BETWEEN HEAVEN AND HELL
.
YUNJAEYOOSUMIN
.
Selamat membacaaaaa, gomawo buat reviewnyaaaa :D #kecupmanja
.
.
Sudah tiga bulan berlalu, hubungan Yunho dan Jaejoong semakin hari semakin intens, Jaejoong juga telah lulus dari SMAnya dan akan melanjutkan ke Universitas, ia memilih untuk melanjutkan studi di Korea karena tidak ingin jauh dari Yunnie-nya.
Penyelidikan Siwon-pun kini berjalan mulus, semua salah paham sudah menjadi jelas bahwa Siwonlah yang menebar berita buruk mengenai mafia Jung demi mendapatkan musuh utama kepolosian Korea, GD-TOP. Mafia Jung memang keluarga mafia yang disegani, tapi bukan karena mereka senang membunuh tanpa sebab atau mengedarkan narkoba dengan bebas, mereka tetap memiliki kode etik mafia yang dijunjung tinggi. Siwon juga sudah menjelaskan ke media bahwa dalang dari semua kejahatan yang terjadi adalah ulah GD TOP, GD sudah ditangkap hanya TOP yang masih kabur.
Perlahan tapi pasti Yunho sedikit demi sedikit membangun usaha diluar perusahaan milik Appanya, demi buktinya pada Hankyung dan juga demi keamanan Jaejoong sendiri, meski awalnya Jung Appa menghalangi namun seiring berjalannya waktu Jung Appa mulai mendukung usaha baru puteranya, Jung Ji Hoo juga sudah bertemu dengan Jaejoong, kedua keluarga sudah saling bertemu tapi meski begitu Yunho belum resmi melamar namja cantiknya.
Saat ini keduanya sedang berjalan-jalan di halaman belakang rumah Yunho.
"Yunnie~ya, kapan kau akan datang melamarku?"
"Wae? Kau kan baru masuk kuliah, bagaimana kalau setelah kau lulus saja?"
"Mwo? Aish itu terlalu lama! Aku tidak mau menunggu sampai 4 tahun" pout si cantik Kim imut.
"Ahahahaha baiklah baiklah, secepatnya aku akan melamarmu keunde apa kau sudah siap menjadi seorang istri? Masih manja begini"
"Ya Jung Yunho!"
Yunho terkekeh, kekasihnya yang merajuk seperti itu sangat menggemaskan. Ia menarik Jaejoong kedalam pelukannya yang hangat.
"Sabarlah, aku akan melamarmu dan menjadikan kau Nyonya Jung secepatnya"
"Yaksok?"
"Yaksoke"
Keduanya saling tertawa manis, tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan senang mereka. Yunho melepaskan pelukannya dan mengambil dagu kekasih cantiknya ia mengeliminir jarak diantara mereka. Tahu apa ingin Yunho lakukan membuat mata Jaejoong menutup dengan sendirinya.
"Hyuuung awas!"
BUG~!
Si tampan Jung meringis saat bola berwarna hitam-putih milik sepupu manisnya itu tepat mengenai belakang kepalanya.
"YA! Kalian berdua, apa tidak bisa bermain ditempat lain eoh? Mengganggu saja!" teriak Yunho sambil memungut bola dan melemparnya kearah Yuchun.
"M-mian hyung a-aku tidak sengaja" ucap Yuchun takut.
"Chunnie tidak bisa bermain bola sama seperti Yunho hyung! Aku mau main sama Siwon hyung saja!"
"Jangan ganggu aku Suie"
Siwon tiba-tiba muncul dari dalam rumah dengan tangan yang menggandeng seorang gadis cantik, Jessica Jung telah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang ia sudah pulang kembali kerumah bersama keluarga dan kekasihnya.
"Hyung! Kajja bermain bersamaku" rengek Junsu
"Mianhe Suie aku mau berjalan-jalan dengan Sicca, kau main saja dengan Chunniemu itu ne"
Junsu mempoutkan bibirnya kesal.
"Su ayo kita main lagi, kali ini kita jangan main bola bagaimana kalau kita main PS?" bujuk Yuchun.
"Oh My God SUN! Aku suka sekali bermain PS, kajja Chun kita kekamarku! Aku ada beberapa kaset PS bola disana"
Uh, bola lagi?
