BETWEEN HEAVEN AND HELL

.

YUNJAEYOOSUMIN

.

Typo? udah pasti. GJ? jelasssss. Kurang ini itu? pastinya. Kl bacanya teliti pasti tau dialog itu sapa yg ngomong, ngga perlu di deskripsikan lagi secara eksplisit. Overall sankyu buat reviewenya, baik yg terdaftar ataupun no name ^^ enjoy#sundulmanja

.

.

Namja cantik dengan kesempurnaan luar biasa itu mengedipkan matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam pupil doe indah yang selalu dipuji banyak orang. Jaejoong menggelengkan kepalanya yang terasa pusing, sampai sedetik kemudian ia menatap ruangan yang disadarinya bahwa ini bukan kamarnya, ia bingung kenapa bisa ada disini? Hingga jantungnya berdegup mengingat kejadian tadi siang dimana dirinya bertemu dengan Yunho, Yunho seseorang yang ingin menghabisinya.

CKLEK~

"Kau sudah bangun?" tanya namja yang ternyata adalah si tampan Jung, ia masuk kedalam kamar dengan nampan berisi makanan.

"K-Kau? Apa yang kau inginkan? Kenapa kau membawaku kesini?" tubuh Jaejoong bergetar ketakutan, ia mengambil guling yang ada disana dan menodongkannya kearah Yunho.

"Ssssttt tenanglah, kan sudah ku bilang aku tidak akan menyakitimu, makanlah kau pasti lapar" Yunho menaruh makanan itu di nakas samping ranjang.

Jaejoong memperhatikan Yunho yang menaruh makanan diatas nakas, menyadari bahwa namja Jung itu tidak melakukan sesuatu yang jahat, tubuhnya kembali melemas sembari memeluk guling yang tadi ia todongkan.

"Hiksss, kau jahat! Hikss kumohon ijinkan aku pulang jangan sakiti aku hiksss aku...aku berjanji tidak akan bersaksi lagi hiksss tapi kumohon ijinkan aku pulang"

"Hey kenapa kau menangis? Aku tidak akan menyakitimu, kenapa kau tidak percaya padaku hum?"

"Hikss kau penjahat bagaimana mungkin aku percaya padamu hiksss"

Bibir Yunho melengkung keatas, selain cantik namja yang ada di hadapannya ini sangat menarik aniya?

"Kalau begitu jangan anggap aku penjahat, anggap saja aku teman bagaimana?"

"Hikss teman? Hikss" isaknya.

"Hum teman, apa aku tidak boleh berteman denganmu?"

"Kalau teman kenapa kau memaksaku kesini? hikssss"

"Kalau aku secara langsung kerumahmu, maka aku akan langsung tertangkap, lagipula tidak ada yang menjamin-kan kalau kau tidak akan bersaksi lagi? Jadi aku harus menggunakan cara seperti ini"

"Demi Eommaku di Surga aku berjanji tidak akan bicara apa-apa, tolong lepaskan aku Yunho~shi" pinta Jaejoong dengan sorot mata sendu.

Yunho sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa Jaejoong juga tidak mempunyai Eomma seperti dirinya, entah kenapa perasaan itu membuat Yunho menjadi tidak tega untuk melukai Jaejoong. Awalnya, ia memang ingin menculik namja cantik itu sebagai tebusan agar ia berhenti bersaksi dan memberinya sedikit pelajaran, tapi saat bertemu dengan Jaejoong hatinya tidak bisa sesuai dengan otaknya.

"Dengar, jangan takut padaku aku akan melepaskanmu, tapi nanti setelah..." Yunho tidak sanggup mengatakan apapun, dia sangat terpesona oleh kecantikan alami yang dimiliki Kim cantik itu. Mata besar indah, bibir kemerahan yang sepertinya tidak diberi sentuhan apapun, hidung yang melengkung bak seluncuran es , maha karya Tuhan yang paling sempurna yang pernah ia lihat.

"K-kau jangan me-menatapku terus"

Ucapan Jaejoong membuyarkan lamunan Yunho, ia memalingkan wajahnya berusaha mengalihkan pikirannya tentang wajah cantik tawanannya itu.

"Kau makanlah, habiskan kalau tidak nanti kau sakit"

"Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini?" ucap Jaejoong pelan namun masih bisa terdengar Yunho.

"Atau kau mau kusuapi hum?" goda Yunho.

"Eh? T-Tidak perlu, a-aku bisa sendiri"

SRAK~

Jaejoong mengambil nampan yang berada di nakas, dengan cepat ia melahap sepiring nasi dengan daging dan sayuran hingga kedua pipinya menggembung.

"Yah, pelan-pelan kau bisa tersedak nanti, lagipula bagaimana mungkin kau bisa memakannya begitu saja? Kau tidak takut kalau aku meracunimu?"

GLEK~

Kalimat Yunho menghentikan acara makan Jaejoong. Benar juga, bagaimana kalau Jung tampan itu meracuni dirinya? Pikir Jaejoong yang kini menatap Yunho horor.

"Ahahaha kau ini lucu sekali, ini tidak beracun tenang saja aku tidak punya niat sejahat itu padamu, habiskan ne"

Bibir plum Jaejoong mengerucut sebal, entah keberanian darimana ia men-deathglare Yunho dan kembali melanjutkan makannya, meski statusnya sebagai tawanan tapi ia cukup lapar juga hari ini.

