Chapter 2: Let's War!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: T

Warning: TYPO(S), Abal, SEMI-CANON, OOC, Friendship, freak, and so on.

DO NOT LIKE DO NOT READ~

It was because of Kabuto!

Pagi yang begitu tenang dan damai menyelimuti suasana sebuah desa yang terbilang cukup besar, Konoha. Aroma dedaunan pagi yang bergesekan dengan embun begitu menyengat indra penciuman. Deru angin yang teratur terdengar begitu lembut dan menenangkan. Bias-bias cahaya matahari yang masih redup tampak mempercerah langit biru yang sangat luas. Ukiran-ukiran awan yang begitu lembut terlihat begitu putih dan lembut.

Tampak seorang bocah bersurai hitam kebiruan sedang duduk di atas sebuah pohon apel. Matanya menerawang memperhatikan bioritmik di hadapannya. Entah kenapa, rasanya dia ingin tidak mempercayai kejadian kemarin, namun … apa yang ada di hadapannya membuatnya harus menelan ketidakpercayaan tersebut. Matanya menatap seorang bocah dengan mata biru cerah yang sedang menatapnya dengan kesal. "Teme! Cepat turun! Aku tidak sanggup menerjemahkan bahasa Kakashi sensei!" ucapnya kesal sembari menggembungkan pipi tembemnya.

Sosok berambut hitam kebiruan yang ternyata bernama Sasuke Uchiha itu mendengus kesal. "Aku juga tak sanggup, Dobe." Ucapnya sembari memperhatikan para orang-orang dewasa yang telah disulap oleh Kabuto menjadi anak kecil merepotkan kemarin siang.

Naruto menatapnya dengan kesal, "Teme~ ayolah! Sakura juga sudah tak sanggup." Ucapnya sembari mendudukkan dirinya di bawah pohon tersebut. Tangannya dilipat di depan dada. Naruto menatap orang-orang di hadapannya dengan kesal, "Arrgghh! Kenapa mereka lucu sekali!" ucapnya sembari mengacak surai pirangnya dengan prustasi.

"Dobe …"

"Apa, Teme?"

"Aku ingin menjual para anak kecil jadi-jadian ini."

Markas Orochimaru.

Orochimaru menatap ular kesayangannya dengan sedih. "Kabuto, Manda cakit." Ucapnya sembari mengelus ular kecil tersebut dengan penuh kasih sayang. Tampak air mata menggenang di pelupuk matanya.

Kabuto yang sedari tadi meracik ramuan-ramuan tidak jelas hanya dapat menghela napas lelah. Pria dengan rambut perak dan kacamata bulat besar ini berbalik dan menatap Orochimaru dengan kesal. "Dia tidak sakit, tuan Orochimaru. Manda hanya bertransformasi." Ucapnya sembari memperbaiki letak kacamatanya. "Hanya saja … dia kurang pintar dalam bertransformasi." Tambahnya sembari mendudukkan dirinya di kursi miliknya.

"Dacal cialan! Ini cemua gala-gala kamu tahu!" bentak Orochimaru kesal sembari memperlihatkan Manda ke arah Kabuto. Kabuto menaikkan sebelah alisnya memperhatikan Manda yang sudah berubah wujud.

"Kecil sekali kamu, Manda. Kurang gizi." Ucapnya tidak tahu diri sembari melenggang pergi dari ruangan tersebut. Orochimaru membulatkan matanya dengan kesal.

"Dacal ubanan!" ucapnya kesal.

Markas Akatsuki.

Pein memperhatikan anak buahnya dengan bingung. Matanya menatap pria yang sudah disulap menjadi anak kecil di hadapannya dengan bingung. "Kita pakai baju apa ini?" tanyanya pada bocah berambut pirang panjang. Sosok itu hanya mengangkat bahunya tak tahu harus memberi saran apa. Pein tampak mengetuk-ngetukkan jari mungilnya pada dinding di sebelahnya. Matanya lalu menatap Kisame dengan kesal. Pein menghela napas dan menurunkan tangannya. Kali ini Pein mengetuk-ngetukkan jarinya pada sebuah meja. "Ah! Cacoli … kamu bica buat baju, kan?" tanyanya sembari menatap bocah berambut merah yang memakai baju kedodoran.

"Bica." Jawab Sasori singkat sembari kembali membuat boneka lagi. Tangan mungilnya bergerak lincah dalam membuat boneka-boneka tersebut.