Well bebek manis yang satu ini benar-benar maniak bola rupanya.
Junsu menggandeng Yuchun menuju kamarnya meninggalkan dua pasangan yang sedang dimabuk asmara.
"Siwon~ah, eotte kau sudah mendapat kabar tentang keberadaan TOP?"
Namja tampan bermarga Choi itu menggeleng pelan sambil memijat pelipisnya. Tanggung jawab yang diberikan Kepolisian Korea kepadanya sangat berat.
"Hyukjae mendapat informasi kalau TOP sedang berusaha membujuk kelompok lain untuk bergabung, dia pasti merencanakan sesuatu"
"Sepertinya begitu, kemungkinan dia untuk balas dendam kepada kita sangatlah besar, kau harus hati-hati Yun"
"Hum, kau juga"
"Ya ya, kalian bisa tidak jangan membicarakan hal itu disini? Bulu kuduku berdiri mendengarnya"
"Neeee, saat bersamaku Siwon Oppa harusnya tidak membicarakan pekerjaan" manja Jessica.
"Uhm! Setuju" angguk Jaejoong.
"Ah sudahlah aku mau kembali kedalam, Joongie aku membawa piring keramik dari London kau mau membantuku menatanya?"
"Tentu saja, kajja"
Kedua manusia cantik itu masuk kedalam rumah bersama, keduanya sudah saling mengakrabkan diri.
.
.
"Hyung ini profilnya"
Namja bersuara bass bertubuh tinggi dan berkulit coklat kelam itu membuka file yang berisi data foto dan beberapa informasi mengenai Kim Jajeoong. Sepertinya ia sudah merencanakan sesuatu.
"Cantik sekali, sayang kau kekasihnya Yunho! Bagaimana persiapannya?"
"Semuanya sudah siap hyung, tinggal menunggu perintah hyung saja"
"Lakukan besok dan ingat jangan sampai gagal! Aku ingin si brengsek Jung itu merasakan apa yang kurasakan!"
"Ne hyung"
Namja bertampang sangar namun tampan itu tersenyum sarkartis, dia memegang foto Jaejoong yang sedang bersama Yunho, orang yang telah membunuh kekasihnya Seohyun, dia tidak akan membunuh Yunho melainkan Jaejoong-lah sasarannya karena ia ingin Yunho merasakan sakit dan perihnya ditinggal orang yang dicintai.
"Bersiaplah Jung"
_BETWEEN HEAVEN AND HELL_
DDDDDDRRRRRRTTTTTT DDDDDRRRRRTTTTTTTT
Ponsel Jaejoong bergetar, saat ini si cantik nan menggemaskan itu masih bergelung nyaman dikamarnya, ia mengambil ponsel yang terletak di bawah bantal dengan malas.
Sms dari Yunho.
From : My Lovely Yunho
Subject : "Kutunggu di BLOSSOM Café hari ini jam 10 jangan telat! Kalau telat acara lamaran batal"
Jaejoong mengerjapkan matanya.
Dia memerlukan dua menit untuk mencerna isi sms dari Yunho.
"Y-Yunnie akan melamarku? KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA eotte eotte? Aku harus pakai baju apa? Baju yang mana? Vic ahjummaaaaa"
Namja Kim itu menyibak selimutnya dan membuka lemari pakaian serta mengacaknya.
"Ne, Tuan Muda ada apa? Ada apa?" Panik pelayan cantik itu.
"Ahjumma, Yunnie akan melamarku, eotte? Apa yang harus kulakukan? Baju mana yang harus kupakai?"
Eh?
Victoria terkekeh kecil, ia sempat berpikir terjadi sesuatu dengan tuan mudanya.
"Anda mau pakai warna apa hari ini tuan muda? Biar saya pilihkan"
"Yang membuatku kelihatan tampan! Eh ani ani kelihatan manis saja hehehe"
Pelayan bermarga Song itu menggelengkan kepalanya.
Cinta membuat tuan mudanya itu semakin menggemaskan aniya?
"Tuan muda, anda sudah cantik, manis, keren, tampan jadi pakai baju apapun tidak akan pernah terlihat jelek"
"Jinjjayo?"