Sementara itu kepanikan melanda kediaman Kim yang dipenuhi beberapa polisi berseragam, berkumpul untuk mendiskusikan tentang hilangnya Kim Jaejoong, tak terkecuali Hankyung yang cemas luar biasa, ia tidak bisa diam dan terus saja bolak balik kesana kemari, kalau pun duduk dia akan berdiri lagi dan kembali mondar mandir terus saja seperti itu.

"Sajangnim tenanglah kami akan mencari cara untuk mengetahui keberadaan putera anda"

"Mwo? Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang jika puteraku satu-satunya sedang berada di tangan orang yang ingin membunuhnya! Dan lagi Choi Siwon~shi, anda sudah menjamin akan menjaga puteraku, tapi sekarang? Ia justru diculik!"

"Kami akan mencari Jaejoong sajangnim percayalah pada kami"

"Aku sudah mempercayakan puteraku pada kalian, dan sekarang puteraku justru menghilang bersama dengan pembunuh itu!"

"Sajangnim tenanglah, kami pasti bisa menemukan Jaejoong" Ahra tak ketinggalan menenangkan Hankyung.

"Sajangnim saya mohon anda tenanglah, ingat jantung anda sajangnim yakinlah bahwa Joongie akan baik-baik saja"

"Victoria, apa Joongieku akan baik-baik saja? Apa dia akan pulang kesini dengan selamat? Tahu akan begini aku lebih baik membawa Joongie pergi dari negara ini, aku tidak siap kehilangannya Victoria"

Hankyung yang biasanya selalu terlihat tegar kini mulai melemah, ia menangisi putera tercintanya, semua orang yang berada disana menjadi iba melihatnya, mereka juga mencemaskan Jaejoong. Bukan hanya karena bocah 17 tahun itu adalah saksi untuk mengungkap kejahatan Jung, melainkan hampir 2 minggu selama menjaga Jaejoong mereka menganggap Jaejoong sudah seperti adik. Sifatnya yang menyenangkan membuat polisi-polisi itu senang berada di dekatnya.

"Apa yang Jung itu inginkan? Uang? Perusahaanku? Atau bahkan nyawaku? Ambilah, tapi jangan puteraku"

"Kekayaan keluarga Jung tidak ternilai sudah jelas motifnya karena Jaejoong adalah saksi pembunuhan hari itu"

"Lalu sekarang bagaimana?"

"Selagi kami melacak keberadaan Jaejoong, saya mohon sajangnim tetap berada dirumah, kemungkinan Jaejoong akan menghubungi anda nanti" saran Ahra.

Hankyung menatap satu persatu polisi yang berada disana, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba kembali percaya pada mereka. Ia hanya berharap bahwa putera satu-satunya akan selamat dan kembali ke sisinya.

_BETWEEN HEAVEN AND HELL_

"HOSH!"

"HOH!"

"HAIK!"

Si cantik yang sedang terlelap tidur terkejut mendengar suara yang datangnya dari arah luar jendela kamar, tubuh indahnya menggeliat pelan, rupanya karena kelelahan ia tertidur meski ia tidak ingin tapi matanya tidak bisa diajak kompromi, justru ia malah tertidur dengan nyenyaknya.

"HOSH!"

"HAH!"

Suara itu kembali terdengar, perlahan Jaejoong melangkah kearah jendela dan membuka jendela berbingkai kayu itu lebar, kamarnya terletak di lantai dua. Mata besarnya semakin besar saat melihat sekitaran 100an orang sedang berlatih Karate, terlebih lagi bahwa namja tampan bermata musang itu yang memimpin, Jaejoong bahkan terus menatap Yunho tak berkedip. Bagaimana tidak berkedip jika yang dilihatnya Yunho menggunakan seragam Karate dengan bagian dada yang sedikit terbuka. Demi jidat sepupunya, namja Jung itu sangat seksi!

"Pagi cantik, kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu? Nampaknya sangat nyenyak sekali"

"Kalau aku disini berarti aku sudah bangun, pabo!" celetuknya kesal.

Yunho tertawa kecil melihat tingkah tawanannya yang semakin Yunho mengenalnya, ia semakin menggemaskan.

"Kka, kemarilah"

"Shiruh!"

"Apa kau mau dikamar terus seharian?"

"Aku mau pulang!"

"Kau ini cerewet sekali, kan sudah kubilang aku akan melepasmu nanti, kajja kemarilah"

"Aku tidak mau! Nanti kau akan membunuhku"

"Mwo?" Yunho tak bisa menahan tawanya, ia tertawa keras di ikuti anak buahnya yang sedang berlatih.

"Kau ini sungguh menarik Jaejoong~ah, kalau aku mau membunuhmu sudah dari kemarin saat aku menculikmu, kau turun atau aku yang naik keatas dan menggendongmu?"

Apa? Digendong Yunho? Lebih baik ia meloncat dari kamarnya daripada harus digendong namja kelewat tampan itu.

"Arra arra aku turun!"

