BETWEEN HEAVEN AND HELL
.
ost. by BoA - Between Heaven and Hell
.
Hepi reading aja muah #sundulsayang
.
.
Sembilan puluh lima menit berlalu, BMW seri 8 berwarna metalik itu berhenti di tikungan yang hampir sampai ke kediaman Kim. Hyukjae tidak mengantar Jaejoong sampai kerumah karena terlalu beresiko, dirumah Jaejoong pasti akan banyak polisi yang berjaga. Setelah mengucapkan salam pada Hyukjae, Jaejoong berlari kecil untuk sampai kerumah hingga tak sampai 10 menit ia sudah berada di depan rumah mewahnya, namja cantik itu membuka pintu gerbang dengan tergesa-gesa, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Appa Kim yang sangat ia rindukan.
"Appa, Joongie pulang Appa" panggilnya saat sudah berada didalam rumah, ia terkejut karena begitu banyak polisi didalam.
"Tuan muda Jaejoong?!" seru Victoria, ia segera menuruni tangga untuk memeluk majikan mudanya itu.
"Vic ahjumaaaa, hikss Joongie rindu sama ahjumma"
"Tuan muda, anda anda sudah kembali? Benarkah ini anda?"
"Neee ini Joongie ahjumma, Appa dimana?"
"Tuan besar ada dikamar, kajja ia pasti senang melihat anda sudah kembali"
Pelayan cantik itu menarik Jaejoong menuju kamar Hankyung.
"Appa" panggil Jaejoong saat ia menemukan Hankyung terbaring dikamar lengkap dengan selang infus di tangannya.
"J-Joongie? Kaukah itu? J-Joongie Appa" tanya Hankyung lemah.
"Ne Appa, Joongie sudah pulang Appa, hikssss Joongie rindu sekali sama Appa, mianhe Joongie membuat Appa cemas hikssss" isak si cantik.
Hankyung yang seolah energinya sudah kembali kemudian mendudukan tubuhnya dan memeluk Jaejoong, menciumi Jaejoong dan memastikan bahwa ini bukanlah mimpi, bahwa yang dilihatnya adalah nyata putera kesayangannya telah kembali. Kedua anak dan Appa itu saling berpelukan, melepas rindu karena lama tak bertemu
Sebulan sudah Jaejoong kembali kerumahnya, aktifitasnya juga sudah kembali normal, ia sudah mulai bersekolah lagi meskipun dengan penjagaan yang lebih ketat. Kedua polisi Siwon dan Ahra masih terus berusaha menanyakan informasi tentang Yunho, namun lagi-lagi Jaejoong tidak menjawab, selalu saja ada alasan jika ditanyai mengenai Yunho, kalau tidak pura-pura sakit ia akan beralasan besok ada ulangan atau ingin ke kamar mandi, Jaejoong berusaha mengalihkan pembicaraan.
Minggu depan adalah ulang tahun Jaejoong, Hankyung sudah menyiapkan pesta besar untuk puteranya itu, dan Jaejoong ingin mengundang Yuho agar di hari istimewanya itu orang yang paling spesial dihatinya turut hadir. Tapi bagaimana caranya? kalau Yunho datang, pasti polisi-polisi itu akan langsung menangkapnya.
"Yah, kau kenapa huh? Daritadi diam saja" tanya Yuchun yang melihat Jaejoong hanya mengaduk aduk ramyunnya.
"Nothing, aku hanya bosan"
"Bosan? Tidak biasanya kau bosan? Btw akhir-akhir ini aku lihat kau sering sekali melamun ada apa Joongie?"
"Hffffffttt, aku merindukan seseorang Chunnie"
"Aigooo kau sudah punya seseorang yang kau rindukan sekarang eoh? Dan kau tidak menceritakannya padaku, menyebalkan!"
"Aku tidak tahu menyebutnya apa, aku menyukainya dan sepertinya dia juga menyukaiku, yang aku tahu sekarang aku sangat sangat ingin bertemu dengannya"
"Kalau mau bertemu ya bertemu saja" cuek Yoochun sambil menyuapkan ramyun kemulutnya.
"Apa kau mau menemaniku bertemu dengannya?"
"Wae? Kenapa harus aku? Pengawalmu kan banyak minta antar saja sama mereka"
"Aish tidak bisa, kalau aku ketahuan menemuinya akan berbahaya, ayolah Chunnie aku mohon bantu aku, aku sampai gila karena merindukannya"
"Chakkam, berbahaya? Maksudmu?" tanya Yoochun penasaran sambil menenggak lemon tea-nya.
"Tentu saja berbahaya, orang yang ingin aku temui kan Yunho"
BUAAAARRR~
Yuchun memuncratkan ice lemon itu tepat kearah Jaejoong, tapi sepertinya namja cantik itu memiliki refleks yang bagus sehingga ia bisa menghindar.
"KAU MAU BERTEMU PENJAHAT ITU?!"