"Ah! Bagaimana kalau kamu membuatkan baju untuk kita? Kau pacti mau, kan?" ucap Pein seraya mendekati Sasori yang sedang terdiam—berpikir keras. Pein sempat memperbaiki letak bajunya yang sempat terturun.

"Tidak bica." Jawab Sasori sembari menatap Pein dengan lekat.

"Ke-kenapa?" tanya Pein dengan bingung. Pein mendudukkan dirinya tepat di sebelah Sasori. Dia mengangkat bajunya dan menyangkutkannya di pangkuannya. "Kenapa tidak bica? Kamu kan pintal buat baju." Ucap Pein menambahi.

"Tidak! Aku tidak bica membuatkannya … aku hanya cetia pada bonekaku." Ucapnya dengan muka yang sedikit memerah. Pein dan lainnya yang mendengar hal itu hanya mampu berbengong ria. Mereka hanya ingin Sasori membuatkannya pakaian … bukan memutuskan hubungannya dengan boneka kesayangannya. Entah kenapa, baru kali ini Pein sadar jika anggotanya memiliki kadar kepintaran otak yang rendah.

"Ya cudah. Hm, Dei bagaimana kalau kamu ambilkan pakaian yang ada di lemaliku. Ciapa tahu dicana ada baju." Ucap Pein sembari menatap Deidara dengan lekat lalu menggerakkan tangannya—menyuruh Deidara pergi.

Deidara berjalan dengan santai sembari mengangkat bajunya yang kebesaran. Matanya mendelik kesal pada sosok bertopeng yang sedang berjalan terseok-seok di belakangnya. "Kenapa kamu mengikutiku telus, cih?" ucapnya kesal sembari berhenti dan berbalik menatap sosok yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.

"Calah." Ucapnya sembari mendekati bocah berambut pirang tersebut dengan susah payah.

"Apanya cih yang calah?" ucapnya kesal sembari menatap bocah di hadapannya dengan kesal.

"Cenpai calah …"

"Hah? Calah apanya? Kan aku diculuh ambil baju, baka!" ucapnya kesal sembari menatap tajam sosok bertopeng di hadapannya. "Cudah! Pelgi cana!" tambahnya sembari terus berjalan tanpa memperdulikan sosok bertopeng yang terus mencoba meyakinkannya.

"Cenpai!"

"APA?"

"Cenpai calah jalan … kamal Pein ada di cebelah cana." Ucap Tobi sembari menunjuk ke arah yang berlawanan.

Hening.

Hening.

Hening.

"Aku cudah tahu. Aku hanya mau kelual cebental mencali angin." Ucapnya mencoba mencari alasan sembari berjalan menuju arah yang benar. Mukanya sedikit memerah menahan malu. Dengan kasar dia berjalan menuju kamar milik Pein. Tak mempedulikan teman-temannya yang sedang menahan tawa melihatnya. "Jangan ketawa! Cialan!" ucapnya dengan kesal.

"Buahahahah!"

.

.

Setelah beberapa saat mereka sudah memakai pakaian yang lumayan pantas. Setidaknya pakaian itu cocok untuk bocah seumuran mereka. Namun, ada satu orang yang sedang pundung di pojokan sembari menulis-nuliskan jarinya di lantai. "Loh, Kicame? Kamu kenapa?" tanya Itachi sembari membersihkan baju kodoknya yang berwarna hitam.

Kisame berbalik dan menatap Itachi dengan air mata yang berlinangan dan membanjiri sekitarnya. Nagato yang melihat hal itu menaikkan alisnya tidak mengerti. "Kenapa Kicame? Kau tidak cuka bajunya, ya? Bajuku bagus, lho." Ucap bocah berambut merah tersebut sembari memperhatikan baju kodoknya yang berwarna merah cerah. Deidara dengan warna kuning, Pein warna oranye, Konan dengan warna biru tua, Kakuzu dan Hidan berwarna putih, Zetsu dengan baju hitam putihnya, Tobi berwarna hijau, dan Sasori dengan merah tua. Entah kenapa, mereka dapat darimana baju seragam seperti itu.

"Ah, telnyata baju kita waktu macih kecil caat di Akatcuki belguna juga, ya?" ucap Pein sembari bercermin diri dengan angkuhnya.

