Chapter 3: Dare?

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: T

Warning: TYPO(S), Abal, SEMI-CANON, OOC, Friendship, freak, and so on.

DO NOT LIKE DO NOT READ~

It was because of Kabuto!

Para anggota chibi Akatsuki menatap gerombolan orang-orang di hadapannya dengan bingung. Itachi yang sedang sibuk saling tatap dengan Sasuke yang memasang tampang mengejek membuat suasana semakin tegang.

"Seraaaaaaang!" teriak mereka bersamaan sembari berlari hendak menyerang anggota Akatsuki.

Para anggota Akatsuki tak mau tinggal diam. Mereka juga memasang tampang siap, "Selang jugaaaaa!" teriak mereka bersamaan. Baru saja mereka ingin menyerang satu sama lain tiba-tiba …

"HENTIKAN!"

Teriak seseorang sembari berdiri di tangah-tengah mereka. Mereka berhenti dengan refleks dan menatap sosok tersebut dengan keterkejutan yang luar biasa.

"K-KAU!"

Sosok tersebut tampak mendarat di tanah dengan kerasnya. Matanya menatap ke arah anggota Akatsuki dan pasukan Naruto secara bergantian. Dia menyeringai lebar sembari mengepalkan tangannya ke udara. "Hentikan semua perkelahian sia-sia ini!"

Hening.

Hening.

Hening.

Tak ada satupun orang yang berniat menanggapi sosok tersebut. Semua mata memandangnya dengan bosan dan horror. Bayangkan saja! Seorang bocah bertubuh kecil dengan sirip di atas kepala dan gigi yang tajam-tajam serta memakai baju putri duyung sedang berdiri di tengah-tengah medan perang.

"Kamu cedang apa, Kis? Belicik tahu!" ucap Deidara sembari memasang tampang bosan ke arah Kisame. Kisame terdiam dan menatap Deidara dengan bingung. Alisnya mengerut hingga berlapis-lapis.

"Bu-bukan a-aku yang teliak tahu!" Kisame berusaha membela dirinya dengan suara anak kecilnya. Matanya menatap Deidara dengan penuh yakin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampang memelas tampak terpatri permanen di wajahnya. "Bukan Kicame yang teliak!"

Deidara menaikkan sebelah alisnya bingung sembari menatap Kisame. Matanya memperhatikan Kisame dengan intens sembari mendekatinya. "Kalau bukan kamu, teluc ciapa?" tanyanya sembari melihat ke arah teman-temannya.

"Um, maaf. Ta-tapi yang tadi teriak itu aku."

Naruto dan kawan-kawan serta para anggota Akatsuki mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang berdiri di dahan sebuah pohon sembari mengangkat tangan kanannya. Akatsuki terdiam.

"Da-dare?" dan akhirnya ada seseorang yang mau mengorbankan suaranya untuk memecah ketidakkenalan yang berlangsung. Semua mata memperhatikan sosok tersebut.

Naruto memicingkan matanya sembari meneliti sosok tersebut. Dia berjalan tepat di bawah pohon tersebut. Matanya membulat sempurna saat dapat mengenali sosok tersebut. "Kau! Ka-kau Gaara!" teriak Naruto sembari tersenyum lebar ke arah pria dengan rambut merah dan tato 'Ai' di dahinya. "Iya! Dia Gaara!"

Gaara tersenyum tipis saat semua orang yang ada di bawah sana tersenyum ke arahnya—termasuk anggota Akatsuki. Dia menggerakkan kakinya hendak turun dari dahan tersebut. Namun, sebuah pertanyaan membuatnya ingin pulang saat itu juga.

"Gaara? Siapa, tuh?"

Dan Gaara pun membatu di atas sana.

Itachi memukul kepala Nagato dengan kuat sembari menatapnya dengan lekat. "Dia itu Gaala! Masa kau tidak kenal, cih? Gaala!" ucap Itachi sembari menunjuk-nunjuk Nagato dengan tangan mungilnya. Alisnya berkerut heran saat Nagato hanya menatapnya dengan tatapan terus-aku-harus-apa?