Jaejoong segera menutup mulut sepupu tampannya, ia takut pengawal yang tak jauh darinya itu mendengar.
"Aish jangan keras-keras!"
Yuchun berontak dia menyingkirkan tangan Jaejoong.
"Kau gila Kim Jaejoong! Bagaimana bisa kau merindukan orang yang ingin membunuhmu! Kau sudah tidak waras"
"Dia tidak sejahat yang kau kira, kalau kau sudah mengenalnya kau juga pasti akan mengaguminya"
"Mengagumi penjahat? Kurasa tidak Kim"
"Ayolah Chunnie temani aku, aku tidak mungkin pergi sendiri karena mereka pasti akan mengikutiku" rengek Jaejoong
"Shiruh! Aku masih ingin menikah punya anak dan hidup bahagia, aku masih belum ingin mati Jae"
"Siapa yang menyuruhmu mati?"
"Aigoooooo kau ini polos atau pabo huh? Dengar, kalau aku mengantarmu kesana keberadaan aku sebagai Park Yuchun bisa tidak aman, mereka mengira aku akan membocorkan rahasia kediaman mereka, lalu nanti mereka akan menculik dan membunuhku agar aku tidak membeberkan keberadaan mereka pada polisi, kalau sudah begitu bagaimana? Apa kau mau bertanggung jawab?"
"Kau berlebihan Yuchun~ah -_-"
"Ck, jangan menatapku seperti itu, sudahlah aku tidak mau dan kau juga jangan kembali kesana demi keselamatanmu baby J?"
"Chunnie jahat tidak mau membantuku! Padahal Yunho punya adik sepupu yang manis, tadinya kalau Chunie mau mengantarku akan aku kenalkan pada Suie"
Mata bulat Yuchun mendelik, sepertinya ia mendengar kata manis tadi.
"Adik sepupu? Apa benar sangat manis?" tanya Yuchun yang sudah mulai tergoda, radar plaboynya menangkap sinyal-sinyal keberadaan seseorang yang cantik jelita, pikir Yuchun.
"Suie sangat manis, kau tahu kulitnya putih, lembuuutttt sekali dan yang paling penting dia memiliki butt yang seksiiii~"
"Tapi, tetap saja dia kan adik Yunho, sama-sama mafia"
"Ish kau tidak percaya padaku huh? Ok kalau tidak mau, jangan menyesal ne"
"Ya ya, aish kau ini tahu saja kelemahanku, eung apa benar dia se-seksi yang kau bilang tadi?"
Jaejoong mengangguk semangat, dia sangat tahu kelemahan sepupu tampannya itu, tidak akan pernah kuat mendengar kata seksi.
"Jadi bagaimana? Kau mau menemaniku?" tanya Jaejoong memastikan
"Baiklah baiklah, aku akan menemanimu"
"Jinjja? Kyaaaaaaaaaaaa gomawo Yuchunnie"
Setelah memberikan alasan yang dirasa cukup masuk akal dan berusaha meyakinkan polisi yang menjaganya agar tidak mengikuti mereka, Jaejoong dan Yuchun segera meluncur menuju kediaman Yunho dengan menggunakan mobil Yuchun, mereka menyusuri hutan dan beberapa desa dengan jalan yang berkelok-kelok.
"Aigoooo sepertinya aku tahu dimana tempat syuting film Twilight, pasti di daerah sini, lihat saja dari tadi yang aku lihat hanya pohon jalan berbelok dan disampingku ada jurang, Joongie kau berpacaran dengan vampire huh?"
"Jangan cerewet, kau berkonsentrasi menyetir saja, seingatku sih memang ini jalannya, aku mencoba mengingat-ingat jalan saat aku diantar pulang supaya nanti saat ingin bertemu Yunho, aku hapal jalannya hehehe"
"Ish teliti sekali, Yah ini belok kiri atau kanan?"
"Kanan! Eh kiri kiri"
Setelah melewati rintangan dan hampir tersasar mereka akhirnya sampai juga kerumah Yunho, mobil Yuchun terparkir digerbang depan menunggu seseorang untuk membukakan pintu yang terbuat dari besi berwarna hitam itu, tak lama kemudian muncul dua orang penjaga yang menghampiri mobil Yuchun.
"Omo omo mereka mau membunuh kita Jae, omo"
"Jangan berlebihan" sahut Jaejoong sambil membuka kaca jendela mobil.
"Jaejoong~ah?" tanya kedua orang itu serempak.
"Anyeong apa kabar?" jawab Jaejoong ramah.
"Jaejoong~ah? Omo kau kembali eoh? kenapa baru kesini lagi? Kami semua merindukanmu"
"Hehehe mianhe aku baru sempat kesini tugas sekolahku menggunung, ah apa Yunho ada?"
"Ne sajangnim ada didalam, tapi siapa pria itu?"