Tobi menatap Kisame dengan bingung. Tobi berjalan dengan perlahan menuju Kisame dan menundukkan dirinya agar sejajar dengan KIsame. "Cenpai … kenapa cenpai belcedih?" ucapnya sembari menatap Kisame dengan bingung.

"Hiks kenapa? Kenapa cuma bajuku yang cepelti ini?" ucap Kisame sembari mengangkat sebuah baju yang ada di sebelahnya. Tobi memperhatikan baju itu dengan seksama, alisnya mengkerut bingung. Ada ekornya dan berkerlap-kerlip.

"Eh ini baju apa?" tanya Tobi sembari mengangkat baju tersebut dan memperlihatkannya pada para seniornya. Para seniornya menatap baju tersebut dengan bingung. Lalu mereka tersenyum maklum saat menyadari baju apa itu sebenarnya.

"Kicame kan ikan."

"Iya, Kicame kan ikan."

"Pakai caja Kicame. Bajunya lucu cekali." Ucap Deidara sembari berputar-putar tidak jelas.

Tobi menatap baju tersebut dengan bingung. Dibentangkannya baju tersebut dengan lebar. Tobi mangut-mangut mengerti saat melihat bentuk asli baju tersebut. "Oh baju putli duyung." Ucapnya polos membuat Kisame ingin menyeruduknya saat itu juga.

-VargaS. Oyabun-

Ruang Hokage kelima.

Tsunade menatap segerombolan anak-anak remaja di hadapannya. Tubuhnya yang kecil membuatnya sulit untuk duduk di kursi yang cukup tinggi tersebut. "Chi-chizune, aku tidak bica duduk." Ucapnya sembari menatap sosok di sebelahnya yang selalu berada disisinya. Matanya menatap dengan tatapan butuh pertolongan pada Shizune.

"Tcunade-cama, bagaiaman caya mau menolong Anda jika caya cama becalnya dengan Anda." Ucap Shizune sembari menggaruk pelipisnya dengan tangan mungilnya. Dia tersenyum canggung pada bocah-bocah di hadapannya.

"Ha—ah, mendoukusai." Ucap Shikamaru sembari menggendong Tsunade dan mendudukkannya di kursinya. "Sekarang, apa yang harus kita kerjakan?" tanya Shikamaru sembari kembali ke tempatnya tadi berdiri.

"Ehem, jadi. Caya minta kalian belucaha untuk mencali cala agal jutcu ini bica dipatahkan. Kalian halus mencalinya … meckipun halus pelgi ke malkas Olochimalu." Ucapnya sembari menopang dagunya dengan kedua tangan mungilnya. Matanya menatap lekat pada bocah-bocah di hadapannya.

"Ppfftt …" Naruto tampak berusaha sekuat tenaganya untuk tidak tertawa saat itu juga. Naruto menaruh kepalanya di punggung Sasuke sembari memegangi perutnya. "A-aku ti-tidak sanggup, Teme." Ucapnya dengan nada yang terbata-bata.

"Do-dobe, jangan ketawa. Kau akan membuat yang disini ikutan tertawa." Ucap Sasuke dengan pelan. Matanya beralih pada beberapa temannya yang tampak berdiri dengan biasa. Namun dapat Sasuke katakan jika mereka semua menahan tawa. Muka mereka tampak memerah dengan pipi yang menggembung. Sasuke tampak menatap langit-langit ruangan tersebut sembari mencoba mengatur napasnya.

"Jika kalian mau teltawa … teltawa ca—"

"Buahahahaha!"

Dengan itu … tawa mereka terlepas akibat tingkah Naruto yang tidak bisa mengendalikan tawanya. Bahkan Shino yang sedikit berinteraksi saja dapat tertawa dengan kencangnya.

Di sebuah lapangan.

Naruto menatap teman-temannya dengan bingung. Tawa canggung masih terukir jelas di wajahnya. "Teme, kau tahu tidak dimana markas Orochimaru?" tanyanya sembari mendudukkan dirinya di atas rerumputan hijau yang luas. Matanya menatap Sasuke dengan lekat. "Teme~"

"Aku tidak tahu, Dobe. Sejak kapan aku pernah membuntuti kakek-kakek ular seperti dia." Ucap Sasuke sembari menatap Naruto dengan kesal. Sakura yang melihat hal tersebut langsung tersenyum.

"Ah! Neji! Bukankah kau punya Byakugan? Ayo gunakan." Ucap Sakura sembari berjongkok di hadapan seorang bocah dengan rambut coklat panjang dan mata tak berpupil.

