Chapter 06.

"Oi bocah, dengar dulu sampai aku selesai bicara." Rivaille berbisik di telinga Eren yang menyebabkan Eren berontak kecil-kecilan.

"R-Rivaille-sensei, lepas—"

"Kau tahu, sebenarnya…"

.

.

.

"Kau tahu, sebenarnya—" belum selesai Rivaille berbicara, tiba-tiba clek pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Jean yang sedang membeku karena melihat Eren dan Rivaille berada dalam posisi ambigu tingkat Armoured Titan.

"J-Jean!?"

"…Maaf mengganggu." Lalu tanpa ba-bi-bu-be-bo, Jean ambil langkah seribu menuju kelas.

Hening.

"R-Rivaille-sensei! Lepas!" Eren mengangkat kedua tangannya seakan berteriak 'Banzai!' dan berhasil lepas dari pelukan Rivaille.

"Apa Sensei sudah puas sekarang!? Jean sudah melihat kita dan tidak lama lagi seluruh sekolah akan tahu!" Eren berteriak kearah gurunya sambil terus menangis dan berjalan keluar dari kamar mandi.

"Oi Eren, tunggu dulu!" Ketika Rivaille berusaha menghentikan Eren dengan menahan pundaknya, Eren malah menepis tangan Rivaille dan langsung berlari keluar dan meninggalkan Rivaille yang memasang ekspresi 'sialan-tadi-gue-ngapain'.

.

.

.

-istirahat siang-

"Jean, ada perlu apa kau memanggilku ke atap sekolah begini?" Ujar Eren kepada Jean yang menunggu Eren sambil melihat kearah lapangan sekolah yang terlihat jauh.

"Aku ingin bicara soal yang tadi di toilet itu…"

"Tamatlah riwayatku." Batin Eren yang sudah mau mewek.

"Apa kau..punya suatu hubungan khusus dengan Rivaille-sensei?" Sepertinya Jean terlalu to the point(baca : to the jleb).

"K-Kenapa kau bisa berpikir begitu?" Eren menjawab sambil berharap(baca : harap-harap cemas) Jean tidak menyadari kalau perkataannya benar.

"Yah..karena tadi kalian..ya kau tahu."

Hening.

"Sudahlah, pokoknya itu tidak seperti yang kau lihat."

"Begitu..kalau begitu, aku masih punya kesempatan?"

"Hah?" Eren hanya bisa ber-cengok-ria.

"Jadi sebenarnya..aku suka padamu, Eren."

Hening.

Masih hening.

"…Apa?" Tampaknya respon otak Eren masih lambat.

"Apa aku harus mengulang perkataanku lagi!?"

"T-Tunggu dulu, kau..suka padaku!?" Eren baru sadar.

"Iya."

"Sejak kapan?"

"Sejak kita baru masuk kelas satu."

Eren facepalm.

Ternyata oh ternyata sodara-sodara.

"Jadi aku berharap kau bisa memberikan jawabanmu."

"Sekarang?"

"Sekarang."

Hening lagi.

Demi jambul Syahrini yang cetar membahana, kenapa harus Jean yang nembak Eren? Hanya Yang Maha Kuasa dan Jean yang tahu alasannya.

"Maaf Jean, aku tidak bisa menerima perasaanmu."

Aura shoujo manga Detected.

"..Kenapa tidak?"

"Karena..entahlah."

Gerubrak.

"Apa karena ada orang yang kau sukai?"

"Yah bisa dibilang begitu."

"Apa orang itu Riva—mmffff!" Jean yang baru bicara sepatah kata, mulutnya langsung ditutup oleh tangan Eren sampai-sampai Jean sesak nafas.

"Sudahlah, pokoknya aku tidak bisa menerimamu, sudah ya." Kemudian Eren langsung pergi dari atap sekolah, meninggalkan Jean sendirian diterpa hembusan angin kekecewaan.

"Apa dia pikir…aku akan menyerah begitu saja?"

.

.

.

"Aaahhh, gara-gara harus remedial, aku harus tinggal di kelas sendirian.." Ujar Eren sambil merapihkan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas selempang hitamnya.

Saat Eren sudah siap untuk pulang, Jean memasuki kelas dengan wajah serius.

"Loh Jean? Kau belum pulang?"

"Belum, karena aku menunggumu."

"Hah?"

Lalu tanpa basa basi, Jean mendorong Eren sehingga punggung Eren menempel dengan permukaan meja.

"O-oi Jean! Apa yang kau lakukan!?"

"Kau pikir aku terima kau tolak?"

"Haahh? Apa kau membicarakan yang tadi? Aku'kan sudah bilang kalau AKU MENYUKAI ORANG LAIN." Eren berusaha berontak tapi sama seperti Rivaille, Jean begitu kuat.

"Kau pikir aku peduli?"

"Terkutuklah Jean Kirschtein." Eren menyumpahi Jean dalam hati sambil masih berontak.