"Dia Yuchun sepupuku, kalian tenang saja dia bisa dipercaya"
"Baiklah silahkan masuk"
Pintu gerbang itu terbuka dan membiarkan Ferari hitam Yuchun masuk, ia kemudian memarkirkan mobilnya dan ikut turun bersama Jaejoong yang sudah tidak sabar ingin bertemu Yunho. Namun sebelum Jaejoong melangkah masuk kedalam rumah, ia mendengar suara tawa khas Junsu dari taman belakang, ia berpikir pasti Yunho ada disana, Jaejoong berlari menuju taman belakang.
"Kim Jaejoong kau mau kemana? Aish bisakah kau tidak berlari? YAH! Apa kau lupa kalau sepupumu ini memiliki penyakit asma!"
Jaejoong yang sudah tidak sabar ingin bertemu Yunho tidak mempedulikan teriakan Yuchun. Suara Junsu semakin terdengar itu berarti mereka tidak jauh dari taman.
"Hyung bolanya ditendang kesini bukan kesamping" tawa Junsu meledak karena Yunho tidak bisa menendang bola operan dari Junsu ke gawang.
"Suie~ah sudah ya aku capek, kau lanjutkan dengan Donghae atau Hyukjae saja"
"Shiruh! Aku sudah sering bermain dengan mereka, hyung Ppali tendang bolanya kesini Ppaliwa"
Yunho yang hanya bisa pasrah akhirnya memilih menendang bola berwarna hitam putih itu kearah samping, dimana bola itu menuju dari arah Jaejoong datang.
"Ah" pekik Jaejoong saat bola bundar itu mengenai dahi mulusnya.
"Omo! Joongie kaukah itu?"
"Anyeong Su" sapa namja cantik itu ramah sambil mengelus dahi putih mulusnya yang sedikit memerah.
"KYAAAAAAAAAAAA JOONGIEEEE, Uri Joongie kembaliiii"
Junsu berlari memeluk Jaejoong, kedua namja manis bermarga Kim itu saling berpelukan erat, satu bulan tak berkomunikasi tentu saja membuat mereka saling merindukan. Yunho yang baru menyadari bahwa itu benar-benar Jaejoong tersenyum penuh arti melihat pujaan hatinya kini benar-benar berada di hadapannya.
"Yunnie" panggil Jaejoong setelah melepas pelukan Junsu.
"Kau kembali?"
"Sudah kubilang kan kalau kita pasti bisa bertemu lagi, mianhe aku baru bisa kesini"
"Welcome home Jaejoongie"
Jantung yang sudah lama tidak berdetak kencang kini kembali berdetak tidak beraturan, suara Yunho, senyum Yunho, pujian Yunho untuknya selalu berhasil membuat Jaejoong tersipu dan menggetarkan hatinya. Dan ia, selalu suka perasaan seperti ini.
"SIAPA KAU? ANGKAT TANGANMU?"
Donghae dan Hyukjae terkejut melihat kedatangan orang yang tidak mereka kenal, reaksi mereka begitu cepat sehingga langsung menodongkan senjata kearah Yuchun yang sedang kelelahan karena mengejar Jaejoong.
"M-mwo? A-aku?" dengan dua senjata yang ditodingkan kearahnya sontak membuat Yuchun gugup sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Donghae~ah Hyukjae~ah dia sepupuku, dia datang kesini bersamaku tanpa bantuannya aku tidak akan bisa kesini"
Donghae dan Hyukjae melirik Yunho untuk meminta persetujuan sang bos, Yunho mengangguk dan mereka berdua menurunkan senjatanya.
"Chunnie~ah kemari aku perkenalkan, ini Jung Yunho dan ini Kim Junsu"
"Joongie, dia siapa?" tanya Junsu penasaran.
"Dia sepupuku Su namanya Park Yuchun, dia yang menemaniku kesini"
Junsu berjalan mendekati Yuchun yang masih shock, siapa yang tidak shock jika disodori dua senjata api seperti tadi. Junsu memandangi Yuchun dengan tatapan polosnya sambil sesekali mengerjapkan mata.
"Kau namja yang sangat tampan, aku pikir di dunia ini tidak ada yang setampan Yunho hyung, eukyangkyang! Anyeong nae Kim Junsu imnida"
Yuchun tidak merespon sapaannya, Junsu mempoutkan bibirnya lucu.
"Anyeooongg nae K.I.M J.U.N.S.U imnidaaaaa" kini ia mengeraskan suaranya, berharap mendapat respon dari si tampan Park.
"YAH! NAMAKU KIM JUNSUUUUUUUU"
Diteriaki oleh lumba-lumba imut membuat Yuchun terbangun dari shocknya,mata bulatnya kini berhadapan langsung dengan mata bulan sabit Junsu.
"K-Kau siapa?"
"Hehehe wajahmu lucu sekali, aku Kim Junsu adik sepupu Yunho hyung"
"J-jadi kau yang bernama Kim Junsu?"
"Uhm! Aku Kim Junsu, waeo?"
