"Maaf, Sasuke," gadis berambut pink tersebut membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya yang semula tertuju pada berkasnya. "Aku barusaja mendapat kabar kalau model yang akan kita gunakan mendadak membatalkan kontrak."
Kening Sasuke berkerut. "Bagaimana bisa?"
Tercetak dalam benak Sasuke kerugian yang akan dialaminya bila ia harus menunda pemotretan sekaligus waktu yang akan ia habiskan untuk mencari model lain. Masalahnya, Sasuke tidak akan memilih sembarang model untuk ia gunakan sebagai icon perusahaan pakaiannya. Maka dari itulah akan sulit bagi Sasuke untuk menemukan model yang sesuai dengan image perusahaannya.
Sekertaris Sasuke yang bernama Haruno Sakura itu menggigit bibir bawahnya. "Kudengar Perusahaan Sabaku membayar lebih dari yang kita tawarkan. Selain itu untuk masalah ganti rugi pembatalan kontrak, dia bilang tidak masalah. Kurasa pihak perusahaan Sabaku yang menanggung biaya pembatalan kontraknya."
Sasuke hanya menampilkan ekspresi datarnya.
"Jadi, Sasuke? Apa yang akan kau lakukan?"
Diam. Tidak ada jawaban.
"Bagaimana kalau kita memakai model lain yang biasa kita gunakan? Besok adalah hari dimana fashion show akan digelar perusahaan, dan kita tidak punya waktu yang cukup untuk mencari pengganti yang menurutmu cocok," jelas Sakura mengingatkan. Pasalnya gadis ini sudah hapal tabiat Sasuke yang tidak mau memakai model yang sama di setiap acara perkenalan produksi pakaian-pakaian perusahaannya.
"Hn."
Kali ini Sakura merasa dahi lebarnya berdenyut kesal. Dari sedemikian panjang kalimat yang Sakura katakan pada Sasuke, kenapa hanya jawaban sependek itu sih yang keluar dari mulut bosnya. Itupun kalau bisa disebut jawaban. Kalau saja Sakura tidak mengenal Sasuke semenjak kecil, sudah dipastikan gadis ini lebih memilih keluar saja dari perusahaan Sasuke. Pasalnya bekerja di bawah perintah Sasuke bukanlah hal yang mudah, terutama bila mereka sedang mengalami kondisi seperti ini.
"Aku akan memikirkannya," Sakura yang hendak membuka suara, terpotong oleh kalimat yang mendadak Sasuke keluarkan. "Aku mau keluar sebentar. Masalah ini akan kukabari kau nanti."
#
.
Model oleh Clarette Yurisa
Naruto © Masashi Kishimoto
AU, OOC, Pendek
.
#
"Nee-chan, kau cantik sekali," puji Hanabi tulus. Dipandangi Kakaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum gadis itu mendecak puas. Matanya kemudian mendapati wajah kakaknya yang merona.
"A-aku… apa t-tidak sebaiknya aku ganti baju saja?" tanya Hinata was-was.
Hanabi berpose seolah ia tidak mengerti maksud kakaknya. "Memangnya kenapa, Hinata-nee?"
Hinata menggigit bibirnya. Ia mematut dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Kalau mau bicara jujur, ucapan Hanabi memang benar sekali. Hinata saja sampai tidak menyadari kalau yang berkaca itu adalah dirinya. Hanya saja… Hinata tidak terbiasa memakai pakaian yang agak terbuka seperti ini.
"La-lagipula kita ha-hanya ingin ke mall 'kan? Ba-bajuku diganti saja y-ya?"
Hanabi menghela napasnya. Gadis berumur tujuh-belas tahun itu menggelengkan kepalanya tegas. "Aku saja tampil cantik, masa Hinata-nee tidak. Pokoknya aku tidak mau tahu. Sudahlah, ayo kita berangkat! Nanti film-nya keburu dimulai."
Hinata memperhatikan adiknya yang sudah berjalan keluar dari kamarnya. Setelah itu, gadis pemilik mata indah inipun kembali mematut bayangannya dalam cermin. Ia membulatkan tekadnya untuk sedikit lebih berani. Masalahnya, Hinata lebih terbiasa dengan celana jeans belel dan kaos longgar kesayangannya ketimbang tanktop dan hot-pants yang sekarang ia pakai.
"Ne, Hinata-neechan," mendadak Hanabi muncul lagi dalam kamarnya sembari menggoyangkan kunci mobil yang ada di tangannya. Hinata memucat sembari berharap bahwa Hanabi tidak serius. "Kau yang bawa mobilnya, ya? Tidak ada penolakan, oke?" ucap Hanabi sambil tersenyum lebar.
Dan Hinata hanya bisa pasrah saat Hanabi sudah menghilang dari pandangannya.
.
Sasuke menggerutu kesal. Rasanya belum cukup dengan berita pembatalan kontrak dengan modelnya, kini justru mobilnya-lah yang bermasalah. Entah bagaimana ceritanya, mendadak mobil kesayangannya tersebut tidak mau bergerak, dengan kata lain: mogok. Lantas Sasuke segera turun sebelum membuka kap mobilnya.
Pemuda berambut pantat ayam tersebut mendengus pelan. Masalahnya ia sama sekali tidak pernah tertarik pada bidang otomotif, jadi walau ia memeriksa sedetail apapun tetap saja ia tidak akan bisa menemukan dimana kerusakannya.