"Oi Jean! Lepas!"

"Tidak." Setelah menjawab dengan singkat, padat, dan enggak jelas, Jean langsung saja melepaskan kancing-kancing seragam Eren yang tidak berdosa dan masih Innocent—halah—tanpa memperdulikan Eren yang masih berontak layaknya cacing kepanasan disiram pakai minyak tanah lalu ditimpuk pakai korek api yang menyala.

"OI JEAN! STOP!"

Jean yang mendengar suara vibra(baca : cempreng) Eren hanya cuek dan melanjutkan 'kegiatan'nya.

Jean mencium leher Eren, telinga Eren de el el tanpa memperdulikan Eren yang masih berontak ria.

Tiba-tiba, terdengar suara seperti seseorang membuka pintu kelas.

Dan ternyata orang itu adalah…*jengjengjeng*..Rivaille.

Hening.

Jean diam.

Rivaille diam.

Eren diam.

Author diam sambil ngetik.

"Kirschtein? Jaeger? Apa..yang kalian lakukan..?"

Satu dorongan dari Eren, Jean yang sedang lengahpun berhasil terjungkal kebelakang akibat dorongan Eren yang begitu kuat layaknya Female Type Titan yang lagi ngamuk sambil lari kesana kemari dengan membabi buta.

"R-rivaille-sensei, i-ini tidak seperti—"

"Gerbang sekolah sudah mau ditutup, kalian pulanglah." Ujar Rivaille yang kemudian langsung berbalik meninggalkan kelas dan disusul Jean yang ambil langkah seribu.

Dada Eren bergemuruh, dia merasa kalau Rivaille bahkan tidak peduli kalau Jean melakukan sesuatu seperti itu terhadap Eren.

"Jadi selama ini Rivaille-sensei..memang hanya main-main denganku.." Batin Eren sambil mengambil tasnya dan beranjak pulang.

Eren yang tadinya mengira hubungannya dengan gurunya yang cetar membahana itu sudah berakhir, sepertinya salah karena saat Eren keluar dari kelas, ternyata Rivaille menunggunya secara diam-diam dan menarik tangan Eren sampai ke ruangan pribadinya.

"Duduk."

Dengan cepat, Eren melaksanakan perintah Rivaille yang memasang Death Glare nya yang sekali lagi, lebih seram dari dua abnormal titan berbikini yang saling memakan satu sama lain.

"K-kenapa Rivaille-sensei sepertinya marah besar padaku.." Batin Eren sambil baca doa hominahomina.

"Apa yang kulihat dikelas tadi hanya khayalanku saja…atau kau memang sedang melakukan sesuatu dengan Kirschtein?"

Hening.

Eren yang sedang menundukkan kepalanya tidak memberikan respon yang berarti.

"Oi Eren, jawab aku." Rivaille melipat kedua tangan didepan dada like a boss.

"Tidak, dia yang memaksaku." Ujar Eren sambil masih menundukkan kepalanya.

"Oi," Lanjut Rivaille sambil menarik dagu Eren supaya mata mereka bertemu ",Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan kalau kau bicara dengan seseorang, kau harus melihat wajah mereka?"

"L-lepas!" Dengan nekadnya Eren menepis tangan Rivaille dan menyebabkan si pemilik tangan tersebut membulatkan kedua matanya.

"…Berani melawan rupanya." Sekali lagi, Rivaille mengangkat wajah Eren namun kali ini dengan paksa.

"Oi bocah, jelaskan padaku secara perlahan apa maksudnya dia 'memaksamu' melakukan itu?" Rivaille kelihatannya mulai emosi tingkat presiden.

"Gh..L-lepas dulu! Sakit!" Eren sekali lagi sukses menepis tangan Rivaille yang indah dan cetar nan membahana.

"Baiklah, jelaskan dengan sangat detail."

"Jadi..tadi diatap sekolah, Jean bilang padaku kalau..dia..suka padaku."

Rivaille yang mendengar pernyataan Eren hanya bisa pasang ekspresi 'uke-gue-telah-dinodai-orang-lain-kampret-banget'.

"Lalu saat aku mau pulang..dia datang dan..begitulah."

"Jadi dia memang memaksamu?"

"M-memangnya untuk apa aku bohong!?"

Tiba-tiba, Rivaille beranjak dari bangkunya yang empuk dan mendekati Eren yang sudah baca doa hominahomina dalam hati sambil mau mewek.

"Apa yang dia lakukan padamu?"

"Eh?"

"Apa aku harus mengulang pertanyaanku?"

Eren nge-blush seketika.

"D-dia..menciumiku.."

"Dimana dia menciummu?"

"D-di telingaku…"

Tanpa basa basi, Rivaille langsung saja mendekati teliga Eren dari depan dan menciumnya tanpa jeda.

"R-rivaille-sensei!? A-apa yang—"

"Dimana lagi dia menciummu?"

