."
"A-Aku kan sedang demam! Ya wajar saja kalau mukaku merah, kan!?"
"Tapi wajahmu melebihi batas normal orang demam, tahu." Rivaille menyentil pelan dahi Eren yang ditempeli kompres oleh Hanji.
"Sudahlah, pokoknya sekarang kau tidur. Besok pagi kita harus pulang."
"Ng…baiklah…"
.
.
.
Keesokan paginya.
Entah bagaimana caranya, Eren terbangun di atas kasurnya yang ada di pondoknya sendiri.
"Loh? Bukannya kemarin aku tidur di pondok guru, ya?" Batin Eren sambil melihaat sekeliling.
Terlihat Reiner dan Connie yang masih tertidur pulas di sebelah tempat Eren tidur.
"Mhh…kau sudah bangun, Eren?" Ujar Reiner setengah tidur.
"Ya, begitulah…"
"YAAMPUN EREN! KAU SUDAH BANGUN? GIMANA DEMAMMU? UDAH SEMBUH!?" Suara Connie menggelegar persis seperti ibu-ibu yang telat kepasar yang lagi ada discount 70% all item(emang midnight sale?) saat melihat Eren.
"CONNIE! SUARAMU ITU UDAH KEA SUARA COLOSSAL TITAN YANG LAGI NYANYI HEAVY ROTATION!" Satu jitakan sekali lagi mendarat ke kepala botak Connie, kejutan selamat pagi dari Reiner.
Eren yang melihat mereka hanya bisa diam sambil sweat drop.
"Sudahlah, aku sudah sembuh, kok."
"Bener enggak apa-apa? Maaf ya aku nyirem kamu pas main Menara Air…"
"Enggak apa kok. Udah kita beres-beres aja, habis ini kita pulang, kan?"
Setelah sesi minta maaf lahir dan batin antara Eren dan Connie—halah—merekapun segera membereskan barang bawaan mereka dan segera menuju lapangan.
"Sekarang kita akan bersiap untuk naik ke bis, pastikan barang-barang bawaan kalian tidak ada yang tertinggal dan kalian sudah menyerahkan kunci pondok kepada Mike-sensei." Ujar Pixis menggunakan toa(Pixis sering pake toa, ya?).
.
.
.
Di dalam bis, para murid kelas 1-5 sebagian besar tertidur karena mereka lelah setelah out bond kemarin.
Yang bangun hanya tiga sampai empat orang termasuk Eren.
Eren tidak bisa tidur karena terus kepikiran tentang kata-kata Rivaille.
.
.
.
'Rahasia.'
.
.
.
Tidak terasa sudah lebih dari sebulan berlalu sejak hari terakhir retret.
Bahkan sampai sekarang Eren masih berpikir apa maksud dari kata-kata Rivaille.
Apakah Rivaille sekedar main-main atau…
"Tidak tidak tidak tidak! Itu tidak mungkiiinnnn!" Eren menggeleng-gelengkan kepalanya supaya pikiran itu menghilang.
Saat ini sedang liburan musim dingin, Eren yang tidak ada kerjaan hanya bisa melamun di kamarnya.
"Eren, kau tidak mau keluar? Beberapa hari ini kamu di rumah terus, loh." Ujar Mikasa sambil menghampiri Eren yang masih melamun sambil menatap keluar jendela.
"Tidak, aku lagi malas keluar."
"Apa terjadi sesuatu? Sejak retret berakhir kamu sering melamun."
"Tidak.." Jawab Eren singkat, jelas, dan padat.
"Kalau ada apa-apa bilang pada ku, ya. Aku mau ke rumah Sasha dulu, mau bikin PR bareng." Mikasapun menutup pintu kamar Eren dari luar dan pergi ke rumah Sasha.
.
.
.
Drrrt drrrt.
Handphone Eren berbunyi, menandakan ada yang mengirim E-mail.
"Siapa yang mengirimiku E-mail, ya?" Batin Eren sambil membuka handphonenya.
From : Rivaille
"Eren, apa kau bisa datang ke sekolah sebentar?"
"….Rivaille-sensei?" Eren yang kaget saat menerima E-mail dari Rivaille langsung saja memasang ekspresi 'Dafuq'.
Sebenarnya apa keperluan Rivaille sampai harus memanggilnya ke seklah saat liburan musim dingin begini?
-TO BE CONTINUED –
Yo minna~ Alice desu~
Akhirnya chappie 4 selesai! *banzai* \('-')/
Alice benar-benar mikir keras buat bikin adegan lophe lophe antara Rivai sama Eren di sini, tapi akhirnya jadi juga~
Pengalaman Eren di retret ini persis seperti pengalaman Alice waktu pergi retret waktu kelas 6 SD loh~ kecuali yang bagian lophe lophe sama yang demam itu Alice enggak mengalami. Dan yang hoodie Eren ditarik sama Reiner itu juga Alice alami, loh~ waktu itu yang ada dibelakang Alice adalah anak cowo yang sekelompok sama Alice, dia panik dan gamau lepasin hoodie Alice sampai guru wali kelas datang menyelamatkan, persis seperti Rivai /dibacok Eren/
Tapi Alice enggak nyampe kecekek dan gabisa nafas, tapi serius sakit banget *mengingat masa lalu* /halah/
Jadi inilah pengalaman retret seorang Eren Jaeger, semoga kalian menikmati dan berminat meninggalkan review kalian, Arigatou gozaimasu!
Kurosawa Alice.
