"Jadi, kau sudah pernah berjalan di atas catwalk sebelumnya?"

Hinata menggelengkan kepalanya. Gadis itu tengah berbincang dengan Sakura setelah ia melepas semua kostum yang akan dipakainya nanti siang.

"Kalau begitu, mau latihan?" tawar Sakura.

"M-memangnya bisa?"

Sakura tersenyum lebar. "Tentu saja bisa. Kebetulan Mall-nya juga belum dibuka untuk umum. Kita masih punya waktu setengah jam sebelum Mall ini dibuka. Bagaimana, Hinata?"

Hinata menampilkan senyumannya.

#

.

Model oleh Clarette Yurisa

Naruto © Masashi Kishimoto

AU, OOC, Pendek

.

#

"Berjalanlah dengan benar!"

Teguran Sasuke untuk yang kesekian kalinya membuat Hinata menggigit bibirnya. Selama dua puluh lima menit ia mencoba berjalan di atas panggung, selama itu pula Sasuke tidak berhenti menegurnya.

"Tegakkan kepalamu bila berjalan!"

Hinata menurut. Sayangnya, ia justru tersandung oleh kakinya sendiri hingga membuat gadis itu terjatuh.

Sasuke menggertakkan giginya tanda kesal. Pria bermata onyx itu menahan egonya walau hanya sekedar membantu Hinata berdiri. Setelahnya ia bernapas lega tatkala mendapati Hinata sudah berdiri kembali dan terlihat baik-baik saja, meskipun wajahnya seperti menahan tangis.

"Turun sekarang juga!"

Hinata menuruni panggung sebelum berjalan mendekati Sasuke. Mata lavendernya menatap Sakura yang berdiri di ujung panggung dengan tatapan meminta bantuan, yang sayangnya dijawab dengan gelengan kepala oleh Sakura.

"Tidak bisakah kau berjalan dengan benar?"

Hinata terdiam sembari menundukkan kepalanya sebelum menjawab, "a-aku memang be-berjalan seperti i-itu."

"Aturan pertama; tatap wajah orang yang sedang berbicara denganmu," ucap Sasuke tegas.

Hinata mendongakkan kepalanya perlahan sembari menatap kedua onyx Sasuke. Sasuke yang hendak kembali bicara mendadak terpaku ketika mendapati mereka berdua saling menatap satu sama lain. Sayangnya hanya sebentar karena setelahnya Hinata justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sasuke berdehem sebentar sebelum kembali berkata, "berjalanlah dengan menatap lurus ke depan. Bersikaplah sombong seakan kau memang pantas menjadi pusat perhatian mereka semua."

Hinata menganggukkan kepalanya.

"Jangan pikirkan apapun. Berjalanlah sebagaimana biasanya tanpa perlu menundukkan wajahmu."

Kembali anggukan kepala yang Sasuke dapati.

"Tunjukkan kalau kau bisa meskipun kau bukan seorang model."

Kali ini Hinata mendongakkan kembali wajahnya untuk menatap Sasuke.

"Aku tahu kalau kau berani, Hinata. Aku tahu kalau kau pasti bisa. Maka dari itu, tunjukanlah dirimu yang sebenarnya padaku," ucap Sasuke sebelum meninggalkan Hinata yang masih terpaku di tempatnya.

.

"Sasuke memang suka bicara kasar, tapi sebetulnya dia baik kok," ucap Sakura setelah menghampiri Hinata yang terdiam.

Hinata tersenyum tipis.

"Kau tidak apa-apa, bukan? Dia tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkanmu 'kan?" tanya Sakura dengan nada cemas.

Hinata menggelengkan kepalanya.

"Maaf kalau aku tidak menghampirimu tadi. Sasuke tidak akan suka bila aku mengganggunya kalau ia tengah berbicara dengan modelnya seperti tadi," Sakura menampilkan senyum masam, "dulu aku pernah dimarahi olehnya karena hal sepele seperti itu. Jadi, maaf ya, Hinata?"

"Tidak apa-apa, Sakura-san."

"Kalau begitu kau istirahat dulu saja, oke? Sebentar lagi para pengunjung mall pasti akan datang. Kebetulan sekarang sudah hampir jam sepuluh. Bagaimana?" tawar Sakura sambil menatap Hinata lekat-lekat.

Hinata menganggukkan kepalanya. "B-boleh aku izin m-makan sebentar?"

Sakura tersenyum riang. "Tentu saja. Mau kutemani?"

"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri, Sakura-san," ucap Hinata sambil menampilkan senyumannya.

.