Jaejoong yang masih menggunakan seragam sekolahnya melangkah turun dengan malas, bulu kuduknya berdiri ketika melewati anak buah Yunho yang menatap dirinya dari atas sampai bawah, apa ada yang salah dengannya? Atau ia bau karena sejak kemarin ia belum mandi?

"Kemarilah, apa kau bisa bela diri Jae?"

"Hum? Bela diri? Aku namja tentu saja bisa"

"Jinjja? Kalau begitu tunjukan padaku ilmu bela diri apa yang kau bisa"

Jaejoong berpikir sejenak, mencoba mengingat ilmu bela diri apa yang ia kuasai. Kalau disuruh memainkan nada di atas tuts piano, tanpa perlu berpikir tangan dan otaknya akan otomatis bekerja.

"Hummm seingatku Yuchunie pernah mengajarkan satu jurus padaku, Ah! Aku ingat, aku akan memperlihatkan satu jurus andalanku padamu"

Jaejoong bersiap-siap dengan posisi kuda-kudanya, kemudian kakinya yang kecil dan mulus tanpa satu bulu-pun terangkat, tapi karena tidak terbiasa kaki yang harusnya agak naik keatas itu malah sejajar dengan tubuhnya dan membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga ia jatuh dihadapan Yunho dan para 'pasukannya'.

"Ya! kenapa kalian tertawa? ini yang diajarkan Chunnie padaku! Keunde kenapa kaki Chunnie bisa melambung tinggi ya?" Jaejoong memperhatikan kakinya sendiri.

"Ckckck kau ini benar-benar menarik Jaejoong~ah, wajahmu cantik, tubuhmu indah kau juga bersikap seperti yeoja, jangan-jangan sebenarnya kau yeoja yang menyamar menjadi namja ya?"

"M-mwo? YAH Jung Yunho kau meledekku? Kau sama saja seperti Chunnie! Suka sekali mengatakan aku ini yeoja!"

"Daritadi kau terus saja menyebut nama Chunnie, siapa dia?" tanya Yunho posesif.

"Chunnie? Dia sepupuku, wae? Jangan bilang kau ingin menyakitinya?"

"Aku tidak akan menyakiti orang yang tidak ada hubungannya denganku Joongie"

Ucap Yunho yang memanggil Jaejoong dengan panggilan kecilnya, bagaimana namja Jung itu tahu nama kecilnya? Pikir si cantik Kim. Tapi panggilan itu sungguh membuat hati Jaejoong bergetar pelan, ini aneh karena terasa sangat berbeda jika Yunho yang mengucapkannya.

"Kka, aku akan mengajarkanmu karate"

"Untuk apa?"

"Agar kau bisa melindungi dirimu"

"Aku tidak mau, karate melelahkan lebih baik aku bermain piano, kulihat ada piano diruang keluargamu, apa boleh aku memainkannya?"

Belum sempat Yunho menjawab, seseorang memanggil namanya dengan teriakan yang bisa di dengar meski dari jarak 10km(?). Dilihatnya sesosok mahluk imut berlari kearahnya sambil memegang bola sepak ditangan.

"Yunho hyuuuuuuuuunnngg"

"Su? Kau tidak sekolah lagi eoh?"

"Eukyangkyang, hari ini sekolah libur karena ada lomba ilmiah antar kelas hyung, aku malas datang hehehe, eoh nuguya? Pacarmu hyung? Whoaaa neomu yeppo"

"Dia temanku, Joongie ini Kim Junsu dia adik sepupuku"

"Anyeong Kim Junsu imnida" ucap Junsu ramah sambil membungkuk

"A-anyeong Kim Jaejoong"

"Marga kita sama ne? Chakkaman, kau ini namja atau yeoja? dari pakaianmu kau seperti namja tapi kenapa kau bisa sangat cantik?" puji Junsu yang juga biasa dipanggil Suie Susu Xiah Xia duckbutt dolphino oh whatever kau mau memanggilnya apa.

"Kau jangan menatapnya seperti itu Su, lihat dia jadi ketakutan"

"Omo, mianhe Joongie kau jangan takut padaku ne? Aku tidak galak seperti Yunho hyung, kau tenang saja"

"N-ne"

Setelah bertemu Yunho yang aneh sekarang ia bertemu dengan sepupunya yang juga sama anehnya dengan si Jung tampan itu.

"Kka apa aku boleh berteman denganmu Joongie?"

Jaejoong mengangguk ragu, ada apa dengan dirinya? Kenapa dia berteman dengan para mafia-mafia aneh ini?

"Jinjja? Kyaaaaaaaaa gomawo Joongie~ah"

Junsu memeluk Jajeoong terlalu erat membuat si cantik dengan poni di keningnya itu sedikit sesak. Yunho tersenyum melihat tingkah ke-kanakan Junsu, tidak biasanya sepupu manisnya itu mudah akrab dengan orang baru, bahkan dengan adiknya saja Junsu tidak begitu dekat.

"Sudah sudah lepaskan dia, kau membuatnya tidak bisa bernapas Su"

"Ups mian Joongie, aku tidak menyakitimu kan?"

"Uhukuhuk ani uhuk"

"Semuanya kembali ke posisinya masing-masing!"

"Ne sajangnim!" jawab 'pasukan' Yunho serempak sembari membungkuk memberi hormat kemudian beranjak pergi untuk mulai menjalankan tugas.

