Chapter 05.

Pukul 11.00 pagi hari.

Drrrt drrrt.

Handphone Eren bergetar, menandakan ada yang mengirim E-mail kepada Eren.

"Siapa sih yang mengirim E-mail?" Batin Eren sambil membuka handphonenya.

From : Rivaille

Eren, apa kau bisa datang ke sekolah sebentar?

"….Rivaille-sensei?" Eren yang kaget saat menerima E-mail dari Rivaille langsung saja memasang ekspresi 'Dafuq'.

Sebenarnya apa keperluan Rivaille sampai harus memanggilnya ke sekolah saat liburan musim dingin begini?

From : Eren

Eh? Memangnya ada perlu apa?

From : Rivaille

Sudahlah pokoknya kau cepat datang ke sekolah, atau kau mau aku yang ke sana?

From : Eren.

TIDAK PERLU! AKU AKAN SEGERA KE SANA!

Tampaknya capslock Eren jebol.

.

.

.

Selang 30 menit, Eren sudah tiba di sekolah dan dia mendapat E-mail dari Rivaille yang berkata bahwa Rivaille berada di ruang kesehatan.

.

.

.

CKREK.

Pintu ruang kesehatan terbuka dan Eren melihat Rivaille yang sedang duduk di kursi yang berada tidak jauh dari pintu.

"Haaaai Eren-kuuun~~~~~" Hanji yang mendadak muncul dari balik pintu membuat Eren terkejut dan jatuh duduk ke belakang.

"Apa itu barusan?" Eren masih shock.

"Hahahahahaaa maaf ya~" Hanji yang masih cekikikan langsung membantu Eren untuk kembali berdiri.

"Sebenarnya ada apa Rivaille-sensei memanggilku kemari?"

"Hanji yang menyuruhku memanggilku, aku hanya membantu." Rivaille menjawab sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.

"Betul sekali~" Hanji masih tampak bahagia seperti biasanya.

"Apa Hanji-sensei memerlukan bantuanku?"

"Yap, aku membuat sebuah obat baru, jadi aku memerlukan sebuah kelinci percobaan."

Tamatlah riwayat seorang Eren Jaeger.

"Jadi…Hanji-sensei memintaku untuk menjadi kelinci percobaan?"

"Tepat sekali."

"Tamat sudah riwayatku." Batin Eren sambil baca doa dalam hati.

"Supaya tidak terjadi hal yang diinginkan, aku memanggil Rivaille untuk membantu." Ujar Hanji sambil menunjuk Rivaille yang masih dalam posisinya yang tadi.

"Ngomong-ngomong, Hanji-sensei membuat obat apa?" Eren tampaknya agak ragu.

Wajar sekali.

"Aku juga tidak tahu aku membuat obat apa, aku hanya dikasih resepnya oleh perusahaan."

GEDUBRAK.

Krik.

"T-tunggu..maksud Hanji-sensei perusahaan apa?"

"Hm? Aku belum cerita, ya?" Lanjut Hanji sambil memasang ekspresi bangga ",Aku ini seorang ilmuwan yang sedang dalam masa training. Untuk menjadi seorang ilmuwan resmi, aku harus menyempurnakan dan menyimpulkan apa guna dari ramuan ini."

JEGER.

Ilmuwan sodara-sodara.

Eren yang mendengar pernyataan dari Hanji shock seketika.

"I-ILMUWAN!?"

"Jangan keras-keras, Jaeger." Rivaille tampaknya tidak terkejut sama sekali, sepertinya dia tahu kalau Hanji itu calon ilmuwan resmi.

"T-tapi kenapa Hanji-sensei menjadi guru di sekolah ini sedangkan Haji-sensei sebentar lagi akan resmi menjadi seorang ilmuwan?"

"Aku masuk ke sekolah ini sebagai guru kesehatan karena ingin cari pengalaman, itu saja~" Ujar Hanji masih dengan senyum di wajahnya.

"Jadi kapan kau akan mulai eksperimennya, Hanji?" Rivaille Nampak tidak sabaran.

"Baik, baik. Eren-kun, coba kau minum ini." Hanji menyodorkan sebuah gelas yang berisi air bening yang tampak seperti air putih biasa.

Dengan ragu-ragu, Eren meminum air tersebut dan menunggu.

"Jadi bagaimana perasaanmu, Eren-kun?"

"…Rasanya biasa saja."

"Masa, sih?" Hanji tidak percaya.