"Hum, tentu saja buktinya Tuan muda Jung tidak bisa melepaskan pandangannya dari anda"
BLUSH!
"Hum arra, pilihkan warna merah muda saja ahjumma"
"Ndeee"
Hampir dua jam Jaejoong mencoba baju ini dan itu sampai akhirnya ia memilih sebuah baju yang dirasa cocok, sweater berwarna merah muda yang nampak kebesaran dipadu dengan tank top bertali aga besar untuk bagian dalamnya, serta celana skiny berwarna putih gading membuat namja Kim itu nampak seperti malaikat.
Jaejoong memilih menggunakan taksi karena toh nantinya dia akan pulang bersama Yunho. Dadanya bergemuruh memikirkan apa yang akan dipersiapkan Yunho untuk melamarnya.
Tak lama kemudian Jaejoong sampai di café tempat mereka sering ngedate, taksi Jaejoong berada di seberang jalan café itu, ia melihat kearah Yunho yang sudah berada di dalam mereka saling melambaikan tangan. Melihat kedatangan calon istrinya, Yunho keluar café untuk segera menjemput Jaejoong yang terlihat sangat sangat sangat sangat indah hari itu.
Keduanya kini berada diluar café namun saling bersebrangan, seperti yang sudah lama tidak bertemu keduanya saling melempar senyum dan melambaikan tangan, Jaejoong menunggu lampu berwarna merah dulu baru bisa menyebrang.
Ketika lampu berganti ia sudah siap menyebrang namun langkahnya terhenti ketika sebuah Van berhenti di depannya, pintu Van itu perlahan terbuka dan menampakan seseorang yang sudah menodongkan senjata laras panjang kearah si cantik Kim.
Bola matanya yang besar semakin membesar kaget, keringat dingin mendadak turun dari pelipisnya. Yunho yang tahu kekasihnya dalam bahaya langsung berlari menuju Jaejoong.
"Boo!"
DUAR DUAR DUAR!
Tiga kali letusan itu terdengar dari senapan yang dibawa TOP, ia masuk kembali kedalam Van dan secepat kilat Van itu pergi. Meninggalkan seseorang yang tergeletak lemah disana.
"Y-Yunnie?"
Jaejoong berdiri kaku, kedua tangannya menangkup tubuh beruang madunya.
Yunho terjatuh lemah.
"J-Joongie gwaenchana?"
"Y-Yunnie? Y-Yunnieah"
BRAK
Jaejoong terduduk di tanah, kakinya tidak kuat menopang tubuh Yunho yang terluka. Ditambah ia sangat shock melihat darah yang mengucur deras yang berasal dari punggung kekasihnya.
"Y-Yunnie~ah b-bertahanlah, kumohon b-bertahanlah sebentar a-aku akan memanggil a-ambulance"
""J-Jangan pergi sayang, k-kumohon tinggalah disini j-jangan pergi"
"Yunnie kau terluka parah aku harus membawamu ke Rumah Sakit!"
"K-Kumohon jangan tinggalkan aku boo, a-ada yang ingin k-kukatakan padamu"
Air mata Jaejoong sudah tak terbendung, wajah putihnya memerah menahan tangis, ia mencoba untuk kuat agar Yunho bisa bertahan demi dirinya. Tapi tidak, ia bukan robot! Saat ini kekasihnya terbaring di atas pahanya dengan tubuh penuh luka tembak.
"B-boo, m-maukah…..maukah kau me-menikah denganku?"
"Kau jangan banyak bicara dulu Yun! Aku mohon bertahanlah, YA! Tolong kalian panggilkan ambulance kekasihku terluka Ppaliwa! Yunnie ambulance akan datang bertahanlah Yun hiksss sebentar Yun hiksss"
Orang-orang yang menonton tertembaknya Yunho dengan cepat mengeluarkan ponsel, mereka mencoba membantu pasangan itu.
"J-jangan menangis boo, a-aku sudah berjanji untuk t-tidak membuatmu m-menangis lagi sayang" tangan Yunho yang penuh darah menghapus air mata Jaejoong.