"Hyung, kau sudah sarapan?"

Yunho menggeleng.

"Hummmmm aku juga belum, kajja kita sarapan bersama neeeee"

"Yah kau selalu sarapan disini, apa ahjumma tidak protes karena kau tidak memakan masakannya?"

"Hehehe aniya aku tidak suka makan dirumah, ck sepi sekali! Hyung kajja perutku lapaaaaaarrr" rengek Junsu.

"Arra arra kita makan"

"YAIIIYYY~!"

Jaejoong yang berjalan dibelakang Yunho dan Junsu memperhatikan kedua orang yang baru saja dikenalnya itu, matanya tidak berhenti menatap Yunho yang ternyata tidak seburuk yang ia kira. Yunho sangat lembut saat berbicara dengan Junsu, ia juga beberapa kali melihat Yunho tertawa membuat Jaejoong tak berhenti berkedip, melihat betapa tampannya seorang Jung Yunho.

Sesampainya di meja makan, Junsu dengan cepat duduk disamping Yunho yang sudah duduk ditengah, sebagai 'pemimpin' tentu saja Yunho harus duduk di kursi tengah, sedang Jaejoong dengan ragu duduk bersebrangan dengan Junsu.

"Huuummmm" gumam Junsu yang terlihat mempoutkan bibirnya.

"Wae?"

"Aku sedang tidak ingin makan Sushi, aku mau makan yang lain"

"Eh? Ini kan ada Salmon Sashimi kesukaanmu"

"Tapi hyung aku bosan, aku ingin makan yang lain"

"Arra arra aku akan suruh Woori untuk memasakan menu lain"

"Shiruh! aku bosan dengan masakan Woori noona!"

"Suie jangan manja begitu, biasanya juga kau suka dengan masakan Woori, ini makanlah dulu nanti sore kita akan beli makanan yang kau suka, ok?"

"Shiruh Shiruh Shiruh! aku tidak mau makan" Junsu terlihat kesal dia melipat tangannya di dada, kalau sudah begini Yunho-pun tidak bisa membujuknya, Junsu memang sangat manja dengan Yunho.

"K-Kau ingin makan apa memangnya Su?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

"Champyong!"

"Champyong? Euungg s-sepertinya aku bisa memasaknya"

Junsu dan Yunho menoleh bersamaan menatap Jaejoong.

"Kau bisa masak?" tanya Yunho.

Jaejoong mengangguk pelan.

"D-dimana dapurnya?"

"Aku antar" sambut Junsu semangat dan menarik lengan Jaejoong menuju dapur.

Sedang Yunho? Pikirannya masih belum ter-koneksi karena ke-kagumannya semakin bertambah pada namja Kim itu, cantik, bertubuh indah dan pintar memasak, bukankah Jaejoong sangat pas untuk dijadikan seorang istri?

Di dapur yang sangat luas dan tidak kalah luasnya dengan dapur milik Jaejoong, dengan cekatan namja berkulit vampire itu menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat Champyong.

Jaejoong memang anak orang kaya tapi ia bukan tipikal anak manja yang tidak bisa melakukan apapun, terkadang ia sendiri yang menyiapkan makanan untuk Appanya, dia sangat suka sekali memasak.

Junsu yang hanya bisa 'menghancurkan' dapur memilih duduk dan terus menatap apa yang akan dilakukan teman barunya itu. Dengan sekejap Jaejoong dan Junsu sudah menjadi akrab, keduanya terlibat percakapan seru sambil tetap Jaejoong berkonsentrasi memasak.

Yunho juga berada disana, ia bersender pada pintu yang berada tak jauh dari dapur dan memandangi kedua namja imut itu sambil tersenyum, sesekali Junsu menggoda Jaejoong dengan menyembunyikan entah itu pisau, tomat, garam atau apapun, kejadian itu tentu saja mengundang tawa Yunho. Sudah lama sekali dapurnya tidak terasa ramai.

Tak berapa lama masakan-pun selesai, Junsu membantu menata piring sedang Jaejoong membawa hasil masakan-nya keruang makan. Junsu menatap pasangan YUNJAE yang duduk di seberangnya, YUNJAE duduk bersebelahan.

"Wae Su?" tanya Jaejoong

"Kalian seperti pasangan suami istri, Yunho Appa, Joongie Umma dan aku anak-nya eukyangkyang"

Ucapan tanpa berpikir Junsu membuat Jaejoong menundukan kepalanya malu, Wait, kenapa dia harus malu? Bukankah dia tidak ada hubungan apapun dengan Yunho? tapi kenapa pipinya terasa panas ditambah darahnya berdesir hangat.

Sedang Yunho? Namja tampan itu terlihat cuek dan lebih memilih mengambil nasi karena panggilan perutnya yang sudah tidak bisa dikompromi, Junsu ikutan menyiduk nasi dengan porsi seolah-tidak-makan-seminggu, kemudian ia mengambil Champyong yang terlihat seperti melambaikan tangan kearahnya, ia makan dengan semangat.

Ternyata benar bahwa Jaejoong pandai memasak, terbukti dari tidak adanya sedikitpun sisa makanan di piring, Junsu bersender lemas karena terlalu kenyang dan Yunho yang biasanya jarang sekali menambah porsi makannya, kali ini tidak bisa menolak masakan lezat Jaejoong.