"Aku tak sanggup memata-matai seseorang seperti Orochimaru. Bisa berbahaya untuk penglihatanku." Ucap Neji dengan nada datar sembari membuang muka ke arah lain. "Bagaimana denganmu, Hinata?" tanyanya sembari menatap seorang gadis berambut biru tua dengan mata sewarna dengan miliknya.

"Ba-baiklah." Ucapnya sembari bangkit dari duduknya. Hinata membuat segel dengan kedua tangannya, "Byakugan!" ucapnya dengan pelan. Urat-urat di sekitar matanya tampak timbul ke permukaan wajahnya.

"Aku sudah tahu." Ucap seorang bocah dengan rambut hitam dan kacamata bulat berwarna hitam, Shino. Semua yang ada disana menatapnya dengan bingung. Termasuk Hinata yang dengan refleks melepaskan jurusnya.

"Tau darimana?" tanya seorang bocah dengan rambut coklat jabrik dan dua buah tato segitiga terbalik di kedua pipnya, Kiba.

"Tadi seranggaku yang memberitahu."

"Yeeee dasar. Daritadi kita berusaha berpikir keras untuk mencari cara. Dia diam-diam malah sudah menyuruh serangganya. Sok rahasia!" ucap Naruto dengan kesal sembari mendumel tidak jelas.

"Ayo, kita harus cepat." Ucap Sasuke sembari segera melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

"Sasuke! Kau tahu tempatnya?" tanya Shikamaru sembari menyamakan jarak dengan Sasuke. Matanya menatap Sasuke dengan lekat.

Diam.

Diam.

Diam.

"Ah! Aku kelupaan sesuatu. Kalian duluan saja." Ucap Sasuke sembari berbalik arah. Teman-temannya menatapnya dengan tatapan cengo. Entah kenapa, mereka merasa jika hal itu jelas-jelas sebuah alasan yang sangat … bahkan sangat pasaran.

"Ha—ah, mendoukusai." Ucap mereka bersamaan.

-VargaS. Oyabun-

Markas Akatsuki.

"Jadi, hali ini kita akan pelgi ke malkac Olochimalu tua bangka itu untuk mencali obat penawal cemua efek yang kita dapatkan. Aku, Konan, dan Nagato akan ada di cebalah sini." Ucap Pein sembari menunjuk sebuah gambar pada dinding dengan sebuah ranting kecil. Para anggota lainnya tampak menyimak penjelasan Pein dengan seksama. Mereka duduk dengan rapi sembari menatap gambaran Pein yang entah apa itu pantas dikatakan sebuah gambar.

"Tobi mau cama Deidala cenpai caja." Ucap Tobi sembari menggoyang-goyangkan kepalanya. Sebelah matanya yang kelihatan tampak menatap Deidara dengan berbinar-binar.

"Untuk apa kau menamaniku. Aku cudah bica pelgi cendili bialpun kecil cepelti ini." Ucap Deidara sembari menatap tajam Tobi.

"Deidala cenpai kan buta alah." Ucap Tobi menusuk lapisan hati Deidara yang ke-99. Deidara menatap Tobi dengan geram.

"Dan kau Cacoli! Kau nanti akan pelgi belcama dengan bonekamu. Kau haluc bica mengelabui meleka agal kami beltiga bica macuk kecana." Ucap Pein dengan nada cadelnya. "Itachi, kau halus bica ikut menyucup kecana. Jadi, nanti kau akan jadi cenjata telakhilan." Ucap Pein menambahi.

"Maca aku cendili caja?" tanya Itachi sembari menunjuk dirinya dengan bingung.

"Cudah tidak apa-apa. Kicame tidak mau menjalankan tugac dengan baju putli duyungnya. Padahal dengan memakai baju itu … dia lebih milip dilinya yang acli." Ucap Pein sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pein lalu menatap Itachi lagi. "Kalau tidak mau cendili … kau cama aku aja, mau?" tanyanya sembari memandang Itachi yang sedang sibuk memperbaiki baju kodoknya.

Itachi berhenti dari kegiatannya. Matanya berkedip-kedip menatap Pein bingung. "Aku? Cama Pein? Heeee? Tidak mau. Ya cudah aku cendili caja." Ucapnya sembari berjalan menuju pintu markas tersebut. Itachi berbalik dan menatap Sasori yang sedang sibuk dengan bonekanya, "Cacoli … pelgi cama aku, mau?" ucapnya dengan nada riang.