Hinata berjalan mengelilingi berbagai tempat makanan yang masih sibuk merapikan peralatannya. Sudah jam sepuluh lewat lima menit. Maka Hinata tidak heran tatkala matanya mendapati beberapa orang yang mulai menjelajah meskipun hari masih pagi.

Hinata mendengar perutnya berbunyi pelan. Matanya menatap bingung pada berbagai restaurant yang ditangkap oleh retina matanya. Hinata ingin sekali mengisi perutnya, hanya saja gadis itu baru sadar kalau sebagian besar uangnya tertinggal. Hinata berani bertaruh kalau dompet yang kini berada di saku celananya tidak akan cukup meskipun ia hanya sekedar membeli air minum.

"Kudengar dari Sakura kalau kau ingin makan. Lalu kenapa kau masih berdiri di sini?"

Suara itu mengejutkan Hinata hingga membuatnya menampilkan raut wajah terkejut yang cukup kentara. Didapati olehnya Sasuke tengah berdiri di sebelahnya sembari menatap Hinata lekat-lekat.

Hinata menggigit bibirnya. Ia merasa bodoh ketika berkata dengan nada polos, "u-uangku te-tertinggal."

Mendengarnya, Sasuke hanya bisa tersenyum tipis. "Kalau begitu kau kutraktir. Mau makan apa?"

Hinata menggoyangkan kedua tangannya tanda menolak. "T-tidak usah, U-Uchiha-san. A-aku tidak mau m-merepotkanmu."

Sasuke mendecak. Kakinya melangkah meninggalkan Hinata yang terpaku menatap kepergiannya. Selang satu setengah meter, ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Hinata dengan pandangan datarnya. "Cepat ikut aku atau kau kutinggal!"

Pada akhirnya, Hinata memilih untuk mengikuti langkah pria tersebut. Tak berapa lama, mereka sudah memasuki sebuah restaurant sebelum memesan makanan untuk mengisi perut mereka.

Sembari menunggu pesanan mereka datang, Hinata mencoba berbincang dengan pria yang tengah duduk berhadapan dengannya kini. "Um, ano… b-boleh aku b-bertanya?"

Sasuke menatap Hinata sebelum membuka mulutnya. "Kau boleh bertanya bila tidak bicara dengan terbata-bata seperti itu."

Hinata merasa ciut sesaat sebelum memberanikan dirinya. "Boleh aku tahu s-siapa perancang busana di perusahaanmu?" Hinata menggigit bibirnya saat mendapati dirinya bertanya dengan gagap.

"Kujawab kau pun tak akan kenal," Sasuke menatap Hinata sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "hanya saja sebagian besar idenya berasal dariku."

Hinata menatap Sasuke dengan pandangan kagum. "Hontou ni?"

Anggukkan kepala menjadi jawaban Sasuke.

"Sugoi na. Jadi Uchiha-san pernah mengambil sekolah fashion design?" Hinata terlihat antusias hingga melupakan kegugupannya.

Pria pemilik rambut berwarna hitam itu menggeleng. "Oka-san dulunya seorang designer. Beliau yang mengajariku semuanya hingga aku bisa seperti sekarang ini. Mungkin terdengar mustahil bagimu, tapi aku sudah mendesain berbagai macam busana sejak umurku masih sepuluh tahun. Kau bisa katakan kalau itu semacam… bakat."

Hinata mendapati nada angkuh keluar dari bibir Sasuke pada kalimat terakhirnya. Namun gadis berambut indigo itu justru merasa semakin kagum. "Sebenarnya aku ingin sekali menjadi seorang perancang busana. Hanya saja… keadaan memaksaku untuk melepas impianku."

"Seperti?"

Hinata menggigit bibirnya. "M-masalah keluarga."

Sasuke hanya diam, tidak menanggapi.

Hinata meremas kedua tangannya. Memikirkan tentang keluarga membuat Hinata kembali merasa takut akan keputusan yang telah diambilnya. Akan tetapi, Hinata juga sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau kali ini ia tidak akan mundur lagi.

"Impian itu… indah, bukan?"

Hinata mendongakkan kepalanya sebelum mendapati Sasuke yang memandangnya intens.

"Sesuatu yang indah seperti itu tidak seharusnya dilepas begitu saja. Meskipun jalanmu untuk mendapatkannya terasa berat, kau tidak boleh menyerah. Karena sebuah impian itu ada untuk diperjuangkan. Bukannya kau biarkan terus seperti fantasi yang tidak pernah menjadi nyata."

Sebuah senyum manis terpampang di wajah Hinata yang semula tampak sendu.

"Aku yakin kalau kau pasti bisa menjadi seorang designer yang hebat, Hinata."