Tiba-tiba, kulit Eren langsung pucat pasi dan tampak melemah dan akhirnya Eren pingsan di tempat.

"HANJI! APA YANG KAU LAKUKAN!?" Rivaille tampak panik ketika muridnya tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri.

"A-AKU JUGA TIDAK TAHU! KAU INGAT,KAN KALAU AKU HANYA DIKASIH RESEPNYA OLEH PERUSAHAAN!?"

Demi badan Armoured Titan yang sixpack, apa yang telah terjadi?

.

.

.

"…re.."

"Rasanya… ada yang memanggilku…" Eren yang tadinya tidak sadarkan diri, mulai bangun dan mendengar suara yang memanggilnya.

"EREN!" Suara yang memanggil nama Eren akhirnya terdengar jelas saat Eren sepenuhnya bangun.

"Rivaille…sensei…?"

"Syukurlah kau sudah bangun, apa kau merasa aneh?" Kepanikan terlihat jelas di wajah Rivaille.

Kejadian langka.

"T-tidak.. hanya sedikit lemas…Dimana Hanji-sensei?"

"Si bodoh itu langsung pergi ke lab fisika untuk mengambil penawarnya segera setelah kau pingsan."

"Ini.. dimana?" Tampaknya pikiran Eren masing melayang kesana kemari tralala trilili.

"Ini masih di ruang kesehatan, untungnya kau pingsan di ruangan yang ada ranjangnya."

"Ukh…"

"Kau baik-baik saja, Eren?"

.

.

.

'Eren…'

.

.

.

"Sensei, anda masih belum menjawab pertanyaanku."

"Hm? Tentang apa?"

"Saat retret aku bertanya kenapa Sensei memanggilku 'Eren' saat kita berdua saja."

"Ah…itu rupanya."

"Tolong dijawab, Sense—ukh.."

"Pengaruh obat Hanji masih ada, jangan bicara terlalu banyak dulu."

"T-tapi aku ingin tahu kenapa! Dan juga kenapa waktu itu Sensei menci—" belum Eren protes, tiba-tiba Hanji memasuki ruangan sebagai sang-penghancur-klimaks.

"AKU BAWA PENAWARNYA! EREN-KUN, KAU SUDAH BANGUN? BAGAIMANA KEADAANMU? BAIK? PUSING?" Teriakan panik Hanji menggelegar.

Rivaille yang kesal langsung menimpuk wajah Hanji menggunakan bantal.

Head shot.

"Sudah diam, kau bawa penawarnya, kan? Berikan pada Jaeger sekarang."

"Saat Hanji-sensei datang, Rivaille-sensei kembali memanggilku Jaeger…" Batin Eren lesu.

"Nah Eren-kun, minum ini supaya kau sembuh." Hanji menyodorkan sebuah botol air mineral yang berisi air berwarna biru terang kepada Eren yang masih lemas.

Setelah meminum penawarnya, wajah Eren memerah, dan nafasnya tidak beraturan. Tapi kali ini bukan demam.

"Jaeger, ada apa? Wajahmu merah sekali." Ujar Rivaille sambil mendekati Eren.

"Ri-Rivaille…sensei…" Eren terengah-engah.

"Hanji, apa benar yang kau berikan itu penawarnya!?"

"T-tunggu…AKU LUPA KALAU PENAWAR INI SALAH!" Hanji panik pangkat Colossal.

"Apa maksudmu!?"

"Obat ini memang bisa menghilangkan efeknya, tapi aku memasukkan bahan yang salah kedalam penawar ini!"

"OBAT MACAM APA YANG KAU CAMPURKAN KE PENAWARNYA!?"

"Kh…S-sensei.." Eren sudah hopeless sekali sodara-sodara.

"obat..perangsang.."

JEGER.

Sungguh terlalu.

Obat perangsang sodara-sodara.

"Hanji…" Death Glare menatap Hanji seketika.

"Hiii! MAAFKAN AKUUU!" Hanji kemudian langsung ngacir keluar ruang kesehatan sambil nangis Bombay.

"Che, tidak pilihan lain."

"Sense—ah.." Eren sontak kaget saat Rivaille tiba-tiba mencium dahinya dengan lembut.

"a-apa yang—"

"Hanji bilang kalau dia memasukkan obat perangsang didalam penawar yang kau minum, jadi aku harus melakukan itu supaya efeknya hilang."

Wajah Eren langsung merah seketika.