Sasori memandang Itachi dengan bingung. Dia menatap Tobi yang sudah daritadi di samping Deidara. Dia menghela napas lelah. "Ha—ah, ya cudah, kita pelgi bedua caja." Ucapnya sembari berjalan menuju Itachi.

Dengan begitu, merekapun pergi meninggalkan markas mereka.

Konoha.

Kakashi sedang duduk di ambang jendela dengan tangannya di belakang kepalanya. "Ha—ah, cucah cekali kalau jadi kecil begini. Mau menyembunyikan buku Icha-icha paladise dimana? Kantong celanaku kecil cepelti ini." Ucapnya sembari memegang kantong celananya. "Tapi, setidaknya masih bisa baca." Ucapnya sembari hendak mengambil buku Icha-icha paradise yang ada di atas ranjangnya. Baru saja dia hendak mengambilnya …

"Eit! Kakachi kau tidak boleh membaca buku itu lagi!" ucap seseorang dengan rambut seperti mangkuk dan alis yang tebal, Gui sensei. Dia mendudukkan dirinya di atas ranjang tersebut sembari mengambil buku yang hendak Kakashi ambil.

"Kenapa? Dan … ada apa dengan baju itu. I-itu kan baju lenang." Ucap Kakashi dengan bingung sembari menatap horror temannya yang mengenakan baju yang tak pantas dikatakan baju.

"Haha kau kan macih kecil. Jadi, tidak boleh membaca buku ini. Dan ini adalah style baluku." Ucapnya dengan nada yang menggebu-gebu. Tangan mungilnya terkepal erat di angkasa. Kemerlap giginya tampak sangat menyilaukan mata. "Eh, mana Acuma?" tanyanya lagi sembari bangkit dari duduknya.

"Dia lagi cali lokok. Katanya dia capek di lumah telus. Ayo kita cali dia!" ucap Kakashi sembari meloncat dari jendela tersebut dan diikuti dengan Gui sensei.

Warung rokok.

Asuma memandang toko yang sedang ramai di hadapannya dengan kesal. Dia berjalan perlahan menuju toko tersebut.

"Pak, saya beli baras."

"Pak, pisangnya sesisir berapa?"

"Pak, tolong bungkuskan kuenya."

"Pak, berapa harga barang ini?"

Begitulah yang didengar oleh Asuma. Dengan kesal dia menerobos keramaian tersebut. "Minggil! Minggil! Ming—"

'BUK'

Asuma terlempar dari kerumunan tersebut dengan kasar. Matanya berkilat kesal mendapat perlakuan seperti anak kecil. Dia terus saja berusaha untuk menerobos kerumunan tersebut. Namun, semua yang dilakukannya hanyalah kepercumaan belakang. Dengan kesal di berdiri dan berteriak, "Minggiil!" teriaknya nyaring sembari memplototi orang-orang yang ada di sana. Orang-orang yang ada di sana menatapnya dengan bingung, "Minggil! Aku mau beli lokok!" ucap Asuma sembari berjalan dengan cepat.

Namun, seorang ibu-ibu menghalanginya untuk melangkah, "Ini anak! Kecil-kecil sudah berani merokok! Orang tuamu bilang apa jika tahu anaknya merokok! Masih kecil sudah aneh-aneh kelakuannya. Pulang sana!" Ucap ibu tersebut sembari kembali membeli di warung tersebut. Orang-orang yang lainnya hanya mengangguk menyetujui perkataan ibu tersebut dan kembali berbelanja lagi.

Asuma menatap ibu-ibu tersebut dengan kesal. Dengan rasa emosi yang sudah ingin meledak dia membuat sebuah segel mengunakan tangannya.

'BWUSSH!'

Dalam sekejap, api besar mengelilingi dirinya. Ibu-ibu tersebut tampak berbalik dan terkejut melihat hal tersebut, "Aaaaa!" teriak mereka sembari berhamburan menjauh dari warung tersebut. Asuma menyeringai senang melihat hal tersebut. dengan pelan dia melangkah ke depan warung tersebut.

"Pak, caya mau lokok catu ko—"

"Pergi sana! Dasar anak gila! Gara-gara kamu, daganganku ludes dan tidak ada yang membayar!" bentak penjaga toko tersebut sembari menatap Asuma dengan kesal.