"A-aku tidak menangis Yunnie hiksss aku…..aku hiksss"
"K-Kau belum m-menjawab p-pertanyaanku boo, m-maukah kau men-menikah denganku?"
Tubuh Jaejoong bergetar hebat, jantungnya berdegup cemas, sungguh ia tidak bisa melihat kekasihnya, orang yang seakan menjadi oksigennya itu sekarat seperti ini.
"Hikss beruang bodoh! Hikss tentu saja aku mau, jadi kumohon bertahanlah ne? Demi aku Yunnie hiksss"
"Sa-saranghae boo, mi-mianhe aku membuatmuuhh me-menangis lagihh"
Kalimat Yunho terputus-putus, seolah ia sedang kesulitan untuk bernapas.
"Nado Yunnieya nado hiksss, YA! Ambulancenya dimana?!"
Yunho kembali menyentuh pipi Jaejoong dan menghapus air mata kekasihnya yang mengalir deras, Yunho tersenyum kepada kekasihnya itu, senyum terindah dan damai yang belum pernah Jaejoong lihat sebelumnya.
"Yunnieeee, maafkan aku hiksss maafkan aku karena telah menjadi bebanmu maafkan aku Yunnie, aku mohon kau bertahanlah hiksss Yunnieyaaa"
Tangis itu kini terdengar lebih memilukan, Jaejoong mendekap tubuh bersimbah darah milik kekasihnya erat.
"K-kau a-adalah bebanku yang terindah BooJaejoongie"
Rintihan tangis itu berhenti mendadak.
Mata bulat Jaejoong membesar kaget.
Tangan Yunho terkulai lemas.
Bibir tebalnya terkatup menyunggingkan senyum.
Dadanya tidak lagi terlihat naik turun seperti orang yang bernapas.
Semuanya, berhenti.
"Y-Yun? Yunnie? Yunnie~ah? Andwe andwe ANDWEEE!"
"Don't leave, don't leave can't you stay by my side? Lies all lies I don't hear anything, I love you , I love you can you show me those words? I love you, I love you, will you love me again?" JYJ In Heaven
.
.
Seminggu sudah Jaejoong berada dikamarnya, tidak beranjak kemanapun hanya duduk bersender pada tempat tidur sambil sesekali air matanya jatuh tanpa suara menandakan kesedihannya yang luar biasa. Tujuh hari lalu Jung Yunho namja yang paling ia cintai, hidupnya, oksigen bagi paru-paru cintanya pergi meninggalkan dirinya, bukan hanya hampa tapi Jaejoong seolah tak bernyawa.
Kondisinya semakin hari semakin lemah karena kurangnya asupan makanan, Hankyung sudah mencoba berbagai cara agar Jaejoong mau makan, tapi tetap namja cantik itu tidak berkutik sedikitpun. Terkadang Jaejoong bangun dimalam hari sambil berteriak-teriak mencari Yunho, namun beruang madu yang telah mencuri hatinya itu sudah pergi dan tidak mungkin kembali.
Siapapun yang melihat keadaan Jaejoong saat ini, sudah pasti akan ikut merasa prihatin, wajahnya pucat tubuhnya kian mengurus tidak ada yang mampu mengobati kesedihannya.
"Jaejoongie, kumohon jangan seperti ini makanlah sedikit saja ne? Lihat ini makanan kesukaanmu, cobalah untuk mencicipinya sedikit saja"
Yuchun mencoba menyuapkan makanan itu kemulut Jaejoong. Tapi tidak ada reaksi dari Jaejoong, matanya masih menatap lurus kedepan tanpa ekspresi.
"Joongie~ah makanlah kalau tidak aku akan menangis dengan keras hiksshiksss" rengek Junsu.
"Joongie sayang, Appa mohon kau harus menjaga kesehatanmu sayang, Yunho juga pasti sedih melihatmu begini makanlah ne? Atau ada yang ingin kau makan hum?"
Hankyung mencoba membujuk putera tunggalnya.
"Yunnie, Joongie hanya ingin Yunnie Appa. Joongie janji Joongie tidak akan meminta apapun lagi, Joongie hanya ingin Yunnie" raut wajah cantik itu kembali bersedih, air matanya mungkin sudah mengering karena terlalu banyak menangis.