"E-eeh!? T-tapi—"

"Jangan berisik, diam dan turuti apa yang kuperintahkan." Rivaille kemudian langsung beralih menciumi leher Eren sambil meraba dibalik kaus yang dipakai Eren.

"T-tunggu..Rivaille..sense—kh.."

"Aku tidak akan menyakitimu, aku akan melakukannya dengan perlahan."

Awh betapa frontalnya kau Rivaille.

"E-eeh!? M-maksudnya..!?" Eren sudah semerah Colossal Titan.

"Kau sudah 15 tahun tapi tidak mengerti apa yang kubicarakan?"

"A-aku tahu, tapi masa Rivaille-sensei benar-benar akan…"

"Mungkin, kalau itu diperlukan."

Eren nge-blush seketika.

"T-tapi ini,kan DI SEKOLAH."

"Tapi sekolah sedang libur dan tidak ada orang lain."

Alasan yang cukup meyakinkan.

"R-rivaille…Sens—" Eren ingin membantah tapi mulutnya langsung ditutup oleh Rivaille menggunakan tangan kanannya.

Eren sudah tidak bisa menghindar.

.

.

.

GREK.

Hanji membuka pintu ruang kesehatan dengan perlahan dan menemukan Eren yang tertidur pulas di ranjang dan Rivaille yang sedang membaca buku sambil duduk dipinggir ranjang.

"Darimana saja kau, Hanji?"

"Tadi aku membuat penawar untuk obat perangsang itu." Ujar Hanji sambil memperlihatkan segelas cairan bening seperti air putih.

"Tidak perlu, khasiat obatnya sudah hilang."

Hening.

"APA!? BAGAIMANA CARANYA!?"

"Itu rahasia." Sepertinya dunia memang akan lebih damai kalau Hanji tidak mengetahui caranya.

.

.

.

"Mmh…ini..di ruang kesehatan..?" Eren yang baru sadar sepertinya masih belum bangun sepenuhnya.

"Oi," Suara yang tiba-tiba memanggil membuat Eren terlonjak kaget ",Lama sekali kau bangunnya."

"M-maaf…"

"Bagaimana tubuhmu? Sudah lebih baik?"

"Ng…" Eren hanya menjawab dengan anggukan pelan kemudian langsung menundukkan kepalanya.

"Wajahmu masih merah, apa pengaruh obatnya belum habis?" Ujar Rivaille sambil menarik dagu Eren yang menyebabkan Eren langsung membuang muka.

"Eren, kau marah padaku?"

"Tidak…"

"Lalu?"

"Aku hanya masih penasaran kenapa Rivaille-sensei memanggilku 'Eren' saat kita berdua saja, aku harus mengetahui alasannya."

Rivaille membulatkan matanya.

"Aku tidak bisa memberitahukan alasannya padamu."

"Kenapa? Apa karena Sensei hanya main-main denganku?"

"Hah? Apa maks—" Belum selesai Rivaille berbicara, Eren langsung saja lari keluar dari ruang kesehatan tanpa bicara apapun.

"EREN! TUNGGU!" Dengan sigap, Rivaille langsung menyusul Eren, namun Eren berlari terlalu cepat seperti Armoured Titan yang siap menerjang Wall Maria sehingga Rivaille tidak bisa menyusul.

"HANJI! TANGKAP DIA!" Teriak Rivaille kepada Hanji yang baru saja keluar dari lab fisika yang akan di lewati oleh Eren.

"Hm? Baiklah~" Entah-bagaimana-caranya, Hanji bisa menangkap Eren yang sedang berlari secepat Armoured Titan itu dengan mudah.

"Hanji-sensei! Lepaaassss!" Eren meronta-ronta layaknya Titan yang akan dimutilasi dan dimasak menjadi sup Titan dengan kecap manis.

"Eren! Dengar dulu!" Rivaille akhirnya sampai didekat Eren yang masih meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Hanji

"Tidaaak!" Eren meronta sekali lagi dan berhasil lolos.

Rivaille dan Hanji hanya bisa cengo melihat betapa cepatnya Eren berlari.

"Sebenarnya ada apa sih sampai Eren-kun ngamuk begitu?" Hanji tampak penasaran.

"Kau tidak perlu tahu." Jawab Rivaille singkat sambil beranjak pulang dengan sedikit lesu.

.

.

.

Saat liburan musim dingin selesai, Eren merasa enggan untuk masuk sekolah karena apa yang dia alami saat liburan.

"Aahh…rasanya aku ingin bolos saja…" Batin Eren sambil memasuki kelas dengan lesu.