'BRAK'

"Hah?" Asuma hanya cengo saat penjaga toko tersebut menutup pintu tokonya dengan kasar.

-VargaS. Oyabun-

Naruto dan teman-teman sedang berlompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya. "Shino! Apa markasnya masih jauh?" tanya Neji sembari terus melompati pepohonan. Shino hanya menggeleng—menandakan jika tempatnya sudah dekat. "Kalau begitu kita harus bergegas. Entah kenapa, perasaanku tidak enak." Ucap Neji menambahi sembari mempercepat lajunya.

"Ne~ Teme, kita juga harus cepat." Ucap Naruto sembari menyamakan kecepatannya dengan Sasuke. Sasuke hanya mengangguk dan mempercepat gerakannya diikuti dengan anggota yang sedang berada di belakang.

Pein dan kawan-kawan.

Mereka sedang berlari dengan cepat menggunakan kaki-kaki mungil mereka. Pein, Nagato, dan Konan tampak berada di berisan paling depan disusul dengan Sasori dan Itachi. Deidara menatap orang di sebelahnya dengan kesal, "Kenapa kau mengikutiku telus, chi?" ucapnya sedih sembari menatap bocah bertopeng kebesaran yang ada di sampingnya.

"Aku hanya tidak ingin Deidala cenpai telcecat." Ucapnya sembari mendekatkan dirinya dengan Deidara. Deidara hanya mampu mengelus dada sabar melihat kelakuan juniornya tersebut.

"Aku akan mengambil celuluh uang Olochimalu cetelah campai dicana. Ini cemua gala-gala dia aku jadi kecil cepelti ini." Ucap Kakuzu sembari meremas remas pakaiannya dengan geram.

"Iya, kita ambil caja jantungnya, hahaha." Tambah Hidan sembari tersenyum iblis.

Pein memperhatikan teman-temannya dan mengangguk setuju. "Yah! Pokoknya kita haluc membuat dia dan plia ubanan itu mendelita, hahaha." Pein tertawa setan sembari mempercepat langkahnya.

Markas Orochimaru.

"Kyaaaa!" Orochimaru berteriak nyaring sembari memeluk tubuhnya dengan erat. Kabuto yang mendengar teriakan tersebut langsung berlari menengok Orochimaru.

"Ada apa Oro-sama?" tanya Kabuto sembari mendekati Orochimaru yang tampak gemetaran.

"A-ku tiba-tiba caja melinding ngeli. Cepeltinya ada yang benci kepadaku." Ucap Orochimaru sembari menatap Kabuto dengan pandangan memelas.

"Tidak apa-apa. Aku kan melindungi Anda." Ucap Kabuto dengan mantapnya.

'Cih! Dacal ubanan!' batin Manda menatap Kabuto sembari kembali tiduran di ranjang Orochimaru.

-VargaS. Oyabun-

Sasuke menatap segerombolan anak kecil dengan baju kodok di hadapannya dengan bingung. Matanya memicing tajam menatap segerombolan anak kecil dengan kecepatan lari yang tak wajar di bawahnya. "Tunggu! Naruto! Coba kau lihat itu." Ucapnya sembari menunjuk segerombolan anak-anak tersebut.

Naruto berhenti dan menatap segerombolan anak-anak tersebut dengan bingung. "Ayo kita ikuti!" ucapnya sembari melihat ke arah teman-temannya di belakang. Sasuke mengangguk dan mempercepat larinya. Naruto terus mengikuti pasukan anak kecil tersebut. Semakin lama dia semakin dekat. Mata Naruto memicing tajam saat menyadari salah satu dari anak kecil tersebut. "Akatsuki!" teriaknya nyaring mambuat pasukan anak kecil tersebut berhenti secara refleks.

Mata mereka membulat sempurna melihat Naruto dan kawan-kawan. "Cialan!" ucap Pein kesal sembari berjalan menuju bagian depan pasukannya.

"Kalian mau kemana?" tanya Naruto sembari menunduk menatap anak kecil berambut oranye di hadapannya.

"Kami mau ke lumahnya Oloc-hmp." Belum selesai Pein melanjutkan kata-katanya. Nagato sudah membekap mulutnya.