Dan senyum Hinata semakin melebar saat mendengarnya.

.

Ketika selesai makan, Hinata mendapati hall tengah Konoha Mall sudah berubah menjadi lebih meriah dibanding ketika ia latihan tadi pagi. Gadis bersurai indigo ini melirik jam tangannya sebelum mendapati kalau hari sudah pukul sebelas. Rupanya ia terlalu keasyikan berbincang dengan Sasuke ketika makan tadi.

"Acara akan dimulai jam setengah satu siang. Sebaiknya kau mulai bersiap-siap."

Hinata menganggukkan kepalanya mendengar kalimat Sasuke. Gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju toko pakaian milik pria bermarga Uchiha tersebut. Sesampainya di sana, ia segera disambut oleh Sakura yang sudah dikelilingi berbagai peralatan make-up.

"Kemari, Hinata! Aku harus segera memake-up wajahmu," ucap gadis itu sambil mengambil sebuah pembersih wajah. Gadis berambut merah muda itu terdiam sesaat sebelum menatap rambut sepunggung Hinata. "Tidak masalah 'kan, kalau aku juga menata rambutmu?"

Dan Hinata hanya bisa mengangguk pasrah.

.

Sasuke menatap harap-harap cemas ke arah panggung. Lima menit lagi acara akan dimulai. Itu tandanya dua puluh menit lagi Hinata akan muncul di atas panggung sembari memamerkan busana yang akan menjadi icon perusahaannya di musim panas nanti. Sasuke hanya bisa berharap kalau Hinata tidak berbuat kesalahan yang fatal nantinya.

Onyx milik pria berambut hitam itu mendapati berbagai wartawan sudah mulai memadati hall tengah, berikut dengan berbagai kolega perusahaannya beserta para pengunjung yang penasaran untuk menyaksikan acara tersebut.

Sasuke merasa kepalanya berdenyut. Ia benar-benar berharap kalau Hinata tidak akan membuatnya malu nanti di hadapan orang-orang penting yang kini hadir untuk menyaksikan peragaan busananya.

Mendadak terdengar suara dari sebuah microphone kalau acara akan segera digelar. Sebelum dimulai, Sasuke berjalan menuju panggung untuk memberikan sambutan sebagai tanda resminya fashion show ini akan dimulai. Setelah menuturkan hal yang terbilang cukup singkat, sosok Sasuke kembali menuruni panggung sebelum menghilang masuk ke dalam tokonya.

Peragaan busana resmi dimulai. Model-model yang diharuskan melakukan pekerjaannya, segera mengambil tempat untuk melangkah di atas catwalk secara bergantian—memamerkan berbagai macam pakaian musim panas yang akan perusahaan Sasuke produksi.

"Jangan gugup," ucap Sasuke ketika memasuki sebuah ruangan dimana Hinata tengah mematut dirinya dengan wajah cemas di hadapan sebuah cermin besar.

Pemuda Uchiha itu menepuk lembut puncak kepala Hinata sambil tersenyum tipis. Gadis pemilik iris lavender itu segera membalikkan tubuhnya untuk menatap Sasuke sebelum mendapati pria itu tengah tercengang tatkala memandangnya.

"Aku… a-aneh, ya?"

Sasuke diam, tidak menjawab. Tangannya menelusuri rambut Hinata yang semula lurus berubah menjadi keriting gantung. Setelah itu, ia menelusuri wajahnya dimulai dari dahi, pipi sebelum menyentuh bibir milik gadis berambut indigo tersebut. Satu kata yang muncul dalam benak Sasuke: cantik.

Hinata sendiri mulai merasakan wajahnya memerah ketika Sasuke menyentuhnya. Seumur-umur, baru kali ini Hinata bersentuhan fisik dengan laki-laki selain Ayahnya dan Neji.

"U-Uchiha-san?"

"Sebentar lagi giliranmu, Hinata. Berjalanlah dengan benar. Aku akan menunggumu di belakang panggung."

.

Ketika seluruh model sudah selesai memamerkan busana mereka, kini giliran Hinata untuk tampil. Dipandanginya wajah Sasuke yang menatapnya lekat-lekat. Hinata menghembuskan napasnya sebelum berkata, "aku akan buktikan padamu, Uchiha-san, kalau aku bisa. Aku akan memperlihatkan diriku yang pemberani, memperlihatkan diriku yang sebenarnya, yang tidak akan kalah oleh apapun."

Sasuke tercengang sebelum ia menyadari kalau Hinata sudah menaiki panggung. Lampu sorot mulai mengarah ke arah tempat gadis itu akan muncul. Hinata menarik napasnya, berusaha mengurangi perasaan tegang yang melandanya.