"Ya namanya memang Gaala. Tapi, dia itu ciapa?" tanya Nagato lagi sehingga membuat lagi-lagi Gaara ingin pulang ke Suna saat itu juga.

"Ya, aku juga kulang tahu," jawab Itachi seenaknya sehingga membuat Gaara sudah sampai di Suna saat itu. Tapi, untung saja pendirian Gaara cukup kuat. Karena, saat ini dia harus menengahi peperangan yang tak memiliki arti tersebut.

Dengan lunglai Gaara turun dari pohon tersebut dan mendarat tepat di belakang Kisame. "Eh, minggir. Peranmu sudah abis," ucap Gaara mencoba berkata sopan kepada Kisame. Kisame hanya memanyunkan bibirnya sembari berjalan perlahan ke arah Hidan dan Kakuzu yang sedari tadi masih bungkam.

"Eh, Kic. Kok kamu bica mendalat di tengah-tengah cepelti tadi sih? Keren, deh!" ucap Hidan mencoba membesarkan hati Kisame. Kisame yang sedang dipuji hanya mampu tersenyum malu sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Hehe, namanya juga Kicame," jawab Kisame mencoba semakin keren. Namun sayang, bagaimana pun caranya. Kisame tetaplah Kisame. Ikan tetaplah ikan.

Gaara mendecah kesal saat mendapati ada dua bocah yang asik berbicara sendiri di tengah-tengah kemunculannya. "Ehem, aku kesini untuk menengahi pertarungan kalian. Sudah cukup kalian bertindak seperti anak kecil seperti itu."

"Cih, sok keren," ucap Sasuke sembari menatap Gaara dengan tatapan meremehkan. Dia menarik Naruto yang sedang berdiri di dekat Gaara ke belakangnya. "Buat apa kau bersikap sok pahlawan seperti itu. Kau pikir kau siapa?" tanya Sasuke seraya memasang tampang angkuhnya. Shikamaru hanya menguap lebar melihat aliran listrik dikedua mata Sasuke dan Gaara.

"Ini perintah dari para Kage. Aku harus menghentikan peperangan ini. Lagipula, kalian diperintahkan untuk mengambil obat penawar yang ada di markas Orochimaru. Bukannya baku hanatm seperti ini," ucap Gaara seraya mendekati Naruto yang masih memasang senyum lebar ke kemudian menatap para anggota Akatsuki dan menggerakkan tangannya untuk membuat sebuah kursi dan meja yang terbuat dari pasirnya. Dengan santainya dia duduk di kursi tersebut dan memandang anggota Akatsuki dengan intens. "Lebih baik kita berkerja sama untuk mendapatkan penawar itu. Akan lebih baik jika kita bersatu."

Konan memasang tampang kesal sembari berjalan mendekati Gaara. Dengan kasar dia menggerakkan tangannya dan menunjuk Gaara tepat di wajahnya. "Kau!" teriaknya sembari mendekatkan wajahnya ke arah Gaara yang sedang memasang tampang tidak mengerti.

"A-aku kenapa?"

Dengan perlahan Konan menurunkan tangannya dan menggebrak meja pasir Gaara. "Kenapa cuma buat catu kulci dan meja? Dacal pelit!" ucapnya tidak jelas seraya terus memukuli meja pasir Gaara dengan kedua tangan mungilnya. Dia tersenyum puas saat separuh dari meja Gaara telah rusak dan hancur. "Lacakan!" teriak Konan seraya kembali berdiri di sebelah Nagato yang memasang tampang bukan-teman-saya.

Gaara menggaruk kepalanya dengan prustasi sembari bangkit dari duduknya. Dia menatap Naruto dan kawan-kawannya dengan intens. "Baik! Daripada ribut soal meja dan kursi, kita lesehan," ucapnya sembari duduk di atas tanah. Konan tersenyum puas mendengar ucapan Gaara dan ikut mendudukkan dirinya di tanah. Sementara para manusia lainnya yang masih cukup waras hanya mampu ikut duduk di tanah sembari memasang tampang menyedihkan.

"Kotor," ucap Sasori datar dan tetap mendudukkan dirinya di atas tanah.

Di Konoha.