"Joongie aku kekenyangan, masakanmu benar-benar enak"

"Gomawo Su"

Mata Jaejoong melirik kearah Yunho, berharap namja tampan itu memuji masakannya.

"B-Bagaimana masakanku?" tanyanya ragu-ragu.

"Aku sudah menambah tiga kali apa itu belum cukup bukti kalau masakanmu enak?"

Jaejoong tersenyum kecil, ia menunduk menutupi rasa malunya, ada perasaan senang saat Yunho menyukai masakannya.

"Perutku sudah kenyang sekarang aku harus latihan"

"Kau baru makan Su, jangan berlarian dulu nanti perutmu sakit"

"Aku mau latihan hyung, minggu depan FC MEN bertanding eukyangkyang"

"Ya Kim Junsu! Jangan berlari seperti itu, aish bocah itu susah sekali dikasih tahu"

Junsu meninggalkan YUNJAE berdua di ruang makan, untuk beberapa saat keduanya diam tanpa suara, merasa bingung harus berkata apa.

"Joongie~ah, mianhe kalau kau merasa kurang nyaman dengan Junsu, dia memang begitu, terkadang ceria tapi terkadang emosinya bisa tidak terkontrol"

"Gwaenchana, Suie sepertinya namja yang baik dan menyenangkan"

"Mian kalau dia agak manja dan suka se-enaknya sendiri"

"Dia pasti anak tunggal, karena itu Junsu sangat dimanja orang tuanya, begitu kan?"

Yunho menatap doe indah Jaejoong, haruskah dia menceritakannya?

"Junsu...dia sudah tidak memiliki orang tua, keduanya meninggal 3 tahun lalu"

"Omo, m-mianhe aku tidak bermaksud untuk"

"Tidak apa-apa, lagipula Junsu sudah bisa menerimanya, dia sudah kembali menjadi Kim Junsu yang ku kenal"

"Kau, sangat dekat dengan Junsu"

"Hum, dia sudah seperti adiku sendiri, awalnya Appa meminta Junsu untuk tinggal bersama kami, tapi dia menolak dia merasa bahwa rumahnya adalah rumah tempat bersama Umma dan Appanya, dan ia harus menjaga itu"

"Keunde, orang tua Junsu meninggal karena apa?"

"Apa kau sungguh ingin tahu?"

"Uhm! Ah maksudku, aku kan sudah berteman dengan Junsu aku takut aku salah bicara nantinya dan membuat Suie sedih, mian aku tidak bermaksud lancang"

Yunho tersenyum, entah sudah ke-berapa kali ia tersenyum karena namja cantik itu sejak kemarin, posisinya sebagai pemimpin kelompok mafia ternama di Asia membuatnya jarang tersenyum.

"Kecelakaan mobil, orang tua Junsu meninggal akibat kecelakaan mobil. menurut Appa itu bukan kecelakaan murni dan setelah diselidiki benar saja, mobil Kim ahjumma dan ahjussi sudah dimodifikasi sampai remnya blong hingga menabrak pembatas pagar dan masuk ke jurang"

"Oh Tuhan, benarkah?" wajah Jaejoong berubah sendu.

"Ia sempat mengalami shock, tidak melakukan apapun dan hanya diam dikamar selama satu bulan, sebulan kemudian pembunuhnya ditemukan dan ternyata dia adalah orang kepercayaan keluarga Kim yang menaruh dendam pada Kim ahjussi, kami ingin membalaskan dendam untuknya tapi Junsu malah menyerahkan penjahat itu pada polisi, dia berfikir kalau dia melakukan hal yang sama maka dia tidak ada bedanya dengan penjahat itu"

"Jeongmal? Junsu mengampuni mereka semua?"

"Itulah Junsu kami, ia memiliki hati seluas lautan yang tidak pernah menaruh dendam atau benci pada siapapun, karena itu kami semua menyayanginya"

"Aku kagum padanya, mungkin kalau itu terjadi padaku aku tidak akan begitu saja menyerahkan mereka ke polisi, aku akan menghajar mereka satu persatu!"

"Benarkah? Kau mau menghajar pakai jurus apa lagi hum?" goda Yunho.

"Y-Yah, jangan tertawa! Aku namja tentu saja aku bisa sedikit ilmu bela diri"

"Ahahahaha kau benar-benar menarik Joongie, mungkin aku tidak akan pernah tua kalau kau berada disini terus"

"Waeo?"

"Karena aku selalu tertawa jika bersamamu"

Pipi namja berambut hitam legam itu kembali memanas, wait kenapa jadi begini? Kenapa dia justru malu pada orang yang berniat membunuhnya? Ok ini salah Jaejoong, ini salah. Ucapnya dalam hati.

"Sajangnim, gawat!"

Lee Donghae, asisten pribadi Yunho tergesa-gesa menemui pemimpinnya yang sedang asik mengobrol dengan si tawanan cantik.

"Ada apa?" suara Yunho terdengar tegas, beda sekali jika ia sedang berbicara dengan Jaejoong atau Junsu.