"D-di..leherku…"

Langsung saja, Rivaille membuka dua kancing kemeja Eren dan menciumi sekitar leher Eren tanpa jeda yang berarti.

"T-tunggu, apa yang—"

"Apa kau tidak mengerti? Aku akan membuatmu melupakan apa yang telah Kirschtein lakukan padamu."

"H-hah!? Kenapa Rivaille-sensei mau melakukan hal itu seakan aku ini milik Sensei!?" tepat sasaran.

"Ternyata kau masih tidak mengerti juga, selama ini aku melakukan semua hal itu karena..aku serius menyukaimu, Eren."

"Eh..?"

"Apa yang kukatakan kurang jelas?"

"B-bukan begitu, h-hanya saja.."

"Akan kuperjelas sekali lagi. Aku serius menyukaimu, Eren."

Hening.

"K-kalau Sensei serius menyukaiku..kenapa Sensei tidak mau mengatakan alasan kenapa Rivaille-sensei melakukan semua itu!?"

"Itu karena aku tidak ingin membebani pikiranmu."

Ternyata, alasannya begitu simple dan tidak terlalu mengejutkan.

Eren yang mendengarkan pernyataan dari gurunya itu hanya bisa diam sambil kembali menundukkan kepalanya.

Samar-samar, Rivaille bisa mendengar suara isak tangis Eren yang agak ditahan, Rivaillepun mengangkat dagu Eren dengan perlahan supaya bisa melihat wajah murid kesayangannya itu.

"Wajahmu saat menangis bahkan sangat manis sekali…masih bocah." Ujar Rivaille sambil tersenyum tipis (SERIUS DEH, KENAPA RIVAI CUMAN SENYUM KE EREN? /shot).

"B-berisik!" Teriak Eren sambil berusaha menghapus air matanya.

"Ternyata kau berani mengataiku 'berisik', ya?"

Tamat sudah riwayat seorang Eren Jaeger.

"Sepertinya kau perlu kuberikan hukuman."

"EH!?" Eren rasanya ingin terjun bebas dari Wall Maria tanpa pengaman.

"Sebagai hukuman karena sudah mengatai gurumu sendiri, kau harus menjalani hukumanmu yaitu…kau harus jadi milikku selamanya."

Hening.

"APA!?" Eren shock pangkat dua belas.

"Kau tidak mengerti maksudku?"

"M-milik Sensei selamanya itu..maksudnya.." Eren hanya bisa menanggapi dengan nge-blush-ria.

"Karena kau sudah jadi milikku..aku ingin kau bilang 'suka' padaku."

Kenapa oh kenapa.

"…A-aku..s-su..ka…pada..Rivaille-sen—" Baru saja Eren ingin melaksanakan perintah, Rivaille tiba-tiba menutup mulut Eren.

"Tunggu, aku ingin kau memanggilku tanpa 'sensei'."

"H-haah!?"

"Atau kau mau kuberikan perintah yang lebih berat lagi?" Ujar Rivaille sambil tersenyum tipis, tapi kali ini senyumannya terlihat..evil.

"….A-aku suka..p-pada..Rivaille..san.."

Yah walau masih ada embel-embel 'san'nya, Eren resmi sudah menjadi milik Rivaille seutuhnya.

"Bagus," Lanjut Rivaille yang kemudian mencium dahi Eren dengan lembut ",Sekarang kau adalah milikku, ingat itu."

"Ibu, anakmu telah menjadi milik seseorang yang begitu cetar membahana." Batin Eren yang mengira pesannya akan tersampaikan pada ibunya.

hari-hari Eren sepertinya akan terus berlanjut dengan lebih baik..mungkin?

-OWARI-

Yo minna~ Alice desu~

akhirnya..fic ini resmi selesai, dan akhirnya…sang saingan cintah datang /shot.

Sebelum membuat chap 5, ada salah satu readers yang ngasih saran 'kasih saingan cintah buat RivaRen' tapi saya lupa masuki itu ide
*pundung*

Jadi ide tersebut saya masukin disini, di chappie 6 *bergaya ala Kaito KID* /halah.

Awalnya Alice bingung soal 'siapa yang bisa dijadiin saingan cinta'.

Kalau Bertholdt..dia udah punya Reiner, kalau Armin..dia enggak mungkin bisa nyerang Eren(secara dia itu innocent—halah), jadi pilihan jatuh pada Jean *tepuk tangan* /ha.

Ngomong2 Alice mau kasih tahu sebelumnya, Alice akan membuat sekuel dari fic Sensei ga Suki Desu ini, ceritanya diambil dari adegan kejar-kejaran antara Hanji dan Reiner di chapter 2, sekuel ini mengandung sho-ai, Reiner x Bertholdt, de el el(?), ditunggu ya~

Maaf ya kalau fic ini kurang memuaskan *bow*

TATAKAEEEE!

Kurosawa Alice.