"A-ani" Yuchun mendadak gugup, ternyata Jaejoong benar Junsu memang sangat manis, meski sedikit berisik.
"Yunnie, ini Yuchun yang sering kuceritakan padamu, dia sepupu merangkap sahabatku Yunnie~ya"
"Hi, aku Yunho akhirnya aku bertemu denganmu juga"
"A-Anyeong Park Yuchun imnida" Yuchun membungkuk hormat, jujur ia masih merasa takut dengan Yunho.
"Yaiiyyy temanku bertambah satu lagi, Chunnie kajja kita bermain bola" Junsu menarik tangan Yuchun tanpa permisi menuju lapangan.
"B-bola? A-aku tidak bisa bermain bola, aku tidak suka berkeringat, Ya jangan menarik-narik tanganku"
"Ppaliwa temani aku main bola"
Yuchun yang dipaksa bermain bola pasrah ditarik Junsu, sedang pasangan YUNJAE memilih berjalan-jalan di taman mengintari rumah Yunho.
"Sudah lama kita berjalan-jalan seperti ne? Aku selalu merindukan hari ini"
"Aku tidak pernah menyangka kita bisa bertemu lagi Joongie, kau sungguh menepati janjimu"
"Aku bukan orang yang tidak menepati janji Yun, kalau aku bilang iya pasti iya, btw kau sepertinya sudah tidak terlambat makan lagi, perutmu jadi gendut begini eoh? Ish mirip beruang"
"Ahahaha beruang yang tampan hum? Kau sendiri bagaimana?"
"Hum? Yah beginilah, setelah kembali dari rumahmu waktu itu, polisi-polisi selalu menanyakan informasi tentang dirimu, keunde kau tenang saja Yunnie aku tidak pernah memberikan informasi apapun tentangmu"
"Aku percaya padamu Joongie, aku tahu kau tidak akan mengatakan apapun"
"Hehehe tentu saja aku akan melindungimu semampuku, oh iya Yunnie eung apa kau merindukanku?"
"Apa kau merindukan aku?"
"Ish kenapa bertanya balik" pout Jaejoong lucu.
"Kalau kau merindukan aku tandanya aku juga merindukanmu Jaejoongie"
Kalimat Yunho membuat senyum Jaejoong semakin terkembang, darahnya berdesir hangat.
"Benarkah? Aku sangat sangat sangat merindukan Yunnie setiap hari, ah ani tapi setiap detik, lalu apa Yunnie juga merindukan aku sebanyak itu?"
"Kalau ada hitungan waktu yang lebih kecil dari detik maka sebanyak itulah aku merindukanmu"
Wajah itu semakin memerah seperti buah peach, ia tersenyum malu bercampur senang mendengar ucapan Yunho.
Keduanya menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan tertawa bersama melepas rindu yang selama ini tak tersampaikan, hingga tak terasa waktu begitu cepat bergulir hari mulai gelap dan itu mengharuskan Jaejoong untuk pulang meski Jaejoong sebenarnya tidak ingin pulang karena ia masih ingin bersama namja tampannya itu.
Jaejoong sudah berdiri disamping pintu mobil Yuchun.
"Yunnie~ah, lusa aku ulang tahun eung itu apakah kau bisa datang?" Jaejoong bertanya ragu.
Yunho terdiam, di posisinya seperti sekarang ia tidak bisa langsung menjawab.
"Ah mianhe harusnya aku tahu Yunnie tidak akan bisa datang, terlalu berbahaya jika Yunnie disana aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu"
"Kau mau aku datang?"
"Aku sangat ingin tapi" Jaejoong menggantungkan kalimatnya.
"Baiklah aku akan datang"
"M-Mwo? Jeongmal? T-Tidak perlu Yun, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu"
"Aku akan datang Joongie, aku janji"
"Yunnie~ya"
"Jangan memikirkan yang aneh-aneh, kalau kubilang datang aku pasti akan datang, Kka pulanglah ini sudah malam"
"Uhm! Arraso, gomawo Yunnie"
"Hati-hati dijalan, Yuchun~ah terima kasih sudah mengajak Junsu bermain maaf merepotkan-mu"
"Tidak apa-apa hyung aku juga senang bisa menemaninya, dia sangat menyenangkan, salam untuknya jika ia sudah bangun nanti"
Yunho mengangguk, karena terlalu lelah bermain membuat si manis Junsu tertidur dan ia tidak sempat berpamitan dengan Jaejoong dan Yuchun.
"Bye Yunnie"
"Bye Jaejoongie"
Ferari hitam Yuchun melaju menembus kegelapan malam meninggalkan kediaman Jung. Yunho masih setia memandangi mobil yang membawa kekasih hatinya, sampai tak terlihat lagi oleh mata ia kemudian berbalik menuju rumah.
"Sajangnim apa anda benar-benar akan datang?" tanya Donghae, asisten pribadinya itu sempat mendengar percakapan YUNJAE tadi.