Namja tampan bertubuh pendek itu membisikan sesuatu ke telinga Yunho, tubuh Yunho menegang seketika. Jaejoong yang melihat adegan itu merasa ada yang tidak beres, sesuatu pasti telah terjadi.

"Kita pergi"

"K-Kau mau kemana?" tanya Jaejoong.

"Kau jangan kemana-mana kalau kau butuh baju minta saja pada Woori, aku harus pergi"

Setelah itu Yunho melangkah pergi di dampingi Donghae meninggalkan Jaejoong yang masih diam di ruang makan. Ia menyender pada bangkunya, bingung harus mengerjakan apa, jujur ia merasa takut karena tidak ada Yunho, bagaimana jika nanti ada yang meracuninya atau tiba-tiba menembaknya? Atau yang lebih parah ada yang menculik dan mencicang tubuhnya? Jaejoong menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran-pikiran aneh itu dari otaknya.

Daripada ketakutan tidak jelas lebih baik ia menuju kamarnya, dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar, namun langkahnya terhenti ketika mendapati sebuah foto dengan bingkai yang besar tergantung di ruang keluarga.

"Hmmmm ini pasti foto keluarga Yunho, apa ini Appa Jung? Aigoooo Jung Eomma sangat cantik, chakkaman siapa yeoja ini? Cantik sekali, apa dia kekasih Yunho? Atau mungkin istrinya? OMO! Kim Jaejoong apa yang kau pikirkan! Memangnya kalau dia sudah menikah kenapa? pabo pabo" gumam Jajeoong sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

Ia melangkahkan lagi kaki jenjangnya, namun ia baru tersadar sesuatu.

"APPA! Aku bisa menelpon Appa, dirumah ini pasti ada telepon kan?"

Jaejoong mencari-cari seisi rumah dan hasilnya? Nihil. Ia bahkan sudah coba meminjam dari beberapa orang yang ada dirumah itu, tapi tidak ada satu orang-pun yang mau meminjamkannya, Yunho sudah memperhitungkan hal ini karena itu ia memerintahkan tidak membolehkan ada yang meminjamkan Jaejoong telepon.

"Hiksss eottoke? Bagaimana caranya aku pulang kalau begini? Hiksss Appa"

_BETWEEN HEAVEN AND HELL_

Sudah hampir sepuluh hari Jaejoong meninggalkan rumah dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya, polisi sudah berusaha mencari namun tidak ada yang tahu dimana putera tunggal Hankyung itu berada. juga seperti sudah putus asa akan keberadaan Jaejoong, ia bahkan mengira bahwa Jaejoong sudah tewas terbunuh, karena pikirannya yang kacau membuat kondisi tubuhnya melemah dan jatuh sakit.

Berbeda dengan sang Appa yang sakit, si tawanan cantik kita justru menikmati tinggal dirumah Yunho, ia mengajari Junsu bermain piano, ia juga memasak untuk kedua sepupu itu, bahkan membantu Yunho memecahkan masalah di perusahaan. Mereka sudah akrab satu sama lain dan Yunho lupa akan tujuannya kenapa ia menculik Jaejoong, ia terpesona oleh keindahan yang terus saja namja cantik itu berikan, rasanya ia ingin Jaejoong selalu berada di dekatnya.

Sore hari begitu gelap, langit mendung seperti akan turun hujan, Jaejoong berada dikamar dan duduk dipinggir jendela sambil menatap langit, wajahnya terlihat sendu seperti sedang memikirkan sesuatu.

TOK TOK TOK!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jaejoong "Nugu" tanya Jaejoong tanpa beranjak dari tempatnya.

"Yunho"

"Masuklah Yun"

Yunho membuka pintu kamar dan melihat Jaejoong yang nampak murung, ia berjalan mendekati namja cantik itu.

"Kau kenapa? Wajahmu jelek kalau sedih begitu"

Jaejoong tersenyum, ia menoleh kearah Yunho tapi kemudian kembali menatap hamparan rumput hijau yang luas dan basah karena tetesan hujan.

"Aniyo, aku hanya merindukan Appaku, sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya, Appa pasti sangat mencemaskanku"

Air muka Yunho mendadak murung, ia sadar bahwa Jaejoong sangat merindukan Appanya, terlalu senang dengan keberadaan Jaejoong di sisinya membuat ia lupa bahwa namja Kim itu memiliki keluarga.

"Appa, terkadang susah minum obat dan vitamin yang diberikan dokter, ia tidak akan mau meminumnya kalau bukan aku yang memaksa, semoga Vic ahjumma bisa membujuk Appa untuk minum obat, kalau tidak jantung Appa bisa kambuh kapan saja"

Yunho masih diam sambil menatap Jaejoong, ia tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi dimana ia harus membiarkan Jaejoong pergi, meski ada rasa tidak rela karena ia ingin Jaejoong terus bersamanya. Kim Jaejoong telah mengambil tempat khusus dihatinya, dia membutuhkan Jaejoong, seolah Jaejoong adalah oksigen baginya untuk bernafas.

"Kau ingin pulang Joongie?"

Jaejoong beralih menatap Yunho, dia tidak menyangka bahwa namja berbibir hati itu akan menanyakan pertanyaan yang Jaejoong harapkan sejak ia pertama kali datang kerumah Yunho.