SRAK
Siwon bangun dari duduknya, ia mengusap wajahnya kasar.
"Demi Tuhan Kim Jaejoong sadarlah! Dia sudah pergi, kau pikir kami tidak kehilangannya? Kami juga terpukul tapi kami mencoba untuk kuat dan bertahan karena kami tahu Yunho tidak akan suka kami menangis untuknya!"
Jessica yang kedua mata indahnya sembab berdiri untuk menenangkan kekasihnya, ia tahu Siwon tidak bermaksud untuk membentak Jaejoong ia hanya merasa kesal karena namja cantik itu terlihat sangat terpuruk sekarang.
Jaejoong mendelik tajam kearah Siwon, dia beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri tepat dihadapan namja tampan itu.
"Choi Siwon kau jahat sekali! Bagaimana mungkin kau berkata bahwa Yunho sudah mati! DIA ITU SAHABATMU SENDIRI DAN KAU MENYUMPAHINYA AGAR DIA MATI!"
Jaejoong memukuli Siwon dengan pipi yang sudah kembali basah dengan air mata.
"Kau jahat! Kau bukan sahabat Yunho! Aku akan memberitahu Yunho kalau kau menyumpahiny untuk mati Siwon~ah! Hikss, Yunnieya hikss Siwon jahat hiksss Yun…nieya"
Pukulan Jaejoong mendadak melemas, tubuhnya terkulai kebawah dan dengan cepat Siwon menahannya. Namja cantik itu pingsan.
*SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL*
"Joongie kau sudah sadar?" pekik Junsu senang.
Jaejoong mengerjapkan matanya pelan, cukup lama juga ia pingsan.
Matanya berkeliling menatap satu persatu orang-orang yang berada dikamar rawat VIP itu. Semuanya berkumpul.
"Bagaimana keadaanmu hum? Kau mau minum?" tanya Yuchun pelan.
Jaejoong mengangguk pelan, ia sedikit haus.
TRAK
Namja chubby itu menaruh gelas yang sudah kosong setengahnya kembali ke meja nakas, ia kemudian menggenggam tangan Jaejoong dan tersenyum penuh arti.
"Dengar, mulai hari ini kau harus menjaga kesehatanmu! Aku tidak mau tahu, kau harus makan yang teratur, minum vitamin dan susu dan tidak boleh terlalu banyak berpikir, intinya kau tidak boleh lagi menyakiti dirimu sendiri Joongie"
Kalimat Yuchun mengundang kerutan di kening si cantik Kim.
Apa maksudnya?
"Neeeeee aku tidak mau kalau sampai keponakan kecilku nanti kelaparan di perut Ummanya, Joongie~ah kau harus menjaga dan merawatnya dengan baik arraso?"
Jessica kini ikut menasehatinya.
Wait, tunggu dulu dia bilang apa tadi?
Keponakan? Keponakan kecil?
"Chukkae Jung Jaejoongie, rupanya Yunho memang benar-benar tidak bisa meninggalkanmu, ia memang sudah pergi tapi dia menitipkan sesuatu yang sangat berharga untukmu" jelas Siwon.
"A-apa maksudmu?"
"Kau hamil Joongie kau hamil, aku akan segera menjadi kakek ahahah kau dengar itu? Aku akan dipanggil halboji nanti" sahut Hankyung senang.
Jaejoong terkejut, matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka.
Perlahan sudut matanya berair, hingga tak lama isaknya terdengar lebih keras.
"Joongie~ah, kenapa kau menangis huh? Harusnya kau senang aniya?" Junsu mengusap rambut hitam pekat Jaejoong, ia juga ikut terharu.
"A-aku aku hamil Su, a-aku hamil hiksss i-ini anak Yunho anakku dan Yunho hiksss"
"Ne Joongie neeee, kau akan jadi Umma Joongie~ah hiksss chukkae"
Kedua namja manis bermarga sama itu saling berpelukan, mencoba saling membagi kebahagiaan.
"Kau adalah namja yang istimewa Joongie, mungkin saat di Surga Yunho meminta Tuhan menitipkan rahim di perutmu dan menaruh bayi didalamnya agar anak itu kelak bisa menjagamu, Chukkae Jaejoongie kau akan menjadi Eomma" ucap Yuchun dengan mata berkaca-kaca.