Kakashi menatap Asuma dengan sedih sembari menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya. "Ayo cini! Pacti kau lelah cehabis didolong-dolong ibu-ibu," ucap Kakashi tidak tahu diri sembari bergeser sedikit dari tempat duduknya. Dia tersenyum tipis dari balik maskernya yang diberi karet sayur—kebesaran untuk ukuran wajahnya. Dia menghela napas lelah sembari menatap Asuma yang sedang menyelipkan sepuntung rokok di bibirnya. "Kila-kila, apa meleka belhacil mendapatkan penawalnya, ya? Aku sudah bocan menjadi kecil cepelti ini," ucapnya dengan nada yang terdengar begitu lesu.

Asuma memandangnya dengan sedih sembari mengelus punggung Kakashi dengan tangan mungilnya. "Kita celahkan cama yang di atas caja," ucap Asuma sembari menatap ke atas. Namun, mukanya tiba-tiba berubah menjadi sangat masam saat melihat apa yang ada di atas sana.

"Ha—ah, kau belcanda Acuma. Maca kita halus menyelahkan cemuanya kepadanya?" tunjuk Kakashi kepada sosok yang sedang tesenyum lebar ke arah mereka berdua. "Jangan cama dia, deh." Kakashi menundukkan kepalanya dengan lesu saat menyadari orang yang ada di atas mereka adalah Gui. Padahal Asuma bermaksud mengatakan itu dengan artian menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Namun sayang, Gui-sensei selalu ada dimana pun.

Dengan terhuyung-huyung, Asuma bangkit dari duduknya dan menatap Kakashi dengan lemas. "Jangan camakan Kami-cama dengan ulat hijau itu," ucapnya seraya pergi meninggalkan Kakashi yang termenung dan Gui yang masih asik di atas pohon.

-VargaS. Oyabun-

Gaara menatap para manusia yang sedang lesehan melingkarinya dengan sangat rapi. Entah kenapa, dia merasa seperti seorang guru taman kanak-kanak yang sedang diintimidasi oleh segerombolan murid pembangkang. Dengan antusias dia menegakkan tubuhnya. "Jadi rencananya seperti ini, para anggota Akatsuki akan memancing Kabuto dan Orochimaru untuk keluar dari markasnya. Setelah itu, sebagian anggota Konoha akan menyerang mereka dan menangkapnya. Lalu, sisanya akan menuyusup untuk mengambil obat penawarnya. Setelah itu, kalian harus menghancurkan markas mereka agar mereka tak memiliki tempat untuk bersembunyi lagi. Mengerti?" tanya Gaara sembari menatap lekat makhluk-makhluk yang ada di hadapannya. Dia mencoba bersabar untuk menunggu para manusia dengan tangkapan otak yang cukup pendek.

Hening.

Hening.

Hening.

Setelah beberapa saat, Gaara sudah mulai kesal dan tidak sabar lagi. Dengan kasar dia bangkit dari duduknya, "Mengerti, tidak?" teriaknya dengan nyaring, sehingga membuat manusia-maniusia di hadapannya terlonjak kaget.

"Me-mengelti!" ucap mereka bersamaan dengan rasa gugup yang muncul bersamaan pula. Gaara yang mendengar jawaban itu tersenyum tipis dan membersihkan pakaiannya. Dan entah kenapa, Naruto dan kawan-kawan ikut terdengar cadel.

Dia mengepalkan tangannya di udara. "Ayo kita berangkat!" teriaknya dengan sangat semangat. Naruto yang sedari tadi sibuk mencerna perkataan Gaara hanya mampu ikut berteriak dengan semangat. "Pertama, anggota Akatsuki harus segera mendekati tempat tersebut. Lalu, kalian akan membantu mereka, mengerti?" Gaara memandang para anggota Akatsuki sebelum beralih pada Hinata, Kiba, dan Shino. Mereka semua mengangguk mengerti dan segera mempercepat lari mereka.

"Pfft … pfftt-hahahahah!" Naruto melepas tawanya saat melihat para anggota Akatsuki yang mungil-mungil itu berlari kencang. "Ahahah-KYAAAAA!" Naruto segera melompat ke arah Sasuke saat melihat sebuah benda yang dapat meledak yang hanya mampu dibuat oleh Deidara sedang melayang ke arahnya.