Jaejoong mengangguk lemah seolah anggukannya itu akan melukai Yunho.

"Baiklah, kau boleh pulang besok"

Mata Jaejoong berbinar, pancaran cahaya yang datang dari doe indah yang sempat redup itu kembali bersinar.

"B-benarkah itu Yun? Aku diperbolehkan pulang? Jeongmal?"

"Hum, tentu saja" jawab Yunho, ia memaksakan diri untuk tersenyum

"Gomawo Yun jeongmal gomawo, aku janji tidak akan menceritakan apapun tentang keberadaanmu, aku juga janji akan sering kesini untuk mengunjungimu dan Junsu"

"Andwe, setelah kau pergi kau tidak akan bisa bertemu denganku lagi atau Junsu"

"W-waeo?"

"Setelah kau kembali kerumahmu aku yakin penjagaanmu akan jauh lebih ketat dari sebelumnya, mereka akan mengikuti kemanapun kau pergi Joongie"

"Shiruh! Aku masih ingin bertemu denganmu dan Junsu, kau percaya padaku kan? Aku akan kembali kesini, kau jangan khawatir Yun aku tidak akan memberitahukan apapun tentang keberadaanmu"

"Tidak kau tidak perlu kembali kesini, akan terlalu berbahaya untukmu, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, setelah ini kita akan berpisah dan tidak saling bertemu lagi, kau harus menjaga dirimu baik-baik"

"ANDWE! Aku pasti akan bertemu denganmu lagi Yun! Aku akan mencarimu meski kau menghilang dari pandanganku, aku tidak ingin berpisah denganmu Yun tidak mau!"

Mata indah Jaejoong mulai berkaca-kaca, tiba-tiba ia menarik Yunho kedalam pelukannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya Jaejoong sudah jatuh hati pada namja yang telah menculiknya itu, tak ada keraguan sedikitpun bahwa ia mencintai Yunho. Meski ia tahu, dirinya dan Yunho berasal dari 'dunia' yang berbeda.

"Jangan menangis, hatiku sakit melihat kau menangis" ucap Yunho sambil membalas pelukan namja cantiknya.

"Kalau begitu jangan ucapkan kata perpisahan, kita pasti bisa bertemu lagi aku yakin! Daripada ucapkan selamat tinggal lebih baik ucapkan sampai jumpa"

"Arra arra, sampai jumpa lagi Kim Jaejoong, kka berhentilah menangis" Yunho melepas pelukan Jaejoong dan mengusap lembut jejak air mata di pipi kemerahan si cantik Kim.

"Sekarang tersenyumlah" pinta Yunho.

Jaejoong tersenyum sangat indah, membuat siapapun terpesona olehnya, bibir merah mungil itu melengkung rapih membuat otak Yunho bekerja untuk menyimpan senyuman itu, senyuman yang Yunho yakini tidak akan bisa ia lihat lagi.

"Kajja kita makan, Junsu sudah menunggu sejak tadi"

"Uhm!"

Setelah makan malam Jaejoong dan Yunho sudah berada dikamarnya masing-masing, keduanya tidak bisa tidur, Jaejoong tidak bisa tidur karena senang besok akan pulang dan bertemu Appanya sedang Yunho gelisah karena memikirkan bahwa dia tidak akan bisa lagi bertemu Jaejoong, meski Jaejoong selalu berkata pasti bisa bertemu, entahlah dia merasa tidak yakin.

"Pasti sudah tidur" gumam Yunho yang kini sudah berada di depan kamar Jaejoong.

CKLEK~

Yunho terkejut ketika pintu kamar itu terbuka dan mendapati Jaejoong disana yang juga sama seperti dirinya, belum tertidur.

"Yunho? Kau sedang apa?"

"J-Joongie?"

"Apa kau tidak bisa tidur? Aku juga, aku terlalu senang karena memikirkan besok akan pulang hehehe, aku pikir segelas susu coklat hangat akan bisa membuat mataku terpejam, kau mau?"

"Tidak, kau saja"

"Hum, baiklah aku akan membuat susu coklat dulu"

"Joongie"

"Hum?"

"Kita, benarkah akan bisa bertemu lagi?"

"Aish sudah kukatakan kita pasti bisa bertemu lagi, aku kan sudah berjanji padamu, Kka mana jarimu?"

Jajeoong mengambil tangan Yunho dan mengaitkan kelingking mereka.

"Dengar, aku Kim Jaejoong berjanji akan sering mengunjungi Jung Yunho sampai ia bosan, kalaupun ia bosan aku akan tetap menemuinya"

Yunho tertawa kecil, tawanan cantiknya ini selalu bisa membuat moodnya kembali baik.

"Yun, apa nanti kau akan bosan padaku?"

"Hummm mungkin"

"YAH!"

"Ahahahah pabo, mana mungkin aku bisa bosan berada di dekatmu"

"Jinjja?"

"Kau tidak percaya padaku?"

"Hehehe neeee aku percaya padamu"

Jaejoong tertawa senang, hatinya berbunga-bunga sekarang. Yunho tertegun menatap wajah indah itu, ia seperti terhipnotis sehingga tanpa sadar ia merapatkan Jaejoong kedinding membuat namja berpinggang ramping itu terkejut, kedua tangan Yunho berada di sisi kanan dan kiri tubuh Jaejoong, mengunci pergerakan Jaejoong.