Jaejoong melepas pelukan Junsu, ia menatap semua orang yang berada didalam kamar rawatnya dan tersenyum, senyum pertama yang ia tunjukan sejak kematian Yunho. Dia bahagia karena ia mengandung buah cintanya dengan Yunho, ia bahagia karena sebenarnya Yunho tidak benar-benar pergi darinya, ia akan merawat anak ini, mendidik dan menjaganya dengan baik, sampai nanti ia bertemu lagi dengan Yunho.
Sekilas matanya memandang Yunho yang terbias cahaya berada diantara kerumunan orang-orang yang mencintainya, ia melihat kekasihnya itu tersenyum, senyum yang sama seperti yang sering ia lihat dulu, dengan air mata yang memenuhi pelupuk matanya Jaejoong terus menatap sampai bayangan itu menghilang.
"Yunnieya…..saranghae"
.
.
*7 TAHUN KEMUDIAN*
"Chunnie ahjuciiiii Cuie ahjummaaaa"
Seorang bocah lelaki berumur 7 tahun berlari kencang ketika melihat dua orang yang disayanginya datang, anak itu sangat tampan dengan bola mata hitam besar dan berkulit putih bersih seperti Eommanya serta bibir berbentuk hati persis seperti Appanya.
"Aigoooo keponakan ahjucci kenapa semakin tinggi huh? Kau terlalu banyak minum susu sayang?" tanya Yuchun sambil menggendong bocah tampan itu.
"Min kan cuka minum cucu! Kata Eomma kalau lajin minum cucu nanti Min bica tinggi kaya Appa" celotehnya menggemaskan.
"Arraso minum dan makanlah yang banyak huh, biar kau cepat besar. Uri Minnie benar-benar seperti Yunho hyung ne Su?"
"Neeee tidak ada satupun yang tidak mirip Yunho hyung, hey tampan dimana Eommamu hum?" tanya Junsu kali ini.
"Jung Changmin turunlah jangan digendong begitu, kau kan sudah besar kasihan Chunnie ahjussi keberatan menggendongmu"
Jaejoong sudah berada diambang pintu rumahnya, rambutnya berganti almond sekarang, tubuh kecilnya sudah sedikit berisi dan yang pasti ia semakin terlihat berkilau.
Jung Changmin, bocah tampan yang suka sekali makan. Buah cinta dari Jung Yunho dan Jung Jaejoong.
"Joongieeee"
Junsu berlari kecil memeluk Jaejoong, namja bohai itu kini sudah menikah dengan Yuchun sejak dua tahun lalu, Yuchun juga sudah bekerja menggantikan posisi Appanya dikantor.
"Suie~ah apa kabarmu hm? Aigoooo pengantin baru eoh?"
"Aish kami sudah dua tahun menikah jadi bukan lagi pengantin baru. Kka bagaimana kabarmu?"
"Aku baik Suie, bagaimana Yuchun? Apa dia masih suka mengejar gadis-gadis yang tidak jelas?"
"Ya ya Jaejoongie, gadis-gadis itu memang cantik tapi tidak ada yang mampu mengalahkan keimutan istriku ini" Yuchun mengerling manja kearah Junsu yang wajahnya sudah memerah.
"Chunnieya~" manja Junsu.
"Ah ne, kami punya kabar baik untukmu"
Alis Jaejoong terangkat.
"Uri Suie sudah hamil 4 bulan, doakan kami ne agar calon anak kami bisa tumbuh sehat seperti Minnie"
"Omo, jinjja? Benarkah itu Su? Chukkae jeongmal!"
Kedua Kim saling berpelukan, sungguh Jaejoong ikut senang mendengar kabar bahwa sepupu iparnya itu kini sudah mengandung. Keajaiban yang luar biasa aniya?
Sebelum masuk kedalam rumah, mereka mendapati sebuah mobil yang tiba-tiba masuk ke halaman rumah Jaejoong. Dilihatnya Siwon dan Jessica turun dari mobil, yeoja blondie itu nampak menggendong namja kecil manis berusia 4 tahun. Choi Kyuhyun, buaht hati Siwon dan Jessica.