'DUAR'

Beruntung Naruto sedikit peka dengan benda-benda bebahaya seperti itu. Sasuke mendengus kasar sebelum akhirnya mengikuti para anggota Akatsuki tersebut. Gaara dan yang lainnya pun segera bergerak dan mencoba untuk tidak kehilangan jejak. Mata mereka memicing tajam saat melihat para anggota Akatsuki sedang menjalankan rencana yang tadi sudah dirancang oleh Gaara. Sasuke mengikuti gerak-gerik mereka dengan antusias, "Lincah juga mereka," ucapnya sembari bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Naruto dan Gaara pun ikut bersembunyi di belakang Sasuke.

'BRUAK'

Itachi menyerang Kabuto yang sedang berusaha untuk melindungi Orochimaru dari serangan. Dengan cepat dia terus berusaha mendekati Orochimaru.

"Aaa! Manda! Jangan ganggu Manda lagi!" teriak Orochomaru sembari berlindung di belakang Kabuto.

"Tenang, Oro-sama! Aku akan melindunginmu dan Manda!" ucapnya sembari terus menangkis serangan-serangan yang diluncurkan ke arahnya. "Oro-sama, awas!" teriak Kabuto sembari mencoba mengeluarkan jurusnya. Namun gagal, jurus Shino lebih dulu mengenai Orochimaru. Dengan kasar Manda terlempar dari tangan Orochimaru.

"Mandaaa!" Orochomaru berteriak sembari mencoba untuk menyelamatkan Manda yang sedang tepar di atas tanah. Pada saat dia ingin memungutnya, sebuah tangan lebih dulu menghalanginya. Orochimaru menatap gadis di hadapannya dengan kesal. Mata ularnya beradu padu dengan mata Hinata yang berwarna lembut.

Hinata memandangnya dengan lekat, "Ka-ka-kawai," ucapnya sembari memandang Orochimaru dengan mata yang berbinar-binar.

Kiba tampak jaws dropped melihat tingkah Hinata yang benar-benar membuatnya ingin mengganti nama Akamaru menjadi Kuromaru saat itu juga. Dengan perlahan dia mendekati Orochimaru dan segera menarik Shino. Dengan cepat Shino melilit tubuh Orochimaru menggunakan serangganya. "Kabuto!" teriak Orochimaru telalu didramatisasi.

"Oro-sama!" balas Kabuto labih didramatisasi lagi daripada Orochimaru.

"Sekarang!" teriak Gaara sembari menyuruh Naruto dan Sasuke beserta anggota Shikamaru untuk menyelesaikan rencana yang telah dibuat. Naruto segera masuk ke dalam dan mengambil dua buah botol bertuliskan 'Penawar Tubuh Kecil' dan 'Obat Pembesar' dan membawanya keluar dengan segera. Dengan sedikit tergopoh-gopoh Naruto keluar dari tempat itu dan berdiri di sebelah Gaara.

"Sasuke! hancurkan markasnya!" teriak Itachi mencoba menyemangati adiknya.

Sasuke mengangguk dengan sangat antusias dan segera memposisikan dirinya tepat di depan markas besar tersebut. "Chidori!" teriaknya sembari mengeluarkan listrik dari tangan kanannya dan segera mendekatkannya pada markas tersebut. Namun sayang, Sasuke yang terlalu semangat mengeluarkan tenaga yang terlalu besar. Sehingga markas itu ambruk ke arah depan dan menimpa para anggoa Akatsuki yang sedang memegangi Kabuto.

Beruntung Gaara sempat menggunakan pasirnya untuk menahan reruntuhan tersebut. Para anggota Akatsuki tampak hanya terluka ringan. Beda dengan Kabuto yang tak sadarkan diri akibat terkena reruntuhan. Sepertinya Gaara tak sempat melindungi Kabuto. Dengan segera mereka mendekati tubuh Kabuto dan mengangkatnya dengan perlahan. Gaara menidurkannya di dekat pohon dan mencoba membangunkannya. Namun, sepertinya Kabuto sedang dalam pingsan serius dan bukan bercanda.