Yunho menoleh kearah Donghae yang terlihat cemas, dia tersenyum dan menepuk pundak orang kepercayaanya itu.
"Mana bisa aku menolak keinginannya, kau tenanglah semua akan baik-baik saja"
"Tapi sajangnim itu seperti menyerahkan diri anda"
"Mereka tidak akan menangkapku, lagipula Siwon ada disana aku percaya padanya dan lagi kalau aku tidak datang aku akan mengecewakan Joongie, aku tidak mau melihatnya bersedih"
"Anda masih mempercayai Siwon~shi sajangnim? Setelah apa yang dilakukannya pada anda?"
"Bagaimana mungkin aku bisa membencinya setelah bersahabat denganya selama lebih dari 10 tahun Donghae~ah, lagipula dia adalah namja yang dicintai Sica adiku, sudahlah kau tidak usah cemas"
"Saya hanya mencemaskan anda sajangnim, ah sajangnim itu...apa anda benar-benar menyukai Jaejoong?
"Menurutmu?"
"Saya tidak pernah melihat anda tersenyum seperti saat anda bersama dengannya, dan kalau anda memang menyukainya saya selalu berharap yang terbaik untuk anda sajangnim"
"Aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan persaaanku Hae, doakan aku ne?"
"Hum tentu saja sajangnim"
"Kka kita masuk, ah bagaimana dengan laporan tentang GD dan TOP yang kuminta? Apa kau sudah mendapatkan informasi?"
"Sudah sajangnim, semua berkasnya ada di meja sajangnim"
"Arraso, aku akan memeriksanya, kali ini tidak akan kubiarkan mereka pergi" ucapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
_BETWEEN HEAVEN AND HELL_
Hari yang dinanti Kim Jaejoong tiba, sebuah pesta ulang tahun pewaris keluarga Kim kini genap berusia delapan belas tahun, usia yang cukup matang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dan Jaejoong meminta Appanya untuk mengadakan pesta di rumah saja tidak di hotel seperti biasa. Menggunakan kaos rajutan berwarna peach dengan celana panjang putih dipadu cardigan berwarna pink cerah membuat Jaejoong tampil sangat indah, sulit mendeskripsikan betapa cantiknya seorang Kim Jaejoong. Ia tidak berhenti tersenyum hari itu, hatinya berdebar menunggu seseorang yang teramat penting dalam hidupnya.
"Joongie sayang, sepertinya semua temanmu sudah datang, apa bisa kita mulai saja acaranya?" tanya Hankyung
"Aniyo Appa, masih ada satu lagi teman Joongie yang belum datang"
"Teman? Apa dia sangat istimewa sampai kau harus menunggu kedatangannya hum?" goda Hankyung.
"Hummmm bisa dibilang begitu Appa, dia teman Joongie yang sangat sangat istimewa"
"Aigoooo anak Appa sudah besar rupanya, baiklah kita akan menunggu pangeranmu itu"
"Aish Appa" rajuknya malu.
Jaejoong menunggu sambil tetap menyapa teman-teman sekolahnya yang sudah berdatangan, ia tidak ingin memulai acara tanpa Yunho. Beberapa polisi seperti Siwon dan Ahra serta kerabat dekat Kim juga datang, pesta ulang tahun Jaejoong benar-benar meriah dan mewah.
"Joongie, apa mungkin ia akan datang?" bisik Yuchun
"Aku yakin dia akan datang Yuchun~ah"
"Ini sudah lewat 30 menit dari waktu yang seharusnya Joongie, apa kau tidak mau memulai acaranya?"
"Dia pasti akan datang Chunnie, kita tunggu saja sebentar lagi" Jaejoong mulai cemas sekarang.
Hampir 60 menit berlalu, tamu-tamu mulai gelisah karena acara belum saja dimulai, Hankyung mencoba membujuk Jaejoong untuk memulai acara tapi tetap Jaejoong tidak ingin acara itu dimulai sebelum Yunho datang.
"Joongie~ah kita mulai saja ne? Kasihan teman-temanmu yang lain sudah menunggu sejak tadi, mungkin temanmu itu sedikit terlambat"
"Hajiman, arraso kita mulai saja acaranya" ucap Jaejoong sendu.
Saat lampu sudah dimatikan dan nyanyian selamat ulang tahun selesai dinyanyikan, kini saatnya namja cantik itu untuk meniup lilin dan membuat pengharapan.
"Hana dul set"
"Maaf saya terlambat" suara bass Yunho menghentikan Jaejoong untuk meniup lilinnya.
"Yunnie? YUNNIE!" Jaejoong berlari menghambur kepelukan Yunho, kedua matanya berkaca-kaca.
"Hi Joongie, mian aku terlambat"
"Gwaenchana Yunnie"
"Yunho?" sahut Siwon dan Ahra bersamaan, tangan mereka sudah berada di belakang kemeja bersiap untuk mengambil senjata.