Langkah kakinya membawanya menuju panggung sebelum lampu sorot mengikuti dimana ia berdiri. Setelah itu, Hinata mulai berjalan. Wajahnya mendongak ke atas, seakan membuktikan kalau dirinyalah yang paling cantik diantara semua wanita yang ada. Langkah kakinya terayun anggun. Ekspresinya tampak angkuh namun biasan matanya terlihat misterius di saat yang bersamaan.

Hinata membius semua mata yang memandangnya, termasuk Sasuke yang tengah menontonnya melalui sebuah televisi mungil di belakang panggung. Gadis itu sudah sampai di ujung panggung sebelum berpose sebentar, menampilkan sebuah senyuman yang terlihat meremehkan sekaligus menawan. Setelahnya, Hinata kembali berjalan menuju ke belakang panggung.

Suasana masih sunyi senyap ketika Hinata sudah menghilang dari atas panggung. Gadis berambut indigo itu menatap Sasuke dengan wajah cemas tatkala ia sudah berada di belakang panggung. Hinata semakin merasa cemas ketika pria tersebut justru hanya memandangnya dengan tatapan yang terbilang dalam.

"B-bagaimana? A-aku mengecewakan, y-ya?" Hinata menggigit bibirnya.

Mendadak, suara tepukan tangan terdengar dari arah panggung. Hinata terpana. Matanya memandang Sasuke bingung seakan bertanya mengapa para penonton memberikan applause.

Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Hinata sebelum membawa gadis itu dalam pelukannya. Hinata yang terkejut, hanya bisa diam membeku dalam rengkuhan pria berambut hitam tersebut.

"U-Uchiha-san?"

Sasuke melepaskan pelukannya sebelum tangannya mengelus perlahan puncak kepala Hinata dengan sorot matanya yang melembut. "Selamat, Hinata. Kau berhasil membuktikan kata-katamu. Setelah ini, jadilah designer terkenal dan buktikan padaku kalau kau mampu melampauiku."

Setelahnya, justru Hinata yang ganti memeluk Sasuke dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

.

"Hinata-neechan mengagumkan sekali tahu," ungkap Hanabi sambil menatap Hinata dengan wajah berbinar. "Aku tidak pernah tahu kalau Nee-chan bisa terlihat mempesona seperti itu. Untung saja aku datang tepat waktu tadi. Yah, meskipun aku harus menonton Nee-chan dari baris belakang sih."

Hinata tersenyum malu.

"Setelah ini, aku yakin kalau kau sudah benar-benar memutuskan tekadmu untuk melanjutkan mimpimu. Benar, bukan?"

Hinata menatap Neji yang sedang menyetir mobilnya sebelum menganggukkan kepalanya. "Impian ada untuk dikejar, bukan hanya dibiarkan menjadi sebuah fantasi yang tidak akan menjadi kenyataan. Aku… pasti memperjuangkannya," tutur Hinata sembari meniru kalimat yang Sasuke ucapkan padanya.

Hanabi tersenyum lebar. "Aku senang karena akhirnya Hinata-neechan memutuskan untuk membahagiakan diri Nee-chan."

Hinata tersenyum hangat. Wajahnya menatap keluar jendela. Di akhir musim semi yang ke-sembilan belas tahun dalam hidupnya, baru kali ini Hinata merasa jiwa serta raganya benar-benar hidup. Pada akhirnya, sekeras apapun Hinata melawan, takdir tetap menuntunnya untuk mejadi seorang perancang busana. Takdir tetap menuntunnya untuk melanjutkan impian yang semula tertunda.

Hinata memejamkan matanya. Hatinya berbisik, mengucapkan sebuah kalimat dengan perasaan yang tulus di dalamnya, terima kasih atas segala hal yang telah kau ajarkan padaku, Uchiha-san. Aku berjanji kalau aku akan menjadikan kata-kata penyemangatmu untukku menjadi sebuah kenyataan.

.

holaaaaaa Yurisa dateng lagi bawa chapter empat hehe. sebenernya ini chapter udah jadi dari kapan taun, cuman yah malah gapernah ada waktu buat buka internet -_- akhirnya baru apdet deh #curcol

okeeeyyyyy, Yurisa ucapin makasiiihhhh banget buat Bee Hachi, rajabmaulan, Grey and Chocolate, sama yang terakhir buat Guest. makasih banyak ya gaisss, duh kisshug satu-satu deh ini #dorr.

gausah banyak curcol deh ya. semoga kalian bisa puas sama chapter ini. tenang, ini belum tamat kok hehe. yak untuk yang terakhir, reviewnya ditunggu ya kawan-kawan :D