"Kyunie~ya"
Pekik Changmin yang berlari mungil kearah sepupu merangkap teman sepermainannya.
"Hi boy kau semakin tinggi saja huh" sahut Jessica sambil mencubiti pipi chubby Changmin.
"Tante blondie tulunkan Kyunie, Min mau main cama Kyu"
Jessica tertawa kecil ia menurunkan putera manisnya, Kyuhyun berjalan tertatih kearah Changmin, bocah kecil itu rupanya juga senang bertemu putera pasangan YUNJAE.
"Jung Jaejoongie" sapa Siwon.
Jaejoong tersenyum, ia senang semuanya berkumpul hari ini. Sudah lama ia tidak berkumpul dengan keluarga besarnya seperti sekarang.
Mereka berkumpul diruang tamu keluarga Kim, hari ini tepat 7 tahun kepergian Yunho dan mereka berencana untuk mendatangi 'rumah' abadi namja Jung itu.
"Joongie~ah apa kau sudah tau kabar pagi ini?"
"Hum? Kabar apa Wonie?" jawab Jaejoong sambil terus memperhatikan putera kesayangannya bermain.
"TOP, dia tewas kemarin malam, ia dibunuh kelompok mafia lain"
Jaejoong langsung menoleh kearah Siwon. TOP, nama itu kembali membuat dadanya berdegup. Bagaimana tidak jika ditangan namja itulah kekasihnya tewas.
"Akhirnya kejahatan dibalas kejahatan" ucap Hankyung yang juga berada disana, ia nampak duduk disamping Jung Ji Hoon.
"Ne, setelah sekian lama polisi mencarinya ia akhirnya tewas, padahal kalau ia menyerahkan diri nasibnya tidak akan setragis itu" timpal Jung Ji Hoon.
"Karma masih berlaku, karena Tuhan tidak pernah tidur aniya?" ucapan Jaejoong membuat semua yang berada disana menatap namja cantik itu iba.
"Kau baik-baik saja Joongie?" Junsu menggenggam tangan Jaejoong, ia melihat pelupuk mata sepupu iparnya itu mulai digenangi air mata.
"Gwaechana Su"
"Semuanya sudah berakhir, kita akan mengawali hidup yang lebih menyenangkan, ah dan aku juga akan segera menjadi Appa hahaha"
"Omo, benarkah itu? Aigoooo chukkae Suie" kekeh Siwon
"Neee gomawoo"
"EOMMA! Min mau cucu cama kue kejuuuuuuuu"
"Eoh? Minnie lapar? Bukannya tadi Minnie sudah menghabiskan 5 cupcake?"
"Kuenya dimakan Vic ahjumma"
"Eeeehh? Tuan muda kecil kenapa aku yang disalahkan?"
"Ehehehe, Pokonya Min mau kueeeeeeeeeeee"
"Kyu juga mau"
Semuanya tertawa gembira melihat tingkah ChangKyu yang menggemaskan. Tertawa tanpa beban dan kesedihan, meski Yunho tidak ada disana tapi dirinya hidup didalam diri Jung Changmin, segala yang ada pada Changmin sungguh mengingatkan siapapun pada sosok Yunho.
Meski sudah hampir tujuh tahun Yunho meninggalkan Jaejoong dan banyak lelaki yang mengajukan lamaran kepada Hankyung, tapi semua itu ditolak Jaejoong. Hal itu karena.
"Kita hidup sekali, mati sekali, menikah sekali dan jatuh cinta sekali, hatiku sudah terikat pada Yunho Appa, bagaimana mungkin aku bisa memutuskan tali merah itu sementara ada Changmin diantara kami"
Dan karena itulah, Kim Jaejoong akan tetap menggunakan nama JUNG di depannya, karena ia memang telah terikat dengan namja bermata musang itu.
"Baiklah kita pergi sekarang?" tanya Hankyung.
"Ne, kajja Yunho juga pasti sudah menunggu" ucap Siwon sambil menggendong putera manisnya.
Semuanya bersiap masuk kedalam mobil masing-masing, Yuchun dengan Junsu, Siwon, Jessica dan putera mereka Kyuhyun, Jung Ji Hoon bersama supir pribadinya serta Hankyung, Jaejoong dan Changmin menggunakan mobil yang sama.