"Ah-ahahah, tidak. Kami hanya ingin belwicata di hutan ini." Ucap Nagato bodoh sembari menarik Pein ke belakang. "Ayo! Kita macih halus mengelilingi wicata hutan cedelhana ini. Macih ada cungai yang jelnih di cebelah cana." Ucapnya sembari mengusir teman-temannya untuk kembali berjalan—seolah-olah tidak ada sesuatu. Teman-temannya hanya berjalan dengan bingung.

Naruto memandang mereka dengan kelegaan, "Oh syukurlah. Aku kira kalian mau pergi ke tempat Orochimaru. Ha—ah, teman-teman ayo kita bergegeas! Kita harus meminta ramuan penawa—"

"Ayo! Pein cepat lali! Nanti meleka lebih dulu campai disana!" ucap Nagato sembari berlari dengan kencang. "Cepaaaaat!" teriaknya dengan prustasi menyuruh temannya untuk bergerak gesit.

Naruto dan kawan-kawan membulatkan matanya, "Sialan! Mereka akan mendapatkannya lebih dulu! Ayo cepat kejar!" ucap Naruto sembari mengikuti mereka dengan cepat. Sasuke memperhatikan sosok berambut hitam yang memakai baju kodok berwarna hitam.

"Itachi! Jangan lari!" teriaknya sembari terus mengikuti pasukan anak kecil tersebut. "Kalau kau lari … berarti kau pengecut dan aku yakin hal itu akan membuatmu menjadi jelek." Teriak Sasuke semakin nyaring.

Itachi berhenti dan balik menatap Sasuke, "Cacuke." Desisinya tak suka sembari mendekati adiknya yang sedang berhenti tak jauh dari tempatnya berada. "Cialan, kau!" ucapnya sembari maju menyerang Sasuke.

Sasuke menyeringai penuh arti sembari mempersiapkan jurusnya, "Ayo maju … Aniki." Ucapnya dengan nada yang penuh kesenangan.

Naruto yang melihat Sasuke hendak berkelahi menjadi iri. Matanya memperhatikan pasukan anak kecil tersebut dengan seksama, "Ah! kau yang berambut pirang! Ayo berkelahi!" ucapnya tidak jelas sembari memasang kuda-kuda. "Ayo cepat! Ah aku lupa, sepertinya tidak adil jika aku melawan seorang gadis." Ucap Naruto sembari menyeringai penuh arti ke arah orang tersebut.

Deidara menggeretakkan giginya tak suka saat dikatakan seorang gadis, "Cialan! Aku laki-laki tulen!" teriaknya kesal sembari membuat bom dengan ukuran yang besar. "Tobi! Cepat lempal ke dia!" ucapnya sembari mendorong bom tersebut ke arah Tobi.

Tobi berusaha mengangkat bom tersebut dengan susah payah, "Deidala cenpai, bomnya belat." Ucapnya sembari masih mencoba mengangkat bom tersebut. Tentu saja bom itu terasa berat jika diangkat oleh anak berukuran seperti dia. Deidara maju dan membantunya untuk mengangkat bom tersebut. Bom itu terangkat dengan baik. Namun sayang nasib baik tak sebaik mereka mengangkat bom tersebut. sumbu yang ada pada bom tersebut sudah menipis dan, "Dei cenpaaaaaai!"

'DUAR'

"Kyaaaaa!" Deidara dan Tobi berteriak histeris saat bom tersebut meledak tepat di hadapan mereka. Naruto dan teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal melihat hal tersebut.

Naruto menatap mereka dengan seringaian andalannya, dia lalu mengangguk pada teman-temannya. "Seraaaaaaang!" teriak mereka bersamaan sembari berlari hendak menyerang anggota Akatsuki.

Para anggota Akatsuki tak mau tinggal diam. Mereka juga memasang tampang siap, "Selang jugaaaaa!" teriak mereka bersamaan. Baru saja mereka ingin menyerang satu sama lain tiba-tiba …

"HENTIKAN!"

Teriak seseorang sembari berdiri di tangah-tengah mereka. Mereka berhenti dengan refleks dan menatap sosok tersebut dengan keterkejutan yang luar biasa.

"K-KAU!"

BERSAMBUNG …

Hahahaha terima kasih buat para reader yang telah meluangkan waktu anda untuk membaca fic tidak jelas bin nista ini. Maaf jika terlalu lama update-nya. Maklum, beginilah kalau orang terlalu banyak fic multi chapter hehehe. Yosh terima kasih smeuanya *BOW*

Saa, Mind to Review, Minna-san?