Gaara menyuruh Orochimaru untuk diamankan terlebih dahulu dan dijaga dengan ketat sementara mereka menunggui Kabuto untuk sadar. Gaara mengambil dua buah botol yang ada di tangan Naruto dengan perlahan. "Kita harus mencari tahu, yang mana obat yang benar. Karena kedua obat ini memiliki makna yang sama," ucapnya sembari manatap Kabuto.

Naruto tampak mendekati Kabuto dan mendekatkan mulutnya pada telinga Kabuto. "BANGUN!" teriaknya dengan nyaring. Namun tak ada respon yang diberikan Kabuto. Hanya para manusia di sekitarnya yang menanggapinya dengan tatapan mematikan.

"Eh ubanan, bangun!" ucap Deidara sembari memukul-mukul kepala Kabuto dengan cukup keras. "Ayo cepat bangun! Aku mau becal lagi!" teriak Deidara dengan tidak sabar. Dia terus-terusan memukuli kepala Kabuto dengan kedua tangan mungilnya. "Aku bom, nih!"

"Jangaaaaan!"

Deidara menghela napas saat mendengar larangan dari manusia-manusia sejenis di sekitarnya. Dengan perlahan dia mendudukkan dirinya di samping Kabuto. Cukup lama mereka menunggui Kabuto untuk bangun dari pingsannya. Sampai sepertinya salah satu dari mereka sudah berubah menjadi ikan.

"Engh."

Sebuah erangan kecil membuat mereka sadar dari dunia hayalan mereka. Dengan cepat mereka mendekati Kabuto yang tampak sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. "Kabuto!" teriak Naruto sembari memasang senyuman lebar. "Ayo cepat bangun!"

"Dia sudah bangun, Dobe!" ucap Sasuke dengan kesal sembari memasang tampang malas.

Dan akhirnya mata Kabuto terbuka sempurna.

-VargaS. Oyabun-

Mereka semua menatap Kabuto dengan mata yang berbinar-binar. Malas berbasa-basi, Gaara segera mengambil dua buah botol ramuan yang tadi dipegangnya. "Yang mana? Yanga mana obat penawar untuk membuat mereka kembali ke bentuk semula?" tanya Gaara dengan cepat namun cukup mudah untuk dimengerti.

Hening.

Hening.

Hening.

"CEPAT JAWAB, CIALAN!" Itachi memasang tampang kesal sembari mencoba memukul wajah Kabuto yang tampak tak mengerti sama sekali. "Kabuto?" tanyanya sekali lagi mencoba untuk sabar.

Hening kembali menjelma.

"A-aku dimana? Dan ka-kalian siapa? Aku siapa?"

Cengo.

Semua yang ada disana dan mendengar perkataan Kabuto menjadi cengo.

"Ka-kalian siapa?"

Kembali cengo.

Mereka menatap Kabuto dengan tatapan tak percaya. Semua mata tertuju pada Kabuto. "Kamu lupa ingatan?" Pein mencoba bertanya dengan sabar.

Kabuto diam.

"Cama cekali tidak ingat apa-apa?" Pein bertanya sekali lagi dengan sabar.

Kabuto diam lagi.

"Cepertinya ini celius," ucap Kisame sok benar dan sok seperti peramal.

"Gala-gala ciapa nih? Ini pasti gala-gala dia ketimpa leluntuhan! Ciapa nih pelakunya?" teriak Itachi tidak jelas sembari memandang ke sekeliling. Matanya lalu tertuju pada satu orang yang sedang terdiam dan ikutan cengo. "CACUKEEEEEE!"

Dan mereka pun tak mendapatkan penawarnya dikarenakan KABUTO LUPA INGATAN.

"Kayak sinetron, deh," ucap Sasori dengan nada datarnya.

BERSAMBUNG …

Maafa kalo ada yang mengira Oyabun adalah orang yang sombong karena tidak pernah membalas review dan PM. Hontouni gomennasai! *BOW* Oyabun sangat berterima kasih terhadap para reader dan reviewer yang masih setia dengan fanfic buatan Oyabun. Lain kali Oyabun akan berusaha untuk membalas review dan PM kalian. ARIGATOU! Sekali lagi maafin Oyabun dan terima kasih! Hehehe ;D

Mind to Review?