"Jangan terlalu sering tertawa seperti tadi Jaejoongie"

"W-wae?" gugup Jajeoong karena wajahnya dan wajah Yunho hanya berjarak beberapa centi saja.

"Aku tidak mau ada yang menikmati keindahan tawa itu selain aku, bisakah kau berikan senyum itu untuku saja?"

Mata doe itu berkedip cepat, menambah kadar keimutan seorang Kim Jaejoong. Oh Tuhan, formula apa yang kau berikan pada namja ini? kenapa dia begitu sempurna? pikir namja Jung itu.

DAG DIG DUG

Seperti itulah bunyi degup jantung Kim Jaejoong sekarang. Berdetak tak beraturan.

"Joongie, ada yang ingin kukatakan padamu sebelum terlambat"

Jaejoong diam, sepertinya ia tahu si tampan Jung itu akan mengatakan apa, jadi ia memilih menunggu kalimat sakral yang akan diucapkan Yunho.

"A-aku"

Jaejoong kini mengigit bibir bawahnya, ia sungguh tidak sabar menunggu kalimat 'aku menyukaimu Jaejoong', dalam hati ia terus bergumam, lakukan Yunho, katakan Yunho.

"A-aku"

"N-ne?"

Yunho menatap kedua mata indah Jaejoong lekat.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur, bye"

"E-eh?"

Yunho menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong dan berjalan cepat kembali ke-kamarnya. Demi Tuhan, jantungnya tidak bisa diajak kerjasama, Yunho seorang pemimpin mafia terkuat di Asia, berani, tangguh dan tidak pernah mengenal kata mundur, tapi hari ini? Damn! Dia 'dikalahkan' oleh seorang bocah cantik yang membuat pertahanannya lemah.

"Yunnie pabo!"

BRAK~

Jaejoong menutup pintu kencang membuat Yunho yang sudah berada didalam kamarnya tersenyum, ia tahu bahwa Jaejoong menginginkan dirinya untuk menyatakan cinta, tapi tidak sekarang. Ia tidak ingin membawa Jaejoong ke dunia hitam, ia tidak ingin mencelakakan Jaejoong karena dunia mereka berbeda, Jaejoong akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik bukan penjahat seperti dirinya.

"Selamat malam Jaejoongie"

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali namja cantik itu sudah bangun, seperti biasa ia menyiapkan sarapan untuk Yunho dan Junsu, setelahnya Jaejoong bersiap untuk pulang. Di depan mobil yang akan mengantarnya, ia sibuk menenangkan Junsu yang menangis dan merajuk agar Jaejoong tidak pergi.

"Ssssshhh jangan menangis Su, aku berjanji akan kembali kesini lagi secepatnya"

"Keunde kenapa Joongie tidak tinggal disini saja eoh? Apa Junsu dan Yunho hyung tidak baik sama Joongie sampai Joongie harus pulang?"

"Aku harus pulang Su, Appa menunggu dirumah sudah lama aku tidak bertemu dengannya, tapi aku berjanji saat aku kembali aku akan membawakan buku-buku musiku dan bisa kau pelajari nanti"

"Joongie janji ne, jangan ingkar!"

"Ne aku janji, sudah jangan menangis lagi"

"Jaejoong~ah, kita berangkat sekarang?" tanya Hyukjae yang sudah siap dibangku kemudinya.

"Hum, Hyukjae hyung Yunho eoddie?"

"Sajangnim sudah berangkat pagi-pagi sekali, ada masalah di kantor cabang Gwangju jadi ia harus segera kesana"

"Ah begitu?" Jaejoong mendesah kecewa.

"Kajja kita pergi sekarang?"

"Hum, Su aku pergi ne aku titip Yunho, kadang ia suka lupa makan kau tahu kan lambungnya kurang baik"

"Neee kau tenang saja, Yunho hyung akan kupaksa makan kalau ia menolak"

"Bye Suie"

"Bye Joongie, kembali lagi kesini neeeeee"

Dengan diantar Hyukjae, Jaejoong meninggalkan rumah Yunho, ia menoleh kebelakang dan melihat Junsu yang masih melambaikan tangannya, ia juga memperhatikan rumah Jung dengan seksama, rumah yang awalnya sangat ia takuti namun sekarang justru akan ia rindukan.

"Sampai jumpa Yunnie"

Tanpa diketahui Jaejoong sebenarnya Yunho masih berada dirumah, dari kamarnya dibalik tirai jendela, Yunho bisa melihat mobil yang membawa Jaejoong mulai menjauh dan hilang dari pandangannya, ia bukannya tidak ingin menemui Jaejoong tapi dia hanya ingin menyiapkan diri, agar kelak dia akan terbiasa hidup tanpa namja cantik itu disisinya.

"Selamat tinggal Jaejoongie"

TBC

Kemunculan Changmin ditunggu yaaaaa, seperti biasa dia bakalan jd babynya YUNJAE, lha emang magnae setan itu pan ANAK YUNJAE, aneh aja kl ada yg berpikir Changmin bini Yunho #smirkbarengKyu