"Hentikan! Tidak boleh ada yang menyakitinya dia adalah tamuku" sahut Jaejoong cepat ketika melihat kedua polisi itu bergerak.
"Tapi dia Yunho, Jung Yunho! Oh Tuhan Jaejoong bagaimana bisa kau" ucap Ahra tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Jangan kalian sentuh dia, berani kalian menyentuhnya kalian akan berhadapan denganku" Jaejoong menjadi tameng bagi Yunho.
Siwon dan polisi cantik itu sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Jaejoong, bagaimana bisa ia menjadi akrab bahkan sangat intim dengan orang yang berbahaya seperti Yunho.
"Jaejoongie, apa dia...Jung Yunho?" tanya Hankyung
"Ne Appa, dia Yunho orang yang pernah mencoba ingin membunuh Joongie, dia juga yang menculik Joongie waktu itu, tapi dia tidak sejahat yang Appa kira, dialah orang yang istimewa untuk Joongie Appa"
"Mwo? Joongie kau jangan main-main dia..."
"Mafia? Lalu apa seorang pemimpin mafia tidak boleh datang ke pesta ulang tahun? Lagipula dia disini sebagai Jung Yunho teman Joongie bukan sebagai Jung Yunho pemimpin mafia Jung yang sering kalian sebut jahat itu!"
"Kim sajangnim perkenalkan nama saya Jung Yunho dan saya adalah teman putera anda" ucap Yunho sopan sambil membungkuk.
"Berani sekali kau datang kesini setelah ingin mencoba membunuh anaku, Pergi! Kalian, tangkap dia!"
"BERHENTI! Kubilang tidak ada yang boleh menyakiti Yunho!"
Suasana pesta mendadak tegang, beberapa tamu hanya bisa terdiam menyaksikan perjuangan cinta seorang Kim Jaejoong, meski beberapa diantaranya sudah berhamburan keluar tak ingin terlibat masalah.
"Sepertinya aku sudah merusak pestamu Joongie, aku pulang saja kalau begitu"
"Kau tidak merusak pestaku Yunnie, mereka yang merusaknya!"
"Sudahlah tidak apa-apa aku sudah terbiasa seperti ini, ah ini hadiah untukmu"
Yunho memberikan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah dengan pita putih kecil diatasnya.
"I-Ini apa Yunnie~ya?"
"Hadiah untukmu semoga kau suka, saengil chukka hamnida Boojaejoongie"
Air mata haru menggenang di doe eyes Jaejoong, ia kemudian memeluk Yunho erat dengan kalimat ucapan terima kasih yang terus ia ucapkan.
"Gomawo Yunnie gomawo jeongmal"
"Ne, Aku harus pulang boo kehadiranku tidak membuat mereka nyaman, aku pulang dulu boo, bye"
CHUP~
Yunho mengecup kening Jaejoong yang tertutup poni, tidak hanya Jaejoong yang mendadak napasnya tertahan tapi juga orang-orang disekitarnya, mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu diantara Yunho dan Jaejoong. Terlebih Hankyung yang sangat marah putera kesayangannya dikecup oleh namja brengsek seperti Yunho. Yunho pergi meninggalkan pesta ulang tahun Jaejoong yang bisa dibilang gagal, ia berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkir.
"Yuuuuuuunnn"
Pergerakan tangan si tampan Jung terhenti saat ia mendengar suara halus memanggil namanya.
"Yunnie~"
"Boo? Kenapa kau kesini?"
"Aku ingin merayakan ulang tahunku bersama Yunnie"
"Eh? Tapi..."
"Aku kabur! Ppali kita pergi sebelum mereka menangkap kita Ppali Yun!"
"Keunde"
"Yunnie~" rajuk Jaejoong
"Aish kau ini, arraso arraso masuklah"
Secepat kilat Jaejoong masuk kedalam mobil Yunho dan secepat kilat pula Audy S6 Yunho melesat di jalanan malam Seoul yang masih ramai.
"Naeppeun Joongie, bagaimana bisa kau kabur dari pestamu sendiri hum?" tanya Yunho yang masih konsentrasi menyetir.
"Hehehe aku ingin bersama Yunnie malam ini, sekali-kali kabur tidak apa kan?"
Yunho tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, namja cantik yang berbeda delapan tahun dengannya itu sangat nakal aniya?
"Kka, kau mau kemana?"
"Huuumm kemana saja, asal bersama Yunnie seluruh tempat adalah surga"
"Aigoooooo uri Boojae sudah pintar menggombal hum sekarang?"