Sasuke merogoh sakunya sebelum mengambil ponselnya untuk menelpon bengkel langganannya. Setelah memberitahukan posisi dimana mobilnya mogok, sambungan segera terputus. Pemuda pemilik mata onyx itu memperhatikan sekelilingnya sebelum ia memutuskan untuk memasuki Konoha Mall. Sebelumnya, ia menitipkan mobilnya pada salah seorang satpam.
Sasuke melihat arlojinya sebelum berpikir untuk mengecek salah satu toko pakaian miliknya yang kebetulan ada di tempat ini. Setelah memasuki hall tengah, ia mendapati panggung yang cukup megah sudah berdiri di sana. Mau tidak mau, hal itu mengingatkan Sasuke pada acara fashion show yang akan ia gelar di sini besok. Sasuke menatap sekelilingnya sambil berharap kalau-kalau saja ada satu orang gadis yang cukup menarik untuk ia jadikan model dadakan.
Unfortunately, semuanya terlihat standar di mata Sasuke.
Merasa mulai jadi pusat perhatian para gadis yang ada di sekitarnya, Sasuke segera beranjak dari tempatnya. Ia langkahkan kakinya sebelum memasuki tokonya. Para pegawai yang melihat Sasuke datang, segera saja menundukkan kepala mereka untuk memberi hormat. Setelah berbicara banyak—sebenarnya pegawainya yang bicara, sedangkan Sasuke hanya mendengarkan—mengenai berbagai hal yang menyangkut toko miliknya, Sasuke segera keluar.
"Maaf, Sasuke-sama," teguran itu menghentikan langkah Sasuke. "Bukannya saya lancang, hanya saja saya ingin tahu kenapa model yang akan Sasuke-sama gunakan belum juga datang untuk fitting baju?"
"Ada sedikit masalah," sahut Sasuke singkat sebelum beranjak pergi.
Sasuke menggerutu kesal karena diingatkan kembali perihal modelnya tersebut. Pemuda itu mengacak pelan rambutnya, merasa mulai sedikit stress hanya karena masalah pembatalan kontrak. Apa aku harus mengikuti saran Sakura untuk kali ini? Ia mulai membatin.
Hanya saja pemikirannya harus terhenti lantaran ia merasa kemejanya basah. Sasuke mendecak sebal saat mendapati seorang gadis berambut indigo tengah gelagapan saat mendapati minumannya membasahi kemeja Sasuke.
"Ma-maaf. A-aku sungguh-sungguh ti-tidak sengaja," ucapnya sambil membungkukkan badannya berkali-kali. "Bi-biar aku bersihkan ya?"
"Tidak perlu."
Ucapan singkat Sasuke yang terdengar datar, membuat gadis itu menggigit bibirnya. Ia merutuk karena kesalahannya yang tidak memperhatikan jalan hingga menabrak pemuda di hadapannya ini, dan itu semua karena ia tidak mendapati adiknya berada di sekitarnya.
"Hinata-neechan," seorang gadis yang tingginya tidak jauh berbeda dengan Hinata, menghampiri gadis itu sambil menampilkan raut heran. Setelah berdiri di samping Hinata, ia bertanya, "ini siapa, nee-chan? Temanmu?"
"Bu-bukan," Hinata menggigit bibirnya gugup, "a-aku tidak s-sengaja menumpahkan mi-minumanku di kemejanya."
Sasuke mendecih.
"Tinggal dibersihkan saja, tidak sulit 'kan," komentar Hanabi. "Sudahlah, film-nya sudah mau dimulai nih."
Sasuke memandang Hinata yang masih tampak ragu untuk pergi dari hadapannya. Mendadak Sasuke tersentak dengan pikirannya sendiri sebelum ia memandangi Hinata lekat-lekat dari atas hingga ke bawah. Yang dipandangi hanya merasa gugup dan grogi, sementara Hanabi mulai memicingkan matanya tanda kesal melihat Sasuke yang memperhatikan Hinata.
"Maumu apa sih? Tidak sopan sekali memandang gadis seperti itu," tegur Hanabi tanpa rasa segan sedikitpun.
Sasuke mengernyit kesal tatkala mendengar ocehan gadis yang terlihat masih belia tersebut. Namun akhirnya ia mengacuhkannya sebelum memandang Hinata lekat-lekat. "Kau benar-benar merasa bersalah?"
Hinata menganggukkan kepalanya ragu. Ia merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpanya sebentar lagi.
Sasuke menyeringai. "Kalau begitu, jadilah modelku."
"Eehhh?"
Sontak saja, kedua kakak-beradik tersebut terkejut mendengar ucapan Sasuke. Sasuke sendiri terlihat tidak peduli. Yang penting, dia sudah mendapatkan calon pengganti modelnya. Terlebih lagi, ia sangat setuju bila gadis di hadapannya ini menjadi model fashion selanjutnya di perusahaannya. Kalaupun gadis ini menolak, Sasuke yakin ia pasti akan mendapatkan gadis ini untuk menjadi icon perusahaannya. Apapun caranya pasti akan Sasuke lakukan.
.
Fin
.
Berakhir gantung gak sih menurut kalian? Hahaha yasudahlah, abis kalau mau dipanjang-panjangin gak bakalan cukup buat satu chapter. Ntar yang ada bukannya oneshoot malah jadi multichapter lagi. Yaaah, Yurisa harap fict pendek ini bisa menghibur kalian semua, gaiss.
Terakhir, bersedia review?