"Eren, kenapa kamu lesu begini?" Terdengar suara Mikasa yang berkunjung ke kelas Eren karena khawatir.

"Tidak apa-apa kok. Kamu balik aja ke kelasmu, bel sudah mau berbunyi."

"Yasudah…kamu baik-baik ya dikelas." Kemudian Mikasa langsung beranjak keluar dari kelas Eren.

.

.

.

-Istirahat makan siang-

"Haah…aku tidak ingin makan sama sekali…" Batin Eren yang meninggalkan mejanya dan berjalan keluar kelas.

Saat menyusuri lorong, Eren bertemu dengan sosok yang paling tidak ingin dia temui : Rivaille.

"Oi Jaeger, aku bicara denga—" Belum selesai Rivaille berbicara, Eren langsung mengambil langkah seribu menuju toilet.

Semua murid yang beada disana(dan bahkan Rivaille juga) cengo melihat betapa cepatnya Eren mengambil langkah seribu.

"AAAHH! AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MENEMUINYA RIVAILLE-SENSEI SAMA SEKALI!" Batin Eren sambil mengacak-acak rambutnya di dalam stall(kotak yang ada jambannya yang di toilet ituloh).

"Oi Eren, kenapa kau menghindariku seperti itu?" Rivaille ternyata telmi.

Hening.

Tidak ada respon.

Karena Rivaille merasa dikacangin sama Eren, dia memutuskan untuk mengancam muridnya yang lagi ngumpet di dalam stall itu.

"Eren, kalau kau tidak keluar dalam hitungan detik, aku bersumpah akan menendang pintu stall ini sampai hancur."

Eren langsung bergidik ngeri dan memberikan respon.

"T-tidak mau!" Masih ngambek ternyata.

"Oi Eren, keluar dulu."

"Tidak!"

"Keluar atau aku akan menghancurkan pintu stall ini." Kalau didengar dari nada bicaranya, Rivaille tidak bercanda, itu artinya Eren dalam bahaya.

Dengan perlahan, Eren membuka pintu stallnya sambil memasang ekspresi 'tolong-maafkan-aku-ibunda-tiriku-yang-tercinta'.

Sedangkan Rivaille sudah memasang Death Glare sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tuhan selamatkan aku." Eren baca doa dalam hati.

"Eren, biasanya kau pergi ke kantin saat ostorahat siang, tapi kenapa tadi kau tidak ada disana?"

"Eh? Sensei tahu dari mana?"

"Springer yang memberitahuku."

"TERKUTUKLAH KAU CONNIE PRINGLES!" Eren mengutuk teman sekelasnya yang mirip biksu klinik Tong Fang itu dalam hati.

"Ngomong-ngomong kenapa waktu kau tiba-tiba mengamuk dan kabur tanpa permisi?"

Mana ada orang kabur tapi permisi dulu.

Ngek.

"H-habisnya..Rivaille-sensei tidak mau menjawab pertanyaanku."

"Hanya karena itu?"

'Hanya' karena itu.

"Karena Sensei tidak menjawab pertanyaanku..aku berpikir bahwa Sensei melakukan semua hal itu selama ini karena..Sensei hanya..main-main denganku." Ujar Eren sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia sedang menangis.

Hening sebentar.

"Kau bodoh, ya?" Lanjut Rivaille sambil mengelus puncak kepala Eren ",Apa kau tidak sadar kalau aku seriu—"

KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING.

Bel masuk menghancurkan suasana.

"Ah! Aku harus kembali ke kela—" Eren yang hendak kembali ke kelas(sebenarnya ingin menghindari Rivaille juga) ditahan oleh Rivaille dengan dipeluk dari belakang.

"Oi bocah, dengar dulu sampai aku selesai bicara." Rivaille berbisik di telinga Eren yang menyebabkan Eren berontak kecil-kecilan.

"R-Rivaille-sensei, lepas—"

"Kau tahu, sebenarnya…"

-TO BE CONTINUED-

Yo minna~ Alice desu~

Maaf sekali karena chapter 5 ini lama banget diapdetnya(iya gak sih?), soalnya setiap Alice mau lanjutin ini chapter 5, pasti ada gangguan seperti mami memperhatikan monitor(gawat banget tuh), temen kirim bbm terus-terusan de el el, jadi mohon maaf karena udah lama apdet, ceritanya pendek dan labil pula.

Tapi Alice akan terus berusaha~TATAKAEEE *terbang pake baling-baling bamboo* /hah.

Kurosawa Alice.