"Hanya padamu Jung Yunnie"
Hari ini entah sudah keberapa kalinya Yunho tersenyum, dihatinya tidak ia pedulikan akibat mengenai kefrontalan dirinya menampakan diri di depan polisi, ataupun pendapat Appa Jaejoong tentang reputasi buruk dirinya, yang ia pedulikan saat ini adalah perasaannya, perasaan yang nyaman saat ia berada di dekat namja cantik yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
Mobil Yunho melaju menuju sungai Han, rupanya salah satu dream date Jaejoong adalah membawa orang yang dicintainya itu untuk berkencan di pinggiran Sungai Han, menikmati indahnya malam dipinggir sungai Han yang gemerlap dengan lampu warna warni bersama orang yang dicinta sungguh sangat romantis. Mobil Yunho terpakir tepat dibawa jembatan di pinggir Sungai tercantik di Korea itu, keduanya berada didalam mobil tanpa berniat untuk turun.
"Yunnie ini apa?" tanya Jaejoong sambil memainkan kotak kecil yang dihadiahkan Yunho untuknya.
"Buka saja"
Dibukanya perlahan kotak beludru itu dan ia terkejut mendapati sebuah cincin sederhana berwarna silver dengan satu berlian kecil diatasnya.
"Y-Yunnie, ini"
Yunho mencabut cincin bermerk Cartier itu dari tempatnya dan meraih tangan kanan Jaejoong.
"Aku tahu ini kurang romantis karena aku tidak menyiapkan apapun untukmu selain cincin ini, tapi aku sudah menyiapkan hatiku untuk menyatakan bahwa aku...mencintaimu Kim Jaejoong"
Jaejoong mengedip-edipkan matanya cepat, sambungan koneksi otaknya masih ter-loading.
"Joongie~ah, maukah kau menjadi pacarku sebelum aku siap melamarmu untuk menjadikanmu pasanganku?"
Pacar? Pasangan? Wait apa maksud dari semua ini, otak Jaejoong mulai terkoneksi meski masih pentium satu.
"Joongie...Joongie kenapa kau diam?"
Mulai beranjak ke celeron.
"Joongie, Boojaejoongie"
"AKU MAU! M-maksudku aku mau Yunnie"
Loading finished.
Yunho tertawa kecil melihat reaksi namja yang kini resmi menjadi kekasihnya, ada perasaan lega saat ia menyatakan perasaannya, meski dihatinya ia mulai dilanda kecemasan mengenai hubungannya dengan Jaejoong kelak.
"Kukira kau akan menolaku boo"
"Eh? Kenapa aku harus menolakmu? Aku menyukaimu neomu neomu neomu joahyo"
"Hum benarkah?"
"Uhm! Hiksss aku terharu, Yunnie ternyata bisa romantis juga hiksss"
Yunho tertawa karena Boojaejoongie-nya itu hobi sekali menangis, ia heran benarkah yang ada dihadapannya ini seorang pria?.
"Ya! Yunnie kenapa mentertawakan aku?"
"Ahahahaha kau benar-benar lucu boo, sangat menarik"
"Aish berhenti tertawa, hiksss aku benci Yunnie" sebal Jaejoong sambil melipat tangannya dan memanyunkan bibir cherrynya itu.
"Benarkah kau membenciku?"
"Uhm! Joongie benci Yunnie, weeeeeee"
Tawa Yunho mendadak berhenti, ia mendekati Jaejoong yang duduk disampingnya sambil memanyunkan bibir, sungguh ia sangat ingin mencicipi rasa dari bibir plum itu, ia sangat penasaran kenapa bibir Jaejoong bisa semerah dan nampak selalu basah meski Jaejoong tidak menggunakan lipbalm.
"Boo" panggil Yunho sambil menarik dagu Jaejoong.
Doe indah Jaejoong berhadapan dengan mata kecil Yunho, jantungnya sudah berdegup kencang seolah ingin terlepas dari kerangka tubuhnya, ia benar-benar gugup dengan apa yang akan Yunho lakukan.
"Kalau kau membenciku, maka aku tidak pernah menyukaimu"
"E-eh?"
"Aku tidak pernah menyukaimu Kim Jaejoong"
"B-Benarkah itu? Hikss b-benarkah?" Jaejoong mencengkram erat celananya sendiri, mendadak ada rasa sakit yang sulit ia jelaskan.
Yunho mengangguk.
"Hiksss Yunnie nappeun! Yunnie jahat! Kalau memang Yunnie tidak suka sama Joongie kenapa Yunnie ngasih Joongie cincin hiksss"
"Aku tidak pernah menyukaimu Kim Jaejoong, tapi aku mencintaimu"
"Eh?"
"Pabo! Aku kan sudah mengatakannya padamu diawal tadi, apa kau lupa huh?"
"Hiksss benarkah? Hiksss? Yunnie mencintai Joongie?"
"Lebih dari yang kau tahu Jaejoongie"
DEG
DEG
Kalimat Yunho benar-benar seperti mantera baginya, tidak sanggup berkata apapun lagi Jaejoong langsung menarik leher Yunho dan membawanya untuk mendekat hingga bibir mereka saling menyapa.
"Saranghae jeongmal Saranghae Kim Jaejoong" ucap Yunho disela ciuman pertama dengan kekasih cantiknya.