Namja berambut almond mensejajarkan tubuhnya dengan Changmin dan membetulkan kemeja puteranya sebelum masuk kedalam mobil, ia menata rambut bocah tinggi itu agar terlihat lebih rapi.
"Eomma"
"Neeeee"
"Min milip Appa ne?"
"Tentu saja, kau sangat mirip dengan Appa, bukankah kau sudah sering melihat foto Appa"
"Appa tampan milip cama Min eheheh Min juga tampan kan Umma?"
Jajeoong tertawa mendengar celotehan lucu Changmin, ia mencubit pipi kembung puteranya. Sungguh ia beruntung memiliki putera dari benihnya dan benih Yunho, sebuah harta yang tidak ternilai harganya.
"Kalian berdua namja ter-tampan yang pernah Eomma temui dan kalian berdua namja yang paling Eomma cintai"
Changming terkekeh senang.
"Eomma"
"Hum?"
"Apa Eomma melindukan Appa?"
Tangan lentik Jaejoong berhenti dari membetulkan letak kemeja Changmin, tak lama ia kemudian tersenyum.
"Rindu Eomma pada Appamu tidak bisa dihitung dengan waktu sayang, Eomma merindukan suaranya, tawanya, pelukannya, Eomma merindukannya lebih dari yang orang-orang tahu"
Changmin yang menyadari perubahan raut muka Eommanya segera mengelus pipi putih Eomma cantiknya.
"Eomma jangan cedih ne Min ada dicini, kata Appa Min halus jadi plajulitnya Appa untuk melindungi Eomma dali ahjuci ahjuci genit atau olang-olang yang mau menyakiti Eomma!"
Eoh?
Apa yang Changmin katakan barusan?
"Appa juga bilang kalau Appa sangaaaaaaattt melindukan Eomma, Appa ngga mau liat Eomma belcedih lagi, Appa bilang Appa akan menunggu Eomma di culga"
Changmin mendekatkan tubuh mungilnya dan dengan cepat ia mencium kening Jaejoong yang tertutup poni.
CHUP~
Ciuman yang selalu dilakukan Yunho, yah namja tampan itu dulu senang sekali mencium kening Jaejoong yang tertutup rambutnya.
"Ini hadiah kecupan dali Appa untuk Eomma, salanghae Eomma"
Jaejoong mengelus keningnya entah kenapa dia merasa bahwa Yunho-lah yang baru saja menciumnya, bibir berbentuk hati itu selalu melekat di ingatan Jaejoong, dan ia tidak pernah lupa bagaimana rasanya.
Tak terasa setetes air mata jatuh kembali di sudut matanya.
"Eomma Ppaliwa, Appa cudah menunggu! Min mau ketemu Appa"
Jaejoong tersentak, ia menghapus tetesan bening itu dan berdiri menggandeng puteranya menuju mobil.
"Kajja kita temui Appamu, Min tidak lupa bawa bunga kan?"
"Tenang caja Eomma, bunga Lilly putih cudah ada di mobil hihihih"
Jaejoong tersenyum, ia menggendong Changmin untuk masuk kedalam mobil. Namja cantik itu duduk di belakang bersama Changmin sementara Hankyung duduk di depan bersama supir pribadi mereka.
Mobil bugati hitam itu berjalan perlahan meninggalkan halaman rumah, tak lama Changmin terbangun dari duduknya kemudian berdiri menghadap kebelakang, ia tersenyum sambil menunjukan jempolnya seolah memberi tanda 'ok' kearah seseorang yang terbias cahaya yang juga sedang melakukan hal yang sama dengannya.
Bayangan itu sangat tampan, menggunakan baju dan celana serba putih, serta senyum yang tidak terlepas dari bibirnya, bayangan yang sangat mirip dengan foto yang ada dikamar Jaejoong, bayangan yang tidak lain adalah ayah dari Jung Changmin.
"Salanghae Appa"
END
Ending jg akhirnya, gomawo buat dukungannya review or SR or flamer apapun itu big thx for u all :D author akan fokus ke 2 ff yang bakalan ending juga ehehehe muahmuah loveya reader#pelukmanja