"Nado Yun"
Yunho menciumi bibir Jaejoong dengan sangat lembut, ia menyapukan seluruh permukaan bibir yang dirasa manis itu tanpa ada yang terlewati, bukan ciuman penuh nafsu tapi ciuman hangat yang menyesapi relung dada masing-masing, ciuman yang seolah berkata aku-sangat-mencintaimu-. Keduanya semakin merapatkan diri tidak ingin ada sedikitpun jarak yang memisahkan, Yunho menarik Jaejoong agar duduk dipangkuannya, napas keduanya berangsur cepat, tubuh Jaejoong mendadak lemas, Yunho langsung melepas ciuman mereka dan melihat Jaejoong yang sedang tersengal kehabisan udara.
"Yunnie" wajah Jaejoong yang memerah bak udang rebus menambah manis pemilik pinggang ramping itu.
"Kau sangat cantik boo" telunjuk Yunho menelusuri keindahan wajah Jaejoong, entah apa yang Tuhan masukan kedalamnya hingga membuat wajah itu nampak bersinar.
Jaejoong kembali menarik rambut Yunho dan menciumi bibir tebal kekasihnya itu agak kasar dan penuh gairah. Yunho menarik bibirnya dari bibir kissable Jaejoong kemudian ia mengangkat kekasihnya itu untuk duduk kembali ke posisinya semula. Jaejoong mengerungkan alisnya heran, mengapa Yunho berhenti, pikirnya.
"Kau harus pulang Joongie, Kka aku akan mengantarmu pulang"
"Shiruh! Aku kan sudah bilang aku ingin menghabiskan malam ulang tahunku dengan Yunnie"
"Tapi nanti Appamu khawatir boo"
"Untuk kali ini aku ingin mengesampingkan hal itu Yun, aku benar-benar ingin bersamamu malam ini"
"Tapi boo"
"Apa Yunnie tidak mau bersamaku? Apa pernyataan cinta Yunnie tadi itu bohong? Yunnie hanya ingin membuat Joongie senang kan karena ini hari ulang tahunku?" emosi namja cantiknya ini memang turun naik, seperti yeoja aniya?
"Bagaimana mungkin aku membohongimu? Apa kalimat sakral seperti itu hanya untuk main-main hum?
"Kalau begitu buktikan! Buktikan kalau Yunnie mencintai Joongie"
"Apa yang harus aku buktikan boo?"
Jaejoong kembali pindah ke pangkuan Yunho, sedikit susah karena ruang mobil yang tidak begitu luas.
"Jadikan aku milikmu seutuhnya, aku ingin kau jadi orang pertama dan terakhir yang menyentuhku"
"Kau jangan gila Kim Jaejoong, kau sadar apa yang kau katakan?"
"Aku sangat sadar Yunnie~ah, aku mencintaimu dan kau mencintaiku kan? Aku merasa jalan kita kedepannya akan terasa sulit, karena itu aku sudah memutuskan aku ingin menyerahkan diriku seutuhnya padamu sebelum sesuatu terjadi pada kita"
"Tidak akan ada yang terjadi pada kita boo, aku akan menjagamu"
"Dan aku akan melindungimu Yunnie, karena itu kumohon kabulkan permintaanku, aku ingin menjadi milikmu Yunnie hanya milikmu, dan kau miliku"
Mata Jaejoong mendadak basah karena air mata, ia sadar perbedaan dirinya dan Yunho sangatlah jauh, mereka hidup di lingkungan yang berbeda, berada di dunia yang berbeda, Jaejoong takut jika suatu saat ia akan kehilangan Yunho dan tentu ia tidak mau hal itu terjadi. Ia mungkin sudah gila karena mampu berkata demikian tapi hatinya menginginkan Yunho, ia ingin Yunho menyentuh dirinya.
Tak mampu melihat Jaejoong menangis, Yunho langsung memeluk kekasih pria cantiknya, mengelus rambut hitam legam itu lembut, seakan tubuh Jaejoong adalah kaca yang mudah rapuh.
"Kau yakin akan melakukannya denganku?" tanya Yunho tanpa melepas pelukannya.
"Sangat yakin" jawab Jaejoong.
Perlahan, Yunho melepas pelukannya. Ditatap kedua mata indah yang sudah basah itu, sedetik kemudian ia kembali melumat bibir Jaejoong, agak kasar kali ini karena decakan dan hembusan napas terdengar jelas, Jaejoong hanya bisa menutup mata menahan sensasi yang diberikan Yunho, mendadak dinginnya AC tidak mampu menahan hawa panas karena aura yang menguar dari tubuh keduanya. Yunho melepas kontak bibir mereka dan pindah ke kursi belakang, ia kemudian menarik tubuh kecil Jaejoong agar pindah bersamanya.
"Saranghae"
"Nado Yun"
TBC
Eiiii mau buru-buru baca NC-nya yaaaaa? Hehehe, next chap yeee sabar sabar #digelundungin. YOSH! Sankyu for reading, muah#sundulmanja
